PENDAHULUAN
Identifikasi Masalah
Kemampuan siswa autis kelas VIII SKABA Yogyakarta dalam menyelesaikan masalah matematika berbentuk cerita masih rendah. Siswa autis kelas VIII SKABA Yogyakarta kesulitan memahami soal dan menentukan langkah-langkah penyelesaian soal matematika dalam bentuk cerita. Belum diketahui bagaimana keefektifan pembelajaran pemecahan masalah model Polya dalam meningkatkan kemampuan penyelesaian masalah matematika berbentuk cerita pada siswa autis.
Batasan Masalah
Dalam penelitian ini penulis membatasi masalah untuk menguji keefektifan pembelajaran pemecahan masalah model Polya untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah matematika berbentuk cerita pada siswa autis kelas VIII SKABA Yogyakarta.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Pembelajaran pemecahan masalah model Polya dapat diterapkan guru sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan siswa autis dalam menyelesaikan masalah matematika berbentuk cerita matematika. Penerapan model Polya untuk pembelajaran pemecahan masalah dapat membantu meningkatkan dan meningkatkan mutu pendidikan matematika di sekolah tersebut.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Matematika
Matematika Sekolah
Pembelajaran Matematika
Tujuan Pembelajaran Matematika
Oleh karena itu, keterampilan empat bilangan ini hendaknya diajarkan pada masa awal siswa belajar matematika. Sebelum mempelajari pemecahan masalah, siswa harus sudah menguasai konsep dan keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Ketiga unsur tujuan pembelajaran tersebut harus diajarkan secara seimbang dalam proses pembelajaran matematika agar hasil belajar matematika siswa menjadi bermakna.
Pemahaman konsep dan keterampilan matematika tidak akan ada artinya jika siswa tidak dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Kajian Tentang Anak Autis
- Pengertian Anak Autis
- Karakteristik Anak Autis
- Karakteristik Belajar Anak Autis
- Kebutuhan Belajar Anak Autis
Secara umum ciri-ciri anak autis dapat dilihat dari tiga aspek yaitu mengalami gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku. Gangguan interaksi sosial, komunikasi dan perilaku yang dialami anak autis berdampak besar terhadap kemampuan belajarnya (Azwandi). Keadaan anak autis berbeda dengan anak pada umumnya, artinya mereka mempunyai kebutuhan belajar yang berbeda.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa peningkatan keterampilan interaksi sosial, komunikasi dan perilaku anak autis hendaknya menjadi tujuan utama dalam memberikan pendidikan kepada anak autis.
Kajian Tentang Soal Matematika Bentuk Cerita
- Pengertian Soal Matematika Bentuk Cerita
- Langkah Penyelesaian Soal Matematika Bentuk Cerita
- Kemampuan untuk Menyelesaikan Soal Matematika
- Kemamapuan Siawa Autis Menyelesaikan Soal
- Kelebihan dan Kekurangan Soal Matematika Bentuk Cerita 21
- Pembelajaran Prblem Solving
- Pengertian Pembelajaran Problem Solving model Polya
- Pembelajaran Problem Solving Model Polya untuk
- Kelebihan dan Kelemahan Problem Solving Model Polya
Ada beberapa langkah sistematis yang harus dilakukan siswa untuk menyelesaikan masalah matematika dalam bentuk cerita. Sebelum siswa mampu menyelesaikan masalah matematika berbentuk cerita, ada beberapa keterampilan prasyarat yang harus dimiliki siswa. Kemampuan penalaran merupakan kemampuan menjawab pertanyaan sesuai dengan permasalahan yang diajukan dalam soal matematika berbentuk cerita.
Kekurangan dari pemecahan masalah model Polya Walter adalah membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan suatu masalah dalam bentuk cerita.
Efektivitas pembelajaran Problem Solving Model Polya
Setiap langkah dalam model pemecahan masalah Polya berisi masalah-masalah kecil yang pada akhirnya dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah inti yang dihadapi.
Penelitian Relevan
Persamaan penelitian yang dilakukan peneliti dengan penelitian sebelumnya adalah penggunaan model pembelajaran pemecahan masalah Polya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika berbentuk cerita. Pada penelitian sebelumnya model pembelajaran pemecahan masalah Polya diterapkan pada siswa normal, peneliti akan menerapkannya pada siswa autis. Selain itu, pada tahap awal pembelajaran pemecahan masalah model Polya pada anak autis akan dilakukan kegiatan menandai kalimat yang menunjukkan jenis-jenis operasi berhitung dengan menggunakan stabilo.
