• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUHAN KEPERAWATAN WANITA USIA SUBUR KELOMPOK 6

N/A
N/A
Hayati Noferwina Telaumbanua 10

Academic year: 2024

Membagikan " ASUHAN KEPERAWATAN WANITA USIA SUBUR KELOMPOK 6"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN WANITA USIA SUBU, PASANGAN USIA SUBUR DAN MASSA KEHAMILAN SAMPAI MELAHIRKAN

Disusun Oleh : Kelompok 7

1. Hayati Noferwina Telaumbanua 032022064 2. Gadis Kristina Sirait 032022063

Dosen Pembimbing : Sr. Auxilia, S.kep., Ns., MAN

PRODI SARJANA KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN SANTA ELISABETH MEDAN

TAHUN 2024/ 2025

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena deng an rahmat dan karunianya, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik .

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wa wasan serta pengetahuan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu kami berharap ad anya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang akan kami buat di masa y ang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang memb angun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacan ya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupu n orang yang membacannya. Sebelumnya kami mohon maaf jika ada terdapat kesalah an kata- kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik saran yang membangu n demi perbaikan dimasa depan.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...2

DAFTAR ISI...3

BAB I...4

PENDAHULUAN...4

1.1 Latar Belakang...4

1.2 Tujuan Umum...6

BAB II...7

TINJAUAN TEORI...7

2.1 Defenisi Kanker Payudara...7

2.1.1 Etiologi...8

2.1.2 Patofisiologi...10

2.2.3 Stadium Kanker...12

2.1.4 Tipe Kanker Payudara...14

2.1.5 Tanda dan Gejala Kanker Payudara...16

2.1.6 Penatalaksanaan Kanker Payudara...18

2.2 Kanker Serviks...20

2.2.1 Pengertian Kanker Serviks...20

2.2.2 Faktor Risiko...21

2.2.3 Tipe Kanker Serviks...22

2.2.4 Tanda dan Gejala kanker serviks...22

2.2.5 Klasifikasi Histologi Dan Stadium...23

2.2.6 Pencegahan Kanker Serviks...24

(4)

2.2.7 Patofisiologi...26

2.2.8 Pengobatan...27

2.3 Kanker Endometrium...28

2.3.1 Defenisi Kanker Endometrium...28

2.3.2 Etiologi Kanker Endometrium...28

2.3.4 Klasifikasi Kanker Endometrium...32

2.3.5 Penatalaksanaan Kanker Endometrium...34

2.4 Kanker Ovarium...35

2.4.1 Definisi Kanker Ovarium...35

2.4.2 Patofisiologi...35

2.4.4 Penatalaksanaan...41

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara berkembang Dimana angka kematian akibat dari penyakit tidak menular semakin meningkat. Salah satu penyakit tidak menular yang banyak terjadi di Indonesia adalah kanker. Angka penderita kanker di Indonesia sendiri dapat dibilang meningkat secara fantastis setiap tahunnya. Salah satu kanker yang angka kematiannyatinggi adalah kanker payudara. Terutama pada wanita usia subur (WUS) adalah wanita yang keadaan organ reproduksinya dapat berfungsi dengan baik antara umur 20-45 tahun.

Organ reproduksi pada wanita usia subur ini berlangsung lebih cepat dari pada pria.

Puncak kesuburan pada wanita usia subur terjadi pada rentang usia 20-29 tahun (Utami, 2013).

Gangguan organ reproduksi pada wanita usia subur salah satunya kanker serviks, adapun gangguan organ reproduksi yang lain seperti kanker vagina, kanker saluran telur, kanker indung telur, kanker vulva dan kanker rahim (Ranggiansanka, 2010). Kanker serviks sering disebut dengan kanker leher rahim, yaitu karena kanker ini berasal dari mulut rahim. Kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak kedua setelah kanker payudara (Samadi, 2010).

Organ reproduksi merupakan salah satu hal penting dalam kehidupan setiap manusia. Dulu, pembicaraan tentang organ reproduksi masih sangat tabu, bukan berarti sekarang sudah tidak lagi hanya saja masih ada kalangan orang yang menganggap hal itu tidak pantas untuk dibicarakan. Promosi kesehatan reproduksi pada remajapun sering dikonotasikan sebagai pendidikan seks di mana sebagian masyarakat di Indonesia masih menganggap tabu hal ini.

(6)

Menurut Barbara Nash dan Patricia Gilbert, organ-organ reproduksi merupakan subyek dari berbagai penyakit. Untuk mencegah hal tersebut pengetahuan dan pemahaman sejak dini tentang organ reproduksi dan kesehatan reproduksinya merupakan hal yang sangat penting bagi setiap remaja baik pria maupun wanita sehingga ia akan lebih mampu menjaga kesehatan reproduksinya.

Kanker merupakan penyakit yyang sering terkena pada organ reproduksi baik laki-laki maupun kaum perempuan kanker penyakit yang tidak menular yang memiliki ciri-ciri klinis berupa benjolan yang makin membesar oleh karena pertumbuhan sel secara abnormal dan tidak terkendali yang dapat merusak jaringan sekitarnya dan menyebar ke tempat yang jauh dari asalnya (Arafah dan Notobroto, 2017).

Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan dan penyebaran sel abnormal yang tidak terkendali. Ada empat faktor utama penyebab kanker seperti lingkungan, makanan, biologis dan psikologis (Chusniasih dan Tutik, 2020). Kanker merupakan penyakit yang tidak diketahui penyebabnya secara pasti, tetapi dipengaruhi oleh banyak faktor seperti merokok/terkena paparan asap rokok, mengkonsumsi alkohol, paparan sinar ultraviolet berlebih pada kulit, obesitas dan diet kurang sehat, kurang aktifitas fisik, dan infeksi yang berhubungan dengan kanker.

Kanker dapat dicegah dengan mengurangi faktor risiko terjadinya kanker tersebut.

Dalam perkembangan di bidang kesehatan telah ditemukan obat-obat anti kanker dan dilakukan kemoterapi, namun faktor biaya yang mahal menjadi kendala (Muaja et al., 2013a)

Pada tahun 2008 sampai 2012, menurut WHO (2013) adanya peningkatan terhadap kejadian kanker yaitu dari 12,7 juta kasus menjadi 14,1 juta kasus. Di Indonesia, prevalensi penyakit kanker cukup tinggi, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi tumor/kanker di Indonesia mencapai 1,4 per 1000 penduduk, atau sekitar 330.000 orang. Kanker tertinggi di Indonesia terjadi

(7)

pada wanita yaitu kanker payudara dan kanker leher rahim (Depkes RI, 2014).

Menurut Kemenkes (2013), setiap tahunnya terjadi lebih dari 460.000 kasus terjadi di Indonesia atau sekitar 231.000 perempuan meninggal dunia disebabkan penyakit kanker serviks.

Untuk itu, perempuan dan laki-laki perlu meningkatkan pengetahuannya mengenai kesehatan reproduksi agar tercipta kondisi kesehatan reproduksi yang optimal. kesehatan reproduksi yang dimaksud yaitu suatu keadaan yang sejahtera baik secara fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi serta fungsi dan prosesnya

1.2 Tujuan Umum

Mampu menganalisa asuhan keperawatan wanita usia subur, pasangan usia subur dan masa kehamilan sampai melahirkan

(8)

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Defenisi Kanker Payudara

Kanker adalah sekelompok penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan tidak terkendali sel tubuh tertentu yang berakibat merusak sel dan jaringan tubuh lain, bahkan sering berakhir dengan kematian. Karena sifatnya demikian “ganas” (tumbuh tak terkendali dan berakibat kematian), maka kanker juga disebut sebagai penyakit keganasan, dan sel kanker disebut juga sel ganas. Semua sel tubuh dapat terkena kanker, kecuali rambut, gigi dan kuku .Kanker merupakan penyakit atau kelainan pada tubuh sebagai akibat dari sel-sel tubuh yang tumbuh dan berkembang abnormal, diluar batas kewajaran dan sangat liar. Keadaan kanker terjadi jika sel-sel normal berubah dengan pertumbuhan yang sangat cepat, sehingga tidak dapat dikendalikan oleh tubuh dan tidak berbentuk. Kanker dapat terjadi disetiap bagian tubuh.

Kanker payudara adalah pembunuh kedua bagi kaum wanita di Indonesia setelah kanker rahim. Kanker payudara terjadi karena terganggunya sistem pertumbuhan sel di dalam jaringan payudara, payudara tersusun atas kelenjar susu, jaringan lemak, kantung penghasil susu, dan kelenjar getah bening. Sel abnormal bisa tumbuh di empat bagian tersebut, dan mengakibatkan kerusakan yang lambat tetapi pasti menyerang payudara .

Kanker payudara merupakan peyakit keganasan yang paling banyak menyerang wanita. Penyakit ini disebabkan karena terjadinya pembelahan sel-sel tubuh secara tidak teratur sehingga pertumbuhan sel tidak dapat di kenadalikan dan akan tumbuh menjadi benjolan tumor/kanker (Wijaya & Kusuma, 2013). . Jenis histologi Kanker Payudara yang paling umum adalah karsinoma duktus yang

(9)

menginfiltrasi (80% kasus), yaitu tumor muncul dari system pengumpul dan menginvasi jaringan sekitarnya. Infiltrasi karsinoma lobular menyebabkan 10%

sampai 15% kasus.

