ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. W DENGAN POST HEMOROIDECTOMY DI RUANG FLAMBOYAN
RSUD dr. R SOETIJONO BLORA
DISUSUN OLEH : Risdayani Julinda Harmyarti
NIM. P1337420418091 3A
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG PRODI D III KEPERAWATAN BLORA
2021
LEMBAR PENGESAHAN
Telah diterima Asuhan Keperawatan yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Tn. W Dengan Post Hemoroidectomy di Ruang Flamboyan RSUD dr. R Soetijono Blora” pada :
Hari :
Tanggal :
Tempat :
Demikian lembar pengesahan yang saya buat, apabila ada salah kata mohon dimaafkan. Terima kasih
Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik
Suhardono, S.Kp.,Ns.,M.Kes. Sugianto, S.Kep., Ners
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Hemoroidectomy 1. Definisi
Hemoroid adalah pelebaran inflamasi dan pembuluh darah vena di daerah anus yang berasal dari plexus hemoroidalis (Jitowiyono, 2015).
Hemoroid eksterna adalah pelebaran vena yang berada di bawah kulit (subkutan) di bawah atau luar linea dentate. Hemoroid interna adalah pelebaran vena yang berada di bawah mukosa (sub mukosa) diatas atau di dalam linea dentate (Nurarif & Kusuma, 2015).
Hemoroid ini menyebabkan rasa sakit, khususnya jika klien mengalami konstipasi dan mengedan saat defekasi (Rosdahl &
Kowalski, 2017)
Hemoroidectomy merupakan terapi bedah yang dipilih untuk penderita yang mengalami keluhan menahun pada penderita hemoroid derajat III dan IV. Terapi bedah juga dapat dilakukan pada penderita dengan perdarahan berulang dan anemia yang tidak sembuh dengan cara terapi lainnya yang lebih sederhana. Penderita derajat IV yang mengalami trombosis dan kesakitan hebat dapat ditolong segera dengan tindakan hemoroidectomy.
Prinsip yang harus diperhatikan pada hemoroidectomy adalah eksisi hanya dilakukan pada jaringan yang benar-benar berlebihan.
Eksisi sehemat mungkin dilakukan pada anoderm dan kulit yang normal dengan tidak mengganggu sfingter anus (Sjamsuhidajat, 2010 dalam Husna 2018)
2. Etiologi
Menurut Nurarif & Kusuma (2015), hemoroid timbul karena dilatasi, pembengkakan atau inflamasi vena hemoroidalis yang disebabkan oleh faktor resiko/ pencetus seperti : mengedan pada buang air besar yang sulit, pola buang air besar yang salah (lebih banyak menggunakan jamban duduk, terlalu lama duduk dijamban sambil membaca, merokok), peningkatan tekanan intra abdomen karena tumor (tumor udud, tumor abdomen), kehamilan, usia tua, konstipasi kronik, diare akut yang berlebihan dan diare kronik, hubungan seks peranal, kurang minum air dan kurang makan makanan berserat (sayur dan buah), kurang olahraga/ imobilisasi.
3. Patofisiologi
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan oleh gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Faktor yang menyebabkan hemoroid yaitu konstipasi, diare, sering mengejan saat buang air besar yang sulit, pola buang air besar yang salah (lebih memakai jamban duduk), terlalu lama duduk di jamban duduk, peningkatan tekanan intra abdomen karena tumor (tumor usus, tumor abdomen), tumor rectum, pembesaran prostat, kongesti pelvis pada kehamilan kurang makan makanan berserat (sayur dan buah), kurang minum air putih, kurang olahraga/ imobilisasi, adanya penyakit hati yang disertai hipertensi portal sering mengakibatkan hemoroid karena vena hemoroidalis superior mengalirkan darah ke sistem portal yang tidak mempunyai katup sehingga mudah terjadi aliran balik (Nurarif &
Kusuma 2015). Pelebaran pembuluh darah vena hemoroidalis mengakibatkan penonjolan membran mukosa yang melapisi daerah anus dan rektum. Hemoroid dibagi menjadi dua, hemoroid eksternal dan internal. Penatalaksanaan hemoroid eksternal dapat dilakukan dengan rendam duduk dan terapi konservatif. Hemoroid internal terbagi menjadi hemoroid internal derajat I,II,III, dan IV.
Penatalaksanaan hemoroid internal derajat I dan derajat II dilakukan dengan cara tindakan lokal dan anjuran diit. Penatalaksanaan hemoroid derajat III dan derajat IV dilakukan dengan pembedahan/
hemoroidectomy (Sjamsuhidajat, R 2017). Hemoroidectomy dilakukan dengan eksisi jaringan yang berlebihan yang dapat menyebabkan luka insisi. Luka insisi menimbulkan jaringan perifer terputus dan adanya port d’entree kuman pada luka yang menyebabkan resiko infeksi.
