PANCASILA SEBAGAI PIJAKAN DI BERSOSIAL MEDIA
Disusun oleh :
Dwi Panji Laksono 051345893
PROGRAM D3 STUDI PERPAJAKAN
FAKULTAS HUKUM, ILMU SOSIAL, DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS TERBUKA 2023
Pendahuluan
Penggunaan media telah berkembang sangat pesat seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi, dimana kita dihadapkan pada banyak pilihan untuk dapat mengirimkan/mengakses informasi melalui media konvensional seperti media cetak, media elektronik dan media sosial. Media sosial adalah platform online yang memfasilitasi kreativitas, berbagi dan pertukaran informasi, ide dan konten melalui komunitas dan jaringan virtual. Tujuan utama jejaring sosial adalah memungkinkan pengguna terhubung satu sama lain, berinteraksi, dan berbagi berbagai jenis konten, seperti teks, gambar, video, dan audio.
Platform ini memungkinkan individu, kelompok, atau organisasi membentuk komunitas berdasarkan minat, aktivitas, atau hubungan pribadi. Beberapa contoh jejaring sosial antara lain Facebook, Twitter, Instagram, LinkedIn, YouTube, Snapchat, TikTok dan masih banyak lagi. Pengguna media sosial dapat melakukan aktivitas seperti mengirim pesan, mengunggah foto atau video, menulis status atau tweet, memposting komentar, dan berpartisipasi dalam berbagai diskusi online. Media sosial mempunyai pengaruh besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk komunikasi, bisnis, politik, hiburan, dan budaya. Namun, seperti alat komunikasi lainnya, penggunaan media sosial dapat menimbulkan masalah, termasuk masalah privasi, keamanan, dan kesehatan mental.
Meskipun media sosial menyediakan platform untuk terhubung dengan orang lain, berbagi informasi, dan berpartisipasi dalam komunitas online, ada sejumlah masalah yang terkait dengan penggunaannya. Beberapa masalah umum terkait dengan media sosial meliputi privasi dan keamanan, seperti risiko pencurian identitas ataupun pelanggaran privasi, penyalahgunaan data pribadi oleh pihak ketiga, dan peretasan akun. Masalah - masalah lain yang berkaitan dengan media sosial adalah terjadinya cyber bullying dan pelecehan, ketergantungan dan gangguan mental, penyebaran informasi palsu, kesenjangan generasi, pengaruh politik dan penggunaan propaganda, dan masih banyak lagi.
Saking luasnya jangkauan media sosial, masyarakat terkadang lupa akan etika yang baik dalam menggunakan media sosial yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Padahal, mengamalkan etika bermedia sosial berdasarkan nilai-nilai Pancasila sangat penting untuk menghindari perpecahan di Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak mudah diterapkan dalam kehidupan media sosial. Pasalnya, banyak pengguna media sosial yang menganggap media sosial hanyalah sarana mengekspresikan diri tanpa harus mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Banyak dampak negatif yang terjadi di jejaring sosial, seperti perundungan virtual, ujaran kebencian, dan lain-lain. Faktanya, dampak negatif yang dialami seseorang akibat pengobatan di media sosial tidak kalah parahnya dengan dampak yang dialami jika dialami di dunia nyata (Angeliana et al., n.d.) .
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat nilai - nilai Pancasila dalam bermedia sosia. Selain itu, penulisan penelitian ini memiliki tujuan lain untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya nilai-nilai Pancasila dalam menggunakan media sosial agar tidak ada lagi korban akibat kejahatan maya dan palsu. Serta membuat masyarakat lebih bijak dalam menggunakan jejaring sosial.
Kajian Pustaka
Pancasila adalah ideologi dasar negara Indonesia yang diakui dan diterima oleh seluruh rakyat Indonesia. Istilah “Pancasila” berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari dua kata, yaitu “panca” yang berarti tahun dan “sila” yang berarti asas atau asas. Oleh karena itu, Pancasila mempunyai lima asas atau asas yang menjadi landasan filosofis dan ideologi negara Indonesia. Pancasila sebagai platform media sosial mencerminkan upaya mengintegrasikan nilai - nilai inti Pancasila ke dalam interaksi dan konten yang terjadi di dunia maya. Sebagai ideologi negara Indonesia, Pancasila dapat memberikan landasan filosofis dan etika dalam penggunaan media sosial.