Tumor ini muncul dari epitelium lobular dan biasanya terjadi sebagai area penebalan yang mendefinisikan penyakit di payudara. Infiltrasi karsinoma duktus dan lobular biasanya menyebar ke tulang, paru, hati, adrenal, pleura, kulit, atau otak.

Beberapa kanker seperti karsinoma duktus tubular (2% kasus) memiliki prognosis yang sangat baik. Karsinoma inflamasi dan penyakit paget merupakan bentuk Kanker Payudara yang jarang terjadi. Duktus karsinoma in situ adalah bentuk kanker non invasif (juga di sebut sebagai karsinoma intraduktus), tetapi jika di biarkan tanpa di terapi, terdapat peningkatan kemungkinan bahwa kanker tersebut akan berkembang menjadi kanker ganas. Tidak ada satupun penyebab Kanker Payudara yang spefisik;

melainkan, kombinasi dari faktor genetik, hormonal, dan kemungkinan faktor lingkungan berperan dalam perkembangannya. Jika nodus limfe tidak terkena, prognosis dini, sebelum metastasis terjadi (Susan C.Smeltzer, 2018).

2.1.1 Etiologi

Menurut Wijaya & putri 2019 menjelaskan, belum ada penyebab dari kanker Payudara yang jelas, tetapi ada beberapa faktor yang berkaitan erat dengan munculnya keganasan payudara yaitu : virus, faktor lingkungan, faktor hormonal, dan genetik.

a. Faktor yang tidak dapat dikontrol :

1. Jenis kelamin Wanita lebih berisiko terkena kanker payudara, karena sel pada payudara wanita selalu berubah dan tumbuh sebagian besar disebabkan karena aktivitas hormon estrogen dan progesterone.

2. Riwayat keluarga yang menderita kanker Kemungkinan terjadinya kanker payudara meningkat jika ibu, saudara kandung, bibi (tante), saudara sepupu, atau nenek ada yang menderita kanker payudara atau jenis kanker lainnya.

(10)

3. Riwayat memiliki tumor jinak dan kanker sebelumnya Jika seorang wanita pernah terdiagnosa dengan kanker payudara maka risiko terkena kanker payudara kembali semakin meningkat bila dibandingkan dengan wanita yang belum pernah memiliki kanker payudara.

4. Status menstruasi (menarche dan menopause). 11 Mendapat haid pertama pada usia kurang dari 10 tahun, keadaan ini berarti peredaran hormon sudah dimulai pada usia yang muda dan menyebabkan peningkatan pertukaran zat hormon. Risiko kanker payudara juga dapat meningkat ketika seorang wanita mendapatkan menopause pada usia lebih dari 50 tahun, yang berarti peredaran hormone akan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih lama.

5. Usia Risiko kanker payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia.

Setiap sepuluh tahun risiko kanker meningkat dua kali lipat. Kejadian puncak kanker payudara meningkat di usia 40-50 tahun.

b. Faktor yang dapat dikontrol :

1. Berat badan Obesitas berhubungan dengan meningkatnya risiko kanker payudara, khususnya pada wanita menopause. Lemak tubuh merupakan bahan dasar utama pembuatan estrogen, karena itu pada wanita yang gemuk mempunyai kecenderungan memproduksi estrogen lebih banyak, sehingga akan meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara.

2. Olahraga Berolahraga dapat menurunkan risiko kanker payudara. American Cancer Society merekomendasikan melakukan olahraga 5 kali seminggu selama 45-60 menit.

3. Konsumsi alkohol Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa meningkatnya risiko kanker payudara berbanding lurus dengan jumlah alkohol yang dikonsumsi. Alkohol dapat 12 membatasi kemampuan hati untuk mengontrol kadar hormon estrogen yang beredar dalam darah.

(11)

4. Penggunaan obat hormonal Pemakaian obat hormonal terutama oral yang dipakai secara terus menerus lebih dari 7 tahun, meningkatkan risiko untuk terjadinya kanker payudara.

5. Riwayat menyusui Pada perempuan yang tidak pernah menyusui, kelenjar susu tidak pernah dirangsang untuk mengeluarkan air susu. Sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian ASI pada anak dapat mengurangi risiko kanker payudara.

6. Riwayat kehamilan Melahirkan anak pertama di usia lebih dari 35 tahun dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Kehamilan di atas usia 35 tahun akan disertai peningkatan pengeluaran hormone estrogen yang pada akhirnya merangsang payudara secara berlebihan.

7. Pola makan tidak sehat Pola makan yang tidak sehat sangat berpotensi menyebabkan kanker. Berdasarkan penelitian Dr Valeria Edefonti dari University of Milan menyebutkan kelompok wanita dengan pola makan kaya vitamin, tinggi serat seperti kebiasaan konsumsi buah dan sayur dan lemak tak jenuh memiliki resiko paling rendah terhadap penyakit kanker payudara.

2.1.2 Patofisiologi

Proses terjadinya Kanker Payudara dan masing-masing penyebab antara lain obesitas, radiasi, hyperplasia, optik, riwayat keluarga dengan mengkonsumsi zat karsinogen sehingga merangsang pertumbuhan epitel payudara dan dapat menyebabkan Kanker Payudara. Kanker Payudara berasal dari jaringan epitel dan paling sering terjadi di system ductal, biasanya terjadi hyperplasia sel-sel dengan adanya perkembangan sel atipik. Sel-sel ini akan berlanjut menjadi Kanker in situ dan menginvasi stroma. Kanker membutuhkan waktu sekitar 7 tahun untuk bisa tumbuh dari sel tunggal sampai menjadi massa yang cukup besar untuk dapat teraba ( kira- kira berdiameter 1 cm). pada saat ukuran 1 cm kira-kira seperempat dari Kanker Payudara telah bermetastasis. Kanker Payudara bermetastasis dengan penyebaran langsung ke jaringan sekitarnya dan juga melalui saluran limfe dan aliran darah (

(12)
(13)

2.2.3 Stadium Kanker

Kanker Payudara Menurut Cancer Research UK (2017), stadium kanker payudara dibagi sebagai berikut:

No Stadium Karakteristik

1 Stadium 1A Ukuran tumor 2 cm atau kurang namun belum terbentuk Sebarkan ke luar payudara.

2 Stadium I B Tumor ditemukan di kelenjar getah bening di dekatnya Dada. Ukuran tumor berkisar antara 2 cm atau kurang, Jadi tumornya masih belum terlihat dari luar payudara

3 Stadium II A 1. Tumor berukuran ≤ 2 cm. Tumor dapat ditemukan di dalam payudara dan pada 1-3 kelenjar getah bening di dekat ketiak atau di dekat tulang dada.

2. Tumor dapat berukuran lebih dari 2 cm namun tidak lebih dari 5 cm dan tidak ditemukan di dalam kelenjar getah bening.

4 Stadium II B 1. Ukuran tumor melebihi 2 cm tetapi tidak melebihi 5 cm, ada potongan kecil tumor terletak di dalamnya kelenjar getah bening.

2. Ukuran tumor melebihi 2 cm tetapi tidak melebihi 5 cm, 1-3 kelenjar getah bening menyebar Kelenjar getah bening di dekat kelenjar getah bening ketiak atau ketiak dekat dengan tulang dada.

3. Tumornya lebih besar dari 5 cm tetapi tidak ditemukan telah menyebar ke kelenjar getah bening.

5 Stadium IIIA 1. Belum ada tumor yang terlihat di permukaan payudara

Berbagai ukuran tersedia dalam 4-9

(14)

Kelenjar getah bening di bawah atau dekat ketiak tulang dada.

2. Ukuran tumor melebihi 5 cm, ada pula yang lebih kecil

Sel kanker terletak di kelenjar getah bening.

3. Tumor melebihi 5 cm dan sudah menyebar 3 kelenjar getah bening di dekat atau di ketiak Kelenjar getah bening di dekat tulang dada.

6 Stadium IIIB Tumor telah menyusup keluar payudara yaitu kedalam kulit payudara atau ke dinding dada atau telah menyebar ke kelenjar getah bening didalam dinding dada dan tulang dada.

Sel kanker mulai menyebar ke kulit payudara hingga ke dinding dada. Pada kondisi ini sel kanker merusak jaringan kulit hingga terjadi pembengkakan. Selain itu, sel kanker mulai menyebar hingga ke 9 kelenjar getah bening di ketiak atau kelenjar getah bening di dekat tulang dada .

7 Stadium IIIC Tumor dapat memiliki berbagai ukuran bahkan bisa jadi tidak ditemukan tumor, namun sel kanker di kulit payudara menyebabkan pembengkakan hingga terbentuk ulcer. Selain itu pada stadium ini kanker telah menyebar ke dinding dada

8 Stadium IV Pada stadium ini sel kanker telah mengalami metastase ke bagian tubuh lainnya di luar payudara seperti tulang, paruparu, hati, otak, maupun pada kelenjar limfa pada batang leher

(15)

2.1.4 Tipe Kanker Payudara

Selain kriteria pentahapan, gambaran patologi lainnya dan tes prognostik digunakan untuk mengidentifikasi kelompok pasien yang berbeda yang mungkin diuntungkan oleh pengobatan ajufan, Pemeriksaan histologis sel-sel kanker membantu menentukan prognosis dan mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana penyakit berkembang

Karsinoma duktal menginfiltrasi adalah tipe histolo gis yang paling umum, merupakan 75% dari semua jenis kanker payudara. Kanker ini sangat jelas karena keras saat dipalpasi. Kanker jenis ini biasanya bermetastasis ke nodus aksila.