Jaringan perifer terputus dapat menyebabkan ujung saraf mengalami kerusakan yang menyebabkan nyeri. Nyeri pada pasien hemoroidectomy dapat menimbulkan gangguan pola tidur. Pasien post hemoroidectomy mengalami post anestesi yaitu adanya gastrointestinal peristaltik usus menurun yang menyebabkan konstipasi. Pasien hemoroidectomy biasanya masih merasakan obat anestesi sehingga terjadi kelemahan otot yang menyebabkan gangguan mobilitas fisik.
(Nurarif & Kusuma, 2015).
4. Pathway
Konstipasi, sering mengejan, kongesti pelvis pada kehamilan, pembesaran prostat, fibroid uteri, dan tumor
rektum Kongesti vena
(gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis)
Hemoroid Hemorrhoidectomy
Efek anestesi Luka
insisi Post operasi
Port’de Entree kuman Jaringan perifer
terputus
Resiko infeksi Gangguan
pola tidur Gastrointestinal
peristaltik usus menurun
Kelemahan otot
Konstipasi
Gangguan
mobilitas fisik Nyeri
Sumber : Price, S (2005), Nurarif & Kusuma (2015), Sudoyo (2006)
5. Derajat
Menurut Nurarif dan Kusuma (2015), terdapat 4 derajat hemoroid yaitu sebagai berikut :
1. Derajat 1
Pembesaran hemoroid yang tidak prolaps keluar kanal anus. Hanya dapat dilihat dengan anorektoskop
2. Derajat 2
Pembesaran hemoroid yang prolaps dan menghilang atau masuk sendiri ke dalam anus secara spontan
3. Derajat 3
Pembesaran hemoroid yang prolaps dapat masuk lagi dengan dorongan jari
4. Derajat 4
Prolaps hemoroid yang permanen, rentan dan cenderung untuk mengalami thrombosis
6. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang umum pada penderita hemoroid menurut (Handayana, 2017) yaitu keluar darah saat buang air besar, terasa gatal dan perih dari anus. Manifestasi klinis pada pasien post hemoroidectomyyaitu timbul rasa nyeri, adanya luka insisi di perianal.
Luka insisi pada pasien post hemoroidectomy merupakan luka akut yang kehilangan jaringan minimal karena sayatan pisau bedah di daerah perianal (Arisanty, 2013)
Manifestasi klinis hemoroid berdasarkan derajat menurut (Margetis, 2019) yaitu :
1. Derajat I
Adanya perdarahan merah segar. Pada stadium awal seperti ini tidak terdapat prolaps/ penonjolan
2. Derajat II
a. Penonjolan hemoroid melewati linea dentate b. Dapat terlihat saat mengejan
c. Dapat kembali secara spontan d. Perdarahan
3. Derajat III
a. Penonjolan dapat masuk kembali menggunakan dorongan jari b. Perdarahan
4. Derajat IV
a. Penonjolan tidak dapat masuk kembali b. Perdarahan
c. Terjadi thrombosis 7. Komplikasi
Menurut Kardiyudiani & Susanti (2019), komplikasi hemoroid jarang terjadi, tetapi dapat termasuk :
1. Anemia.
Kehilangan darah kronis dari hemoroid dapat menyebabkan anemia
2. Hemoroid strangulata. Suplai darah ke hemoroid internal yang terhambat akan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.
3. Komplikasi luka akut pada post hemoroidectomy adalah perdarahan, fistula, abses, infeksi, dan luka jahitan terbuka (Arisanty, 2013)
B. Konsep Asuhan Keperawatan Post Hemoroidectomy 1. Pengkajian
a. Anamnesa 1) Identitas
a) Identitas pasien : nama, usia, jenis kelamin, alamat, status perkawinan, agama, suku, pekerjaan, pendidikan, no RM, tanggal masuk, tanggal pengkajian
b) Identitas penanggung jawab : nama, umur, jenis kelamin, hubungan keluarga, pekerjaan, alamat. Tarwoto &
Wartonah (2015) 2) Riwayat kesehatan
a) Keluhan utama
Yang sering didapatkan adalah nyeri, nyeri akut pasca pembedahan hemoroidectomy. Pengkajian tersebut dengan cara mengkaji perasaan klien, mengkaji respon fisiologis klien terhadap nyeri dan lokasi nyeri, mengkaji status nyeri dengan pendekatan PQRST, mengkaji respon perilaku dan mengkaji pola fungsional gordon.
b) Riwayat kesehatan sekarang
Pengkajian ini dilakukan untuk mendukung keluhan utama, jika keluhan utama adalah nyeri akut pasca pembedahan hemoroidectomy, buang air besar campur darah, pasien juga biasanya mengeluh pusing, lemas, dan mual
c) Riwayat kesehatan masa lalu
Perawat menanyakan apakah ada faktor predisposisi yang berhubungan dengan hemoroid, seperti adanya hemoroid sebelumnya, riwayat peradangan pada usus, dan riwayat rendah serat.
d) Riwayat kesehatan keluarga
Secara patologi hemoroid dapat diturunkan, perawat perlu mengkaji apakah penyakit ini pernah dialami oleh anggota keluarga yang lainnya sebagai faktor predisposisi.
(Muttaqin, 2008 dalam Husna 2018).
