ASBABUN NUZUL
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi Al-Qur’an
Dosen Pengampu:
Ibu Thriska Afifandasari, M. Pd.
Disusun Oleh:
Rohmatul Lativa 23204013
Laili Nuur Qomariyah 23204021
PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KEDIRI 2023
ii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Asbabun Nuzul” tepat pada waktunya. Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat Islam dari jalan kegelapan menuju jalan terang benderang yakni Addinul Islam Wal Iman.
Pada kesempatan kali ini, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada pihakpihak yang telah membantu dan mendukung dalam proses penyusunan makalah ini.
Adapun disusunnya makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Studi Al-Qur’an dengan Ibu Thriska Afifandasari, M. Pd sebagai dosen pengampu. Serta untuk menambah wawasan bagi pembaca dan penulis khuusnya mengenai Asbabun Nuzul.
Penulis menyadari bahwa dalam menulis makalah ini terdapat banyak kekurangan, baik dari segi EBI, kosakata, tatabahasa, etika, maupun isi. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran seluas-luasnya dari pembaca yang kemudian akan penulis jadikan sebagai evaluasi sehingga membuat makalah ini menjadi lebih baik serta bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
Kediri, 28 Februari 2024 Penulis
iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 1
C. Tujuan Penulisan ... 2
BAB II ... 3
PEMBAHASAN ... 3
A. Pengertian Asbabun Nuzul ... 3
B. Macam-Macam dan Pembagian Asbabun Nuzul ... 4
C. Redaksi Asbabun Nuzul ... 9
D. Manfaat Mempelajari Asbabun Nuzul ... 12
BAB III ... 13
PENUTUP ... 13
A. Kesimpulan ... 13
B. Saran ... 13
DAFTAR PUSTAKA ... 14
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan wahyu yang Allah SWT berikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril, yang mencakup kata-kata dan artinya secara lengkap. Sebagai kitab yang suci bagi umat Islam, Al-Qur’an dianggap sebagai sumber utama dan paling penting dari semua prinsip Islam. Al-Qur’an memiliki fungsi utama sebagai panduan yang memberikan arahan kepada manusia untuk mencapai kehidupan yang baik dan bahagia di dunia maupun di akhirat.
Al-Qur’an turun sebagai panduan yang jelas bagi manusia, mengarahkan mereka ke jalan yang benar dan lurus, serta menegakkan prinsip-prinsip kehidupan yang mendasar atas dasar iman kepada Allah SWT dan ajaran-Nya. Pada awalnya, Al-Qur'an diturunkan untuk tujuan-tujuan umum ini. Namun, dalam perjalanan hidupnya, Rasulullah dan para sahabat menyaksikan berbagai peristiwa sehari-hari. Kadang- kadang, kejadian khusus membutuhkan penjelasan hukum Allah, atau pertanyaan tertentu diajukan kepada Rasulullah untuk meminta kejelasan hukum agama atau penjelasan rinci tentang masalah-masalah keagamaan. Al-Qur'an turun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut atau menjelaskan kejadian khusus tersebut. Asbabun Nuzul adalah istilah yang mengacu pada konteks historis atau penyebab turunnya ayat- ayat Al-Qur'an dalam situasi-situasi seperti ini.
Dalam makalah ini, kami akan membahas tentang Asbabun Nuzul, yaitu peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi diturunkannya ayat-ayat Al-Qur’an, juga membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan Asbabun Nuzul yang meliputi pengertian, macam-macam dan pembagian, redaksi, berbilangnya suatu ayat, serta manfaat mempelajari Asbabun Nuzul.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Asbabun Nuzul?
2. Apa saja macam-macam dan pembagian Asbabun Nuzul?
3. Apa yang dimaksud dengan redaksi Asbabun Nuzul?
4. Apa yang dimaksud dengan berbilangnya Asbabun Nuzul suatu ayat?
2
5. Apa saja manfaat mempelajari Asbabun Nuzul?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian dari Asbabun Nuzul.
