• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASKEB KOMPRE BENDUNGAN ASI

N/A
N/A
P17311203024 ZAQWA KARTIKA NING AMANDA

Academic year: 2025

Membagikan "ASKEB KOMPRE BENDUNGAN ASI"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

POSTPARTUM HARI KETIGA DENGAN BENDUNGAN ASI DI KLINIK SAHABAT SEHAT DESA WAJAK KABUPATEN MALANG

Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Praktek Klinik Stase V Asuhan Kebidanan Masa Nifas dan Menyusui

DISUSUN OLEH : ZAQWA KARTIKA NING AMANDA

NIM.P17312245077

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

JURUSAN KEBIDANAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN MALANG TAHUN 2025

(2)

i

ASUHAN KEBIDANAN MASA NIFAS DAN MENYUSUI PADA NY.Y P1001AB000 POSTPARTUM HARI KETIGA DENGAN BENDUNGAN ASI DI KLINIK SAHABAT

SEHAT DESA WAJAK KABUPATEN MALANG

Ini telah diperiksa dan disahkan pada tanggal :

Mahasiswa

Zaqwa Kartika Ning Amanda NIM. P17312245077

Mengetahui,

Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik

Gita Kostania, S.ST.,M.Kes Bd.Nur Mariani Rohmatin, S.Tr.Keb NIP. 198612162012122002

(3)

ii

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan laporan asuhan kebidanan komprehensif holistik masa nifas dan menyusui Pada Ny.

Y P1001Ab000 postpartum hari ketiga dengan bendungan asi di Klinik Sahabat Sehat Desa Wajak Kabupaten Malang diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Praktek Kebidanan Stase V Asuhan Kebidanan Masa Nifas dan Menyusui.

Dalam hal ini, kami banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, karena itu pada kesempatan kali ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1) Ibu Rita Yulifah, S.Kp., M.Kes selaku Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Malang.

2) Dr. Heny Astutik, S.Kep.Ns., M.Kes selaku Ketua Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Malang.

3) Gita Kostania, S.ST.,M.Kes selaku Dosen Pembimbing Akademik 4) Bd.Nur Mariani Rohmatin.,STr.Kebselaku pembimbing klinik

5) Para Bidan Klinik Sahabat Sehat yang telah membantu penulis menyelesaikan laporan ini.

Kami menyadari bahwa penyusunan laporan asuhan kebidanan komprehensif holistik fisiologis pada bayi, balita, dan anak pra sekolah ini masih ada kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun diharapkan untuk menyempurnakan. Semoga laporan asuhan kebidanan komprehensif holistik fisiologis pada bayi, balita, dan anak pra sekolah ini berguna bagi semua pihak yang memanfaatkan.

(4)

iii

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ...i

KATA PENGANTAR ...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1.Latar Belakang ...1

1.2 Tujuan...4

1.3 Metode Pengumpulan Data...4

1.4 Sistematika Penulisan ...5

BAB II TINJAUAN TEORI...6

2.1 Konsep Dasar Masa Nifas ...6

2.2. Konsep Dasar Air Susu Ibu ...10

2.3 Konsep Dasar Bendungan ASI...16

2.4 Perawatan Payudara ...18

2.5 Konsep Manajemen Kebidanan Nifas dengan Bendungan ASI...19

BAB III TINJAUAN KASUS...18

BAB IV TELAAH JURNAL ILMIAH...26

BAB V PEMBAHASAN...29

BAB VI PENUTUP ...30

6.1 Kesimpulan...30

6.2 Saran...30 DAFTAR PUSTAKA

(5)

1 1.1 Latar Belakang

Kelancaran produksi ASI adalah suatu proses keluarnya asi dari payudara ibu dengan atau tanpa pengisapan oleh bayi. Air Susu Ibu sebaiknya diberikan segera setelah bayi lahir. Air susu pertama yang bertahan sekitar 4-5 hari, masih berupa kolustrum. Banyaknya kolustrum yang disekresikan setiap hari berkisar antara 10-100 cc, dengan rata-rata 30 cc. Air susu sebenarnya baru keluar setelah hari kelima. Ibu harus menjulurkan payudaranya ke mulut bayi hingga seluruh puting dan areola

“tergenggam” oleh mulut bayi (Suciawati, 2018).

Air susu ibu diproduksi dalam alveolli, pada bagian awal saluran kecil air susu.

Jaringan di sekeliling saluran saluran air susu dan alveoli terdiri dari jaringan lemak, jaringan pengikat tersebut menentukan ukuran payudara. Selama masa kehamilan, payudara membesar dua sampai tiga kali ukuran normalnya, dan saluran- saluran air susu serta alveoli dipersiapkan untuk masa laktasi. Pada proses laktasi tedapat 2 refleks yang berperan yaitu refleks prolaktin dan refleks aliran yang timbul akibat perangsangan puting karena isapan bayi. Produksi ASI dipengaruhi oleh hormon prolaktin sedangkan pengeluaran dipengaruhi oleh hormon oksitosin (Marifah & Suryantini, 2021).

Faktor Isapan Bayi merupakan faktor dimana bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Sebaiknya menyusui bayi secara (on demand) karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Kegiatan menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik karena isapan bayi sangat berpengaruh pada ransangan isapan produksi ASI (Sari &

Syahda, 2020).

Bendungan ASI adalah pembengkakan pada payudara akibat peningkatan peredaran pembuluh darah vena serta limfe yang berdampak pada rasa nyeri disertai kenaikan suhu badan. Bendungan ASI dapat terjadi karena adanya penyempitan duktus laktiferus pada payudara dan dapat terjadi bila memiliki kelainan puting susu misalnya puting susu datar, terbenam atau cekung. Kejadian ini biasanya disebabkan karena air susu yang menumpuk tidak segera dikeluarkan sehingga menjadi sumbatan. Tanda gejala yang sering muncul pada saat terjadi bendungan ASI antara lain payudara tegang, terasa panas, keras, dan nyeri saat ditekan, berwarna kemerahan dan suhu tubuh ibu sampai 38˚C. Jika tidak segera diatasi dapat mengakibatkan terjadinya mastitis dan abses payudara. (Yanti, 2017).

(6)

3

Menurut data (WHO, 2018) di Amerika Serikat jumlah perempuan menyusui yang mengalami bendungan ASI sebanyak 8.242 (87,05%) dari 12.765 ibu nifas, pada tahun 2019 yang mengalami bendungan ASI sebanyak 7.198 (66,87%) dari 10.764 ibu nifas dan pada tahun 2020 yang mengalami bendungan ASI sebanyak 6.543 (66,34%) dari 9.862 ibu nifas (WHO, 2020). UNICEF menyebutkan bukti ilmiah yang dikeluarkan oleh Jurnal Pediatrics pada tahun 2020. Terungkap data di dunia yang mengalami masalah menyusui sekitar 17.230.142 juta jiwa yang terdiri dari puting susu lecet 56,4 %, bendungan ASI 36,12 %, dan mastitis 7,5 % (Lubis, 2018)

Hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun (2019) terdapat ibu nifas yang mengalami bendungan ASI sebanyak 35.985 atau (15,60 %), serta tahun 2019 ibu postpartum yang mengalami Bendungan ASI sebanyak 77.231 atau (37,12 %) postpartum. (Oriza, 2019). Menurut penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI tahun 2019 kejadian bendungan ASI di indonesia mayoritas terjadi pada ibu pekerja sebanyak 6% dari ibu menyusui (Oriza, 2019)

Zat antibody yang terdapat dalam ASI dapat melindungi bayi dari penyakit. Akan tetapi, ada beberapa faktor penyebab ibu kesulitan dalam proses laktasi, seperti pembengkakan payudara akibat penumpukan ASI, akibat pengeluaran ASI tidak lancar atau salah posisi menyusui (Heryani, 2012). Pembengkakan payudara dapat menimbulkan rasa nyeri dan demam, oleh karena itu dianjurkan untuk melakukan perawatan payudara agar tidak terjadi komplikasi seperti bendungan ASI (Suputra, 2020)

Bendungan ASI dapat dicegah dengan perawatan payudara dan menyusui secara on demand.. Pendidikan kesehatan tentang cara perawatan payudara, proses laktasi sangatlah penting diberikan kepada ibu hamil dan menyusui untuk mempersiapkan proses laktasi sehingga bisa meminimalisir kejadian bendungan ASI (Varney, 2017).

Perawatan payudara dapat meningkatkan aliran ASI dengan membersihkan sinus- sinus dan duktus laktiferus kolostrum pertama yang lengket, selanjutnya membentuk aliran kolostrum yang kurang pekat. Duktus dan sinus ini juga digunakan untuk membantu bayi menyusu, mengumpulkan ASI dan untuk mengurangi pembengkakkan bendungan ASI . Salah satu solusi untuk mencegah masalah yang sering terjadi pada ibu menyusui adalah perawatan payudara yang bermanfaat untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah penyumbatan saluran susu, sehingga pengeluaran ASI lancar dan perawatan payudara sebelum hamil sudah mulai dilakukan selain untuk memperlancar

(7)

4

pengeluaran ASI juga dapat membentuk payudara yang ideal. (Sari & Syahda, 2020) Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk memberikan asuhan masa nifas dan menyusui pada Ny.Y P1001Ab000 postpartum hari ketiga dengan bendungan asi di Klinik Sahabat Sehat Desa Wajak kabupaten Malang.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Mampu memberikan asuhan kebidanan nifas pada Ny. “Y” P1001Ab000 postpartum hari ketiga dengan bendungan asi yang sesuai standar dengan

menggunakan pendekatan manajemen kebidanan dan pendokumentasian metode SOAP

1.2.2 Tujuan Khusus

1. Mampu melaksanakan asuhan kebidanan postpartum dengan menerapkan pola pikir melalui pendekatan manajemen kebidanan dan pendokumentasian

menggunakan SOAP .

