Kelompok 3
Mif’al Bagus Prasetyo (21/476819/SV/19132) Akmalia Luthfia Herdana (21/479355/SV/19487) Fadlan Yasin Ramadhani S. (21/479451/SV/19510)
TEKNIK PENGELOLAAN DAN PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR SIPIL
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
2024
D-IV Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil Departemen Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM ESTIMASI BIAYA PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR
(STUDI KASUS: GEDUNG DLIKES SV UGM)
Diajukan untuk memenuhi persyaratan lulus mata kuliah Praktikum Estimasi Biaya Pemeliharaan Infrastruktur pada program Diploma IV Teknik Pengelolaan dan
Pemeliharaan Infrastruktur Sipil Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada
DISUSUN OLEH:
Kelompok 3
Mif’al Bagus Prasetyo (21/476819/SV/19132) Akmalia Luthfia Herdana (21/479355/SV/19487) Fadlan Yasin Ramadhani S. (21/479451/SV/19510)
DISETUJUI OLEH:
Dosen
Ir. Bambang Herumanta, M. T.
NIP. 196001051988031002
LEMBAR ASISTENSI
LAPORAN PRAKTIKUM ESTIMASI BIAYA PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR
Mata kuliah : Estimasi Biaya Pemeliharaan Bangunan Gedung
Kelompok : 3
Kelas/Angkatan : Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil/ 2021 Nama anggota : 1. Mif’al Bagus Prasetyo (21/476819/SV/19132)
2. Akmalia Luthfia Herdana (21/479355/SV/19487) 3. Fadlan Yasin Ramadhani S. (21/479451/SV/19510)
No. Hari/Tanggal Keterangan Paraf
D-IV Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil Departemen Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas izin-Nya, kami dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Estimasi Biaya Pemeliharaan Infrastruktur dengan baik.
Tujuan penulisan laporan ini agar mahasiswa dapat memahami dan menerapkan semua ilmu dan teori di lapangan dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini penyusun menyadari tanpa adanya bimbingan, pengarahan dan bantuan dari semua pihak tentunya laporan ini tidak akan terselesaikan. Oleh karena itu, kami ucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Eng. Iman Haryanto, S.T., M.T. selaku Ketua Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.
2. Bapak Nursyamsu Hidayat, S.T., M.T., Ph.D. selaku Ketua Program studi D-IV Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil.
3. Bapak Ir. Bambang Herumanta, MT. selaku dosen Mata Kuliah Praktikum Estimasi Biaya Pemeliharaan Infrastruktur.
4. Rekan-rekan Mahasiswa/i Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.
Dalam segala upaya penyusunan laporan ini, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang perlu disempurnakan, baik dari materi maupun penyajiannya. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dalam memperbaiki laporan ini.
Yogyakarta, 4 September 2024
Kelompok 3
DAFTAR ISI
HALAMAN COVER...i
LEMBAR PENGESAHAN...ii
LEMBAR ASISTENSI... iii
KATA PENGANTAR...iv
DAFTAR ISI... v
DAFTAR GAMBAR... vi
DAFTAR TABEL...vii
BAB I PENDAHULUAN... 1
1. 1 Latar Belakang...1
1. 2 Identifikasi Masalah... 1
1. 3 Tujuan...2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 3
2. 1 Bangunan Gedung...3
2. 2 Fungsi Bangunan Gedung... 3
2. 3 Bagian Bangunan Gedung...4
2. 4 Operasional Bangunan Gedung...7
2. 5 Pemeliharaan Bangunan Gedung...8
2. 6 Estimasi Biaya Pemeliharaan...9
BAB III METODOLOGI... 11
3.1 Lokasi Survei dan Asesmen...11
3.2 Data Bangunan... 12
3.3 Metode Pelaksanaan...12
3.4 Instrumen Survei... 12
3.5 Waktu dan Tahapan Pelaksanaan...13
3.6 Flowchart... 13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...16
4.1 Hasil Pemeriksaan...16
D-IV Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil Departemen Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3. 1 Lokasi Survei dan Asesmen Bangunan ”Gedung DLIKES SV UGM”...11 Gambar 3. 2 Site Plam Gedung DLIKES SV UGM...11 Gambar 3. 3 Meteran bangunan... 13
DAFTAR TABEL
Tabel 4. 1 Rekapitulasi Asesmen Struktural Gedung DLIKES...16 Tabel 4. 2 Rekapitulasi Asesmen Arsitektural Gedung DLIKES...16 Tabel 4. 3 Rekapitulasi Asesmen MEP Gedung DLIKES...17
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Setiap bangunan gedung memiliki umur rencana yang telah ditentukan, yakni periode waktu di mana bangunan tersebut diharapkan dapat berfungsi secara efektif dan efisien. Untuk mencapai umur rencana tersebut, diperlukan perencanaan yang matang dan pelaksanaan pemeliharaan yang rutin. Pemeliharaan bangunan gedung bukan hanya sekedar tindakan perbaikan ketika kerusakan sudah terjadi, tetapi lebih kepada upaya pencegahan kerusakan. Dengan melakukan pemeliharaan secara rutin dan berkala, kita dapat mengidentifikasi potensi kerusakan sejak dini dan melakukan tindakan perbaikan sebelum kerusakan semakin parah. Hal ini akan sangat efektif dalam mengoptimalkan umur pakai bangunan dan mengurangi biaya perawatan jangka panjang.
