BAB V PEMBAHASAN
5.1. Hasil Pemeriksaan Jumlah Trombosit dan Waktu Activated Partial
Setelah dilakukan penelitian tentang jumlah trombosit dan APTT di RSUP dr. M. Djamil Padang. Dapat dilihat pada tabel 4.1 bahwa kelompok umur yang paling banyak menderita Ulkus Diabetikum adalah umur 51-60 tahun sebanyak 13 orang (43.3%). Data ini sejalan dengan penelitian Palimbunga, dkk (2013), bahwa dari 112 sampel 84 orang (75%) diantaranya pasien dengan umur ≥50 menderita Diabetes Melitus. Data ini juga sejalan dengan penelitian Widuri, dkk (2014), bahwa sebanyak 26 responden Ulkus Diabetikum pengguna BPJS PBI di RSUD Sleman sebanyak 15 orang (57.69%) berusia 56-65 tahun.
Peningkatan ini terus meningkat hingga mencapai puncak usia 70-79 tahun. Bertambahnya usia merupakan salah satu faktor resiko terjadinya penyakit diabetes. Bertambahnya usia membawa seorang Diabetes sangat berisiko mengalami Ulkus Diabetikum. Meningkatnya kejadian Diabetes Melitus tipe-2 karena penuaan disebabkan menurunnya sensitivitas insulin yang menurunnya fungsi tubuh untuk metabolism glukosa. Deformabilitas eritrosit dan pelepasan oksigen dijaringan oleh eritrosit tertanggu, akan menyebabkan penyumbatan yang menganggu sirkulasi jaringan dan kekurangan oksigen yang mengakibatkan kematian jaringan dan selanjutnya terjadinya Ulkus Diabetikum.
Berdasarkan hasil penelitian ini pasien yang mengalami Ulkus Diabetikum lebih banyak diderita oleh perempuan, dimana sebanyak 20 orang (66.6%) yang dapat dilihat pada tabel 4.1. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Roza, dkk (2015) menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak dari pada laki-laki yaitu sebanyak 67%. Pada penelitian yang dilakukan oleh palimbunga, dkk (2013) jenis kelamin perempuan ditemukan lebih banyak, yaitu 66 orang (58,9%).
Tetapi penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Indriani, dkk (2017) jenis kelamin laki-laki mendominasi kejadian Ulkus Diabetikum dimana sebanyak 27 orang (55.1%). Perbedaan hasil ini terjadi karena perbedaan dalam pengambilan karakteristik pasien.
Penyebab perempuan cenderung lebih banyak mengalami Diabetes karena perempuan cenderung memiliki berat badan yang berlebih (obesitas), aktifitas fisik yang kurang, serta adanya pengaruh faktor hormonal yang merupakan faktor risiko terjandinya diabetes. Faktor hormonal yang terjadi pada perempuan dewasa tua yaitu mulai memasuki masa menopause yang menyebabkan terjadinya penurunan hormon Estrogen. Hormon Estrogen merupakan faktor protektif terhadap penyakit athresklerosis sehingga perempuan pada usia tersebut lebih rentan terkena Ulkus Diabetikum. Athresklerosis adalah penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri akibat penumpukan plak pada dinding pembuluh darah.
Pada penelitian ini ditemukan rerata trombosit 351.000/mm3 yang dapat dilihat pada tabel 4.2. Dari rerata yang didapat jumlah trombosit masih masuk kedalam nilai normal, tetapi dari hasil data ditemukan 2 orang yang angka trombositnya menurun (<150.000/mm3) atau dikenal juga dengan
trombositopenia, 12 orang yang angka trombositnya meningkat (>400.000/mm3) atau juga dikenal dengan trombositosis.
Trombositopenia dapat disebabkan karena penurunan produksi oleh sumsum tulang karena reduksi selektif megakariosit yang berkaitan dengan penggunaan obat-obatan, bisa juga disebabkan karena adanya peningkatan pemakaian trombosit yang berkaitan dengan komplikasi pada diabetes mellitus tipe-2 (Palimbunga, dkk, 2013). Trombosit meningkat karena apa Diabetes Melitus aktifitas koagulasi yang menyebab hiperkoagulasi dengan aktivasi trombosit yang bersifat kronik dan penurunan fibrinolisis.
