• Tidak ada hasil yang ditemukan

artikel kesehatan senam nifas01

N/A
N/A
nurhayati nong

Academic year: 2024

Membagikan "artikel kesehatan senam nifas01"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

FORMULASI SEDIAAN GEL MENGANDUNG LENDIR BEKICOT (Achatina fulica)

Purnamasari, Camelia Dwi Putri Masrijal, Oky Hermansyah

Program Studi D3 Farmasi, Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Bengkulu, Jalan WR. Supratman, Kandang Limun, Kota Bengkulu 38371

E-mail: [email protected]

Abstrak

Gel adalah sediaan semi padat yang terdiri dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar terpenetrasi oleh suatu cairan. Lendir bekicot (Achatina fulica) memiliki kandungan glikokonjugat kompleks yang terdiri dari glikosaminoglikon dan proteoglikon. Lendir bekicot memiliki khasiat seperti perekat dan pelembab alami, serta mengandung berbagai bahan kimia bioaktif . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah lendir bekicot dapat diformulasikan menjadi sediaan gel dan untuk mengetahui formula terbaik sediaan gel mengandung lendir bekicot. Sediaan gel tersebut dibuat menjadi 3 formula, yaitu Formula I (10%), Formula II (15%), Formula III (20%). Evaluasi yang dilakukan adalah uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat, dan uji viskositas. Berdasarkan hasil evaluasi ketiga formula menunjukkan warna bening hingga bening kekuningan, berbentuk semi padat aroma khas lendir bekicot dan ketiga formula menunjukkan hasil yang homogen. Uji pH ketiga formula 4,83-6,29, uji daya sebar F1 5,7- 6,4 cm, F2 5,4-6,3 cm, F3 5-6 cm.

Uji daya lekat F3 lebih besar dari F1,F2. Uji viskositas 3445,53-3818,32 cPs. Dari penelitian yang telah dilakukan maka disimpulkan bahwa lendir bekicot dapat diformulasikan menjadi sediaan gel. Formula terbaik dari sediaan gel lendir bekicot adalah F3 dengan konsentrasi lendir bekicot 20% yang memiliki sifat fisik sesuai dengan SNI 16-4399-1996.

Kata Kunci: Gel, Lendir bekicot, Uji sifat fisik

Abstract

Gels are semi-solid preparations consisting of small inorganic particles or large organic molecules penetrated by a liquid. Snail slime (Achatina fulica) contains complex glycoconjugates consisting of glycosaminoglycones and proteoglycones. Snail slime has properties such as natural adhesives and moisturizers, and contains various bioactive chemicals. This study aims to determine whether snail slime can be formulated into a gel preparation and to determine the best gel preparation formula containing snail slime. The gel preparation was made into 3 formulas, namely Formula I (10%), Formula II (15%), Formula III (20%). The evaluations carried out were organoleptic test, homogeneity test, pH test, spreadability test, adhesion test, and viscosity test. Based on the evaluation results, the three formulas showed a clear to yellowish translucent color, semi-solid shape, a distinctive aroma of snail slime and the three formulas showed homogeneous results. The pH test of the three formulas was 4.83-6.29, the spreadability test of F1 5.7-6.4 cm, F2 5.4-6.3 cm, F3 5-6 cm. F3 adhesion test was greater than F1, F2. Viscosity test 3445.53-3818.32 cPs. From the research that has been done, it is concluded that snail slime can be formulated into a gel preparation. The best formula of snail slime gel preparation is F3 with 20% concentration of snail slime which has physical properties in accordance with SNI 16-4399-1996.

KataKunci: Gel, Snail slime, Physical properties test.

1

(2)

Kulit merupakan organ terbesar yang menutupi seluruh bagian tubuh dan menutupi daging serta organ dalam. Fungsi kulit adalah untuk melindungi tubuh dari berbagai gangguan dan rangsangan dari luar.