Prognosisnya lebih buruk dibanding dengan tipe kanker lainnya

Karsinoma lobular menginfiltrasi jarang terjadi merupakan 5% sampai 10%

kanker payudara. Tumor ini biasanya terjadi pada suatu area penebalan yang tidak baik pada payudara bila dibandingkan dengan tipe duktal menginfiltrasi Tipe ini lebih umum multisentris, dengan demikian, dapat terjadi penebalan beberapa area pada salah satu atau kedua payudara. Karsinoma duktal meng- infiltrasi dan

(16)

lobular menginfiltrasi mempunyai keterli batan nodus aksilar yang serupa, meskipun tempat metas tasisnya berbeda. Karsinoma duktal biasanya menyebar ke tulang, paru, hepar atau otak, sementara karsinoma lobular biasanya bermetastasis ke permukaan meningeal atau tempat-tempat ttidak lazim lainnya.

Karsinoma medular menempati sekitar 6% dari kanker payudara dan tumbuh dalam kapsul di dalam duktus. Tipe tumor ini dapat menjadi besar tetapi meluas dengan lambat, sehingga prognosisnya seringkali lebih baik

Kanker musinus menempati sekitar 3% dari kanker payudara. Penghasil lendir, juga tumbuh dengan lambat, sehingga, kanker ini mempunyai prognosis yang lebih baik dari lainnya.

Kanker duktal-tubular jarang terjadi, menempati hanya sekitar 2% dari kanker.

Karena metastasis aksilaris secara histologi tidak lazim, maka progrosisnya sangat baik.

Karsinoma inflamatori adalah tipe kanker payudara yang jarang (1% sampai 2%) dan menimbulkan gejala- gejala yang berbeda dari kanker payudara lainnya.

Tumor setempat ini nyeri tekan dan sangat nyeri, payudara secara abnormal keras dan membesar. Kulit di atas tumor ini merah dan agak hitam. Sering terjadi edema dan retraksi puting susu. Gejala-gejala ini dengan cepat ber- kembang memburuk dan biasanya mendorong pasien mencari bantuan medis lebih cepat dibanding pasien wanita lainnya dengan massa kecil pada payudara. Penya- kit dapat menyebar dengan cepat pada bagian tubuh lainnya, preparat kemoterapi berperan penting dalam pengendalian kemajuan penyakit ini. Radiasi dan pembe dahan biasanya juga digunakan untuk mengontrol penyebaran.

Penyakit Page payudara adalah tipe kanker payudara yang jarang terjadi. Gejala

(17)

yang sering timbul adalah rasa erbakar dan gatal pada payudara. Tumornya itu sendiri dapat duktal atau invasif. Massa tumor sering tidak dapat diraba di bawah puting tempat di mana penyakit ini tumbul. Mammografi mungkin merupakan satu-satunya pemeriksaan diagnostik yang mendeteksi tumor

2.1.5 Tanda dan Gejala Kanker Payudara

Kanker payudara adalah pertumbuhan sel-sel kanker yang tidak terkontrol di dalam jaringan payudara. Fase awal kanker payudara adalah asimptomatik (tanpa ada gejala dan tanda). Adanya benjolan atau penebalan pada payudara merupakan tanda dan gejala yang paling umum, dan seiring waktu disertai dengan tanda dan gejala lainnya. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua tanda atau gejala di bawah ini berarti seseorang memiliki kanker payudara (Rossi et al, 2019). Jika diduga ada salah satu tanda dan gejala, sebaiknya segera berkonsultasi kepada tenaga kesehatan kompeten untuk pemeriksaan lebih lanjut. Beberapa tanda dan gejala kanker payudara meliputi:

a. Benjolan atau pembengkakan pada payudara atau ketiak: Benjolan yang tidak biasa pada payudara atau di sekitar ketiak dapat menjadi pertanda awal kanker payudara. Namun, sebagian besar benjolan pada payudara bersifat jinak (tidak kanker).

b. Perubahan ukuran, bentuk, atau tekstur payudara: Payudara yang mengalami perubahan ukuran, bentuk, atau tekstur seperti menjadi lebih keras atau terasa nyeri, dapat menjadi tanda perubahan yang perlu diwaspadai.

(18)

C. Ruam atau kulit yang terlihat aneh: Perubahan pada kulit payudara seperti kemerahan, adanya bercak, atau tekstur seperti kulit jeruk dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan, termasuk kanker payudara.

d. Perubahan pada puting dan areola: Perubahan pada puting payudara seperti retraksi (masuk ke dalam) atau perubahan bentuk puting dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan.

e. Sekresi puting yang tidak biasa: Cairan yang keluar dari puting, terutama jika berdarah atau berwarna kecoklatan, bisa menjadi tanda adanya masalah pada payudara.

f. Nyeri payudara: Nyeri yang tidak biasa pada satu atau kedua payudara, meskipun biasanya bukan gejala utama kanker payudara, tetap harus diperhatikan.

g. Pembengkakan pada ketiak: Pembengkakan atau benjolan di area ketiak juga dapat menjadi pertanda bahwa ada masalah pada payudara.

h. Perubahan pada bentuk atau ukuran payudara saat mengangkat tangan: Pada tahap lanjut, kanker payudara dapat menyebabkan perubahan pada bentuk atau ukuran payudara ketika Anda mengangkat tangan.

i. Nyeri atau ketidaknyamanan di area payudara atau ketiak: Nyeri yang tidak biasa, rasa tidak nyaman, atau sensasi tertentu di area payudara atau ketiak juga dapat menjadi gejala.

Penting untuk diingat bahwa gejala di atas juga bisa disebabkan oleh kondisi lain yang bukan kanker payudara. Jika mengalami salah satu atau beberapa gejala di atas, segera konsultasikan kepada dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut dan

(19)

diagnosis yang tepat. Deteksi dini dan penanganan segera dapat meningkatkan peluang kesembuhan dibandingkan bila kanker payudara ditemukan pada stadium lanjut atau sudah bermetastasis. Metastasis yang luas meliputi gejala dan tanda seperti anoreksia atau berat badan menurun; nyeri pada bahu, pinggang, punggung bagian bawah atau pelvis; batu menetap; gangguan pencernaan; pusing;

penglihatan kabur dan sakit kepala. Proses terjadinya metastasis karsinoma belum dapat ditentukan secara pasti, tetapi para ahli membuktikan bahwa ukuran tumor berkaitan dengan kejadian metastatis, yaitu makin kecil tumor, makin kecil juga kejadian metastatisnya.

2.1.6 Penatalaksanaan Kanker Payudara

Penatalaksanaan kanker payudara dapat melibatkan berbagai jenis perawatan, tergantung pada jenis, stadium, ukuran, dan karakteristik kanker, serta kondisi kesehatan umum pasien (Trayes & Cokenakes, 2021). Banyak penatalaksanaan terapi pada pasien kanker payudara (Chaurasia et al., 2023).

Berikut adalah beberapa metode penatalaksanaan yang umum digunakan untuk kanker payudara:

a. Pembedahan: Pembedahan merupakan salah satu opsi utama untuk pengobatan kanker payudara. Prosedur yang mungkin dilakukan antara lain:

1. Lumpektomi: Pengangkatan tumor atau bagian dari payudara yang terkena kanker.

2. Mastektomi: Pengangkatan seluruh payudara. Ada beberapa jenis mastektomi, termasuk mastektomi total, mastektomi subkutan, dan mastektomi ganda.

3. Rekontruksi payudara: Prosedur yang dilakukan setelah mastektomi untuk mengembalikan penampilan payudara

b. Terapi Radiasi: Radioterapi menggunakan sinar-X tinggi energi untuk menghancurkan sel-sel kanker atau mencegah pertumbuhannya. Ini dapat

(20)

dilakukan setelah pembedahan untuk memastikan semua sel kanker telah dihilangkan.

c. Terapi Sistemik: Terapi ini berfokus pada mengobati sel-sel kanker di seluruh tubuh, bukan hanya di area payudara. Terapi sistemik meliputi:

1. Terapi Hormon: Terapi yang menghambat atau menghentikan pertumbuhan sel kanker yang dipicu oleh hormon, seperti estrogen atau progesteron.

2. Terapi Targeted: Penggunaan obat-obatan yang merujuk pada protein atau gen spesifik dalam sel kanker.

3. Imunoterapi: Menggunakan sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel kanker.

d. Kemoterapi Neoadjuvan dan Adjuvan: Kemoterapi neoadjuvan diberikan sebelum operasi untuk meredakan. ukuran tumor, sedangkan kemoterapi adjuvan diberikan. setelah operasi untuk mengurangi risiko kambuhnya kanker

e. Pengobatan Hormon: Jika tumor sensitif terhadap hormon, terapi hormon dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker yang bergantung pada hormon.

f. Terapi Targeted: Terapi targeted melibatkan penggunaan obat-obatan yang merusak sel kanker dengan cara tertentu tanpa merusak sel sehat di sekitarnya.

g. Imunoterapi: Imunoterapi merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan sel kanker.

h. Perawatan Suportif: Perawatan ini meliputi manajemen. gejala, dukungan nutrisi, manajemen nyeri, dan dukungan psikososial untuk membantu pasien mengatasi efek samping dan stres emosional yang terkait dengan pengobatan.

Pilihan pengobatan yang tepat akan disesuaikan dengan kondisi pasien dan hasil evaluasi tim medis untuk merencanakan penatalaksanaan kanker payudara yang paling sesuai dengan kondisi pasien. Deteksi dini dan penanganan medis dan perawatan yang tepat sesegera mungkin dapat meningkatkan peluang kesembuhan lebih besar.