Di era globalisasi, banyak sekali budaya yang masuk ke negara kita dan kita tidak akan bisa menghindari masuknya budaya dari negara lain. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat Indonesia khususnya generasi muda dapat menyaring budaya asing dan dapat mengambil budaya yang baik dan menyaring yang buruk dan yang tidak sesuai dengan nilai dan standar pancasila. Belakangan ini ramai dibicarakan dan pertanyaan seputar visi nasional generasi muda. Harapannya, Pancasila dapat meningkatkan peran dan kontribusinya tidak hanya di masa kini namun juga di masa yang akan datang agar menjadi pemain dan kontributor pembangunan negara (Khadafi & Darmayanti, 2022) .
Masyarakat informasi diidentikan dengan jumlah media yang dikonsumsi.
Dibuktikan dengan beredarnya arus informasi yang begitu pesat di sekitar mereka. Selain itu, kini informasi tidak hanya dibuat oleh institusi media tertentu, tetapi semua kalangan masyarakat pun mempunyai kesempatan yang sama untuk memproduksi dan mempublikasikan sebuah informasi. Mengingat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terus berinovasi, sehingga memudahkan pengguna untuk melakukannya Namun keberadaan media sosial telah menimbulkan banyak pertanyaan mengenai dampak penggunaannya, lebih lagi jika dikaitkan dengan pancasila. Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang lahir pada tanggal 1 Juni 1945 dan telah menjadi pedoman hidup untuk seluruh rakyat Indonesia. Pancasila mengandung lima prinsip yang berbeda dengan nilai penting tersendiri, namun nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya mulai melemah seiring dengan berkembangnya teknologi.
Media sosial adalah sekumpulan media berbasis internet yang memungkinkan pengguna membuat, menerima, dan membagikan berbagai jenis informasi. di ruang yang tidak terbatas dalam waktu yang cepat. Media sosial adalah sarana, produk, dan komunikasi secara online yang memungkinkan orang untuk menjalin hubungan dengan orang lain yang memiliki minat atau minat khusus dalam aplikasinya. Media sosial bukan hanya media informasi; mereka juga berfungsi sebagai penyedia. Hiburan untuk bersantai, mengekspresikan berbagai budaya, bisnis, dan politik menjadi. Jadi oleh karena itu, penggunaan media sosial di era modern tidak dapat dipungkiri sudah menjadi aktivitas media sosial telah menjadi salah satu media internet yang berkembang paling cepat. Chandra (2017). Sekitar 70% pengguna internet di seluruh dunia juga aktif dalam media sosial, menjadikannya aspek penting dalam dinamika komunikasi global. Beragam jenis media sosial telah muncul, mencakup proyek kolaborasi seperti Wikipedia, blog, dan microblog seperti Twitter. Komunitas konten seperti YouTube, situs jaringan sosial seperti Facebook dan Instagram, serta platform virtual seperti Mobile Legend dan Second Life, semuanya telah mengubah cara manusia berinteraksi, berbagi informasi, dan menciptakan konten di era digital ini.
Penting untuk dicatat bahwa dominasi pengguna media sosial dipegang oleh generasi milenial, yang tumbuh seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, terutama internet (Lesmana, 2012). Perkembangan ini menciptakan paradigma baru dalam komunikasi global, di mana masyarakat lebih terhubung dan dapat berpartisipasi dalam berbagai bentuk interaksi digital. Indonesia, sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, memiliki peran sentral dalam konteks ini. Selain menjadi salah satu negara terbesar dan paling signifikan di ASEAN, kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, Indonesia juga menjadi rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia. Dengan aktif mengampanyekan pertumbuhan sektor digital di berbagai bidang kehidupan, Indonesia mencerminkan potensi besar dalam merumuskan tren dan dinamika media sosial di tingkat global. Penetrasi pengguna media sosial di Indonesia semakin tinggi seiring berjalannya waktu. Pada tahun 2021, diperkirakan ada 193,43 juta pengguna media sosial di Indonesia, dan perkiraan menunjukkan peningkatan signifikan hingga mencapai 236,97 juta pada tahun 2026 mendatang (Nurhayati-Wolff, 2021). Hal ini mencerminkan peran kritis Indonesia dalam menentukan arah dan pengaruh media sosial dalam tata kelola informasi dan interaksi sosial di masa depan.
