Abstract
Lack of appreciation of cultural heritage obiects have been-a factor increasing
threats, such asiieft, vandaliim, andforgery ofcultural heritage objecls' The condition 'is
i,acerboted by the economic
"irdiions
of society are minimal and weak lqwenforcement.
For that, it should continue to be sociqlized that the historical heritage sites and.
objects of culrural heritage is part of th1 iourney of a society and nation. cultural niriiig""sites qnd obieci is a trail-so that we can learn from the past, qs well as-
cultuil
presertation is the identity of a nation. Of course we do not wdnt lo lose track ofthe history and identity through the loss ofcultural heritage objects.Keywords; Legal Protection, Obiect, Site, Heritage'
PERLINDUNGAN
HUKUM
TERIIADAP BENDA CAGAR BUDAYA DI PROVINSI GORONTALOOleh: Sutrisno Mohamad
l.
Pencurian/penyelunduPan PendahuluanBenda cagar budaYa meruPakan kekayaan budaya bangsa yang penting
artinya bagi Pemahaman
danpengembangan sejarah,
ilmupengetahuan dan kebudayaan, sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran
jatidiri
bangsa dan kepentingan nasiona.Inilah
salahsatu isi diktum pertimbangan UU No 5
tahun 1992 tentang Benda
CagarBudaya.
Pentingnya Perlindungan
danpelestarian warisan budaya dan sejarah
ini juga menjadi kebutuhan
dantuntutan masyarakat internasional' Hal
ini dapat dilihat dalam
LaPoranKongres PBB Yang antar
lainmenyangkut:
barang-barang berharga
2.
Kelengkapanperundang-undangan rangka
kebudayaan
peraturan dalam memberikan
perlindungan dengan
barang-barang peninggalan budaYa; dan
3.
Perlawanan terhadaplalu
lintasinternas ional atas baran g-barang' Indonesia adalah negara Yang
memiliki
kekayaan budaYa. Tujuan pelestarian benda-bendakuno
adalaha1ar
masyarakatdaPat
memahami sejarah, sekaligusjuga
menghargai karya cipta yang melekat Pada bendakuno,
sedangkan kecintaan nasionalterhadap
benda-bendakuno
akanmenumbuhkan
harga diri
bangsa.Pemahaman sejarah tanpa bentuk nyata
Jurnal Legalitas VoL 3 No.2
akan
sulit
menumbuhkan kebanggaan nasional.Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai warisan budaya masa
lalu. Pelestarian budaya warisan masa
lalu
merupakan tanggungjawab
kitabersama, untuk melestarikan nilai-nilai
luhur budaya nenek moyang
kita.Warisan budaya masa
lalu
merupakansarana untuk mempelajari
dan menelusuri sejarah dan budaya masalalu yang perlu
dilestarikan keberadaannya.Pelestarian benda cagar budaya merupakan
inspirasi bagi
kelanjutanperjuangan kita dan
menjauhkan terjadinya keterasingan sejarah yangdapat mengakibatkan
kemiskinanbudaya. Maka perlu
ditumbuhkembangkan pernahaman
tentangpelestarian benda cagar
budaya,sehingga selalu
diperhatikankeserasian, keseimbangan,
dan kesinambungan antara aspekfisik
dan aspek sosial budaya. Kedua aspek itutidak dapat dipisahkan
untukmendukung upaya pelestarian benda cagar budaya. Bantuan dan dukungan masyarakat sangat diperlukan, karena
pada
hakekatnya pelestarian bendacagar budaya tersebut
menjadi tanggungjawab kita. Unruk
itulahsebagai bangsa yang besar
danberbudaya marilah kita
lestarikanwarisan kebudayaan masa
lalu
untuk kebesaran bangsa tercinta.Pengertian Benda Cagar Budaya
Benda Cagar Budaya
(BCB)merupakan salah satu
wujud kebudayaandalam bentuk
artefact,sebuah wujud yang dapat
dirasa, dilihat, dan diraba, benda cagar budaya sebagaimana dalam pasalI
undang _undang nomor.
