KEPADATAN POPULASI KEONG TURBO (Turbo bruneus) DI ZONA INTERTIDAL PANTAI BATU KALANG KECAMATAN KOTO XI
TARUSAN KABUPATEN PESISIR SELATAN
Artikel
RICHI FAISKA NIM. 11010231
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2016
KEPADATAN POPULASI KEONG TURBO (Turbo bruneus) DI ZONA INTERTIDAL PANTAI BATU KALANG KECAMATAN KOTO XI
TARUSAN KABUPATEN PESISIR SELATAN
Richi Faiska, Armein Lusi Z, Ria Kasmeri Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
One of Mollusc that contained in Intertidal areas at Batu Kalang coast is Turbo bruneus. Turbo bruneus is better known by the people as Lolak. It is look for by the people to consumed.
Besides the meat is used to consumed, shells are also often used as souvenirs. However in over time, the Turbo bruneus populations that live in the coral began to decline. Based on the information of local people, the population of Turbo bruneus is declining caused by the increased activity of the arrest. This study aims to determine the population density of Turbo bruneus and chemical physics factor of water in Batu Kalang coast Koto XI Tarusan district, South Pesisir regency. This research was conducted in October 2015. The analysis of chemical physics was conducted in the field at the time of taking sample. In this research, the researcher used Survey descriptive method. Whereas, station determination is use purposive sampling technique. Station one has gritty substrate, rocky, and seaweed. These station is become a tourist attraction and a place of fishermen seek the fish. Stasiun two has gritty substrate, rocky, and seaweed. The station is also used to seek the fish by fisherman. Stasiun three has gritty substrates and seaweed. In this station, the human activity started to decrease since it is located farthest from Batu Kalang coast. Based on the result of this research that has been conducted, the researcher found the density of Turbo bruneus in Batu Kalang coast, Koto XI Tarusan subdistrict, south Pesisir regency is 4.5 ind/m2. The highest density is found at station three with rocky substrate and seaweed is 2,6 ind/m2. The lowest density is found at the first station with gritty substrate, rocky, and seaweed is 0,5 ind/m2. While the physical-chemical factors that affecting the density of this species is the temperature that range between 30-32oC, pH that range from 6.5 to 7.2, Salinity that range from 27,00-37,85o/oo and DO that range from 4 to 4.8 mg/L.
Key word: Intertidal area, Turbo bruneus PENDAHULUAN
Dua pertiga luas wilayah Indonesia adalah lautan yang mempunyai potensi sumberdaya alam yang sangat penting bagi kehidupan bangsa. Potensi tersebut perlu dikelola secara tepat agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan lestari bagi kesejahteraan rakyat (Gautama, 2000). Wilayah pesisir pantai merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut yang masih dipengaruhi sifat- sifat laut seperti pasang surut dan proses alami yang terjadi di darat seperti aliran air tawar maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat (Dibyowati, 2009).
Pantai memiliki arti strategis karena merupakan wilayah peralihan (interfece) antara ekosistem darat dan laut, serta memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa- jasa lingkungan yang sangat kaya. Pantai dapat didefenisikan sebagai daerah pertemuan antara laut dengan daratan serta udara, dimana interaksi ketiga komponen tersebut menjadikan wilayah pantai sangat dinamis, sehingga menyebabkan daerah pantai sangat rentan terhadap setiap perubahan yang terjadi (Muhaimin, 2013).
Pada pantai terdapat daerah litoral yaitu daerah yang berada diantara pasang tertinggi dan air surut terendah atau disebut daerah intertidal (Nybakken, 1988).
Daerah intertidal terletak paling pinggir dari bagian ekosistem pesisir dan laut dan berbatasan dengan ekosistem darat.
Intertidal merupakan daerah pasang surut yang dipengaruhi oleh kegiatan pantai dan laut. Daerah ini merupakan daerah yang paling sempit namun memiliki keragaman dan kelimpahan organisme yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan habitat-habitat laut lainnya (Yulianda, 2013).