Pembahasan
Setelah bangsa Indonesia lahir dan menjalani kehidupan bernegara, identitas nasionalnya mulai dibentuk dan diputuskan. Dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara hingga saat ini, dapat dikatakan bahwa identitas nasional Indonesia relatif berhasil dibentuk.
Dengan cara yang sama, proses pembentukan ideologi Pancasila sebagai identitas nasional juga berlangsung. Setelah berbagai upaya keras, perjuangan, dan pengorbanan, serta kegiatan saling memberi dan menerima, Pancasila akhirnya diterima sebagai dasar negara.
Perwujudan Pancasila dalam pengamalannya adalah pekerjaan rumah yang masih tersisa dan seyogianya menjadi perhatian pemimpin bangsa dan seluruh rakyat Indonesia. Dengan kata lain, Pancasila belum terwujud secara optimal dalam sikap dan tindakan seluruh rakyat Indonesia hingga saat ini. Pemerintah dengan terencana mengembangkan identitas nasional setelah kemerdekaan. Jenis identitas nasional adalah sebagai berikut:
1. Bendera negara adalah Sang Merah Putih
2. Bahasa nasional atau bahasa persatuan adalah Bahasa Indonesia 3. Lagu kebangsaan adalah Indonesia Raya
4. Lambang negara adalah Garuda Pancasila 5. Semboyan negara adalah Bhinneka Tunggal Ika 6. Dasar falsafah negara adalah Pancasila
7. Konstitusi (Hukum Dasar) Negara adalah UUD NRI 1945 8. Bentuk Negara adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia 9. Konsepsi Wawasan Nusantara
10. Kebudayaan-kebudayaan daerah diterima sebagai kebudayaan nasional.
Pada dasarnya, Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan mengatur empat identitas nasional pertama, termasuk bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan Indonesia. Undang-undang ini mengatur bagaimana bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan Indonesia dianggap sebagai identitas nasional.
1. Bendera Negara Sang Saka Merah Putih
Pasal 4 hingga 24 UU No. 24 Tahun 2009 mengatur bendera negara. Meskipun bendera merah putih pertama kali dikibarkan pada 17 Agustus 1945, ia baru diikrarkan pada Sumpah Pemuda tahun 1928. Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih adalah bendera nasional yang dikibarkan di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945 saat Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Saat ini disimpan di Monumen Nasional Jakarta.
2. Bahasa Negara Bahasa Indonesia
Undang-undang No. 24 Tahun 2009, Pasal 25 hingga 45, mengatur bahasa negara.
Bahasa Indonesia disepakati sebagai bahasa negara oleh para pendiri NKRI. Bahasa Indonesia berasal dari rumpun bahasa Melayu yang digunakan sebagai bahasa pergaulan (lingua franca), dan pada Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, dideklarasikan sebagai bahasa persatuan. Semua orang di Indonesia setuju bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan identitas nasional.
3. Lambang Negara Garuda Pancasila
Ketentuan tentang Lambang Negara diatur secara rinci dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2009, yang merinci aspek-aspek terkait dari Pasal 46 hingga Pasal 57. Sejarah resmi penggunaan Lambang Negara Garuda Pancasila dimulai pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tanggal 11 Februari 1950. Lambang ini disusun dengan cermat untuk mencerminkan makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, dasar negara Indonesia.