5 tahun
1992 tentang benda cagar budaya adalah:l. Benda
buatan manusia, bergerakatau tidak
bergerakyang
berupakesatuan atau kelompok,
atau bagian-
bagian atau sisa-
sisanya yang berumur sekurang -kurangnya50 (lima puluh) tahun,
sertadianggap
memiliki nilai
pengting, sejarah, ilmu
pengetahuan dan kebudayaan2. Benda alam yang
dianggapmempunyai nilai penting
bagisejarah, ilmu
pengetahuan, dan kebudayaan.situs adalah
lokasiyang
mengandungatau
diduga mengandung benda cagar budayatermasuk lingkungannya
yangdiperlukan bagi pengamanannya.
Kriteria dan
tolak ukur di
atasIingkungan cagar
budaya diklasifikasikandalam 3
golongan,yakni:
l. Golongan I: lingkungan
yangmemenuhi seluruh
kriteria, termasukyang
mengalami sedikit perubahantetapi masih
memiliki tingkat keaslian yang utuh.2. Golongan II: lingkungan
yang hanya memenuhi3 kriteria,
telah mengalami perubahan namun masih memiliki beberapa unsur keastian.Jurnal Legalitas VoL 3 No.2
3. Golongan III: lingkungan
Yang hanya memenuhi3 kriteria,
Yang telah banYak Perubahan dan kurang mempunYai keaslian.Bangunan cagar budaYa sendiri dibagi dalam 3 golongan, Yaitu:
1. Bangunan cagar budaYa Golongan
A: bangunan Yang
memenuhikriteria nilai sejarah dan keaslian
2.
Bangunan cagar budaYa GolonganB: bangunan Yang
memenuhikriteria keaslian,
kelangkaan, landmark, arsitektur, dan umur'3.
Bangunan cagar budaYa GolonganC: bangunan Yang
memenuhikriteria umur dan arsitektur'
Manfaat dari
PengembanganBCB di kemudian hari
haruslahmemiliki
nilai
pemanfaatan mulai dari manfaat ideologik, Manfaat akademik, dan juga memberikan manfaat ekonominamun sejalan dengan itu
semuadiperlukan pengelolaan kawasan dan
pelestarian kawasan Yang
harusditingkatkan.
Keberadaan BCB
sangatlahpenting dikarenakan BCB memiliki hal
- hal sebagai berikut:
Pertama,Kekunoan (orchais)' Kedua,
NilaiSejarah,
ketiga,
Keunikan' KeemPat'Kelangkaan. Kelima' Bentuk
danwujud Yang
menunjukan keindahan' kemegahan dan nilai seni'Landasan Hukum
1. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32
Pasal ini menYatakan
:"Pemerintah memajukan kebudayaan nasional lndonesia". Dalam penjelasan dinyatakan : "Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan Yang
tirnbul dari
buahusaha budidaYa rakYat
Indonesiaseluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh
Indonesia terhitung
sebagaikebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan menuju kearah kemajuan adab, budaya, dan persatuan dengan
tidak
menolakbahan-bahan
baru dari
kebudaYaanasing yang dapat memperkembangkan
dan
memperkaYa kebudaYaan bangsasendiri serta mempertinggi
derajatkemanusiaan Indonesia".
2.
Undang-Undang IndonesiaNo. 5
Th.Benda Cagar BudaYa Undang-Undang
Republik 1992 tentang
Republik Indonesia
No. 5 Th. 1992
tentangBenda Cagar Budaya merupakan wujud murni bahwa penanganan benda cagar budaya dilakukan secara khusus dan
dilindungi
undang-undang' Sehingga dalam pasal2
sangat jelas disebutkan,"Perlindungan benda cagar budaya dan situs bertujuan untuk melestarikan dan memanfaatkannYa
untuk
memajukankebudayaan nasional Indonesia'
3. KetetaPan
MPRrviMPR/1999 Dalam TaP MPR satunya
"Mengembangkan
Nomor
tersebut salah menyebutkan
dan
membinaJurnal Legalitas VoL
i
No- 2kebudayaan nasional Indonesia yang bersumber dari warisan budaya leluhur
bangsa, budaya nasional
yangmengandung nilai-nilai
universal termasuk kepercayaan terhadap TuhanYang Maha Esa dalam
rangka mendukung terpeliharanya kerukunan hidup berrnasyarakat dan membangun peradaban bangsa".Sifat Benda Cagar
Budaya, antaralain
sebagaiberikut:
pertama,Unik.
