TAFSIR HUKUM: RESPON AL-QUR’AN PADA POLEMIK PERNIKAHAN DINI DAN KANKER SERVIKS PADA PEREMPUAN
Annisa’ Hasna’ N.1, Nafi’ Windy K.2, Khofidah Viola Tria F.3 Email: [email protected]
[email protected] [email protected]
Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang No.5 Sumbersari, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur
ABSTRACT
Underage marriage or the contemporary term is called early marriage is a marriage that occurs in relation to time, namely very early in a certain time.
Marriage in the Qur'an is a recommended action. Islam does not prohibit early marriage, as long as each party is able to fulfill all the requirements, and the marriage is carried out to strengthen the sense of religion between the two. Seeing more negative impacts than positive impacts, early marriage should not be done if the goal is only to satisfy lust, because it can be equated with danger. Early marriage is often associated with the incidence of cervical cancer. Early marriage can indeed trigger the risk of cervical cancer in the future, due to the reproductive system of women who have not fully developed.
Keywords: Marriage; early age; cervical cancer; Islamic ABSTRAK
Pernikahan di bawah umur atau istilah kontemporernya disebut dengan pernikahan dini adalah pernikahan yang terjadi dalam kaitannya dengan waktu, yakni sangat di awal waktu tertentu. Pernikahan dalam al-Qur’an merupakan tindakan yang dianjurkan. Islam memang tidak melarang adanya pernikahan dini, asalkan dari masing – masing pihak telah mampu memenuhi segala persyaratannya, dan pernikahan tersebut dilaksanakan untuk menguatkan rasa keberagamaan antara keduanya. Melihat lebih banyaknya dampak negati dari pada dampak positifnya, sebaiknya pernikahan dini tidak dilakukan jika tujuannya hanya untuk pemuasan nafsu saja, karena hal tersebut dapat diqiyaskan dengan berbahaya. Pernikahan dini sering di kaitakan dengan kejadian kanker serviks. Pernikahan dini memang bisa memicu risiko kanker serviks di kemudian hari, akibat sistem reproduksi wanita yang belum berkembang sempurna.
Kata Kunci : Pernikahan ; usia dini ; kanker serviks ; Islam
1. Pendahuluan
Islam merupakan agama yang sangat memperhatikan hubungan manusia baik secara vertikal (hablum minallah) maupun horizontal (hablum minannas), dimana hubungan secara vertikal berarti hubungan manusia dengan tuhan, sedangkan secara horizontal berarti bagaimana manusia berinteraksi dengan sesama makhluk. Salah satu bentuk aplikasi dari hubungan horizontal tersebut perkawinan. Allah SWT telah menciptakan laki-laki dan perempuan agar dapat berhubungan satu sama lain, saling mencintai, saling menayangi, menghasilkan keturunan dan hidup berdampingan secara damai, tentram dan sejahtera
Perkawinan mempunyai arti dan kedudukan yang sangat penting dalam tata kehidupan manusia. Sebab dengan perkawinan, dapat dibentuk ikatan hubungan pergaulan antara dua insan yang berlainan jenis secara resmi dalam suatu ikatan suami-isteri menjadi satu keluarga.
Selanjutnya keluarga dapat terus berkembang menjadi kelompok masyarakat. Tujuan yang ingin dicapai dari perkawinan ialah mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.1
Hukum Islam sejatinya mengatur perbuatan manusia berdasarkan pertimbangan dampak positif maupun negatif di dalamnya. Pernikahan juga tidak lepas dari koridor ini. Pernikahan dalam al-Qur’an merupakan tindakan yang dianjurkan. Namun dalam konteks tertentu anjuran ini bisa berubah menjadi sebuah kewajiban, bahkan dalam situasi yang berbeda dapat beralih sebagai sebuah larangan. Dinamika semacam ini telah menjadi style bagi para ulama mazhab dalam menetapkan hukum Islam bahwa eksistensi hukum tergantung pada ratio legis atau ‘illah.
‘Illah berarti hikmah dan kemaslahatan yang menjadi pijakan adanya perintah, dan mafsadat menjadi pertimbangan adanya sebuah larangan
Dengan melalui pernikahan, seseorang dapat menjaga dirinya dari apa yang dilarang Allah swt., karena pada dasarnya agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan terperinci terhadap pernikahan.
Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan ideal, proses khitbah atau peminangan, dan bagaimana mendidik anak. Oleh Kerena itu, pernikahan merupakan rahmat yang harus dijaga dan dilindungi dengan baik oleh semua pasangan. Jika sebaliknya, apabila keadaan dalam rumah tangga berantakan yang disebabkan oleh ketidak harmonisan dalam rumah tangga, ini sangat berpengaruh terhadap kualitas perkembangan serta pendidikan anak-anak di masa yang akan datang.
Pernikahan usia anak atau lebih dikenal dengan istilah pernikahan di bawah umur merupakan salah satu fenomena sosial yang banyak terjadi
1 Muhammad Saleh Ridwan. Perkawinan Di Bawah Umur (Dini), (Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar), hlm16
di berbagai tempat di tanah air, baik di perkotaan maupun di perdesaan yang menampakkan kesederhanaan pola pikir masyarakatnya sehingga mengabaikan banyak aspek yang seharusnya menjadi syarat dari suatu perkawinan. Setelah menikah seorang gadis sudah harus meninggalkan semua aktivitasnya dan hanya mengurusi rumah tangganya, begitu pula suaminya di tuntut lebih memiliki tanggung jawab karena harus mencari nafkah.2
Substansi hukum Islam adalah menciptakan kemaslahatan sosial bagi manusia baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.
Hukum Islam bersifat luas dan luwes, humanis, dan selalu membawa rah mat bagi seluruh manusia di alam ini. Termasuk dalam ranah pemikiran tentang hal ini adalah ayat-ayat dan hadis-hadis Nabi yang mengupas masalah pernikahan, karena pada prinsipnya semua perbuatan orang muslim yang sudah akil baligh tidak bisa terlepas dari hukum syara’
sebagaimana terumuskan dalam kaidah syara. 3
Dalam al-Qur’an, tema seputar pernikahan banyak menghiasi beberapa ayatnya. Namun tidak ada satupun ayat yang secara eksplisit menjelaskan tentang perintah maupun larangan pernikahan di bawah umur. Karena itu, jika pesan tekstual menjadi pilihan maka pernikahan semacam itu akan dinilai sebagai tindakan yang sah dilakukan. Akan tetapi, jika mengacu pada pesan moral dan tujuan-tujuan utama dalam pernikahan maka akan memungkinkan lahirnya kesimpulan yang berbeda. Pertimbangan hukum semacam ini mengacu pada nilai maslahah (dampak positif) dan mafsadat (dampak negatif) yang ditimbulkan dalam sebuah pernikahan.
Pernikahan dini sering di kaitakan dengan kejadian kanker serviks.
Pernikahan dini memang bisa memicu risiko kanker serviks di kemudian hari, akibat sistem reproduksi wanita yang belum berkembang sempurna. Kanker serviks sendiri merupakan penyakit yang terjadi di daerah organ reproduksi wanita yang terletak antara rahim dan lubang vagina. Kanker serviks dapat merubah sel-sel normal menjadi sel kanker, dimana sel abnormal ini dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh. Penyebab dari kanker serviks adalah human pappiloma virus ( HPV) yang dapat menular secara seksual. Perempuan yang aktif secara seksual 85% akan terinfeksi HPV dalam waktu 3 tahun, sehingga virus tersebut dapat menginfeksi sel-sel pada serviks.
Kanker serviks bisa dideteksi melalui keluhan yang dirasakan seperti rabas pada vagina, adanya pendarahan atau pendarahan setelah melakukan hubungan seksual. Hal penting yang harus kita ketahui dari
2 Abu al-Ghifari, Badai Rumah Tangga, (Bandung: Mujahid Press, 2003), hlm 132
3 Taqiyudddin An – Nabhani, Asy – Syakhsiyyah al Islamiyah Juz III, 1953. Hlm 19
insiden kanker serviks adalah faktor risiko terjadinya kanker serviks.
Faktor-faktor tersebut yaitu aktivitas seksual pada usia muda, berhubungan seksual dengan multipartner, merokok, mempunyai anak banyak, sosial ekonomi rendah, pemakaian pil KB (dengan HPV negatif atau positif), penyakit menular seksual, dan gangguan imunitas
Oleh karena itu artikel ini akan membahas mengenai respon al-qur’an pada polemik pernikahan dini dan kanker serviks pada perempuan.