2. Mengetahui macam-macam dan pembagian Asbabun Nuzul.
3. Mengetahui beberapa redaksi Asbabun Nuzul.
4. Mengetahui berbilangnya Asbabun Nuzul suatu ayat.
5. Mengetahui manfaat mempelajari Asbabun Nuzul.
3
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Asbabun Nuzul
Asbabun Nuzul merupakan dua kata, yaitu asbab dan nuzul. Asbab berarti sebab, karena atau lantaran. Nuzul artinya turun. Secara bahasa, Asbabun Nuzul adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Namun, tidak semua yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu bisa disebut Asbabun Nuzul, istilah ini hanya digunakan untuk melatarbelakangi sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an.1 Secara syariat, Asbabun Nuzul adalah sebab-sebab yang mengiringi diturunkannya ayat-ayat Al Qur’an kepada Rasulullah, lantaran ada suatu peristiwa yang membutuhkan penjelasan atau pertanyaan, dan itu membutuhkan jawaban.2 Dikarenakan Asbabun Nuzul, maka terciptalah suatu hukum yang menerangkan atau menjawab peristiwa maupun pertanyaan tersebut.
Menurut Az-Zarqani dalam bukunya Manāhil al-‘Urfān fī ‘Ulūm Al-Qur’ān, pengertian asbāb annuzūl adalah sesuatu yang menyebabkan satu ayat atau beberapa ayat diturunkan untuk membicarakan sebab atau menjelaskan hukum sebab tersebut pada masa terjadinya sebab itu.3 Subhi As-Salih mengartikan asbabun nuzul sebagai sesuatu yang menjadi sebab turunnya sebuah ayat atau beberapa ayat, atau suatu pertanyaan yang menjadi sebab turunnya ayat sebagai jawaban, atau sebagai penjelasan yang diturunkan pada waktu terjadinya suatu peristiwa.4 Sedangkan Hasbi Ash- Siddieqy mendefinisikan asbabun nuzul sebagai kejadian yang karenanya diturunkan Al-Qur’ān untuk menerangkan hukumnya di hari timbul kejadian-kejadian itu dan suasana yang di dalam suasana itu al-Qur’an diturunkan serta membicarakan sebab yang tersebut itu, baik diturunkan langsung sesudah terjadi sebab itu, ataupun kemudian lantaran sesuatu hikmat.5 (Zaini, 2014)
1Fawaid, Ach, Asbabun Nuzul, (Yogyakarta: Noktah, 2020), hlm 9.
2Rosihan Anwar, Ulum Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm 60.
3 Az-Zarqani, Manāhil al-‘Urfān fī ‘Ulūm Al-Qur`ān (al-Qāhirah: Dār alHadīs\, 2001), hlm. 95.
4 Subhi as-Salih, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur`an, terj. Tim Pustaka Firdaus (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), hlm. 160.
5 Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur`an/Tafsir (Jaka ta: Bulan Bintang, 1980), hlm. 78.
4
Para ulama bersepakat bahwa dengan mengetahui sebab turunnya sebuah ayat dapat membantu memahami dan megetahui kebenaran dari sebuah isi kandungan ayat al-qur’an dan rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Para ulama hadits sangat mengandalkan hal tersebut dan mengandalkannya memberikan perhatian yang sangat banyak terhadap hadis-hadits asbabun nuzul karena ini menjadi tolok ukur dalam keberhasilan mereka untuk mendapatkan jawaban yang benar.6 Pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur'an didapat melalui pendekatan historis, sosial, dan perilaku pada masa itu. Kajian asbabun nuzul penting karena melibatkan penelitian teliti terhadap budaya dan tradisi saat itu serta konteks masyarakat. Pemahaman yang komprehensif membantu mufassir memberikan jawaban relevan terhadap masalah baru. Pemahaman mendalam terhadap budaya memperoleh kepercayaan masyarakat terhadap interpretasi Al-Qur'an agar tidak salah dalam penafsiran.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Asbabun Nuzul adalah pemahaman tentang sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur'an. Asbabun Nuzul digunakan khusus untuk menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur'an, terkait dengan peristiwa atau pertanyaan yang memerlukan penjelasan atau jawaban. Asbabun Nuzul menurut berbagai ulama mengacu pada apa yang menjadi penyebab turunnya ayat atau beberapa ayat, baik sebagai jawaban atas pertanyaan, penjelasan terhadap suatu peristiwa, atau untuk menerangkan hukum pada masa terjadinya peristiwa tersebut.