Seperti halnya Gedung DLIKES SV UGM, sebagai pusat kegiatan akademik dan penelitian di bidang kesehatan, memiliki peran yang sangat penting dalam faktor penunjang keberhasilan suatu institusi pendidikan. Namun, seperti halnya bangunan lainnya, gedung ini mengalami proses penuaan yang ditandai dengan munculnya berbagai kerusakan. Praktikum ini bertujuan untuk melakukan estimasi biaya pemeliharaan Gedung DLIKES SV UGM dengan mempertimbangkan karakteristik unik dari gedung tersebut, seperti adanya laboratorium dengan peralatan khusus dan sistem ventilasi yang kompleks. Hasil dari praktikum ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pihak universitas dalam menyusun rencana anggaran pemeliharaan jangka panjang, sehingga kondisi gedung dapat selalu terjaga dengan baik.
1. 2 Identifikasi Masalah
Pada laporan ini, permasalahan yang dihadapi adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi kondisi dan kerusakan (asesmen) bangunan gedung DLIKES SV UGM.
2. Pelaksanaan operasional, pemeliharaan dan perbaikan bangunan gedung menggunakan metode yang tepat sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.24/PRT/M/2008.
3. Besaran estimasi biaya Pelaksanaan operasional, pemeliharaan dan perbaikan bangunan gedung yang dibutuhkan.
1. 3 Tujuan
1. Mengetahui kondisi terkini dan kerusakan pada bangunan gedung DLIKES.
2. Mengetahui kegiatan operasional, pemeliharaan dan perbaikan yang tepat sesuai kondisi bangunan/gedung.
3. Mengetahui besaran estimasi biaya operasional, pemeliharaan, perbaikan, dan penggantian yang dibutuhkan pada bangunan/ gedung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Bangunan Gedung
Bangunan gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya maupun, kegiatan khusus. Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 24 tahun2008 tentang pedoman pemeliharaan bangunan gedung, fungsi dari bangunan gedung meliputi fungsi hunian, keagamaan, usaha, sosial dan budaya serta fungsi khusus adalah ketetapan mengenai pemenuhan persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung.
2. 2 Fungsi Bangunan Gedung
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung tidak hanya sebatas digunakan sebagai tempat hunian, tetapi bengunan juga sekarang didirikan untuk menjawab fungsi sebagai fungsi keagamaan, usaha, sosial dan budaya, serta khusus. Secara umum, fungsi bangunan adalah sebagai berikut:
1. Fungsi Hunian
Pembuatan bangunan rumah tinggal bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan papan/tempat tinggal. Oleh karena itu, pembuatan bangunan ini harus memperhatikan faktor keamanan dan kenyamannya. Contoh-contoh bangunan rumah tinggal antara lain rumah, perumahan, rumah susun, apartemen, mess, kontrakan, kos-kosan, asrama.
2. Fungsi Usaha
Bangunan dengan fungsi sebagai usaha didirikan untuk mendukung aktivitas komersial meliputi jual, beli, dan sewa. Bangunan komersial ditujukan untuk keperluan bisnis sehingga faktor lokasi yang strategis memegang peranan penting bagi kesuksesan bangunan tersebut. Contoh-contoh bangunan komersial di
antaranya pasar, supermarket, mall, retail, pertokoan, perkantoran, dan komplek kios.
3. Fungsi Sosial dan Budaya
Mempunyai fungsi utama sebagai tempat melakukan kegiatan sosial dan budaya yang meliputi bangunan gedung pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, kebudayaan, laboratorium, dan bangunan gedung pelayanan umum.
