Secara umum satuan breksi vulkanik yang terdapat di daerah penelitian tidak menunjukkan adanya lapisan, kondisi singkapan umumnya masih segar dan sebagian besar tertutup vegetasi. Karakteristik litologi satuan breksi vulkanik yang tersingkap di daerah penelitian jelas sama dengan karakteristik litologi Formasi Pengulung. Dengan demikian, satuan batuan breksi vulkanik yang ditemukan pada daerah penelitian mempunyai umur yang sama dengan Formasi Pengulung yaitu Oligosen Akhir – Miosen Awal.
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa satuan breksi vulkanik di daerah penelitian diendapkan pada lingkungan terestrial. Hubungan stratigrafi antara satuan breksi vulkanik dan satuan tufa vulkanik di daerah penelitian dapat diperkirakan dengan menggunakan model lingkungan pengendapan. Umur satuan tufa vulkanik yang ditemukan di daerah penelitian ditentukan dengan membandingkannya dengan Formasi Kawangan.
Karena kedua satuan batuan tersebut mengalami perubahan fasies (finger), maka dapat disimpulkan bahwa umur satuan tufa vulkanik yang terdapat di daerah penelitian sama dengan umur satuan breksi vulkanik yaitu umur Oligosen Akhir – Miosen Awal. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, satuan tufa vulkanik yang ditemukan di daerah penelitian merupakan batuan piroklastik yang berasal dari aktivitas vulkanik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa satuan tufa vulkanik di daerah penelitian dimaknai sebagai hasil pengendapan gunung berapi di darat.
Satuan Batugamping (Formasi Ekas)
Umur batuan paparan dasit di daerah penelitian dapat ditentukan dengan menggunakan hukum hubungan lintas sektoral dimana batuan dasit meletus melalui satuan tufa vulkanik Formasi Kawangan. Dengan demikian, batuan paparan dasit di daerah penelitian terbentuk pada masa Miosen Tengah atau bersamaan dengan orogeni Miosen Tengah. Bagian tipis batugamping dengan posisi nikol silang dan nikol sejajar diambil di daerah Sekotong dengan nomor sampel VIII-oc-05.
Berdasarkan hasil sayatan tipis, batugamping di daerah penelitian tidak menunjukkan adanya foraminifera besar atau foraminifera planktonik dan bentik. Satuan batugamping yang ditemukan di daerah penelitian mempunyai kemiripan dengan sifat batuan Formasi Ekas, sehingga penulis menyimpulkan satuan batugamping tersebut diendapkan pada masa Miosen Akhir. Hubungan stratigrafi satuan batugamping (Formasi Ekas) dengan satuan di bawahnya yaitu Satuan Breksi Vulkanik (Formasi Penguung) dan Satuan Vulkanik Tufa (Formasi Kawangan) tidak selaras, hal ini didasarkan pada kontak kedua satuan batuan tersebut. dimana satuan batugamping Formasi Ekas bertumpang tindih secara tidak selaras dengan Satuan Batuan Vulkanik Tufa Formasi Kawangan.
Berdasarkan umurnya, Formasi Kawangan dan Formasi Pengurkan berumur Oligosen Akhir – Miosen Awal, sedangkan satuan batugamping Formasi Ekas berumur Miosen Akhir.
Satuan Aluvial
Struktur Geologi
Secara regional, struktur geologi yang berkembang di Pulau Lombok berupa sesar normal dan sesar dengan pola umum berarah barat laut – tenggara. Ciri tektonik tertua di kawasan ini diperkirakan terjadi pada masa Oligosen, disusul aktivitas vulkanik bawah laut dengan komposisi andesit-basal sehingga menghasilkan endapan vulkanik Formasi Pengulung dan Formasi Kawangan. Pada Miosen Akhir, kondisi cekungan memungkinkan terbentuknya endapan batugamping Formasi Ekas, pada awal Pliosen mulai terjadi aktivitas tektonik (orogenesis) sehingga menyebabkan munculnya sesar geser dan sesar normal.
Struktur sambungan yang dapat diamati pada daerah penelitian adalah sambungan geser dan sambungan tarik. Berdasarkan hasil observasi lapangan terhadap indikasi struktur geologi dan analisis peta topografi dan alinyemen perbukitan, pada daerah penelitian terdapat 4 struktur sesar mendatar arah barat laut – sesar Teggara. Sesar Pukulan Gunung Gundi, Sesar Pukulan Labuan Poh, Sesar Pukulan Ketapang dan Sesar Pukulan Berambang.
Nama Sesar Geser Pukulan Gunung Gundi didasarkan pada lokasi penemuannya yaitu di kawasan Gunung Gundi. Pergeseran ini terletak pada bagian barat lembar peta, memanjang dari arah barat laut – tenggara sejauh ± 4 km. Belokan tiba-tiba ke arah Sungai Eat Gundi mengikuti bidang patahan di bagian selatan peta.
