PENDAHULUAN
Latar Belakang
Diabetes melitus (DM) merupakan kelainan metabolisme yang ditandai dengan berkurangnya kemampuan atau hilangnya toleransi terhadap karbohidrat. Pada penderita diabetes melitus, produksi insulin tidak mencukupi untuk membawa glukosa ke dalam sel sehingga glukosa menumpuk di dalam darah dan menimbulkan gejala diabetes melitus (Puspita, dkk, 2015). Berdasarkan data IDF tahun 2017, jumlah penderita diabetes pada tahun 2017 diperkirakan berjumlah 425 juta orang di dunia dan diperkirakan pada tahun 2045 akan meningkat menjadi 629 juta orang.
Prevalensi diabetes melitus di Indonesia sebesar 1,5% dan prevalensi diabetes melitus di provinsi Sumatera Barat sebesar 1,3%. Pada pasien diabetes melitus, trombosit arteri berkembang dimana terdapat kerusakan endotel yang diikuti dengan aktivasi trombosit dan sistem koagulasi (Puspita, dkk, 2015).
Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan trombosit dengan waktu tromboplastin parsial teraktivasi pada penderita tukak diabetik. Untuk mengetahui hubungan jumlah trombosit dengan waktu tromboplastin parsial teraktivasi pada pasien ulkus diabetikum. Peneliti memperoleh pengetahuan tentang penyakit diabetes melitus, komplikasi DM khususnya tukak diabetik, trombosit, waktu tromboplastin parsial teraktivasi serta hubungan trombosit dengan waktu protrombin pada penderita tukak diabetik.
Djamil Padang dengan tujuan untuk mengetahui adakah hubungan trombosit dengan Activatid Partial Thromboplastin Time pada penderita tukak diabetik. Faktor Resiko Terjadinya Ulkus Diabetikum pada Pasien Diabetes Melitus Rawat Jalan dan Rawat Inap di RSUP dr.
Tujuan Penelitian
- Umum
- Khusus
Manfaat Penelitian
- Manfaat untuk Penelitian
- Manfaat untuk Institusi Pendidikan
- Manfaat untuk Lingkungan
TINJAUAN PUSTAKA
Diabetes mellitus
- Definisi Diabetes Melitus
- Tipe-tipe Diabetes Melitus
- Gejala-gejala Diabetes Melitus
- Faktor-faktor yang Mempengaruhi
- Komplikasi DM
- Tes Untuk Mendeteksi DM
Ulkus Diabetikum
- Definisi Ulkus Diabetikum
- Faktor Risiko Terjadinya Ulkus Diabetikum
- Klasifikasi Ulkus Diabetikum
- Tanda dan Gejala Ulkus Diabetikum
Ulkus diabetik atau kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi kronis diabetes tipe II yang sering terjadi pada kaki. Bisul adalah luka terbuka yang terdapat pada permukaan kulit atau selaput lendir dan kematian jaringan yang luas serta disertai dengan kuman saprofit yang invasif. Hiperglikemia pada diabetes yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi kronis yaitu neuropati perifer dan angiopati perifer yang akan menimbulkan trauma ringan yang dapat berujung pada tukak diabetik (Istiqomah & Efendy, 2014).
Ulkus diabetikum disebabkan oleh tiga faktor yang sering disebut dengan triad, yaitu: iskemia, neuropati, dan infeksi (Roza, dkk, 2015). Pasien DM dengan neuropati meningkatkan risiko terjadinya ulkus diabetikum tujuh kali lipat dibandingkan pasien tanpa neuropati. Tanda klinis yang umum ditemukan pada pasien PAD adalah klaudikasio intermiten akibat iskemia otot dan iskemia yang menimbulkan nyeri saat istirahat.
Pematuhan kepada diet DM mempunyai fungsi yang sangat penting untuk mengekalkan berat badan normal, untuk mengurangkan tekanan darah sistolik.