B. Macam-Macam dan Pembagian Asbabun Nuzul
Dari segi bentuknya, Asbabun Nuzul dapat dibagi menjadi dua macam yaitu berbentuk peristiwa dan berbentuk pertanyaan.7 Sebab-sebab turunnya ayat yang dalam bentuk peristiwa ada tiga macam.
a. Peristiwa berupa pertengkaran seperti perselisihan yang berkecamuk antara segolongan dari suku aus dan segolongan dari suku khazraj. Perselisihan itu timbul dari intrik-intrik yang ditiupkan orang-orang yahudi sehingga mereka berteriak senjata-senjata. Karena peristiwa ini maka turunlah beberapa ayat dari surat Ali Imran yang ayat 100:
6Muhammad Husain Thaba’thabai’i, 2000. Memahami Esensi Al-Qur’an.
(Jakarta:Lentera, 2000)
7Ahmad Yasir Al Amin & Nashruddin Baidan, “URGENSI ASBABUN NUZUL BAGI
SEORANG MUFASSIR DALAM MENAFSIRKAN AYAT AL-QUR'AN”, Jurnal Pendidikan dan Dakwah, Vol. 4, No. 1, 2024, (https://doi.org/10.58578/anwarul.v4i1.2360)
5
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti segolongan dari orang yang diberi Alkitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang- orang kafir setelah beriman.” (Q.S. Al-Imran:100)
Hingga beberapa ayat berikutnya yang memperingatkan kedua suku ini untuk menghindari dari bercerai-berai dan permusuhan dan mengingatkan untuk tetap menjalin kasih sayang, persatuan dan kesatuan.8
b. Peristiwa berupa kesalahan yang serius seperti yang dikemukakan dalam suatu riwayat bahwa Abdurrahman bin Auf mengundang makan Ali dan kawan- kawannya, kemudian dihidangkan minuman khamr (Arak, minuman keras), sehingga terganggu otak mereka. Saat tiba waktu shalat, orang-orang menyuruh Ali menjad imam, dan pada waktu beliau membaca ayat keliru.9
c. Peristiwa berupa cita-cita dan keinginan seperti persesuaian-persesuaian umar bin Khattab dengan ketentuan ayat-ayat al-Qur’an. Dalam sejarah ada beberapa harapan Umar yang dikemukakannya kepada Nabi Muhammad SAW. Kemudian turun ayat-ayat yang kandungnnya sesuai dengan harapan Umar tersebut.10
Dan adapun sebab-sebab turun ayat dalam bentuk pertanyaan ada tiga macam.
a. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang telah lalu.
Rasulullah SAW. mendapatkan pertanyaan yang berhubungan tentang masa lalu, kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat. Sebagaimana dalam kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, karya Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar mudarris tafsir Universitas Islam Madinah, menjelaskan bahwa orang-orang musyrikin Quraisy datang kepada Yahudi dan berkata: Sesungguhnya ada orang di kalangan kami yang mengaku sebagai Nabi. Kemudian Yahudi berkata: Tanyakan kepadanya 3
8 Syukraini Ahmad, “ASBAB NUZUL (Urgensi Dan Fungsinya Dalam Penafsiran Ayat AlQurAn),” El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Tafsir Hadis 7, no. 2 (2021): H. 96.
9 Fa’iqo Kumalasari, ASBABUN NUZUL Turunnya Al-Qur’an (SURABAYA: UIN SUNAN AMPEL, 2020), H. 9,
https://www.academia.edu/download/67457707/Fa_iqo_Kumalasari_04010120009 _A1.pdf.
10 Ramli Abdul Hamid. 1994. Ulumul Qu’ran. (Jakarta: PT Raja Grafino Persada). Cet.2, 30-31
6
hal, kalau ia bisa menjawabnya maka ia adalah Nabi. Tanyakanlah: Pertama, tentang keadaan para pemuda yang keluar dari kotanya berlindung ke dalam gua.