Dinamakan Sesar Geser Pukulan Labuan Poh karena jalur sesar ini melewati Sungai Labuanpoh yang berada di bagian barat lembar peta. Sesar ini melewati Sungai Labuanpoh yang berada di bagian barat utara lembar peta. Pergeseran ini terletak pada bagian barat lembar peta, memanjang dari arah barat laut – tenggara sejauh ± 8 kilometer.
Breksiasi pada batuan tufa dengan arah barat laut–tenggara terdapat pada cabang Sungai Kokok Siung yang mengalir dari barat hingga timur G. Dinamakan sesar geser Jurus Ketapang karena jalur sesar ini melewati Sungai Ketapang yang mengalir ke Teluk Ketapang. dan terletak di bagian utara lembaran.
Sesar Geser Jurus Ketapang. Penamaan Sesar Geser Jurus Ketapang dikarenakan jalur sesar ini melalui sungai Ketapang yang bermuara ke Teluk Ketapang dan terletak di bagian utara lembar
Mineralisasi dan Ubahan Hidrotermal
- Ubahan Hidrotermal
- Hubungan Ubahan Hidrotermal dan Mineralisasi
- Ubahan Hidrotermal dan Mineralisasi Daerah Penelitian
Menurut Schwartz (1954), alterasi terjadi ketika larutan hidrotermal berdifusi, mengisi dan mempengaruhi retakan pada dinding batuan. Terutama struktur patahan atau retakan dan menyebabkan larutan hidrotermal mudah bergerak, bereaksi dan berdifusi dengan batuan dinding. Alterasi hidrotermal dirumuskan sebagai suatu proses yang melibatkan perubahan fasa sebagai akibat interaksi larutan hidrotermal dengan fasa yang ada, atau akibat kesetimbangan larutan hidrotermal pada batuan yang mengalami penambahan atau pengurangan unsur-unsur kimia, misalnya silisifikasi ( Schwartz, 1956).
Menurut Hemley dan Jones (1964), alterasi hidrotermal merupakan fenomena umum dalam proses mineralisasi hidrotermal dan berguna dalam menentukan area mineralisasi. Beberapa ahli membagi alterasi hidrotermal menjadi zona atau fasies, yang cenderung mengelompok menjadi kumpulan mineral. 21 Geologi dan Mineralisasi Hidrotermal Kawasan Pelangan, Kabupaten Sekotong, NTB. disertai kuarsa, serisit atau turmalin, sedangkan mineral terkait biasanya epidot, albit, dan karbonat.
Alterasi dan mineralisasi sangat erat kaitannya karena beberapa jenis alterasi akan ditandai dengan adanya sekumpulan mineral unik sebagai ciri khasnya. Jenis alterasi tertentu biasanya menunjukkan zonasi kelompok mineral tertentu akibat alterasi oleh larutan hidrotermal yang melewati batuan yang berdekatan (Guilbert dan Park, 1986, Evans, 1993). Mineralisasi emas pada endapan porfiri erat kaitannya dengan proses alterasi hidrotermal, sehingga pemahaman tentang proses alterasi hidrotermal sangat penting dalam kegiatan penelitian.
Hal ini akan sangat berguna dalam mengetahui karakteristik alterasi dan mineralisasi hidrotermal di daerah tersebut (Corbett dan Leach, 1996). Jenis alterasi dan mineralisasi suatu daerah mempunyai sifat dan karakteristik tersendiri yang seringkali ditandai dengan adanya kumpulan mineral tertentu. Adanya zona alterasi dan mineralisasi ini akan membantu dalam perencanaan pengembangan prospek mineral bijih yang mengandung emas.
Di daerah penelitian, sumber panas yang memicu keberadaan fluida hidrotermal diduga berasal dari larutan hidrotermal yang meresap melalui batuan. Peta zona alterasi dan mineralisasi pada daerah penelitian (lihat lampiran peta) dapat dibagi menjadi 3 (tiga) zona, yaitu zona silisifikasi (merah); (2).
Zona Ubahan Silisifikasi
Zona alterasi silisiklastik yang terdapat pada batuan tufa vulkanik umumnya didominasi oleh mineral alterasi silika. Berdasarkan keberadaan mineral-mineral tersebut di atas, maka jenis alterasi presilat yang terdapat di daerah penelitian diperkirakan mempunyai suhu pembentukan mulai dari 2500 C, hal ini juga didukung dengan adanya mineral alterasi silika dan serisit (Reyes dalam Hedenquist, 1998 ). .
Zona Ubahan Argilik
Zona alterasi argilik terjadi karena proses argilik merupakan infiltrasi fluida hidrotermal yang bersuhu rendah, melewati rongga atau celah berupa retakan primer atau sekunder pada batuan sehingga mengakibatkan tekanan menjadi lebih rendah. Alterasi argilik terdapat pada alterasi satuan tufa. Mineral khas pada zona alterasi argilik adalah lempung dengan mineral sulfida pirit dan ± kalkopirit, magnetit, rutil. Perubahan ini terlihat jelas di beberapa lokasi, khususnya Gunung Pelangan, Gunung Permula dan sekitarnya.