2. PEMBAHASAN
Tafsir An-Nisa’ 32 dan Ashab al-Nuzulnya
ٱ ۦ ٱ ٱ ٱ ۦ ٱ
Artinya: Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.
(Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia- Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Tafsir Kementerian Agama
Orang yang beriman tidak boleh merasa iri hati terhadap orang yang lebih banyak memperoleh karunia dari Allah, karena Allah telah mengatur alam ini sedemikian rupa terjalin dengan hubungan yang rapi.
Manusia pun tidak sama jenis kemampuannya, sehingga masing-masing memiliki keistimewaan dan kelebihan. Bukan saja antara laki-laki dengan perempuan, tetapi juga antar sesama laki-laki atau sesama perempuan.
Selanjutnya ayat ini menerangkan bahwa laki-laki mempunyai bagian dari apa yang mereka peroleh, demikian juga perempuan mempunyai bagian dari apa yang mereka peroleh, sesuai dengan usaha dan kemampuan mereka masing-masing.Oleh karena itu orang dilarang iri hati terhadap orang yang lebih banyak memperoleh karunia dari Allah.
Akan tetapi ia hendaknya memohon kepada Allah disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh agar Allah melimpahkan pula karunia-Nya yang lebih banyak tanpa iri hati kepada orang lain. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik tentang permohonan yang dipanjatkan kepada-Nya, maupun tentang apa yang lebih sesuai diberikan kepada hamba-Nya.
Setiap orang yang merasa tidak senang terhadap karunia yang dianugerahkan Allah kepada seseorang, atau ia ingin agar karunia itu hilang atau berpindah dari tangan orang yang memperolehnya, maka hal itu adalah iri hati yang dilarang dalam ayat ini. Tetapi apabila seseorang
ingin memiliki sesuatu seperti yang dimiliki orang lain, atau ingin kaya seperti kekayaan orang lain menurut pendapat yang termasyhur, hal demikian tidaklah termasuk iri hati yang terlarang
Tafsir Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi
Benar atau tidaknya kisah ummu salamah, beliau berkata: “Andaikan kami adalah kaum laki-laki, maka kami telah berjihad. Dan untuk kami adalah pahala semisal kaum pria -Maka Allah Maha Mendengar- dan orang-orang yang berangan-angan secara hasad ataupun tanpa hasad betapa banyak jumlahnya. Oleh karenanya dalam ayat ini (39) Allah melarang para hamba-Nya yang beriman untuk berangan-angan dengan sesuatu yang telah Allah lebihkan kepada sebagian dari mereka terhadap yang lain. Allah telah memberikan mereka kelebihan dan melarang berangan-angan dikarenakan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. Dan yang paling gamblang dari hikmah-hikmah di balik takdir Allah adalah rasa syukur dan sabar. Allah berfirman
{ }
“Janganlah berangan-angan terhadap apa yang dilebihkan oleh Allah”
dari sisi ilmu, harta, kesehatan, kedudukan ataupun kekuasaan
{ }
“sebagian dari sebagian yang lainnya”. Allah mengabarkan ketetapannya dalam perkara pahala, hukuman, pekerjaan dan amal. Maka hendaklah beramal, wahai orang yang menginginkan pahala dan ganjaran dengan melakukan hal yang bisa mengantarkan kepada hal tersebut yang berupa keimanan dan amal sholih. Dan janganlah hanya sekedar berangan-angan saja. Hendaklah orang yang takut terhadap siksa dan tercegahnya dari kenikmatan Allah untuk menahan diri dari kesyirikan dan perbuatan maksiat, janganlah mengharapkan keselamatan hanya dengan sekedar harapan. Seperti halnya orang yang menginginkan harta dan kedudukan, hendaknya beramal dengan jalan-jalan yang sudah dipakemkan dan janganlah hanya berangan saja. Karena angan-angan adalah barang dagangannya orang-orang pandir. Oleh karenanya Allah berfirman
{ }
“Bagi kaum pria bagian dari apa yang mereka kerjakan; dan bagi kaum wanita bagian yang mereka kerjakan” dan dikembalikan perkara ini kepada ketentuan Allah, yaitu amal masing-masing manusia. Hal ini seperti dalam firman Allah yang lain
{ }
“barang siapa yang beramal sebesar biji sawi kebaikan, maka dia akan melihatnya. Dan barang siapa yang beramal sebesar biji sawi keburukan, maka dia akan melihatnya”, kemudian Allah mejelaskan ketetapanNya yang lain dalam mendapatkan hal yang diiginkan dengan berdoa kepada- Nya, Allah berfirman
{ }
“dan mintalah kepada Allah dari keutamannya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu”. Siapapun yang meninta kepada Tuhannya, merengek di hadapanNya dan yakin akan dikabulkan, niscaya Allah akan memberikan kepadanya dan memberikan petunjuk kepadanya dengan mendatangkan sebab-sebab yang bisa mengantarkan kepada terkabulnya permintaannya dan dia pun dipalingkan dari hal-hal yang dapat mencegah tercapainya yang dia minta, memberikan kepadanya dengan tanpa ada sebab insya Allah. Dan Allah adalah zat yang Maha Mampu. Bahkan yang termasuk sebab-sebab yang disyariatkan adalah berdoa dan ikhlas dalam doanya.