4. Fungsi Keagamaan
Masjid, gereja, kelenteng, pura, dan vihara ialah contoh-contoh dari bangunan fasilitas peribadatan. Semua bangunan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan batin manusia sebagai makhluk yang memiliki 8 Tuhan. Bangunan peribadatan biasanya digunakan sebagai tempat beribadah dan upacara keagamaan.
5. Fungsi Khusus
Mempunyai fungsi utama sebagai tempat melakukan kegiatan yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi tingkat nasional atau yang penyelenggaraannya dapat membahayakan masyarakat di sekitarnya dan/atau mempunyai risiko bahaya tinggi yang meliputi bangunan gedung untuk reaktor nuklir, instalasi pertahanan dan keamanan, dan bangunan sejenis yang ditetapkan oleh Menteri.
2. 3 Bagian Bangunan Gedung
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 24 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pemelihaaraan dan Perawatan Gedung komponen bangunan yang dilakukan untuk pemeliharaan dan perawatan adalah sebagai berikut ini.
1. Komponen Struktural, merupakan bagian –bagian yang membentuk bangunan yang pada dasarnya berfungsi untuk mendukung keberadaan elemen nonstruktur, fungsi lain dari komponen struktural ini adalah meneruskan beban bangunan dari bagian bangunan atas menuju bagian bangunan bawah, lalu menyalurkannya ke tanah.
Bagian-bagian dari komponen struktural ini terdiri dari, pondasi, kolom, balok, tangga, plat, serta rangka atap.
2. Komponen Nonstruktural, adalah merupakan bagian bangunan yang tidak terkait secara langsung dengan kekuatan struktur bangunan dan menjadikan beban bagi elemen struktural, biasanya elemen non struktural mengalami kerusakan yang lebih awal. Beberapa komponen nonstruktural adalah plafon, kusen, pintu, jendela, dinding, dan lain lain.
D-IV Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil Departemen Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada 3. Komponen Mekanikal, merupakan bagian bangunan yang mekanis dan memerlukan prinsip mekanis didalamnya, umumnya meliputi tentang sistem sanitasi, plambing, tata udara, serta transportasi pada bangunan gedung tersebut.
4. Komponen Elektrikal, merupakan bagian pada bangunan yang memerlukan tenaga listrik pada penerapannya. Komponen Elektrikal mempunyai kegunaan dalam hal fungsional pendukung di dalam gedung seperti tata cahaya, telepon, catu daya, serta alarm.
5. Komponen Ruang Luar, bangunan gedung memiliki kontribusi terhadap kualitas lingkungan binaan, sedangkan lingkungan binaan memiliki dampak terhadap lingkungan alam maka perlu juga diperhatikan proporsionalitas terhadap aspek lingkungan, umumnya seperti halaman luar gedung, lanskap, dan taman.
6. Komponen Tata Graha, merupakan kegiatan housekeeping yang membahas hal hal terkait dengan sistem pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung, diantaranya mengenai cleaning service, landscape, pest control, general cleaning mulai dari persiapan pekerjaan, proses oprasional sampai hasil kerja akhir.
2.3.1 Komponen Arsitektural
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 24 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung, yang termasuk dalam komponen arsitektural pada gedung adalah sebagai berikut.
1. Sarana Jalan Keluar 2. Dinding Kaca 3. Dinding Keramik 4. Dinding Marmer
5. Dinding dengan penutup cladding alumunium composite 6. Plafon Triplek
7. Plafon Akustik 8. Plafon Gypsum 9. Plafon Kayu 10. Plafon Metal
11. Kunci, Grendel, Engsel
12. Sliding Door, Rolling Door, Folding Door
13. Kusen Alumunium 14. Kusen Kayu
15. Kusen Plastik dan Kusen Besi 16. Door Closer
2.3.2 Komponen Struktural
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 24 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung, yang termasuk dalam komponen struktural pada gedung adalah sebagai berikut.
1. Pondasi Bangunan
2. Struktur Bangunan Baja yang biasanya pada konstruksu kuda kuda atau konstruksi atap bangunan atau tiang bagian pelengkapnya
3. Struktur Bangunan Beton dimana untuk bahan pada konstruksi tiang, lantai/plat lantai atau atap, serta kolom dan balok beton
4. Struktur Bangunan Komposit 5. Dinding Bata Merah
6. Dinding Batu Kali 7. Dinding Beton 8. Dinding Kayu
2.3.3 Komponen Mekanikal Elektrikal
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 24 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung, yang termasuk dalam komponen mekanikal dan elektrikal pada gedung adalah sebagai berikut.