Burung Garuda, yang menjadi simbol utama dalam Lambang Negara, diartikulasikan sebagai satu kesatuan dengan Pancasila, menggambarkan integritas dan kebersamaan dengan dasar negara. Perisai burung Garuda memiliki bentuk bintang bersudut lima, dan di bagian tengahnya terdapat gambar garis hitam tebal yang menggambarkan khatulistiwa, mencerminkan letak geografis Indonesia di sekitar garis khatulistiwa. Lebih jauh, perisai burung Garuda ini membawa lima gambar yang mengandung simbolisme mendalam, mewakili kelima sila Pancasila:
a. Ketuhanan Yang Maha Esa
Simbol berupa cahaya matahari yang terbit di atas puncak gunung.
b. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab:
Gambar kapas yang melambangkan kemakmuran dan keadilan sosial.
c. Persatuan Indonesia:
Rantai yang melingkari padi dan kapas, menunjukkan persatuan dan kesatuan bangsa.
d. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan:
Gambar pita padi yang mengikat tali pusaka, menandakan semangat demokrasi dan musyawarah dalam kerakyatan.
e. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia:
Pohon beringin yang melambangkan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian, Lambang Negara Garuda Pancasila bukan hanya simbol visual, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam, mencerminkan semangat dan nilai-nilai yang menjadi dasar bagi bangsa Indonesia.
4. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya
Ketentuan tentang Lagu Kebangsaan Indonesia, yaitu "Indonesia Raya," diatur secara rinci dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2009, mulai dari Pasal 58 hingga Pasal 64.
Keberadaan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan pertama kali dinyanyikan pada Kongres Pemuda II, yang berlangsung pada tanggal 28 Oktober 1928. Sejak saat itu, lagu ini telah menjadi simbol kebangsaan dan identitas Indonesia.Lagu Indonesia Raya, dengan lirik yang menggugah semangat kebangsaan, mencerminkan semangat persatuan dan nasionalisme.
Undang-Undang tersebut menegaskan peran penting lagu kebangsaan ini dalam konteks kehidupan kenegaraan, yang mencakup keikutsertaannya pada setiap upacara kenegaraan dan acara resmi lainnya.
Pentingnya Indonesia Raya dalam berbagai upacara resmi tidak hanya sebagai ritual formal, tetapi juga sebagai ekspresi patriotisme dan semangat persatuan dalam masyarakat Indonesia. Lagu kebangsaan ini menjadi semacam pengingat dan penyatuan jiwa, membangkitkan kebanggaan akan sejarah dan keberagaman Indonesia.Pengaturan dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2009 menegaskan pentingnya melestarikan dan menghormati Indonesia Raya sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas nasional. Oleh karena itu, setiap warga negara Indonesia diharapkan untuk memahami, menghormati, dan menyanyikan lagu kebangsaan ini dengan penuh rasa cinta dan kebanggaan sebagai bagian dari wujud kesatuan dan kebhinekaan bangsa Indonesia.
5. Semboyan Negara Bhinneka Tunggal Ika
Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan yang dibuat oleh para pendiri negara setelah menyadari bahwa Indonesia adalah bangsa yang heterogen yang terdiri dari banyak suku bangsa, tetapi tetap berniat dan bersepakat untuk menjadi satu, yaitu Indonesia.
6. Dasar Falsafah Negara Pancasila
Pancasila asal mulanya adalah pandangan hidup bangsa Indonesia. Pancasila melalui perjalanan dan waktu yang panjang memiliki kedudukan dan fungsi sangat penting dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Pancasila berkedudukan sebagai dasar negara dan karena rumusannya berisi nilai-nilai yang dalam, sehingga juga disebut dasar falsafah negara.
Perkembangan teknologi informasi membawa sebuah perubahan dalam masyarakat. Lahirnya media sosial menjadikan pola perilaku masyarakat mengalami pergeseran baik budaya, etika dan norma yang ada. Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar dengan berbagai kultur suku, ras dan agama yang beraneka ragam memiliki banyak sekali potensi perubahan sosial.