2. Mampu melakukan pengkajian data pada ibu postpartum.

3. Mampu menentukan diagnosa aktual dan potensial pada ibu postpartum 4. Mampu mengidentifikasi kebutuhan tindakan segera pada ibu postpartum 5. Mampu melakukan perencanaan pada ibu postpartum

6. Mampu melakukan penatalaksanaan asuhan pada ibu postpartum 7. Mampu melakukan evaluasi asuhan pada ibu postpartum

8. Mampu membuat dokumentasi asuhan kebidanan SOAP pada ibu postpartum.

1.3 Metode Pengumpulan 1. Anamenesa

Melakukan tanya jawab secara langsung pada ibu klien 2. Observasi

Melakukan pengamatan langsung pada klien 3. Studi Kasus

Mengamati dan mempelajari kasus berdasarkan kasus yang benar adanya dan benar terjadinya

4. Studi Pustaka

Membaca berbagai sumber lieratur yang dapat mendukung terlaksananya asuhan kebidanan masa nifas dan menyusui

(8)

5 1.4 Sistematika Penulisan

BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan

1.3 Metode Pengumpulan Data 1.4 Sistematika Penulisan BAB II Tinjauan Teori BAB III Tinjauan Kasus 3.1 Pengkajian

3.2 Identifikasi Masalah 3.3 Perencanaan

3.4 Penatalaksanaan 3.5 Evaluasi

BAB IV Telaah Jurnal BAB V Pembahasan BAB VI Penutup

(9)

6 BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Masa Nifas

2.1.1 Pengertian masa nifas

Periode nifas maupun puerperium diawali semenjak 2 jam sesudah lahirnya ari-ari hingga dengan 6 minggu (42 hari). Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil). Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Podungge, 2020)

Masa nifas (puerperium) ialah kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat – alat kandung kembali seperti pra konsepsi. Lamanya masa nifas ini yaitu 6 – 8 minggu. Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal (Juliani & Nurrahmaton, 2020).

2.1.2 Tahapan Masa Nifas

1. Puerperium dini yaitu dimana ibu diperbolehkan berdiri dan jalan- jalan.

2. Puerperium Intermedinal yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital

3. Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.

Waktu untuk sehat sempurnaan bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau tahunan (Muslimin, 2022)

2.1.3 Tujuan Asuhan Post Partum

1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya.

2. Melaksanakan pemeriksaan skrining yang komprehensip, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.

3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi yang sehat.

4. Memberikan pelayanan KB. (Muslimin, 2022) 2.1.4 Perubahan Fisiologis Pada Post Partum

1. Rasa Kram dan mules dibagian bawah perut akibat penciutan rahim (involusi)

2. Keluarnya sisa-sisa darah dari vagina (Lochia)

(10)

7 3. Kelelahan karena proses melahirkan.

4. Pembentukan ASI sehinga payudara membesar.

5. Kesulitan buang air besar (BAB) dan BAK.

6. Gangguan otot (betis, dada, perut, panggul dan bokong) 7. Perlukaan jalan lahir (lecet atau jahitan)

2.1.5 Perubahan Sistem Reproduksi

Tubuh ibu berubah setelah melahirkan, rahimnya mengecil, serviks menutup, vagina kembali ke ukuran normal dan payudaranya mengeluarkan ASI. Masa nifas berlangsung selama 6 minggu. Dalam masa itu, tubuh ibu kembali ke ukuran sebelum melahirkan. Perubahan yang normal terjadi pada masa nifas seperti: involusi rahim, involusi tempat plasenta, perubahan pembuluh darah rahim, perubahan pada serviks dan vagina, perubahan pada cairan vagina (lochia). Perubahan pada vagina dan perineum adalah estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat renggang akan kembali secara bertahap pada ukuran sebelum hamil selama 6- 8 minggu setelah bayi lahir.

2.1.6 Perubahan Sistem Pencernaan

Dinding abdominal menjadi lunak setelah proses persalinan karena perut yang meregang selama kehamilan. Ibu nifas akan mengalami beberapa derajat tingkat diastatis recti, yaitu terpisahnya dua parallel otot abdomen, kondisi ini akibat peregangan otot abdomen selama kehamilan. Tingkat keparahan diastatis recti bergantung pada kondisi umum wanita dan tonus ototnya, apakah ibu berlatih secara continue untuk mendapatkan kembali kesamaan otot abdominalnya atau tidak. Pada saat postpartum nafsu makan ibu bertambah. Ibu dapat mengalam konstipasi karena waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan, pengeluaran cairan yang berlebih, kurang makan, haemoroid, laserasi jalan lahir, pembengkakan perineal yang disebabkan episiotomi. Ibu dapat mengkonsumsi makanan yang tinggi serat, perbanyak asupan cairan, dan ambulasi dini.

2.1.7 Perubahan Sistem Perkemihan

Kandung kemih dalam masa nifas kurang sensitive dan kapasitasnya akan bertambah, mencapai 3000 ml per hari pada 2-5 hari post partum. Hal ini mengakibatkan kandung kemih penuh. Sisa urine dan trauma pada dinding kandung kemih waktu persalinan mudah terjadinya infeksi. ≤ 30-60% wanita mengalami inkontinensial urine selama periode post partum.

(11)

8 2.1.8 Musculoskeletal

Otot-otot rahim berkontraksi setelah partus. Pembuluh-pembuluh darah yang berada diantara anyaman-anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta dilahirkan. Pada wanita dihari pertama setelah melahirkan, abdomennya akan menonjol dan membuat wanita tersebut tampak seperti masih hamil. Dalam 2 minggu setelah melahirkan, dinding abdomen wanita akan rileks. Diperlukan sekitar 6 minggu untuk dinding abdomen kembali ke keadaan sebelum hamil. Kulit memperoleh kembali elastisitasnya, tetapi sejumlah kecil menetap.

2.1.9 Endokrin

Hormon plasenta menurun setelah persalinan, HCG menurun dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke tujuh sebagai pemenuhan mamae pada hari ke 3 post partum. Setelah persalinan terjadi penurunan kadar estrogen yang bermakna sehingga aktifitas prolaktin juga sedang meningkat dapat mempengaruhi kelenjar mammae dalam menghasilkan ASI

2.1.10 Kardiovaskuler

Pada keadaan setelah melahirkan perubahan volume darah bergantung beberapa faktor, misalnya kehilangan darah, curah jantung meningkat serta perubahan hematologi. Pada ibu postpartum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun dan faktor pembekuan darah meningkat. Perubahan tanda-tanda vital yang terjadi pada masa nifas adalah suhu badan, nadi, dan tekanan darah.

2.1.11 Hematologi

Leukositosisi meningkatkan jumlah sel darah putih hingga 15.000 selama proses persalinan, tetapi meningkat untuk pada hari pertama post partum.

Jumlah sel darah putih dapat menjadi lebih tinggi hingga 25.000 atau 30.000 tanpa mengalami patologis jika wanita mengalami partus lama. Total volume darah kembali normal setelah 3 minggu post partum. Jumlah hemoglobin normal akan kembali pada 4-6 minggu post partum.

2.1.12 Perubahan Adaptasi Psikologi Ibu Pada Post Partum

1. Perasaan ibu berfokus pada dirinya, berlangsung setelah melahirkan sampai hari ke 2 (Fase Taking In)

2. Ibu merasa merasa kwatir akan ketidak mampuan merawat bayi, muncul perasaan sedih (Baby Blues disebut Fase Taking Hold (hari ke 3 – 10)

(12)

9

3. merasa percaya diri utk merawat diri dan bayinya disebut Fase Letting Go.

(hari ke 10-akhir masa nifas) (Sari & Syahda, 2020) 2.1.13 Kebutuhan Dasar Ibu Pada Post Partum

1. Nutrisi dan Cairan

Nutrisi dan cairan sangat penting karena berpengaruh pada proses laktasi dan involusi. Makan dengan diet seimbang, tambahan kalori 500-800 kal/hari. Makan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.

2. Mobilisasi

Mobilisasi pada ibu berdampak positif bagi ibu sehingga ibu merasa lebih sehat dan kuat, organ pencernaan dan kandung kemih lebih baik sehingga ibu dapat merawat anaknya.

3. Eliminasi

Pengisian kandung kemih sering terjadi dan pengosongan spontan terhambat sehingga adanya retensi urin menyebabkan distensi berlebihan sehinggan fungsi kandung kemih terganggu, infeksi. Normal biasanya dalam 2-6 jam post partum.

4. Personal Hygiene

Ibu nifas rentan terhadap infeksi, untuk itu personal hygiene harus dijaga yaitu dengan :

1) Mencuci tangan, menjaga genital hygiene, kebersihan tubuh, pakaian, lingkungan, tempat tidur.

2) Membersihkan daerah genital dengan sabun dan air bersih.

3) Mengganti pembalut setiap 6 jam minimal 2 kali sehari.

4) Menghindari menyentuh luka perineum.

5) Menjaga kebersihan vulva perineum dan anus.

6) Mengobati luka.

5. Seksual hanya separuh wanita yang tidak kembali tingkat energy yang biasa pada 6 minggu post partum, secara fisik, aman, setelah darah dan dapat memasukkan 2-3 jari kedalam vagina tanpa rasa nyeri.

6. Senam Nifas

Tujuan dari Senam Nifas adalah unutk :

a. Rehabilisasi jaringan yang mengalami penguluran akibat kehamilan dan persalinan.

b. Mengembalikan ukuran rahim kebentuk semula.