Kerangka Pikir
Hipotesis Penelitian
METODE PENELITIAN
- Desain Penelitian
- Tempat dan Waktu Penelitian
- Subjek Penelitian
- Objek Penelitian
- Definisi Operasional
- Teknik Pengumpulan Data
- Instrumen Penelitian
- Validitas instrumen
- Prosedur Perlakuan
- Baseline-1
- Intervensi
- Baseline-2
- Teknik Analisis Data
B (intervensi) merupakan gambaran kemampuan pasien dalam menyelesaikan masalah matematika dalam bentuk cerita selama perawatan. Subyeknya adalah subjek autis yang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah matematika berbentuk cerita matematika. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan mata pelajaran autis di kelas VIII dalam menyelesaikan masalah matematika berbentuk cerita matematika.
Siswa mampu menyelesaikan soal matematika berupa cerita penjumlahan tentang penggunaan uang dengan menggunakan model pemecahan masalah Polya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Sekolah Khusus Autisme Bina Anggita (SKABA) Yogyakarta yang berlokasi di Jl. Sesuai dengan namanya, SKABA merupakan sekolah swasta di Yogyakarta yang menyelenggarakan pendidikan khusus bagi anak autis. Pada tahun 1999, sekolah ini didirikan sebagai lembaga pendampingan anak autis bernama Juru Genthong, Gedong Kuning, Yogyakarta.
Deskripsi Subjek Penelitian
Subjek sudah mempunyai inisiatif spontan untuk membantu teman yang sedang kesusahan, misalnya membantu membalik celana temannya, dan membantu melepas celana temannya. Hal ini terlihat dari kemampuan subjek dalam menjawab pertanyaan sesuai isi bacaan yang disajikan dan menceritakan isi bacaan dengan bahasa sederhana. Kemampuan akademik khususnya dalam pembelajaran matematika antara lain mampu melakukan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan kecil sampai ribuan secara mandiri dan mampu melakukan operasi hitung perkalian sederhana 1-5 dengan menggunakan penjumlahan berulang secara mandiri.
Ketika subjek dihadapkan pada suatu soal matematika yang berbentuk cerita, maka subjek akan menjumlahkan semua data yang diketahui sehingga hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang ditanyakan.
Hasil Penelitian
- Deskripsi Fase Baseline-1
- Deskripsi Fase Intervensi
- Deskripsi Fase Baseline-2
Hal ini terlihat dari hasil prestasi subjek dalam menyelesaikan masalah matematika dari cerita pada basis-1 masing-masing pada tahun 2017. Setelah itu peneliti menjelaskan pokok bahasan yang akan dipelajari subjek yaitu penyelesaian masalah matematika berupa kumpulan cerita tentang penggunaan uang. Kegiatan dasar dilakukan dengan cara peneliti menyajikan contoh soal matematika dalam bentuk cerita dan meminta subjek membaca soal tersebut.
Intervensi materi operasi hitung pengurangan pada soal matematika berbentuk cerita dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan yaitu pada tanggal 8 Februari 2017 dan. Kegiatan inti dilakukan dengan menyajikan 2 soal matematika berupa cerita pengurangan yang berkaitan dengan kegiatan jual beli dan meminta subjek membacakan soal. Setelah peneliti membimbing subjek mengerjakan soal matematika berbentuk cerita dengan menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah model Polya, peneliti menyajikan 5 soal latihan dan memfasilitasi subjek untuk menyelesaikan soal latihan tersebut.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyajian lima soal latihan untuk mengidentifikasi masalah matematika berupa cerita pengurangan dan penjumlahan, serta membantu subjek menyelesaikan masalah tersebut sesuai dengan langkah pemecahan masalah model Polya. Eksperimen kemudian mengingatkan subjek tentang apa yang telah dipelajari subjek pada pertemuan sebelumnya dan kemudian menjelaskan topik yang akan dipelajari yaitu menyelesaikan masalah matematika berbentuk cerita aritmatika campuran. Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dua contoh soal matematika dalam bentuk cerita aritmatika campuran.
Peneliti kemudian menyajikan lima soal latihan untuk mengidentifikasi masalah matematika berupa cerita pengurangan dan penjumlahan, serta memfasilitasi subjek untuk menyelesaikan masalah tersebut sesuai dengan langkah-langkah penyelesaian masalah model Polya. Kemampuan akhir yang diuji pada tahap Baseline 2 adalah kemampuan subjek dalam menyelesaikan permasalahan matematika berbentuk cerita yang melibatkan penjumlahan, pengurangan, dan hitung campuran antara penjumlahan dan pengurangan.
