See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/371507223
ANALISIS PERENCANAAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR NASIONAL (KERETA CEPAT JAKARTA-BANDUNG)
Article · June 2023
CITATIONS
0
READS
3,356
5 authors, including:
Andina Laali Rohmah Robbina University of Brawijaya 2PUBLICATIONS 0CITATIONS
SEE PROFILE
Anna Fadhila Sari University of Brawijaya 1PUBLICATION 0CITATIONS
SEE PROFILE
Annisa Aulia Zahra University of Brawijaya 2PUBLICATIONS 0CITATIONS
SEE PROFILE
Dellia Seftiana Putri Aji University of Brawijaya 2PUBLICATIONS 0CITATIONS
SEE PROFILE
All content following this page was uploaded by Anna Fadhila Sari on 13 June 2023.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
1 Program Studi Administrasi Publik
Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang
http://www.fia.ub.ac.id
ANALISIS PERENCANAAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR NASIONAL (KERETA CEPAT JAKARTA - BANDUNG)
Andina Laali Rohmah Robbina¹, Anna Fadhila Sari², Annisa Aulia Zahra³, Dellia Setiana Putri Aji⁴, Lisvi Fitria Nur Lita⁵
Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya
*Corresponding author: [email protected]
ABSTRAK
Kereta api cepat merupakan sarana transportasi yang sangat cepat dan efisien dengan kecepatan lebih dari 350 km/jam. Perjalanan kereta cepat Jakarta-Bandung memiliki prediksi waktu 36-45 menit untuk menempuh perjalanan (dephub.go.id). Di Indonesia, kereta ekspres ini dibangun oleh PT KCIC dengan dukungan empat perusahaan Indonesia dan lima perusahaan China. Rute yang dilewati ialah dari Jakarta, tepatnya Bandara Halim Perdanakusuma ke Stasiun Tegalluar di Kabupaten Bandung yang melewati Stasiun Padalarang dan juga Stasiun Karawang dengan panjang jalur sekitar 142,3 km.
Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur atau penelitian kepustakaan dan menggunakan pendekatan kualitatif. Berlakunya Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Pelaksanaan Prasarana dan Sarana Jalur Rapid Transit Jakarta-Bandung dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan transportasi dan membantu pembangunan wilayah Jakarta dan Bandung.
Presiden Jokowi menjalin kerjasama investasi kepada Presiden Xi Jinping dan dapat menyepakati tujuh dokumen kerjasama. Pengembangan proyek ini didukung oleh beberapa faktor utama seperti kepadatan penduduk, pertumbuhan ekonomi, peningkatan konektivitas regional, dampak lingkungan, mengurangi kecelakaan lalu lintas, peningkatan daya saing, dampak sosial, dan peningkatan pariwisata.
Pembangunan infrastruktur seperti proyek kereta cepat ini dapat mempengaruhi kondisi internal dan eksternal kawasan. Terdapat risiko dari berbagai sisi pada suatu wilayah termasuk dari kategori alam, ekonomi, human, lingkungan, perencanaan, hubungan proyek, dan teknikal.
Kata Kunci: Indonesia, Infrastruktur, Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Pembangunan
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
2 ABSTRACT
High-speed trains are a very fast and efficient means of transportation with speeds of more than 350 km/hour. The Jakarta-Bandung fast train journey has a predicted time of 36-45 minutes to travel (dephub.go.id). In Indonesia, this express train was built by PT KCIC with the support of four Indonesian companies and five Chinese companies. The route taken is from Jakarta, Halim Perdanakusuma Airport to be precise to Tegalluar Station in Bandung Regency which passes Padalarang Station and also Karawang Station with a path length of about 142.3 km. The research method used is literature study or library research and uses a qualitative approach. The enactment of Presidential Regulation Number 107 of 2015 concerning the Acceleration of the Implementation of Infrastructure and Facilities for the Jakarta-Bandung Rapid Transit Line with the aim of improving transportation services and assisting the development of the Jakarta and Bandung areas. President Jokowi established investment cooperation with President Xi Jinping and was able to agree on seven cooperation documents.
The development of this project is supported by several main factors such as population density, economic growth, increased regional connectivity, environmental impact, reduced traffic accidents, increased competitiveness, social impact, and increased tourism. Infrastructure development such as the high-speed train project can affect the internal and external conditions of the region. There are risks from various sides in an area including from the categories of natural, economic, human, environmental, planning, project relations, and technical.
Keywords: Indonesia, Infrastructure, Jakarta-Bandung Fast Train, Development
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
3 PENDAHULUAN
Pembangunan infrastruktur merupakan dasar bagi aktivitas komersial dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ketersediaan infrastruktur yang memadai dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi nasional (Hansen 2022 dalam Ma'ruf & Daud 2013). Hansen, seperti yang dipaparkan oleh Hansen (2020) mendefinisikan infrastruktur sebagai semua fasilitas yang menyediakan layanan penting bagi publik, termasuk namun tidak terbatas pada transportasi, penyediaan air bersih, pengelolaan limbah, energi, dan perumahan. Menurut konsep ini, infrastruktur termasuk aset fisik untuk memberikan pelayanan publik yang memiliki dampak sosial ekonomi. Mengingat pentingnya peran pembangunan infrastruktur, banyak negara di dunia berlomba-lomba untuk berinvestasi dalam proyek infrastruktur.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Berutu (2022 dikutip dalam Eka Safitri et al., 2017) menemukan bahwa ketersediaan infrastruktur memiliki korelasi yang lebih erat dengan masa depan dibandingkan dengan masa depan, artinya keberadaan infrastruktur yang memadai telah terbukti meningkatkan pertumbuhan infrastruktur dapat meningkatkan pertumbuhan infrastruktur sektor hilir dibandingkan sektor hulu. Infrastruktur dengan demikian memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi daerah. Didukung penelitian oleh Berutu (2022 dikutip dalam Alamasiyah 2021) bahwa mobilitas masyarakat dapat ditingkatkan dengan perbaikan infrastruktur.
Kondisi daerah harus diperhitungkan dalam pembangunan nasional. Hal ini karena pembangunan daerah tidak dapat disamaratakan karena adanya perbedaan budaya, kondisi sosial dan faktor lainnya. Proses pembangunan nasional bertujuan meningkatkan ekonomi dan pemerataan pembangunan di setiap daerah. Atifah, seperti yang dijelaskan oleh Jaya & Rijal (2021), perencanaan strategis kawasan harus memperhatikan permasalahan yang ada, khususnya pembangunan daerah, yang dapat muncul pada setiap tingkat perencanaan, baik nasional maupun daerah. Pencapaian tujuan pembangunan nasional memerlukan proses perencanaan pembangunan yang baik. Perbedaan SDA di setiap daerah merupakan salah satu modal awal pembangunan yang harus dikembangkan. Selain memanfaatkan SDA daerah, SDM juga diperlukan untuk mengelola sumber daya alam tersebut (Atifah 2022 dalam Dahokry 2020).
Pembangunan infrastruktur nasional adalah bagian penting di dalam mendukung pertumbuhan ekonomi suatu negara. Infrastruktur yang baik dan modern tidak hanya memberikan kemudahan aksesibilitas dan konektivitas antar wilayah, tetapi juga mampu meningkatkan daya saing suatu negara di tingkat global. Dari berbagai proyek pembangunan infrastruktur nasional, yang menarik perhatian adalah pembangunan infrastruktur berupa Kereta Cepat yang menghubungkan antara Jakarta-Bandung dalam upaya mempercepat konektivitas antara dua kota metropolitan terbesar di Indonesia. Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Indonesia adalah suatu proyek infrastruktur yang strategis dan penuh ambisi. Proyek ini ditujukan untuk mengurangi beban transportasi dan kemacetan di jalur darat antara Jakarta dan Bandung, serta memperpendek waktu perjalanan antara dua kota tersebut.
Sebagai bagian Proyek Strategis Nasional, hal ini telah didasarkan pada Peraturan Presiden No.
93 tahun 2021, dengan tujuan mempercepat pengimplementasian proyek tersebut (Kemenparekraf.go.id).
