M U L I A S I R E G A R
Antropologi Terapan
Pengertian
Antropologi terapan adalah penerapan ilmu antropologi di masyarakat untuk melakukan perubahan kebudayaan secara terencana
Antropologi Terapan adalah antropologi yang mempelajari masalah-masalah masyarakat yang kekinian.
Misalnya saja komunitas-komunitas seperti anak punk, anak jalanan, pengamen, pencopet dan lain- lain,
Ilmu antropologi terapan berkenaan dengan analisis, penelitian, dan pencarian solusi atas masalah terkait manusia dalam berbagai
bidang dan garis waktu.
Dalam beberapa hal, ilmu ini juga
menjembatani perusahaan atau organisasi dengan masyarakat yang dilayani
Keahlian antropolog terapan di antaranya
adalah analisis dan penelitian lapangan serta evaluasi dampak sosial.
Bidang tanggung jawab biasanya seputar analisis & evaluasi dampak sosial; layanan kemasyarakatan; pencatatan sejarah dan pemahaman kebutuhan kelompok sosial
tertentu; hingga analisis untuk program dan legislasi di bidang ekonomi, pendidikan, atau hak asasi manusia untuk pengembangan
masyarakat secara mikro dan makro.[
Ahli antropologi terapan juga seringkali
diminta menjadi konsultan rencana program pelestarian lingkungan dan cagar budaya, pembangunan komunitas (community
development), dan melakukan penilaian dampak sosial.
Antropologi terapan juga untuk menghadapi tantangan zaman di era globalisasi saat ini yang dapat langsung diaplikasikan kepada
masyarakat sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
Antropolog dapat menerapkan ilmunya di banyak sektor: pendidikan, konsultasi,
instansi pemerintah, organisasi nirlaba
internasional, perusahaan berbagai industri, dan pelayanan kesehatan dan masyarakat
Antropologi terapan dapat mencari solusi bagi masyarakat yang ada disuatu daerah, terutama masalah tradisi-tradisi yang ada dimasyarakat Indonesia yang pada hakikatnya
dapat menimbulkan masalah baru bagi bidang-bidang lainnya
Contohnya ritual atau tradisi yang dilakukan oleh suku
bangsa Tana Toraja diprovinsi Sulawesi Selatan. Suku bangsa ini selalu melaksakan sebuah ritual kematian bagi keluarga yang dapat menghabiskan dana yang sangat besar yaitu 100 juta atau bahkan lebih. Sedangkan sebagian besar dari
masyarakat suku bangsa Tana Toraja memiliki kelas sosial menengah kebawah. Sementara ritual tersebut harus selalu dilaksanakan walaupun tidak secara bersamaan pada saat salah satu dari keluarga mereka meninggal