Bagaimana keadaan mereka. Kedua, tentang seseorang yang menguasai (perjalanan) ke timur dan barat bumi. Ketiga, tanyakan tentang ruh. Kemudian orang-orang musyrikin itu datang dan menanyakan ketiga hal itu kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam. Nabi kemudian menjawab: Besok aku akan menjawab. Ternyata selama berhari-hari Allah tidak menurunkan wahyu kepada Nabi. Hingga setelah 15 hari kemudian, barulah turun wahyu dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.
b. Pertanyaan yang berhubungan dengan sesuatu yang sedang berlangsung pada waktu itu.ketiga, pertayanan yang berhubungan dengan masa yang akan datang.Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-Aswad ibnu Qais yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Jundub menceritakan bahwa Nabi Saw.
mengalami sakit selama satu atau dua malam hingga beliau tidak melakukan qiyamul lail. Maka datanglah kepadanya seorang wanita dan berkata, "Hai Muhammad, menurut hematku setanmu itu tiada lain telah meninggalkanmu,"
maksudnya malaikat yang membawa wahyu kepadanya. Maka Allah Swt.
menurunkan firman-Nya: Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.
c. Pertanyaan yang berhubungan dengan masa depan
Telah diriwayatkan pula melalui berbagai jalur yang cukup banyak hingga mencapai derajat mutawatir di dalam hadis-hadis sahih, hasan, sunan, dan musnad, yang menurut salah satu teksnya menyebutkan: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari Abu Wa`il dia berkata; Abdullah bin Mas'ud r.a. berkata; "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW. seraya bertanya; "Wahai Rasulullah, bagaimana anda mengatakan mengenai seseorang yang mencintai suatu kaum, namun dia sendiri belum pernah bertemu dengan kaum tersebut?" maka Rasulullah SAW.
bersabda: "Seseorang akan bersama dengan yang di cintainya."
Hadits ini juga diperkuat oleh Jarir bin Hazim dan Sulaiman bin Qarm serta Abu 'Awanah dari Al A'masy dari Abu Wa`il dari Abdullah dari Nabi SAW. Dalam hadis tersebut menceritakan Rasulullah yang sedang dalam perjalanan bersama
7
para sahabat, kemudian berjumpa dengan orang Arab kampung yang dengan lantang memanggil Nabi tanpa menyebutkan gelar kehormatan, mendengar hal tersebut para sahabat kemudian mendatangi orang Arab tersebut akibat perlakuannya yang dianggap kurang sopan, dan meminta orang Arab tersebut untuk memelankan suaranya, namun dia menolak permintaan sahabat
Nabi tersebut dengan alasan agar Nabi dapat mendengarkannya dengan jelas.
Kemudian dia bertanya kepada Nabi mengenai bagaimana jika seseorang mencintai suatu kaum (yang berbuat kebaikan), namun tidak menyerupai mereka, kemudian Nabi menjawabnya dengan santun bahwa seseorang akan bersama dengan yang dicintai.
Dalam hadis ini Rasulullah Saw. tidak menjawabnya dengan jawaban tentang waktunya, melainkan memerintahkan kepada lelaki itu agar membuat persiapan untuk menyambut kedatangan hari kiamat itu. Maka turunlah Firman Allah Ta’ala:
Artinya: Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar- benar dalam kesesatan yang jauh. (QS. Asy-Syuraa: 18)
Dari segi jumlah sebab dan ayat yang turun, asbabun nuzul dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Ta’addud Al-Asbab wa Al-Nazil Wahid
Beberapa sebab yang hanya melatarbelakangi turunnya satu ayat/wahyu.
Terkadang wahyu turun untuk menanggapi beberapa peristiwa atau sebab.11 Misal turunnya Q.S. al-Ikhlas:112 ayat 1-4, yang artinya:
11 Muhammad Ali Ash-shaabuuniy. 1998. At-Tibyaan Fii Uluumil Qur’an, Alih Bahasa oleh
Aminuddin, Studi Ilmu al-Qur’an (Bandung: Pustaka Setia), 52 5 al-Qur’an, 112:1-4
8
“Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia." (al-Ikhlas/112: 1-2)
Ayat-ayat yang terdapat pada surat di atas turun sebagai tanggapan terhadap orang-orang musyrik Makkah sebelum Nabi hijrah, dan terhadap kaum ahli kitab yang ditemui di Madinah setelah hijrah.
b. Ta’addud an-Nazil wa Al-Asbab Wahid
Satu sebab yang melatarbelakangi turunnya beberapa ayat. Contoh Q.S. ad- Dukhan:44 ayat 10, 15, 16, yang artinya:
“Maka, nantikanlah hari (ketika) langit mendatangkan kabut asap yang tampak jelas.” (ad-Dukhan/44: 10)
“Sesungguhnya (kalau) Kami melenyapkan azab itu sebentar saja, pasti kamu akan kembali (ingkar).” (ad-Dukhan/44: 15)
“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang besar. Sesungguhnya Kami adalah pemberi balasan.”