Trombositosis berkaitan dengan meningkatnya risiko trombosis. Hal ini menunjukkan bahwa diduga trombosit memainkan peranan penting dalam hubungan fungsi pembuluh darah dan thrombosis terjadi peningkatan agregrasi trombosit teraktivasi karena kadar gula darah yang semakin tinggi mengakibatkan beban kepada jaringan tubuh. Penumpukan gula darah tersebut akan mengganggu fungsi pembuluh darah yang menyebabkan trobosis kemudian menjadi thrombus (Puspita, dkk, 2015). Trombosis adalah terdapatnya bekuan darah yang bersifat stasioner di sepanjang dinding pembuluh darah yang sering menyebabkan obstruksi vascular dan berperan terhadap peningkatan kejadian penyakit kardiovaskular pada diabetes melitus (Palimbunga, dkk, 2013). Sedangkan thrombus adalah produk terakhir dari proses pembekuan darah pada hemostasis.
Trombosit memainkan peran integral dalam hubungan antara fungsi pembuluh darah dan thrombosis, kelainan dalam biologis trombosit tidak hanya meningkatkan atrelosklerosis tetapi juga mempengaruhi akibat dari gangguan plak
dan artherotrombosis. Didalam sel endotel trombosit menyerap glukosa yang tidak terkendali kondisi hiperglikemia dan menghasilkan tekanan oksidatif (Puspita, dkk, 2015)
Ulkus Diabetikum yang disebabkan oleh kondisi hiperglikemia yang berlangsung lama sehingga gula darah banyak menumpuk di pembuluh darah, keadaan tersebut menyebabkan sirkulasi darah di jaringan kurang (Hidayat, 2012).
Pada penelitian ini ditemukan rerata APTT 31.8 detik yang dapat dilihat pada tabel 4.2. Dari rerata ini dapat dilihat angka APTT diatas nilai normal, sedangkan nilai normal APTT yaitu 20.1-27.1 detik. Hal ini membukti pada penderita DM mengalami gangguan hemostasis atau fungsi pembekuan darahnya yang mengakibatkan pemanjangan waktu APTT. Pada Diabetes Melitus terjadi hiperkoagulasi atau peningkatan koagulasi yang disebabkan oleh hiperglikemia, hiperinsulinemia dan resistensi insulin yang mana keadaan tersebut mencetuskan terjadinya perubahan faal hemostasis yaitu terjadi peningkatan aktifitas koagulasi dan penurunan aktifitas fibrinolisis (Nikma, 2013).
Berdasarkan Tabel 4.3 untuk mencari hubungan jumlah trombosit dengan Activated Partial Tromboplastin Time dilakukan uji korelasi Spearman, karena variabel APTT tidak terdistribusi secara normal meskipun variabel jumlah trombosit terdistribusi normal. Hasil uji korelasi Spearman menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifkan antara jumlah trombosit dengan Activated Partial Tromboplastin Time, dengan nilai p=0,393 (>0,05). Koefisien korelasi pada uji ini berada pada nilai -0,162, hal ini berarti terdapat korelasi yang sangat rendah antara jumlah trombosit dengan APTT. Selain itu, arah koefisien korelasi
adalah negatif yang berarti semakin tinggi jumlah trombosit maka semakin rendah APTTnya.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian jumlah Trombosit dengan Activated Partial Tromboplastin Time pada penderita Ulkus Diabetikum maka didapatkan kesimpulan:
1. Rerata Jumlah Trombosit pada Ulkus Diabetikum adalah 351.000 ± 159.000/mm3.
2. Rerata Activated Partial Tromboplastin Time pada penderita Ulkus Diabetikum adalah 31.8 ± 6.8 detik.
3. Berdasarkan data yang didapat tidak ada hubungan yang signifikan antara jumlah Trombosit dengan Activated Partial Tromboplastin Time, dengan nilai p=0,393 (>0,05). Koefisien korelasi pada uji ini berada pada nilai - 0,162, hal ini berarti terdapat korelasi yang sangat rendah antara jumlah trombosit dengan APTT. Selain itu, arah koefisien korelasi adalah negatif yang berarti semakin tinggi jumlah trombosit maka semakin rendah APTTnya.
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan dalam penelitian ini maka saran yang dapat diberikan adalah:
1. Dari penelitian ini disarankan untuk peneliti selanjutnya mencari variable lainnya untuk menyempurnakan pembahasan pada topik ini.
