• Tidak ada hasil yang ditemukan

aplikasi hermeneutika dalam fiqh perempuan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "aplikasi hermeneutika dalam fiqh perempuan"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

Salah satu fikih yang dianggap tidak adil adalah masalah persamaan hak antara perempuan dan laki-laki sebagaimana telah dijelaskan di atas. Al-Qur'an sebagai salah satu sumber utama fikih nampaknya menempatkan posisi laki-laki di atas perempuan. Tentang aqiqoh ​​misalnya, yang membutuhkan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan hanya satu untuk bayi perempuan.

Sama halnya ketika seseorang meninggal, jika dia laki-laki, maka keluarganya meminta 100 ekor unta. Menilik Al-Qur'an Surat an Nahl: 97.3 Allah berjanji memberikan pahala yang setimpal bagi laki-laki dan perempuan yang beramal saleh. 5 Ibnu Rusyd mendefinisikan mahram sebagai saudara sedarah seperti saudara laki-laki atau anak laki-laki yang tidak dapat dinikahi oleh seorang wanita.

Tentang membuka hijab karena alasan medis

Lokasi pemakaman seringkali jauh dari pemukiman penduduk, yang berarti pasti akan menimbulkan kerusakan yang sangat besar. Oleh karena itu (harus kita sadari) kecaman Nabi terhadap wanita ziarah kubur didasarkan pada alasan yang sangat baik. Salam itu diucapkan karena Aisyah pernah bertanya kepada Nabi apa yang harus dikatakan seorang Muslim ketika mereka melewati kuburan dan dia menyarankannya untuk berdoa sebagai berikut: "Assalamu'alaikum wahai umat Islam, Insya Allah kami akan segera menyusulmu."

Tentang perempuan yang menjadi penghuni neraka terbanyak Pertanyaan: Apakah benar bahwa perempuan merupakan

Tentang larangan foto

Selain itu, El Fadl adalah lulusan, dosen dan profesor hukum Islam di University of California, Los Angeles (UCLA) School of Law, Amerika Serikat, di mana ia mengajar hukum Islam, hukum imigrasi, hak asasi manusia, keamanan nasional dan internasional. Kanan. Dia adalah anggota dewan direksi untuk memantau hak asasi manusia dan bekerja sama dengan dewan hakim untuk hak asasi manusia. Dari beberapa fatwa yang dikeluarkan CRLO, El Fadl menilai fatwa tersebut tidak ditujukan untuk kesejahteraan rakyat.

Namun, fatwa tersebut merupakan cerminan ulama yang memiliki otoritas dan harus lebih menekankan pada kondisi dan kebutuhan umat manusia. Semakin El Fadl mengkaji dan memikirkan fatwa tersebut, maka ia merasa fatwa tersebut perlu direvisi untuk menghilangkan kesan kaku atau otoritarianisme dalam fikih.6 Namun, fatwa yang dikeluarkan oleh CRLO dijadikan landasan hukum dalam fikih. Menurut El Fadl, beberapa aspek di atas harus diperhatikan dalam menentukan fatwa.

Beberapa fatwa yang menurut El Fadl perlu digarisbawahi, antara lain: masalah BH wanita, sepatu hak tinggi dan akad nikah bagi wanita, penistaan ​​akibat praktik ziarah kubur wanita, bahaya bepergian wanita tanpa mahram, wanita dan setan di dalam mobil (larangan wanita mengendarai mobil sendiri), kelelahan untuk suami mereka, riwayat tulang rusuk bengkok, kecerdasan yang buruk, anjing dan wanita bingung, doa di lemari, memeluk dinding dan bahaya godaan wanita (tubuh wanita adalah alat kelamin dan menimbulkan fitnah (godaan seksual, maka harus ditutup atau diselubungi), rasisme, seksisme dan rasa keindahan.7 Ada dua alasan mengapa El Fadl menganalisis fatwa tersebut. Ini adalah manifestasi dari praktik yang disebut El Fadl sebagai otoritarianisme sejati yang dilakukan oleh CRLO dengan fatwanya. Dan ini pula yang mendasari kegelisahan El Fadl sebagai pengkritik fatwa yang diskriminatif dan menyimpang.

Keberpihakan dan pembelaan El Fadl terhadap penafsiran yang tidak adil dan otoritarianisme dalam hukum Islam sangat jelas. Dalam analisisnya, El Fadl memaparkan beberapa fatwa yang dianggap kontroversial dan nirlaba.