Sebagai pelindung, kulit seringkali rusak akibat bahaya dari luar, salah satunya adalah luka bakar (Prasongko et al., 2020)

Lendir bekicot (Achatina fulica) memiliki kandungan glikokonjugat kompleks yang terdiri dari glikosaminoglikon dan proteoglikon. Lendir bekicot memiliki khasiat seperti perekat dan pelembab alami, serta mengandung berbagai bahan kimia bioaktif. Oleh karena itu, telah dikembangkan untuk aplikasi farmasi dan kosmetik. Lendir bekicot memiliki sifat pelembab, fungsi anti-inflamasi dan analgesik dan digunakan untuk mengobati luka (Raharjo et al., 2024)

Gel merupakan sistem semi padat terdiri dari suspense yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar dan terpenetrasi oleh cairan. Sediaan dalam bentuk gel mempunyai kelebihan yaitu dapat bertahan dalam waktu yang lama, memiliki penampilan yang baik dan mampu memberikan kecepatan tinggi dalam melepaskan obat dan absorbsi pada pengobatan kulit sehingga gel cocok untuk pengobatan luka bakar (Rahayu, 2021).

Gel merupakan salah satu sediaan obat yang banyak digunakan oleh masyarakat. Gel memiliki beberapa keuntungan dibanding sediaan topikal lain yaitu kemampuan penyebarannya baik pada kulit, tidak menghambat fungsi fisiologis kulit karena tidak melapisi permukaan kulit secara kedap dan tidak menyumbat pori-pori kulit, memberi sensasi dingin, mudah dicuci dengan air, memungkinkan pemakaian pada bagian tubuh yang berambut serta pelepasan

Carbopol merupakan basis gel yang kuat dan aman digunakan secara topikal karena tidak menimbulkan hipersensitivitas pada manusia serta melekat dengan baik penggunaan carbopol sebagai bahan pengental atau gelling agent memiliki stabilitas yang tinggi, tahan terhadap mikroba serta sudah digunakan secara luas di dunia farmasetika maupun kosmetik. Efisiensi carbopol sangat baik, sehingga dengan kadar rendah dapat memberikan respon viskositas yang signifikan . Oleh karna itu peneliti tertarik untuk memformulasikan sediaan gel dari lendir bekicot dengan memanfaatkan carbopol sebagai gelling agent (Iskandar et al., 2021).

Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul

“formulasi sediaan gel mengandung lendir bekicot (Achatina fulica).

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen laboratorium yaitu formulasi sediaan gel mengalndung lendir bekicot (Achatina fulica).

Alat dan Bahan

ALlalt yalng digunalkaln dallalm penelitialn ini aldallalh calwaln petri, sudip, stopwaltch, viscometer Brookfield (Ndj 8S), mortir daln stalmper, alnalk timbalngaln, neralcal alnallitik (chq), bealker glalss, kalcal alrloji, cover glalss, halndscoon, penggalris, calwaln pempek, spaltel, gelals ukur (phyrex), kertals perkalmen, bunsen, korek alpi, sendok talnduk, object glalss, pH meter (salsumal), jals lalb, serbet

Balhaln yalng digunalkaln yalitu Lendir Bekicot (ALchaltinal fulical) yang diperoleh dari kecalmaltaln galding cempalkal kotal bengkulu, calrbopol, gliserin, TEAL, propil palralben, l metil palralben, daln alqualdest.

1

(3)

2

Rancangan Formula

Tabel 1. Formula Acuan Pembuatan Gel lendir Bekicot (Achatina fulica)

Pembuatan Gel

Malsing-malsing balhaln ditimbalng. Calrbopol 940 ditalburkaln kedallalm mortir yalng telalh berisi alir palnals, didialmkaln hinggal mengembalng selalmal 15 menit dallalm rualngaln gelalp terhindalr dalri calhalyal, kemudialn alduk dengaln cepalt. Talmbalhkaln calmpuraln gliserin dengaln propil palralben, tambahkan setengalh calmpural alqualdest dengaln methyl palralben daln lendir bekicot kemudialn digerus ald homogen. Kemudialn ditalmbalhkaln setengalh alqualdest salmbil dialduk ald homogen. Kemudialn ditalmbalhkaln TEAL daln digerus salmpali terbentuk sedialaln gel (Faljriyalh, 2020).