Dari berbagai kalangan dan usia hampir semua masyarakat Indonesia memiliki dan menggunakan media sosial sebagai salah satu sarana guna memperoleh dan menyampaikan informasi ke publik. Oleh sebab itu penelitian ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut:
apa pengertian media sosial, apa dampak media sosial terhadap masyarakat di Indonesia dan apa pengaruh media sosial terhadap perubahan sosial masyarakat di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang tujuannya untuk menyajikan gambaran lengkap / eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial.
Dalam era globalisasi ini, kemajuan teknologi, khususnya internet, telah menjadi kebutuhan penting dalam kehidupan sehari-hari, memainkan peran kunci dalam berbagai aspek seperti
sosialisasi, pendidikan, bisnis, dan sebagainya. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh berbagai vendor smartphone serta tablet murah yang makin menjamur dan menjadi tren.
Hampir seluruh masyarakat di Indonesia kini memiliki smartphone, seiring dengan perkembangan internet yang semakin pesat.
Peran media sosial pun ikut berkembang pesat sejalan dengan tren ini. Media sosial menjadi platform dimana setiap individu dapat membuat halaman pribadi dan terhubung dengan orang-orang yang memiliki minat atau kegiatan serupa untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Berbeda dengan media tradisional yang menggunakan media cetak dan siaran, media sosial mengandalkan internet sebagai medianya.
Media sosial mendorong partisipasi aktif dari siapa pun yang tertarik, memberikan feedback terbuka, komentar, dan berbagi informasi dengan cepat dan tanpa batas. Proses pembuatan akun media sosial juga relatif mudah dan cepat. Kalangan remaja, sebagai salah satu pengguna utama media sosial, seringkali menggunakan platform ini untuk memposting kegiatan pribadi, berbagi curhatan, serta membagikan foto bersama teman-teman mereka.
Melalui media sosial, interaksi dan berbagi informasi menjadi lebih mudah, instan, dan luas.
Dalam bersosial media, kita dapat mengaplikasikan prinsip-prinsip Pancasila ini dengan berbagai cara:
1. Menghormati agama dan keyakinan orang lain
Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan kita untuk menghormati agama dan keyakinan orang lain. Dalam bersosial media dengan memilih untuk tidak menyebarkan berita atau isu-isu yang belum tentu benar kebenarannya, serta menghindari ujaran kebencian terhadap individu yang mungkin memiliki kekurangan, kita dapat membentuk landasan komunikasi yang lebih kuat dan menghormati dalam hubungan antarumat beragama.
Tindakan ini tidak hanya menciptakan suasana yang lebih positif di lingkungan media sosial, tetapi juga mengarah pada terjalinnya hubungan yang lebih baik dan saling pengertian diantara komunitas beragama. Dengan demikian, perilaku bertanggung jawab dan penuh rasa hormat di dunia maya dapat membantu memperkuat keberagaman dan toleransi, mendukung esensi kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat.
2. Menghargai martabat manusia
Prinsip Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengajarkan kita untuk menghargai martabat manusia. Ini berarti kita harus menjauhi pelecehan online, penghinaan, atau perilaku yang merugikan martabat seseorang. Berbicaralah secara sopan dan beradab, bahkan jika Anda tidak setuju dengan pendapat seseorang. Penerapan sila kedua, "kemanusiaan yang adil dan beradab," dalam kehidupan bersosial media menuntut sikap saling menghormati dan menghargai hak serta pendapat orang lain. Hal ini mencakup tanggung jawab untuk tidak menyebarkan berita hoaks yang dapat merugikan reputasi atau menyebabkan kebingungan di antara masyarakat. Selain itu, kita diharapkan untuk tidak mengganggu hak-hak orang lain, termasuk hak privasi dan kebebasan berekspresi. Dengan mengutamakan kemanusiaan yang adil dan beradab dalam interaksi daring, kita dapat menciptakan lingkungan sosial media
yang positif, mendukung, dan membangun kesadaran akan pentingnya menghormati keragaman pandangan dan hak asasi setiap individu.