Zona alterasi ini ditandai dengan kumpulan mineral berupa mineral lempung dan adanya mineral rutil. Megaskopi mempunyai penampakan batuan ubahan argilik, warna bagian luar coklat muda sampai coklat tua dan bagian dalam putih keabu-abuan atau putih kecoklatan. Batuan hasil alterasi akan memiliki tingkat kekompakan yang rendah karena pada zona ini telah tertransformasi menjadi mineral lempung.
Di lapangan, zona alterasi ini biasanya berkembang dengan baik di daerah yang berdekatan dengan urat kuarsa. Warna putih menunjukkan adanya mineral lempung, biasanya kaolin, sedangkan warna kecoklatan menunjukkan intensitas proses pelapukan pada alterasi tersebut. Urat kuarsa tipis bervariasi panjangnya dari 5 cm hingga 1 m, dan dengan ketebalan 1 mm – 1 cm. Batuan asli yang mengalami alterasi argilik adalah tufa.
Kisaran suhu dan pH pembentukan mineral yang menjadi ciri Zona Argilik di daerah penelitian (Reyes, 1990 dalam Hedenquist, 1998). Rutil (TiO2), abu-abu kecoklatan muda, an-isotropik, relief tinggi, refleksi dalam kuning kecoklatan muda, kristal, berbutir halus, tersebar tidak merata pada batuan dasit. Pirit (FeS2), warna krem pucat, isotropik, relief tinggi, kristal kubik, terdapat pada butiran halus yang membentuk kelompok kecil dan tersebar tidak merata pada batuan.
Magnetit (Fe3O4), berwarna abu-abu kecoklatan, isotropik, terdapat dalam beberapa butir halus dan tersebar tidak merata pada batuan. Adanya mineral-mineral tersebut menunjukkan bahwa daerah yang diteliti mempunyai tipe alterasi yaitu tipe alterasi argilik.
Zona Ubahan Propilitik
Tipe Endapan
Sistem pengendapan yang berkembang di sepanjang busur magmatik dicirikan oleh tipe epitermal sulfida rendah, epitermal sulfida tinggi, dan porfiri. Terdapat dua jenis endapan epitermal yaitu endapan sulfida tinggi (HS) dan endapan sulfida rendah (LS). Kedua sistem tersebut dibentuk oleh fluida dengan komposisi kimia berbeda di lingkungan vulkanik berbeda.
Endapan tipe HS sebagian besar berasosiasi dengan cairan magmatik, sedangkan tipe LS berasosiasi dengan pH netral dan sebagian besar didominasi cairan meteorik. Daerah penelitian mempunyai nilai pH netral mendekati asam, terdapatnya mineral bijih pirit, kalkopirit, rutil, magnetit, bornit, mineral gangue kuarsa, epidot, klorit, sehingga dapat disimpulkan bahwa jenis endapan di daerah penelitian meliputi endapan epitermal sulfida rendah (Corbett dan Leach, 1998). Dapat digambarkan bahwa daerah penelitian didasarkan pada bentuk sebaran/dimensi alterasi dan mineralisasi, tekstur dan struktur urat/vena, temperatur fluida hidrotermal yang tertutup dan keberadaan mineral gangue.
Sistem alterasi dan mineralisasi di daerah Pelangan dan sekitarnya termasuk dalam jenis endapan bijih epitermal sulfidasi rendah (klasifikasi Lindgren 1933, dan Hayba et al. 1986), seperti terlihat pada Tabel 6.20. Urutan tahapan perubahan pada gambar Leach, 1998 didasarkan pada pengelompokan adanya perubahan mineral yang ditunjukkan pada Gambar 6.21. Bagian pertama diawali dengan aktivitas magmatisme yang menyebabkan intrusi dasit sebagai sumber panas dan sebagai sumber larutan hidrotermal.
Aktivitas tektonik masa lalu dan sesar terkendali menyebabkan larutan hidrotermal yang mungkin berasal dari sisa larutan magma naik melalui garis patahan dan berinteraksi dengan batuan yang mengapitnya sehingga menyebabkan terjadinya proses alterasi hidrotermal. Berdasarkan kelompok mineral alterasi yang mengacu pada klasifikasi Leach (1998), alterasi yang terjadi di daerah penelitian dikelompokkan menjadi 3 (tiga) zona alterasi, yaitu: Zona Alterasi Silisifikasi, Zona Alterasi Lempung, Zona Alterasi Propilitik dengan ephemeris sulfida rendah Sistem.
Sejarah Geologi
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
PETA GEOMORFOLOGI
DAERAH PELANGAN DAN SEKITARNYA
PETA GEOLOGI
PETA ZONA UBAHAN HIDROTERMAL DAN MINERALISASI DAERAH GUNUNG BERAMBANG