(21)

2.2 Kanker Serviks

2.2.1 Pengertian Kanker Serviks

Serviks atau sering disebut leher rahim, merupakan bagian dari rahim atau uterus. Apa itu kanker? Kanker dimulai ketika sel-sel di dalam tubuh mulai tumbuh di luar kendali. Sel di hampir semua bagian tubuh dapat menjadi kanker, dan dapat menyebar ke area tubuh lainnya. Kanker serviks dimulai pada sel-sel yang melapisi serviks bagian bawah rahim (rahim). Serviks menghubungkan tubuh rahim ke vagina (jalan lahir).

Serviks memiliki dua bagian yang berbeda dan ditutupi dengan dua jenis sel yang berbeda. Bagian serviks yang paling dekat dengan badan rahim/ korpus disebut endoserviks dan ditutupi sel kelenjar. Bagian di sebelah vagina adalah exocervix (atau ectocervix) dan ditutupi sel-sel skuamosa. Kedua tipe sel ini bertemu di suatu tempat yang disebut zona transformasi. Lokasi yang tepat dari zona transformasi berubah seiring bertambahnya usia dan jika wanita melahirkan.

Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah tumor ganas primer yang berasal dari sel epitel skuamosa. Kanker serviks dapat berasal dari sel – sel di leher rahim, tetapi dapat pula tumbuh dari sel–sel mulut rahim ataupun keduanya. Kanker serviks adalah kanker ataupun keganasan yang terjadi di leher rahim yang merupakan organ reproduksi perempuan yang merupakan pintu masuk ke arah vagina disebabkan oleh sebagian besar Human Papilloma Virus.

Kanker serviks atau yang lebih dikenal dengan kanker leher rahim adalah tumbuhnya sel – sel tidak normal pada rahim. Sel –sel yang tidak normal ini berubah menjadi kanker. Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada serviks uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk kearah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dan liang senggama (vagina) (Smart, 2010).

Sebagian besar kanker serviks bermula di sel-sel di zona transformasi. Sel-sel ini tidak tiba-tiba berubah menjadi kanker. Sebaliknya, sel-sel normal dari serviks pertama secara bertahap mengembangkan perubahan pra-kanker yang berubah menjadi kanker. Dokter menggunakan beberapa istilah untuk menggambarkan perubahan pra-kanker ini, termasuk neoplasia intraepithelial serviks (CIN), lesi skuamosa intraepitel (SIL), dan displasia. Perubahan ini dapat dideteksi oleh tes Pap (pap smear) dan diobati untuk mencegah kanker berkembang.

(22)

Meskipun kanker serviks mulai dari sel-sel dengan perubahan pra-kanker (pra-kanker), hanya beberapa perempuan dengan pra-kanker serviks akan berkembang menjadi kanker. Biasanya diperlukan beberapa tahun untuk pra kanker serviks untuk berubah menjadi kanker serviks, tetapi juga dapat terjadi dalam waktu kurang dari satu tahun. Bagi sebagian besar perempuan, sel pra-kanker akan hilang tanpa perawatan apa pun. Namun, pada beberapa perempuan, pra- kanker berubah menjadi kanker (invasif) (American Society Cancer, 2016).

2.2.2 Faktor Risiko

Menurut Kementerian Kesehatan RI (2015) tingginya kasus baru kanker dan sekitar 40% dari kematian akibat kanker berkaitan erat dengan faktor risiko kanker yang seharusnya dapat dicegah. Secara umum, faktor risiko kanker yang terdiri dari faktor risiko perilaku dan pola makan, di antaranya adalah:

1. Indeks massa tubuh tinggi;

2. Kurang konsumsi buah dan sayur;

3. Kurang aktivitas fisik;

4. Penggunaan rokok;

5. Konsumsi alkohol berlebihan

Faktor risiko kanker lainnya, adalah akibat paparan:

1. Karsinogen fisik, seperti ultraviolet (UV) dan radiasi ion;

2. Karsinogen kimiawi, seperti benzo(a)pyrene, formalin dan aflatoksin (kontaminan makanan), dan serat contohnya asbes;

3. Karsinogen biologis, seperti infeksi virus, bakteri dan parasit.

Penyebab kanker serviks diketahui adalah virus HPV (Human Papilloma Virus) sub tipe onkogenik, terutama sub tipe 16 dan 18. Adapun faktor risiko terjadinya kanker serviks antara lain: aktivitas seksual pada usia muda, berhubungan seksual dengan multipartner, merokok, mempunyai anak banyak, social ekonomi rendah, pemakaian pil KB (dengan HPV negatif atau positif), penyakit menular seksual,

(23)

ngangguan imunitas , dan Riwayat keluarga dengan kanker serviks serta mengkonsumsi obat imunosopresi.

2.2.3 Tipe Kanker Serviks

Kanker serviks dan pre-kanker leher rahim diklasifikasikan berdasarkan bagaimana mereka terlihat di bawah mikroskop. Menurut The American Society Cancer (2016), jenis kanker serviks dibagi menjadi:

1. Karsinoma sel skuamosa

Sebagian besar kanker serviks adalah karsinoma sel skuamosa. Kanker-kanker ini berkembang dari sel-sel di exocervix dan sel-sel kanker memiliki fitur sel- sel skuamosa di bawah mikroskop. Karsinoma sel skuamosa paling sering dimulai di zona transformasi (di mana exocervix bergabung dengan endocervix).

2. Adenocarcinoma

Sebagian besar kanker serviks lainnya adalah adenocarcinoma.

Adenocarcinoma adalah kanker yang berkembang dari sel kelenjar.

Adenokarsinoma serviks berkembang dari sel kelenjar penghasil lendir dari endoserviks. Adenokarsinoma serviks tampaknya sering terjadi dalam 20 hingga 30 tahun terakhir.

3. Karsinoma adenosquamous

Yang lebih jarang, kanker serviks memiliki fitur karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma. Ini disebut karsinoma adenosquamous atau karsinoma campuran. Meskipun hampir semua kanker serviks adalah karsinoma sel skuamosa atau adenokarsinoma, jenis kanker lain juga dapat berkembang di serviks. Jenis lain ini, seperti melanoma, sarkoma, dan limfoma, terjadi lebih sering di bagian lain tubuh.

2.2.4 Tanda dan Gejala kanker serviks

Seseorang yang terkena infeksi HPV tidak lantas demam seperti terkena virus influenza. Masa inkubasi untuk perkembangn gejala klinis infeksi HPV sangat bervariasi. Kutil akan timbul beberapa bulan setelah 9 terinfeksi HPV, efek dari virus HPV akan terasa setelah berdiam diri pada serviks selama 10-20 tahun. Gejala fisik serangan penyakit ini secara umum hanya dapat dirasakan oleh penderita usia lanjut.

Berikut gejala umum yang sering muncul dan dialami oleh penderita kanker serviks stadium lanjut:

(24)

a. Keputihan tidak normal atau berlebih.

b. Munculnya rasa sakit dan pendarahan saat berhubungan intim (contact bleeding) c. Pendarahan diluar siklus menstruasi

d. Penurunan berat badan drastis

e. Apabila kanker sudah menyebar ke panggul, maka pasien akan menderita keluhan nyeri panggul

f. Serta dijumpai juga hambatan dalam berkemih dan pembesaran ginjal 2.2.5 Klasifikasi Histologi Dan Stadium

Stadiu m

0 Karsinoma in situ (karsinoma preinvasif)

I Karsinoma serviks terbatas di uterus (ekstensi ke korpus uterus dapat diabaikan)

IA

Karsinoma invasif didiagnosis hanya dengan mikroskop. Semua lesi yang terlihat secara makroskopik, meskipun invasi hanya superfisial, dimasukkan ke dalam stadium IB

IA1 Invasi stroma tidak lebih dari 3,0 mm kedalamannya dan 7,0 mm atau kurang pada ukuran secara horizontal

IA2 Invasi stroma lebih dari 3,0 mm dan tidak lebih dari 5,0mm dengan penyebaran horizontal 7,0 mm atau kurang

IB Lesi terlihat secara klinik dan terbatas di serviks atau secara mikroskopik lesi lebih besar dari IA2

IB Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar 4,0 cm atau kurang

IB1 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar lebih dari 4,0 cm

IB2 Invasi tumor keluar dari uterus tetapi tidak sampai ke dinding panggul atau mencapai 1/3 bawah vagina

II Tanpa invasi ke parametrium

IIA Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar 4,0 cm atau kurang

IIA1 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar lebih dari 4,0 cm

IIA2 Tumor dengan invasi ke parametrium

IIB Tumor meluas ke dinding panggul/ atau mencapai 1/3 bawah vagina dan/atau menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal

III Tumor mengenai 1/3 bawah vagina tetapi tidak mencapai dinding panggul

(25)

IIA Tumor meluas sampai ke dinding panggul dan / atau menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal

IVA Tumor menginvasi mukosa kandung kemih atau rektum dan/atau meluas keluar panggul kecil (true pelvis) IVB Metastasis jauh (termasuk penyebaran pada peri

IVB Metastasis jauh (termasuk penyebaran pada peritoneal, keterlibatan dari kelenjar getah bening supraklavikula, mediastinal, atau para aorta, paru, hati, atau tulang)

2.2.6 Pencegahan Kanker Serviks

Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas kanker serviks perlu upaya- upaya pencegahan. Pencegahan terdiri dari beberapa tahap yaitu:

a. Pencegahan primer Pencegahan primer adalah pencegahan awal kanker yang utama. Hal ini untuk menghindarai faktor risiko yang dapat dikontrol. Cara- cara pencegahan primer adalah sebagai berikut :

a. Tundalah berhubungan seksual sampai batas usia di atas remaja Hubungan seks idealnya dilakukan setelah seorang perempuan benar- benar matang. Ukuran kematangan bukan hanya dilihat dari ia sudah menstruasi atau belum, tetapi juga tergantung pada kematangan sel-sel mukosa yang terdapat di selaput kulit bagian dalam rongga tubuh.

