IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA DI SIRING MENARA PANDANG KOTA BANJARMASIN
Erma Tahriana*, H.M. Uhaib As’ad , Fika Fibriyanita
Ilmu Administrasi Publik. 63201.Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.Uniska. NPM. 16.12.0141 Ilmu Administrasi Publik. 63201.Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.Uniska. NIDN.1116116301 Ilmu Administrasi Publik. 63201.Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.Uniska. NIDN.112010630
ABSTRAK
Erma Tahriana, 16.12.0141, 2019, “Implementasi Kebijakan Pemerintah Kota dalam Pengembangan Pariwisata Di Sirng Menara Pandang Kota Banjarmasin’’. Bimbingan Bapak H.M. Uhaib As’ad sebagai pembimbing utama dan Ibu Fika Fibriyanita sebagai Co Pembimbing
Tujuan utama dari implementasi kebijakan adalah memahami apa yang seharusnya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan Tujuan penelitian adalah mengetahui dampak sosial bagi masyarakat banjarmasin dengan keberadaan siring menara pandang dan dampak ekonomi bagi masyarakat banjarmasin dengan keberadaan siring menara pandang
. Metode penelitian menggunakan pendekatan Kualitatif,. Tipe penelitian menguunakan metode deskriptif yaitu:suatu rumusan masalah yang berkenan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Kebijakan pengelolaan pariwisata siring menara pandang untuk Implementasi kebijakannya belum berhasil secara efektif dan efesien karena sarana prasarananya belum lengkap tersedia, ditambah SDM yang belum berkualifikasi, dan ditambah SDM yang memang tidak mempunyai pendidikan khusus Dampak sosial masyarakat adalah adanya interaksi sosial antara pengunjung dengan pedagang serta banyak orang yang menggantungkan hidup di objek siring menara pandang. Dampak ekonomi masyarakat adalah dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD), meningkatkan kesempatan berusaha, terbukanya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan masyarakat dan pemerintah, serta mendorong pembangunan daerah.
Saran bagi Pemerintah Kota hendaknya meningkatkan anggaran daerah untuk pengelolaan objek wisata siring menara pandang. Bagi pengelola objek wisata siring menara pandang hendaknya meningkatkan fasilitas sarana prasara.Bagi masyarakat agar meningkatkan kunjungannya ke objek wisata siring menara pandang dan menjaga kebersihan lingkungan di sekitar lokasi objek wisata siring menara pandang.
Kata Kunci : Implementasi, kebijakan, siring menara pandang
ABSTRACT
Erma Tahriana, 16.12.0141, 2019, "Implementation of City Government Policies in Tourism Development in Banjarmasin City View Tower. "Advisor 1.Uhaib As’ad 2. Fika Fibriyanita, S.Sos., M.AP
The main essence of policy implementation is to understand what should happen after a program is declared valid or formulated. The purpose of the study is to determine the social impact for the community of banjarmasin with the existence of a siring tower of view and the economic impact for the people of banjarmasin with the existence of a siring tower of view
. The research method uses a qualitative approach. This type of research uses descriptive methods, namely: a problem formulation that pleases the question of the existence of an independent variable, either only on one or more variabl
The results of the study can be concluded that the Siring Tower view of tourism management policy for the implementation of the policy has not been successful effectively and efficiently because the infrastructure is not yet fully available, plus human resources that have not been qualified, and added human resources who do not have special education Social impact is the existence of social interaction between visitors with traders as well as many people who depend their lives on the sight tower siring objects. The economic impact of the community is to be able to improve the community's economy, receive Regional Original Revenue (PAD), increase business opportunities, open employment, increase community and government income, and encourage regional development.
Suggestions for the City Government should increase the regional budget for the management of the Siring Tower tourist attraction. For the management of the sight tower siring attraction, it should improve the facilities of prasara facilities. For the community to increase their visit to the sighting tower siring attraction and maintain the cleanliness of the environment around the sighting tower siring attraction.
Keywords: Implementation, policy, siring tower of view
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pariwisata merupakan sektor yang ikut berperan penting dalam usaha peningkatan pendapatan. Indonesia merupakan negara yang memiliki keindahan alam dan keanekaragaman budaya, sehingga perlu adanya peningkatan sektor pariwisata. Hal ini dikarenakan pariwisata merupakan sektor yang dianggap menguntungkan dan sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu aset yang di gunakan sebagai sumber yang menghasilkan bagi Bangsa dan Negara.