3) Menurut Dongoes (2000), pengkajian pada pasien Post Hemoroidectomy meliputi :
a. Aktivitas / istirahat Gejala : Kelemahan b. Sirkulasi
Tanda : takikardi c. Integritas Ego
Gejala : faktor stress akut atau kronis (keuangan, hubungan kerja), perasaan tak berdaya
Tanda : tanda ansietas, misal : gelisah, pucat, berkeringat d. Eliminasi
Gejala : Konstipasi
Tanda : menurunnya bising usus e. Makanan/ cairan
Gejala : anoreksia
Tanda : Membran mukosa pucat f. Neurosensoris
Gejala : rasa berdenyut, pusing atau sakit kepala, kelemahan
g. Nyeri/ kenyamanan Gejala : nyeri akut h. Keamanan
Gejala : Suhu tinggi
4) Pola fungsional kesehatan Gordon
Pola kesehatan fungsional Gordon mencakup 11 kategori yang merupakan pendekatan sistematis dan standar untuk pengumpulan data (Karaca, 2016)
a) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Dikaji mengenai pola pikir kesehatan pasien, keadaan sehat, dan bagaimana memelihara kondisi kesehatan.
Termasuk persepsi individu tentang status dan riwayat kesehatan, hubungannya dengan aktivitas dan rencana yang akan datang serta usaha-usaha preventif yang dilakukan pasien untuk menjaga kesehatannya
b) Pola nutrisi / metabolisme
Dikaji mengenai pola konsumsi makanan dan cairan untuk kebutuhan metabolik dan suplai nutrisi, kualitas makanan setiap harinya, kebiasaan makan dan makanan yang disukai.
c) Pola eliminasi
Dikaji mengenai pola fungsi ekskresi (warna, kuantitas, frekuensi, dan bau)
d) Pola aktivitas dan latihan
Dikaji mengenai aktivitas sehari-hari. Kurang olahraga atau imobilisasi, kelemahan umum, keterbatasan beraktivitas karena nyeri post hemoroidectomy
e) Pola istirahat dan tidur
Dikaji mengenai gambaran pola istirahat dan tidur.
Biasanya pasien mengalami gangguan tidur/ insomnia karena nyeri post hemoroidectomy
f) Pola persepsi
Dikaji mengenai pola persepsi sensori dan kognitif meliputi keadekuatan bentuk sensori (penglihatan, pendengaran,
perabaan, pengecapan, dan penghidu), pelaporan mengenai persepsi nyeri dan kemampuan fungsi kognitif.
g) Pola persepsi diri
Dikaji mengenai gambaran memandang dirinya sendiri : kemampuan mereka, gambaran diri, dan perasaan
h) Pola reproduksi dan seksual
Dikaji mengenai pola kepuasan atau ketidakpuasan dengan seksualitas yang menggambarkan pola reproduksi. Sertakan kepuasan yang dirasakan individu atau laporan gangguan dalam seksualitasnya
i) Pola peran hubungan
Dikaji mengenai pola keterlibatan peran dan hubungan.
Termasuk persepsi individu dari peran utama dan tanggung jawab dalam situasi kehidupan saat ini
j) Pola manajemen koping dan stress
Dikaji mengenai pola koping umum dan keefektifan keterampilan koping dalam mentoleransi stress
k) Pola nilai dan keyakinan
Dikaji mengenai pola nilai, tujuan, atau kepercayaan (termasuk kepercayaan spiritual) yang mengarahkan pilihan dan keputusan gaya hidup.
b. Pemeriksaan fisik pada pasien Post Hemoroidectomy dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1) Keluhan umum
Pengkajian dilakukan dengan melihat keadaan umum pasien.
Malaise, lemah, tampak pucat 2) Kesadaran
Kesadaran dapat dikaji dengan pengukuran Glaslow Coma Scale (GCS) dan penilaian tingkat kesadaran seperti composmentis, apatis, somnolen, delirium, sopor, dan koma
3) Tanda-tanda vital
Tanda-tanda vital awal harus dicatat untuk membandingkan perubahan nilai tanda-tanda vital saat pre operasi, intra operasi dan post operasi. Pengkajian tanda-tanda vital pada pasien post operasi meliputi tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu.
4) Abdomen
Pengkajian abdomen dapat dilakukan dengan inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi
5) Genetalia
Mencatat warna dan jumlah keluaran urine dan penggunaan kateter
6) Anus
Terdapat luka insisi yang disebabkan eksisi jaringan 2. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (insisi pembedahan)
2) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan otot post anastesi
3. Intervensi Keperawatan
Tahap perencanaan memberi kesempatan pada perawat, klien, keluarga, dan orang terdekat klien untuk merumuskan rencana tindakan keperawatan guna mengatasi masalah yang dialami klien.
Perencanaan merupakan suatu petunjuk atau bukti tertulis yang menggambarkan secara tepat rencana tindakan keperawatan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosa keperawatan. (Asmadi, 2008 dalam Aziz (2017).