Umumnya sel-sel mukosa baru matang setelah perempuan berusia 20 tahun ke atas. Terutama untuk perempuan yang masih di bawah 16

(26)

tahun memiliki risiko yang sangat tinggi terkena kanker serviks bila telah melakukan hubungan seks.

b. Batasi jumlah pasangan Risiko terkena kanker serviks lebih tinggi pada perempuan yang berganti-ganti pasangan seks daripada dengan yang tidak. Hal ini terkait dengan kemungkinan tertularnya penyakit kelamin, salah satunya Human Papiloma Virus (HPV).

c. Melakukan vaksinasi HPV Vaksinasi dapat dilakukan sebelum remaja.

Bisa diberikan pada wanita usia 12- 14 tahun, melalui suntikan sebanyak tiga kali berturut-turut tiap 2 bulan sekali dan dilakukan pengulangan satu 22 kali lagi pada sepuluh tahun kemudian. Hal ini dilakukan agar terhindar dari kanker yang mematikan ini. Untuk itu telah dikembangkan vaksin HPV yang dapat memberikan mamfaat yang besar dalam pencegahan penyakit ini.

d. Hindarilah rokok Zat yang terkandung dalam nikotin yang ada pada rokok akan mempermudah selaput sel lendir tubuh bereaksi.

Sedangkan isi daerah serviks adalah lendir. Dengan begitu risiko untuk berkembangnya sel yang abnormal akan semakin mudah. Wanita perokok berisiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang bukan perokok. Makanlah makanan yang mengandung vitamin C, Beta Karoten dan Asam Folat Vitamin C, beta karoten dan asam folat dapat memperbaiki atau memperkuat mukosa serviks. Kekurangan vitamin C, beta karoten dan asam folat bisa menyebabkan timbulnya kanker serviks.

e. Penggunaan kondom Para ahli sebenarnya sudah lama meyakininya, tetapi kini mereka punya bukti pendukung bahwa kondom benar-benar mengurangi risiko penularan virus penyebab kutil kelamin (genital warts) dan banyak kasus kanker leher rahim. Hasil pengkajian atas 82 orang yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine memperlihatkan bahwa wanita yang 23 mengaku pasangannya selalu menggunakan kondom saat berhubungan seksual kemungkinannya 70 persen lebih kecil untuk terkena infeksi human papillomavirus (HPV) dibanding wanita yang pasangannya sangat jarang (tak sampai 5 persen dari seluruh jumlah hubungan seks) menggunakan kondom.

Hasil penelitian memperlihatkan efektivitas penggunaan kondom di Indonesia masih tergolong rendah. Dari survei Demografi Kesehatan Indonesia pada 2003 (BPS - BKKBN) diketahui bahwa ternyata

(27)

penggunaan kondom pada pasangan usia subur di negara ini masih sekitar 0,9 persen.

f. Sirkumsisi pada pria Sebuah studi menunjukkan bahwa sirkumsisi pada pria berhubungan dengan penurunan risiko infeksi HPV pada penis dan pada kasus seorang pria dengan riwayat multiple sexual partners, terjadi penurunan risiko kanker serviks pada pasangan wanita mereka yang sekarang.

b. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder adalah upaya yang dilakukan untuk menentukan kasus- kasus dini sehingga kemungkinan penyembuhan dapat ditingkatkan, termasuk deteksi dini dan pengobatan. Deteksi dini kanker serviks dapat memperoleh keuntungan yaitu, memperbaiki prognosis pada sebagian penderita sehingga terhindar dari kematian akibat kanker, tidak diperlukan pengobatan radikal untuk mencapai 24 kesembuhan, adanya perasaan tentram bagi mereka yang menunjukkan hasil negatif dan penghematan biaya karena pengobatan yang relatif mahal.

c. Pencegahan Tersier Pengobatan untuk mencegah komplikasi klinik dan kematian awal dengan cara :

1. Operasi sederhana dilakukan pada stadium awal (stadium 0 hingga 1A), dan pada stadium 1B sampai 2B dilakukan histrektomi, seluruh Rahim diangkat berikut sepertiga vagina.

2. Pengobatan dengan cara radiasi atau penyinaran dengan sinar x dilakukan pada stadium 2B keatas (stadium lanjut).

3. Pengobatan dengan cara kemoterapi karena radiasi sudah tidak memungkinkan lagi.

2.2.7 Patofisiologi

Terjadinya infeksi fulminant, HPV harus mencapai sel basal terlebih dahulu.

Jalurnya melalui mikro abrasi atau melalui cairan pada epitel 8 skuamosa atau mukosa epitel yang dihasilkan pada saat aktivitas seksual. Pada saat mencapai sel basal akan terjadi pembelahan sel-sel yang tidak terkendali sehingga akan merusak jaringan hidup lainnya. Dalam hal ini sel tersebut akan memakan jaringan leher rahim melalui berbagai macam cara antara lain dengan invasi atau tumbuh langsung ke jaringan sebelahnya.

Keganasan sel tersebut dapat disebabkan oleh adanya kerusakan DNA yang menyebabkan mutasi pada gen vital yang mengontrol pembelahan sel, sehingga sel-

(28)

sel ini dapat berubah dari normal menjadi prakanker dan kemudian menjadi kanker.

Perubahan prakanker menjadi kanker didahului dengan terjadinya keadaan yang disebut lesi kanker atau Neoplasia Intraepithelial Serviks (NIS). Saat virus HPV bercampur dengan sistem peringatan yang memicu respon imunitas, seharusnya bertugas dalam menghancurkan sel yang abnormal yang terinfeksi virus.

Perkembangan sel abnormal pada epitel serviks dapat berkembang menjadi sel prakanker yang disebut sebagai Cervikal Intraepithelial Neoplasma (CIN). Fase prakanker sering disebut juga dysplasia yaitu premalignant (Prakeganasan) dari sel- sel rahim. Ada tiga pola utama pada tahap prakanker. Dimulai dengan infeksi pada sel serta perkembangan sel abnormal yang kemudian bisa berlanjut menjadi Intraepithelial Neoplasma dan pada akhirnya berubah menjadi kanker serviks (Savitri, 2015).

2.2.8 Pengobatan

Kanker serviks merupakan kanker yang dapat disembuhkan. Keberhasilan terapi kanker serviks tergantung stadium yang diderita. Kemungkinan keberhasilan di stadium I adalah 85%, stadium II adalah 60%, dan stadium III adalah 40%.

Pengobatan kanker serviks berdasarkan stadium. Pada stadium IB-IIA dapat dilakukan dengan cara radiasi (penyinaran), pembedahan, dan kemoterapi, sedangkan untuk stadium IIB-IV dilakukan radiasi saja atau dikombinasikan dengan kemoterapi (kemoradiasi). Pembedahan biasanya mengambil daerah yang terserang kanker, biasanya uterus dan leher rahim. Pemilihan pengobatan untuk kanker serviks tergantung pada lokasi dan ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita dan rencana penderita untuk hamil kembali.

a. Pembedahan pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar). Seluruh kanker dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah. Dengan pengobatan tersebut penderita masih bisa untuk hamil. Kanker bisa kembali kambuh, penderita dianjurkan menjalani pemeriksaan ulang dan pap smear setiap tiga bulan selama satu tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi disarankan untuk menjalani histerektomi.

Pada kanker invasif, dilakukan histerektomi dan pengangkatan struktur disekitarnya (histerektomi radikal) serta kelenjar getah bening.

b. Terapi Penyinaran (radioterapi) efektif untuk mengobati kanker invasif yang masih terbatas pada daerah panggul. Radioterapi ini menggunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel–sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya. Efek samping dari radioterapi ini

(29)

biasanya iritasi rectum dan vagina, kerusakan kandung kemih, rectum dan ovarium berhenti berfungsi.

c. Kemoterapi dilakukan jika kanker telah menyebar keluar panggul.

Obat anti kanker bisa diberikan melalui suntikan intravena atau melalui mulut. Kemoterapi diberikan dalam suatu siklus (periode pengobatan diselingi dengan periode pemulihan).

d. Terapi biologis menggunakan zat–zat untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh dalam melawan penyakit. Terapi biologis dilakukan pada kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Terapi biologis yang paling sering digunakan adalah interferon, yang bisa dikombinasikan dengan kemoterapi.

2.3 Kanker Endometrium

2.3.1 Defenisi Kanker Endometrium

Kanker Endometrium adalah kanker paling sering terjadi pada saluran genetalia pada Wanita dan merupaka kanker kelima paling sering pada Wanita diseluruh dunia setelah kanker payudara, paru, serviks uteri.

Kanker endometrium merupakan suatu keganasan yang berasal dari sel-sel epitel didalam endometrium mulai tumbuh diluar kendali. Kanker ini terjadi di endometrium tepatnya di lapisan paling dalam dari dinding uterus, dan sel-sel endometrium tersebut tumbuh diluar kendali serta merusak jaringan-jaringan yang ada disekitarnya (American Cancer Society, 2019).