3. Menghargai keragaman budaya dan suku bangsa di Indonesia
Penerapan sila ketiga Pancasila, "persatuan Indonesia," membutuhkan kesadaran untuk tidak menyebarkan isu-isu perpecahan yang dapat merusak kerukunan dan keutuhan bangsa.
Dalam konteks kehidupan bersosial media, hal ini mengacu pada tanggung jawab untuk tidak ikut serta dalam penyebaran informasi yang dapat memicu konflik antar kelompok atau menghasilkan perpecahan di masyarakat. Dengan menghindari penyebaran isu-isu yang bersifat divisif, kita dapat secara aktif berkontribusi dalam menjaga integrasi bangsa. Upaya ini penting untuk memastikan bahwa media sosial tidak digunakan sebagai sarana untuk memperkeruh situasi sosial, melainkan sebagai wadah untuk membangun kesatuan, saling pengertian, dan kebersamaan di tengah-tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa persatuan Indonesia tetap terjaga dan terbina melalui interaksi positif dan bertanggung jawab di dunia maya.
4. Menghargai pendapat orang lain dan berdiskusi secara sehat
Penerapan sila keempat, "kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan," mengharuskan kita untuk membudayakan perilaku demokrasi yang sehat dan terarah di dunia maya. Ini mencakup kewajiban untuk tidak menulis komentar yang bersifat merendahkan atau menyudutkan pihak lain, serta menghindari memprovokasi isu-isu kebencian terkait keputusan yang diambil dalam menggunakan media sosial dengan bijak. Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk memberikan ruang bagi perdebatan yang konstruktif, mendukung hak setiap individu untuk menyampaikan pendapatnya secara wajar, dan menjauhi tindakan yang dapat merusak proses permusyawaratan atau perwakilan.
Dengan tidak menulis komentar yang jahat dan tidak memprovokasi isu-isu kebencian, kita membantu menciptakan lingkungan daring yang kondusif untuk dialog dan pertukaran ide, seiring dengan semangat kerakyatan yang diarahkan oleh hikmat kebijaksanaan. Selain itu, kesadaran akan pentingnya menyaring informasi dengan bijak juga menjadi aspek kritis dalam menjaga keberlanjutan kerakyatan yang sehat di era digital ini. Dengan memahami bahwa setiap tindakan online memiliki dampaknya, kita dapat mengkontribusikan upaya positif dalam menciptakan media sosial yang berfungsi sebagai alat untuk menguatkan nilai-nilai demokrasi dan kebijaksanaan kolektif dalam masyarakat kita.
5. Menghargai hak-hak orang lain
Penerapan sila kelima Pancasila, "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," dapat diwujudkan melalui perilaku dalam mengakses sosial media dengan tetap memegang prinsip menghormati Hak Asasi Manusia (HAM) orang lain. Ini mencakup tanggung jawab untuk menjaga agar setiap interaksi online tidak merugikan atau melanggar hak-hak dasar individu.
Dengan berpegang teguh pada prinsip keadilan sosial, kita dapat menghindari menyebarkan informasi atau konten yang dapat memperkuat disparitas sosial atau menciptakan ketidaksetaraan. Sebaliknya, kita dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan daring yang mempromosikan kesetaraan, menghormati hak-hak dasar, dan mendukung upaya
menuju keadilan sosial di seluruh lapisan masyarakat.Pentingnya menghormati HAM dalam konteks media sosial juga melibatkan sikap empati dan kesadaran terhadap dampak setiap tindakan online terhadap kehidupan dan martabat sesama. Dengan demikian, melalui penggunaan sosial media yang bijak dan penuh tanggung jawab, kita dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang online yang adil, setara, dan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Kesimpulan dan Saran