1) Dx 1 : Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (insisi pembedahan)
a. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan klien mampu mengontrol nyeri dan melaporkan nyeri berkurang.
b. Kriteria Hasil :
1) Skala nyeri 0-1, klien tampak nyaman dan rileks
2) Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri)
3) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
4) Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
5) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang c. Intervensi :
1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, onset/ durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau faktor pencetus
2) Ajarkan teknik nonfarmakologi seperti teknik relaksasi berupa nafas dalam
3) Lakukan teknik distraksi pengalihan nyeri berupa menonton tv, mendengarkan musik dan mengontrol lingkungan yang nyaman
4) Observasi tanda-tanda vital
5) Berikan pasien posisi senyaman mungkin
6) Berikan pendidikan kesehatan seperti informasi mengenai nyeri, penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan dirasakan, dan antisipasi dari ketidaknyamanan akibat prosedur 7) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi
farmakologi (pemberian obat analgetik) untuk mengurangi nyeri.
2) Dx 2 : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan otot post anastesi
a. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total.
b. Kriteria Hasil :
1) Pasien tampak nyaman
2) Pasien dapat melakukan aktivitas
3) ADL (Activity Daily Living) dapat terpenuhi c. Intervensi :
1) Observasi tingkat kemampuan otot pasien
2) Anjurkan untuk melakukan mobilitas fisik yang sesuai dengan kemampuan (minimal miring kanan-kiri)
3) Berikan dorongan pada pasien untuk melakukan aktivitas dalam lingkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan
4) Lakukan ROM excercise sesuai kemampuan secara bertahap sesuai dengan kemampuan
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana perawatan (Tarwoto & Wartonah, 2015). Implementasi atau pelaksanaan merupakan tahap realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan, serta menilai data baru. (Budiono & Pertami, 2016).
5. Evaluasi Keperawatan
Menurut Wahyudi & Wahid (2016) evaluasi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi proses dilakukan setiap selesai melakukan tindakan keperawatan dan evaluasi hasil dilakukan dengan cara melihat respon pasien dari semua tindakan
keperawatan ditulis dalam bentuk SOAP atau dengan melihat catatan perkembangan pasien setelah beberapa hari. Menurut (Asmadi 2008 dalam Aziz 2017) ada tiga kemungkinan hasil evaluasi yang terkait dengan pencapaian tujuan keperawatan
Tujuan tercapai jika klien menunjukkan perubahan sesuai dengan standar yang telah ditentukan :
1) Tujuan tercapai jika pasien menunjukkan perubahan sesuai dengan standar yang telah ditentukan.
2) Tujuan tercapai sebagian atau pasien masih dalam proses pencapaian tujuan, jika pasien menunjukkan perubahan pada sebagian kriteria yang telah ditetapkan.
3) Tujuan tidak tercapai jika pasien hanya menunjukkan sedikit perubahan dan tidak ada kemajuan sama sekali seperti dapat timbul masalah baru
DAFTAR PUSTAKA
Aprida,. (2019). BAB II Tinjauan Pustaka Konsep Nyaman Nyeri. (Online), ( http://repository.poltekkes-tjk.ac.id/198/3/6.BAB%20II
%20APRIDA.pdf diakses pada tanggal 02 Desember 2020 pukul 21:50 WIB)
Arisanty, I. (2013). Konsep Dasar Manajemen Perawatan Luka. Jakarta: EGC.
Aziz, A.H. (2017). Bab II Tinjauan Pustaka Dokumentasi Asuhan Keperawatan.
(Online), ( http://repository.ump.ac.id/3810/3/Ahmad%20H%20Aziz
%20BAB%20II.pdf diakses pada tanggal 18 Oktober 2020 pukul 14.37 WIB)
Budiono dan Sumirah Budi Pertami. (2016). Konsep dasar Keperawatan. Jakarta:
Bumi Medika.
Kardiyudiani, N. K., & Susanti, B. A. (2019). Keperawatan Medikal Bedah 1.
Yogyakarta: PT. PUSTAKA BARU.
Kristanti, N. (2017). Upaya Penurunan Nyeri Pada Klien Post Hemoroidektomi.
(online), ( http://eprints.ums.ac.id/52387/1/NASKAH
%20PUBLIKASI%20PERBAIKAN.pdf diakses tanggal 28 September 2020 pukul 09.16 WIB)
Kusyati, Eni .. [dkk]. (2012). Keterampilan & Prosedur Laboratorium Keperawatan Dasar, Ed 2. Jakarta: EGC.
Maulida, I.H. (2018). Asuhan Keperawatan Pada Klien Post Operasi
Hemoroidektomi Dengan Fokus Studi pengelolaan Nyeri Akut Di RSUD Dr. H Soewondo Kabupaten Kendal. KTI tidak dipublikasikan.
Semarang: Program Studi Keperawatan Semarang. Jurusan Keperawatan.
Mubarak, Wahit Iqbal, Lilis Indrawati., & Joko Susanto. (2015). Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar. Jakarta: Salemba Medika
Nesa. (2018). Asuhan Keperawatan Post Hemoroidectomy Dengan Fokus Studi Pengelolaan Nyeri Di Rumah Sakit Kabupaten Blora. KTI tidak dipublikasikan. Blora: Program Studi Keperawatan Blora. Jurusan Keperawatan.