Kecamatan Koto XI Tarusan terletak di Kabupaten Pesisir Selatan memiliki daerah pasang surut yang cukup luas. Salah satu diantaranya adalah Pantai Batu Kalang. Sejak dulu, pantai ini dijadikan tempat pelabuhan kapal nelayan, pelelangan ikan dan tempat wisata bagi masyarakat lokal maupun luar daerah. Selain indah, pantai ini juga memiliki hamparan pasir putih dan karang yang luas tempat hidupnya berbagai macam biota seperti ikan, berbagai macam jenis molluska, porifera dan coelenterata yang hidup di daerah ini.
Salah satu Molluska yang terdapat di daerah Intertidal pantai Batu Kalang adalah Turbo bruneus. Turbo bruneus atau yang lebih dikenal masyarakat setempat dengan nama Lolak sering dicari masyarakat setempat untuk dikonsumsi. Menurut Heniza (2010) keong Turbo memiliki nilai gizi yang tinggi dan dagingnya mengandung protein, lemak, hidrat arang, dan kalsium.
Disamping dagingnya enak, cangkangnya juga banyak dijadikan sovenir.
Namun seiring waktu populasi Turbo bruneus yang hidup di karang tersebut mulai menurun. Berdasarkan informasi masyarakat setempat menurunnya jumlah populasi Turbo bruneus diakibatkan oleh meningkatnya aktifitas penangkapan.
Heniza (2010) telah melakukan penelitian Tentang Kepadatan Mollusca jenis Turbo jobiensis di zona intartidal pantai Teluk Tempurung Kecamatan Batang Kapas Kabupaten Pesisir Selatan. Heniza (2010) mendapatkan hasil Kepadatan populasi Turbo jobiensis di Teluk Tempurung Kecamatan Batang Kapas berkisar 0,72-3,00 ind/m2. Semua nilai parameter faktor lingkungannya berada dalam nilai toleransi, dapat bertahan hidup dan berkembang biak.
Terbatasnya informasi mengenai Turbo bruneus di pantai Batu Kalang Kecamatan Koto XI Tarusan mendorong penulis untuk lebih mengetahui bagaimana kepadatan
populasi Turbo bruneus di pantai tersebut.
Maka dari itu penulis telah melakukan penelitian tentang “Kepadatan Populasi Keong Turbo (Turbo bruneus) Di Zona Intertidal Pantai Batu Kalang Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan”.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini telah dilakukan pada bulanOktober 2015. Pengambilan sampel dilakukan di zona intertidal Pantai Batu Kalang Kecamatan Koto XI Tarusan.
Analisis fisika dan kimia perairan dilakukan di lapangan saat pengambilan sampel.
Penelitian ini dilakukan dengan metode survey deskriptif (pengamatan langsung ke lapangan). Penetapan lokasi penelitian berdasarkan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel dilakukan berdasarkan kondisi pantai Batu Kalang yang berbeda. Stasiun I terletak di Taluak Balimbiang. Di Taluak Balimbiang ini terdapat sebuah aliran air yang bermuara ke laut.
Stasiun II terletak di Ladang Baru, di daerah ini sering dijadikan nelayan setempat untuk mencari ikan. Stasiun III terletak di Taluak Sikulo, daerah ini merupakan daerah paling ujung dari pantai batu kalang. Di daerah ini terlihat aktifitas manusia sudah mulai berkurang karena letaknya paling ujung dari pantai Batu Kalang.