Pancasila berfungsi sebagai ideologi nasional dan identitas nasional. Pancasila menjadi penciri bangsa Indonesia. Setiap orang Indonesia atau yang mengaku sebagai warga negara Indonesia, maka harus punya pemahaman, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan Pancasila. Dengan kata lain, Pancasila sebagai identitas nasional memiliki makna bahwa seluruh rakyat Indonesia seyogianya menjadikan Pancasila sebagai landasan berfikir, bersikap, dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Cara berpikir, bersikap, dan berperilaku bangsa Indonesia tersebut menjadi pembeda dari cara berpikir, bersikap dan berperilaku bangsa lain. Seperti pada uraian sebelumnya, Pancasila sebagai identitas nasional tidak hanya berciri fisik sebagai simbol atau lambang, tetapi merupakan identitas non fisik atau sebagai jatidiri bangsa. Pancasila sebagai jatidiri bangsa bermakna nilai-nilai yang dijalankan manusia Indonesia akan mewujud sebagai kepribadian, identitas, dan keunikan bangsa Indonesia. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Dalam era interkoneksi digital melalui media sosial, prinsip-prinsip Pancasila seharusnya menjadi pijakan dan pedoman bagi individu dalam menjalani kehidupan sehari-hari di dunia maya. Pancasila, sebagai dasar dan ideologi negara Indonesia, mencakup lima sila yang merangkum nilai-nilai moral, etika, dan kepemimpinan yang sesuai dengan karakter bangsa. Oleh karena itu, penerapan Pancasila dalam bersosial media menjadi esensial untuk menciptakan lingkungan daring yang positif dan bermakna.Pertama-tama, sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan untuk menghormati keberagaman keyakinan dan menjaga ketertiban dalam berinteraksi secara virtual. Kedua, sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengingatkan akan pentingnya sikap saling menghormati, memahami, dan mendukung sesama dalam ranah digital.
Ketiga, sila Persatuan Indonesia mengajarkan arti penting membangun hubungan yang harmonis dan mendorong semangat kebersamaan di tengah perbedaan pandangan.Selanjutnya, sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permufakatan/Perwakilan mendorong individu untuk terlibat dalam diskusi yang sehat, serta berpartisipasi dalam kegiatan online yang memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Terakhir, sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia merangsang untuk mendukung upaya menciptakan kesetaraan dan keadilan dalam ruang siber.Dengan menjadikan Pancasila
sebagai pedoman dalam bersosial media, individu dapat membangun citra diri yang positif, memperkaya wawasan, dan ikut berkontribusi dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Pancasila bukan hanya menjadi landasan untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi juga sebagai panduan dalam menjalani kehidupan digital yang lebih bermakna dan positif.
Daftar Pustaka
Angeliana, C., Margaretta, S., Christonia Puspita, C., Permono, Y. A., & Fitriono, R. A.
(n.d.).PENERAPAN PANCASILA DALAM BERMEDIA SOSIAL.
Ardhi, M., Abqa, R., Arifina, A. S., Tidar, U., & Suparman, J. K. (n.d.). ETIKA BERKOMUNIKASI DI MEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF PANCASILA.
Khadafi, M., & Darmayanti, E. (2022). Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Mencegah Dampak Globalisasi Terhadap Isu Sara dan Hoax Bersosial Media Implementation of Pancasila Values In Preventing The Impact Of Globalization On Sara Issues And Social
Media Hoax. Lex Justitia Journal, 4(1), 68–81.
https://doi.org/10.22303/lexjustitia.4.1.2022.68-81 Modul MKWU 4110
Nurlatifah, J. S., Ubaidiah, L., Patmawati, P., Sahbani, S., & Nugraha, R. G. (2022).
PENGARUH MEDIA SOSIAL “TIKTOK” TERHADAP NILAI-NILAI PANCASILA DI ERA DIGITAL.Jurnal Kewarganegaraan,6(1).
Nurhayati-Wolff, H. 2021. Number of internet users in Indonesia from 2017 to 2020 with forecasts until 2026 (in millions). Diakses dari https://www.statista.com/.
Patricia B., Peter, V., dan Akrur, B. 2015. A new understanding of Millennials: Generational differences reexamined. Deloitte University Press.
Sari, S. 2019. Literasi Media pada Generasi Milenial di Era Digital. Profesional: Jurnal Komunikasi dan Administrasi Publik. 6(2): 30-42.
Soedarsono, R. 2012. Pendidikan Karakter dalam Perspektif Pancasila. Grasindo. Jakarta.