Novi De Maria. (2020). Konsep Nyeri Akut. (online),
(http://repository.stikespantiwaluya.ac.id/464/3/STIKESPW_NOVY
%20DE%20MARIA_fulltext.pdf diakses tanggal 04 Desember 2020 pukul 20.02 WIB)
Nurarif A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta:
Mediaction.
Tarwoto dan Wartonah., (2015). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Edisi: 4. Jakarta
Wahyudi, A. S. & Wahid, A. (2016). Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar.
Jakarta: Mitra Wacana Medika.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
Nama Mahasiswa : Risdayani Julinda H
Tempat Praktik : Ruang Flamboyan RSUD dr. R Soetijono Blora Tanggal : 15 Maret-21 Maret 2021
I. IDENTITAS KLIEN
Nama : Tn. W
Umur : 82 tahun
Kelamin : Laki-laki
Alamat : Ds. Singonegoro Rt 02/ 03, Jiken Blora Status Perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pekerjaan : Petani
Lama Bekerja : Puluhan tahun Tanggal Masuk RS : 17 Maret 2021 Tanggal Pengkajian : 18 Maret 2021 Sumber Informasi : Pasien dan Keluarga II. RIWAYAT PENYAKIT
1. Keluhan Utama
Pasien mengatakan nyeri pada anus penyebabnya karena post operasi 2. Riwayat penyakit Sekarang
Pasien mengatakan nyeri pada anus karena Post Hemoroidectomy dan dalam aktivitas terkadang dibantu keluarga, pasien mengatakan lemah, tidak nyaman, setelah dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, didapatkan : TD : 110/70 mmHg, N : 68x/ menit, RR : 18x/ menit, S : 36,6oC
3. Riwayat penyakit Dahulu
Pasien mengatakan punya riwayat hemoroid, pasien mengatakan puluhan tahun yang lalu pernah dirawat di rumah sakit karena riwayat penyakit tetanus, pasien tidak mempunyai penyakit seperti hipertensi, TBC, Hepatitis, dan pasien tidak mempunyai alergi
4. Diagnosa Medik
Hemorrhoid interna grade IV dengan perdarahan 5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Satuan
Lekosit 7,91 10^3/uL
Hemoglobin 13 g/dL
Hematokrit 40,4 %
Trombosit 227 10^3/uL
Granulosit 69,3 %
Limfosit 17,1 %
Eosinofil 6,9 %
Basofil 0,7 %
Golongan Darah B
Prothrombine Time 10,3 Detik
Activated Partial 33,1 Detik
Thromboplastin Time
Glukosa sewaktu 170 mg/dL
Ureum 21,40 mg/dL
Creatinin 1,09 mg/dL
RAPID COVID-19 Non Reaktif Screening B20 Non Reaktif HbsAg Kualitatif Negatif
Natrium 138,2 mmol/l
Kalium 3,90 mmol/l
Chlorida 97,8 mmol/l
b. EKG c. RO thorax
Tindakan yang telah dilakukan adalah hemoroidectomy III. PENGKAJIAN TINJAUAN SISTEM
1. Aktivitas/ istirahat
Pekerjaan : Petani
Aktivitas umum : Bekerja sebagai petani dan banyak istirahat dirumah
Keterbatasan karena kondisi badan : -
Tidur : pasien mengatakan tidur 6-8jam/ hari, terkadang terbangun karena mengeluh nyeri pada anus pasca pembedahan
Tidur siang : pasien mengatakan tidur siang 2-3jam/ hari
Insomnia : pasien mengatakan tidak mengalami kesulitan tidur, terkadang terbangun sebentar karena mengeluh nyeri
Segar kembali setelah bangun : pasien mengatakan merasa segar 2. Sirkulasi
Riwayat : Hipertensi Gagal Jantung
Demam Rematik Edema kaki
Plebitis Lain – lain : ...
Ekstremitas : Mati Rasa Perasaan geli Batuk darah : -
Pasien tidak mempunyai riwayat hipertensi, demam rematik, edema kaki, plebitis maupun gagal jantung. Ekstremitas baik tidak terdapat edema, Pasien juga tidak batuk darah.
3. Integritas ego Faktor Stres : -
Cara mengatasi stres : -
Masalah keuangan Status hubungan Faktor budaya : -
Pasien mengatakan tidak mengalami stress selama sakit di rumah sakit Agama : islam, Penerapan : beribadah sholat 5 waktu dan berdoa agar segera sembuh
Gaya hidup : Sederhana
Perasaan : Tidak berdaya Putus asa Emosi Pasien mengatakan perasaanya selama di rumah sakit tenang 4. Eliminasi
Pola umum BAB : ... Penggunaan laksatif Karakteristik tinja : ... BAB terakhir : ...
Riwayat perdarahan Hemoroid
Konstipasi Diare : ...