Hasil Penelitian dan Pembahasan Uji Organoleptis

Talbel 2 Halsil Uji Orgalnoleptis Sedialaln Gel Mengalndung Lendir Bekicot Form

ulal Orgalnolep

tis Minggu ke-

1 2 3 4

F1 Walrnal Bentuk Balu

B SM KLB

B SM KLB

B SM KLB

B SM KLB F2 Walrnal

Bentuk Balu

BK SM KLB

BK SM KLB

BK SM KLB

BK SM KLB F3 Walrnal

Bentuk Balu

BK SM KLB

BK SM KLB

BK SM KLB

BK SM KLB Keterangan :

B : Bening

BK : Bening Kekuningan SM : Semi Paldalt

KLB : Khals Lendir Bekicot

Uji Homogenitas

Talbel 3 Hasil Uji homogenitals Sedialaln Gel Mengalndung Lendir Bekicot

Formula Minggu Ke-

1 2 3 4

F0 H H H H

H H H H

H H H H

F1 H H H H

H H H H

H H H H

F2 H H H H

H H H H

H H H H

F3 H H H H

H H H H

H H H H

Bahan Konsentrasi (%) Fungsi

F1 F2 F3

Lendir Bekicot 10 15 20 Zalt ALktif

Calrbopol 940 1,5 1,5 1,5 gelling algent

gliserin 20 20 20 humektaln

Propil Palralben 0,02 0,02 0,02 pengalwet

Metil Palralben 0,18 0,18 0,18 pengalwet

TEAL 0,5 0,5 0,5 allkallizing algent

ALqualdest ALd 100 ALd 100 ALd 100 Pelalrut

(4)

Uji pH

Talbel 4 Hasil Uji pH Sedialaln Gel Mengalndung Lendir Bekicot

Formula Minggu Ke-

1 2 3 4

F1 5,48 5,40 5,30 5,15

4,88 4,86 4,85 4,75

4,75 4,66 4,66 4,61

Rata-rata 5,03 4,97 4,93 4,83

SD 0,38 0,38 0,32 0,28

F2 6,53 6,23 6,20 6,19

6,15 5,85 5,82 5,80

5,77 4,38 4,38 4,06

Rata-rata 6,15 5,48 5,46 5,35

SD 0,38 0,97 0,96 1,13

F3 6,53 6,52 6,46 6,36

6,32 6,18 6,15 6,06

6,03 5,70 5,50 5,48

Rata-rata 6,29 6,13 6,03 5,96

SD 0,25 0,41 0,48 0,44

Grafik Uji pH

Minggu

1 Minggu

2 Minggu

3 Minggu 4 0

1 2 3 4 5 6 7

F1 F2 F3

Gambar 1. Grafik Uji pH

Uji Daya Sebar

Talbel 5 Hasil Uji Dalyal Sebalr Sedialaln Gel Mengalndung Lendir Bekicot

Formula Minggu Ke-

1 2 3 4

F1 5,9 6 6,3 6,4

5,7 5,8 5,9 6

5,8 6 6,3 6,4

Rata-rata 5,8 5,9 6,16 6,26

SD 0,1 0,11 0,23 0,23

F2 5,4 5,5 5,8 5,9

6 6 6,2 6,3

5,9 6 6,3 6,3

Rata-rata 5,76 5,83 6,1 6,16

SD 0,32 0,28 0,26 0,23

F3 5 5,5 5,5 5,6

5,5 5,6 5,7 5,8

5,6 5,8 5,9 6

Rata-rata 5,36 5,63 5,7 5,8

SD 0,32 0,15 0,2 0,2

Grafik Uji Daya Sebar

Minggu

1 Minggu

2 Minggu

3 Minggu 4 4.85

5.2 5.4 5.6 5.86 6.2 6.4

F1 F2 F3

Gambar 2. Grafik Uji Daya Sebar

Uji Daya Lekat

Talbel 6 Hasil Uji Dalyal Lekalt Sedialaln Gel Mengalndung Lendir Bekicot

(5)

