Sitti Nurbaya (ditulis dengan berbagai ejaan Sitti Noerbaya, Sitti Nurbaya; selanjutnya ditulis Sitti Nurbaya untuk novel dan Siti Nurbaya untuk tujuan wisata), judul lengkap Sitti Nurbaya: Cinta Tak Tiba, merupakan novel Indonesia karya Marah Rusli (Marah Roesli) . Sitti Nurbaya kerap dianggap sebagai salah satu karya sastra Indonesia terpenting dengan kisah cintanya.
Pandangan Insan Perguruan Tinggi Terhadap Sitti Nurbaya Dan Wisatanya
Teeuw menulis, pesan moral dan sentimentalitas dalam Sitti Nurbaya terlalu dilebih-lebihkan, seperti halnya dalam Azab dan Sengsara. Namun, ia menilai plot Sitti Nurbaya lebih menarik pembaca berlatar belakang Barat dibandingkan karya Merari Siregar.
Pengantar
Tempat-tempat biasa kurang menarik perhatian pengunjung, sedangkan tempat-tempat luar biasa akan menarik perhatian mereka. Hal ini terbentuk karena adanya budaya representasi (indeks representasi) berupa tanda, gambar, dan simbol yang menjadikan lokasi tersebut menarik bagi masyarakat.
Sastra di Indonesia
Wisata Sastra Siti Nurbaya Padang
Penduduk Kota Padang sendiri mencapai lebih dari 850 ribu jiwa, dan jumlah penduduk Sumatera Barat mencapai jutaan jiwa. Penggambaran kota Padang dalam novel ini hendaknya mendorong pemerintah menjadikan Padang sebagai ikon tempat wisata sastra.
Kebutuhan Terhadap Wisata Sastra
Para pemangku kepentingan di bidang pariwisata harus memastikan adanya produk wisata sastra berupa cerita, sejarah, pengalaman dan tempat yang menjadi penyebab dan menonjolkan perbedaan budaya daerah ini dengan destinasi sastra lain di dunia. Pengelola objek wisata perlu menciptakan ikon-ikon produk yang menjadi ciri khas pariwisatanya, dan kehadiran ikon-ikon tersebut dapat diintegrasikan dengan produk wisata lainnya, seperti wisata alam dan seni.
Kesimpulan
Selama ini destinasi dan objek wisata tersebut terbukti belum mampu menjaga keberlangsungannya apalagi mampu meraup keuntungan. Untuk mengembangkannya, seluruh pemangku kepentingan wisata sastra di Sumbar khususnya Padang seperti pemerintah, masyarakat, pelaku usaha seperti hotel, transporter, kuliner, biro perjalanan, serta pengelola wisata di daerah ini perlu melakukan upaya. banyak pekerjaan rumah. seperti mengelola destinasi dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga keberlangsungan destinasi tersebut, khususnya pariwisata Sitti Nurbaya.
Fenomena Wisata Siti Nurbaya
Pendahuluan
Transformasi Karya
Marah Rusli menegaskan, makam yang ada di gua tersebut bukan milik Sitti Nurbaya. Nisan lainnya bertuliskan “inilah makam Sitti Nurbaya binti Baginda Sulaiman yang wafat pada tanggal 5 Zulhi 1315”.
Kesimpulan
Minimnya Informasi Penunjuk Arah Dalam Destinasi Wisata Sastra Siti
Nurbaya Kota Padang
Pengembangan Wisata Siti Nurbaya
Jembatan, taman, dan makam Siti Nurbaya yang terletak di Gunung Padang telah direnovasi agar semakin menarik. Sama seperti objek wisata sastra Siti Nurbaya sebelumnya, di lokasi ini tidak terdapat papan penunjuk arah.
Kelebihan Dan Kekurangan Wisata Sastra Siti Nurbaya
Sementara itu, pengunjung Taman Siti Nurbaya juga bisa berfoto selfie, suasana sejuk dan nyaman di puncak Gunung Padang membuat mereka mendapat kesan yang baik tentang tempat wisata ini. Pengunjung mengeluhkan kebersihan kolong Jembatan Siti Nurbaya yang mengganggu pemandangan padahal kondisi jembatan sendiri bersih. Sedangkan fasilitas yang mulai rusak adalah tangga menuju Taman Siti Nurbaya, dapat membahayakan pengunjung yang sewaktu-waktu terjatuh dari tangga, perlu segera dilakukan perbaikan.