2. Untuk pasien disarankan untuk menerapkan pola hidup sehat.
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association (ADA), 2014. Standards of Medical Care In Diabetes. Diabetes Care
American Diabetes Association (ADA), 2015. Standards of Medical Care In Diabetes. The Journal of Clinical and Applied Research and Education Benyamin, A. F, Gustaviani, R. 2006. Gangguan Hemostasis pada Diabetes
Melitus. Dalam: Aru W Sundaru dkk. (editor) Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi keempat. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta
Decroli, E. 2019. Diabetes Melitus Tipe 2. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Padang
Dewi, B. D. N. 2019. Diabetes Mellitus & Infeksi Tuberkulosis Diagnosis dan Pendekatan Terapi. Pusat Penerbitan ANDI. Surabaya
Durachim, A, Astuti, D. 2018. Hemostasis. Pusat Pendidikan Sumberdaya Manusia Kesehatan, Jakarta
Indriani, R., Asyrofi, A., Setianingsih. 2017. Studi Kejadian Ulkus Diabetikum dan Tingkat Stres Klien Diabetisi. Jurnal Keperawatan. Vol.9 No.1, 30-37 International Diabetes Federation (IDF) 2017, Diabetes Atlas Eighth Edition.
Istiqamah & Efendi, A. A. 2014. Faktor Resiko yang Berhubungan dengan Kejadian Ulkus Diabetik pada Pasien Diabetes Melitus di RSU Anutapura Palu. Jurnal Ilmiah Kedokteran. Vol.1 No.2, 1-16
Kementrian Kesehatan RI (Kemenkes RI), 2011.
Kiswari, R. 2014. Hematologi dan Tranfusi. Erlangga, Jakarta
Kurniawan, F. B. 2016. Hematologi Praktikum Analis Kesehatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Malik, M. I., Nasrul, E., Asterina. 2015. Hubungan Hiperglikemia dengan Protrombin Time pada Mencut (Mus musculus) yang Diinduksi Aloksan.
Jurnal FK Unand, 4(1), 182-188
Misnah, Abdullah, A. A., Arif, M., Bahar, B. 2012. Pemeriksaan Prothrombin Time dan Activated Partial Thromboplastin Time deangan VA serta SYSMEX CA 500. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Labolatory. Vol. 18 No.3, 147-150
Nikma, 2013. Gambaran Prothrombin Time (PT) dan Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) pada Penderita Diaberita Diabetes Melitus.
Skripsi. Program Konsentrasi Teknologi Laboratorium Kesehatan, Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Nugraha, G. 2017. Panduan Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Dasar.
Trans Info Media. Jakarta.
Palimbunga, D. P., Pandelaki, K., Mongan, A.E., Manoppo, F,. 2013.
Perbandingan Jumlah Trombosit pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 yang Menggunakan Aspirin dan Tidak Menggunakan Aspirin. Jurnal e-Biomedik (eBM), Vol.1 No.1, 202-209
Puspita, N. D., Langi, Y. A., Rotty, L. A. 2015. Hubungan Kadar Trombosit dan Kejadian Kaki Diabetik pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal e- Clinic, Vol.3 No.1, 363-367
Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas), 2013. Riset Kesehatan Dasar Dalam Angka Provinsi Sumatera Barat tahun 2013. Lembaga Penerbitan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI
Roza, R. L., Afriant, R., Edward, Z. 2013. Faktor Risiko Terjadinya Ulkus Diabetikum pada Pasien Diabetes Mellitus yang Dirawat Jalan dan Inap di RSUP dr. M. Djamil dan RSI Ibnu Sina Padang. Jurnal FK Unand, 4(1), 243-248
Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Tandra, H. 2014.Strategi Mengalahkan Komplikasi Diabetes dari Kepala sampai Kaki. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Tandra, H. 2017. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes Panduan Lengkap Mengenal dan Mengatasi Diabetes Dengan Cepat dan Mudah. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Tarwoto, 2008. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Hematologi.