2 Formula Minggu Ke (Detik)

1 2 3 4

F1 10,58 10,63 10,83 10,98

11,12 11,14 11,19 12,02

11,39 11,47 11,53 11,70

Rata-rata 11,03 11,08 11,18 11,56

SD 0,41 0,42 0,35 0,53

F2 11,35 11,55 12,26 12,32

11,42 11,47 11.70 11,82

11,88 12,33 12,58 12,95

Rata-rata 11,55 11,78 12,18 12,36

SD 0,28 0,47 0,44 0,56

F3 11,78 12,04 12,10 12,15

12,41 12,55 12,82 13,03

13,31 13,33 13,95 14,20

Rata-rata 12,5 12,64 12,95 13,12

SD 0,76 0,64 0,93 1.02

Grafik Uji Daya Lekat

Minggu 1 Minggu

2 Minggu 3 Minggu

4 9.5

10 10.5 11 11.5 12 12.5 13 13.5

F1 F2 F3

Gambar 3. Grafik Uji Daya Lekat

Uji Viskositas

Talbel 7 Hasil Uji Viskositals Sedialaln Gel Mengalndung Lendir Bekicot

Formula Minggu Ke-

1 2 3 4

(6)

F1 3494,48 3465,75 3455,11 3429,57 3539,18 3497,68 3470,01 3433,83 3493,42 3485,97 3477,46 3473,20 Rata-rata 3509,02 3483,13 3467,52 3445,53

SD 26,11 16,15 11,38 24,05

F2 3633,88 3608,34 3551,94 3521,09 3631,75 3625,37 3623,29 3615,92 3762,64 3739,22 3704,11 3648,78 Rata-rata 3676,09 3657,64 3626,44 3595,26

SD 74,96 71,15 76,13 66,30

F3 3780,72 3763,70 3758,38 3750,93 3789.24 3766,89 3765,83 3671,12 3885,01 3837,12 3833,92 3830,74 Rata-rata 3818,32 3789,23 3786,04 3750,93

SD 57,90 41,49 41,62 79,81

Grafik Uji Viskositas

Minggu

1 Minggu

2 Minggu

3 Minggu 4 3200

3300 3400 3500 3600 3700 3800 3900

F1 F2 F3

Gambar 4 Grafik Uji Viskositas

Pembahasan

Pada penelitian ini, peneliti membuat formulasi gel menggunkan lendir bekicot dengan konsentrasi yang berbeda sebagai F1 (Formula yang mengandung lendir bekicot 10%), F2 (Formula yang mengandung lendir bekicot 15%), F3 (Formula yang mengandung lendir bekicot 20%). Bekicot yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh di kecamatan gading cempaka kota Bengkulu.

Sebelum dilakukan pembuatan gel terlebih dahulu dilakukan verifikasi hewan di laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas bengkulu. Lendir bekicot yang didapatkan salngalt kentall, volume raltal-raltal yalng dihalsilkaln sebesalr 2 ml tialp ekor. Walrnal lendir yang

didapatkan berwarna kecoklaltaln. Setelah didapatkan lendir bekicot selanjutnya dilakukan pembuatan sediaan gel. Gel dibuat dengan 3 formula dengan konsentrasi F1 10%, F2 15%, F3 20%. Kemudian dilakukan evaluasi pada sediaan gel dari lendir bekicot meliputi, uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat, dan uji viskositas.