Daerah wisata harus memiliki daya tarik untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke daerah tersebut
Kawasan siring menara pandang adalah salah satu objek wisata yang memiliki kekhasan tersendiri dan merupakan salah satu warisan sejarah yang masih ada, di Siring menara pandang kini semakin banyak pengunjung karena berkembangnya
kegiatan pariwisata,di siring menara pandang dapat memberikan dampak atau pengaruh yang luas baik itu dampak positif maupun negatif terhadap kondisi lingkungan fisik, kondisi ekonomi, sosial dan budaya bagi masyarakat sekitar di kawasan wisata tersebut, Kegiatan pariwisata dalam kehidupan ekonomi dapat berdampak positif yaitu menciptakan lapangan pekerjaan (kesempatan usaha) yang cukup luas bagi penduduknya.
Peluang kerja tersebut antara lain bekerja sebagai petugas parkir, usaha dagang makanan dan minuman, serta usaha dan lain-lain.
Berdasarkan observasi awal peneliti masih banyak permasalahan yang ada di Siring Menara Pandang antara lain soal keamanan dan yang paling mencolok parkir yang kerap menumpuk meluber hingga ke badan jalan. Hal itu dinilainya membahayakan pengunjung maupun pengguna jalan. Di sana lalu lintas tergolong padat karena juga
menjadi akses utama pengguna jalan, apalagi Jalan Pierre Tendean sempit rawan sekali terjadi kecelakaan.
Lalu soal kenyamanan wisatawan siring sudah bak pasar tradisional. Pada hari Minggu, badan siring dipenuhi lapak kaki lima pedagang berjubel dan tak teratur. Tak kalah penting soal keselamatan. Contoh sederhana, di area siring tak ada pagar pembatas antara selasar dan area taman. "Bagi orang dewasa mungkin tak masalah. Tapi bagaimana dengan anak-anak.
Antara halaman dan badan siring cukup terjal dan tinggi.
Di sana lalu lintas tergolong padat. Karena juga menjadi akses utama pengguna jalan,"katanya. Apalagi Jalan Pierre Tendean sempit. Rawan sekali terjadi kecelakaan.
Terkait pengembangan pariwisata di Siring Menara Pandang
Strategi tersebut tidak hanya dilihat melalui kelayakan potensi wisata yang dimiliki, akan tetapi terhadap bagaimana penerapan manajemen atau mekanisme pengelolaan yang ada saat ini dalam upaya mempersiapkan Siring Menara Pandang sebagai kawasan wisata yang bertaraf nasional. Seluruh kebijakan pengembangan tersebut diimbangi dengan adanya upaya manajemen secara komprensif, menyeluruh, dan terpadu serta merupakan konsensus bersama bagi semua komponen pembangunan yang ada. Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai Implementasi Kebijakan Pemerintah Kota dalam Pengembangan Pariwisata Di Sirng Menara Pandang Kota Banjarmasin.
1.2.Rumusan Masalah
1. Bagaimana kebijakan pengelolaan pariwisata siring menara pandang?
2. Bagaimana dampak sosial masyarakat banjarmasin dengan adanya Siring menara pandang?
3. Bagaimana dampak ekonomi masyarakat banjarmasin dengan adanya Siring menara pandang?
1.3. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang permasalahan dan identifikasi masalah diatas, maka penelitian ini memfokuskan pada pembahasan mengenai dampak keberadaan siring menara pandang terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan kebijakan pengelolaan.
1.4 Tujuan Penelitian
1. Untuk Mengetahui dampak sosial bagi masyarakat banjarmasin dengan keberadaan siring menara pandang.
2. Untuk Mengetahui dampak ekonomi bagi masyarakat banjarmasin dengan keberadaan siring menara pandang
II. Alat dan Metode
2.1 Penedekatan Penelitian
Penelitian yang berjudul Implementasi Kebijakan tentang Siring Menara Pandang di Kota Banjarmasin, menggunakan pendekatan Kualitatif, pengertian metode deskriptif menurut Sugiyono (2016:53) yaitu: suatu rumusan masalah yang berkenan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik hanya pada satu variabel atau lebih 2.2 Tipe Penelitian
Dalam suatu kegiatan penelitian, terlebih dahulu perlu menentukan metode penelitian yang akan digunakan, karena hal ini merupakan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penelitian. Pada dasarnya metode penelitian merupakan suatu cara yang dapat digunakan peneliti dalam melaksanakan penelitian.
2.3 Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Siring Menara Pandang Kota Banjarmasin.