Kedua, Langka. Ketiga, Rapuh.Keempat, Tidak dapat
diperbarui.Kelima, Tidak bisa
digantikan olehteknologi dan bahan yang
sama.Keenam,
Signifikan (penting)
berisibukti-bukti aktivitas manusia
masa lampau.Upaya pelestarian
situs berpedomanpada
ketentuan tentang penangananbenda cagar
budaya sebagaimana termuat dalam Undang- Undang Nomor5
Tahun 1992 tentang BendaCagar
Budaya padaBab
V, pasal 18, ayat 3 adalah sebagai berikut:"Ketentuan mengenai tata
cara pengelolaan benda cagar budaya dansitus ditetapkan dengan
peraturanPemerintah". Dari ketentuan
danperaturan tersebut maka
dalampengolahan perlindungan
danpemeliharaan
situs
beserta bcb-nyasecara teknis dilakukan
berdasarPeraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1993 pasal23 ayat (l) "perlindungan
danpemeliharaan
benda cagar
budaya dilakukan dengan cara penyelamatan,pengamanan, perawatan,
danpemugaran ; ayat (Z)
..Untukkepentingan perlindungan benda cagar budaya
dan situs diatur
batas-batas situs dan lingkungannya sesuai dengan kebutuhan;
ayat(3)
Batas-batas situsdan lingkungannya
sebagaimana dimaksuddalam
ayat(2)
ditetapkandengan sistim
pemintakatan yangterdiri dari
mintakatinti,
penyangga, dan pengembanga.Siapa Pemilik Benda Cagar Budaya Seperti
telah
dijelaskan dalam Undang-UndangNomor : 5
Tahun1992 bahwa benda cagar
budaya dibedakan menjadidua yaitu
benda bergerakdan tidak
bergerak. Untuk bendacagar
budayayang
bergerak biasanyadimiliki
secara perorangan,baik
diperoleh secara turun-temurunatau
diperoleh secaratidak
sengaja (penemuan). Misalnya berbagai jenis senjata seperti keris, tombak, pedang;perkakas rumah tangga seperti benda- benda keramik asing, maupun berbagai perhiasan
yang berasal dari
masa lampau.Selain
itu,
adapula benda cagar budaya bergerakyang tidak
bertuan seperti benda-bendayang
ditemukan tergeletakdi
pekarangan maupun di persawahanpenduduk, akan
tetapipemiliki
sawah maupun pekarangan tersebut tidak merasamemiliki
bendatersebut. Misalnya
arca-arca lepas, lesung batu, yoni tnaupun lingga yangditemukan di
pekarangan maupun persawahan milik masyarakat.Jurnal Legalitas VoL i&o.
i
Untuk benda-benda
tidak bergerak pada umumnyadimiliki
dandikuasai oleh pemerintah' Antara lain
seperti
gua-gua, benteng, bangunanatau monument megalitik,
candi,klenteng, serta masjid dan gereja tua
yang mempunyai konteks
dengankehidupan masa prasejarah.
Pembahasan
Keberadaan benda cagar budaYa di Provinsi Gorontalo masih rawan dari kerusakan dan kemusnahan, baik yang disebabkan
oleh faktor
alam maupunulah manusia. Untuk itu perlu diungkap bagaimana
perlindungan
hukumnYadan
apakah peraturan perundangan- undanganyang ada
sudah memadai dalam upaya memberikan perlindungan terhadap benda-benda tersebut.Provinsi Gorontalo
banYakmenyimpan
tinggalan Benda
Cagar Budaya, yang sampai sekarang tinggal reruntuhan ataupun yang masih utuh.Untuk menjaga kelestarian
Benda Cagar Budaya tentunya membutuhkanperlakuan
khusus dalammenanganinya. Benda cagar budaya di Provinsi Gorontalo secara garis besar
bisa
dibedakanmeniadi dua
Yaitubenda cagar budaya Yang PaCa saat ditemukan sudah
tidak
dimanfaatkanlagi
seperti fungsi semula atau seringdisebut dead
monumentdan
benda cagar budaya yang masih dimanfaatkanseperti fungsi semula atau
livingmonument.