(13)

10 c. Melancarkan peredaran darah.

d. Melancarkan buang air besar dan buang air kecil.

e. Melancarkan produksi ASI.

f. Memperbaiki sikap baik. (Sari & Syahda, 2020) 2.2 Konsep Dasar Air Susu Ibu (ASI)

2.2.1 Pengertian ASI

ASI merupakan hadiah terindah dari ibu kepada bayi yang disekresikan oleh kedua belah kelenjar payudara ibu berupa makanan alamiah atau susu terbaik yang bernutrisi dan berenergi tinggi yang mudah dicerna dan mengandung komposisi nutrisi yang seimbang dan sempurna untuk tumbuh kembang bayi yang tersedia setiap saat, siap disajikan dalam suhu kamar dan bebas dari kontaminasi.

ASI juga mengandung beberapa mikronutrien yang dapat memperkuat daya tahan tubuh bayi. Selain itu, pemberian ASI minimal selama 6 bulan juga dapat menghindarkan bayi dari obesitas atau kelebihan berat badan karena ASI membantu menstabilkan pertumbuhan lemak bayi (Salindri, AE, 2018)

2.2.2 Komposisi Gizi dalam ASI

Kandungan gizi dari ASI sangat sempurna dan sesuai dengan kebutuhan bayi.

ASI dibedakan dalam tiga stadium yaitu:

1) Kolostrum

Kolostrum ialah air susu yang pertama kali keluar. Kolostrum disekresi oleh kelenjar payudara pada hari 1-4 postpartum. Ciri dari kolostrum berupa cairan dengan viskositas kental, lengket dan berwarna kekuningan.Kolostrum

mengandung tinggi protein, mineral, garam, vitamin A, nitrogen, sel darah putih dan antibodi yang tinggi dibandingkan dengan ASI matur. Selain itu, kolostrum masih mengandung rendah lemak dan laktosa. Meskipun kolostrum yang keluar sedikit menurut ukuran kita, tetapi volume kolostrum yang ada dalam payudara mendekati kapasitas lambung bayi yang berusia 1-2 hari.Volume kolostrum antara 150-300 ml/jam. (Salindri, AE, 2018)

2) ASI Transisi/ Peralihan

ASI peralihan merupakan ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum ASI matur, yaitu sejak hari ke 4-10. Selama dua minggu, volume air susu bertambah lebih banyak dan berubah warna serta komposisisnya. Kadar imunoglobulin dan protein menurun, sedangkan lemak dan laktosa meningkat.

3) ASI matur disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya. ASI matur tampak berwarna

(14)

11

putih. Kandungan ASI matur relatif konstan, tidak menggumpal bila dipanaskan.

Air susu yang mengalir pertama kali atau saat lima menit pertama disebut foremilk.

Foremilk lebih encer dan mempunyai kandungan rendah lemak dan tinggi laktosa, gula, protein, mineral dan air. Selanjutnya, air susu berubah menjadi hindmilk yang kaya akan lemak dan nutrisi dan membuat bayi akan lebih cepat kenyang. Dengan demikian, bayi akan membutuhkan keduanya, baik foremilk maupun hind milk.

2.2.3 Manfaat ASI

Menyusui merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi ibu, sekaligus memberikan manfaat yang tak terhingga pada anak. Manfaat yang dimaksud tersebut, antara lain 1. Bayi mendapatkan nutrisi dan enzim terbaik yang dibutuhkan.

2. Bayi mendapatkan zat-zat imun, serta perlindungan dan kehangatan melaluin kontal dari kulit ke kulit denga ibunya.

3. Meningkatkan sensitivitas ibu akan kebutuhan bayinya.

4. Mengurangi perdarahan, serta konservasi zat besi, protein, dan zat lainnya, mengingat ibu tidak haid sehingga menghemat zat yang terbuang.

5. Penghematan karena tidak perlu membeli susu.

6. ASI eksklusif dapat menurunkan angka kejadian alergi, tergganggunya pernafasan, diare, dan obesitas pada anak. (Prianti, 2019)

2.2.4 Hal-hal Yang Mempengaruhi Produksi ASI

1. Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh makanan yang dimakan ibu, apabila makanan ibu teratur dan cukup mengandung gizi yang diperlukan akan mempengaruhi ASI, karena kelenjar pembuat ASI tidak dapat bekerja tanpa makanan yang cukup.

2. Ketenangan jiwa dan pikiran

Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, ibu yang selalu dalam keadaan tertekan, sedih, kurang percaya diri dan berbagai bentuk ketegangan emosional akan menurunkan volume ASI bahkan tidak akan terjadi produksi ASI. Untuk memproduksi ASI yang baik harus dalam keadaan tenang.

3. Penggunaan kontrasepsi

Pada ibu yang menyusui bayinya penggunaan kontrasepsi hendaknya diperhatikan karena pemakaian kontrasepsi yang tidak tepat dapat mempengaruhiproduksi ASI.

4. Perawatan payudara

(15)

12

Dengan merangsang payudara akan mempengaruhi hypopise untuk mengeluarkan hormon progesteron dan estrogen lebih banyak lagi dan hormon oxytocin.

5. Faktor istirahat

Bila kurang istirahat akan mempengaruhi kesehatan ibu dengan demikian pembentukan dan pengeluaran ASI berkurang.

6. Faktor isapan anak

Bila ibu jarang menyusui anak dan berlangsung sebentar maka isapan anak berkurang dengan demikian pengeluaran ASI ibu berkurang. (Salindri, AE, 2018)

2.2.5 Masalah Dalam Pemberian ASI

Beberapa keadaan yang dapat menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi ibu selama masa menyusui antara lain :

1. Puting susu lecet

2. Kesalahan dalam teknik menyusui.

3. Bendungan ASI 2.3 Bendungan ASI

2.3.1 Pengertian Bendungan ASI

Pada umumnya setelah melahirkan payudara ibu membesar, terasa panas, keras, dan tidak nyaman. Pembesaran tersebut dikarenakan peningkatan suplai darah ke payudara bersamaan dengan terjadinya produksi air susu.

Biasanya hal ini berlangsung selama beberapa hari. Kondisi ini bersifat normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Namun, terkadang pembesaran itu terasa menyakitkan sehingga ibu tidak leluasa mengenakan bra ataupun membiarkan benda apapun menyentuh payudaranya (Prasetyono, 2019).

Bendungan ASI adalah peningkatan aliran vena dan limfe pada payudara dalam rangka mempersiapkan diri untuk laktasi. Hal ini bukan disebabkan overdistensi dari saluran saluran laktasi. Bendungan payudara disebabkan karena pengosongan payudara yang tidak optimal, sehingga sisa ASI terkumpul pada daerah duktus. Hal ini dapat terjadi pada hari ketiga setelah melahirkan. Selain itu, penggunaan bra yang ketat serta keadaan puting susu yang tidak bersih dapat menyebabkan sumbatan pada duktus.

(16)

13 2.3.2 Faktor Penyebab Bendungan ASI

a. Faktor Internal

1) Pengosongan mamae dan frekuensi menyusu

Ketika bayi sudah merasa kenyang dan selesai menyusu, & payudara tidak dikosongkan, maka masih terdapat sisa ASI di dalam payudara. Sisa ASI tersebut jika tidak dikeluarkan dapat menyebabkan bendungan ASI).

Bendungan ASI dapat terjadi dikarenakan faktor frekuensi pemberian ASI yang tidak teratur, frekuensi dan durasi pemberian ASI mempunyai hubungan dengan terjadinya bendungan ASI pada Ibu nifas karena pada payudara terdapat vena limpatik yang mengalirkan produksi air susu, jika frekuensi dan durasi pemberian ASI optimal, maka pengosongan payudara dapat secara sempurna, aliran vena limpatik lancar,sehingga mencegah terjadinya bendungan ASI pada payudara

2) Faktor posisi menyusui bayi yang tidak benar

Teknik yang salah dalam menyusui dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi menyusu.

Akibatnya Ibu tidak mau menyusui bayinya dan terjadi bendungan ASI).

Pelekatan yang benar merupakan salah satu kunci keberhasilan bayi menyusu pada payudara ibu, tanda pelekatan menyusui salah adalah putting susu lecet oleh karena itu oleh karena itu posisi menyusui harus dilakukan dengan baik sampai bayi menghisap aerola pada payudara untuk menghindari kejadian putting susu lecet (Juliani & Nurrahmaton, 2020).

3) Bentuk Puting

Puting susu yang terbenam akan menyulitkan bayi dalam menyusu.

Karena bayi tidak dapat menghisap puting dan areola, bayi tidak mau menyusu dan akibatnya terjadi bendungan ASI. Puting susu terlalu panjang, puting susu yang panjang menimbulkan kesulitan pada saat bayi menyusu karena bayi tidak dapat menghisap areola dan merangsang sinus laktiferus untuk mengeluarkan ASI. Akibatnya ASI tertahan dan menimbulkan bendungan ASI). (Hennyati A & Yuniadah, 2021)

4) Pengeluaran ASI

Bendungan juga dapat terjadi pada ibu yang ASI nya tidak keluar sama sekali (agalaksia), ASI sedikit (oligolaksia) dan ASI terlalu banyak (poligalaksia) tapi tidak dikeluarkan/ disusukan. Penyebab terjadinya

(17)

14

pembengkakak payudara menurut Bobak adalah : 1. Posisi menyusui yang tidak benar

2. Pengosongan payudara yang tidak baik 3. Pemakaian BH yang terlalu ketat 4. Tekanan jari ibu pada waktu menyusui

5. Kurangnya pengetahuan cara perawatan payudara dan cara pencegahan pembengkakan payudara (bendungan ASI).

b. Faktor Internal 1) Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan dapat terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.