2.4 Sumber Data
Dalam penelitian kualitatif, hal yang menjadi bahan pertimbangan utama dalam pengumpulan data adalah pemilihan informan. Dalam penelitian kualitatif tidak digunakan istilah populasi. Teknik sampling yang di gunakan oleh peneliti adalah purposive sample, ada dua sumber data penelitian menurut Sugiyono yaitu:
1. Data Primer
Sumber data primer didapatkan melalui kegiatan wawancara dengan subjek penelitian dan dengan observasi atau pengamatan langsung di lapangan.
Dalam penelitian ini data primer berupa cacatan hasil wawancara dan hasil pengamatan langsung di lapangan yang diperoleh melalui wawancara dengan Kepala Dinas Pariwisata Siring menara pandang
Kota Banjarmasin dan beberapa masyarakat sekitar wisata Siring menara pandang.
2. Data Sekunder
Sugiyono (2016:225) mengatakan bahwa data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya melalui orang lain atau lewat dokumen.
2.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah paling strategis dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data berupa wawancara dan dokumentasi.
1. Wawancara
Menurut Esterbeg (dalam Sugiyono, 2016:232) wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui Tanya jawab sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Dalam penelitian ini, wawancara yang
digunakan adalah semi terstruktur.
Wawancara semi terstruktur bertujuan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana narasumber diminta pendapat dan idenya.
2. Dokumentasi
Dalam penelitian yang dilakukan, sumber dokumentasi diperoleh dari data-data kepala dinas pariwisata siring menara pandang kota Banjarmasin, masyarakat sekitar wisata siring menara pandang, dan pedagang di wisata siring menara pandang Kota Banjarmasin.
2.6 Definisi Operasional
Dalam mengarahkan penelitian pada sasarannya memerlukan adanya batasan terhadap penelitian, tujuannya adalah agar menggambarkan fenomena yang hendak di teliti secara cepat. Berkaitan dengan penelitian ini, maka penulis merumuskan definisi operasional yang merupakan pembatasan penelitian yang akan
dilakukan. Adapum yang menjadi batasan atau ukuran adalah Implementasi kebijakan pemerintah kota dalam pengembangan siring menara pandang kota Banjarmasin dengan mengacu pada beberapa faktor yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi.
2.7 Analisis Data
Beberapa metode analisis data yang terbagi dalam 4 bagian besar, yaitu:
1. Reduksi data
Proses reduksi ini diperlukan sebagai suatu cara untuk menghilangkan data yang tidak diperlukan oleh peneliti, sehingga penelitian yang dilakukan dapat mencapai tujuan yang diharapkan pleh peneliti.
2. Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah sebuah proses yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh data yang diperlukan dalam proses penelitiannya. Adapun data yang diperoleh dapat diambil dari hasil
wawancara, dokumentasi, maupun instrumen lain yang dubutuhkan dalam melakukan penelitian
3. Penyajian data
Penyajian data yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini berupa teks naratif, baik uraian singkat, bagan, dan tabel agar mudah dipahami.
4. Penarikan kesimpulan
Kesimpulan yang ditarik ini harus bisa menjawab rumusan masalah yang sudah ditetapkan oleh peneliti pada awal penelitian.
Diawali dengan interpretasi peneliti atas temuan dari wawancara, hingga dapat menarik kesimpulan.