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
4 Kereta Cepat adalah salah satu jenis transportasi yang sangat cepat dan efisien yang memiliki kemampuan untuk bergerak dengan kecepatan melebihi 350 km/jam. Dengan demikian, durasi perjalanan kereta Cepat Jakarta-Bandung diprediksi hanya berkisar antara 36 hingga 45 menit. (dephub.go.id). Di Indonesia, kereta api cepat ini dibangun oleh PT KCIC yang berasal dari empat perusahaan asal Indonesia serta lima perusahaan asal China. Jalur yang dilalui adalah dari Jakarta, tepatnya Bandara Halim Perdanakusuma ke Stasiun Tegalluar di Kabupaten Bandung yang melewati Stasiun Padalarang dan juga Stasiun Karawang dengan panjang jalur sekitar 142,3 km. Pembangunan kereta cepat terbagi menjadi empat bagian, yaitu Bagian 1, 2, 3, dan 4. Jalur kereta cepat ini meliputi bagian yang berada di atas tanah (elevated) dengan lintasan sepanjang 82,7 km, 13 terowongan (tunnel) dan jalur di permukaan tanah (subgrade). Kereta cepat yang akan menghubungkan Jakarta-Bandung adalah bagian dari implementasi rencana pengembangan sistem transportasi massal kereta yang akan dilaksanakan di Papua, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Jawa dengan total panjang jalur sekitar 3.258 kilometer (km).
Pembangunan infrastruktur sebagaimana proyek kereta Cepat ini tentunya dapat memberikan dampak dari berbagai sisi pada suatu wilayah, termasuk dari sisi lingkungan, ekonomi dan juga sosial. Pemerintah telah meluncurkan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan layanan transportasi nasional dan mendukung pembangunan di wilayah Jakarta-Bandung. Proyek pembangunan infrastruktur ini membutuhkan sekitar 650 hektar lahan dan investasi sebesar USD 5,573 miliar. Tiket perjalanan akan dihargai sekitar Rp 200.000 per orang untuk satu kali perjalanan.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah studi literatur atau penelitian kepustakaan, dimana peneliti menggunakan berbagai literatur untuk memperoleh data penelitian dan menggunakan pendekatan kualitatif karena informasi yang dihasilkan berupa kata-kata atau deskripsi. Menurut Sugiyono (2018), studi kepustakaan berkaitan dengan kajian teoritis dan referensi lain. Studi kepustakaan mengambil peranan yang sangat penting dalam melakukan penelitian, hal ini dikarenakan penelitian tidak akan lepas dari literatur-literatur ilmiah. Penelitian studi literatur menggunakan sumber kepustakaan sebagai bahan kajian.
Setelah mendapatkan berbagai literatur, peneliti akan mengobservasi dan menginvestigasi proyek pembangunan infrastruktur kereta cepat Jakarta-Bandung. Informasi yang berasal dari buku, jurnal, ilmu pengetahuan, data digital, RPP berbasis etnomatematika, dokumen, dll untuk menganalisis perencanaan pembangunan infrastruktur kereta cepat Jakarta-Bandung.
PEMBAHASAN Kebijakan Transportasi Kereta Cepat Jakarta - Bandung
Berdasarkan regulasi pemerintah, bentuk perkembangan modernisasi di Indonesia yang memperkuat peran kereta api sebagai angkutan umum di perkotaan dan sebagai layanan angkutan antar kota yang menghubungkan National Operations Center (NOC) dan akses ke pelabuhan dan bandara adalah kereta cepat. Oleh karena itu, program utama di jalur Merak – Jakarta – Surabaya – Banyuwangi bertujuan dalam memudahkan pergerakan penumpang di Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
5 sepanjang koridor dan mengurangi kemacetan. Pesisir Utara Jawa Barat yang sudah padat diperbaiki melalui pengembangan sistem produksi yang mendorong penggunaan, pemeliharaan, dan pemeliharaan kereta api berkecepatan tinggi dengan menggunakan sumber daya lokal (Yamin, 2017).
Di bawah pemerintahan Presiden Jokowi, kereta cepat Indonesia merupakan proyek investasi infrastruktur yang paling fenomenal karena menjadi kereta cepat pertama di Asia Tenggara dan belahan bumi selatan. Sesuai RIPNas 2011, pembangunan kereta cepat Jakarta- Surabaya dibangun secara bertahap dengan jalur sepanjang 142,3 km dibangun di Jalur Jakarta- Bandung dari Halim hingga Tegalluar. Dalam praktiknya, perencanaan pembangunan dan rencana pembiayaan disusun oleh pemerintah bersama Kementerian BUMN. Dalam hal pembiayaan pembangunan, negara menjamin dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak digunakan, sehingga program tersebut asli kerjasama pihak swasta.
Manfaat jangka panjang yang terkait dengan pengembangan daerah tertinggal dan transportasi penumpang yang lebih efisien dalam beberapa aspek jangka panjang dari rencana kereta cepat Jakarta-Bandung. Presiden didampingi Kementerian Badan Usaha Milik Negara, yang disebut- sebut paling berpengaruh terhadap kebijakan pembangunan angkutan kereta api cepat.
Kerja sama investasi kereta cepat merupakan salah satu bentuk kerja sama bisnis antara BUMN yaitu Indonesia dan China. Bentuk kerja sama dalam menyediakan prasarana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kerja Sama Negara dalam Penyediaan Infrastruktur. Arahan tersebut mengatur perihal sah kerjasama antara negara dan BUMN dalam menyediakan prasarana yang dibutuhkan. Konsorsium perusahaan Indonesia menjalin kerja sama dengan konsorsium perusahaan China dalam kerja sama investasi jaringan kereta api berkecepatan tinggi.
Selanjutnya, dalam pemerintahan Jokowi regulasi investasi prasarana kereta cepat dapat terlaksana. Kebijakan investasi yang tidak didukung dan proses persetujuan investasi yang panjang melemahkan iklim investasi. Melalui PTSP, pemerintah menyusun kebijakan dan strategi PTSP untuk mempercepat persetujuan investasi pembangunan kereta cepat Jakarta- Bandung. Keberhasilan program PTSP dalam memberikan investasi kereta cepat tercermin dari penyelesaian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yang diselesaikan dalam waktu 30 hari.
Untuk mendukung pelaksanaan seluruh proyek strategis nasional, pada tahun 2015 pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Terkait investasi prasarana kereta cepat, Presiden Jokowi menyetujui investasi tersebut dengan Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Infrastruktur dan Pelayanan Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Tujuan dari kebijakan Perpres adalah untuk menyederhanakan proses persetujuan penanaman modal dan menghilangkan hambatan untuk melakukan usaha. Direktif tersebut juga memuat petunjuk bagaimana melaksanakan tugas dan melakukan proses pembangunan sesuai perjanjian kerjasama penanaman modal antara negara dan perusahaan asing. Program kereta cepat Jakarta- Bandung tercantum dalam RPJMN 2014-2019, sehingga program kereta cepat Jakarta- Bandung bukanlah pembangunan baru. Rencana tersebut dijabarkan dalam dokumen rencana induk perkeretaapian nasional (RIPNAS 2030), yaitu dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 43 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Perkeretaapian. Selain itu, berlakunya Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Pelaksanaan Prasarana dan Sarana Jalur Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
6 Rapid Transit Jakarta-Bandung yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan transportasi dan mendukung pembangunan di wilayah Jakarta dan Bandung. Selain itu, telah ditetapkan bahwa kereta cepat Jakarta-Bandung merupakan langkah maju dalam modernisasi sistem transportasi Indonesia pada tataran politik untuk meningkatkan status kereta api sebagai sistem angkutan umum di perkotaan dan sebagai layanan angkutan antar kota yaitu Pusat Aksi Nasional (PCN) (Kadarisman 2017, Haryadi 2007).