Yang menarik dari jawaban pengunjung terhadap kuesioner tersebut adalah mereka tidak mengetahui lokasi makam Siti Nurbaya.
Kesimpulan
Di Jembatan Siti Nurbaya, mereka bisa berfoto selfie dan menikmati kuliner khas seperti pisang dan jagung bakar di malam hari. Wisata sastra juga diharapkan jika dikelola dengan baik dapat menjadi tren pariwisata Indonesia di masa depan. Hasil analisis menunjukkan bahwa masih banyak perbaikan yang harus dilakukan dalam pengembangan fasilitas wisata sastra Siti Nurbaya, khususnya informasi sastra tertulis, serta rambu dan petunjuk arah pada Jembatan, Pemakaman dan Taman Siti Nurbaya.
Dari wisata sastra yang dilakukan mahasiswa pascasarjana sastra Universitas Andalas, banyak kekurangan yang perlu diperbaiki pemerintah pada Jembatan Siti Nurbaya, pemakaman dan taman, seperti sarana, prasarana dan tentunya rambu petunjuk arah dan informasi.
Pembangunan Dinding Sepanjang Jalan Menuju Taman Siti Nurbaya
Pengembangan
- Area Parkir
- Taman
- Makam
- Jembatan
Dari cerita Siti Nurbaya, makam Siti Nurbaya dijadikan sebagai tempat kunjungan wisata masyarakat lokal maupun mancanegara. Dari area parkir depan gerbang masuk Taman Siti Nurbaya yang hingga saat ini masih dibatasi, cara pengelolaannya masih kurang. Taman ini masih mengandalkan kentalnya nuansa karya sastra Siti Nurbaya, apalagi dengan Makam Siti Nurbaya yang digambarkan dalam cerita sebagai makam di sudut Taman Siti Nurbaya.
Makam Siti Nurbaya terlihat kurang terawat dan tidak memiliki informasi apapun yang ingin didapatkan pengunjung.
Penutup
Terlepas dari kebenaran cerita Siti Nurbaya, memang ada sebuah makam di puncak Gunung Padang yang diklaim sebagai makam Siti Nurbaya. Sebelum sampai di Taman dan Pemakaman Siti Nurbaya, wisatawan bisa melewati Jembatan Siti Nurbaya yang memukau mata pengunjung, selain tentunya bersejarah. Bukit tempat dimakamkannya Siti Nurbaya ini mempunyai nama yang sama dengan Jembatan Siti Nurbaya yaitu “Bukit Siti Nurbaya”.
Oleh karena itu, sebelumnya Pemkot Padang membangun jembatan bernama Jembatan Siti Nurbaya.
Upaya Pengembangan Potensi Kawasan Wisata Siti Nurbaya di Kota
Padang
Wisata Siti Nurbaya
- Kisah Sitti Nurbaya
- Jembatan Siti Nurbaya
- Potensi dan Daya Tarik Kawasan Wisata Siti Nurbaya Dalam pengelolaan dan pengembangan suatu objek wisata
- Atraksi atau Daya Tarik Wisata
- Amenitas
- Aktivitas
- Analisis SWOT (Strength, Weaknesses, Oppotunities, Threats)
Objek wisata Siti Nurbaya tidak hanya menawarkan keindahan suasana alam sekitar, namun juga beberapa aktivitas lainnya. Wisata Siti Nurbaya yang saat ini dijadikan salah satu objek wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Sesuai dengan namanya, Taman Wisata Siti Nurbaya dibangun untuk merayakan legenda urban masyarakat Kota Padang.
Walaupun objek wisata Siti Nurbaya mempunyai daya tarik dan potensi yang luar biasa, namun wisata ini juga mempunyai banyak kekurangan.
Strategi Pengembangan Kawasan Wisata Siti Nurbaya Dan Wisata Terpadu Kodya Padang
Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan kawasan pariwisata Siti Nurbay, karena setiap daerah pasti akan meningkatkan daya saing pariwisatanya. Persaingan ini harus diantisipasi oleh Pemerintah Kota Padang dengan menyelenggarakan Wisata Siti Nurbaya menjadi paket-paket yang lebih menarik agar wisatawan dapat mengunjungi wisata tersebut. Upaya pengembangan objek wisata Siti Nurbaya dan kawasan wisata terpadu Kodya Padang sebagai salah satu fasilitas wisata harus menekankan pada pembangunan fisik dan penambahan serta peningkatan sarana, prasarana, pemeliharaan dan pelestarian fasilitas wisata tersebut.