Asbab an-nuzul dari ayatayat tersebut adalah; dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika kaum Quraisy durhaka kepada Nabi SAW. Beliau berdo’a supaya mereka mendapatkan kelaparan umum seperti kelaparan yang pernah terjadi pada zaman nabi yusuf. Alhasil mereka menderita kekurangan, sampai- sampai merekapun makan tulang, sehingga turunlah (QS. ad-Dukhan/44: 10).
Kemudian mereka menghadap Nabi SAW. untuk meminta bantuan. Maka Rasulullah SAW. berdo’a agar di turunkan hujan. Akhirnya hujan pun turun, maka turunnlah ayat selanjutnya (QS. ad-Dukhan/44: 15), namun setelah mereka memperoleh kemewahan mereka pun kembali kepada keadaan semula (sesat dan durhaka) maka turunlah ayat ini (QS. ad-Dukhan /44: 16) dalam riwayat tersebut dikemukakan bahwa siksaan itu akan turun di waktu perang badar. (Faradisa, n.d.)
9
Menurut al-Jabari, al-Qur’an diturunkan dalam dua kategori. Pertama, turun tanpa sebab dan yang kedua, turun karena suatu peristiwa maupun pertayaan. Oleh karena itu, maka Asbabun Nuzul didefinisikan sebagai sesuatu yang karenanya al- Qur’an diturunkan sebagai penjelas terhadap apa yang terjadi baik berupa peristiwa atau pertanyaan.
Sedangkan menurut al-Zarkasyi, sebab turunya ayat al-Qur’an ada dua kemungkinan sebagai berikut.
a. Adanya pertanyaan yang ditujuhkan kepada Nabi.
b. Adanya peristiwa tertentu yang bukan dalam bentuk pertanyaan.
Atas dasar dua kemungkinan sebab turunnya ayat al-Qur’an tersebut, maka al- Zarkasyi menyusun pengertian asbabun nuzul secara lengkap sebagai berikut: Asbabun Nuzul ialah suatu yang turun satu ayat atau beberapa ayat berbicara tentang (Sesuatu itu)atau menjelaskan ketentuan-ketentuan hukum yang terjadi pada waktu terjadinya peristiwa tersebut.
C. Redaksi Asbabun Nuzul
Redaksi Asbabun Nuzul merupakan salah satu pembahasan penting yang mendapat perhatian para ulama karena persoalan ini dapat menjadi pertimbangan yang penting dalam menetapkan validitas sebuah sebab nuzul ayat, terutama jika terdapat beberapa sebab nuzul yang disematkan pada satu ayat atau beberapa ayat Al- Qur’an.
Berdasarkan penelitian para ulama, redaksi dalam riwayat-riwayat Asbabun Nuzul ada dua macam, yaitu sebagai berikut:
a. Ungkapan yang jelas dan tegas bahwa peristiwa yang disebutkan dalam suatu riwayat merupakan sebab nuzul ayat Al-Qur’an
Dalam beberapa riwayat Asbabun Nuzul, bentuk ungkapan ini biasanya dinyatakan para sahabat dengan ungkapan, “Sebab nuzul ayat ini adalah peristiwa ini.”
Namun, ada juga yang berbentuk kalimat yang menceritakan sebuah peristiwa, kemudian di akhir cerita, disebutkan kata sambung “fa” yang digabung dengan kata “nazala.”
Bentuk jelas dan tegas dari Asbabun Nuzul dapat dilihat dari beberapa bentuk berikut.
a) Periwayat hadis menyatakan, “Sebab nuzul ayat ini adalah ini.”
10
b) Periwayat hadis menceritakan sebuah peristiwa yang ujungnya ditutup dengan pernyataan, “Lalu turunlah ayat ini.”
c) Adanya pertanyaan kepada Nabi yang kemudian dijawab oleh Allah dengan turunnya ayat Al-Quran.
