• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB 1"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Upaya pembangunan sebuah daerah wisata sudah dilakukan pemerintah sejak dahulu sekitar tahun 1978. Dasar hukum tentang pengembangan kepariwisataan juga tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, dimana pembangunan kepariwisataan dilakukan dengan berdasarkan asas yang diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pembangunan kepariwisataan dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan, dan kekhasan budaya dan alam, serta kebutuhan manusia untuk berwisata.

Usaha untuk mencapai keberhasilan dalam suatu pembangunan pariwisata diperlukan pemahanan baik dari pemerintah maupun masyarakat. Pemerintah harus juga memperhatikan dan memastikan bahwa pembangunan pariwisata akan dapat memberikan keuntungan sekaligus biaya sosial dan ekonomi serta dampak lingkungan yang sekecil mungkin. Di sisi lain, masyakarat sebagai pelaku wisata, tentu akan lebih berpacu kepada keuntungan, namun tidak boleh melakukan segala sesuatu demi keuntungan semata. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah kedatangan jumlah wisatawan dari suatu daerah ke daerah lain. Dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang akan semakin membuat dampak positif dalam bidang sosial dan ekonomi.

(2)

Menurut Barreto & Giantari (2015) pengembangan pariwisata adalah suatu usaha untuk mengembangkan serta memajukan objer wisata agar objek wisata itu lebih baik serta menarik jika ditinjau dari segi tempat maupun benda-benda yang ada di dalamnya untuk bisa menarik minat wisatawan mengunjunginya. Secara luas, Barreto

& Giantari menjabarkan jika sebuah daerah wisata ingin mengembangkan daerah wisatanya maka diperlukan pengembangan yang menarik dan unik yang berbeda dari tempat lain yang mana hal ini akan menarik perhatian pengunjung lalu dikunjungi oleh banyak wisatawan.

Menurut Liu dalam Pitana & Diarta (2009) kerangka implementasi kebijakan dalam pariwisata sedikitnya harus menyentuh empat aspek, yang pertama adalah pembangunan dan pengembangan infrastruktur; aktivitas pemasaran; pengembangan kualitas budaya dan lingkungan; pengembangan sumber daya manusia. Lebih luasnya adalah Liu menjelaskan bahwa dalam pengembangan sumber daya manusia harus diiringi dan dilaksanakan dengan program pendidikan bagi masyarakat dan pelatihan maupun sosialisasi tentang teknologi dan skill.

Menurut Gamal (2004) berpariwisata adalah suatu proses bepergian sementara oleh satu orang atau lebih menuju tempat lain diluar tempat tinggal. Dorongan kepergiannya adalah karena berbagai kepentingan, baik berupa kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, kesehatan maupun kepentingan lain karena hanya sekedar ingin tahu, menambah pengalaman ataupun untuk belajar. Dalam arti luas pariwisita merupakan proses kepergian seseorang maupun lebih dari tempat tinggalnya guna mendapatkan suasana dan pengalaman yang baru. Sedangkan dalam Undang-

(3)

Undang Kepariwisataan Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, dijelaskan bahwa pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung dengan berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Selain itu, pariwisata dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan memiliki tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran, melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya alam maupun manusia, memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa dan mempererat persahabatan antara bangsa. Dengan adanya kunjungan wisatawan akan berpengaruh terhadap kesempatan kerja dan pendapatan daerah tujuan wisatawan.

Wahab (2003) menjelaskan bahwa pariwisata akan menjadi faktor penting dalam pengembangan ekonomi karena kegiatannya mendorong perkembangan beberapa sektor ekonomi nasional dan daerah dengan merangsang industri-industri baru yang berkaitan dengan jasa-jasa wisata misalnya; usaha-usaha transportasi, akomodasi (hotel, motel, pondok wisata, perkemahan, dan lain-lain), yang memerlukan perluasan seperti industri hotel dan kerajinan tangan.

Dalam kerangka optimalisasi untuk manfaat pengembangan pariwisata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah sekitar wisata diadopsi sebagai suatu strategi pembangunan pariwisata berbasis masyarakat yang diimplementasikan dalam

(4)

kerangka design dengan pusat dan sasarannya tidak hanya menumbuh kembangkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga nilai tambah yang bersifat sosial dan budaya.

