• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN

N/A
N/A
HANGGANIS ARDETTIYO Mahasiswa PNJ

Academic year: 2025

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, posisi kecamatan mengalami perubahan signifikan dibandingkan dengan aturan sebelumnya yakni Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Kecamatan tidak lagi memiliki kewenangan strategis dan otonom, melainkan ditempatkan sebagai bagian dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten/Kota. Implikasinya, kewenangan kecamatan menjadi bersifat administratif dan implementatif, dengan fokus pada pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan oleh bupati/wali kota.

Perubahan ini tercermin dalam Pasal 25 ayat 6, yang menyebutkan bahwa kewenangan bupati/wali kota dalam melaksanakan urusan pemerintahan umum di tingkat kecamatan dilimpahkan kepada camat. Hal ini menempatkan kecamatan sebagai jembatan koordinasi antara kebijakan pemerintah daerah dan implementasi di tingkat desa. Ketentuan ini diperkuat dalam Pasal 25 Ayat 7, yang menyatakan bahwa pelaksanaan urusan pemerintahan umum lebih lanjut diatur dalam peraturan pemerintah. Perubahan ini mencerminkan upaya untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang lebih terkoordinasi, selaras dengan hierarki pemerintahan daerah, dan terintegrasi dengan kebijakan pemerintah pusat. Namun, di sisi lain, perubahan ini mengurangi otonomi kecamatan dalam pengambilan keputusan strategis, menjadikannya lebih sebagai unit administratif dengan ruang lingkup yang lebih terbatas.

Sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan diterbitkan untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi di tingkat kecamatan. Desentralisasi tidak memberikan kecamatan kewenangan strategis atau otonom, melainkan menempatkannya sebagai bagian dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten/Kota yang menjalankan kewenangan berdasarkan pelimpahan bupati/wali kota. Pasal 11 dalam PP Nomor 17 Tahun 2018 yang mengatur bahwa camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan bupati/wali kota untuk melaksanakan fungsi pemerintahan umum, termasuk pelayanan perizinan dan non-perizinan yang memiliki kriteria tertentu, seperti proses yang sederhana, objek berskala kecil, tidak memerlukan kajian teknis yang kompleks, dan bersifat rutin. Selain itu, pelimpahan kewenangan ini dilakukan berdasarkan pemetaan pelayanan publik sesuai dengan karakteristik kecamatan dan kebutuhan masyarakat setempat, sehingga mampu mendekatkan layanan kepada masyarakat dan memastikan responsivitas terhadap kebutuhan lokal. Peraturan ini bertujuan untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang lebih efisien dan terkoordinasi, meskipun

(2)

2 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

peran kecamatan tetap bersifat administratif dan implementatif dalam kerangka kebijakan kabupaten/kota.

Ghuman & Singh (2013) menunjukkan bahwa desentralisasi efektif jika didukung oleh desain kebijakan yang holistik, termasuk devolusi, kapasitas lokal yang cukup, dan partisipasi masyarakat dalam tata kelola. Selain itu, desentralisasi juga dapat memperkuat jaringan tata kelola lokal, melalui pengelolaan sumber daya bersama yang lebih efektif, dengan syarat adanya keterlibatan aktif dari kelompok masyarakat loka (Wright et al., 2016). Dari sisi perencanaan dan pendanaan, Pasal 17 dalam PP Nomor 17 Tahun 2018 menegaskan bahwa pembangunan kecamatan harus menjadi bagian integral dari perencanaan kabupaten/kota. Pendanaan yang diatur dalam Pasal 28 hingga Pasal 30 mendukung penyelenggaraan pemerintahan di kecamatan, khususnya untuk tugas pemerintahan umum dan tugas pelimpahan (Pasal 28-29), serta pengembangan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat di kelurahan (Pasal 30). Alokasi sumber daya yang terarah pada pemerintah lokal dapat meningkatkan efektivitas tata kelola publik, terutama bila disertai pelibatan masyarakat, dukungan birokrasi, dan mekanisme akuntabilitas yang efektif. (Fischer

& Ali, 2019).