Contoh ayat yang memiliki sebab nuzul yang mengandung ungkapan jelas dan tegas, diantaranya adalah Surah al-Baqarah/2: 222,
“Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah suatu kotoran.” Maka, jauhilah para istri (dari melakukan hubungan intim) pada waktu haid dan jangan kamu dekati mereka (untuk melakukan hubungan intim) hingga mereka suci (habis masa haid). Apabila mereka benar-benar suci (setelah mandi wajib), campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
Turunnya ayat ini untuk mengoreksi sikap orang Yahudi terhadap istri mereka yang sedang haid.
b. Ungkapan yang tidak secara jelas dan tegas menyatakan suatu peristiwa sebagai Asbabun Nuzul ayat Al-Qur’an
Ungkapan yang semacam ini bisa jadi menyiratkan sebuah riwayat sebagai Asbabun Nuzul dan bisa juga bukan Asbabun Nuzul melainkan hanya penjelasan atau tafsir terhadap maksud serta kandungan ayat Al-Qur’an. Contoh pernyataan sahabat yang menunjukkan sebab nuzul adalah kisah yang terkait turunnya Surah an-Nisa’ / 4:59.
11
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat).”
Sedangkan contoh ungkapan sahabat yang dimaksudkan menjelaskan kandungan ayat adalah kisah terkait Surah al-Hajj/22: 19,
“Inilah dua golongan (mukmin dan kafir) yang bertengkar. Mereka bertengkar tentang Tuhan mereka. Bagi orang-orang yang kufur dibuatkan pakaian dari api neraka. Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih.”
Abu Zarr bersumpah bahwa ayat ini turun terkait dengan orang-orang yang turut serta dalam Perang Badar, seperti Hamzah, Ali, Ubaidah bin al-Haris, Utbah, Syaibah, dan al-Walid bin Utbah.
Walaupun secara umum bentuk redaksi asbabun nuzul mencakup dua bentuk tersebut, namun berdasarkan beberapa hasil penelitian kedua bentuk tersebut tidak berlaku secara kaku dan rigid. Sehingga dapat dikatakan bahwa sebenarnya Asbabun Nuzul tidak memiliki bentuk ungkapan yang pasti karena riwayat-riwayat yang mengandung dua bentuk ungkapan tersebut dapat menunjukkan Asbabun Nuzul dan dapat pula menunjukkan penjelasan terhadap ayat-ayatnya saja.
12
D. Manfaat Mempelajari Asbabun Nuzul
Mempelajari Asbabun Nuzul dengan baik, akan memberikan manfaat, sebagai berikut:
a. Mengetahui hikmah dan rahasia diundangkannya sebuah hukum dan perhatian syariat terhadap kepentingan umum tanpa membedakan etnik, jenis kelamin dan agama. Jika dikaji secara cermat dan mendalam, proses penetapan hukum berlangsung secara manusiawi. Misalnya, penghapusan minuman keras.
b. Membantu memperjelas maksud suatu ayat. Misalnya, Urwah ibn Zubair mengalami kesulitan untuk bisa memahami hukum fardhu sa’i antara Safa dan Marwah.
c. Membantu seseorang untuk melakukan pengkhususan (takhshish) yaitu hukum terbatas pada sebab-sebab tertentu. Misalnya, proses turunnya ayat-ayat zhihar pada permulaan surat al-Mujadalah, tepatnya kasus Auf ibn al Shamit yang menzhihar istrinya, Khaulah bint Hakam ibn Tsa’labah. Hukum yang terkandung dalam ayat-ayat ini hanya berlaku bagi keduanya.
d. Membantu seseorang lebih memahami apakah suatu ayat itu berlaku umum atau khusus, serta dalam hal apa ayat itu harus diterapkan.
e. Memudahkan seseorang dalam menghafal ayat-ayat Al-Quran, sebab hubungan antara sebab dan akibat hukum, peristiwa dan pelaku, masa dan tempatnya, dan semua itu merupakan faktor-faktor yang akan menyebabkan mantapnya juga terlukisnya sesuatu dalam ingatan.