Tafsir Quraish Shihab, Muhammad Quraish Shihab
Laki-laki hendaknya tidak iri hati terhadap karunia yang diberikan Allah kepada wanita. Begitu juga, sebaliknya, wanita tidak boleh iri hati terhadap apa-apa yang dikaruniakan Allah kepada laki-laki. Masing- masing mendapatkan bagian, sesuai dengan tabiat perbuatan dan haknya. Maka hendaknya masing-masing berharap agar karunianya ditambah oleh Allah dengan mengembangkan bakat dan memanfaatkan kelebihan yang dititipkan Allah kepadanya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, dan memberikan kepada setiap jenis makhluk sesuatu yang sesuai dengan kejadiannya.
Ayat ini turun untuk menjawab pengaduan Ummu Salamah yang merasa Islam menomorduakan kaum wanita; mereka tidak diperkenankan ber perang dan hanya mendapat setengah dari bagian warisan yang diterima kaum pria.4
. : .
Ummu Salamah berkata, “Kaum pria bisa ikut berperang, sedangkan kaum wanita tidak. Kami pun hanya mendapat setengah dari warisan
4 Buku Asbabul Nuzul: Kronologi dan Sebab Turun Wahyu Al-Qur'an
yang diterima kaum pria.” Allah lalu menurunkan ayat, wala tatamannau ma faddalallahu bihibadakum alaba‘d5.
Hukum Islam, Pernikahan dini dan kanker serviks
Pernikahan di bawah umur atau pernikahan dini adalah pernikahan yang dilangsungkan sebelum waktunya. Pernikahan ini disebut pula pernikahan usia sekolah karena dilakukan pada masa sekolah . Atau disebut pula dengan ”pernikahan remaja” karena pernikahan dilangsungkan pada usia antara 12 tahun hingga 21 tahun. Perhitungan ini didasarkan pada sudut pandang psikologi, bahwa usia mudah atau remaja secara global dimulai sejak usia 12 (dua belas) tahun dan berakhir pada sekitar 21 (dua puluh) tahun. Dalam al-Quran tidak dijelaskan secara eksplisit tentang batas usia minimal seseorang untuk melangsungkan mahligai pernikahan. Namun mazhab fikih telah membahasnya dengan tema “nikah al-shighar”. “Nikah al-shighar” dalam terminologi fikih berarti pernikahan yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang belum mencapai usia baligh
Batasan umur seorang anak dikatakan dewasa, berbeda-beda.
Menurut Hukum Islam, Seorang anak dikatakan telah baligh adalah ketika telah "bermimpi basah" untuk anak laki-laki, dan telah menstruasi untuk anak perempuan. Menurut hukum KUHP Indonesia, batas usia dibawah umur/belum dewasa adalah belum mencapai usia 21 tahun atau belum pernah kawin, begitu juga dengan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 yang juga batasan umur tertentu. hal ini berlaku baik untuk laki- laki maupun perempuan. Dikatakan anak di bawah umur, berarti usianya belum mencapai batas yang disyaratkan di atas, tergantung mau dipandang dari sudut hukum yang mana.