Trans Info Media. Jakarta
Waterbury, L. 2001. Buku Saku Hematologi. Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Lampiran 1 Hasil Penelitian
Data Jumlah Trombosit dan APTT pada pasien Ulkus Diabetikum No. Nama Umur Jenis Kelamin Jumlah
Trombosit
Waktu APPT 1 S 57 tahun Laki-laki 369.000/mm3 27.4 detik 2 M 66 tahun Perempuan 635.000/mm3 26.8 detik 3 JK 53 tahun Laki-laki 358.000/mm3 31.2 detik 4 M 49 tahun Perempuan 277.000/mm3 26.0 detik 5 A 48 tahun Laki-laki 348.000/mm3 44.1 detik 6 S 52 tahun Perempuan 149.000/mm3 30.5 detik 7 EY 48 tahun Perempuan 574.000/mm3 29.0 detik 8 A 48 tahun Perempuan 282.000/mm3 33.9 detik 9 R 50 tahun Laki-laki 401.000/mm3 30.1 detik 10 HY 46 tahun Perempuan 364.000/mm3 26.4 detik 11 D 45 tahun Perempuan 72.000/mm3 33.9 detik 12 SH 45 tahun Laki-laki 377.000/mm3 29.3 detik 13 Y 69 tahun Laki-laki 99.000/mm3 47.5 detik 14 F 50 tahun Perempuan 197.000/mm3 22.4 detik 15 A 50 tahun Perempuan 416.000/mm3 29.6 detik 16 Y 56 tahun Perempuan 456.000/mm3 28.3 detik 17 J 51 tahun Perempuan 509.000/mm3 25.1 detik 18 H 58 tahun Laki-laki 214.000/mm3 26.3 detik 19 M 62 tahun Perempuan 395.000/mm3 27.3 detik 20 N 66 tahun Perempuan 438.000/mm3 38.9 detik 21 J 41 tahun Laki-laki 424.000/mm3 40.0 detik 22 I 55 tahun Perempuan 650.000/mm3 44.1 detik 23 W 58 tahun Perempuan 213.000/mm3 47.1 detik 24 S 65 tahun Perempuan 173.000/mm3 26.0 detik 25 S 55 tahun Perempuan 557.000/mm3 33.9 detik
26 J 51 tahun Perempuan 509.000/mm3 25.1 detik 27 B 57 tahun Laki-laki 167.000/mm3 29.6 detik 28 J 62 tahun Laki-laki 266.000/mm3 30.2 detik 29 A 56 tahun Perempuan 491.000/mm3 29.5 detik 30 N 60 tahun Perempuan 157.000/mm3 34.0 detik
Lampiran 2 SPSS Explore
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
umur 30 100.0% 0 0.0% 30 100.0%
jumlah_trombosit 30 100.0% 0 0.0% 30 100.0%
APTT 30 100.0% 0 0.0% 30 100.0%
Descriptives
Statistic Std. Error
umur
Mean 54.37 1.278
95% Confidence Interval for Mean
Lower
Bound 51.75
Upper
Bound 56.98
5% Trimmed Mean 54.28
Median 54.00
Variance 48.999
Std. Deviation 7.000
Minimum 41
Maximum 69
Range 28
Interquartile Range 10
Skewness .348 .427
Kurtosis -.543 .833
jumlah_trombosit
Mean 351233.33 28964.413
95% Confidence Interval for Mean
Lower
Bound 291994.46
Upper
Bound 410472.21
5% Trimmed Mean 349925.93
Median 366500.00
Variance 25168116091.9
54
Std. Deviation 158644.622
Minimum 72000
Maximum 650000
Range 578000
Interquartile Range 255750
Skewness .065 .427
Kurtosis -.837 .833
APTT
Mean 31.7833 1.23973
95% Confidence Interval for Mean
Lower
Bound 29.2478
Upper
Bound 34.3189
5% Trimmed Mean 31.3889
Median 29.6000
Variance 46.108
Std. Deviation 6.79026
Minimum 22.40
Maximum 47.50
Range 25.10
Descriptives
Statistic Std. Error
APTT Interquartile Range 7.22
Skewness 1.135 .427
Kurtosis .389 .833
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
umur .118 30 .200* .970 30 .543
jumlah_trombosit .106 30 .200* .972 30 .587
APTT .208 30 .002 .865 30 .001
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction
Frequencies
Statistics Sex
N
Valid 30
Missing 0
Sex
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid
laki-laki 10 33.3 33.3 33.3
perempuan 20 66.7 66.7 100.0
Total 30 100.0 100.0
Nonparametric Correlations
Correlations
jumlah_trombosi t
APTT
Spearman's rho
jumlah_trombosit
Correlation Coefficient 1.000 -.162
Sig. (2-tailed) . .393
N 30 30
APTT
Correlation Coefficient -.162 1.000
Sig. (2-tailed) .393 .
N 30 30
Lampiran 3 Surat Penelitian
Lampiran 4 Komite Etik
Lampiran 5 Surat Izin Penelitian di Rekam Medik
Lampiran 6 Surat Izin Penelitian di Laboratorium
Lampiran 7 Surat Selesai Penelitian