Implementasi Kebijakan Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung
Usai pengambilan sumpah jabatan, Presiden Joko Widodo memutuskan untuk melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya ke Tiongkok untuk membahas tentang kerja sama ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan investasi. Dalam kunjungan ini, terjadi kesepakatan bilateral berkaitan dengan pembangunan infrastruktur antara kedua pemimpin negara tersebut untuk menyatukan ide mengenai poros maritim global serta mewujudkan koneksi maritim di kawasan. Selain itu juga terjadi kesepakatan yang menghasilkan 7 dokumen penting terkait kerjasama kedua pemerintahan negara tersebut, yaitu:
(1) MoU kerjasama ekonomi antara MENKO Perekonomian RI dengan Komisi Nasional Pembangunan dan Reformasi RRT; (2) MoU Kerjasama Pembangunan Industri dan Infrastruktur antara Komisi Nasional Pembangunan dan Reformasi RRT dengan Menteri BUMN; (3) Mou antara Menteri BUMN dengan Komisi Nasional Pembangunan dan Reformasi RRT untuk proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung; (4) MoU antara Badan SAR Nasional (BASARNAS) RI dan Menteri Transportasi RRT; (5) Perjanjian Kerjasama antara Pemerintah RI dan RRT untuk pencegahan pajak berganda; (6) MoU antara lembaga pengembangan antariksa nasional (LAPAN) dengan badan antariksa RRT; (7) Mou kerjasama antara menteri BUMN dengan China Development Bank Corporation (CDBC).
Dalam kunjungan tersebut, Presiden Joko Widodo juga berupaya mengajak Tiongkok agar bersedia melakukan investasi pada proyek rekonstruksi rel kereta api cepat, pengembangan disektor energi, pariwisata, maritim serta industri Pelabuhan. Presiden Joko Widodo memiliki keinginan utama untuk mendapatkan investasi dari Tiongkok dalam proyek pembangunan infrastruktur kendaraan massas, terutama kereta api cepat. Oleh karena itu, proyek Kerjasama ini menjadi salah satu yang paling diinginkan dan ditawarkan kepada Tiongkok. Terdapat 3 syarat utama yang diajukan oleh Presiden Joko Widodo, yaitu melarang penggunaan APBN, pelarangan terhadap penggunaan jaminan dari pemerintah serta bersifat business to business.
Setelah Tiongkok terpilih menjadi negara yang secara resmi menetapkan komitmennya untuk bekerjasama melalui tender yang dikelola oleh BUMN untuk mencapai kesusksesan pembangunan proyek kereta api cepat ini. Menurut data yang tercatat dalam laporan keterbukaan informasi yang diperoleh pada 22/03/2016 dari PT Wijaya Karya (WIKA) Persero Tbk terungkap bahwa Pemerintah Indonesia memiliki kebijakan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur diberbagai sektor, termasuk transportasi, pelabuhan, jalan tol dan kereta api. Proyek-proyek ini dilakukan melalui kerjasama antara BUMN dengan skema bisnis antar perusahaan. Proyek High Speed Railway terletak di wilayah Jakarta-Bandung dengan panjang kurang lebih 142,3 Km dan sebagian besar rutenya akan menggunakan jalur jalan tol.
Oleh karena itu pada tanggal 2/10/2015 didirikan PT. Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebagai bentuk kerja sama antara 3 BUMN dengan PT. Wika.
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
7 Pada 16/10/2015, terjadi penandatanganan Joint Venture Agreement (JVA) antara PSBI dan China Railway International Co. Ltd. yang berhasil mendirikan PT. Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), sebuah perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA). Perusahaan tersebut akan menggelontorkan dana untuk pembuatan infrastruktur dan peralatan Kereta Cepat Jakarta- Bandung (HSR) senilai Rp. 70,8 Triliun atau US$ 5,135 miliar. Sebanyak 25% dari modal yang diperlukan untuk PT. KCIC akan disediakan oleh pemegang saham, sementara itu lembaga perbankan dan keuangan lainnya akan membiayai 75% dari sisanya. Berkaitan dengan proses perencanaan proyek yang telah berjalan cukup lama yang menyebabkan tidak tercatatnya proyek ini dalam RPJMN 2014-2019. Rencana tersebut dijabarkan dalam dokumen rencana induk perkeretaapian nasional (RIPNAS 2030), yaitu dalam PM. Perhubungan No. 43/2011 tentang Rencana Induk Perkeretaapian. Disisi lain, Kepres Nomor 107/2015 tentang Percepatan Pelaksanaan Prasarana dan Perlengkapan Kereta Api Cepat yang menghubungkan antara Jakarta dengan Bandung, sebagai bentuk dukungan jalannya pembangunan serta peningkatan pelayanan transportasi.
Pada implementasinya, kereta api cepat merupakan upaya pemerintah dalam bidang transportasi untuk meningkatkan layanan transportasi umum sehingga mampu menciptakan konektivitas antar daerah sebagai bentuk dukungan terhadap pendistribusian barang serta memudahkan akses menuju bandara dan Pelabuhan. Pembangunan proyek kereta api cepat sekaligus menjadi sasaran utama tujuan pembangunan di wilayah Merak, Jakarta, Surabaya, hingga ke Banyuwangi. Hal ini diupayakan untuk memperlancar arus mobilisasi orang pada jalur tersebut serta dapat mengurangi beban yang sudah melebihi kapasitas maksimal pada jalur Pantai Utara Jawa Barat. Dengan demikian, kebijakan ini dilakukan sebagai bentuk solusi dengan cara mempercepat proses pembangunan kereta cepat serta juga perlu diperhatikan bagaimana cara pengoperasian, perawatan, pengembangan sistem produksi, dan pemeliharaan kereta api cepat yang diutamakan dapat mengerahkan kemampuan sumber daya yang berasal dari Indonesia.
Faktor Pendukung dan Penghambat Pembangunan Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung Berikut ini adalah faktor-faktor pendukung proyek kereta cepat Jakarta-Bandung:
1. Kepadatan Penduduk:
Jakarta dan Bandung merupakan dua kota dengan populasi yang padat. Kepadatan penduduk yang tinggi di kedua kota ini menciptakan permintaan yang besar untuk transportasi yang efisien. Kereta cepat dapat menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas dan memberikan alternatif transportasi yang lebih cepat dan nyaman bagi penduduk yang bepergian antara Jakarta dan Bandung.
2. Pertumbuhan Ekonomi:
Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di kedua kota tersebut. Dengan waktu perjalanan yang lebih singkat antara kota-kota tersebut, akan memungkinkan akses yang lebih baik bagi pengusaha, investor, dan wisatawan untuk bergerak di antara keduanya. Hal ini dapat meningkatkan investasi dan pertumbuhan sektor ekonomi di wilayah tersebut.
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
8 3. Peningkatan Konektivitas Regional:
Kereta cepat Jakarta-Bandung akan meningkatkan konektivitas regional antara Jakarta, Bandung, dan kota-kota di sekitarnya. Hal ini akan memfasilitasi pergerakan barang dan orang antara wilayah-wilayah ini, yang pada gilirannya dapat memperkuat integrasi ekonomi dan sosial di tingkat regional.
4. Dampak Lingkungan:
Salah satu faktor pendukung proyek ini adalah potensi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Kereta cepat menghasilkan jejak karbon yang lebih kecil jika dibandingkan dengan transportasi lain seperti mobil pribadi atau pesawat terbang. Dengan mendorong penggunaan transportasi umum yang lebih berkelanjutan, proyek ini memiliki potensi untuk berperan secara positif dalam usaha mengurangi dampak perubahan iklim.
5. Pengurangan Kecelakaan Lalu Lintas:
Kereta cepat memiliki tingkat kecelakaan yang lebih rendah dibandingkan dengan transportasi jalan raya. Dengan menyediakan alternatif transportasi yang aman dan efisien, proyek ini dapat membantu mengurangi jumlah kecelakaan lalu lintas di koridor Jakarta-Bandung.
6. Peningkatan Daya Saing:
Kehadiran kereta cepat akan memodernisasi dan meningkatkan efisiensi infrastruktur transportasi di daerah tersebut. Ini akan meningkatkan daya saing wilayah tersebut dan menarik minat lebih banyak investor dan perusahaan untuk beroperasi di sana.
7. Dampak Sosial:
Kereta cepat dapat memberikan manfaat sosial yang signifikan seperti peningkatan aksesibilitas bagi penduduk yang tinggal di sepanjang jalur kereta. Ini juga dapat meningkatkan mobilitas sosial dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat di daerah sekitar stasiun kereta cepat.
8. Peningkatan Pariwisata:
Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung juga dapat memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata. Dengan akses yang lebih mudah dan waktu perjalanan yang lebih singkat, jumlah wisatawan yang mengunjungi kedua kota ini dapat meningkat. Ini akan mendorong pertumbuhan industri pariwisata, termasuk hotel, restoran, dan sektor lain yang terkait.