Sebagian besar manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan seseorang dapat diperolah melalui pendidikan, paparan media masa (akses informasi), ekonomi (pendapatan), hubungan sosial lingkungan sosial budaya), pengalaman. (S. Setianingsih & Setiawan, 2019)

2) Umur

Umur adalah rentang kehidupan yang diukur dengan tahun, dikatakan masa awal dewasa adalah usia 18 – 40 tahun, dewasa madya adalah 41 – 60 tahun, dewasa lanjut > 60 tahun. Umur adalah lamanya hidup dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan. (Lubis, 2018)

3) Sikap

Sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Sikap (attitude) adalah suatu kecenderungan untuk mereaksi suatu hal, orang atau benda dengan suka, tidak suka atau acuh tak acuh (T. Setianingsih, 2020)

Faktor yang mempengaruhi sikap yaitu dari pengalaman pribadi. Sikap seseorang akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Pengaruh orang lain yang dianggap penting, individu cenderung untuk memiliki sikap yang searah dengan sikap orang dianggap penting.Pengaruh kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita terhadap berbagai masalah. Media masa yang dalam penyampaian informasi membawa pesan sugestif yang dapat mempengaruhi opini individu dan lembaga pendidikan yang berfungsi meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu, pemahaman baik dan buruk, salah atau benar akan menentukan

(18)

15

sistem kepercayaan seseorang hingga ikut berperan dalam menentukan sikap sesorang (Hennyati A & Yuniadah, 2021).

2.3.3 Patofisiologi

Sesudah bayi lahir dan plasenta keluar, kader estrogen dan progesterone turun dalam 2-3 hari. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang menghalangi prolaktin waktu hami, dan sangat dipengaruhi oleh estrogen tidak dikeluarkan lagi, dan terjadi sekresi prolaktin oleh hipofisis. Hormon ini menyebabkan alveoulus-alveolus kelenjar mammae terisi dengan air susu, tetapi untuk mengeluarkan dibutuhkan refleks yang menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitel yang mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut. Refleks ini timbul bila bayi menyusui. (Lubis, 2018)

Gejala yang biasa terjadi pada bendungan ASI antara lain payudara penuh terasa panas,berat dan keras, terlihat mengkilat meski tidak ada kemerahan. ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit mengeyut untuk menghisap ASI. Ibu kadang kadang menjadi demam,tapi biasanya akan hilang 24 jam (Wiknjosastro, 2020).

2.3.4 Tanda dan Gejala Bendungan ASI

Perlu dibedakan antara payudara bengkak dan payudara penuh/bendungan ASI. Pada payudara bengkak adalah payudara udem, sakit, puting susu kencang, kulit mengkilap walau tidak merah, dan ASI tidak keluar kemudian badan menjadi demam setelah 24 jam. Sementara pada payudara penuh/bendungan ASI adalah payudara terasa berat ,panas, dan keras,bila ASI dikeluarkan tidak terjadi demam (Juliani & Nurrahmaton, 2020). Tanda dan gejala yang selalu ada adalah payudara nyeri dan bengkak pada hari ke 3-5 postpartum, sedangkan tanda gejala yang terkadang ada adalah kedua payudara bengak.

2.3.5 Cara Mengatasi Bendungan ASI a. Farmakologis

Terapi farmakologis yang digunakan adalah obat anti inflamasi serrapeptase (danzen) yang merupakan agen enzim anti inflamasi 10 mg tiga kali sehari atau Bromelain 2500 unit dan tablet yang mengandum enzim protease 20.000 unit. Sedangkan menurut Amru terapi pembengkakan payudara diberikan secara simtomatis yaitu mengurangi rasa sakitnya (analgetik) seperti paracetamol atau ibuprofen. (Ratih, 2019).

(19)

16 b. Non Farmakologis

Penggunaan terapi non farmakologis untuk mengurangi rasa sakit dari pembengkakan payudara adalah sebagai berikut akupuntur, (perawatan payudara tradisional) yaitu kompres panas dikombinasikan dengan pijatan, kompres panas dan dingin secara bergantian, kompres dingin, daun kubis dan terapi ultrasound. (Ratih, 2019)

2.3.6 Dampak Bendungan ASI

Bendungan ASI penyebabnya saluran susu tersumbat. Bendungan ASI adalah suatu keadaan dimana terdapat sumbatan pada duktus laktiferus.

Komplikasi bendungan ASI, yaitu susu yang terkumpul tidak segera dikeluarkan sehingga menimbulkan sumbatan. Mastitis Hal ini merupakan radang pada payudara, yang disebabkan oleh payudara yang tidak disusu secara adekuat, Puting lecet yang memudahkan masuknya kuman dan terjadi bendungan ASI , BH yang terlalu ketat, Ibu yang diet jelek, kurang istirahat, anemi akan mudah terinfeksi.

Abses payudara merupakan kelanjutan dari mastitis, hal ini dikarenakan meluasnya peradangan payudara. Payudara tampak merah mengkilap dan terdapat nanah sehingga perlu insisi untuk mengeluarkannya. Perawatan Payudara.

2.4 Perawatan Payudara

2.4.1 Pengertian Perawatan Payudara

Perawatan Payudara merupakan suatu tindakan perawatan payudara yang dilaksanakan, baik oleh pasien maupun dibantu orang lain yang dilaksanakn mulai hari pertama atau kedua setelah melahirkan. Perawatan payudara bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya aliran susu sehingga mempelancar pengeluaran ASI, serta menghindari terjadinya pembekakan dan kesulitan menyusui, selain itu juga menjaga kebersihan payudara agar tidak mudah terkena infeksi. Adapun langkah-langkah dalam perawatan payudara (Octavia &

Wardani, 2021)

Perawatan payudara yang bengkak yang selama ini dilakukan adalah dengan kompres hangat dan dingin, komres gel packs, kompres daun kol dingin, akupuntur, pijat laktasi, memerah payudara, kompres daun sirih merah, penggunaan herbal sampai dengan menggunakan obat- obatan untuk menurunkan rasa nyeri payudara. Perawatan payudara yang dilakukan tersebut ternyata dapat

(20)

17

mengeluarkan air susu dengan lancar tanpa menurangi produksi ASI. (Emilda, 2017)

2.4.2 Tujuan Dilakukannya Perawatan Payudara

1. Memperlancar sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu sehingga memperlancar pengeluaran ASI

2. Menjaga kebersihan payudara sehingga terhindar dari infeksi 3. Menghindari putting susu yang sakit dan infeksi payudara 4. Menjaga keindahan bentuk payudara

5. Memperbanyak produksi ASI

6. Mengetahui adanya kelainan (Sari, 2018).

2.5 Konsep Manajemen Kebidanan Pengkajian

Pengkajian data meliputi kapan, dimana, dan oleh siapa pengkajian dilakukan. Adapun pengkajian data meliputi pengkajian data subjektif dan objektif yang akan dijelaskan sebagai berikut :

1. Data Subjektif a. Biodata

1) Nama Suami/istri : sebagai identitas agar kita lebih mudah dalam memanggil dengan nama panggilan sehingga hubungan komunikasi antara bidan dan pasien menjadi lebih akrab (Sulistyawati, 2013).

2) Usia/tanggal lahir : digunakan untuk menentukan apakah ibu dalam persalinan berisiko karena usia reproduktif atau tidak (Sulistyawati, 2013)

3) Agama : sebagai dasar dalam memberikan dukungan mental spiritual terhadap pasien dan keluarga sebelum dan pada saat persalinan (Sulistyawati, 2013).

4) Pendidikan terakhir:sebagai dasar untuk menentukan metode yang paling tepat dalam penyampaian informasi mengenai KIE masa nifas.Tingkat pendidikan ini akan sangat mempengaruhi daya tanggap pasien terhadap instruksi yang diberikan.(Sulistyawati, 2013).

5) Pekerjaan : Salah satu faktor penyebab odem kaki adalah tingkat aktivitas atau pekerjaan yang terlalu lama duduk atau berdiri terlalu lama (Manuaba, 2010).

6) Suku / bangsa : berhubungan dengan social budaya yang dianut oleh pasien dan keluarga yang berkaitan dengan pasien (Sulistyawati,2013).

(21)

18

7) Alamat :selain sebagai data mengenai distribusi lokasi pasien, data ini juga memberi gambaran mengenai jarak dan waktu yang ditemouh pasien menuju lokasi pemeriksaan (Sulistyawati, 2013).

b. Alasan Datang

Klien datang ke klinik mengeluhkan payudara tegang, terasa keras dan ibu demam c. Riwayat Menstruasi Data dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tentang keadaan dasar dari organ reproduksinya. Data yang harus diperoleh dari riwayat menstruasi adalah menarche (usia pertama kali menstruasi), siklus menstruasi, volume (banyaknya menstruasi), keluhan disaat mengalami menstruasi (Sulistyawati, 2013).

d. Riwayat Kesehatan

Berisi riwayat perjalanan penyakit mulai klien pertama kali merasakan sampai bertemu pengkaji.

- Sejak kapan demam dirasakan?

- Kapan payudara mulai bengkak?