Pasien mengatakan selama di rumah BAB 1x sehari dengan konstipasi padat dan keluar darah merah segar dalam jumlah cukup banyak saat BAB, terjadi benjolan pada anus yang sudah tidak bisa masuk lagi.
Selama dirawat di rumah sakit pasien belum BAB karena terhalang luka pembedahan
Pola umum BAK : ... Inkontinensia Frekuensi BAK : ... Retensi
Karakteristik urine : ...
Nyeri berkemih Sulit berkemih
Riwayat penyakit ginjal / kandung kemih : -
Pasien mengatakan BAK 4-5x sehari dengan warna kuning jernih 5. Makanan / cairan
Makanan yang biasa dikonsumsi : selama dirumah makan 3x sehari dengan lauk dan sayur yang ada di rumah dan selama sakit makan dengan yang disediakan oleh rumah sakit.
Jumlah makanan per hari : 3x sehari
Kehilangan nafsu makan Nausea / Vomitus
Nyeri ulu hati, Berhub. Dengan : - Diatasi dengan : -
Alergi makanan : -
Masalah mengunyah / menelan
Gigi atas : ... Gigi bawah : ...
Pasien tidak mengalami masalah mengunyah ataupun menelan, gigi atas ada yang kehilangan satu gigi
6. Higiene
Kegiatan sehari – hari : kegiatan sehari-hari dirumah sebagai petani, dan selama sakit ketika melakukan aktivitas terkadang masih butuh bantuan keluarga
Kemandirian
Ketergantungan : terkadang membutuhkan bantuan keluarga
Mobilitas Pola makan
Higiene Pakaian
Eliminasi Lain-lain : ...
Peralatan Protesa yang diperlukan : -
Bantuan diberikan oleh : pasien membutuhkan bantuan keluarganya 7. Neurosensoris
Pingsan Pusing
Sakit Kepala, Lokasi : - , Frekuensi : -
Kesemutan / baal / lemah, Lokasi : -
Stroke (gejala sisa) Kejang
Gangg. Penglihatan Ka Gangg. Penglihatan Ki
Glaukoma Katarak
Gangg. Pedengaran Ka Gangg. Pendengaran Ki
Gangg. Penciuman Epistaksis
Pasien mengatakan tidak mengalami keluhan apapun.
8. Nyeri/ Kenyamanan
Lokasi : nyeri pada anus Intensitas (1-10) : skala nyeri 4 Kualitas : nyeri mencekam
Durasi : nyeri muncul hilang timbul
Faktor Pencetus : nyeri pada anus karena post operasi
Cara mengatasi : dengan tindakan nonfarmakologi berupa relaksasi nafas dalam dan tindakan farmakologi pemberian obat menghilangkan nyeri.
9. Respirasi
Dispnea Batuk Sputum Riwayat : Bronkitis Asma
Tuberkulosis Emfisema
Pnemonia Lain ...
Perokok, Bungkus / hari : ... Lama mekokok ...
Alat Bantu pernapasan Oksigen ...
Pasien mengatakan tidak batuk, tidak memiliki riwayat bronkitis, TBC, asma dan lain-lain. Tidak memakai alat bantu pernapasan, Pasien juga tidak merokok
10. Keamanan
Alergi / Sensitivitas : - Reaksi -
Riwayat Penyakit menular seksual : -
Tranfusi darah Reaksi : - Riwayat Cedera : Fraktur / Dislokasi : -
Artritis
Gangguan Tulang Belakang Gangguan : Penglihatan Pendengaran
Protesa Alat bantu jalan : -
Ekspresi ide kekerasan : - 11. Seksualitas
Gangguan Prostat Vasektomi
Penggunaan kondom Periksa mandiri Testis Pasien mengatakan tidak mempunyai keluhan apapun 12. Interaksi Sosial
Status perkawinan : Menikah
Tinggal dengan : istri
Anggota keluarga yang tinggal di rumah : -
Peran dalam struktur keluarga : sebagai kepala rumah tangga
Masalah yg berhubungan dgn penyakit : nyeri pada anus dan ingin segera sembuh
Frekuensi kontak sosial (selain bekerja ) : - 13. Belajar / Mengajar
Bahasa yang sering digunakan : bahasa jawa
Pendidikan terakhir : SD
Ketidakmampuan belajar Keterbatasan kognitif
Keyakinan tentang kesehatan : ...
Faktor risiko keluarga :
Diabetes Tuberkulosis
Penyakit jantung Stroke
Hipertensi Epilepsi
Penyakit ginjal Kanker
Penyakit jiwa Lainya : ...
Minum alkohol
Diagnosa Medis waktu masuk RS : ...
Harapan pasien dari Hospitalisasi : ...
Penyakit/hospitalisasi/pembedahan sebelumnya : ...