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan plot berukuran panjang dan lebar 1 meter. Sampel diambil berdasarkan rataan pada tiap stasiun pengamatan (Nurdin, 2009). Rataan dibagi dalam tiga bagian dengan panjang tiap rataan 20 meter ke arah tengah laut yaitu rataan tepi, rataan tengah dan rataan tubir. Rataan tepi diambil dari posisi air pasang tertinggi dan rataan tubir diambil dari posisi air surut terendah, sedangkan rataan tengah posisinya antara rataan tepi dan rataan tubir. Rataan tepi dari arah pantai ketengah laut dengan substrat berpasir dan berbatu. Rataan tengah dengan substrat berpasir, berkarang dan berlamun sedangkan rataan tubir dengan substrat berkarang dan berlamun. Pada masing-masing rataan dipasang 10 belt transek, total belt transek yang digunakan pada 3 stasiun dengan total plot 90 plot pengamatan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian yang telah dilakukan di Pantai Batu Kalang Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan didapatkan total kepadatan populasi rata-rata 4,5 ind/m2. Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa
kepadatan Turbo bruneus pada Stasiun I adalah 0,5 ind/m2, Stasiun II adalah 1,4 ind/m2 dan Stasiun III adalah 2,6 ind/m2. Kepadatan populasitertinggi ditemukan pada stasiun III (2,6 ind/m2) dan kepadatan populasi terendah ditemukan pada stasiun I (0,5 ind/m2).
Tabel 1. Kepadatan Keong Turbo (Turbo bruneus) Pantai Batu Kalang Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan
Stasiun Jumlah Individu/titik Pengambilan Total Kepadatan
Rata-rata Kepadatan
(ind/m2)
tepi Tengah Tubir
I 0 0 5 5 0,5
II 0 2 27 29 1,4
III 8 17 53 78 2,6
Total Kepadatan 4,5
Parameter lingkungan perairan sangat menentukan untuk perkembangan, pertumbuhan dan keberadaan keong serta memperlihatkan kondisi baik dan buruknya suatu perairan. Kondisi Parameter Fisika Kimia perairan Pantai Batu Kalang
Kecamatan Koto XI Tarusan dapat dilihat pada pengukuran kondisi parameter yang diukur, adapun parameter Fisika Kimia yang diukur adalah suhu, pH, Salinitas dan DO (Oksigen Terlarut).
Tabel 2. Parameter faktor fisika kimia perairan di Pantai Batu Kalang Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan
No Parameter Stasiun
I II III
1. Suhu (o C) 31-32 32 30-31
2. pH 6,7-6,8 6,5-7,2 6,5-6,9
3. Salinitas (o/oo) 36,38 37,85 27,00
4. DO (mg/L) 4,0-4,8 4,0-4,8 4,0
Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa kisaran parameter fisika kimia air Pantai Batu Kalang adalah suhu berkisar 30-32o C, pH berkisar 6,5-7,2, Salinitas berkisar 27,00-37,85 o/oo dan DO berkisar 4,0-4,8 mg/L.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan kepadatan populasi Turbo bruneus di Pantai Batu Kalang Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan dengan Total kepadatan populasi rata-rata 4,5 ind/m2. Kepadatan populasi Turbo bruneus yang diperoleh di Pantai Batu Kalang lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Heniza (2010) di Pantai Teluk Tempurung Kecamatan Batang Kapas Kabupaten pesisir Selatan dengan Kepadatan 5,8 ind/m2.
Kepadatan populasi Turbo bruneus tertinggi ditemukan pada stasiun III yaitu 2,6 ind/m2. Tingginya kepadatan pada stasiun III kerena lokasi ini memiliki substrat karang yang ditumbuhi lamun dimana substrat ini mendukung untuk kehidupan keong turbo.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Soekendarsi (2004) bahwa substrat keong turbo adalah daerah pecahan batu karang, dataran karang mati yang ditumbuhi oleh beberapa jenis tumbuhan laut.
Tingginya kepadatan pada stasiun III disebabkan karena kondisi lingkungan yang lebih baik dan mendukung untuk kehidupan keong turbo. Kondisi substrat yang masih bagus, belum terganggu sehingga dapat menyimpan ketersediaan makanan yang cukup tinggi bagi keong turbo, dengan tipe substrat karang berlamun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soekendarsi (2004)
bahwa substrat batu karang yang banyak ditumbuhi oleh tumbuhan laut yang merupakan makanan keong-keong dari famili Trochidae dan Turbinidae.