Beberapa faktor yang menyebabkan terlambatnya proyek pembangunan kereta cepat Jakarta- Bandung, seperti yang dijelaskan oleh Yurianto dan Kadri (2020), adalah sebagai berikut:
1. Pembebasan lahan untuk infrastruktur bangunan. Hingga tahun 2022, hanya 86% dari total lahan yang telah diserahterimakan oleh pemilik. Sisanya sebesar 14% masih belum dapat dimanfaatkan karena adanya berbagai kendala. Hal ini menyebabkan kemajuan proyek tidak dapat mencapai jadwal yang ditentukan.
2. Jadwal proyek yang sangat ketat yang ditetapkan oleh pemilik proyek. Proyek ini memiliki jadwal pelaksanaan selama 36 bulan, dari tanggal 09/06/2018 hingga 09/06/2021. Dikarenakan tingkat kerumitan dan nilai yang signifikan dari proyek tersebut, jadwal pelaksanaan tidak sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya.
3. Perencanaan urutan kerja yang tidak terstruktur atau terintegrasi dengan baik.
Kurangnya pengaturan urutan kerja yang baik disebabkan oleh banyaknya jumlah
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
9 kontraktor yang terlibat dalam proyek kereta cepat ini, dan kurangnya koordinasi yang efektif antara kontraktor-kontraktor tersebut. Hal ini menjadi hambatan dalam mencapai waktu pelaksanaan yang diharapkan.
4. Keterbatasan sumber daya seperti tenaga kerja, alat, dan material yang sesuai dengan kebutuhan menjadi kendala dalam proyek ini. Proyek ini memiliki skala yang sangat besar dan jadwal pelaksanaannya sangat ketat, sehingga membutuhkan banyak sumber daya. Ketika pasokan material terbatas, pengiriman barang menjadi terhambat.
Keterlambatan pengiriman ini menyebabkan penundaan dalam proses konstruksi yang seharusnya sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
5. Shop drawing, yang merupakan gambar rinci untuk pelaksanaan proyek, tidak tersedia tepat waktu, sehingga tidak ada kesempatan untuk mempelajarinya terlebih dahulu.
Produksi shop drawing dilakukan oleh desainer dari China (CRDC), dan setiap anggota tim melakukan proses produksi shop drawing setelah construction drawing disetujui.
Waktu yang dibutuhkan dalam proses pembuatan construction drawing dan ketidakselarasan dengan jadwal konstruksi berdampak pada waktu pelaksanaan proyek.
6. Terdapat perubahan desain atau detail pekerjaan yang terjadi selama pelaksanaan proyek. Perubahan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk disetujui dan menjadi landasan perubahan pada kontrak. Situasi ini mempengaruhi jangka waktu pengerjaan proyek konstruksi, terutama pada bagian yang penting.
7. Proses koordinasi dalam proyek ini sangat kompleks (rumit). Sebagai pemilik proyek, PT KCIC berasal dari empat perusahaan asal Indonesia serta lima perusahaan asal China. Sementara itu, terdapat satu kontraktor dan enam perusahaan asal China sebagai kontraktor pelaksana HSRCC. Terdapat juga keterlibatan konsultan pengawas CD JO di dalamnya. Keterlibatan banyak pemangku kepentingan dalam proyek kereta cepat tersebut mengharuskan proses koordinasi yang kompleks selama pelaksanaan pembangunan. Pengurusan koordinasi dengan para pemangku kepentingan akan menghabiskan banyak waktu dan memiliki dampak terhadap kemajuan pelaksanaan proyek konstruksi.
8. Keterlambatan atau kelalaian yang disebabkan oleh pihak sub kontraktor dalam pelaksanaan kerja memiliki dampak yang signifikan pada waktu keseluruhan proyek, terutama jika pekerjaan tersebut berada dalam jalur kritis. Produktivitas kerja akan sangat bergantung pada keahlian dan kualifikasi sub kontraktor yang terlibat.
9. Kurang jelas serta tegasnya spesifikasi teknis dalam dokumen kontrak juga berdampak pada pelaksanaan proyek. Hal ini termasuk dalam menetapkan job mix, menentukan sumber batu quarry dan material apa yang harus dipergunakan. Dengan banyaknya tugas yang belum diberikan secara rinci, hal ini akan menyebabkan penundaan dalam proses pengadaan.
10. Selain itu, langkah-langkah perizinan yang rumit dari berbagai pihak yang terlibat juga mempengaruhi waktu pelaksanaan konstruksi. Proses perijinan yang berlarut-larut menyebabkan kinerja pekerjaan tidak mencapai tingkat yang diinginkan sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan.
11. Cuaca yang kurang baik juga menjadi faktor penghambat pembangunan proyek. Jenis pekerjaan yang dominan dalam proyek ini adalah pekerjaan elevated, seperti pembangunan jembatan dan saluran, serta pekerjaan subgrade yang meliputi penggalian dan penimbunan. Waktu pelaksanaan pekerjaan subgrade sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca, sehingga perlu mengatur produktivitas secara hati-hati agar jadwal tetap sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
10 Resiko Pembangunan Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung
Beberapa risiko yang harus diperhatikan dalam proyek ini mencakup kesulitan dalam mengamankan lahan dari pemerintah atau masyarakat, cuaca yang buruk dan berkepanjangan, perlu adanya pemindahan banyak utilitas (seperti listrik, air, dan gas), keterlambatan dalam penyelesaian desain gambar, perubahan desain yang terjadi, kesulitan dalam memperoleh izin yang dibutuhkan dari pemerintah, keterlambatan dalam pembayaran jangka proyek, dan masalah yang muncul dalam tim desain (Kusumadewi, 2017). Faktor risiko utama termasuk pembebasan lahan, kendala geoteknik, kesalahan desain, keterlambatan konstruksi, biaya konstruksi, dan bencana alam (Marantika, et al., 2017). Pembangunan kereta api cepat Jakarta- Bandung merupakan proyek alternatif yang berbeda dari perencanaan awal serta dilaksanakan pada periode pemerintahan yang berbeda. Dengan biaya proyek tinggi akan menimbulkan risiko serius, sehingga proyek sebesar ini menghadirkan beberapa risiko yang memiliki implikasi signifikan dan harus ditangani dengan manajemen risiko (Salim dan Simanjuntak, 2021). Dalam analisis risiko tahap pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung, terdapat tujuh kategori risiko lainnya yakni alam, ekonomi, human, lingkungan, perencanaan, hubungan proyek, dan teknikal (Kusumadewi, et al., 2017).
1. Risiko pada kategori alam
Hal ini disebabkan oleh kondisi alam, letak geografis dan geologis wilayah proyek yang beriklim tropis. Pengembangan proyek juga membawa risiko perusakan habitat alami.
Pembangunan jalur berkecepatan tinggi dapat mengakibatkan degradasi atau hilangnya habitat alami yang penting bagi keanekaragaman hayati. Deforestasi dan penggundulan hutan dapat menyebabkan fragmentasi habitat dan membahayakan spesies yang hidup di sana.
2. Risiko pada kategori ekonomi
Risiko tidak hanya datang dari situasi ekonomi negara, namun juga dari situasi keuangan proyek itu sendiri. Kondisi ekonomi bersifat dinamis dan pertumbuhan atau penurunan dapat terjadi kapan saja. Beberapa risiko lainnya yang terjadi antara lain ialah:
• Peningkatan Biaya Proyek: Salah satu risiko terbesar dalam proyek infrastruktur seperti kereta api berkecepatan tinggi adalah biaya proyek yang lebih tinggi. Kenaikan biaya konstruksi, pembebasan lahan dan operasi yang melebihi perkiraan semula dapat membahayakan keberlangsungan proyek dan menyebabkan kerugian finansial.
• Rendahnya Tingkat Penggunaan: Proyek kereta api berkecepatan tinggi membutuhkan kecepatan operasi yang tinggi untuk menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menutupi modal dan biaya operasi. Namun, jika tingkat pemanfaatan yang diharapkan tidak tercapai, proyek dapat mengalami kesulitan keuangan dan kerugian.