Dalam hal ini secara tersurat Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini. Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimal Undang-undang Perkawinan, secara hukum kenegaraan tidak sah. Istilah pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan umur.
Sementara dalam kaca mata agama, pernikahan dini ialah pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh.
Namun demikian, hukum Islam secara umum meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal.
Dari kelima nilai universal Islam ini, satu diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan (hifdzu al nasl). Oleh sebab itu, Syekh Ibrahim dalam bukunya al Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap terjaga, hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui
5 Mursal dengan sanad sahih; diriwayatkan oleh at-Tirmiziy, Ahmad, at}-Tabraniy, al- Baihaqiy, at Tabariy, dan al-Hakim dari jalur Mujahid dari Ummu Salamah
pernikahan. Seandainya agama tidak mensyari’atkan pernikahan, niscaya geneologi (jalur keturunan) akan semakin kabur. Terlepas dari semua itu, masalah pernikahan “dini” adalah isu-isu kuno yang sempat tertutup oleh tumpukan lembaran sejarah. Dan kini, isu tersebut kembali muncul ke permukaan. Hal ini tampak dari betapa dahsyatnya benturan ide yang terjadi antara para sarjana Islam klasik dalam merespons kasus tersebut.
Sebagai umat Islam, merupakan kewajiban untuk merujuk sumber utama dari ajaran Islam, yakni Al Qur’an. Apakah Al Qur’an mengizinkan atau justru melarang pernikahan dari perempuan di bawah umur? Yang jelas, tidak ada satu ayatpun yang secara eksplisit mengizinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat yang dapat dijadikan inspirasi untuk menjawab persoalan di atas, meski substansi dasarnya adalah tuntunan bagi muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim.
Meski demikian, petunjuk Al Qur’an mengenai perlakuan anak yatim itu dapat juga kita terapkan pada anak secara umum.
Ada berbagai manfaat dari penikahan dini, Namun demikian, sebuah pernikahan yang dilangsungkan oleh anak di bawah umur juga menyimpan implikasi negatif yang tidak ringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan yang dilakukan sebelum mencapai usia 16 tahun bagi perempuan memiliki banyak mudarat, baik dampak fisik- biologis, psikologis, ekonomi, maupun dampak lainnya. Secara fisik- biologis, alat-alat repsoduksi anak di bawah umur masih dalam proses menuju kematangan, sehingga ia belum siap untuk melakukan hubungan seksual, lebih-lebih jika sampai hamil dan melahirkan. Dari hasil penelitian disebutkan bahwa kehamilan di usia muda dapat beresiko menderita kanker di masa yang akan datang, bahkan berdampak pada kematian ibu.
Usia seorang wanita sangat berpengaruh terhadap kematangan organ reproduksi. Apabila usia pertama kali menikah di bawah 20 tahun maka resiko terkena kanker serviks lebih besar. Organ reproduksi pada wanita remaja sangat rentan terhadap rangsangan, paparan sperma, atau zat - zat yang dibawa sperma. Sel-sel mukosa yang belum matang juga akan mudah berubah sifat menjadi kanker. Sel-sel abnormal dalam mulut rahim dapat mengakibatkan kanker mulut rahim, tidak hanya itu wanita pelaku sex dini harus bersiap terkena resiko penyebaran infeksi dan sel kanker vagina hingga ke luar permukaan. Menikah di usia muda merupakan faktor transisi dari masa kanakkanak ke masa dewasa ditandai dengan menstruasi yang mengakibatkan terjadinya perubahan hormon yang menyebabkan sel pada dinding vagina menebal.
Terdapat perilaku seksual tertentu yang menyebabkan peningkatan risiko kanker serviks salah satunya yaitu usia saat pertama kali
melakukan hubungan seksual. Umur pertama menikah yang relatif muda.
Semakin muda umur pertama kali menikah, semakin tinggi risiko mendapatkan kanker serviks. BKKBN6 menyatakan bahwa pernikahan usia muda yaitu perkawinan yang dilakukan di bawah usia 20 tahun.
Wanita yang pertama kali menikah pada usia kurang dari 20 hun berisiko terkena kanker serviks. Hal tersebut dikarenakan wanita yang berusia kurang dari 20 tahun belum memiliki alat reproduksi yang matur.