Darah
- Definisi Darah
- Fungsi Darah
- Komponen Darah
Sisa metabolismenya akan dikeluarkan oleh sel ke dalam darah dan dibawa melalui sistem kardiovaskular menuju organ ekskresi untuk dibuang. Darah yang mencapai seluruh bagian tubuh akan mengeluarkan senyawa-senyawa yang mengganggu keseimbangan asam basa tubuh demi menjaga fungsi fisiologis. Bila suhu tubuh meningkat maka pembuluh darah melebar dan pengeluaran keringat meningkat, sebaliknya bila suhu tubuh turun maka pembuluh darah menyempit dan pengeluaran keringat menurun.
Hormon yang diproduksi oleh kelenjar endokrin disekresikan ke dalam darah dan diangkut ke jaringan target, dimana jaringan merespons dan dapat melakukan fungsi fisiologis. Biasanya disebut juga plasma darah dan terdiri dari 55% air dan 10% zat terlarut (karbohidrat, lemak darah, protein, vitamin, mineral dan hormon). Jumlah normal sel darah merah atau eritrosit adalah: (1) Pria: 4,5-5,5 juta sel darah merah per mikroliter darah.
Leukosit atau disebut juga sel darah putih mempunyai ciri-ciri sel yang berbeda-beda. Trombosit merupakan sel darah yang digunakan tubuh dalam proses pembekuan saat tubuh terluka, terutama jika luka tidak dapat ditutup karena vasokonstriksi pembuluh darah. Trombositopenia adalah suatu kondisi di mana seseorang memiliki sedikit trombosit yang beredar di dalam darah, yang disebabkan oleh tidak/kurangnya produksi trombosit di sumsum tulang.
Penyebab trombositopenia adalah kurangnya produksi trombosit di sumsum tulang, misalnya akibat terapi kanker dengan kemoterapi atau radioterapi (Tarwoto, 2008). Trombositopati adalah suatu kondisi yang menggambarkan kelainan trombosit, terutama yang melibatkan “faktor trombosit 3” dan selanjutnya pembentukan tromboplastin plasma yang disebabkan oleh kondisi bawaan atau didapat (Kiswari, 2014). Trombosit mempunyai fungsi membentuk sumbatan terhadap kerusakan pembuluh darah dengan cara menempel pada dinding pembuluh darah yang rusak (adhesi), menempelnya trombosit pada trombosit (agresi), sehingga terjadi penumpukan trombosit dan terjadi reaksi pelepasan (sekresi).
Sistem Pembekuan Darah
- Definisi Pembekuan Darah
- Faktor-faktor Pembekuan Darah
- Proses Pembekuan darah
Fibrinogen merupakan bekuan atau pembekuan darah yang melibatkan protein plasma sehingga berubah menjadi untaian fibrin melalui proses yang diperankan oleh trombin. Ia berfungsi sebagai protein plasma dan diubah menjadi bentuk aktifnya, trombin (faktor IIa) melalui pembelahan dengan aktivasi faktor X (Xa) pada jalur koagulasi normal. Tromboplastin jaringan penting dalam pembentukan protrombin ekstrinsik, yang mengubah prinsip tersebut menjadi jalur koagulasi ekstrinsik, yang juga disebut faktor jaringan.
Faktor pembekuan darah atau koagulasi dalam penyimpanan panas dalam plasma, yang mempunyai fungsi intrinsik dan ekstrinsik dalam jalur koagulasi dan juga sebagai katalis pembelahan aktif protrombin oleh trombin. Faktor antihemolitik adalah faktor koagulasi atau koagulasi penyimpanan yang labil dan berpartisipasi dalam jalur koagulasi atau koagulasi darah intrinsik, bertindak sebagai kofaktor dalam proses aktivasi faktor X. Faktor koagulasi yang stabil diaktifkan ketika kontak dengan kaca atau permukaan asing lainnya dan mengaktifkan faktor XI.