Dari
segi pengelolaannya benda cagar budaya Provinsi Gorontalo yang merupakan dead monument ataumonumen mati hampir keseluruhannya
dikelola oleh
Pemerintah, sedangkan living monument atau monumen hidup ada yang dikelola oleh Pemerintah danada pula yang dikelola
olehmasyarakat, kelompok atau perorangan' Mengingat benda cagar budaYa
di
Provinsi Gorontalo sudah berumurlebih dari 50 tahun, maka
sudahselayaknya
bila
mengalami kerusakan.Oleh karena itulah
PerlunYa perlindungan dan pemeliharaan bendacagar budaya. Perlindungan
dan pemeliharaan atau pengelolaan benda cagar budaya dan situs pada dasarnya menjadi tanggung jawab pemerintah diProvinsi Gorontalo,
meskiPundemikian masyarakat, kelompok, atau
perorangan dapat berPeran
serta.Bahkan masyarakat yang memiliki atau
menguasai benda cagar
budaYadibebani pula kewajiban
untukmelindungi dan
melestarikannYa lengkap dengan sanksi hukumnYa.Bertolak dari hal tersebut
di
atasmaka, diperlukan peran serta aktif semua pihak untuk
melestarikan bangunan bersejarah, khususnYa di Provinsi Gorontalodalam
mengelolaBenda Cagar Budaya. Pemugaran yang dilakukan untuk melestarikan bangunan
keaslian Benda Cagar BudaYa
diProvinsi
Gorontalo,seringkali
tidak tepat sasaran, bahkan menghilangkankeaslian dari bangunan
tersebut.Pemugaran adalah
serangkaiankegiatan yang bertujuan
untuk mengembalikan keaslian bentuk bendacagar budaya dan
mernperkuat Jurnal Legalilas VoL 3 No.2strukturnya bila diperlukan, yang dapat dipertanggungjawabkan
dari
segiarkeologis, historis, dan teknis dalam upaya pelestarian benda cagar budaya.
Pemugaran dapat atau
meliputikegiatan o'restorasi,
rekonstruksi, rehabilitasi, dan konsolidasi.a. Restorasi benda cagar budaya adalah suatu kegiatan pemugaran yang mengarah pada pekerjaan yang bersifat membongkar bangunan
asli
secaramenyeluruh, tetapi
tidak
mengadakan penggantian bahan bangunan secara menyeluruh.b. Rekonstruksi adalah kegiatan penyusunan kembali struktur bangunan yang rusak/runtuh yang pada umumnya bahan-bahan bangunan yang asli sudah
banyak
yang hilang. Dalam hal
inidapat menggunakan
bahan-bahan bangunan yang baru tetapi harus sesuai dengan bahan aslinya.c. Rehabilitasi adalah
satubentuk pemugaran yang
sifatpekerjaannya hanya
memperbaikibagian-bagian bangunan
yang mengalami kerusakan.Hal ini
berlaku pada tingkat kerusakan yang kecil.d.