• Risiko Regulasi: Perubahan peraturan dan kebijakan pemerintah terkait proyek kereta api cepat dapat mempengaruhi keberlangsungan proyek dan meningkatkan risiko investasi. Petunjuk yang berkaitan dengan biaya tarif, undang-undang lingkungan, dan masalah hukum lainnya dapat berdampak signifikan pada pembiayaan proyek.
• Ketidakpastian Pendanaan: Proyek kereta api berkecepatan tinggi membutuhkan investasi besar. Ketidakpastian seputar pembiayaan proyek, seperti kesulitan mendapatkan dana yang cukup dari sumber yang diharapkan, dapat menimbulkan risiko keuangan yang signifikan terhadap proyek.
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
11
• Dampak Ekonomi yang Tidak Terduga: Pembangunan jalur berkecepatan tinggi dapat menimbulkan konsekuensi keuangan yang tidak terduga bagi sektor terkait dan perekonomian secara keseluruhan. Perubahan model perjalanan, persaingan dengan moda transportasi lain atau dampak sosial-ekonomi di lingkungan proyek dapat berdampak signifikan pada proyek.
3. Risiko pada kategori human
Secara kualitatif dan kuantitatif risiko yang timbul dari posisi staf proyek, pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung membutuhkan ribuan pekerja karena beban kerja yang sangat besar dan lokasi pembangunan yang sangat lama. Beberapa risiko lainnya yang terjadi akibat pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung antara lain ialah:
• Relokasi dan Penggusuran Paksa: Pembangunan proyek infrastruktur besar seperti kereta api berkecepatan tinggi mungkin memerlukan relokasi atau pengusiran penduduk. Ini dapat memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan pada masyarakat yang terkena dampak, termasuk kehilangan tempat tinggal, kehilangan mata pencaharian, ketidakstabilan sosial.
• Ketimpangan Ekonomi: Pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di beberapa daerah, namun dapat memperlebar kesenjangan ekonomi antara daerah yang terhubung dengan kereta cepat dan daerah lainnya. Hal ini dapat menimbulkan perbedaan pembangunan dan ketimpangan sosial ekonomi antar wilayah tersebut.
• Konflik Sosial: Pembangunan proyek infrastruktur besar seringkali dapat menimbulkan konflik sosial antar pemangku kepentingan. Hal tersebut berupa komunitas lokal, kelompok kepentingan atau orang yang merasa bahwa proyek tersebut dirugikan. Konflik sosial dapat menghambat kemajuan proyek dan menimbulkan ketegangan di masyarakat.
• Dampak Kesehatan Masyarakat: Pembangunan dan pengoperasian kereta api cepat dapat memengaruhi kesehatan masyarakat sekitar. Polusi udara, kebisingan, dan gangguan infrastruktur terkait proyek dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental penduduk setempat.
• Keterampilan dan Pekerjaan: Proyek kereta api berkecepatan tinggi dapat berdampak pada keterampilan dan pekerjaan lokal. Dalam beberapa kasus, proyek dapat memberikan kesempatan kerja dan pelatihan bagi masyarakat setempat. Namun, ada kemungkinan bahwa pekerjaan yang dibutuhkan untuk proyek ini akan dilakukan oleh staf lokal atau nasional.
4. Risiko pada kategori lingkungan
Risiko ini timbul dari kondisi negara, masyarakat dan kondisi kehidupan di sekitar area proyek sesuai ketentuan yang berlaku. Proyek ini terletak di daerah dengan pertukaran yang tinggi dan bervariasi. Dalam pelaksanaan proyek ini, kami juga bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, masyarakat dan hukum yang berlaku. Pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung juga menimbulkan beberapa risiko yang mengganggu lingkungan antara lain ialah:
• Gangguan terhadap ekosistem air: Proyek kereta api cepat membutuhkan infrastruktur seperti jembatan dan terowongan yang dapat mempengaruhi aliran sungai, drainase atau pola aliran permukaan. Hal ini dapat menyebabkan perubahan aliran air, penurunan kualitas air dan rusaknya ekosistem perairan.
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
12
• Peningkatan emisi gas rumah kaca: Proses pembangunan kereta api cepat dan penggunaannya dapat menyebabkan emisi gas rumah kaca seperti karbondioksida (CO2) dan metana (CH4). Pembakaran bahan bakar fosil untuk menggerakkan kereta api berkecepatan tinggi juga meningkatkan emisi gas rumah kaca.
• Gangguan terhadap satwa liar: Perluasan infrastruktur kereta api berkecepatan tinggi dapat menghancurkan habitat satwa liar, menghalangi jalur migrasi, dan meningkatkan risiko tabrakan dengan satwa liar. Hal ini dapat menyebabkan penurunan satwa liar dan kerusakan ekosistem setempat.
• Dampak terhadap sumber daya air: Pembangunan proyek kereta api cepat membutuhkan penggunaan sumber daya air yang besar. Pengeringan air tanah dan pengalihan aliran air ke proyek dapat berdampak negatif terhadap ketersediaan dan kualitas air di wilayah tersebut.
5. Risiko pada kategori planning atau perencanaan
Risiko ini muncul dalam proses yang berkaitan dengan perencanaan proyek. Dua pihak (Indonesia-Cina) bertanggung jawab atas perencanaan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Selain itu, rencana proyek dikirim dari China. Beberapa risiko lainnya yang terjadi akibat pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung antara lain ialah:
• Tundaan dan Penyimpangan Jadwal: Proyek infrastruktur besar seperti kereta api cepat Jakarta-Bandung dapat menghadapi risiko keterlambatan dan penundaan jadwal. Faktor-faktor seperti masalah teknis, perijinan, perubahan desain dan sengketa lahan dapat menunda pengembangan proyek dan mengakibatkan jadwal yang berantakan.
• Peningkatan Biaya dan Pengeluaran Tambahan: Risiko tenggat waktu yang umum mencakup peningkatan biaya proyek secara signifikan dan biaya tambahan tak terduga. Ketika perubahan desain dibuat, masalah teknis muncul atau persetujuan memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan, biaya proyek dapat melebihi perkiraan awal yang mengakibatkan kerugian finansial.
• Ketidakpastian Sumber Daya dan Material: . Rancangan proyek infrastruktur yang kompleks seperti kereta api berkecepatan tinggi membutuhkan sumber daya dan material yang signifikan. Ketidakpastian tentang ketersediaan sumber daya seperti tenaga kerja, material konstruksi, dan peralatan konstruksi dapat mempengaruhi jadwal dan kinerja proyek.
• Kompleksitas Manajemen Proyek: Proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung melibatkan banyak pemangku kepentingan dan melibatkan aspek kompleks seperti koordinasi pemangku kepentingan, manajemen konstruksi, dan manajemen operasi. Kompleksitas manajemen proyek ini dapat menghambat koordinasi, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan yang efektif.
6. Risiko pada kategori project relation
Risiko ini timbul dari interaksi para pihak yang terlibat dalam pelaksanaan proyek ketika pembangunan proyek dilakukan bersama oleh kontraktor Indonesia dan dua kontraktor China. Pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung juga menimbulkan beberapa risiko yang mengganggu hubungan proyek antara lain ialah:
• Konflik Pemangku Kepentingan: Pembangunan kereta api cepat Jakarta- Bandung melibatkan banyak pemangku kepentingan antara lain pemerintah, masyarakat setempat, kelompok kepentingan dan pihak swasta.
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
13 Ketidaksepakatan dan konflik antara para pemangku kepentingan atas masalah tanah, kompensasi dan dampak sosial dapat menghambat kemajuan proyek dan menyebabkan penundaan atau bahkan pembatalan.
• Ketidaksetujuan Publik: Rencana pembangunan jalur kereta api cepat Jakarta- Bandung bisa saja mendapat tentangan atau ketidaksetujuan dari sebagian atau kelompok tertentu di masyarakat. Isu-isu seperti isu lingkungan, sosial, dan ekonomi dapat memicu protes dan perlawanan dari masyarakat yang merasa telah dianiaya dalam proses pengambilan keputusan.