Berdasarkan data Indeks Pembangunan Desa (IPD) 2018, semua dimensi penyusun IPD, yaitu Pelayanan Dasar, Kondisi Infrastruktur, Transportasi, Pelayanan Umum, dan Penyelenggaraan Pemerintah Desa, mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2014. Dimensi dengan kenaikan tertinggi adalah Penyelenggaraan Pemerintah Desa, yang meningkat sebesar 9,81 poin, sedangkan kenaikan terkecil adalah Pelayanan Dasar, yaitu sebesar 0,92 poin (BPS, 2018). Peningkatan signifikan dalam dimensi Penyelenggaraan Pemerintah Desa mungkin berkaitan dengan peran camat dalam membina dan mengawasi pemerintahan desa, sebagaimana diamanatkan dalam PP Nomor 17 Tahun 2018. Namun, peningkatan yang relatif rendah pada dimensi Pelayanan Dasar menunjukkan bahwa masih ada tantangan dalam mendekatkan layanan publik kepada masyarakat.

Setelah implementasi PP Nomor 17 Tahun 2018, peran kecamatan sebagai pusat pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat mengalami peningkatan.

Sebelumnya, kecamatan lebih banyak berfungsi sebagai unit administratif dengan tugas utama menyampaikan informasi dari pemerintah daerah kabupaten/kota kepada masyarakat serta melakukan koordinasi administratif antara desa/kelurahan dan kabupaten/kota. Peraturan baru ini melimpahkan sebagian wewenang bupati/wali kota kepada camat untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Kecamatan kini menjadi pusat pelayanan publik yang memiliki wewenang langsung untuk melaksanakan layanan administrasi dan perizinan tertentu, seperti penerbitan surat domisili, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kecil, dan izin usaha mikro kecil (IUMK). Hal ini mengurangi waktu dan biaya yang sebelumnya harus dikeluarkan masyarakat untuk mendapatkan layanan di tingkat kabupaten/kota.

Kegiatan terkait studi dampak kebijakan PP Nomor 17 Tahun 2018 terhadap peran kecamatan sebagai pusat pelayanan publik masih sangat terbatas. Data kuantitatif yang membandingkan kualitas pelayanan dasar sebelum dan sesudah implementasi

(3)

3 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

kebijakan ini juga belum banyak tersedia. Oleh karena itu, kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak kebijakan terhadap indikator pelayanan dasar, seperti akses kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar, serta memberikan rekomendasi berbasis bukti untuk memperbaiki implementasi kebijakan ini di masa mendatang.

1.2. Referensi Hukum

Referensi hukum sebagai rujukan dalam melaksanakan pekerjaan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia, antara lain:

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

3. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM)

4. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan

5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017 tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah

6. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2021 tentang Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Pemerintahan Daerah.

1.3. Maksud dan Tujuan

Pelaksanaan kegiatan ini dimaksudkan untuk mengevaluasi dampak implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan wajib pelayanan dasar di Indonesia. Hasil dari kajian ini diharapkan dapat menjadi acuan strategis bagi Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri dalam menyusun kebijakan dan program pembinaan yang lebih efektif di tingkat kecamatan, sehingga dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan dasar kepada masyarakat.

Sedangkan tujuan dari kegiatan ini adalah:

1. Mengevaluasi dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan terhadap peningkatan Urusan Pemerintah Wajib Pelayanan Dasar;

2. Memberikan rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan.

1.4. Sasaran

Sasaran dari pelaksanaan kegiatan ini adalah tersusunnya hasil Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan terhadap urusan pemerintahan wajib pelayanan dasar di Indonesia ini. Sedangkan sasaran penerima manfaat dari tersusunnya hasil kajian ini adalah:

1. Kementerian Dalam Negeri;

2. Satuan Kerja Perangkat Daerah di Provinsi, Kabupaten, Kota dan Kecamatan;

3. Masyarakat;

4. Akademisi.

(4)

4 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

1.5. Lokasi Pekerjaan

Lokasi pelaksanaan kegiatan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan terhadap urusan pemerintahan wajib pelayanan dasar di Indonesia.ini bertempat di Direktorat Jenderal Bina Administrasi Wilayah - Kementerian Dalam Negeri, Jalan Medan Merdeka Utara, Nomor 7 Jakarta.