Kasus Tentang Bra, Sepatu bertumit tinggi dan Perjanjian Pernikahan

Menurut El Fadl, apa yang disampaikan CRLO setidaknya bisa dijelaskan dari beberapa aspek. Menurut El Fadl, Ibnu Jibrin tidak mengutip dalil khusus dari Al-Qur'an atau hadits terkait bra atau jenis pakaian lainnya. Menurut El Fadl, yang lebih penting adalah fatwa tersebut memperhatikan kebutuhan dan kemaslahatan perempuan, namun nampaknya argumentasi CRLO tidak bersifat argumentatif, sehingga faktor-faktor lain tidak diperhitungkan dalam fatwa tersebut.

Apalagi jika penggunaan bra untuk kesehatan, otomatis fatwa ini tidak kontekstual (El Fadl. Menurut El Fadl, persoalannya di sini adalah dasar penetapan hukumnya terkait dengan masalah penipuan, dasar penetapannya). sama halnya dengan fatwa mengenai bra yaitu perempuan dipandang sebagai sumber fitnah (daya tarik seksual) sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan fungsi tubuh perempuan akan dilihat dari perspektif tersebut.Argumen yang dikembangkan CRLO dari perspektif El Fadl adalah sama sekali tidak didasarkan pada tujuan hukum Islam, yaitu kemaslahatan bukan marabahaya.

Dari penjelasan di atas, menurut El Fadl, perkawinan sah jika akad kawin kontrak dinyatakan secara tegas dan disepakati bersama. Rupanya, menurut El Fadl, mereka keliru memahami pendapat beberapa ahli hukum Hambali tentang hal ini, yang menyatakan bahwa jika hanya salah satu pihak yang berniat mempertahankan ikatan perkawinan, sedangkan pihak yang lain memiliki niat sembunyi-sembunyi untuk masuk. dalam perkawinan yang hanya bersifat sementara, maka perkawinan itu tetap dianggap sah. Namun menurut mayoritas ahli hukum Hanafi dan Syafi'i, niat salah satu pihak untuk melangsungkan perkawinan mut'ah, jika tidak diungkapkan, dianggap dosa, namun tidak membatalkan perkawinan.

Ternyata menurut El Fadl, dalam mengeluarkan fatwa mereka menunjukkan kurangnya pengendalian diri, keikhlasan dan rasionalitas. Akibatnya, suara yang muncul dalam fatwa hanyalah suara penerjemah yang seenaknya mengeluarkan fatwa tersebut (Al Fadl.

Para ahli hukum Hambali berpendapat bahwa motif yang salah dari salah satu pihak tidak membatalkan pernikahan, dan mereka tidak mengatakan bahwa salah satu pihak berhak atau diperbolehkan untuk memiliki motif penipuan dalam masalah perkawinan. Namun yang menarik adalah mayoritas ahli hukum Maliki dan Hambali berpendapat bahwa niat untuk melakukan kawin kontrak, baik diungkapkan oleh salah satu pihak atau tidak, dapat menyebabkan batalnya perkawinan tersebut. Fitnah yang ditimbulkan dari praktik ziarah kubur bagi perempuan Ketika beberapa ahli CRLO diminta pendapatnya tentang apakah.

Mereka menetapkan “bahwa laki-laki muslim boleh ziarah kubur, bahkan sangat dianjurkan, tetapi diharamkan bagi perempuan” (al Utsaymin, t.t,: 170). Dasar penetapan mereka adalah karena hadits Nabi yang bersabda: “Berhajilah, karena sesungguhnya itu akan mengingatkanmu pada Hari Akhir” (Munawir. Mereka menegaskan bahwa Nabi bersabda “Semoga Allah mengutuk wanita” yang mengunjungi kuburan” (al Halqat, t.t.: .131).

Mereka kemudian memberikan alasan pelarangan yang spekulatif, bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah secara intelektual dan emosional, serta rapuh secara psikologis. Kelemahan fatwa ini, menurut El Fadl, mereka mendasarkan keputusannya pada pendapat yang mengatakan bahwa ziarah kubur adalah praktik yang diharamkan bagi wanita, sedangkan pendapat umum menyatakan bahwa pada awalnya praktik ziarah dilarang bagi pria dan wanita. , namun kemudian dibolehkan baik laki-laki maupun perempuan, CRLO tidak menunjukkan hal tersebut dalam fatwanya. Artinya, fatwa CRLO tentang larangan ziarah kubur bagi perempuan pada dasarnya tidak jelas, bahkan CRLO tidak berimbang dalam menerima dalil atau nashnya.