1. Saluran Air Kotor 2. Saluran Air Bersih 3. Peralatan Sanitair 4. Pemanas Air 5. Kran Air
6. Bak Cuci Piring 7. Sistem Tata udara
D-IV Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil Departemen Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (Chiller, Compressor, Condensor/Cooler, Metering Device, Panel Control/Power, AHU/FCU/Ducting, Pompa, Instalasi Pipa)
8. Sistem Transportasi Vertikal
(Lift Penumpang, Lift Barang, Lift Kebakaran, Eskalator, Travelator) 9. Sistem Proteksi Kebakaran
a. Kerumah tanggaan keselamatan kebakaran (fire safety housekeeping).
b. Sarana jalan ke luar (means of access)
c. Sistem deteksi dan alarm kebakaran dan sistem komunikasi suara darurat d. Alat Pemadam Api Ringan (APAR) (fire extinguisher)
e. Sistem pompa kebakaran terpasang tetap
f. Sistem pipa tegak dan slang atau hidran bangunan g. Sistem sprinkle otomatik
h. Sistem pemadam kebakaran terpasang tetap lain i. Sistem pengendalian dan manajemen asap 2. 4 Operasional Bangunan Gedung
Operasional bangunan gedung merujuk pada serangkaian tindakan dan proses yang diperlukan untuk menjaga, mengelola, dan memastikan kinerja optimal dari suatu bangunan sepanjang masa. Hal ini melibatkan manajemen fasilitas, perawatan rutin, pengelolaan aset fisik, dan kepatuhan terhadap peraturan dan regulasi yang berlaku. Nilai fungsional dalam suatu proyek akan tergantung pada keputusan dan penerapan dari sasaran yang telah dikembangkan pada tahapan-tahapan sebelumnya dengan waktu operasi yang diproyeksikan untuk waktu pertode yang ditentukan secara berlanjut akan menjadi jelas bahwa biaya keseluruhan dan nilai bagi pihak pemilik selama masa operasinya sebagian besar ditentukan selama periode dari konsepsi ke stadium memulai kerja.Operasional dalam suatu infrastruktur secara umum memiliki beberapa komponen yaitu Service Delivery Structure.
Service Delivery Structure dalam operasional bangunan gedung merujuk pada organisasi atau cara di mana layanan dan perawatan bangunan diatur dan dikelola.
Struktur pengiriman layanan operasional bangunan dapat berbeda-beda tergantung pada kompleksitas bangunan, ukuran, dan jenis penggunaan. Biasanya, ini melibatkan kombinasi personil internal dan penyedia jasa eksternal, serta penggunaan teknologi dan
sistem manajemen fasilitas untuk mengoptimalkan operasional bangunan secara keseluruhan.
2. 5 Pemeliharaan Bangunan Gedung
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:24/PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan Gedung, pemeliharaan bangunan gedung adalah kegiatan menjaga keandalan bangunan gedung beserta prasarana dan sarananya agar bangunan gedung selalu laik fungsi (preventive maintenance). Pekerjaan permeliharaan meliputi jenis pembersihan, perapihan, pemeriksaan, pengujian, perbaikan dan/atau penggantian bahan atau perlengkapan bangunan gedung, dan kegiatan sejenis lainnya berdasarkan pedoman pengoperasian dan pemeliharaan bangunan gedung.
Berdasarkan Modern Maintenance Management, terdapat lima kategori kegiatan pemeliharaan, antara lain:
1. Pemeliharaan Reguler
Pemeliharaan ini dilaksanakan secara kontinu agar interval waktu tertentu yang telah direncanakan tergantung pada kualitas bahan dari komponen yang digunakan pemeliharaan ini biasanya dilakukan secara harian.
2. Pemeliharaan Periodik
Merupakan pemeliharaan terencana untuk komponen yang masih digunakan, Pemeliharaan ini dilakukan untuk komponen-komponen yang mempunyai teknik pemeliharaan dan keahlian khusus, seperti pembersihan dan pergantian saluran AC, pemeriksaan pada sistem keamanan terhadap kebakaran dan lain-lain.
3. Pemeliharaan Jangka Panjang
Pemeliharaan ini dalakuakan untuk memperpanjang usia ekonomis suatu komponen dengan melakukan penggantian elemen dari komponen tersebut. Contoh:
penggantian kabel lift yang dilaksanakan 10 - 15 tahun.