Mengacu pada Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan Daerah Kota Tanjungpinang Tahun 2015-2021 pengembangan kegiatan pariwisata dilakukan dengan memperhatikan potensi wisata yang ada di Kota Tanjungpinang meliputi wisata alam, wisata sejarah dan budaya, serta wisata kuliner. Sejalan dengan arahan kepariwisataan Provinsi Kepulauan Riau yang diimplementasikan ke dalam 6 unit Pengembangan Wilayah Pariwisata, Kota Tanjungpinang termasuk ke dalam Unit Pengembangan Wilayah Pariwisata B (Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan), dengan pengembangan yang diarahkan kepada pengembangan wisata budaya/sejarah/religi, wisata belanja, dan wisata kuliner.

Selain itu, beberapa potensi wisata alam yang dapat dikembangkan di Kota Tanjungpinang adalah pengembangan potensi ekowisata dan wisata bahari. Karena keterkaitan yang tinggi antara kawasan wisata alam dengan kawasan lindung maka pengelolaannya harus dilakukan secara hati-hati sehingga dapat mempertahankan kelestarian lingkungan dalam upaya menjaga serta mengembangkan kegiatan wisata berkelanjutan.

Ekowisata merupakan kegiatan wisata yang bertumpu pada kondisi alam, seperti keindangan pemandangan alam serta flora dan fauna diberbagai tempat.

Ekowisata merupakan suatu bentuk kegiatan pariwisata yang memberikan kontribusi pada kelestarian sumber daya alam adan kebudayaan khas setempat yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dengan melakukan

(5)

pemberdayaan masyarakat lokal dan yang paling utama adalah melindungi keanekaragaman hayati. Ekowisata yang terdapat di Kota Tanjungpinang adalah berupa wisata hutan mangrove dan hutan wisata. Kawasan mangrove di Kota Tanjungpinang terdapat di Sungai Dompak, Sungai Carang, Sungai Terusan, dan Sungai Gesek. Untuk kawasan hutan wisata di Kota Tanjungpinang direncanakan di bukit Mamuk.

Wisata bahari juga berpotensi untuk dikembangan di Kota Tanjungpinang, kawasan yang direncanakan dikembangan sebagai kawasan wisata bahari meliputi Pulau Terkulai, Pulau Sekatap, Pantai Kelam Pagi, Pantai Tanjung Siambang, dan Pulau Los. Berkaitan dengan pola pengembangan pariwisata di Kota Tanjungpinang akan di jelaskan pada tabel berikut:

Tabel 1.1 Pola Pengembangan Pariwisata Kota Tanjungpinang SATUAN WILAYAH

PENGEMBANGAN PARIWISATA

SATUAN KAWASAN PENGEMBANGAN

PARIWISATA

KAWASAN WISATA

Wilayah A Kecamatan

Tanjungpinang Kota

Pulau Penyengat

Laman Bunda Tepi Laut Klenteng Senggarang Kota Lama (Pasar) Vihara Dharma Sasana Wilayah B Kecamatan Bukit Bestari Tanjung Siambang,

Dompak Pulau Basing Pulau Bayan

Kawasan Rimba Jaya Pulau Sekatap

Wilayah C Kecamatan

Tanjungpinang Timur

Mangrove Panglima Bulang

Vihara Avalokitesvara Graha

(6)

Wilayah D Kecamatan

Tanjungpinang Barat

Museum Sultan Badrul Alamsyah

Kampung Iklim Bukit Cermin

Sumber : (Resntra Dinas Kebudayaan dan Pariwisata , 2018-2023)

Berdasarkan data dari tabel di atas menjelaskan bahwa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang telah menyusun empat wilayah dalam satuan wilayah pengembangan pariwisata di Kota Tanjungpinang. Untuk kawasan wisata Tanjung Siambang, Dompak, Kecamatan Bukit Bestari memasuki wilayah B dalam pola pengembangan pariwisata. Adapun sasaran yang akan mendukung tujuan dari rancangan strategis yang telah di tetapkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang pada lima tahun kedepan antara lain:

a) meningkatkan pengembangan destinasi wisata;

b) meningkatkan promosi dan pemasaran wisata;

c) meningkatnya nilai budaya lokal secara berkelanjutan.