IV. PEMERIKSAAN FISIK
- Keadaan Umum : lemah, namun kesadaran pasien composmentis - TD : 110/70 mmHg
N : 68x/ menit RR : 18x/ menit S : 36,6oC BB : 50kg TB : 165cm
- Kepala : DBN (bentuk kepala mesochepal, bersih, tidak terdapat kotoran, tidak terdapat luka, warna rambut putih beruban)
- Leher : DBN (tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid) - Thoraks : DBN
- Abdomen : tidak terdapat nyeri tekan - Genital : terpasang kateter
- Ekstremitas : teraba hangat, tidak terdapat nyeri maupun edema - Anus : terdapat luka insisi pembedahan
V. PROGRAM TERAPI - Inf RL 20 tpm - Inj zidifect 3x1 - Inj kalnex 3x500 - Inj dexketoprofen 3x1 - Inj pepzol 2x1
VI. HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG DAN LABORATORIUM
Tanggal pemeriksaan pada 17 Maret 2021, didapatkan hasil pemeriksaan laboratorium sebagai berikut :
Pemeriksaan Hasil Satuan
Lekosit 7,91 10^3/uL
Hemoglobin 13 g/dL
Hematokrit 40,4 %
Trombosit 227 10^3/uL
Granulosit 69,3 %
Limfosit 17,1 %
Eosinofil 6,9 %
Basofil 0,7 %
Golongan Darah B
Prothrombine Time 10,3 Detik
Activated Partial 33,1 Detik
Thromboplastin Time
Glukosa sewaktu 170 mg/dL
Ureum 21,40 mg/dL
Creatinin 1,09 mg/dL
RAPID COVID-19 Non Reaktif Screening B20 Non Reaktif HbsAg Kualitatif Negatif
Natrium 138,2 mmol/l
Kalium 3,90 mmol/l
Chlorida 97,8 mmol/l
ANALISA DATA
Tgl/ jam Data Penyebab Masalah
18-03- 2021
DS :
P : pasien mengatakan nyeri
Agen cedera fisik (insisi
Nyeri akut
18-03- 2021
pada anus karena post operasi Q : nyeri seperti mencekam R : pasien mengatakan nyeri pada anus
S : skala nyeri 4 T : nyeri hilang timbul DO :
- pasien tampak menahan nyeri - pasien tampak lemah
TTV :
TD : 110/70 mmHg N : 68x/ menit RR : 18x/ menit S : 36,6oC
DS : pasien mengatakan lemah, tidak nyaman, aktivitas terkadang masih dibantu keluarga
DO :
- pasien tampak lemah
- pasien tampak melakukan aktivitas dibantu dengan keluarganya
pembedahan)
Kelemahan otot
post anastesi Gangguan mobilitas fisik
DIAGNOSA KEPERAWATAN
No Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (insisi pembedahan)
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan otot post anastesi
INTERVENSI KEPERAWATAN Tgl/
jam
No Dx
Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi TTD 18-03-
2021
1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan klien mampu mengontrol nyeri dan melaporkan nyeri berkurang dengan kriteria hasil :
1) Skala nyeri 0-1, klien tampak nyaman dan rileks 2) Mampu mengontrol nyeri
(tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri) 3) Melaporkan bahwa nyeri
berkurang dengan
menggunakan manajemen nyeri
4) Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
5) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
1. Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, onset/
durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau faktor pencetus 2. Ajarkan teknik
nonfarmakologi seperti teknik relaksasi berupa nafas dalam dan lakukan teknik distraksi pengalihan nyeri berupa
menonton tv,
mendengarkan musik dan mengontrol lingkungan yang nyaman
3. Observasi tanda-tanda vital
4. Berikan pasien posisi senyaman mungkin 5. Kolaborasi dengan tim
medis dalam pemberian terapi farmakologi (pemberian obat analgetik) untuk mengurangi nyeri.
18-03- 2021
2 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total dengan kriteria hasil : 1) Pasien tampak nyaman 2) Pasien dapat melakukan
aktivitas
3) ADL (Activity Daily Living) dapat terpenuhi
1. Observasi tingkat kemampuan otot pasien
2. Anjurkan untuk melakukan mobilitas fisik yang sesuai dengan kemampuan (minimal miring kanan-kiri)
3. Berikan dorongan pada pasien untuk melakukan aktivitas dalam lingkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan 4. Lakukan ROM
excercise sesuai kemampuan secara bertahap sesuai dengan kemampuan
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Tgl/
Jam
No Dx
Implementasi Respons TTD
18-03- 2021
1 1. Mengkaji skala nyeri 2. Mengobservasi TTV
DS : pasien mengatakan nyeri pada anus
2
1
Mengobservasi tingkat kemampuan otot pasien
Mengkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi farmakologi (pemberian obat analgetik) untuk mengurangi nyeri.
