UPAYA PEMBINAAN MUALLAF MELALUI PENDEKATAN PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN DI DUSUN PAL 5 PARAMASAN
BAWAH
Zahra Nazwa Sarahah Husin1, Aulia Marhamah2, Khairunisa3, Elmaliyana4, Heldawati5, Muhammad Sabaruddin6, Muhammad Idi Ikbal7
1,2,3,4,5,6,7 Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin
Abstrack:
Guiding converts to Islam is an important aspect of social integration and religious understanding for those who have just converted to Islam. In Pal 5 Lower Paramasan Hamlet, converts often face confusion in carrying out their worship and understanding Islamic teachings in depth. This research aims to examine efforts to develop Muslim converts through intensive training and mentoring approaches carried out in the area. The method used in this research is qualitative with a case study approach, which involves observation and documentation analysis. The research results show that systematic religious training and personal mentoring have a positive impact on increasing religious understanding, worship practices, and the self-confidence of converts. In addition, this program also plays an important role in facilitating the social integration of converts into local Muslim communities. This research aims to provide assistance in developing converts to Islam in Dusun Pal 5 Paramasan Bawah, as well as its impact on religious understanding, worship practices and social integration.
Kata Kunci: Development of Converts, Intensive Mentoring, Religious Training Abstrak:
Pembinaan mualaf merupakan salah satu aspek penting dalam integrasi sosial dan pemahaman agama bagi mereka yang baru memeluk Islam. Di Dusun Pal 5 Paramasan Bawah, mualaf sering menghadapi kebingungan dalam menjalankan ibadah dan memahami ajaran Islam secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji upaya pembinaan mualaf melalui pendekatan pelatihan dan pendampingan intensif yang dilakukan di daerah tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang melibatkan wawancara, observasi, dan analisis dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan keagamaan yang sistematis dan pendampingan pribadi memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman agama, praktik ibadah, serta rasa percaya diri mualaf. Selain itu, program ini juga berperan penting dalam memfasilitasi integrasi sosial mualaf dalam komunitas Muslim setempat.
Penelitian ini bertujuan untuk pendampingan dalam pembinaan mualaf di Dusun Pal 5 Paramasan Bawah, serta dampaknya terhadap pemahaman agama, praktik ibadah, dan integrasi sosial.
Kata Kunci: Pembinaan Muallaf, Pendampingan Intensif, Pelatihan Keagamaan
PENDAHULUAN
Dalam pengartian menurut Tim Penyusun Departemen Pendidikan Nasional, upaya adalah untuk menyelesaikan suatu tugas, menyelesaikan suatu persoalan, mencari jalan keluar, dan sebagainya. Oleh karena itu, upaya diartikan sebagai upaya yang disengaja yang dilakukan dengan tujuan menyelesaikan permasalahan saat ini dan mencapai hasil yang diinginkan (Maghfiroh, 2016). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa usaha adalah suatu fungsi yang perlu dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu.
Pembinaan merupakan suatu usaha manusia yang dapat dilakukan sendiri maupun berkelompok dengan tujuan untuk mempelajari dan menanamkan prinsip-prinsip Islam agar dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan harapan mendapat keridhaan Allah SWT. Oleh karena itu, pembinaan melibatkan lebih dari sekedar menyebarkan keyakinan Islam; hal ini juga mencakup pembinaan tauhid, penegakan keadilan, dan terciptanya umat Islam yang mengikuti seluruh petunjuk Allah SWT dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang-Nya. Pendidikan Agama Islam meliputi pembinaan dan pendampingan mualaf karena menanamkan cita-cita ajaran Islam dalam kehidupan mualaf dan umat Islam sejak awal (Bustomi, 2022).
Pembinaan bagi para mualaf dimaksudkan agar mereka menjadi teguh pada keyakinannya dan mampu memenuhi tuntutan jasmani dan rohani selama beribadah. Mualaf yang telah mengambil keputusan untuk masuk Islam seringkali memiliki semangat dan motivasi yang tinggi untuk belajar, terutama dalam hal tata cara ibadah. Mereka dapat memperolehnya melalui pengajaran khusus bagi mualaf yang dilakukan di masjid atau tempat ibadah lain yang mendukung program bimbingan atau konseling bagi mualaf (Hidayati, 2014). Namun, waktu dan lokasi yang dapat diakses oleh mualaf sering kali dibatasi dalam hal ini. Oleh karena itu, memerlukan mekanisme pendampingan agar para mualaf ini dapat mengaksesnya dengan lebih mudah.1
1https://repository.uinsuska.ac.id/78049/1/GABUNGAN%20SKRIPSI%20KECUALI%20BAB
%20V.pdf
Sebagaimana menurut Sayyid Sabiq, mualaf adalah golongan yang diusahakan untuk merangkul dan menarik serta mengukuhkan hati mereka dalam ke-Islaman yang disebabkan karena belum mantapnya keimanan mereka, atau untuk menolak bencana yang mungkin mereka lakukan terhadap kaum muslimin dan mengambil keuntungan yang mungkin dimanfaatkan untuk kepentingan mereka.2
Dalam pembinaan, karena mualaf yang bermukim rata-rata berusia dewasa mereka mengalami kesulitan dalam menghafal bacaan sholat dan melafalkan huruf al- qur’an terutama bagi yang sebelumnya memeluk agama non-islam atau kaharingan . Hal ini menjadi permasalahan yang harus bantu diselesaikan oleh pembimbing dengan melakukan bimbingan menggunakan metode yang tepat untuk memberikan kemudahan dalam memahami agama serta memberikan motivasi dalam beribadah. Jadi proses pembinaan mualaf merupakan salah satu aspek penting dalam pengembangan komunitas Islam, terutama di daerah-daerah yang memiliki populasi mualaf yang signifikan. Mualaf, atau orang yang baru saja memeluk agama Islam, sering kali menghadapi tantangan dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam.
Oleh karena itu, upaya pembinaan melalui pendekatan pelatihan dan pendampingan menjadi sangat krusial. Di Dusun Pal 5 Paramasan Bawah, terdapat kebutuhan mendesak untuk memberikan dukungan kepada para mualaf agar mereka dapat beradaptasi dan memahami ajaran agama yang baru mereka anut. Dalam konteks ini, pendekatan pelatihan dan pendampingan diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran Islam serta membantu mualaf dalam mengatasi berbagai permasalahan yang mungkin timbul setelah mereka memeluk agama Islam. Metode ini tidak hanya fokus pada aspek keagamaan, tetapi juga mencakup pembinaan sosial dan psikologis, sehingga mualaf merasa diterima dan didukung oleh komunitas sekitarnya.
METODE
2 Sayyid Sabiq. Terjemahan Fiqih Sunah. Jilid 3 (Bandung: Al-Ma’arif, 1994) h. 113.
HASIL
PEMBAHASAN KESIMPULAN