Hubungan seksual pada usia muda akan meningkatkan risiko untuk terkena kanker serviks, selain karena masih berkembangnya sel-sel serviks. Sel mukosa baru benar-benar matang umumnya setelah wanita berusia di atas 20 tahun. Apabila sel-sel mukosa dalam rahim dipaksa untuk menerima rangsangan dari luar, hal ini berisiko untuk membentuk lesi pra kanker yang bisa menjadi kanker. Pertumbuhan sel yang tidak seimbang dan abnormal ini akan berubah pula menjadi sel kanker.7 Transkripsi Dan Pendapat Netizen Terhdapat Kanker Serviks
Kanker adalah penyakit dimana selsel dalam tubuh tumbuh di luar kendali. Kanker yang ada pada leher rahim dinamakan kanker serviks.
Serviks adalah bagian yang menghubungkan vagina ke bagian uterus (rahim). Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV) dalam jangka waktu yang panjang. Umumnya HPV ditularkan melalui hubungan seksual. Setidaknya separuh dari orang yang aktif secara seksual terkena HPV, tetapi pada beberapa perempuan HPV berkembang menjadi kanker servik. Infeksi HPV pada perempuan muda berkaitan dengan kematangan serviks sehingga hubungan seksual pertama bagi perempuan sangat rentan terinfeksi apabila serviks belum matang. Perempuan yang memulai hubungan seksual di bawah usia 20 tahun mengalami proses metaplasia sel skuamosa yang sangat tinggi sehingga meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks.
Risiko kanker serviks semakin meningkat dengan semakin mudanya usia pada hubungan seksual pertama. Hal ini dapat disebabkan perempuan yang lebih awal melakukan hubungan seksual lebih awal terpapar HPV sehingga memiliki durasi infeksi yang lebih lama.
Kemungkinan lainnya adalah hubungan seks pertama di usia muda
6 BKKBN. Survei Demografi Dan Kesehatan : Kesehatan Reproduksi Remaja 2017. Badan Kependud dan Kel Berencana Nas. 2017
7 Dianti. Perbandingan Risiko Ca Serviks Berdasarkan Personal Hygiene Pada Wanita Usia Subur Di Yayasan Kanker Wisnuwardhana Surabaya. J Promkes. 2016;Volume 4.hlm207
menandakan bahwa perempuan tersebut memiliki perilaku berisiko tinggi untuk terpapar HPV.8
Adapun gejala kanker serviks yang lebih dari stadium 1 ditandai oleh beberapa ciri, seperti, Keputihan dalam jumlah yang banyak dan berbau, perdarahan vagina ketika melakukan hubungan seksual (contact bleeding), perdarahan tidak wajar dari vagina padahal sedang tidak haid, siklus menstruasi tidak teratur dan cenderung menjadi lebih panjang, rasa sakit pada panggul (di perut bagian bawah), pinggang (punggung bawah) atau kaki, hilangnya nafsu makan sehingga menyebabkan berat badan menurun, dan badan terasam lemas dan mudah lelah.
Cara primer untuk mencegah kanker serviks adalah dengan vaksinasi HPV. Penting untuk dicatat bahwa vaksin HPV merupakan upaya pencegahan dan bukan untuk mengobati. Cara mencegah kanker serviks yaitu melalui prosedur medis yang dilakukan untuk mendeteksinya melalui pap smear atau pemeriksaan IVA secara berkala. Langkah ini dilakukan untuk memantau kondisi serviks selalu terpantau dan agar penanganan bisa lebih cepat dilakukan jika terdapat kanker. Selain mengonsumsi makanan pencegah kanker serviks, kebiasaan hidup sehat juga sangat penting untuk dilakukan. Perubahan pola hidup sehat terdiri dari rajin berolahraga dan rutin beraktivitas. Hindari juga paparan polusi dan paparan asap rokok. Faktor ini dapat meningkatkan risiko Anda terkena kanker serviks. Zat beracun dalam asap tembakau dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga membuat tubuh lebih sulit untuk membunuh sel kanker.
Beberapa pendapat netizen mengenai pencegahan dari kanker serviks adalah sebagai berikut “Kanker (cancer) adalah penyakit kerusakan Sel.