Kepadatan keong turbo terendah ditemukan pada stasiun I dengan kepadatan 0,5 ind/m2. Rendahnya kepadatan populasi pada stasiun I diduga karena lokasi stasiun I merupakan tempat wisata yang sering dikunjungi oleh masyarakat sekitar maupun luar daerah, sehingga aktivitas manusia diduga dapat menyebabkan kerusakan fisik bagi karang dan mempengaruhi struktur karang. Lokasi stasiun ini memang berada ditempat yang rawan dengan segala aktivitas masyarakat setiap harinya. Selain itu kondisi lokasi stasiun I dekat dengan pemukiman penduduk sehingga masyarakat setempat dan nelayan banyak melakukan pengambilan keong turbo secara terus menerus. Sama halnya dengan penelitian Kudsiah (2013) tentang keong lola (Trochus nilotichus) bahwa rendahya kepadatan lola disebabkan oleh pengambilan lola yang dilakukan secara terus menerus oleh masyarakat dan nelayan tanpa disertai dengan upaya pengelolaan.
Kepadatan populasi pada stasiun II juga lebih tinggi dibanding stasiun I (1,4 ind/m2) diduga karena kondisi substat yang belum terganggu dan masih alami sama halnya dengan stasiun III. Pada stasiun II dengan substrat pasir, karang dan lamun merupakan tempat yang mendukung untuk kehidupan keong turbo. Sesuai dengan pernyataan Soekendarsi (2004) bahwa substrat keong turbo adalah pecahan batu karang , dataran karang mati yang ditumbuhi oleh beberapa jenis tumbuhan laut, dan pasir pada daerah dataran terumbu karang yang terbawa oleh hempasan gelombang air laut.
Selain itu tingginya kepadatan pada stasiun II juga disebabkan karena penangkapan yang dilakukan nelayan dan masyarakat setempat pada stasiun II lebih rendah dari stasiun I.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Putri (2015) bahwa kepadatan populasi akan lebih tinggi apabila didukung dengan penangkapan yang lebih rendah.
Dari berbagai faktor yang mempengaruhi kepadatan keong turbo, keadaan yang dapat menurunkan kepadatan populasi keong turbo pada stasiun I adalah tingginya aktifitas penangkapan yang dilakukan masyarakat sekitar. Meskipun
substrat pada stasiun I mendukung untuk kehidupan keong turbo.
Parameter lingkungan perairan sangat menentukan untuk perkembangan, pertumbuhan dan keberadaan keong serta memperlihatkan kondisi baik dan buruknya suatu perairan. Kondisi Parameter Fisika Kimia perairan Pantai Batu Kalang Kecamatan Koto XI Tarusan dapat dilihat pada pengukuran kondisi parameter yang diukur, adapun parameter Fisika Kimia yang diukur adalah suhu, pH, Salinitas dan DO (Oksigen Terlarut). Hasil pengukuran fisika- kimia dari ketiga stasiun didapatkan suhu berkisar 30-32oC. Kisaran nilai suhu ini masih tergolong baik bagi kehidupan moluska, akan tetapi jika lebih dari 40oC dapat menyebabkan kematian pada semua jenis biota air (Satria, 2014).
Nilai pH merupakan faktor penting untuk menentukan aktifitas kehidupan organisme pada suatu perairan, pengukuran pH pada ketiga stasiun berkisar antara 6,5- 7,2. pH Pantai Batu Kalang masih mendukung untuk kehidupan keong turbo.
Hal ini sesuai pernyataan Satria (2014) bahwa gastropoda umumnya memerlukan pH antara 6,5-8,5 untuk kelansungan hidup dan reproduksi.
Selain itu kepadatan keong turbo juga dipengaruhi oleh keadaan salinitas.