Konsolidasi adalah pemugaranyang hanya bersifat
memperkuatbagian bangunan yang
rusak.Kegiatannya hanya dilakukan
di tempat-tempat tertentu saja, dan tidak membongkar bangunan keseluruhan.Beberapa pemugaran
yangdilakukan di Provinsi
Gorontalo, terkesan menghilangkannilai -
nilaikeaslian bangunan Benda
CagarBudaya. Kalau dilihat
dari
definisi di atas, maka bangunan atau bahan asliharus sebisa mungkin
dapat dipertahankan,atau di cari
yangmendekati keasliannya. Namun banyak pemugaran yang dilakukan
di
Provinsi Gorontalo dengan mengganti bahan yang lama dengan bahan yang baru, ini adalah salah satu contohdari
sekian banyakhasil
restorasi Benda Cagar Budaya yang menghilangkan nilai-nilai keasliannya.Kurangnya apresiasi
terhadap benda cagar budaya menjadi salah satufaktor
semakintingginya
ancaman,seperti
perusakan,dan
pemalsuanterhadap benda cagar budaya yang ada
di Provinsi Gorontalo
Kondisitersebut diperparah lagi
dengankurangnya sosialisasi tentang hukum perlindungan terhadap
benda
cagarbudaya itu sendiri serta
keadaanekonomi masyarakat yang
masih minim.Masyarakat sekitar
juga
dapatmenjadi
berjarak dengansitus
atau benda cagar budaya tersebut karena perbedaan zaman dankultur.
Sebagai contoh kasus, peninggalan baik berupa situs maupun cagar budayadi
Jawa,misalnya berupa
candi Hindu
atauBuddha,
dan
sudah berusia ratusantahun. Kondisi ini
berbeda dengan kepercayaan dankultur
yang dipeluk masyarakat sekitar cagar budaya saatini
sehingga penghargaan terhadap benda cagar budaya itu pun mengalami pergeseran.Jurnal Legalitas VoL 3 No.2
-
Untuk itu, perlu
terusdisosialisasikan
bahwa
peninggalan sejarah berupa situs dan benda cagar budaya yang ada di Provinsi Gorontalo merupakanbagian dari
perjalanansebuah masyarakat dan bangsa. Situs
dan
benda cagar budaya merupakanjejak
sehinggakita
dapat belajar darimasa lalu, Cagar
budaya sekaligus merupakan identifikasi sebuah bangsa.Tentu kita tidak mau kehilangan jejak
sejarah dan identitas kita
karena kurangnya kesadaran untuk melindungi benda-benda cagar budaya tersebut.Di sisi lain, kerap
kali masyarakatdi sekitar benda
cagar budaya atau situs bersejarah, terutama di Provinsi Gorontalo, tingkat ekonomidan pemahaman tentang
hukumpelrlindungan terhadap benda cagar budaya masih kurang baik,
Dengan demikian perlru adanya keseriusan
dari
pemerintah ProvinsiGorontalo dalam hal
menanganimasalah
ini
karena keberadaan bendacagar budaya masih rawan
dari kerusakan dan kemusnahan, baik yang disebabkanoleh
faktor alam maupun ulah manusia. Untuk itu perlu diungkap bagaimanaperlindungan
hukumnyadan
apakah peraturan perundangan- undanganyang ada
sudah memadai dalam upaya memberikan perlindungan terhadap benda-benda tersebut.Hasil penelitian
menunjukkan,meskipun peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan benda cagar budaya sudah ada, yaitu Undang- undang
No. 5 Tahun
1992 besertaaturan-aturan
lainnya, tetapi
dalam Undang-undangitu masih
terdapatkelemahan terutama tentang hakekat benda cagar budaya
itu
sendiri dalamkaitannya dengan ketentuan
yang mengatur sanksi pidana. Banyak bendapeninggalan
sejarah dan
purbakalayang bukan benda cagar
budaya,padahal sesuai Pasal 26
Undang-undang
No. 5 tahun 1992,
sanksipidana hanya ditujukan
kepadaseseorang yang merusak benda cagar budaya.
Hal ini
akan berimplikasi dalampenegakan hukumnya.
Sedangkan untuk koleksi benda cagar budaya yang adadi
Provinsi Gorontalo, selama ini keamanannya dapat terjaga, dalam arti belum pernah terjadi kasus hilangnyaatau dicurinya
bendacagar
budaya tersebut. Yang menjadi kendala dalam pemeliharaandan
perawatan koleksibenda cagar budaya di
ProvinsiGorontalo, terutama faktor dana yang terbatas, masih sedikitnya sumber daya manusia yang ahli atau trampil, masih kurang baiknya sarana dan prasana itu
seidiri serta masih
kurangnyasosialisasi tentang hokum
danperaturan perundang-undangan yang berkaitan dengan benda cagar budaya ,
sehingga
akan
berpengaruh terhadapkualitas penyajian dan
pelayanankepada masyarakat.