Jika klien tidak membutuhkan MRS, maka berikan asuhan penatalaksanaan yang sesuai.

e. Riwayat Kesehatan Keluarga

Riwayat keluarga memberi informasi tentang keluarga dekat pasien, termasuk orangtua, saudara kandung, dan anak-anak. Hal ini membantu mengidentifikasi gangguan genetik atau familial dan kondisi-kondisi yang dapat mempengaruhi status kesehatan wanita atau janin. Data yang perlu dikaji adalah pernah atau sedang menderita kanker, penyakit jantung, diabetes mellitus, TBC, penyakit jiwa, kelainan bawaan, kehamilan ganda dan kelainan genetik.

f. Pola Kebiasaan Sehari-hari 1) Pola Nutrisi dan cairan

Pola makan seimbang yang mengandung banyak kalsium dan magnesium, dan minum sekurang-kurangnya 2 liter air setiap hari.

2) Pola Istirahat

Diperlukan untuk mempersiapkan energy dimasa nifas. Data fokusnya adalah: kapan terakhir tidur, berapa lama dan aktivitas sehari-hari

3) Pola Aktivitas

(22)

19

Pada pola ini dikaji tentang aktivitas ibu selama nifas yang dapat meyebabkan bendungan ASI seperti karena faktor menyusui atau faktor isapan bayi dan lain sebangainya (sulistyawati, 2013)

2. Data Objektif

1) Pemeriksaan Umum a. Keadaan Umum

Data ini dapat mengamati keadaan pasien secara keseluruhan (Sulistyawati, 2013).

1. Baik Jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan (Sulistyawati, 2013).

2. Lemah Pasien kurang atau tidak memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain dan pasien sudah tidak mampu berjalan sendiri (Sulistyawati, 2013).

b. Kesadaran

composmentis jika sadar sepenuhnya, dapat menjawab pertanyaan tentang keadaannya saat itu

c. Tekanan Darah. Kenaikan atau penurunan tekanan darah merupakan indikasi adanya gangguan hipertensi dalam kehamilan atau syok.Peningkatan tekanan darah sistol dan diastole dalam batas normal dapat mengindikasikan ansietas atau nyeri. Tekanan darah normal sistol 90-120 mmHg serta diastole 60-80 mmHg (Rohani dkk, 2013).

d. Nadi. Peningkatan denyut nadi dapat menunjukkan adanya infeksi, syok, ansietas atau dehidrasi. Nadi normal ibu hamil 80-90x/menit (Rohani dkk, 2013).

e. Pernafasan. Peningkatan frekuensi pernafasan dapat menunjukkan ansietas atau syok. Pernapasan normal ibu hamil 16-24 kali permenit (Rohani dkk, 2013).

f. Suhu. Peningkatan suhu menunjukkan adanya proses infeksi atau dehidrasi.

Suhu normal 36,5 – 37,5 derajat celcius (Rohani dkk, 2013).

2) Pemeriksaan Fisik

Data fokus yang perlu dikaji yaitu

- Payudara : tampak simteris. Puting susu menonjol/tidak, payudara membesar dan mengalami hiperpigmentasi pada aerola, tampak benjolan,

(23)

20

tegang, keras, kemerahan, asi keluar atau tidak

- Abdomen ada pembesaran, linea, striae, luka bekas operasi. Diactasis rectus abdominalis ya/tidak

- Genetalia ada oedem, lochea sangunolenta (3-7 hari), lochea serosa (7-14 hari) dan lochea alba (>14 hari)

- Anus tidak ada hemoroid 4) Interpretasi data dasar

Data dasar dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosis Diagnosis : Ny... postpartum hari ke... deangan brndungan ASI

5) Identifikasi Diagnosa dan masalah potensial

Pada kasus bendungan ASI bisa menimbulkan masitis dan abses payudara. Jika tidak ditangani dengan baik.

6) Identifikasi Kebutuhan Segera

Rumusan ini mencakup tindakan segera yang bisa dilakukan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan. Pada kasus bendungan payudara, bidan bisa memberikan teknik perawatan payudara

7) Intervensi

Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen dengan masalah yang telah diidentifikasi termasuk tindakan mandiri, kolaborasi atau rujukan

1. Jelaskan hasil pemeriksaan

2. Jelaskan tentang bendungan ASI yang ibu alami 3. Beritahu pada ibu tentang ASI Eksklusif .

4. Lakukan cara perawatan payudara untuk mengatasi bendungan ASI. Alat- alat yang digunakan: baby oil, kapas, gelas bersih, 2 buah kom sedang yang berisi air hangat dan dingin, dua buah washlap, dan handuk.

Langkah-langkah perawatan payudara:

1) Mwncuci tangan dan meminta ibu dengan sopan membuka baju 2) Memangkan handuk diatas dan dibawah payudara

3) Mengompres putting susu dengan kapas minyak 2-3 menit 4) Membersihkan papilla dan areola dengan kapan minyak

5) Melakukan perawatan putting susu tenggelam dengan menggunakan spuit 5 cc disedot perlahan atau menggunakan kedua jari telunjuk sisi kanan dan kiri untuk menarik keluar Secara perlahan

(24)

21

6) Melakukan perawatan putting susu lecet dengan cara mengolesi asi pada putting sebelum dan sesudah menyusui kemudian di angin – anginkan

7) Mengeluarkan ASI pada payudara yaitu dengan teknik marmet

- Mencodongkan badan kedepan dan menyangga satu payudara dengan tangan

- Meletakkan ibu jari sekitar 1-1,5 cm dari areola menempatkan diarah jam 12 dan jam 6

- Dorong kearah dada lalu gulung tekan perlahan kearah depan hingga asi keluar dan terasa sedikit kosong.

8) Melakukan perawatan payudara

- Mengompres dengan iar hangat untuk meredakan nyeri

- Melakukan pijatan dileher dan punggung belakang kemudian memijat perlahan payudara dari arah belakang ke depan

- Melakukan stimulasi putting susu

- Mengompres dengan air dingin untuk mengurangi bengkak

- Mengeringkan dengan handuk dan membantu ibu memakai pakaian.

5. Ajarkan pada ibu cara menyusui yang benar

6. Beritahu ibu untuk memperdulikan personal hygiene dengan rutin 3x/hari mengganti softex, memakai celana dalam berbahan katun, cebok dari arah depan kebelakang, tidak cebok dengan air hangat jahitan masih basah.

7. B eri t ahu t erapi paracet am ol 3x1 dan cefadroxi l 2x1 untuk m eredakan keluhan dem am dan ras a nyeri yang di al am i i bu aki bat bendungan AS I

8. M enganj urkan unt uk cont rol ni fas 9. M endokum ent as i kan hasi l pem eriks aan 9) Implementasi

Pelaksanaan dilakukan secara efisien dan aman sesuai rencana asuhan yang telah disusun.

10) Evaluasi

Evaluasi merupakan penilauan penting tentang keberhasilan dan keefektifan asuhan kebidanan yang biasanya didokumentasikan dengan SOAP.

(25)

22 BAB III TINJAUAN KASUS

Tanggal Pengkajian : 10 Maret 2025

Pukul : 10.00 WIB

Tempat : Poli KIA Klinik Sahabat Sehat

Oleh : Zaqwa Kartika Ning Amanda

3.2 Data Subjektif 1. Identitas Klien

Nama Ibu : Ny.Y Nama Suami : Tn.H

Umur : 25 Tahun Umur : 28 Tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Karyawan Swasta Pekerjaan : Karyawan Swasta Suku/bangsa : Jawa/Indonesia Suku/bangsa :Jawa/Indonesia Alamat : Sukoanyar RT 27 RW 09

2. Alasan Datang

Ibu mengatakan datang ke klinik untuk kontrol nifas hari ketiga 3. Keluhan Utama

Ibu mengatakan badannya demam, payudaranya terasa nyeri sudah 1 hari.

4. Riwayat Kesehatan Lalu dan Sekarang

Ibu mengatakan demam mulai tanggal 09/03/2025 dan batuk pilek dan merasa payudaranya nyeri dan tegang. Ibu mengatakan tidak pernah memiliki riwayat penyakit anemia, hipertensi, kadiovaskular, TBC, hepatitis, diabetes, malaria, HIV/AIDS, IMS, epilepsi, penyakit jiwa, ibu tidak pernah di rawat di RS, dan ibu tidak memiliki riwayat operasi

5. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu mengatakan di keluarga , orang tua memiliki riwayat penyakit hipertensi dan diabetes mellitus. Didalam keluarga tidak ada keturunan kembar, kelainan kongenital, penyakit herediter, dan keluarga yang tinggal serumah tidak sedang menderita penyakit menular.

6. Riwayat Menstruasi

Menarche : 13 tahun Siklus : 28 hari

Lama haid : 5-7 hari Disminorhea : Tidak Ada Flour abuse : Tidak ada Banyak : 3-4x/hari

(26)

23 7. Riwayat Obstetri

Ha mi l Ke

UK (Mi ngg u)

Peny ulit Keha mila n

Jenis Pers alina n

Tem pat Pers alina n

Pen olon g

Komp likasi Persal inan

Bayi Nifas An

ak H/

M usi a B

ay i

I b u

PB/B B

Kea daa n

I M D

Pen yuli t

La kta si 1 39-40

mgg

Tidak ada

Norma l

Klinik Bidan - dir og oh

3,400 gr/PB 50 cm

Bai k

+ Ben dung an ASI

- H/3 Hari

8. Riwayat Kontrasepsi

Metode kontrasepsi yang pernah dipakai : Kondom

Keluhan : Tidak ada

9. Riwayat Psikologis, Sosial, dan Budaya Status Perkawainan Ya, SAH. Kawin 1 kali

Pengambil keputusan dalam keluarga : Bersama

Rencana rujukan bila terjadi gawat darurat : RSUD Wajak Husada Tranportasi yang hendak digunakan : sepeda motor

Pendamping persalinan : suami dan kakak

Persiapan pendanaan tersedia/belum : tersedia (BPJS dan Mandiri) Budaya nifas atau perawatan bayi :

1) Ibu memakai korset setelah melahirkan

2) Ibu harus pilih pilih makanan karena beranggapan jahitan gatal jika tidak pilih makanan 3) Ibu harus minum jamu saat masa nifas

4) Bayi harus memakai bawang yang diberi peniti 5) Terdapat budaya selapan

(27)

24 10. Riwayat Psikologi

Pengkajian menggunakan instrumen EPDS (Terlampir) SKOR Ibu 2 (Tidak Depresi)

11. Pola Pemenuhan Kebutuhan Dasar a. Riwayat Makan dan Minum

Frekuensi : 3-4 kali makan dan minum kurang lebih 2 liter

Jenis & Porsi : Makan nasi dengan porsi sedang sayur daun katuk, lauk tempe tahu dan ayam. Minum air putih terkadang minuman es manis

b. Eliminasi Terakhir

BAK : sudah bisa BAK. 2-3x/hari. Tidak ada keluhan BAB : belum bisa BAB.

c. Istirahat Terakhir

Tidur siang setelah jam 12.00 WIB selama 1-2 jam dan tidur malam setelah jam 19.00 WIB selama 7-8 jam. Bayi tidak gampang terbangun dan menangis dimalam hari.