Solusi terbaiknya adalah tetap berkonsultasi dgn dokter dan bantu dengan konsumsi molekul pensinyalan sel yang mana bekerja sampai level atom daripda sel2 tubuh kita. Ini adalah teknologi kesehatan terkini dari Amerika pertama dan hanya satu-satunya di dunia. Bukti2nya sudah terlalu banyak dan sudah teruji klinis.” Terdapat pula beberapa pernyataan netizen yang masih belum percaya dan meragukan bahwa kanker serviks dapat di sebabkan oleh pernikahan dini.
Respon Al-Qur’an Pada Polemik Pernikahan Dini Sebagai Upaya Pencegahan Kanker Serviks
Sebagaimana dijelaskan di atas, pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara suami dan istri, juga antara mereka bersama masyarakat, sehingga ikatan itu sebagai perjanjian yang kokoh, mitsaq ghalidz (QS. Al-
8 Hendrati LY, Has S, Faqihatus D. Faktor risiko karakteristik dan perilaku seksual terhadap kejadian kanker serviks. Indonesian Journal of Public Health,. 2009;6(1):38–43.
Nisa’ [4]: 21 . Karena itu, pernikahan membutuhkan kematangan fisik biologis, psikologis dan sosiologis dari setiap orang yang hendak menjalaninya. Kematangan ini akan mencerminkan nilai-nilai maqashid atau tujuan-tujuan utama berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an.
Pernikahan yang dilakukan seorang laki-laki dan perempuan yang masih di bawah umur bisa mencapai tujuan mulya sesuai misi al-Qur’an, yakni terhindar dari perbuatan zina (QS. Al-Isra’ [17]: 32 atau hubungan seksual di luar nikah, “Mereka memelihara kemaluan kecuali terhadap pasangan mereka” QS. Al-Mu’minun [23]: 6; al-Ma’arij [90]: 30 , sehingga hifz al-nasl dapat terjaga dengan baik. Namun, tujuan tersebut bukanlah tujuan satu-satunya dalam pernikahan karena pernikahan dilaksanakan untuk memelihara maqashid atau prinsip hidup yang lain.
Dari sudut pandang kedokteran, pernikahan dini mempunyai dampak negatif baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan. Menurut para sosiolog, ditinjau dari sisi sosial, pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif. Oleh karenanya, pemerintah hanya mentolerir pernikahan diatas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita.
Meskipun banyak dari nash al-Qur’an dan Hadits yang merujuk pada dalil tentang perkawinan, selain dalil nash sebagai dasar hukum perkawinan, masih diperlukan lagi ijtihad para fuqaha terhadap beberapa masalah yang perlu pemecahan untuk memperoleh ketentuan hukum, misalnya, Bagi orang yang sudah ingin kawin dan takut akan berbuat zina kalau tidak kawin, maka wajib ia mendahulukan kawin daripada menunaikan ibadah haji. Tetapi kalau ia tidak takut akan melakuakan zina, maka ia wajib mendahulukan haji daripada kawin. Juga dalam wajib kifayah yang lain, seperti menuntut ilmu dan jihad, wajib ditunaikan lebih dahulu daripada kawin. Sekiranya tidak ada kekhawatiran akan terjatuh dalam lembah perzinaan”
Islam memang tidak melarang adanya pernikahan dini, asalkan dari masing – masing pihak telah mampu memenuhi segala persyaratannya, dan pernikahan tersebut dilaksanakan untuk menguatkan rasa keberagamaan antara keduanya. Melihat lebih banyaknya dampak negative dari pada dampak positifnya, sebaiknya pernikahan dini tidak dilakukan jika tujuannya hanya untuk pemuasan nafsu saja, mengapa hal tersebut tidak diperbolehkan, karena hal tersebut dapat diqiyaskan dengan berbahaya. Berbahaya disini, apabila dalam suatu pernikahan nantinya akan menimbulkan KDRT, tujuan pernikahan tidak sesuai dengan syariat islam, dan merugikan salah satu pihak.