Penarikan kesimpulan akhir akan dilakukan saat peneliti dapat menilai hasil kerja CJA dengan metode balanced scorecard. Penarikan kesimpilan hanya akan dikatakan kredibel apabila kesimpulan didukung dengan bukti-bukti yang
kuat dan dapat berlanjut ke tahap penerapan hasil penelitian.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Penelitian
1. Faktor Struktur Birokrasi (Bureaucratic Structure)
Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara dengan informan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Banjarmasin pada tanggal 23 Desember 2019 untuk pertanyaan peneliti tentang apakah struktur organisasi pada objek wisata Siring Menara Pandang mempunyai pengaruh besar dalam implementasi kebijakan Bapak Drs. Muhamad Ikhsan Alhak, M. Si menyatakan sebagai berikut:
“Struktur organisasi pada objek wisata Siring Menara Pandang mempunyai pengaruh besar dalam implementasi kebijakan cukup signifikan ya…itu jawabannya”
(Hasil wawancara, 23 Desember 2019).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan peneliti dapat menyimpulkan
bahwa struktur organisasi pada objek wisata Siring Menara Pandang mempunyai pengaruh besar dalam implementasi kebijakan. Faktor yang memepengaruhi keberhasilan dan kegagalan implementasi kebijakan wisata Siring Menara Pandang secara umum.jadi itu ada dua faktor, yang pertama faktor internal adalah bagaimana kesiapan dan kemampuan petugas pengelola selama ini kita menyadari petugas kita sangat terbatas jumlahnya. Yang kedua faktor eksternal ada dukungan dari pihak- pihak lain bahwa kawasan wisata siring menara pandang ini adalah salah satu ikon kota Banjarmasin ini perlu dipelihara dijaga bersama bukan hanya dituntut dari pengelola tapi juga dari pengunjung supaya tertib
2. Faktor Sumber Daya (Resources) Untuk pertanyaan peneliti selanjutnya tentang bagaimana sumber daya manusia atau aparatur yang mempunyai tanggung jawab
untuk melaksanakan kebijakan dalam mengimplementasikan kebijakan objek wisata Siring Menara Pandang informan Bapak Drs. Muhamad Ikhsan Alhak, M. Si menyatakan sebagai berikut:
“Ya kalau dari segi SDM-nya sih memang perlu kita dari segi kuantitasnya jumlah kita kurang seperti yang saya sebutkan tadi minimal 50 atau 100 lah sehingga mereka juga bekerja bisa tidak over load, ada juga pekerjaan- pekerjaan yang tidak ada petugasnya…seperti petugas keamanan selama ini kan hanya merangkap-rangkap saja harusnya petugas keamanan khusus seperti petugas keamanan rangjkap-rangkap lah . Harapannya nanti faktor SDM di lapangan bisa diatasi oleh pemerintah kota. Sehingga keluhan-keluhan terhadap kekurangan petugas atau kekurangan lainnya yang paling penting adalah masalah skills atau juga kecakapan petugas- petugas kita pertolongan pertama pada kondisi emergency. Jadi banyak pelatihan yang harus mereka ikuti. Keamanan bagaimana tata cara pengamanan terhadap tindak kejahatan untuk situasi darurat, terus juga untuk situasi kecelakaaan itu juga atau bencana itu juga perlu mereka mengikuti pelatihan kegawatdaruratan sementara ini belum mungkin tahun 2020 kita ikutkan pelatihan-pelatihan
seperti itu. (Hasil wawancara, 23 Desember 2019).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan peneliti dapat menyimpulkan bahwa dari segi SDM dari segi kuantitasnya kurang Faktor kekurangan SDM di lapangan diaharpkan bisa diatasi oleh pemerintah kota sehingga keluhan-keluhan terhadap kekurangan petugas atau kekurangan lainnya yang paling penting adalah masalah skills atau juga kecakapan ptugas-petugas pada kondisi emergency. Peralatan juga masih kurang dengan area yang cukup luas itu masih banyak menggunakan manual, belum punya alat yang khusus. membersihkan lantai
3. Faktor Komunikasi (Communication) Untuk pertanyaan peneliti selanjutnya tentang bagaimana faktor tranmisi atau saluran-saluran komunikasi yang digunakan dalam
mengimplementasikan kebijakan wisata Siring Menara Pandang informan Bapak Drs. Muhamad Ikhsan Alhak, M. Si menyatakan sebagai berikut:
“Untuk komunikasi…jadi komunikasi ini kan ada yang sifatnya melalui koordinasi..terus juga melalui penggunaan sosial media..melalui handy talky…atau apa..nah…walaupun ini juga antara satu petugas dengan yang lain belum memiliki i handy talky atau apa..misalnya jadi masih menggunakan HP pribadi (Hasil wawancara, 23 Desember 2019).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan peneliti dapat menyimpulkan bahwa untuk komunikasi ada yang sifatnya melalui koordinasi..terus juga melalui penggunaan sosial media..melalui handy talky atau menggunakan HP pribadi.
Komunikasi yang dilakukan sudah efektif dan dimenegerti oleh mereka karena memang pekerjaan yang sudah dilaksanakan sehari-hari
.4. Faktor Disposisi (Disposition)
Untuk pertanyaan peneliti selanjutnya bagaimana tindakan yang dimiliki oleh implementator dalam melaksanakan kebijakan informan Bapak Drs. Muhamad Ikhsan Alhak, M. Si menyatakan sebagai berikut:
“Jadi yaa..kita memberi perintah itu kita bisa lisan dan tertulis kalau tertulis disposisi itu cukup jelas apa yang harus disiapkan, apa yang harus dilakukan, apa yang harus dikerjakan, dilaksanakan Hasil wawancara, 23 Desember 2019).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan peneliti dapat menyimpulkan bahwa memberi perintah bisa dilaksanakan secara lisan dan tertulis.