• Komunikasi yang Buruk: Kurangnya komunikasi yang efektif antara pemangku kepentingan proyek seperti pemerintah, kontraktor, dan masyarakat setempat dapat menimbulkan kebingungan, ketidakpuasan, dan ketidakpercayaan. Kurangnya transparansi dan partisipasi publik dalam perencanaan serta pengambilan keputusan proyek dapat melemahkan hubungan dengan pemangku kepentingan dan menghambat kelancaran proyek.
• Risiko Hukum: Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dapat menghadapi risiko hukum seperti sengketa tanah, pelanggaran kontrak atau tuntutan hukum yang berkaitan dengan dampak sosial atau lingkungan proyek. Risiko hukum yang tidak terkendali dapat mengganggu hubungan antara para pihak dan menimbulkan ketidakpastian yang mempengaruhi keseluruhan proyek.
7. Risiko pada kategori teknikal
Risiko ini timbul secara teknis dalam proses pengerjaan proyek. Kategori teknikal memiliki risiko terbanyak dengan 23 risiko atau setara dengan 35%. Pelaksanaan proyek ini melibatkan beberapa proses konstruksi arsitektural dengan berbagai resiko operasional seperti jembatan, terowongan dan pemadatan. Status proyek yang menunjukkan sebaran risiko sesuai gambar dapat dikategorikan sebagai proyek yang sangat berisiko. Pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung juga menimbulkan risiko antara lain:
• Teknologi dan Keandalan: Penggunaan teknologi baru dalam pembangunan rute kereta api cepat Jakarta-Bandung dapat menimbulkan risiko terhadap keandalan dan ketersediaan teknologi tersebut. Risiko teknis mencakup kegagalan sistem, kegagalan perangkat keras atau perangkat lunak, dan tantangan untuk memenuhi standar keamanan dan perlindungan informasi yang diperlukan.
• Tantangan Konstruksi: Proyek kereta api cepat memerlukan pembangunan infrastruktur yang kompleks, antara lain pembangunan jembatan, terowongan, dan stasiun. Tantangan teknis seperti kondisi geologis yang sulit, medan yang rumit, dan
kondisi cuaca ekstrem dapat menimbulkan risiko terhadap desain, anggaran, dan kualitas bangunan.
• Ketersediaan Lahan: Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung membutuhkan pembebasan lahan skala besar untuk jalur kereta api, stasiun dan fasilitas terkait.
Risiko yang terkait dengan ketersediaan lahan meliputi kesulitan dalam pembebasan dan penyelesaian tanah, perubahan kondisi tanah, sengketa tanah dan kesulitan dalam menyelesaikan proses pengalihan hak atas tanah.
• Keselamatan Operasional: Keselamatan operasional kereta api berkecepatan tinggi menjadi pertimbangan penting saat merencanakan proyek ini. Risiko teknis yang terkait dengan keselamatan operasional dapat mencakup sistem
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
14 persinyalan, perangkat keselamatan, pemeliharaan peralatan, dan kesalahan manusia. Perhatian khusus harus diberikan pada kepatuhan dengan standar keselamatan yang ketat.
Dampak Pembangunan Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung
Pembangunan mega proyek kereta api cepat rute Jakarta-Bandung sebagai wujud dari adanya inovasi transportasi dan salah satu bentuk modernisasi tentu saja telah membawa dampak terhadap beberapa sektor lainnya (Sasmitari, Raniasih & A. Hasnawi., 2019). Hal ini dikarenakan bahwa antara satu sektor dengan sektor yang lainnya saling berkaitan termasuk juga sektor transportasi yang dilihat secara prospeknya memiliki keterkaitan yang erat dengan beberapa sektor lainnya seperti sektor sosial-ekonomi dan sektor lingkungan hidup. Selain itu, dapat dapat dikatakan bahwa sektor transportasi berperan penting dalam upaya peningkatan produksi sektor selain input jika kemampuannya dibandingkan dengan upaya untuk meningkatkan sektor sektor lain dalam hal produksinya. Pada sektor transportasi nilai koefisien sensitivitas lebih besar dari satu, tetapi untuk koefisien distribusi lebih kecil dari satu. Nilai tersebut berarti bahwa sektor transportasi lebih mampu mendukung pertumbuhan sektor hulunya dibandingkan dengan hilirnya (Sasmitari, Raniasih., A. Hasnawi., 2019). Adapun dampak dari adanya pembangunan proyek infrastruktur tersebut adalah sebagai berikut:
1. Dampak Proyek Kereta Api Cepat Rute Jakarta-Bandung terhadap Kondisi Internal Kawasan
Adapun hasil analisis dari dampak pembangunan infrastruktur berupa kereta api cepat rute Jakarta-Bandung ini maka penulis dapat membagi keterkaitan tersebut sebagai berikut:
1.1. Analisis Dampak Proyek Kereta Api Cepat terhadap Sektor Ekonomi dan Sosial Sebagai proyek yang dibangun dengan tujuan untuk sarana penghubung antar kota dan meningkatkan perekonomian daerah, maka hal tersebut menimbulkan dampak secara langsung Jakarta-Bandung, maka menurut Sasmitari dan A. Hasnawi (2019) emenyatakan bahwa proyek ini telah membawa dampak yang signifikan terhadap kondisi ekonomi masyarakat, sebagai berikut:
• Pembangunan proyek api cepat Jakarta-Bandung berdampak pada adanya pertambahan dan perluasan sektor lapangan kerja. Berkaitan dengan hal tersebut maka secara tidak langsung telah turut serta dalam menciptakan pemerataan pendapatan sekaligus kesejahteraan masyarakat.
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
15
• Pembangunan proyek tersebut dapat dikategorikan sebagai dasar pembangunan infrastruktur, termasuk juga meliputi infrastruktur dalam hal teknologi dan sains.
Pembangunan tersebut membawa dampak terhadap arus modal dan investasi. Adanya aliran investasi yang masuk tersebut akan berdampak juga terhadap pembangunan infrastruktur-infrastruktur lainnya yang dapat saling mendukung, seperti pembangunan kawasan industri baru, zona kapet, area pasar, Pelabuhan, dan pembangunan sarana akademik yang dapat mendorong ditemukannya hal-hal baru dalam dunia sains untuk selanjutnya dimanfaatkan untuk kepentingan sektor industri. Semakin banyak investasi yang masuk maka pembiayaan negara akan semakin berkurang dan dapat digunakan untuk kesejahteraan warga secara maksimal.
• Proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung berdampak juga pada adanya kekuatan untuk mampu mempengaruhi arah keputusan integrasi daerah dalam sektor sosial-ekonomi nya.
Lebih lanjut diketahui bahwa pembangunan proyek tersebut dapat meningkatkan konektivitas antara Jakarta dan Bandung. Perjalanan yang awalnya memakan waktu beberapa jam dengan mobil atau bus, kini dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 40 menit. Hal ini akan memudahkan perjalanan antara dua kota dan mendorong mobilitas penduduk serta pertumbuhan ekonomi di kedua kawasan.
• Hadirnya proyek api cepat Jakarta-Bandung berdampak pada ruang isolasi fisik dan nonfisik di sejumlah wilayah semakin terbuka. Pengaruh tersebut merupakan sesuatu hal yang cukup penting jika mengingat bahwa adanya isolasi fisik akan membawa pengaruh yang buruk pada pembangunan secara sosial-ekonomi pada wilayahnya. Sedangkan adanya isolasi wilayah merupakan salah satu faktor penghambat distribusi atau penyaluran komoditas unggulan dari desa ke kota seperti bahan tambang, hasil perkebunan, hasil peternakan, pertanian, dan kehutanan. Pada akhirnya berbagai komoditas tersebut hanya tertahan di wilayahnya saja sehingga penduduk sekitar tidak mendapatkan penghasilan dari penjualan komoditas tersebut. Dapat dikatakan bahwa penghasilan masyarakatnya akan rendah dan disparitas kekayaan juga akan meningkat.
• Terbentuknya sentral perekonomian yang baru sekaligus sebagai Transit Oriented Development yang disebut dengan Walini. Pembangunan sentral ekonomi baru tersebut berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang semakin besar, tidak terkecuali UMKM yang berperan sebagai pondasi berbagai sektor kegiatan usaha di area sekitar stasiun dan kompleks komersial. Disisi lain, sentral Walini dipersiapkan juga untuk menjadi tempat riset dan pusat pendidikan dalam rangka mendukung pengembangan Gedebage menjadi pusat kawasan bidang teknologi dan riset (Teknopolis).