Dari beberapa pengertian diatas tersebut dapat disimpulakan bahwa kanker endometrium merupakan suatu penyakit keganasan yang terjadi dibagian lapisan dalam rahim tepatnya di endometrium yang disebabkan oleh produksi estrogen yang meningkat dan tanpa adanya kecukupan progesteron.

2.3.2 Etiologi Kanker Endometrium

Kanker endometrium awalnya didahului oleh proses yang bernama prakanker yaitu hyperplasia endometrium (Rasjidi, 2010). Menurut The American Cancer

(30)

Society (2019) menyatakan beberapa factor risiko yang dapat meningkatkan seorang perempuan terkena kanker endometrium, yaitu:

1. Obesitas

Pada bagian ovarium wanita dapat memproduksi sebagian besar estrogen sebelum menopause. Akan tetapi jaringan lemak dalam tubuh dapat mengubah hormone lain (disebut androgen) menjadi estrogen. Hal ini dapat mempengaruhi jumlah estrogen didalam tubuh, terutama pada saat menopause, yaitu memiliki lebih banyak jaringan lemak ditubuh dapat meningkatkan kadar estrogen wanita yang dimana dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker endometrium. Selain itu wanita dengan berat badan 10-25 k diatas berat badan normal mempunyai risiko 3 kali lipat daripada dengan wanita yang memiliki berat badan normal.

2. Usia; risiko kanker endometrium semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia seorang wanita

3. Usia menarche terlalu dini

Usia menarche yang terlalu dini (sebelum 12 tahun ) dapat meningkatkan risiko terkena kanker endometrium. Hal ini dapat meningkatkan risiko sekitar 1,6 kali lebih tinggi daripada wanita yang mempunyai riwayat menarche setelah usia lebih dari 12 tahun.

4. Kehamilan

Menurut penelitian menunjukkan sekitar 25% penderita dari kanker endometrium beum pernah melahirkan anak (nulipara). Hal ini bisa terjadi dikarenakan, keseimbangan hormonal bergeser ke arah peningkatan produksi progesterone selama kehamilan. Jadi wanita yang sebelumnya pernah hamil membantu melindungi diri dari kanker endometrium. Sedangkan wanita yang belum pernah hamil memiliki risiko lebih tinggi, terutama jika mereka tidak subur (infertilitas)

(31)

5. Diabetes Militus dan Hipertensi

Kanker endometrium dapat terjadi empat kali lebih berisiko pada wanita dengan diabetes militus. Diabetes sering terjadi pada orang-orang dengan obesitas dan hal tersebut juga menjadi salah satu risiko tinggi terkena kanker endometrium. Dan beberapa penelitian lain pun mengatakan bahwa hipertensi juga menjadi salah satu factor risiko terjadi kanker endometrium.

6. Riwayat penggunaan terapi estrogen jangka panjang

Terapi estrogen sering digunakan untuk terapi sulih hormone atau terapi hormone menopause. Dimana terapi ini hanya menggunakan estrogen saja tanpa progesterone yang dapat menyebabkan risiko terkan kanker endometrium pada wanita yang masih memiliki Rahim.

7. Sindrom Ovarium Polikistik

Wanita dengan kondisi ini memiliki kadar hormone abnormal seperti kadar androgen (hormone pria) dan estrogen yang lebih tinggi dan kadar progesterone yang lebih rendah. Peningkatan estrogen sendiri relative terhadap progesterone yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker endometrium.

8. Riwayat Keluarga ; jika terdapat anggota keluarga yang terkena kanker ini maka ada kemungkinan bisa terkena kanker endometrium meskipun presentasenya sangatlah kecil

2.3.3 Patofisiologi Kanker Endometrium

Umumnya kanker endometrium dapat terjadi pada saat perimenopause, nuli para, obesitas, serta memiliki riwayat diabetes militus dan hipertensi. Dan mengakibatkan kadar estrogen dalam tubuh yang tidak diimbangi dengan kadar progesterone. Kedua hormone ini harus seimbang dan apabila terlalu banyak memiliki kadar estrogen akan menyebabkan endometrium tumbuh dan meningkatkan risiko terjadinya kanker endometrium.

(32)

Hal ini dapat terjadi dikarenakan jika terdapar cukup kadar progesterone, maka sel pada lapisan uterus (epitelium) akan bertumbuh dan bermultiplikasi semakin banyak atau bisa disebut dengan hyperplasia simpleks. Dan jika keadaan ini terus berlanjut, maka akan membentuk kelenjar baru pada lapisan uterus tersebut yang akhirnya sel menjadi atipikal dan menunjukkan perulaki menyimpang. Dalam perjalanannya, kanker endometrium selalui di dahului oleh proses pranknker yang disebut hyperplasia endometrium. Hyperplasia endometrium yang atipik merupakan lesi prankanker dari kanker endometrium sedangkan untuk hyperplasia yang nonatipik bukan dari lesi prakanker endometrium (American Cancer Society, 2020).

Tanda pertama seseorang terkena kanker endometrium ialah terjadinya perdarahan atau bercak. Meskipun belum tentu pasti itu merupakan hasil dari kanker.

Selain itu juga akan terjadinya penurunan berat badan, nyeri panggul, kesulitan buang air kecil, nyeri saat berhubungan seksual serta kelelahan (Nurlianti, 2018). Prognosis kanker endometrium ditentukan oleh ada atau tidaknya metastase, namu ada beberapa penanganan pada kanker endometrium dapat dilakukan seperti tindakan pembedahan, radiasi ataupun kemoterapi sesuai dengan stadium dari kanker endometrium yang dialami. Kemoterapi ini sendiri memiliki banyak efek sampingnya, beberapa diantaranya yang paling sering terjadi ialah mual muntah, penurunan trombosit, anemia, dan rambut rontok. Kemoterapi juga sangat disarankan pada pasien dengan tumor stadium III atau bahkan lebih, akan tetapi pada kemoterapi masih belum ada standar pasti pada kanker temoterapi. Dan bagi penderita yang mengalami penurunan trombositserta anemia akan mendapatkan penanganan transfuse darah atau trombosit untukmengembalikkan kembali kadar trombosit dan hemoglobin nya (Rauh dkk, 2020).

Selain itu kanker endometrium mungkin bisa berasal dari suatu area minoris seperti sebuah polip endometrium atau multi fokal difus. Dimana pertumbuhan awal dari tumor diikuti oleh pola eksofitik yang menyebar dan ditandai dengan kerapuhan serta perdarahan spontan pada tahap awal. Dan pertumbuhan tumor dilanjutkan

(33)

dengan ivasi myometrium serta pertumbuhan hingga menuju leher Rahim. Untuk penyebarannya terdapat beberapa rute seperti penyebaran langsung, penyebaran melalui kelenjar limfe, tuba falopi dan aliran darah (Viau dkk, 2020).

2.3.4 Klasifikasi Kanker Endometrium

Stadium Deskripsi

Stadium 0 Karsinoma insitu

Stadium 1 Karsinoma hanya terbatas pada bagian uterus Stadium 1a

(T1A, N0, M0)

Kanker tumbuh dari endometrium kurang dari setengah jalan melalui iometrium. Akan tetapi tidak terdapat penyebaran ke kelenjar getah bening dan organ lainnya

Stadium 1b (T1b, N0, M0)

Kanker tumbuh berkembang dari endometrium ke dalam myometrium lebih dari setengah jalan, tetpai belum menyebar keluar rahim. Dan tidak ada penyebaran ke kelenjar getah bening serta organ lainnya

Stadium 2 (T3, N0, M0)

Kanker telah menyebar dari rahim dan menyebar hingga stroma serviks akan tetapi belum menyebar hingga luar Rahim. Tidak ada penyebaran ke kelenjar getah bening dan organ lainnya

Stadium 3 (T3, N0, M0)

Kanker telah menyebar hingga luar Rahim, akan tetapi belum menyebar hingga rectum dan kandung kemih. Belum menyebar ke kekelnjar getah bening dan organ lainnya

Stadium 3a (T3a, N0, M0)

Kanker menyebar hingga luar Rahim (serosa) dan atau ke bagian tuba falopi atau ovarium (adnexa).

Belum menyebar ke kelenjar getah bening dan organ lainnya

Stadium 3b (T3b, N0, M0)

Kanker telah menyebar hingga vagina dan sekitar Rahim (parametrium). Dan belum menyebar ke kelenjar getah bening serta organ lainnya

(34)

Stadium 3C1 (T1-3, N1, M0)

Kanker telah tumbuh di badan uterus atau Rahim, mungkin menyebar ke jaringan sekitar. Telah menyebar hingga kelenjar getah bening pelvis, tetapi tidak ke kelenjar getah benig bagian aorta dan organ lainnya

Stadium 3C2 (T1-3, N2, M0)

Kanker telah tumbuh di uterus dan menyebar hingga jaringa sekitarnya. Telah menyebar ke kelenjar getah

bening di sekitar aorta, tetapi tidak ke organ lainnya Stadium 4 Kanker menyebar hingga ke dalam buli-buli atau

rectum (bagian bawah anus besar) dan hingga ke kelenjar getah bening di bagian paha atau organ lainnya seperti tulang

Stadium 4a (T4, anyN, M0)

Kanker telah menyebar hingga ke rectum (mukosa) dan mungkin menyebar ke kelenjar getah bening sekitarnya tetapi tidak menyebar ke organ lainnya Stadium 4b

(anyT, anyN, M1)

Kanker telah menyebar hingga kelenjar getah bening yang lebih jauh bahkan hingga abdomen atas, omentum serta tulang dan paru

2.3.5 Penatalaksanaan Kanker Endometrium Adapun penatalaksanaannya sebagai berikut:

1. Histerektomi yaitu suatu tindakan operasi pengangkatan rahim dan leher rahim. Operasi ini dilakukan melalui sayatan diperut atau disebut dengan histerektomi abdominal. Namun jika dilakukan pengangkatan melalui vagina maka dikenal sebagai

(35)

histerektomi vaginal. Adapun histerektomi radikal yang dilakukan ketika kanker endometrium telah menyebar hingga ke leher rahim atau sekitar parametrium. Dalam operasi ini, seluruh rahim (parametrium dan ligamentum uterosakrim) serta bagian atas vagina akandiangkat (American Cancer Society, 2020).