Kalau tertulis disposisi itu cukup jelas apa yang harus disiapkan, apa yang harus dilakukan, apa yang harus dikerjakan dan dilaksanakan. Seluruh pelaksanaan pekerjaan itu menjadi tanggung jawab Dinas Kebudayaan dan Pariwisata walaupun juga diback up oleh beberapa dinas terkait misalkan keamanan ketertiban itu dari Satpol PP, kebersihan
dari Dinas Lingkungan Hidup, perbaikan infrastruktur srana dan prasarana nah itu Dinas Pekerjaan Umum jadi kita bekerja secara kolektif kolegial tapi pertanggungjawaban tetap di tangan dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Kemudian pada tahun 2020 sudah ditangani oleh unit langsung membawahi petugas.
3.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara dengan informan bahwa struktur organisasi pada objek wisata Siring Menara Pandang mempunyai pengaruh besar dalam implementasi kebijakan cukup signifikan. Sedangkan untuk struktur menara pandang itu bagian dari pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata jadi sangat berpengaruh. Tentang SOP yang berhubungan dengan mekanisme sistem dan pedoman untuk melaksanakan kebijakan wisata Siring Menara Pandang dilaksanakan mulai dari Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, selanjutnya dilaksanakan juga oleh Kepala
Bidang Pengembangan Pariwisata dan selanjunya oleh seksi-seksi dan seluruh staf yang ada di lapangan objek wisata siring menara pandang. Faktor penentu yang mempengaruhi implementasi kebijakan diantaranya adalah komunikasi (transmisi, kejelasan, konsistensi), sumber daya (sumber daya manusia, anggaran, peralatran, kewenangan), disposisi, dan struktur birokrasi.
IV. Penutup 4.1 Kesimpulan
1. Kebijakan pengelolaan pariwisata siring menara pandang untuk Implementasi kebijakannya belum berhasil secara efektif dan efesien karena sarana prasarananya belum lengkap tersedia, ditambah SDM yang belum berkualifikasi, dan ditambah SDM yang memang tidak mempunyai pendidikan khusus 2. Dampak sosial masyarakat
Banjarmasin dengan adanya siring menara pandang adalah adanya interaksi sosial antara pengunjung
dengan pedagang serta banyak orang yang menggantungkan hidup di objek siring menara pandang.
3. Dampak ekonomi masyarakat Banjarmasin dengan adanya Siring menara pandang adalah dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD), meningkatkan kesempatan berusaha, terbukanya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan masyarakat dan pemerintah, serta mendorong pembangunan daerah
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Budi, W. (2016). Kebijakan Publik Era Globalisasi (teori, proses dan studi kasus Koperatif). Yogyakarta: CAPC (Center Of Academic Publishing Service).
Sogiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Sugiyono, (2014). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D.
Bandung Alfabeta
Solichin, A. (2015). Analisis Kebijakan Dari Formulasi Ke Penyusun Model-Model Implementasi Kebijakan Publik. Jakarta:
PT Bumi Aksara.
Abdul Wahab, (2015). Implementasi Kebijakan Publik, Jakarta: PT Bumi Angkasa
Hasbullah. (2015). Kebijakan pendidikan dalam perspektif Teori, Aplikasi, dan Kondisi Objektif Pendidikan di Indonesia.
Jakarta: Raja GrafindoPersada Sedarmayanti, (2014). Membangun dan
Mengembangkan Kebudayaan dan Industri Pariwisata
Peraturan Perundang-undangan UU No. 10 Tahun 2009
Peraturan Daerah Kota Banjarmasin No. 25 Tahun 2016
Jurnal
Pallewa, A. (2016). Implementasi Kebijakan Pengembangan Pariwisata Pada Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Toraja, Vol 4 No 7 Hal 181-192.
Pratidina, D. H. (2015). Model Implementasi Kebijakan Pengembangan Pariwisata Dalam Meningkatkan Destinasi
Pariwisata Di Kabupaten Bogor, Vol 6 No 2.
Muhammad Zaki M, (2019). Revolusi Industri Sebagai Momentum Revitalisasi
Pariwisata Berbasis Budaya Sebagai
Pengambilan Nilai-nilai Adat Di Bali, Hal 328