Jalur ekstrinsik aktif karena pembuluh darah terbuka atau kerusakan jaringan akibat pendarahan dan jaringan yang rusak dilepaskan. Jalur intrinsik membentuk Xa yang mengaktifkan faktor prekallikrein, HMWK, faktor XII dan faktor XI serta berinteraksi dengan faktor IX yang berubah menjadi IXa. Faktor IXa bereaksi dengan faktor VIII, faktor trombosit 3 (Pf3) dan kalsium mengaktifkan faktor X menjadi Xa.
Setelah faktor X, kedua jalur yaitu jalur intrinsik dan ekstrinsik mengaktifkan dan memasuki jalur yang sama. Xa akan berikatan dengan faktor V, PL (fosfolipid membran trombosit) dan kalsium akan membentuk kompleks protrombinase yang akan mengubah protrombin menjadi trombin. Monomer fibrin berikatan bersama membentuk polimer fibrin yang tidak larut dan membandel.
Activated Partial Tromboplastin Time
Botol reagen yang dibuka stabil selama 14 hari jika disimpan pada suhu 2-8⁰C dan dihomogenisasi sebelum digunakan. Sampel harus disiapkan dan ditangani pada suhu 22-24⁰C dan diuji dalam waktu maksimal 2 jam setelah pengambilan sampel. Untuk menunda pemeriksaan, sampel dapat dibekukan, stabil hingga dua minggu atau pada suhu -70⁰C, stabil hingga enam bulan.
Kerangka Konsep
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Waktu dan Tempat Penelitian
- Waktu
- Tempat
Populasi dan Sampel
- Populasi
- Sampel
- Kriteria Sampel
Variabel Penelitian
- Variabel Bebas/Independen
- Variabel Terikat/Dependen
Prosedur Penelitian di Instalasi Rekam Medik
Diklat menerbitkan surat pendataan yang digunakan untuk menyampaikan surat kepada Kepala Instalasi Rekam Medis dan Kepala Instalasi Laboratorium. Petugas Rekam Medis akan memberikan data awal berupa nomor rekam medis dan Petugas Laboratorium akan memberikan data hasil pemeriksaan pasien. Surat keterangan selesai pendataan diserahkan kepada Dinas Diklat, selanjutnya Diklat akan menerbitkan surat selesai penelitian.
Pengolahan Data Dan Analisa Data
Definisi Operasional
Kerangka Operasional
Berdasarkan tabel 4.1 diatas, kelompok umur yang paling banyak terkena ulkus diabetikum adalah umur 51-60 tahun yaitu sebanyak 13 orang (43,3%). Berdasarkan tabel 4.1 di atas, kelompok gender yang paling banyak terkena ulkus diabetikum adalah perempuan yaitu sebanyak 20 orang (66,6%). Berdasarkan Tabel 4.3 dilakukan uji korelasi Spearman untuk mengetahui hubungan jumlah trombosit dengan waktu tromboplastin parsial teraktivasi karena variabel APTT tidak berdistribusi normal, padahal variabel jumlah trombosit berdistribusi normal.
Hasil uji korelasi spearman menyatakan tidak terdapat hubungan bermakna antara jumlah trombosit dengan waktu tromboplastin parsial teraktivasi, dengan nilai p = 0,393 (>0,05). Selain itu, arah koefisien korelasinya negatif yang berarti semakin tinggi jumlah trombosit maka APTT semakin rendah. Tabel 4.1 menunjukkan bahwa kelompok umur yang paling banyak menderita ulkus diabetik adalah kelompok umur 51-60 tahun yaitu sebanyak 13 orang (43,3%).
Berdasarkan hasil penelitian, pasien yang menderita ulkus diabetikum lebih banyak terjadi pada wanita yaitu sebanyak 20 orang (66,6%) terlihat pada Tabel 4.1. Dari rerata yang diperoleh jumlah trombosit masih dalam rentang normal, namun hasil data menunjukkan 2 subjek mengalami penurunan jumlah trombosit (<150.000/mm3) yang disebut juga. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara jumlah trombosit dengan waktu tromboplastin parsial teraktivasi, dengan nilai p=0,393 (>0,05).