4. Pemeliharaan Struktur
Bangunan Pemeliharaan ini dilakukan untuk mempertahankan suatu bangunan dari struktur bangunan. Contoh : memperbaiki korosi yang terjadi pada permukaan beton bertulang.
5. Pemeliharaan Darurat
D-IV Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil Departemen Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada Darurat Pemeliharaan ini lakukan apabila terjadi kerusakan pada komponen yang tidak diperkirakan sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi sistem kerja komponen tersebut. Contoh : kerusakan sistem elektrikal akibat sambaran petir.
2. 6 Estimasi Biaya Pemeliharaan
Biaya pemeliharaan merupakan salah satu biaya yang terjadi dalam suatu siklus pembiayaan proyek. Biaya pemeliharaan tersebut terjadi sepanjang masa penggunaan bangunan. Biaya pemeliharaan biasanya berupa biaya perbaikan komponen, modifikasi, penggantian komponen dan lain sebagainya, (Kelly, 2005). Estimasi biaya pemeliharaan dan perawatan gedung merupakan salah satu tahapan yang digunakan untuk merencanakan biaya yang dibutuhkan dalam melakukan tindakan tersebut. Tahapan ini dilakukan dengan cara identifikasi biaya, cost breakdown structure, dan penerapan serta estimasi biaya.
Faktor-faktor yang diperlukan dari estimator agar supaya dicapai tingkat keberhasilan adalah estimator harus mempunyai pengalaman pada keadaan-keadaan yang sulit diperkiraan dan mempunyai keputusan yang bernilai. Disamping itu estimator harus mempunyai informasi situasi persaingan dengan pesaing lain dan juga mempunyai keahlian untuk mendapatkan keuntungan dari pengalaman-pengalaman proyek yang lalu dan melakukan perbaikan pada proyek-proyek yang akan datang. Selain itu, data yang baik dari pengalaman proyek yang lalu adalah sangat penting untuk menunjang ketepatan dan keakuratan dari estimasi.
Di dalam praktik estimasi biaya tidak jarang kita menemui beberapa kendala ataupun hambatan dengan si ngkatan waktu yang dimiliki oleh para quantity surveyor di dalam melaksankan perhitungan estimasi,maka tidak dapat dihindari munculnya hambatan- hambatan di dalam estimasi tersebut, Victor G. hajek (1994) menyebutkan beberapa hambatan yang mungkin akan muncul dalan pelaksanaan estimasi, antara lain:
1. Adanya hal hal yang terlewatkan misalnya apakah telah di rencanakan adanya pemeriksaan dan apakah taksirsan perhitungan telah memeperhitungkan segala aspek perekayasaan, bahan, dan lain-lain untuk upaya demikian.
2. Rincian pekerjaanh yang tidak memadai. Apakah struktur rincian semua pekerjaan yang sedang digunakan telah memperhatikan segala sub sistem serta upaya yang diperlukan untuk proyek tersebut.
3. Salah tafsir tentang fungsi atau data proyek. Tetapkah penafsiran kerumitan desain tersebut, salah tafsir akan mengakibatkan tafsiran biaya yang meleset dari harga aslinya.
4. Penggunaan teknik penaksiran yang kurang tepat. Untuk desain yang dipermasalahkan harus diterapkan teknik penaksiran yang tepat, misalkan penggunaan statistic biaya yang diperolah melalui produksi suatu sub system yang serupa bagi suatu alat prototype melalui yang memerlukan pekerjaan perekayasaan dan pengembangan pasti akan menghasilkan taksiran biaya yang sangat berbeda.
5. Kegagalan mengenditifikasi dan berkonsentrasi pada unsur-unsur biaya utama. Telah ditetapkan secara statistik bahwa setiap proyek, 20% dari sub sistem akan menyebabkan 80% biaya total. Dengan demikian para uantity surveyor seharusnya memusatkan waktu serta golongan golongan upaya biaya tinggi guna meningkatkan peluang mereka memperoleh taksiran biaya yang tepat.