Wisata Siti Nurbaya
- Fasilitas Toilet dan Air Bersih
- Perawatan Makam Siti Nurbaya
- Tempat Penjualan Souvenir dan Penyediaan Tempat Makan
- Pusat Informasi Wisata
- Pembangunan Tempat Parkir
- Transportasi
- Promosi, Pemasaran dan Publikasi
- Kerja Sama dengan Pihak Swasta / Investor Dalam pengembangan objek wisata Siti Nurbaya
Parkir di kawasan fasilitas wisata Siti Nurbaya masih sangat merepotkan karena situasi parkir yang masih terbatas. Kerjasama dengan Pihak Swasta/Investor dalam Pengembangan Sarana Wisata Kota Nurbaya Dalam pengembangan sarana wisata Kota Nurbaya, pemerintah daerah saja tidak cukup. Hal ini merupakan upaya pemerintah setempat untuk melebarkan sayapnya agar fasilitas wisata tersebut tetap eksis dan terus dilestarikan.
Untuk mengembangkan dan menjalin kerjasama dengan objek wisata tersebut, harus ada hubungan antara pemerintah daerah dan pihak swasta.
Kawasan Wisata Terpadu Gunung Padang
Kami berharap kedepannya ada pihak swasta atau investor yang bersedia bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk melestarikan pariwisata Siti Nurbaya. Ditambahkannya, potensi investasi ada pada Kawasan Pariwisata Terpadu Gunung Padang, kemudian pengembangan pariwisata di 19 pulau kecil, pembangunan jalan Teluk Kabung, Padang-Mandeh, serta pengembangan pelabuhan Bungus dan Bukit Putus. Konsep Kawasan Pariwisata Terpadu Pegunungan Padang (Sumber: Dokumentasi Foto Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Padang-Peta Konsep Pengembangan Kawasan Pariwisata Terpadu Pegunungan Padang).
Kesimpulan dan Saran
Oleh karena itu peran pemerintah sangat penting dalam bekerjasama dengan investor untuk mendukung proses pengembangan fasilitas wisata Siti Nurbaya seperti pengembangan fasilitas toilet, souvenir/restoran, pemeliharaan makam Siti Nurbaya, Pusat Informasi Wisata, lahan parkir, sarana transportasi dan sebagainya. Selain itu, pada kawasan pariwisata terpadu Gunung Padang, Pemerintah Kota Padang mempunyai rencana pengembangan fasilitas pariwisata kedepannya, antara lain: Dalam pengembangan fasilitas pariwisata perlu diprioritaskan pada penambahan dan pengembangan fasilitas pariwisata. peningkatan sarana dan prasarana yang ada pada kawasan objek wisata.
Kerjasama dengan pihak swasta sebagai investor untuk meningkatkan alokasi dana bagi pengembangan objek wisata agar lebih berkembang.
Pudarnya Representasi Kisah Sitti Nurbaya Pada Objek Wisata Gunung
Jembatan Siti Nurbaya
Berubahnya tujuan pengunjung datang ke Jembatan Siti Nurbaya menjadi salah satu faktor yang mulai menggerus Siti Nurbaya di zaman modern saat ini. Sitti Nurbaya atas jembatan ini terkesan hanya sebagai alat untuk mewujudkan ikon pariwisata kota Padang. Sitti Nurbaya masih diceritakan sesuai legenda yang melegenda, namun sayangnya Sitti Nurbaya hanya sekedar nama di jembatan ini, dimana pengunjung belum mengetahui bagaimana keseluruhan cerita Sitti Nurbaya.
Sitti Nurbaya di zaman modern ini hanyalah sebuah nama yang terkikis dan pudar dimakan zaman sehingga Sitti Nurbaya hanya sekedar cerita legenda.
Gunung Padang
Di sebelah utara dan timur terlihat pemandangan Kota Padang dan Jembatan Siti Nurbaya dari kejauhan. Dalam menjaga keterwakilan Siti Nurbaya di tempat wisata Siti Nurbaya menjadi pekerjaan rumah bagi masing-masing kelompok hingga saat ini. Jika Jembatan Siti Nurbaya ramai pengunjung pada sore dan malam hari, lain halnya dengan Gunung Padang.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan wisata sastra Siti Nurbaya.