Pada uji yang pertama yaitu uji organoleptis dilakukan pengujian sebanyak 4 kali selama 1 bulan pada minggu ke 1,2,3, dan 4. Dari hasil pengamatan uji organoleptis pada F1 dengan konsentrasi lendir bekicot 10% menghasilkan warna sediaan bening, dengan bau khas lendir bekicot dan bentuk sediaan semi padat, F2 dengan konsentrasi lendir bekicot 15%

menghasilkan warna sediaan bening kekuningan, dengan bau khas lendir bekicot dan bentuk sediaan semi padat, F3 dengan konsentrasi lendir bekicot 20%

menghasilkan warna sediaan bening kekuningan, dengan bau khas lendir bekicot dan bentuk sediaan semi padat. Semakin besar konsentrasi lendir bekicot maka sediaan yang dihasilkan akan semakin pekat dan gelap. Berdasarkan 4 minggu penyimpanan, hasil yang diperoleh tidak mengalami perubahan warna, bau bentuk sediaan tiap minggunya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa sediaan gel stabil selama 4 minggu penyimpanan.

Pengujian selanjutnya yaitu uji homogenitas pada sediaan gel. Hasil dari pengujian homogenitas selama 4 minggu didapatkan gel memenuhi syarat homogenitas dengan pengujian menggunakan object glass, hal ini ditandai karenal tidak adanya butiran kasar pada object glass yang digunakan pada saat pengujian. Uji homogenitas pada sediaan gel bertujuan bahan aktif yang terkandung dalam sediaan dapat terdistribusi merata dan tidalk mengiritasi kulit pada saat digunakan. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan (Turap et al., 2020) Pengujian homogenitas gel memiliki susunan yang tidak homogen, hal ini dapat disebabkan karena antara ekstrak dengan basis gel tidak tercampur dengan baik. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi homogenitas sediaan gel yaitu pengadukan. Pada penelitian ini menggunakan dua teknik pengadukan yaitu pengadukan manual dan pengadukan dengan stirrer (Hadning, 2017).

(7)

2 Pengujian selanjutnya yaitu uji pH Menurut SNI

16-4399-1996 rentalng pH stalndalr sebalgali pelembalb kulit aldallalh 4,5-8,0 daln kisalraln pH fisiologis kulit yalitu 4,5-7,5. Data hasil uji pH yang didapatkan adalah rata-rata F1 sebesar 4,94, F2 sebesar 5,61, dan F3 sebesar 6,10, adanya variasi nilai pH pada setiap formula, namun masing-masing hasil tetap memenuhi persyaratan SNI. Pada penelitian ( Setiani et al, 2023)

“Formulasi Gel Ekstrak Buah Tomat (Solanum lycopersicum L.) dengan Variasi Konsentrasi HPMC serta Uji Fisiknya” mendapatkan hasil pH yang meningkat dipengaruhi oleh interaksi antara peningkatan konsentrasi HPMC sehingga menyebabkan meningkatnya nilai pH. Sediaan topikal sedemikian mungkin harus memiliki pH yang sama dengan kulit agar bisa berdifusi kedalam kulit. Jika pH sediaan terlalu basa, maka dapat mengakibatkan kulit kering sedangkan jika pH terlalu asam, maka dapat memicu terjadinya iritasi kulit (Thomas et al., 2023).

Setelah dilakukan uji pH kemudian dilakukan uji daya sebar pada gel lendir bekicot dengan beban 100 gram, selama 4 minggu mengalami kenaikan daya sebar yang dipengaruhi oleh konsentrasi lendir bekicot. Menurut SNI 16-4399-1996 rentalng daya sebar sediaan gel yaitu 5-7 cm. Hasil pengujian uji daya sebar yang didapatkan adalah rata-rata F1 sebesar 6,03, F2 sebesar 5,96, F3 sebesar 5,62. Hasil tersebut memenuhi persyaratan daya sebar yang baik pada sediaan gel memiliki rentang 5-7 cm. Pada penelitian (Ainaro et al,2015) “Formulasi Sediaan Masker Gel Peel-Off Mengandung Lendir Bekicot (Achatina Fulica Bowdich) sebagai Pelembab Kulit”

uji daya sebar basis menunjukkan penurunan nilai daya sebar dari formula 1 sampai formula 4. Hal ini disebabkan karena peningkatan konsentrasi PVA dan natrium alginat pada masing-masing basis yang menyebabkan viskositas bisa menigkat. Lama penyimpanan akan mempengaruhi daya sebar gel, semakin lama penyimpanan maka daya sebar semakin kecil dikarnakan kandungan air dalam sediaan gel menguap sehinga sediaan menjadi semakin kental (Iskandar et al., 2021).