1.6. Lingkup Kegiatan dan Waktu Pelaksanaan

Ruang lingkup dari pelaksanaan pekerjaan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia ini dengan 3 (tiga) lingkup utama dengan jangka waktu kegiatan selama 1,5 (satu setengah) bulan atau 45 (empat puluh lima) hari kalender, meliputi:

1. Tahap Persiapan

a. Melakukan konsolidasi internal Tim Konsultan dan koordinasi dengan Tim Teknis Pemberi Kerja;

b. Mendiskusikan dan menyepakati metode/pendekatan yang tepat dalam pelaksanaan pekerjaan;

c. Menyusun rencana/jadwal pekerjaan dengan menentukan output yang dihasilkan pada setiap tahap pelaksanaan pekerjaan;

d. Menyiapkan bahan-bahan referensi yang memiliki relevansinya dengan pelaksanaan pekerjaan penyusunan serta peralatan penunjang lainnya;

e. Mendiskusikan dan menyepakati instrumen untuk tahap identifikasi variabel.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Identifikasi Dokumen:

Mengidentifikasi dokumen kebijakan terkait, seperti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden dan Keputusan Menteri dan laporan pelaksanaan program di tingkat daerah.

b. Analisis Dokumen:

i. Analisis terhadap implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan terhadap urusan pelayanan dasar;

ii. Membandingkan hasil antar wilayah untuk mengidentifikasi faktor keberhasilan dan tantangan terhadap dampak dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018;

iii. Menyusun analisa dampak kebijakan;

iv. Menyusun rekomendasi untuk Ditjen Bina Adwil dan pemerintah daerah.

3. Tahap Pelaporan

a. Laporan Pendahuluan, berisi:

i. Metodologi/pola pikir pendekatan pelaksanaan;

ii. Metode pelaksanaan pekerjaan yang dituangkan dalam program dan rencana kerja;

iii. Instrument identifikasi iv. Rencana Kerja

(5)

5 | Laporan Akhir Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar TA 2025

b. Laporan Akhir, berisi:

Seluruh laporan hasil kegiatan terkait studi dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 serta rekomendasi keberlanjutan kegiatan

1.7. Keluaran

Kerangka Acuan Kerja (KAK) telah dengan jelas memberikan gambaran mengenai keluaran atas pelaksanaan kegiatan Studi Dampak Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Tentang Kecamatan Terhadap Urusan Pemerintahan Wajib Pelayanan Dasar Di Indonesia ini. Adapun keluarannya adalah secara komprehensif yang mencakup hasil analisis mendalam mengenai dampak implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan terhadap penyelenggaraan urusan pemerintahan wajib pelayanan dasar di tingkat kecamatan yang dituangkan dalam bentukl laporan hasil pelaksanaan pekerjaan.

Laporan hasil dari pelaksanaan pekerjaan ini akan menyajikan temuan-temuan utama, tantangan yang dihadapi, serta praktik terbaik dari daerah yang berhasil dalam implementasi kebijakan tersebut. Selain itu, laporan juga akan memberikan rekomendasi kebijakan strategis yang dapat dijadikan dasar bagi Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan dan Pemerintah Daerah untuk memperbaiki pelaksanaan pelayanan dasar di kecamatan, dengan fokus pada penguatan kelembagaan, alokasi anggaran, pengelolaan SDM, dan koordinasi antar pemerintah.

Referensi

Dokumen terkait

Peran bidan dalam penurunan angka kematian dan kesakitan pada ibu dan bayi adalah dengan memberikan asuhan kebidanan yang komprehensif mencakup kegiatan

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan, khususnya pada pada Pasal 33 ayat (1), yang juga sejalan dengan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 2 Tahun

Selanjutnya yang dimaksud dengan Pemerintahan daerah menurut Pasal 1 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa, yaitu: “Pemerintahan Daerah adalah

Pemerintah Kota PematangSiantar dalam melaksanakan pembangunan khususnya pembangunan di bidang ekonomi tidak terlepas dari dampak positif maupun dampak negatif,

Menganalisis secara mendalam dan komprehensif berbagai faktor yang menyebabkan peserta didik SMA Negeri di 6 kecamatan di Kabupaten Kepulauan Anambas Propinsi Kepulauan Riau,

Eksplorasi yang komprehensif terhadap beberapa indikator outcome kinerja pemerintah daerah seperti yang dinyatakan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun

Pertama, skripsi yang berjudul Implementasi Pasal 7 dan 8 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 Tentang Hak dan Kewajiban Nadzir ( Studi.. Kasus di Kecamatan Puring

Melalui eksplorasi mendalam terhadap implementasi transformasi linear matriks pada objek 2D, laporan ini bertujuan memberikan pandangan yang komprehensif dan praktis, memperluas