Peningkatan Literasi Melalui Pementasan: Upaya Mendongkrak
Jumlah Wisatawan Taman Wisata Siti Nurbaya
Landmark
Sepanjang perjalanan, pengunjung akan dapat melihat sisa-sisa peninggalan zaman penjajahan Belanda berupa benteng tempat musuh diawasi dari kejauhan dan peninggalan berupa meriam sepanjang lebih dari 2 meter yang terdapat di sepanjang jalan. ke Taman Siti Nurbaya. Benteng peninggalan peninggalan Belanda dan meriam yang sering dijadikan objek foto bersama oleh pengunjung sebaiknya tetap dijaga dan dilestarikan karena benteng di sepanjang jalan menuju taman membuat perjalanan tidak terlalu membosankan. Beberapa pengunjung yang datang ke destinasi wisata Taman Siti Nurbaya mengira inilah landmark Taman Siti Nurbaya yang mereka cari.
Salah satu pengunjung mengaku baru pertama kali berkunjung ke sana dan belum sempat selfie di perjalanan karena yang diincarnya adalah puncak Taman Siti Nurbaya.
Literasi Di Taman Siti Nurbaya
- Pertunjukan dari novel Sitti Nurbaya
- Kenang-kenangan berupa novel dan gantungan kunci Siti Nurbaya
- Selfie dengan tokoh-tokoh yang memerankan karakter di dalam novel
- Warung jajanan terintegrasi
Harapannya melalui pertunjukan ini para wisatawan yang datang berkunjung dapat mengetahui seperti apa kisah Sitti Nurbay, sehingga secara tidak langsung menggugah keinginan sebagian pengunjung untuk membaca karya sastra khususnya novel Marah Rusli ini. Dari wawancara terhadap 5 orang pengunjung diketahui bahwa sebagian besar responden belum pernah membaca Sitti Nurbaya Marah Rusli. Oleh karena itu, semoga kutipan novel Sitti Nurbaya sebulan sekali dapat memberikan pengetahuan instan kepada para pengunjung destinasi wisata ini.
Bila diperlukan akan diadakan lomba desain sampul khusus novel Sitti Nurbaya edisi terbaru dengan melibatkan banyak pihak seperti Balai Bahasa Kota Padang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang dan tentunya Pemerintah Kota Padang sebagai penyelenggara utama. pilihan.
Destinasi Wisata Siti Nurbaya
Destinasi Wisata Makam Siti Nurbaya
Dikatakan identik karena konon berkaitan dengan tempat peristirahatan terakhir sosok fenomenal Sitti Nurbaya. Jika dirunut melalui novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli, ternyata anggapan kelompok Tarekat Pasaman juga ada benarnya. Hal tersebut dikatakan benar karena saat Sitti Nurbaya dan Samsulbahri keluar, ternyata kuburannya sudah ada di sana dan jauh sebelum Sitti Nurbaya dikabarkan meninggal di tempat tersebut.
Setelah melewati tangga, kita diperlihatkan sebuah makam yang konon adalah Sitti Nurbaya yang dimakamkan di sana.
Pengembangan yang Sedang Dilakukan
Untuk mewujudkan konsep tersebut, Pemkot Padang membuka peluang bagi investor dari berbagai pihak untuk mengembangkan Kawasan Pariwisata Terpadu (KWT) Gunung Padang. Terakhir, Arab Saudi yang sangat tertarik dengan pengembangan Kawasan Pariwisata Terpadu (KWT) bahkan ingin memperluas cakupannya, oleh karena itu ada kerja sama antara Kawasan Pariwisata Terpadu (KWT) Gunung Padang dengan Mandeh. Marah Rusli selaku penulis novel Sitti Nurbaya mengawali dengan memperkenalkan Gunung Padang sebagai ikon Sitti Nurbaya melalui karya yang ditulisnya, dan karya tersebut masih dikenal hingga saat ini.
Pemerintah Kota Padang kini telah menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan pembangunan jangka panjang yang direncanakan melalui Kawasan Pariwisata Terpadu (KWT) Gunung Padang dan semoga rencana tersebut dapat terwujud dan dilaksanakan dengan baik.
Biodata Singkat Penulis
Selain bekerja sebagai guru, pada tahun 2004 ia bekerja sebagai HRD di Perusahaan Ekspor Kelapa Sawit UIP Kawasan Industri Padang. Lahir di Padang, Dina Fauzana merupakan mahasiswa pascasarjana Jurusan Seni Fakultas Seni Budaya Universitas Andalas Padang tahun 2017 dan juga aktif terlibat dalam Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa/Nagari Kabupaten Solok Selatan. Miming Gustina merupakan mahasiswi Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang angkatan 2017.
Selain kegemaran membaca, ia telah menulis beberapa puisi yang dimuat di portal berita online pada tahun 2009.