Sedangkan untuk dampak sosial dapat dikatakan masih sama dengan dampak terhadap ekonomi masyarakat. Hal tersebut dikarenakan bahwa secara umum terdapat keterkaitan dan ketersinggungan yang erat antara kondisi sosial dan ekonomi. Dampak dari adanya pembangunan infrastruktur kerata api cepat Jakarta-Bandung dengan indikator sosial adalah adanya arus urbanisasi dalam skala yang besar karena kelengkapan fasilitas infrastruktur yang disediakan secara memadai (Sasmitari, Raniasih & A. Hasnawi., 2019). Maka dari itu dapat diketahui bahwa adanya pembangunan infrastruktur kereta api cepat Jakarta-Bandung memiliki dampak yang besar dan signifikan yaitu perpindahan penduduk atau mobilitas sosial yang dapat Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
16 dilakukan secara cepat. Mobilitas sosial diartikan sebagai struktur sosial yang mengalami pergerakan dengan pola tertentu untuk mempengaruhi dan mengatur suatu kelompok sosial yang ada di masyarakat. Adanya proyek tersebut mengakibatkan adanya perubahan yang signifikan terhadap dominasi mata pencaharian masyarakat Bandung, dari yang semula didominasi oleh petani menjadi berkembang mata pencaharian lainnya seperti pengusaha, buruh, dan kuli. Banyaknya kegiatan di sekitar stasiun. Kawasan proyek tersebut juga berdampak dalam hal menambah jumlah lapangan kerja sekaligus adanya sebuah akulturasi akibat arus mobilitas.
1.2. Analisis Dampak Proyek Kereta Api Cepat terhadap Sektor Lingkungan Hidup Pembangunan proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung tidak dapat dilepaskan dengan hubungannya pada lingkungan di sekitar wilayahnya. Hal tersebut menjadi penting untuk diperhatikan mengingat salah satu indikator pembangunan yang baik dan menjadi amanat dalam UUD 1945 adalah berdasar pada prinsip berkelanjutan secara ekologisnya.
Lingkungan itu sendiri memiliki dimensi dan cakupan yang luas berupa segala sesuatu baik itu benda ataupun makhluk hidup termasuk manusia beserta tingkah lakunya dalam kesatuan ruang dan saling memberikan pengaruhnya. Dapat diketahui bahwa pelaksanaannya, proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung memiliki berbagai dampak baik itu yang menguntungkan ataupun merugikan. Dalam pembahasannya bukan hanya berkaitan dengan jumlah anggaran untuk pembiayaan proyek, lebih jauh dijelaskan juga akan dampak terhadap lingkungannya. Diketahui bahwa dalam analisis perencanaan proyek yang dibuat oleh PT. Kereta Api Indonesia China High Speed Train Project (PT.
KCIC) sudah mengantongi status perizinan first definition perusahaan kereta api, perizinan trayek, dan perizinan lingkungan (AMDAL) berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Semua jenis perizinan tersebut telah disahkan pada 21 Januari 2016 sebagai persyaratan awal (Dina et al., 2021).
Proyek ini berpotensi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Kereta cepat menghasilkan jejak karbon yang lebih kecil jika dibandingkan dengan transportasi lain seperti mobil pribadi atau pesawat terbang. Dengan mendorong penggunaan transportasi umum yang lebih berkelanjutan, proyek ini memiliki potensi untuk berperan secara positif dalam usaha mengurangi dampak perubahan iklim. Adapun untuk pembangunan Walini sebagai sentral industri yang baru sebagai infrstruktur pendukung operasioanal proyek maka juga dituntut untuk tetap memperhatikan dampak lingkungan dan ketersediaan kawasan hijau. Namun pada kenyataannya pembangunan Walini tersebut kurang berfokus pada pengelolaan terhadap perlindungan lingkungan dan tata kelola Kawasan hijau serta tidak menganalisis kajian AMDAL secara cermat (Sanjaya & Puspitasari, 2020). Adapun dampak dari kesalahan tersebut ditandai dengan adanya kerusakan lingkungan seperti jumlah ketersedian air yang semakin berkurang diakibatkan karena adanya alih fungsi lahan yang digunakan untuk membangun infrastruktur kereta api cepat dan berbagai sarana pendukung lainnya sehingga tidak ada lagi daerah resapan air.
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
17 Menurut Abetnego Tarigan, Dirjen Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dikutip dalam Sanjaya & Puspitasari (2020), "Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung justru berpotensi meningkatkan degradasi lingkungan di sepanjang jalur kereta api.” Selain itu, ada efek tidak langsung ketika 150 hektar lahan pertanian di sekitar stasiun kereta api dan rel kereta api cepat dikonversi menjadi penggunaan non-pertanian. Dengan beralihnya fungsi lahan agraria, maka pangan nasional semakin berkurang. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa dibalik mega proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung dengan High Speed Line, ternyata masih banyak masalah mengenai aspek lingkungan tentang pelaksanaan due diligence dampak lingkungan (AMDAL) dan pengelolaan ruang di sekelilingnya. Diperlukan adanya pemanfaatan dan alih fungsi lahan secara baik sehingga mampu menciptakan keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan, pemanfaatan SDA yang dilakukan secara terpadu, sumber daya buatan dan SDM untuk mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, juga tidak kalah pentingnya yaitu untuk mencegah efek negatif dari penggunaan ruang bagi lingkungan.
2. Dampak Proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung terhadap Kondisi Eksternal Kawasan
Analisis dampak eksternal yang diakibatkan oleh pembangunan proyek kereta api cepat Bandung-Jakarta, maka erat kaitannya dengan hukum dan peraturan pemerintah, serta kelembagaan dan tautan pengembangan proyek ke daerah di luar Bandung-Jakarta (Sasmitari, Raniasih & A. Hasnawi., 2019). Menurut ketentuan, perolehan proyek kereta api cepat harus mendapatkan dukungan yang kuat dari hukum yang berlaku untuk kemudian dianalisis lebih lanjut untuk dapat diberlakukan pada wilayah yang dilalui rute pembangunannya. Oleh karena itu memerlukan adanya investigasi untuk memverifikasi wilayah tersebut untuk meninjau potensi wilayah yang digunakan akibat dari adanya proyek tersebut. Adapun pada level kelembagaan, pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung berdampak pada menguatnya kerjasama antara pemerintah dan swasta melalui implementasi program bisnis.
Disisi lain, BUMN merupakan salah satu pihak yang ikut terlibat sekaligus menjadi bagian dari konsorsium PT. KCIC. konsekuensi dari peran tersebut adalah menjadi pengarah pada pengelolaan kereta api dari mulai transfer terhadap pengetahuan, sinyal, dan memastikan berbagai infrastruktur pendukung lainnya seperti area komersil (kompleks perbelanjaan, perkantoran, perumahan, akomodasi, sekolah, kampus, rumah sakit, fasilitas rekreasi) berfungsi dengan baik. Selain itu, BUMN juga ikut serta dalam perakitan perkeretaapian dan kereta cepat, sehingga diharapkan kedepannya dapat menyesuaikan industri perkeretaapian dan perkeretaapian untuk memenuhi kebutuhan pasar daerah.
Dalam kaitannya dengan interaksi antardaerah, ada berbagai penilaian yang pesimis terhadap adanya ketimpangan ekonomi, namun demikian tetap diyakini bahwa dengan
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
18 adanya proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung sebenarnya merupakan awal dari pembangunan kereta api cepat di seluruh pulau Indonesia. Hal tersebut secara tidak langsung berdampak pada adanya kememungkinkan untuk pertumbuhan pergerakan keuangan yang lebih cepat, aman dan nyaman antardaerah satu dengan yang lainnya di seluruh Indonesia. Jalur cepat Jakarta-Bandung dipilih untuk pengerahan awal karena memiliki persyaratan lahan, ekonomi, dan kelayakan terbaik.