Analisis Data
- Analisis Dalam Kondisi
- Analisis Antar Kondisi
Hal ini terlihat dari hasil prestasi subjek dalam menyelesaikan masalah matematika berbentuk cerita pada baseline-2 yaitu pada sesi I, II dan III hasil prestasi subjek sebesar 100%. Fase penelitian yang disebutkan dalam penelitian ini adalah fase baseline-1, fase intervensi, dan fase baseline-2. Sedangkan kondisi yang akan kami analisis dalam penelitian ini adalah kondisi kemampuan subjek dalam menyelesaikan masalah matematika berupa cerita penjumlahan, pengurangan dan operasi hitung campuran antara penjumlahan dan pengurangan.
Data tersebut menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran pemecahan masalah model polya efektif meningkatkan kemampuan subjek dalam menyelesaikan masalah matematika berupa cerita penjumlahan, pengurangan dan operasi hitung campuran antara penjumlahan dan pengurangan. Garis vertikal memuat pencapaian kemampuan menyelesaikan masalah matematika berupa cerita penjumlahan, pengurangan dan operasi hitung campuran antara penjumlahan dan pengurangan dalam satuan persentase. Dalam penelitian ini, perubahan level antara fase baseline-1 dan intervensi adalah (+32,5%) dan perubahan level antara fase intervensi dan fase baseline-2 adalah (+5).
Kemampuan subjek dalam menyelesaikan soal matematika berupa penjumlahan, pengurangan dan operasi hitung campuran meningkat sebesar 32,5% pada sesi pertama tahap intervensi dari sesi terakhir tahap baseline-1, hal ini berarti kondisinya meningkat atau membaik ( +) setelah tahap intervensi dilakukan. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa pemberian tahap intervensi memberikan pengaruh terhadap perilaku sasaran yaitu penerapan pembelajaran pemecahan masalah model Polya memberikan pengaruh dalam meningkatkan kemampuan subjek dalam menyelesaikan masalah matematika berbentuk cerita. Berdasarkan analisis data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran pemecahan masalah Polya berpengaruh dan efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa autis kelas VIII dalam menyelesaikan masalah matematika berbentuk cerita.
Hal ini sejalan dengan meningkatnya persentase kemampuan subjek dalam menyelesaikan soal tes yang terdiri dari soal matematika berupa cerita penjumlahan, pengurangan dan operasi hitung campuran antara penjumlahan dan pengurangan. Pada data tahap baseline 1 dan tahap intervensi tidak terdapat data yang tumpang tindih, sehingga secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran pemecahan masalah model Polya memberikan pengaruh yang baik terhadap peningkatan kemampuan subjek dalam memecahkan masalah matematika. . dalam bentuk cerita.
Pembahasan
Menurut Abdurrahman, ada beberapa keterampilan yang perlu dimiliki siswa untuk menyelesaikan masalah matematika berbentuk cerita, antara lain keterampilan menganalisis dan menafsirkan informasi dalam soal, serta keterampilan menentukan strategi pemecahan masalah. Subjek tidak mampu menganalisis dan memahami situasi dalam tugas, sehingga ketika subjek dihadapkan pada tugas matematika berbentuk cerita, subjek akan menggabungkan semua data yang ada dalam tugas tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesulitan subjek dalam menyelesaikan masalah matematika berbentuk cerita adalah dengan menerapkan pembelajaran pemecahan masalah model Polya dalam menyelesaikan masalah matematika berbentuk cerita.
Penerapan model pembelajaran pemecahan masalah Polya dapat membantu kesulitan subjek dalam menyelesaikan masalah matematika berbentuk cerita, khususnya dalam menganalisis dan memahami masalah serta dalam menentukan langkah-langkah penyelesaian masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan penerapan pembelajaran pemecahan masalah model Polya untuk meningkatkan kemampuan subjek dalam memecahkan masalah matematika berbentuk cerita. Data hasil intervensi menunjukkan bahwa skor prestasi subjek dalam menyelesaikan soal cerita matematika terus meningkat dari pertemuan pertama hingga pertemuan ketiga.
Namun pada pertemuan keempat dengan materi mengidentifikasi penjumlahan dan pengurangan pada soal aritmatika berbasis cerita, skor kinerja subjek turun dari 90% menjadi 80%. Hal ini menunjukkan bahwa pada pertemuan pertama hingga ketiga subjek belum benar-benar mampu menentukan langkah-langkah penyelesaian soal aritmatika berbentuk cerita. Pada pertemuan ketujuh dan kedelapan, subjek sudah mampu secara mandiri menentukan langkah-langkah penyelesaian masalah matematika berbentuk cerita.
Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran pemecahan masalah Polya berpengaruh dan efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa autis VIII. kelas dalam memecahkan masalah matematika dalam bentuk cerita. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Qomariah yang menemukan bahwa model pembelajaran pemecahan masalah Polya mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis berbasis cerita siswa III. kelas di SDN Banyudono 1 Dukun.
Keterbatasan Penelitian
KESIMPULAN DAN SARAN
Implikasi