Selanjutnya dilakukan uji dalyal lekalt paldal sediaan gel menunjukaln balhwal paldal F1, F2 daln F3

memenuhi syalralt uji dalyal lekalt lebih dalri sepuluh detik. Hasil pengujian daya lekat yang didapatkan adalah rata-rata F1 sebesar 11,21, F2 sebesar 11,96, F3 sebesar 12,80. Pada penelitian (Iskandar et al,2021) “Formulasi dan evaluasi gel Lidah buaya (Aloe vera Linn) sebagai pelembab kulit dengan penggunaan carbopol sebagai gelling agent” Hasil pengujian daya lekat mengalami sedikit peningkatan dibandingkan hasil pengujian pada minggu 1 hal ini dikarenakan gel lendir lidah buaya setelah disimpan selama 8 minggu kosintensinya menjadi lebih kental sehingga daya lekat gel yang didapatkan semakin lama. Daya sebar memiliki korelasi dengan daya lekat, apabila daya sebarnya semakin kecil maka daya lekatnya akan semakin lama. Uji dalyal lekalt ini menunjukaln kemalmpualn sedialaln dallalm melekalt paldal tempalt alplikalsinyal. Daya lekat suatu sediaan berbanding lurus dengan viskositas. Semakin tinggi viskositasnya maka daya lekatnya juga akan semakin tinggi (Harnis, 2023).

Selanjutnya dilakukan uji viskositas sediaan gel lendir bekicot Pada F1, F2 daln F3 memenuhi standar viskositas sediaan gel yaitu rentang 2000-4000 cps (SNI 16-4399-1996). Hasil pengujian viskositas yang didapatkan adalah rata-rata F1 sebesar 3476,3, F2 sebesar 3638,85, F3 sebesar 3786,13. Pada penelitian (Beno et al,2022) “Formulasi Dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Gel Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona Muricata L.) Menggunakan Variasi Konsentrasi HPMC” nilai rata-rata viskositas F1 hampir mendekati rentang yang ditentukan. Viskositas sediaan gel dipengaruhi oleh faktor seperti pencampuran atau pengadukan ketika proses pembuatan sediaan gel, pemilihan basis dan humektan, serta ukuran partikel. Terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi HPMC maka viskositasnya semakin meningkat. Peningkatan konsentrasi HPMC bisa meningkatkan jumlah serat polimer sehingga semakin banyak juga cairan yang tertahan dan terikat oleh gelling agent. Hal ini mengakibatkan viskositas sediaan gel menjadi meningkat. Viskositas suatu sediaan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor pada saat pecampuran atau pembuatan sediaan,

(8)

pemilihan bahan yang digunakan, serta ukuran partikel selain itu viskositas sediaan gel juga dapat dipengaruhi oleh suhu cara penyimpanan dan tempat penyimpanan (Rinaldi et al., 2021).

DAFTAR PUSTAKA

Affandy, F., Wirasisya, D. G., & Hanifa, N. I. (2021).

Skrining Fitokimia Pada Tanaman Penyembuh Luka Di Lombok Timur. Sasambo Journal Of Pharmacy. Mataram: Universitas Mataram, 2(1), 1.

Harnis, Z. E. (2023). Formulasi Sediaan Gel Ekstrak Iskandar, B., Dian, Z. P., Renovita, F., & Leny, L.

(2021). Formulasi Dan Evaluasi Gel Lidah Buaya (Aloe Vera Linn) Sebagai Pelembab Kulit Dengan Penggunaan Carbopol Sebagai Gelling Agent. Health Sciences And Pharmacy Journal.