KESIMPULAN
Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu faktor terpenting untuk memajukan suatu negara menjadi lebih baik. Oleh karena itu tidak heran bahwa Negara Indonesia terus melakukan berbagai pembangunan dan perbaikan infrastruktur disegala bidang. Salah satu bidang yang mendapatkan perhatian serius adalah bidang transportasi. Pada tahun 2014 Presiden Jokowi menetapkan pembangunan kereta api cepat dengan rute Jakarta- Bandung menjadi salah satu proyek strategis nasional. Adapun dalam implementasi pembangunannya, Presiden Jokowi mengajak Presiden Xi Jinping untuk bekerjasama dalam hal investasi sekaligus juga berhasil melakukan kesepakatan 7 dokumen kerjasama lainnya.
Pembangunan proyek ini didukung oleh beberapa faktor, seperti: kepadatan penduduk, pertumbuhan ekonomi, peningkatan konektivitas regional, dampak lingkungan, mengurangi kecelakaan lalu lintas, peningkatan daya saing, dampak sosial, dan peningkatan pariwisata.
Namun pembangunan proyek ini juga menemui beberapa hambatan yang disebabkan oleh adanya faktor, seperti sulitnya mengadakan pembebasan lahan, jadwal proyek yang ditetapkan oleh pemilik proyek sangat ketat, perencanaan urutan kerja yang tidak terstruktur atau terintegrasi dengan baik, keterbatasan sumber daya (tenaga kerja, alat, dan material) yang dibutuhkan dalam pembangunannya, desain rinci pembangunan proyek tidak tersedia tepat waktu, terjadi perubahan desain atau detail pekerjaan yang terjadi selama pelaksanaan proyek, koordinasi proyek yang kompleks dan rumit, keterlambatan atau kelalaian yang disebabkan oleh pihak sub kontraktor dalam pelaksanaan kerja, kurang jelas serta tegasnya spesifikasi teknis dalam dokumen kontrak, perizinan yang lama, serta faktor cuaca.
Adanya proyek infrastruktur kereta api cepat rute Jakarta-Bandung ini membawa berbagai dampak yang cukup signifikan terhadap sektor lainnya, seperti sektor sosial-ekonomi dan lingkungan hidup. Proyek ini secara signifikan memiliki prospek yang baik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di kawasan sekitar lokasi pembangunan sehingga secara tidak langsung akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara nasional juga. Kemudahan dalam mobilitas penduduk juga akan membawa dampak sosial untuk membuka ruang-ruang yang selama ini terisolasi sehingga pemerataan kesejahteraan penduduk semakin mudah dilakukan. Adapun pada level kelembagaan, pembangunan proyek kereta cepat Jakarta- Bandung berdampak pada menguatnya kerjasama antara pemerintah dan swasta melalui implementasi program bisnis. Namun sangat disayangkan bahwa adanya alih lahan hijau untuk membangun proyek akan mengurangi daerah resapan air tetapi disisi lain pembangunan proyek ini juga berdampak baik untuk mengurangi gas emisi karbon yang dihasilkan oleh banyaknya kendaraan pribadi. Terlepas dari semua dampak tersebut, penting untuk diperhatikan bahwa pembangunan megaproyek ini merupakan proyek alternatif yang berbeda dari perencanaan
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
19 awal serta dilaksanakan pada periode pemerintahan yang berbeda. Dengan biaya proyek tinggi akan menimbulkan risiko serius, sehingga proyek sebesar ini menghadirkan beberapa risiko yang memiliki implikasi signifikan dan harus ditangani dengan manajemen risiko. Dalam analisis risiko tahap pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung, terdapat tujuh kategori risiko lainnya yakni alam, ekonomi, human, lingkungan, perencanaan, hubungan proyek, dan teknikal.
Prodi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu administrasi, Universitas Brawijaya, 2023.
20 DAFTAR PUSTAKA
Atifah, B.M., Hanafi, A., Wijaya, A.A., Nurhuda, L., Apsari, R.W., Masitoh, F. (2022). Analisis Potensi Dan Perencanaan Pembangunan Di Desa Punjul Kabupaten Tulungagung.
Jurnal Lageografia. Vol. 20. No. 2. Hal. 149-159. p-ISSN: 1412-8187 | e-ISSN: 2655- 1284. http://dx.doi.org/10.35580/lageografia.v20i2.31426.
Berutu, A.D.A., Oktaini, R., Sugengni, S., Panorama M. (2022). Analisis Pembangunan Infrastruktur Terhadap Pembangunan Ekonomi Masyarakat Pesisir Sumatera Utara.
Jurnal Berajah. Volume 2 Nomor 1.
Dina, D., Menanda, I. Della, Pratama, I. A., Ramadhani, K. M., & Sumiati, M. (2021).
Perspektif Ekologi Administrasi: Pembangunan Insfrastruktur Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung. Jurnal Neo Politea, 2(1), 1–10. Diakses dalam https://doi.org/10.53675/neopolitea.v2i1.283 pada 5 Juni 2023.
Hansen, S. (2022). Investigasi Perencanaan Pembangunan Infrastruktur: Pergeseran Paradigma Dan Pertimbangan Perencanaan Masa Mendatang. Jurnal Reksabumi. Volume 1.
Nomor 2. Halaman 08-22. P-ISSN: 0000-0000 dan E-ISSN: 2809-638X.
Jdih.kemnaker.go.id. (n.d.). Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Kereta Cepat Antara Jakarta dan Bandung. Diakses dalam https://jdih.kemenparekraf.go.id/katalog-751-produk-hukum pada 6 Juni 2023.
Kadarisman, M. (2017). Kebijakan Transportasi Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung dalam Mewujudkan Angkutan Ramah Lingkungan. Jurnal Manajemen Transportasi &
Logistik. Vol. 04 No. 03. ISSN 2355-4721.
Kusumadewi, A., Listyani, V., Hatmoko, J. U. D., & Hermawan, F. (2017). ANALISA MANAJEMEN RISIKO TAHAP KONSTRUKSI PADA PROYEK KERETA CEPAT JAKARTA-BANDUNG. Jurnal Karya Teknik Sipil, 6(1), 157–164. http://ejournal- s1.undip.ac.id/index.php/jkts
Liputan Khusus. (2022). Pemerintah Berkomitmen Membangun Kereta Cepat Jakarta Bandung. Diakses dalam https://dephub.go.id/post/read/pemerintah-berkomitmen- membangun-kereta-cepat-jakarta-bandung pada 6 Juni 2023.
Marantika, D., Erwinsyah, Moch. B., Hatmoko, J. U. D., & Khasani, R. R. (2017). ANALISIS RISIKO INVESTASI PROYEK KERETA CEPAT JAKARTA-BANDUNG. Jurnal Karya Teknik Sipil, 6(1), 324–335. http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkts
Rochimasnaini, A. (2016). Negara Dan Kebijakan Publik: (Studi Peran Negara terhadap Kebijakan Investasi Pembangunan Infrastruktur Kereta Cepat dalam Perspektif Ekonomi Politik). Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik. UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Salim, I. P., & Simanjutak, M. R. A. (n.d.). KAJIAN AWAL MANAJEMEN RISIKO PROYEK KERETA CEPAT JAKARTA-BANDUNG. Retrieved June 7, 2023, from
21 https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/12691/88_CEEDRIMSREV _e Book_Prosiding%20CEEDRIMS%202021_rev300821.pdf?sequence=1
Sanjaya, F., & Puspitasari, V. (2020). Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dalam Perspektif Kritis Environmentalisme.
Padjadjaran Journal of International Relations, 2(2), 170. Diakses dalam https://doi.org/10.24198/padjir.v2i2.26044 pada 5 Juni 2023.
Sasmitari, Raniasih., A. Hasnawi., A. R. (2019). IDENTIFIKASI PROSPEK PROYEK KERETA CEPAT JAKARTA-BANDUNG TAHUN 2050. Jurnal Studi Futuristik,
2(July), 1–25. Diakses dalam
http://www.chinarailway.com.cn/xwdt/jrtt/201801/t20180102_69601.html pada 5 Juni 2023.
Yamin, M. Windymadaksa, S. (2017). Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Sebagai Mercusuar Hubungan Indonesia - Tiongkok. Jurnal Politik Profetik. Volume 5, No. 2.
Yurianto dan Trihono Kadri. (2020). Identifikasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keterlambatan Proyek Infrastruktur Kereta Cepat Jakarta-Bandung. CESD, 03(1), 35- 41.
View publication stats