Setan Dalam Mobil dan Bahaya Perempuan Yang Bepergian Tanpa Mahram

Dalam konteks ini, seorang wanita bertanya apakah suaminya mengalami kecelakaan dan dia diminta untuk menjenguknya, apakah dia bisa pergi sendiri tanpa ditemani saudara laki-lakinya di jalan. Dalam keadaan apa pun seorang wanita tidak boleh bepergian lebih dari delapan puluh kilometer (dua dhiroa). Putusan ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Nabi, yang berbunyi: “Tidak boleh seorang wanita mukmin melakukan perjalanan satu hari perjalanan tanpa ditemani mahram” (Ibn Baz.

Ibnu Fawzan dari CRLO secara khusus menjelaskan bahwa larangan itu penting karena pesawat, mobil, atau kereta api yang dia tumpangi bisa mengalami masalah, meninggalkan perempuan itu sendirian tanpa perlindungan. Selain itu, seorang wanita dapat menghadapi fitnah, sehingga wanita tidak boleh bepergian jauh tanpa didampingi mahram. Dalam analisisnya, El Fadl memperkirakan alasan operasional (illah) mengenakan mahram adalah karena faktor keamanan yang tidak terjamin.

Oleh karena itu, dalam konteks saat ini, jika keselamatan perjalanan bisa dijamin dengan berbagai cara, seorang perempuan bisa bepergian sendiri atau bersama perempuan lain. Apalagi fatwa yang dikeluarkan oleh Ibnu Baz dan Ibnu Fawzan kemudian menjadi hukum resmi di Arab Saudi.

Sujud pada Suami sebagai Ketundukan Istri pada Suami

El Fadl menyoroti bagaimana mekanisme perumusan dan pengambilan keputusan tentang nasib dikeluarkan oleh individu, tokoh masyarakat dan khususnya lembaga dan organisasi keagamaan pada umumnya. El Fadl tidak hanya berhasil menunjukkan kecenderungan dominasi hermeneutika despotik yang terwujud dalam otoritarianisme tekstual setelah menunggangi otoritas teks-teks suci. El Fadl juga berhasil memberikan “proposal metodologis” yang dilandasi upaya untuk menghormati otoritas teks demi menyelamatkan wacana agar tidak diperlakukan semena-mena dan arogan oleh kelompok-kelompok puritan.

El Fadl menekankan dua hal untuk menghindari jebakan otoritarianisme ini, yakni ketekunan dan pengendalian diri. Kritik El Fadl terhadap Puritanisme adalah bahwa Puritanisme menganut pandangan ekstrim positivisme yang mengakui hukum positif sebagai nilai moral tertinggi dan mengabaikan aspek normatif lainnya. Perspektif ini digunakan El Fadl ketika mengkritik ketidakcukupan pendekatan kepentingan umum (maslahah) di bidang ushul fiqh dan perlunya mengangkat logika substantif dan matn analisis hadits.

Dari berbagai argumentasi di atas, gagasan terbesar El Fadl terhadap wacana hukum Islam kontemporer adalah membongkar “malapraktik otoritarian” dalam hukum Islam. Menurut El Fadl, fenomena ini sudah menjadi pemahaman umum hukum Islam di kalangan umat Islam saat ini. Sedangkan El Fadl sejak dini ingin menunjukkan bahwa hukum Islam patut dipuji sebagai “jantung dan inti agama Islam”, atau dalam istilah Joseph Schacht “puncak peradaban Islam” dan menurut Al-Jabiri “peradaban Islam adalah peradaban fiqh” karena fiqh memiliki fleksibilitas, keterbukaan dan anti-otoritarianisme.

Idealnya wacana hukum Islam bagi El Fadl adalah wacana fikih yang inklusif, toleran dan progresif. Obsesi El Fadl adalah merestorasi hukum Islam dalam wacana fikih yang mengalami keragaman, penyegaran, pembaharuan dan kemajuan. Pertama, El Fadl menganggap Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber otoritatif hukum Islam sebagai “teks terbuka”, maka konsekuensi logisnya adalah meyakini hukum Islam sebagai karya yang terus berubah (hukum Islam sebagai karya yang bergerak). ) .

Kecenderungan yang berpotensi menimbulkan otoritarianisme dalam memahami hukum Islam inilah yang terus dilawan oleh El Fadl.

Simpulan

Singkatnya, hukum Islam modern dipandang sebagai seperangkat aturan (ahkâm) bukan sebagai proses pemahaman (fiqh).

Referensi

Dokumen terkait

The same thing that was found by this study is that since online learning was not as effective as face-to-face learning, senior high school students chose to use

Nayaka Bangun Persada Palembang yang diukur melalui rasio keuangan berupa rasio likuiditas (rasio lancar, rasio sangat lancar, dan rasio kas), rasio solvabilitas (debt