3.3 Data Objektif

1. Pemeriksaan Umum

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Composmentis

TTV : TD 117/82 mmHg, Nadi 79x/menit, Suhu 38,3oC dan Rr 20x/m 2. Pemeriksaan Antropometri

TB 160 cm BB sekarang 67 kg 3. Pemeriksaan Fisik

a. Inspeksi :

Muka : tidak ada edema, tidak pucat, tidak ada cloasma gravidarum Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pandangan tidak kabur

Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, limfe dan vena jugularis.

Payudara : tampak tegang, areola hiperpegmentasi, puting tidak menonjol, Abdomen : tidak ada bekas luka oprasi, terdapat strie

Genetalia Eksterna : pengeluaran darah jenis lochea sangunolenta. Luke perineum basah.

tidak terdapat pembesaran kelenjar bartolini/skene, tidak ada oedema Haemoroid : tidak ada

Ekstremitas : tidak ada edema dan tidak ada varises b. Palpasi

(28)

25

Payudara : kolostrum (+), terdapat nyeri tekan. Payudara keras

Abdomen : TFU 3 jari bwh pusat, kontraksi baik, diactasis rektus abdominalis(-) Ekstremitas : Tidak ada oedem, Homan sign (-)

3.4 Interpretasi Data Diagnosa Kebidanan

Ny, Y P1001 Ab000 Postpartum hari ketiga dengan bendungan asi Data Subjektif

1) Ibu berumur 25 tahun

2) Ibu datang ke klinik untuk kontrol nifas hari ketiga

3) Ibu mengatakan badannya demam, payudara terasa nyeri sejak tanggal 09/03/2025 Data Objektif

1) KU baik, Kesadaran composmentis, TD 117/82 mmHg, Nadi 79x/menit, Suhu 38,3oC dan Rr 20x/m

2) Payudara tampak tegang, puting susu tidak menonjol, nyeri tekan teraba keras, colostrum keluar.

Masalah : Bendungan asi karena tidak menyusui secara efektif akibat puting susu Tenggelam

3.5 Identifikasi Potensial Masitis dan abses payudara 3.6 Identifikasi Kebutuhan Segera

Teknik Perawatan payudara 3.7 Intervensi

Tanggal : 10 Maret 2025 Pukul 10.25 WIB

1. Beritahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan yang telah dilakukan 2. Beritahu tentang bendungan ASI yang ibu alami

3. Beritahu pada ibu tentang ASI Eksklusif

4. Ajarkan dan berikan contoh pada ibu tentang cara perawatan payudara untuk mengatasi bendungan ASI

5. Beritahu pada ibu cara menyusui yang benar

6. Observasi keadaan umum ibu, kondisi payudara dan pengeluaran ASI.

3.8 Implementasi

Tanggal : 10 Maret 2025 Pukul 10.30 WIB

1. Memberitahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan yang telah dilakukan bahwa keadaan umum ibu baik, namun ibu mengalami bendungan ASI.

(29)

26

2. Memberitahu tentang bendungan ASI yang ibu alami yaitu, ASI yang tidak keluar karena adanya sumbatan saluran ASI sehingga kelenjar ASI membesar atau

membengkak dan menyebabkan rasa nyeri serta ASI tidak keluar dan demam pada ibu.

3. Memberitahu pada ibu tentang ASI Eksklusif . ASI eksklusif adalah pemberian ASI (air susu ibu) sedini mungkin setelah persalinan, diberikan tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain, walaupun hanya air putih,sampai bayi berumur 6 bulan.

4. Mengajarkan dan menyontohkan pada ibu tentang cara perawatan payudara untuk mengatasi bendungan ASI. Alat-alat yang digunakan: baby oil, kapas, gelas bersih, 2 buah kom sedang yang berisi air hangat dan dingin, dua buah washlap, dan handuk.

Langkah-langkah perawatan payudara:

1) Mencuci tangan dan meminta ibu dengan sopan membuka baju 2) Memangkan handuk diatas dan dibawah payudara

3) Mengompres putting susu dengan kapas minyak 2-3 menit 4) Membersihkan papilla dan areola dengan kapan minyak

5) Melakukan perawatan putting susu tenggelam dengan menggunakan spuit 5 cc disedot perlahan atau menggunakan kedua jari telunjuk sisi kanan dan kiri untuk menarik keluar Secara perlahan

6) Melakukan perawatan putting susu lecet dengan cara mengolesi asi pada putting sebelum dan sesudah menyusui kemudian di angin – anginkan

7) Mengeluarkan ASI pada payudara yaitu dengan teknik marmet :

- Mencodongkan badan kedepan dan menyangga satu payudara dengan tangan

- Meletakkan ibu jari sekitar 1-1,5 cm dari areola menempatkan diarah jam 12 dan jam 6

- Dorong kearah dada lalu gulung tekan perlahan kearah depan hingga asi keluar dan terasa sedikit kosong.

8) Melakukan perawatan payudara

- Mengompres dengan iar hangat untuk meredakan nyeri

- Melakukan pijatan dileher dan punggung belakang kemudian memijat perlahan payudara dari arah belakang ke depan

- Melakukan stimulasi putting susu

- Mengompres dengan air dingin untuk mengurangi bengkak

- Mengeringkan dengan handuk dan membantu ibu memakai pakaian.

5. Memberitahu pada ibu cara menyusui yang benar

(30)

27

a. B i a s a k a n m e n c u c i t a n g a n d e n g a n s a b u n s e t i a p k a l i s ebel um m enet ekkan.

b. P erah s edi ki t kolostrum at au AS I dan ol es kan pada daerah putting dan seki tarnya.

c. Ibu duduk at au ti duran / berbari ng dengan s ant ai . d. B ayi dil et akkan m enghadap ke i bu dengan posi si :

- P erut bayi m enempel keperut i bu.

- Dagu bayi m enem pel ke payudara.

- Tel i nga dan l engan bayi berada dal am s atu gari s l urus .

- M u l u t b a y i t e r b u k a l e b a r m e n u t u p i d a e r a h g e l a p sekit ar putt ing susu.

- C ara agar m ul ut bayi t erbuka adalah dengan m enyentuhkan put i ng s us u pada bi bi r at au pipi bayi .

- S et el ah m ulut bayi terbuka l ebar, s egera m as ukkan puti ng d an s e b ag i an b e s a r l i ng k a r an / d a e ra h g el a p s ek i t a r p ut i n g s us u ke dal am m ul ut bayi . - B e r i k a n A S I d a r i s a t u p a y u d a r a s a m p a i k o s o n g s e b e l u m p i n d a h k e

p a y u d a r a l a i n n y a . P e m b e r i a n A S I b e r i k u t n y a m ul ai dari payudara yang bel um kosong t adi.

- C a r a M e l e p a s k a n P u t i n g S u s u d a r i M u l u t B a y i : Dengan m e n e k a n d a g u b a y i k e a r a h b a w a h a t a u d e n g a n

- m em as ukkan j ari i bu ant ara m ul ut bayi dan payudara i bu.

6. Menganjurkan ibu untuk tidak pilih-pilih makanan. Menganjurkan untuk memakan makanan tinggi protein seperti putih telur, ayam, kacang-kacangan dan ikan laut agar jahitan perineumnya segera kering serta rutin memakan serat seperti buah buahan agar ibu bisa BAB dihari ke-4 masa nifasnya.

7. Menganjurkan ibu untuk memperdulikan personal hygiene dengan rutin 3x/hari mengganti softex, memakai celana dalam berbahan katun, cebok dari arah depan kebelakang, tidak cebok dengan air hangat jahitan masih basah.

8. Mem beri kan t erapi paracet am ol 3x1 dan cefadroxi l 2x1 unt uk m eredakan kel uhan dem am dan ras a nyeri yang di al am i i bu aki bat bendungan AS I

9. Menganj urkan ibu unt uk rut in m el akukan perawat an payudara m i ni m al 2x s ehari

10. Menganj urkan unt uk cont rol di t anggal 12 M aret 2025 Mendokumentasikan hasil pemeriksaan

3.9 Evaluasi

Berdasarkan penatalaksanaan yang telah dilakukan, ibu dapat menjelaskan kembali informasi yang telah didapat dari bidan mengenai perawatan payudara dan teknik menyusui yang benar.

ibu mampu mempraktekkan sedikit demi sedikit cara perawatan payudara dan ibuterlihat senang ketika diberi pujian, ibu menyetujui untuk dilakukan kontrol nifas pada tanggal 12 maret 2025.