2. Terapi Radiasi

Terapi radiasi ini menggunakan suatu radiasi berenergi tinggi (seperti sinar-x) untuk membunuh sel kanker. Terapi ini dapat diberikan dengan dua cara untuk mengobati kanker endometrium, seperti memasukkan bahan radioaktif kedalam tubuh atau biasa disebut terapi radiasi internal atau brakiterapi dan dengan menggunakan mesin yang memfokuskan sinar radiasi pada tumor atau biasa disebut terapi radiasi sinar eksternal. Untuk terapi radiasi ini sendiri sering digunakan pada pasien setelah tindakan operasi, untuk membunuh selkanker yang mungsin masih berada di area tubuh. Pada pasien yang tidak mampu untuk dilakukan operasi, maka pilihan utama sebagai pengobatannya yaitu terapi radiasi ini (American Cancer Society, 2020).

3. Kemoterapi

Kemoterapi merupakan suatu pengobatan pilihan bagi penyakit bermetastasis yaitu dengan diberikan melalui pembuluh darah atau diminum sebagai pil. Obat ini akan masuk ke aliran darah dan mencapai seluruh tubuh. Kemoterapi sendiri menjadi pilihan bagi pengobatan kanker endometrium ketika telah menyebar hingga bagian luar endometrium dan bagian tubuh lainnya serta tindakan operasi yang tidak dapat dilakukan. Obat kemo dapat diberikan pda satu hari atau lebih dalam setiap siklusnya.

Kombinasi yang paling umum yaitu carboplatin/paclitaxel dan cisplatin/doxorubicin.

Akan tetapi kemo sendiri memiliki efek samping seperti mual, muntah, hilangnya selera makan, sariawan, rambut rontok, penurunan sel darah putih, jumlah trombosit menurun, hingga anemia (American Cancer Society, 2020)

4. Terapi Hormon

(36)

Pengobatan ini menggunakan hormone atau obat penghambat hormone unruk mengobati kanker. Ini sering digunakan untuk mengobatai kanker endometrium yang sudah lanjut (stadium III atau IV) atau telah kembali setelah pengobatan (kambuh).

Terapi hormone ini sering digunakan bersamaan dengan kemoterapi. Ada beberapa macam terapi hormone yang digunakan seperti progestin, tamoksifen, LHRH agonis dan inhibitor aromatase. Akan tetapi terapi progestin merupakan pengobatan hormone utama yang sering digunakan, yaitu dengan menggunakan progesterone atau obat- obatan (American Cancer Society, 2020)

2.4 Kanker Ovarium 2.4.1 Definisi Kanker Ovarium

Kanker ovarium adalah istilah umum yang sering digunakan untuk menyatakan tumor ganas primer yang berasal dari ovarium, istilah ini juga merujuk pada kumpulan berbagai jenis kanker yang melibatkan ovarium Kanker ovarium dengan differensiasi epitel (karsinoma) mewakili mayoritas tumor ganas dan merupakan penyebab kematian terbesar terkait kanker ovarium. Klasifikasi ini diperumit dengan adanya bukti-bukti terbaru yang menunjukan bahwa banyak karsinoma ovarium tidak berasal dari ovarium, melainkan mereka mungkin dapat berasal dari jaringan lain (misalnya saluran indung telur) yang kemudian menyebar ke ovarium atau berasal dari sel-sel lain yang tidak berasal dari ovarium.

2.4.2 Patofisiologi

Penyebab pasti kanker ovarium tidak diketahui namunnmultifaktoral. Resiko berkembangnya kanker ovarium berkaitan dengan factor lingkungan, reproduksi dan genetik. Faktorfaktor lingkungan yang berkaitan dengan dengan kanker ovarium epitel terus menjadi subjek perdebatan dan penelitian. Kebiasaan makan, minum kopi, dan merokok, dan penggunaan bedak talek pada daerah vagina, semua itu dianggap mungkin menyebabkan kanker.

Penggunaan kontrasepsi oral tidak 10 meningkatkan resiko dan mungkin dapat mencegah. Terapi penggantian estrogen pascamenopause untuk 10 tahun atau

(37)

lebih berkaitan dengan peningkatan kematian akibat kanker ovarium. Gengen supresor tumor seperti BRCA-1 dan BRCA-2 telah memperlihatkan peranan penting pada beberapa keluarga. Kanker ovarium herediter yang dominan autosomal dengan variasi penetrasi telah ditunjukkan dalam keluarga yang terdapat penderita kanker ovarium. Bila yang menderita kanker ovarium, seorang perempuan memiliki 50%

kesempatan untuk menderita kanker ovarium. Lebih dari 30 jenis neoplasma ovarium telah diidentifikasi. Kanker ovarium dikelompokkan dalam 3 kategori besar : 1.

Tumortumor epiteliel, 2. Tumor stroma gonad, dan 3. Tumor-tumor sel germinal.

Keganasan epiteliel yang paling sering adalah adenoma karsinoma serosa.

Kebanyakan neoplasma epiteliel mulai berkembang dari permukaan epitelium, atau serosa ovarium. Kanker ovarium bermetastasis dengan invasi langsung struktur yang berdekatan dengan abdomen dan pelvis. Sel-sel ini mengikuti sirkulasi alami cairan perinetoneal sehingga implantasi dan pertumbuhan. Keganasan selanjutnya dapat timbul pada semua permukaan intraperitoneal. Limfasik yang disalurkan ke ovarium juga merupakan jalur untuk penyebaran sel-sel ganas. Semua kelenjer pada pelvis dan kavum abdominal pada akhirnya akan terkena. Penyebaran awal kanker ovarium dengan jalur intraperitoneal dan limfatik muncul tanpa gejala atau tanda spesifik.

Gejala tidak pasti akan muncul seiring dengan waktu adalah perasaan berat pada pelvis, sering berkemih, dan disuria, dan perubahan gastrointestinal, seperti rasa penuh, mual, tidak enak pada perut, cepat kenyang, dan konstipasi.pada beberapa perempuan dapat terjadi perdarahan abnormal vagina sekunder akibat hiperplasia endometrium bila tumor menghasilkan estrogen, beberapa tumor menghasilkan testosteron dan menyebabkan virilisasi. Gejala-gejala keadaan akut pada abdomen dapat timbul mendadak bila terdapat perdarahan dalam tumor, ruptur, atau torsi ovarium.

Namun, tumor ovarium paling sering terdeteksi selama pemeriksaan pelvis rutin.

Pada perempuan pramenopause, kebanyakan massa adneksa yang teraba bukanlah keganasan tetapi merupakan kista korpus luteum atau folikular. Kista fungsional ini akan hilang dalam satu sampai tiga siklus menstruasi. Namun pada perempuan

(38)

menarkhe atau pasca menopause, dengan massa berukuran berapapun, disarankan untuk evaluasi lanjut secepatnya dan mungkin juga eksplorasi bedah. Walaupun laparatomi adalaha prosedur primer yang digunakan untuk menentukan diagnosis, cara-cara kurang invasif, )misal CT-Scan, sonografi abdomen dan pelvis) sering dapat membantu menentukan stadium dan luasnya penyebaran. Lima persen dari seluruh neoplasma ovarium adalah tumor stroma gonad, 2 % dari jumlah ini menjadi keganasanovarium. WHO (World Health Organization), mengklarifikasikan neoplasma ovarium ke dalam lima jenis dengan subbagian yang multipel. Dari semua neoplasma ovarium, 25 % hingga 33 % tardiri dari kista dermoid ; 1 % kanker ovarium berkembang dari bagian kista dermoid. Eksisi bedah adalah pengobatan primer untuk semua tumor ovarium, dengan tindak lanjut yang sesuai, tumor apa pun dapat ditentukan bila ganas.

(39)
(40)
(41)

2.4.3 Klasifikasi Stadium Kanker

Stadium Kategori

Stadium I Tumor terbatas pada ovarium Ia

Tumor terbatas pada satu ovarium, kapsul utuh, tidak ada tumor pada permukaan luar, tidak terdapat sel kanker pada cairan asites atau pada bilasan peritoneum

Ib

Tumor terbatas pada kedua ovarium, kapsul utuh, tidak terdapat tumor pada permukaan luar, tidak terdapat sel kanker pada cairan asites atau bilasan peritoneum

Ic

Tumor terbatas pada satu atau dua ovarium dengan satu dari

tandatanda sebagai berikut : kapsul pecah, tumor pada permukaan luar kapsul. Sel kanker postitif pada cairan asites atau bilasan peritoneum Stadium

II

Tumor mengenai satu atau dua ovarium dengan perluasan ke pelvis

IIa Perluasan dan implan ke uterus atau tuba fallopi. Tidak ada sel kanker di cairan asites atau bilasan peritoneum

IIb Perluasan ke organ pelvis lainnya. Tidak ada sel kanker di cairan asites atau bilasan peritoneum

IIc Tumor pada stadium IIa/IIb dengan sel kanker positif pada cairan asites atau bilasan peritoneum

Stadium III

Tumor mengenai satu atau dua ovarium dengan metastasis ke peritoneum yang dipastikan secara mikroskopik diluar pelvis atau metastasis ke kelenjar getah bening regional

IIIa Metastasis peritoneum mikroskopik di luar pelvis

IIIb Metastasis peritoneum mikroskopik diluar pelvis dengan diameter terbesar 2 cm atau kurang

IIIc Metastasis peritoneum diluar pelvis dengan diameter terbesar lebih dari 2 cm atau metastasis kelenjar getah bening regional

IV

Metastasis jauh diluar rongga peritoneum. Bila terdapat efusi pleura, maka cairan pleura mengandung sel kanker positif. Termasuk metastasis pada parenkim hati.