13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Asbabun Nuzul adalah pemahaman tentang sebab-sebab turunnya ayat Al- Qur'an, terutama terkait dengan peristiwa atau pertanyaan yang memerlukan penjelasan atau jawaban. Kajian ini melibatkan penelitian teliti terhadap budaya, tradisi, dan konteks masyarakat pada masa itu. Memahami sebab turunnya sebuah ayat membantu memahami isi kandungan Al-Qur'an serta rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Ini penting bagi mufassir untuk memberikan jawaban relevan terhadap masalah baru dan mendapatkan kepercayaan masyarakat terhadap interpretasi Al-Qur'an agar tidak salah dalam penafsiran. Definisi Asbabun Nuzul menurut para ulama mencakup apa yang menjadi penyebab turunnya ayat, baik sebagai jawaban atas pertanyaan, penjelasan terhadap suatu peristiwa, atau untuk menerangkan hukum pada masa terjadinya peristiwa tersebut.
Berdasarkan bentuknya, Asbabun Nuzul terdapat dua macam, yaitu: berbentuk peristiwa dan berbentuk pertanyaan. Berdasarkan jumlah sebab dan ayat yang turun, asbabun nuzul dapat dibagi menjadi dua: Ta’addud Al-Asbab wa Al-Nazil Wahid (beberapa sebab untuk satu ayat) dan Ta’addud an-Nazil wa Al-Asbab Wahid (satu sebab untuk beberapa ayat). redaksi Asbabun Nuzul merupakan perhatian penting bagi para ulama karena dapat menjadi pertimbangan dalam menetapkan validitas suatu sebab turunnya ayat Al-Qur'an. Dalam penelitian para ulama, terdapat dua macam redaksi dalam riwayat-riwayat Asbabun Nuzul: Ungkapan yang jelas dan tegas serta Ungkapan yang tidak jelas dan tegas. Dengan mempelajari Asbabun Nuzul, kita dapat memahami kandungan teks dan keadaan yang menyertai peristiwa yang terjadi ketika Al-Quran diturunkan, sehingga memahami hikmah di balik penetapan hukum-hukum Allah SWT dan memahami makna ayat Al-Quran dengan lebih baik.
B. Saran
Dengan disusunnya makalah ini, penulis mengharapkan pembaca dapat menambah pengetahuan dari pembahasan Asbabun Nuzul yang telah disampaikan serta memberikan kritik dan saran yang membangun dari pembaca agar makalah ini dapat lebih baik lagi.
14
DAFTAR PUSTAKA
Al Amin, Ahmad Yasir; Baidan, N. (2023). URGENSI ASBABUN NUZUL BAGI SEORANG MUFASSIR DALAM MENAFSIRKAN AYAT AL-QUR’AN. 4, 196–206.
https://doi.org/10.58578/anwarul.v4i1.2360
Faradisa, S. (n.d.). Asbabun nuzul, Macam-macam, Redaksi, Urgensi, Fungsi, dan Manfaat Mengetahui di Bidang Pendidikan dan Pengajaran.
Mukhlis. (2023). Analisis Kajian Study Asbabun Nuzul :"Urgensi dan Kontribusi Asbabun Nuzul dalam memahami Al-Qur’an" Mukhlis. Jurnal Ilmiah Keagamaan, Pendidikan Dan Dakwah, 19. https://doi.org/10.5281/zenodo.10655989
Muslimah, Siti; Mulyan, Yayan; Medina, C. (2017). URGENSI ASBĀB AL-NUZŪL MENURUT AL-WAHIDI. 1(Juni), 45–56.
Rahmadani, F. H., & Fahmi, K. (2023). Asbabun Nuzul : Definisi , Jenisnya Dan Redaksi Serta Urgensinya. 1(2), 57–60. https://ojs.staira.ac.id/index.php/IJOMSS/index
Suaidi, P. (2016). Asbabun Nuzul : Pengertian, Macam-Macam, Redaksi dan Urgensi.
Almufida, 1(1), 110–122. Retrieved from
https://jurnal.dharmawangsa.ac.id/index.php/almufida/article/view/107
Verda Kirana, P. (2022). Asbabun Nuzul dan Urgensinya dalam Memahami Makna Alqur’an.
Journal Homepage, 12(1), 1979–5173. https://jurnal.educatia.id/ojs3/index.php/educatia Yunan, M. (2020). Nuzulul Qur’an dan Asbabun Nuzul. Al Mutsla:Jurnal Ilmu-Ilimu
Keislaman Dan Kemasyarakatan, 2(1), 43–65.
Zaini, A. (2014). Asbbab an-Nuzul dan Urgensinya dalam memahami al-Quran. Hermeunetik, 8(1), 1–20.