Kesimpulan
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai warisan budaya masa
lalu. Pelestarian budaya warisan masa
ry
Jurnal Legalitas VoL 3 No.2lalu
merupakan tanggungjawab
kita bersam4 untuk melestarikan nilai-nilailuhur budaya nenek moyang
kita.Warisan budaya masa lalu yang ada di Provinsi Gorontalo merupakan sarana
untuk mempelajari dan
menelusuri sejarahdan
budaya masalalu
yang perlu dilestarikan keberadaannya.Pelestarian benda cagar budaya merupakan
inspirasi bagi
kelanjutanperjuangan kita dan
menjauhkanterjadinya keterasingan sejarah yang
dapat mengakibatkan
kemiskinan budaya.Maka dari itu di
provinsiGorontalo perlu ditumbuh kembangkan pemahaman tentang pelestarian benda
cagar
budaya,yaitu
dengan selalu memperhatikan keserasian,keseimbangan,
dan
kesinambungan antaraSelain apa yang telah dijelaskan
di atas, bantuan dan
dukunganmasyarakat
yang ada di
provinsiGorontalo sangat diperlukan, karena
pada
hakekatnya pelestarian bendacagar budaya tersebut
menjadi tanggungjawab kita. Untuk
itulahsebagai bangsa yang besar
danberbudaya marilah kita
lestarikan warisan kebudayaan masalalu
yangada
di
Provinsi Gorontaloitu
sendiriuntuk kebesaran daerah
provinsiGorontalo
khususnyadan
bangsa Indonesia tercinta pada umumnya.Gorontalo sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan cara sebagai berikut:
l. Perlindungan hukum
dan penetapan sebagai benda cagar budaya, sebab peraturan yang diterbitkan olehpemerintah kabupaten dan
kota maupun pemerintah propinsi, misalnya PeraturanDaerah, Surat
KeputusanBupati, Walikota,
ataupun Gubernuryang
gaungnyaakan
langsung dapatditerima oleh masyarakat
luas.Demikian pula dengan penetapan yang menyatakan suatu obyek adalah benda
cagar budaya agar
mempunyai kekuatan hukum. Untuk itu, diusulkanpenetapan dapat dilakukan
olehpemerintah kabupaten kota
yangdibantu oleh tenaga ahli
yangberkompenten dalam bidangnya.
2. Perlindungan secara
fisik,
halini
perlu dilakukan untuk menghindari campur tangan pihak-pihaklain
yangtidak berwenang dalam
sistempengelolaan benda cagar
budaya.Langkah awal dalam
perlindungan secarafisik
adalah melakukan zoningatau penetapan daerah.
Langkah penetapan daerahini
selain bertujuanmelestarikan obyek, juga
dapat mengakomodasi kepentingan- kepentingan lain terutama yang terkaitdengan
pemanfaatanbenda
cagat budaya tersebut.Saran
Dalam upaya pelestarian benda
cagar budaya
yang ada di
provinsiJurnal Legalitas VoL 3 No.2
Gunadi,
Gunadi,
I
MadeDaftar Pustaka
|999 a. " P ola P ertamanan Situs-Situs P ras ei arah di Indones ia ", Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala
1996. "Pemikiran Kembali
TentangPengertian
Situs Arkeologi", Pertemuan llmiah ArkeologivII,
Proyek Penelitian Arkeologi Jakarta Suantra., Pelestarian Benda cagar Badaya, Makalah seminar Hukum diProgram
Studi Ilmu Hukum
Program Pasca Sarjana Universitas SriwijaYaPedoman
Teknis
Pemugaran BangunanGedung dan
Lingkungan (kaidah pemugaran), Dinas Kebudayaan dan PermuseurnanUndang-undang RI no 5 tahun 1992 tentangBenda Cagar Budaya
t
Jurnal Legalius VoL
i
No.2