(31)

28 CATATAN PERKEMBANGAN I

Tanggal 12 Maret 2025 Pukul 11.12 WIB

Subjektif : Ibu mengatakan nyeri payudara sedikit mereda. Ibu sudah tidak demam

Objektif : KU : Baik

Kesadaran : Composmentis TD : 111/79 mmHg N : 89 kali/menit RR : 20 kali/menit

S : 37.8°C

Pemeriksaan Fisik :

- Payudara tampak tegang dan kerasnya sudah berkurang,ASI keluar, Putting ibu masih tenggelam, Terdapat nyeri tekan.

- Tfu 3 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik, Lochea sangunolenta, Jahitan perinem sedikit kering, sudah bisa BAB 1x dipagi hari

Analisa : Ny.Y P1001Ab000 postpartum hari ke 5 dengan bendungan ASI Penatalaksanan :

1. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan bahwa kondisinya saat ini terdapat perbaikan daripada yang hari ketiga, payudara sedikit membaik, jahitan perineum sedikit kering, sudah bisa BAB 1x dihari nifas ke 5.

E/ Ibu terlihat senang dengan penjelasan bidan. Ibu rutin makan tinggi protein 2 putih telur pagi, siang, malam dan serat seperti buah papaya.

2. Memberikan asuhan perawatan payudara untuk bendungan ASI kepada ibu E/ Bidan sudah memberikan teknik perawatan payudara pada ibu.

3. Memberikan ibu alternatif untuk dibantu mengosongkan payudara dengan pompa ASI agar hasil lebih optimal dengan syarat alat untuk ibu dan bayi tetap steril saat digunakan.

Menganjurkan ibu untuk memompa ASInya 2-3 jam sekali atau jika payudara terasa penuh kemudian meletakkan ASI pada kantong asi lalu disimpan di dalam freezer .

E/Ibu mengerti dengan penjelasan bidan.

4. Menganjurkan ibu untuk menghindari bra yang terlalu ketat agar payudara tidak semakin bengkak

E/ Ibu mengerti dengan penjelasan bidan

5. Mengingatkan ibu untuk tetap memenuhi gizi masa nifas dengan tidak pilih – pilih makanan, memakan makanan tinggi ptotein untuk mengeringkan luka jahitan dan makanan kaya serat untuk melancarkan BAB

E/ ibu menyetujui anjuran bidan

6. Menganjurkan ibu untuk memperdulikan personal hygiene dengan rutin 3x/hari mengganti softex, memakai celana dalam berbahan katun, cebok dari arah depan kebelakang, tidak cebok dengan air hangat jahitan masih basah.

E/ ibu menyetujui anjuran bidan

7. Mengkomunikasikan kepada ibu untuk dievaluasi kembali 3 hari lagi oleh bidan pada tanggal 14 Maret 2025 E/ ibu mengerti dengan penjelasan bidan.

(32)

29 CATATAN PERKEMBANGAN II

Tanggal 14 Maret 2025 Pukul 20.00 WIB

Subjektif : Ibu mengatakan payudaranya sudah membaik

Objektif : KU : Baik

Kesadaran : Composmentis TD : 123/87mmHg N : 86 kali/menit RR : 20 kali/menit

S : 36,1°C

Pemeriksaan fisik :

- Payudara sudah tidak tegang dan keras, tidak ada nyeri tekan, ASI keluar, Putting masih tenggelam, payudara tidak kemerahan

- Tfu setinggi simfisis, lochea serosa, kontraksi uterus baik, kandung kemih penuh, jahitan perineum sudah kering

Analisa : Ny.Y P1001Ab000 postpartum hari ke 7 dengan kondisi baik Penatalaksanan :

1. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan bahwa kondisinya saat ini baik.

E/ibu mengerti dengan penjelasan bidan

2. Memberikan dukungan kepada ibu agar dapat menjalani masa nifas dengan baik dan bahagia dengan cara memberikan tips untuk tidak stress saat anak rewel agar tidak menganggu produksi ASI

E/ ibu terlihat senang mendengarnya

3. Menjelaskan kepada ibu tanda bahaya nifas yaitu kembali perdarahan, demam, pusing hebat sampai berkunang – kunang ibu segera ke fasilitas kesehatan terdekat

E/ Ibu mengerti dengan penjelasan bidan

4. Megingatkan ibu untuk tetap menyusui ASI eksklusif selama 6 bulan kepada bayi E/ ibu mengerti dengan penjelasan bidan

5. Mengingatkan ibu untuk tetap memenuhi gizi masa nifas dengan tidak pilih – pilih makanan, memakan makanan tinggi ptotein untuk mengeringkan luka jahitan dan makanan kaya serat untuk melancarkan BAB dan makanan yang mendukung ketersediaan produksi ASI yaitu ASI booster, Daun katuk, susu almond.

E/ ibu menyetujui anjuran bidan. Ibu sudah menerapkan dirumah dengan makan putih telur 2 setiap makan pagi,siang dan malam

6. Menganjurkan ibu untuk memperdulikan personal hygiene dengan rutin 3x/hari mengganti softex, memakai celana dalam berbahan katun, cebok dari arah depan kebelakang, tidak cebok dengan air hangat jahitan masih basah.

E/ ibu mengerti dengan penjelasan bidan. Ibu sudah memakai celana dalam katun dan cebok dari arah depan ke belakang

7. Menganjurkan control ulang hari ke 10 pada tanggal 20 maret 2025 E/ ibu menyetujui anjuran bidan

(33)

31

TELAAH JURNAL

4.1 Identifikasi Artikel 4.1.1 Artikel

Nama Penulis : Yenny Aulia, Yeki Supriaten

Judul : Pengaruh Perawatan Payudara terhadap Bendungan ASI pada Ibu Nifas Tahun Terbit : Jurnal Menara Medika Vol 3 No 2 Maret 2021 | 169

Hasil Penelitian :

Hasil uji Independent Samples Test terhadap perbedaan rata-rata bendungan ASI pada kelompok yang diberikan perawatan payudara dan tidak diberikan perawatan payudara pada ibu nifas di puskesmas Ulu Talo kota Bengkulu tahun 2019 diperoleh nilai P Value = 0,047 <

0,05). Sehingga ada Pengaruh Perawatan payudara terhadap Bendungan ASI. Perawatan Payudara yang dilakukan secara baik dan teratur mampu mengurangi terjadinya bendungan ASI pada ibu nifas serta melancarkan produksi ASI.

a. Hasil Telaah Kritis Jurnal Terapi

No. Pertanyaan Jawaban Penjelasan/Keterangan Ya Tidak Tidak Jelas

1. Apakah latar belakang jurnal ini dinayatakan jelas

v Latar belakang

dijelaskan dengan jelas yaitu pemberian perawatan payudara untuk mengurangi bendungan asi . 2. Apa yang menjadi permasalahan

utama dalam jurnal ini ?

v Permasalahan pada

jurnal ini yaitu ibu nifas rentan terjadi payuara bengkak hingga bendungan asi saat masa nifas

3. Apa tujuan jurnal ini ? v Tujuan untuk

mengetahui pengaruh perawatan payudara dengan kejadian bendungan ASI 4. Apakah studi ini valid ?

Apakah alokasi sampel terhadap perlakuan dirandomisasi ?

V Sampel diberikan

kriteria inkluasi dan ekslusi

Apakah semua sampel yang diikutkan ke dalam studi diperhitungkan secara benar sampai dengan akhir studi ?

v -

Apakah dilakukan buta ganda (studi v -

(34)

32 double blind pada kasus ini?)

Apakah keseragaman diantara 2 grup dijelaskan ?

v Dijelaskan bahwa

keseragaman itu adalah ibu nifas.

Diluar dari perlakuan apakah ke 2 grup diperlakukan sama ?

v

5. Hasil

Seberapa besar efek perlakuan ? v Hasil analisis

pengaruh perawatan payudara dengan kejadian bendungan ASI di peroleh bahwa dari responden yang tidak melakukan perawatan payudara mempunyai rata-rata skor Bendungan ASI sebesar 3,67 kemudian Responden yang melakukan perawatan payudara mempunyai rata-rata skor

Bendungan ASI sebesar 2,73.

Seberapa akurat perkiraan terhadap efek perlakuan ?

v Hasil uji Independent

Samples Test terhadap perbedaan rata-rata bendungan ASI pada kelompok yang diberikan perawatan payudara dan tidak diberikan perawatan payudara p h nilai P Value = 0,047 <

0,05).ada ibu nifas sebesar

6. Apakah hasil penelitian dapat diaplikasikan ke masyarakat ?

v Penelitian ini dapat

diaplikasikan ke masyarakat khusunya ibu nifas untuk melakukan perawatan payudara khususnya pada ibu dengan

keluhan bendungan asi Dapatkan hasil penelitian

diaplikasikan ke pasien ?

v

Apakah semua luaran yang penting dilaporkan

v Apakah kemungkinan keuntungan

dari perlakuan lebih besar dari bahaya dan biaya ?

v

(35)

32 7. Kesimpulan

Hasil atau rekomendasi adalah valid ? V Penelitian ini valid, bermanfaat dan relevan untuk

diaplikasikan kepada ibu nifas dikarenakan merupakan intervensi non farmokologis yang tidak berbahaya dan mudah dilakukan ibu dirumah setiap hari

(36)

33

Ny. Y datang ke Klinik Sahabat Sehat melakukan kunjungan masa nifas hari ke 3 pada tanggal 10 Maret 2025 Pukul 10.00 WIB dengan keluhan payudara keras dan demam. Saat dilakukan pengkajian, ibu mengatakan belum bisa BAB setelah bersalin hingga hari ini. Kemudian, keadaan umum ibu baik dengan TD 117/82 mmHg, Nadi 79x/menit, Suhu 38,3oC dan Rr 20x/m. Pada pemeriksaan fisik khususnya pemeriksaan payudara didapakan payudara tampak tegang, keras, terdapat nyeri tekan, puting tidak menonjol dan ASI keluar sedikit.Kemudian pada area abdomen, didapatkan TFU 3 jari dibawah pusat, Kontraksi uterus baik dan pengeluaran lochea sangunolenta dimana keadaan ibu sudah sesuai masa nifasnya. Namun pada genetalia terlihat jahitan perineum sedikit basah. penulis mengkaji personal hygiene dan pola pemenuhan nutrisi ibu didapatkan ibu tidak berani untuk cebok didaerah jahitan sehingga kurangnya kebersihan dari daerah kewanitaan tersebut. Berdasarkan pola makan, ibu mengatakan tidak tarak makan. Berdasarkan data subjektif dan objektif maka, Ny.y P1001Ab000 postpartum hari ketiga dengan bendungan ASI.