(42)

2.4.4 Penatalaksanaan 1) Penatalaksanaan medis (1) Pembedahan

Tindakan pembedahan dapat dilakukan pada kanker ovarium sampai stadium IIA dan dengan hasil pengobatan seefektif radiasi, akan tetapi mempunyai keunggulan dapat meninggalkan ovarium pada pasien usia pramenopouse. Kanker ovarium dengan diameter lebih dari 4 cm menurut beberapa peneliti lebih baik diobati dengan kemoradiasi dari pada operasi. Histerektomi radikal mempunyai mortalitas kurang dari 1%. Morbiditas termasuk kejadian fistel (1% sampai 2%), kehilangan darah, atonia kandung kemih yang membutuhkan katerisasi intermiten, antikolinergik, atau alfa antagonis. 16 (2) Radioterapi Terapi radiasi dapat diberikan pada semua stadium, terutama mulai stadium II B sampai IV atau bagi pasien pada stadium yang lebih kecil tetapi bukan kandidat untuk pembedahan. Penambahan cisplatin selama radio terapi whole pelvic dapat memperbaiki kesintasan hidup 30% sampai 50%. (3) Kemoterapi Terutama diberikan sebagai gabungan radio-kemoterapi lanjutan atau untuk terapi paliatif pada kasus residif. Kemoterapi yang paling aktif adalah ciplastin.

Carboplatin juga mempunyai aktivitas yang sama dengan cisplatin. 2) Penatalaksanaan Keperawatan Asuhan keperawatan pada pasien dengan kenker ovarium meliputi pemberian edukasi dan informasi untuk meningkatkan pengetahuan klien dan mengurangi kecemasan serta ketakutan klien. Perawat mendukung kemampuan klien dalam perawatan diri untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah komplikasi (Reeder dkk, 2013). Intervensi keperawatan kemudian difokuskan untuk

(43)

membantu klien mengekspresikan rasa takut, membuat parameter harapan yang realistis, memperjelas nilai dan dukungan spiritual, meningkatkan kualitas sumber daya keluarga komunitas, dan menemukan kekuatan diri untuk meghadapi masalah.

17 2.1.8. Pemeriksaan Penunjang Ultrasonografi transvagina dan pemeriksaan antigen CA-125 sangat bermanfaat untuk wanita yang beresiko tinggi. Pemeriksaan praoperasi dapat mencakup enema barium atau kolonoskopi, serangkaian pemeriksaan GI atas, MRI, foto ronsen dada, urografi IV, dan pemindaian CT.Scan.

Uji asam deoksiribonukleat mengindikasikan mutasi gen yang abnormal. Penanda atau memastikan tumor menunjukkan antigen karsinoma ovarium, antigen karsinoembrionik, dan HCG menunjukkan abnormal atau menurun yang mengarah ke komplikasi. 2.1.9. Konsep Kemoterapi 2.1.9.1. Definisi Kemoterapi Kemoterapi adalah pemberian obat untuk membunuh sel kanker. Tidak seperti radiasi atau operasi yang hanya bersifat lokal, kemoterapi merupakan terapi sistemik, yang berarti obat menyebar keseluruh tubuh dan dapat mencapai sel kanker yang telah menyebar jauh atau metastase ke tempat lain (Rasjidi, 2010). Obat-obat anti kanker ini dapat digunakan sebagai terapi tunggal (active single agents), tetapi kebanyakan berupa kombinasi karena dapat lebih meningkatkan potensi sitotoksik terhadap sel kanker.

Selain itu sel-sel yang resisten terhadap salah satu obat mungkin sensitive terhadap obat lainnya. 18 2.1.9.2. Dampak Kemoterapi Terhadap Pasien Kemoterapi memiliki dampak dalam berbagai bidang kehidupan antara lain dampak terhadap fisik dan psikologis. Kemoterapi memberikan efek nyata kepada pasien, setiap orang memiliki variasi yang berbeda dalam merespon obat kemoterapi, efek fisik yang tidak dapat diberikan penanganan yang baik dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Adapun dampak fisik kemoterapi yaitu: mual dan muntah, konstipasi, toksisitas kulit, kerontokan rambut, penurunan berat badan, kelelahan, penurunan nafsu makan, perubahan rasa dan nyeri (Aambarwati, 2014). Menurut Wijayanti (2007) menyebutkan beberapa dampak psikologis pasien kanker yaitu: ketidakberdayaan, kecemasan, rasa malu, stress, amarah, depresi, dan harga diri. Secara tidak langsung efek itu mempengaruhi proses penyembuhan pada pasien kanker, dan bila tidak ada

(44)

bantuan koping yang adekuat dari keluarga, ditakutkan akan menambah buruk keadaan bagi penderita kanker.

ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Keperawatan

a. Identitas pasien

Meliputi nama lengkap, tempat tinggal, jenis kelamin, tanggal lahir, umur, asal suku bangsa, tempat lahir, nama orang tua, pekerjaan orang tua.

b. Keluhan utama

Biasanya mengalami perdarahan yang abnormal atau menorrhagia pada wanita usia subur atau wanita diatas usia 50 tahunatau menopause untuk stadium awal. Pada stadium lanjutakan mengalami pembesaran massa yang disertai asites (Reeder,dkk.

2013).

c. Riwayat kesehatan sekarang

Gejala kembung, nyeri pada abdomen atau pelvis, kesulitan makan atau merasa cepat kenyang, dan gejala perkemihan kemungkinan menetap Pada stadium lanjut, sering berkemih, konstipasi, ketidaknyamanan pelvis, distensi abdomen, penurunan berat badan, dan nyeri pada abdomen

.

d. Riwayat kesehatan dahulu

Riwayat kesehatan dahulu pernah memiliki kanker kolon,kanker payudara, dan kanker endometrium (Reeder, dkk.2013

)

e. Riwayat kesehatan keluarga

(45)

Riwayat kesehatan keluarga yang pernah mengalami kanker payudara dan kanker ovarium yang beresiko 50% (Reeder, dkk. 2013)

f. Keadaan psiko-sosial-ekonomi dan budaya

Kanker ovarium sering ditemukan pada kelompok social ekonomi yang rendah, berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas makanan atau gizi yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh, serta tingkat personal hygiene.

g. Data khusus

Data khusus pada pengkajian asuhan keperawatan meliputi : Riwayat haid, riwayat obstetri, data psikologis, data aktivitas atau istirahat, data makanan atau cairan, data nyeri atau kenyamanan, pemeriksaan fisik (kesadaran, kepala dan rambut, telinga, wajah, leher, abdomen, dan genetalia), pemeriksaan penunajang (pemeriksaan laboratorium : Uji asam deoksiribonukleat mengindikasikan mutasi gen yang abnormal. Penanda atau memastikan tumor menunjukkan antigen karsinoma ovarium, antigen karsinoembrionik, dan HCG menunjukkan abnormal atau meningkat yang mengarah ke komplikasi).

2. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan SDKI 2017, diagnosa keperawatan yang muncul adalah : 2.1 Nyeri kronis berhubungan dengan infiltrasi tumor

2.2 Defisit nutrisi berhubungan dengan kurangnya asupan makanan 2.3 Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakbugaran fisik 2.4 Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan fungsi/struktur tubuh.

2. 5 Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala penyakit

2.6 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan efek tindakanpengobatan

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU WANITA USIA SUBUR DALAM MELAKUKAN DETEKSI DINI.. KANKER PAYUDARA METODE SADARI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

deteksi dini kanker payudara agar wanita usia subur dapat melakukan. pendeteksian awal

Penelitian pendidikan kesehatan yang selama ini diberikan pada pasien kanker payudara di Indonesia adalah Lestari (2016) tentang praktik pemeriksaan payudara sendiri di

Untuk menambah pengalaman penelitian dan untuk mengetahui perilaku wanita usia subur dalam mendeteksi dini kanker payudara di Kecamatan Medan Deli, sehingga menambah pengetahuan

1) Memaparkan pengkajian yang komprehensif pada pasien kanker payudara post kemoterapi dengan penerapan edukasi untuk menurunkan tingkat mukositis di Ruang Bedah

komponen sebagai berikut: S (subjek) : perilaku pasien yang diamati P (predikat) : kondisi yang melengkapi pasien Kr (kriteria) : kata kerja yang dapat di ukur untuk

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kanker payudara pada wanita usia subur di Kota Semarang tahun 2015

Usia hamil anak pertama diatas 30 tahun dilaporkan dapat meningkatkan risiko perkembangan kanker payudara karena lebih lama terpapar dengan hormon estrogen dibandingkan wanita yang