D-IV Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil Departemen Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada
BAB III METODOLOGI
3.1 Lokasi Survei dan Asesmen
Gambar 3. 1 Lokasi Survei dan Asesmen Bangunan ”Gedung DLIKES SV UGM”
Sumber: Google Earth
Gambar 3. 2 Site Plam Gedung DLIKES SV UGM
3.2 Data Bangunan
a. Bangunan : Gedung DLIKES Sekolah Vokasi UGM b. Fungsi Bangunan : Kegiatan Perkuliahan
c. Jumlah Lantai : 2 Lantai d. Tinggi Bangunan : ± 8 meter
e. Lokasi : Gedung Iso Reksohadiprodjo, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada, Sekip Unit 1 Catur Tunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. 55281
3.3 Metode Pelaksanaan
Penilaian dilakukan dengan metode survei berupa asesmen visual secara langsung dengan tujuan memelihat kondisi kerusakan yang terjadi pada bangunan Gedung Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada.
3.4 Instrumen Survei 1. Peralatan
Peralatan yang dibutuhkan dalam Praktikum Estimasi Pemeliharaan Infrastruktur,antara lain:
1. Meteran bangunan
Alat ini digunakan ini untuk mengukur dimensi kerusakan pada dinding, kusen, atau kerusakan yang lain pada bangunan.
D-IV Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil Departemen Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada
Gambar 3. 3Meteran bangunan Sumber: Dokumentasi Pribadi
2. Smart phone
Digunakan untuk mencatat data hasil asesmen dan informasi yang didapatkan, serta mendokumentasikan kerusakan atau bagian yang harus diperlukan perbaikan.
3.5 Waktu dan Tahapan Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan survei pada hari Jumat, 30 Agustus 2024 pukul 09.00 - 11.00 WIB.
Kegiatan yang dilakukan antara lain, 1. Menyiapkan peralatan survei.
2. Menentukan lokasi pengambilan data kondisi bangunan.
3. Mengidentifikasi kondisi bangunan gedung secara menyeluruh dari aspek struktural, arsitektural, mekanikal, elektrikal, dan perpipaan.
4. Mencatat data kerusakan.
5. Mendokumentasikan pada bagian kerusakan.
6. Menentukan tindakan pemeliharaan yang tepat sesuai dengan jenis kerusakan.
7. Membuat estimasi biaya pemeliharaan bangunan.
8. Membuat laporan hasil estimasi biaya pemeliharaan bangunan.
3.6 Flowchart
Mulai
Menyiapkan peralatan survei
Menentukan lokasi pengambilan data kondisi bangunan
Mengidentifikasi kondisi bangunan gedung secara menyeluruh A
Mencatat data kerusakan dan mendokumentasikannya A
Menentukan tindakan pemeliharaan yang tepat sesuai dengan jenis kerusakan
Membuat estimasi biaya pemeliharaan bangunan
Membuat laporan hasil estimasi biaya pemeliharaan bangunan
Selesai
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pemeriksaan
Berdasarkan hasil survei dan asesmen yang telah dilakukan, didapatkan rekapitulasi kerusakan dari beberapa bagian gedung DLIKES, antara lain:
4.1.1 Struktural
Tabel 4. 1 Rekapitulasi Asesmen Struktural Gedung DLIKES No Sub Komponen Jenis Kerusakan Tingkat
Kerusakan Dokumentasi
1. Balok Tidak ada -
2. Dinding pada kolom
Terdapat
keretakan Sedang
4.1.2 Arsitektural
Tabel 4. 2Rekapitulasi Asesmen Arsitektural Gedung DLIKES No Sub Komponen Jenis Kerusakan Tingkat
Kerusakan Dokumentasi
1. Genteng penutup
atap Geser Ringan
2. Plafond
Terdapat kerusakan
melepuh, berjamur
Ringan
D-IV Teknik Pengelolaan dan Pemeliharaan Infrastruktur Sipil Departemen Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada
3. Dinding
Terdapat kerusakan
melepuh, berjamur
Sedang
4. Pintu Tidak ada -
5. Kusen jendela
Terjadi pengeroposan pada sudut kusen
Berat
6. Keramik Terjadi keretakan Ringan
4.1.3 Mekanikal, Elektrikal, dan Plumbing
Tabel 4. 3 Rekapitulasi Asesmen MEP Gedung DLIKES No Sub Komponen Jenis Kerusakan Tingkat
Kerusakan Dokumentasi
1. Talang air sudah berkarat
dan terlihat rapuh Berat
2. Pipa Terdapat banyak
jamur, rembes Berat
3. AC Tidak ada -
4. Kabel Kurang rapi Sedang
5. Pipa Pengeroposan
pipa Berat
6. Lampu Tidak ada -
7. Pipa air bersih
Perlu dilakukan pengecatan ulang
dan pergantian pipa
Sedang