Menurut (Prasetyo.2019) Bendungan ASI dapat terjadi karena adanya penyempitan duktus laktiferus pada payudara atau karena asi tidak optimal keluar dan dapat terjadi bila memiliki kelainan puting susu misalnya puting susu datar, terbenam atau cekung. Kejadian ini biasanya disebabkan karena air susu yang menumpuk tidak segera dikeluarkan sehingga menjadi sumbatan. Tanda gejala yang sering muncul pada saat terjadi bendungan ASI antara lain payudara tegang, terasa panas, keras, dan nyeri saat ditekan, berwarna kemerahan dan suhu tubuh ibu sampai 38˚C. Berdasarkan hal itu, tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek.

Pada kasus ini Ny. Y, penulis memberikan asuhan tentang cara perawatan payudara. Hal ini sesuai dengan teori (Yenny Aulia.2021) Bendungan ASI dapat dicegah dengan perawatan payudara dan menyusui secara on demand.. Pendidikan kesehatan tentang cara perawatan payudara, proses laktasi sangatlah penting diberikan kepada ibu hamil dan menyusui untuk mempersiapkan proses laktasi sehingga bisa meminimalisir kejadian bendungan ASI. Kemudian memberikan asuhan tentang bagaimana personal hygiene ibu untuk menjaga daerah kewanitaan nya dengan bersih seperti menggunakan celana dalam katun, mengganti pembalut 3x/hari, cebok dari arah depan kebelakang dan mengeringkan dengan tisu sehabis BAK dan BAB hal ini dimaksud agar daerah kewanitaan khususnya jahitan ibu akan bersih dan tidak infeksi akibat lembap. Kemudian ibu diberikan asuhan pemenuhan nutrisi untuk tidak tarak makan dan makan kaya serat agat jahitan cepat kering dan ibu bisa BAB dihari nifas selanjutnya. Hal ini tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek.

(37)

34

Pada tanggal 12 Maret 2025 bidan melakukan evaluasi keadaan ibu. Didapatkan keluhan demam serta nyeri pada payudara ibu berkurang. Bidan kemudian melakukan pemeriksaan, Payudara tampak tegang dan kerasnya sudah berkurang, ASI keluar, Putting ibu masih tenggelam,.pada abdomen Tfu 3 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik, Lochea sangunolenta, Jahitan perinem sedikit kering, sudah bisa BAB 1x dipagi hari. Bidan kemudian memberikan pujian karena dihari ke 5 nifas ini ibu banyak mengalami perubahan. Asuhan yang dilakukan bidan dengan melakukan perawatan payudara untuk bendungan ASI kembali dianjurkan 2x sehari , memastikan putting susu menonjol dengan menyedot putting susu dengan spuit 5 cc perlahan dan memberikan alternatif pilihan untuk ibu membeli pompa asi dengan syarat memompa setiap 2-3 jam sekali dengan keadaan alat ibu dan bayi steril.. serta mengingatkan untuk pemenuhan gizi dan nutrisi ibu nifas serta personal hygiene. Ibu menyetujui anjuran bidan dan kembali dievaluasi oleh bidan pada tanggal 14 Maret 2025 didapatkan Payudara sudah tidak tegang dan keras, tidak ada nyeri tekan, ASI keluar, Putting masih tenggelam, payudara tidak kemerahan, Tfu setinggi simfisis, lochea serosa, kontraksi uterus baik, kandung kemih penuh, jahitan perineum sudah kering

Pada hari ketujuh ini ibu mengalami perubahan yang baik. Ibu dalam kondisi baik maka fokus asuhan yang diberikan bidan yaitu Memberikan dukungan kepada ibu agar dapat menjalani masa nifas dengan baik dan bahagia dengan cara memberikan tips terhindar dari babyblues, Menjelaskan kepada ibu tanda bahaya nifas yaitu kembali perdarahan, demam, pusing hebat sampai berkunang – kunang ibu segera ke fasilitas kesehatan terdekat serta Megingatkan ibu untuk tetap menyusui ASI eksklusif selama 6 bulan kepada bayi yang didukung pemenuhan kebutuhan nutrisi yang memicu produksi ASI seperti susu almond, kacang – kacang, daun kelor atau daun katuk dan asi booster.

(38)

35 BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan

Berdasarkan studi kasus Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas di Klinik Sahabat Sehat

1. Telah dilakukan pengkajian data dan analisis data pada Ny. Y postpartum hari ke 3 dengan bendungan ASI

2. Telah dilaksanakan perumusan untuk menganalisa dan menginterpretasikan data untuk menegakkan diagnose atau masalah aktual pada Ny. Y postpartum hari ke 3 dengan bendungan ASI

3. Menetapkan rencana tindakan asuhan kebidanan pada Ny. Y post partum hari ke 3 dengan bendungan ASI, berdasarkan diagnosa masalah aktual dan masalah potensial.

4. Telah dilaksanakan tindakan asuhan kebidanan pada Ny. Y post partum hari ke 3 denga bendungan ASI hasil semua tindakan dapat dilakukan secara menyeluruh tanpa adanya hambatan.

5. Telah dilakukan evaluasi hasil asuhan kebidanan pada Ny. Y post partum hari ke 3 dengan bendungan ASI

6. Telah dilakukan pendokumentasian semua hasil temuan dan tindakan asuhan pada Ny. Y post partum hari ke 3 dengan bendungan ASI.

6.2 Saran

Berdasarkan tinjauan kasus dan pembahasan penulis memberikan sedikit saran dan masukan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca maupun instansi terkait.

a. Saran Untuk Pasien

1) Setelah mendapatkan KIE oleh bidan diharapkan pasien pasien dapat memahami apa yang sudah disampaikan oleh bidan dan menerapkan dalam keseharian untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi

2) Menganjurkan pasien untuk melakukan aktivitas fisik agar tetap mengontrol berat badan dan melakukan pola makan yang seimbang

3) Menganjurkan pasien untuk melakukan kunjungan ulang yang sudah dijadwalkan atau sewaktu – waktu muncul keluhan

b. Saran Untuk Bidan

1) Dalam memberikan pelayanan dan melakukan tugasnya setiap tindakan yang dilakukan harus dengan persetujuan pasien dan diharapkan bidan dapat

(39)

36

memberikan informasi yang sesuai agar tidak ada kesalahpaham antara bidan dan pasien

2) Bidan dapat memberikan dan membina hubungan baik antara pasien dan keluarga sehingga terpai tujuan yang diinginkan

c. Saran Untuk Instansi

Agar dapat mendapatkan hasil yang diinginkan oleh instansi perlu adanya dilakukan manajemen kebidanan dalam memecahkan masalah agar lebih ditingkatkan dan dikembangkan, melalui proses praktik klinik ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk mendapatkan ilmu yang lebih yang belum didapatkan ketika di pembelajaran guna menciptakan tenaga kesehatan yang ahli dalam bidangnya dan professional dalam tugasnya.

(40)

37

DAFTAR PUSTAKA

<

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,01 menunjukkan adanya hubungan tingkat pengetahuan dan tindakan ibu dalam mencegah bendungan ASI di RSU Sundari Medan Tahun

Untuk mengidentifikasi tindakan ibu menyusui dalam mencegah

Hubungan Sosial Budaya dan Pengetahuan Dalam Pemberian MP- ASI Dini Pada Ibu Yang Mempunyai Bayi 0-6 Bulan.. Pengaruh karakteristik, faktor internal dan

Penelitian yang dilakukan di RSUD Lakipadada, mengenai hubungan kecemasan, asupan gizi dan frekuensi pemberian ASI dengan produksi ASI Ibu Menyusui di RSUD

diatas diperoleh hasil tingkat pengetahuan ibu nifas tentang bendungan saluran ASI berdasarkan pekerjaan, responden berpengetahuan baik mempunyai pekerjaan swasta

Latar belakang : Ada beberapa hal yang menghambat terjadinya bendungan ASI, diantaranya rendahnya pengetahuan ibu dalam melakukan perawatan payudara ,kurangnya pelayanan

Faktor-faktor lain yang menyebabkan kegagalan dalam pemberian ASI eksklusif adalah karena karena faktor intern dari ibu seperti terjadinya bendungan ASI yang mengakibatkan ibu

Menurut peneliti kejadian bendungan ASI pada ibu nifas di wilayah Puskesmas Wuryantoro terjadi karena disebabkan kondisi puting yang tenggelam karena kurangnya perawatan payudara pada