Koefisien korelasi pada pengujian ini sebesar -0,162 yang berarti terdapat korelasi yang sangat rendah antara jumlah trombosit dengan APTT. Berdasarkan data yang diperoleh, tidak terdapat hubungan bermakna antara jumlah trombosit dengan waktu tromboplastin parsial teraktivasi, dengan nilai p=0,393 (>0,05). Koefisien korelasi pada pengujian ini sebesar -0,162 yang berarti terdapat korelasi yang sangat rendah antara jumlah trombosit dengan APTT.
Selain itu, arah koefisien korelasinya negatif, artinya semakin tinggi jumlah trombosit maka APTT semakin rendah. Perbandingan jumlah trombosit pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang menggunakan aspirin dan tidak menggunakan aspirin.
HASIL PENELITIAN
Pemeriksaan Jumlah Trombosit dan APTT
PEMBAHASAN
Hasil Pemeriksaan Jumlah Trombosit dan Waktu Activated Partial
Data tersebut sesuai dengan penelitian Palimbunga, dkk (2013), bahwa dari 112 sampel, 84 orang (75%) merupakan pasien berusia ≥50 menderita diabetes melitus. Data ini juga sesuai dengan penelitian Widuri, dkk (2014), bahwa responden penderita Ulkus Diabetikum yang menggunakan BPJS PBI RSUD Sleman sebanyak 26 orang (57,69%) dengan usia 56-65 tahun. Meningkatnya kejadian diabetes melitus tipe 2 akibat penuaan disebabkan oleh menurunnya sensitivitas terhadap insulin sehingga menurunkan fungsi metabolisme glukosa tubuh.
Deformabilitas eritrosit dan penyampaian oksigen dalam jaringan oleh eritrosit terganggu, akan menyebabkan penyumbatan yang mengganggu sirkulasi jaringan dan kekurangan oksigen, sehingga mengakibatkan kematian jaringan dan munculnya ulkus diabetikum. Namun penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Indriani, dkk (2017). Jenis kelamin laki-laki mendominasi kejadian ulkus diabetikum yaitu sebanyak 27 orang (55,1%). Hormon estrogen merupakan faktor pelindung terhadap aterosklerosis, sehingga wanita pada usia tersebut lebih rentan terkena tukak diabetik.
Trombosit meningkat karena aktivitas koagulasi sehingga terjadi hiperkoagulasi dengan aktivasi trombosit kronis dan penurunan fibrinolisis. Trombosis adalah adanya bekuan darah yang tidak bergerak di sepanjang dinding pembuluh darah, seringkali menyebabkan penyumbatan pembuluh darah dan berkontribusi terhadap peningkatan kejadian penyakit kardiovaskular pada diabetes (Palimbunga, dkk, 2013). Ulkus diabetikum disebabkan oleh hiperglikemia yang berlangsung lama, sehingga banyak gula darah yang menumpuk di pembuluh darah, kondisi ini menyebabkan buruknya sirkulasi darah pada jaringan (Hidayat, 2012).
Pada Diabetes Melitus terjadi hiperkoagulasi atau peningkatan koagulasi yang disebabkan oleh hiperglikemia, hiperinsulinemia dan resistensi insulin yang menyebabkan perubahan fisiologi hemostatik yaitu peningkatan aktivitas koagulasi dan penurunan aktivitas fibrinolitik (Nikma, 2013). Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ulkus diabetikum pada pasien diabetes melitus di RSUD Anutapura Palu. Deskripsi waktu protrombin (PT) dan waktu tromboplastin parsial teraktivasi (APTT) pada pasien diabetes melitus.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
Jurnal Penelitian dan Pendidikan Klinis dan Terapan Benyamin, A. editor) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.