- Inj zidifect 3x1 - Inj kalnex 3x500
P : pasien mengatakan nyeri pada anus karena post operasi
Q : nyeri seperti mencekam
R : nyeri pada anus S : skala nyeri 4 T : hilang timbul DO :
- Pasien tampak lemah - Pasien tampak
menahan nyeri TTV :
TD : 110/ 70 mmHg N : 68x/ menit RR : 18x/ menit S : 36,6oC
DS : pasien mengatakan badannya lemas
DO : pasien tampak melakukan aktivitas dibantu keluarga
DS : pasien mengatakan bersedia
DO : terapi masuk dan pasien tidak ada alergi
2
1
1,2
2
- Inj dexketoprofen 3x1 - Inj pepzol 2x1
Menganjurkan pasien untuk melakukan mobilitas fisik yang sesuai dengan
kemampuan (minimal miring kanan-kiri)
Mengajarkan teknik
nonfarmakologi seperti teknik relaksasi berupa nafas dalam dan lakukan teknik distraksi pengalihan nyeri
1. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin 2. Memberikan dorongan
pada pasien untuk
melakukan aktivitas dalam lingkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan
Melakukan ROM excercise sesuai kemampuan secara bertahap sesuai dengan kemampuan
DS : pasien mengatakan badannya lemah
DO : Pasien tampak mengikuti instruksi perawat
DS : pasien mengatakan nyeri pada anus
DO : pasien tampak nyaman dan mengikuti instruksi perawat
DS : Pasien mengatakan nyeri pada anus karena post operasi
DO :
- Pasien tampak nyaman - Pasien tampak
kooperatif memperhatikan instruksi perawat
DS : pasien mengatakan badannya lemas
DO : pasien tampak kooperatif , pasien tampak memperhatikan
19-03- 2021
1,1
1
1. Mengkaji skala nyeri 2. Mengobservasi TTV
Mengkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi farmakologi (pemberian obat analgetik) untuk mengurangi nyeri.
- Inj zidifect 3x1 - Inj kalnex 3x500 - Inj dexketoprofen 3x1 - Inj pepzol 2x1
DS : pasien mengatakan nyeri pada anus berkurang P : pasien mengatakan nyeri pada anus karena post operasi
Q : nyeri seperti mencekam
R : nyeri pada anus S : skala nyeri 3 T : hilang timbul DO :
- Pasien tampak lemah - Pasien masih tampak
menahan nyeri TTV :
TD : 130/ 80 mmHg N : 84x/ menit RR : 18x/ menit S : 36,6oC
DS : pasien mengatakan bersedia
DO : terapi masuk dan pasien tidak ada alergi
20-03- 2021
2
1
2,2
1,1
Menganjurkan pasien untuk melakukan mobilitas fisik yang sesuai dengan
kemampuan (minimal miring kanan-kiri)
Mengajarkan teknik
nonfarmakologi seperti teknik relaksasi berupa nafas dalam dan lakukan teknik distraksi pengalihan nyeri
1. Mengobservasi tingkat kemampuan otot pasien 2. Memberikan dorongan
pada pasien untuk
melakukan aktivitas dalam lingkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan
1. Mengkaji skala nyeri 2. Mengobservasi TTV
DS : pasien mengatakan badannya msih lemah, KU cukup baik
DO : Pasien tampak kooperatif dan mengikuti instruksi perawat
DS : pasien mengatakan nyeri pada anus berkurang DO : pasien tampak nyaman dan mengikuti intsruksi perawat
DS : pasien mengatakan melakukan aktivitas masih dengan bantuan keluarga DO :
- pasien tampak sedikit lebih segar tidak lemas - pasien tampak
kooperatif mengikuti instruksi dari perawat
DS : pasien mengatakan nyeri pada anus berkurang P : pasien mengatakan nyeri pada anus karena post operasi
1
2,2
Mengkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi farmakologi (pemberian obat analgetik) untuk mengurangi nyeri.
- Inj zidifect 3x1 - Inj kalnex 3x500 - Inj dexketoprofen 3x1 - Inj pepzol 2x1
1. Mengobservasi tingkat kemampuan otot pasien 2. Memberikan dorongan
pada pasien untuk
melakukan aktivitas dalam
Q : nyeri seperti mencekam
R : nyeri pada anus S : skala nyeri T : hilang timbul DO :
- Pasien tampak lebih segar
- Pasien tampak rileks TTV :
TD : mmHg N : x/ menit RR : x/ menit S : oC
DS : pasien mengatakan bersedia
DO : terapi masuk dan pasien tidak ada alergi
DS : pasien mengatakan melakukan aktivitas ringan sendiri, bangun tidur sendiri
DO :
lingkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan
- pasien tampak lebih segar tidak lemas - pasien tampak
kooperatif mengikuti instruksi dari perawat
EVALUASI KEPERAWATAN Tgl/
jam
No Dx
Evaluasi Keperawatan TTD
20-03- 2021
1 S : pasien mengatakan nyeri pada anus berkurang O :
2
- pasien tampak lebih segar
- Pasien tampak rileks dan nyaman TTV : TD :
N : RR : S :
P : pasien mengatakan nyeri pada anus karena post operasi
Q : nyeri seperti mencekam R : nyeri pada anus
S : skala nyeri T : hilang timbul A : Masalah teratasi P : pertahankan intervensi
S : pasien mengatakan badan lebih segar dan bisa melakukan aktivitas ringan, bangun tidur sendiri tanpa bantuan
O :
- pasien tampak lebih segar
- Pasien tampak rileks dan melakukan aktivitas ringan
A : Masalah teratasi P : pertahankan intervensi