Riau: Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau 5(1), 1–8.

Prasongko, E. T., Lailiyah, M., & Muzayyidin, W.

(2020). Formulasi Dan Uji Efektivitas Gel Ekstrak Daun Kedondong (Spondias Dulcis F.) Terhadap Luka Bakar Pada Tikus Wastar (Rattus Novergicus). Jurnal Wiyata S1 Farmasi.

Kediri: Institut Ilmu Kesehatan Bhakti, 27–36.

Raharjo, F. P., Nova, G., Putri, L., & Rokhim, D. A.

(2024). Jurnal Β Eta Kimia Potensi Body Scrub

Berbahan Dasar Bekicot Dan Teh Sebagai Perawatan Kulit Berkelanjutan. Malang:

Universitas Negeri Malang 4, 95–101.

Rahayu, M. (2021). Formulasi Gel Dengan Bahan Dasar Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum Basilium L.) Untuk Penyembuhan Luka Bakar.

Skripsi. Lampung: Uin Raden Intan Lampung.

1.

Rinaldi, Fauziah, & Zakaria, N. (2021). Formulasi Sediaan Gel Ekstrak Etanol Serai Wangi (Cymbopogon Nardus L.) Randle) Dengan Basis Hpmc. Jifs: Jurnal Ilmiah Farmasi Simplisia.

Aceh: Akademi Analis Farmasi dan Makanan Banda Aceh 1(1), 33–42.

Thomas, N. A., Tungadi, R., Hiola, F., & S. Latif, M.

(2023). Pengaruh Konsentrasi Carbopol 940 Sebagai Gelling Agent Terhadap Stabilitas Fisik Sediaan Gel Lidah Buaya (Aloe Vera).

Indonesian Journal Of Pharmaceutical Education. Gorontalo: Universitas Negeri Gorontalo 3(2), 316–324.

Turap, T., (2020). Uji Karakteristik Sediaan Gel Ekstrak Etanol Daun Pandan (Pandanus Amaryllifolius Roxb.) Dengan Basis Hydroxy Propyl Methyl Cellulose (Hpmc). Yogyakarta:

Akademi Farmasi Indonesia 1(2), 1–17.

(9)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengujian mutu fisik sediaan gel ekstrak umbi singkong secara organoleptis yang bertujuan untuk melihat warna, bau dan bentuk sediaan terhadap masing – masing

Uji mutu fisik sediaan meliputi pengamatan organoleptis yang bertujuan mengetahui warna, bentuk dan bau dari sediaan compact powder eyeshadow yang telah

Mutu fisik sediaan krim didapatkan hasil organoleptis krim putih setengah padat dengan bau khas bawang tunggal, merupakan krim tipe M/A yang homogen dengan

Sediaan yang telah dimasukan ke dalam botol dievaluasi organoleptis Sediaan yang telah dimasukan ke dalam botol dievaluasi organoleptis dengan memperhatikan bentuk, warna, bau,

2 Sediaan masker gel peel-off yang mengandung lendir bekicot 3% dan 6% masing-masing memiliki karakteristik fisik meliputi hasil organoleptis dengan konsistensi yang cukup kental,

Hasil Evaluasi gel nanopartikel ekstrak temulawak Formula Viskositas pH Daya Sebar Organoleptik F1 25098 5,61 6,3 Warna Kuning keemas an, Bau Khas, Bentuk Semisolid F2 25673

Hasil Uji Organoleptis Sampel Bentuk Sediaan Warna Bau Rasa A Kapsul Coklat Bau jamu Pahit B Kapsul Coklat kekuningan Bau jamu Pahit C Kapsul Coklat kekuningan Bau jamu Tawar D

Berdasarkan hasil evaluasi pengujian organoleptik setelah disimpan selama 28 hari pada suhu kamar 25°C sediaan F1, F2, dan F3 tidak mengalami perubahan baik warna, bau dan konsistensi,