Pengukuran salinitas pada ketiga stasiun berkisar 27,00-37,85 o/oo. Nilai tersebut masih tergolong layak untuk kehidupan biota gastropoda. Hutabarat (1985) dalam Ayunda (2011) menyatakan biota gastropoda laut dapat hidup dengan baik pada salinitas 25-40
o/oo.
Oksigen merupakan faktor yang paling penting bagi organisme air. Biota air membutuhkan oksigen guna pembakaran bahan bakarnya (makanan) untuk menghasilkan aktivitas, seperti aktivitas berenang, pertumbuhan, reproduksi dan sebaliknya (Nybakken, 1988). Hasil pengukuran DO ketiga stasiun berkisar 4,0- 4,8 mg/L. Hasil pengukuran DO ini terbilang baik untuk gastropoda. Hal ini sesuai yang dinyatakan Kordi (2011) bahwa pertumbuhan biota laut terjadi pada lingkungan perairan dengan kandungan oksigen terlarut air minimal 4 mg/L.
Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa faktor fisika kimia di Pantai batu Kalang Kecamatan Koto XI Tarusan
Kabupaten Pesisir Selatan masih dalam kisaran normal dan mendukung untuk kehidupan Turbo bruneus.
DAFTAR PUSTAKA
Ayunda, Ranti. 2011. Struktur Komunitas Gastropoda Pada Ekosistem Mangrove Di Gugus Pulau Pari Kepulauan Seribu. Skripsi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Depok Universitas Indonesia.
Dibyowati, L. 2009. Keanekaragaman Moluska (Bivalvia dan Gastropoda) Disepanjang Pantai Cerita, Pandeglang Banten. Fak.
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurnal IPB. Bogor, Indonesia.
Gautama, M, R. 2000. Indonesia The Chalenges of World Bank Involvement in Forest. Evaluation Country Case Study Series. The World Bank. Washington, D.C Kudsiah, Hadiratul. 2013. Kepadatan Kerang
Lola (Trochus nilotichus) di Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Pangkep Sulawesi Selatan.
Jurnal Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UNHAS Makassar.
Heniza, V. 2010. Kepadatan Populasi Keong Turban (Marmarostama jobiensis) Di Zona Intertidal Pantai Teluk Tempurung Kecamatan Batang Kapas Kabupaten Pesisir Selatan.
Skripsi STKIP PGRI Sumatera Barat. Padang.
Muhaimin, H. 2013. Distribusi Makrozoobentos Pada Sedimen Bar (Pasir Penghalang) Di Intertidal Pantai Desa Mappakalompo
Kabupaten Takalar. Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin.
Nurdin, J. 2009. Ekologi Populasi Dan Siklus Reproduksi Kerang Kopah Gafrarium timidum Roding, 1798 (Bivalvia: Veneridae) Di Perairan Pantai Teluk Kabung, Padang Sumatera Barat. Disertasi. Program Pasca Sarjana, Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Depok.
Nybakken. J. W. 1988. Biologi Laut, Suatu Pendekatan Ekologi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Putri, D. P. Kepadatan Populasi Kerang Bakau (Polymesoda bengalensis) di Muaro Pasia Kapa Padang Tae Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan.Skripsi STKIP PGRI Sumatera Barat. Padang.
Satria, Muda. 2014. Keanekaragaman Dan Distribusi Gastropoda Di Perairan Desa Berakit Kabupaten Bintan.
Jurnal Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, FIKP UMRAH.
Soekendarsi, Eddy. (2004). Kualitas Perairan Habitat Keong Mata Lembu Turbo argyrostoma Linnaeus, 1758. Jurnal Jurusan Biologi , FMIPA Universitas Hasanuddin Makasar.
Yulinda, Fredinan. (2013). Zonasi dan Kepadatan Komunitas Intertidal Di Daerah Pasang Surut, Pesisir Batuhijau Sumbawa. Jurnal Oseanologi dan Dapertemen Ilmu dan Kelautan