Dengan demikian, pernikahan di bawah umur tidak bisa dilihat dari satu nilai maqashid saja, seperti tujuan agar terhindar dari perbuatan zina. Pernikahan juga berhubungan dengan bagaimana menjamin terwujudnya hifz al-nafs (perlindungan terhadap jiwa), hifz al-mal (jaminan atas kekayaan dan kepemilikan), hifz al-’aql jaminan terhadap kelangsungan fungsi akal) dan hifz al-din (perlindungan atas nilai-nilai agama). Artinya, pernikahan dini tidak bisa dilaksanakan hanya mempertimbangkan tercapainya satu tujuan semata, sementara perlindungan terhadap maqashid yang lain terabaikan. Semuanya bergantung pada nilai kemaslahatan dan unsur kemudaratan yang ada di dalamnya. Adanya unsur masalah (dampat positif) dan mafsadat (dampak negatif) dalam pernikahan di bawah umur harus menjadi pertimbangan matang.
3. KESIMPULAN
Menikah dini hakikatnya adalah menikah juga, hanya saja dilakukan oleh mereka yang masih muda dan segar, seperti mahasiswa atau mahasiswi yang masih kuliah atau mereka yang baru lulus SMA. Hukum yang berkaitan dengan nikah dini pada umumnya sama dengan pernikahan biasanya, namun ada pula hal–hal yang memang khusus yang bertolak dari kondisi umum, seperti kondisi mahasiswa yang masih kuliah yang mungkin belum mampu memberi nafkah.
Pernikahan disyariatkan dalam al-Qur’an untuk terwujudnya proses regenerasi umat manusia. Generasi yang diinginkan adalah generasi yang berkualitas agar tugas menjalani kehidupan dunia berjalan dengan baik berdasarkan tujuan utama yang dititahkan dalam al-Qur’an. Untuk mewujudkan generasi berkualitas, seorang laki-laki dan perempuan yang hendak ke jenjang pernikahan harus memiliki kesiapan matang sebelum menuju mahligai rumah tangga. Tidak hanya kesiapan fisik biologis namun juga kematangan secara mental, termasuk dalam menghadapi lahirnya keturunan. Sehingga maqashid atau tujuan-tujuan pernikahan dapat diwujudkan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Abu al-Ghifari, Badai Rumah Tangga, (Bandung: Mujahid Press, 2003), hlm 132
Adhim, Muhammad Fauzil, (2002). Indahnya Pernikahan Dini, Jakarta:
Gema Insani Press.
Ahmad, Muhammad bin Hanbal Abu Abdillah Al-Syaibani, (1999).
Musnad Ahmad, Beirut: Muassasah al-Risalah.
Alfida, Raini, (1984). Perkawinan Remaja: Gagasan Dr. Sarlito W.
Sarwono dan Tanggapan, Jakarta: Sinar Harapan.
Amin, Hendra Fahrudi, 2010 . ”Pertimbangan Hukum Dispensasi Nikah Oleh Hakim Pengadilan Agama Yogyakarta Bagi Pasangan Pengantin Usia Dini Tahun 2007-2009”, Skripsi, Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
BKKBN. Survei Demografi Dan Kesehatan : Kesehatan Reproduksi Remaja 2017. Badan Kependud dan Kel Berencana Nas. 20171
Dianti. Perbandingan Risiko Ca Serviks Berdasarkan Personal Hygiene Pada Wanita Usia Subur Di Yayasan Kanker Wisnuwardhana Surabaya. J Promkes. 2016;Volume 4.hlm207
Hendrati LY, Has S, Faqihatus D. Faktor risiko karakteristik dan perilaku seksual terhadap kejadian kanker serviks. Indonesian Journal of Public Health,. 2009;6(1):38–43.
Junus, Mahmud. 1964. Hukum Perkawinan dalam Islam. Cetakan ketiga. Pustaka Mahmudiah. Jakarta.
Kampono, Nugroho. 2007. Pernikahan Dini tingkatkan Resiko Kanker Service. Kelud Raya. Semarang.
Muhammad Saleh Ridwan. Perkawinan Di Bawah Umur (Dini), (Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar), hlm16
Ramulyo, M. Idris. 1984. Beberapa Masalah Tentang Hukum Acara Peradilan Agama dan Perkawinan Islam. Hill.Co. Jakarta.
Talib, Sayuti. 1986. Hukum Kekeluargaan Indonesia. UI Press. Jakarta.
Taqiyudddin An – Nabhani, Asy – Syakhsiyyah al Islamiyah Juz III, 1953. Hlm 19
Thalib, Moh. 1981. Fiqh Sunnah Terjemah. PT Al-Ma’arif. Jilid ke-6.
Bandung