Berkaitan dengan hal di atas, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang menunjukan hasil positif yang mana hal ini dapat diketahui semakin meningkatnya jumlah pengunjung yang datang untuk berwisata di Kota Tanjungpinang. Diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan pada tahun 2018-2020 terdapat peningkatan jumlah wisatawan setiap tahunnya. Namun pada 2020 wisatawan turun cukup jauh dikarenakan 6isbandi Covid-19. Berikut data jumlah pengunjung wisatawan ke Kota Tanjungpinang:

(7)

Tabel 1.2 Kunjungan Wisatawan ke Kota Tanjungpinang

No Bulan

Jumlah Wisatawan 2018 2019 2020

1 Januari 8.753 9.268 14.021

2 Februari 10.704 13.141 4.849

3 Maret 13.261 15.813 2.623

4 April 10.449 15.841 106

5 Mei 11.268 14.816 58

6 Juni 12.808 18.935 -

7 Juli 10.654 11.951 -

8 Agustus 12.310 15.621 159

9 September 12.530 12.768 151

10 Oktober 10.759 12.406 148

11 November 11.073 12.378 -

12 Desember 16.020 16.426 -

JUMLAH 140.589 169.364 22.115

Sumber: (BPS Kota Tanjungpinang, 2022)

Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap wisatawan yang mengunjungi daerah wisata Pantai Tanjung Siambang, peneliti menyimpulkan terdapat sebuah pola dimana terjadi peningkatan kunjungan wisatawan selama akhir pekan dan tidak banyak yang datang untuk mengunjungi daerah wisata Pantai Tanjung Siambang pada hari kerja. Untuk data wisatawan yang berkunjung ke daerah wisata Pantai Tanjung Siambang akan di jelaskan pada tabel berikut:

(8)

Tabel 1.3 Kunjungan Wisatawan ke Daerah Wisata Pantai Tanjung Siambang Bulan Maret-April

No Hari

Jumlah Wisatawan Bulan Maret-April

1 2 3 4 1 2 3 4

1. Senin 25 19 19 15 17 20 - -

2. Selasa 31 10 17 21 15 17 - -

3. Rabu 29 18 19 24 18 19 - -

4. Kamis 20 20 28 20 25 21 - -

5. Jumat 53 31 36 45 38 30 - -

6. Sabtu 90 42 61 89 69 77 - -

7. Minggu 142 138 110 102 150 143 - - Jumlah 390 278 290 316 332 327 - -

Sumber : Olahan Peneliti, 2022

Kelurahan Dompak memiliki 10 kampung yang di dalam daerahnya terdiri atas Kampung Tanjung Siambang, Kampuang Sekatap, Kampung Tanjung Duku, Kampung Dompak Seberang, Kampung Seberang, Kampung Dompak, Kampung Dompak Lama, Kampung Sungai Ungar, Kampung Kelam Pagi, dan Kampung Pagi.

Dengan daerah pantai memanjang dari sebelah barat sampai utara dan terdapat bagian dataran rendah yang berada di ujung-ujung pantai. Setiap daerah pasti memiliki potensi masing-masing. Baik dalam segi pariwisata, budaya, agama, maupun kuliner dan lain- lain. Begitupun dengan Kelurahan Dompak yang banyak memiliki potensi yang laya untuk digali lebih dalam. Potensi yang dimiliki Kelurahan Dompak memiliki daya Tarik tersendiri yang mampu menopang pertumbuhan dan kemajuan daerah jika direncanakan dengan baik.

(9)

Kelurahan Dompak terkenal dengan pesona alam yang ditawarkannya bertahap berhasil membangun pondasi sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Kota Tanjungpinang. Sehingga pada tahun 2018 lalu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang bekerja sama dengan Kecamatan Bukit Bestari menetapkan Daerah Wisata Tanjung Siambang sebagai pilot project wisata alam di Tanjungpinang.

Majunya industri pariwisata di Daerah Wisata Tanjung Siambang akan sangat bergantung kepada jumlah wisatawan yang datang. Karena itu harus ditunjang dengan peningkatan pemanfaatan daerah tujuan wisata dan masyarakat daerah wisata sehingga industri pariwisata akan berkembang dengan baik.

Daerah wisata Tanjung Siambang memiliki daya tarik wisata berupa pantai dengan pasir putih yang memiliki kelandaian pantai yang 9isbandi datar, air laut yang masih jernih dengan ombak yang tidak terlalu besar, serta bebatuan yang menghiasi bibir pantai sangat cocok digunakan sebagai penahan ombak dan cocok untuk berenang serta mandi laut, lalu juga terdapat keindahan matahari terbenam yang merupakan pemandangan yang sangat indah di sore hari.

Meskipun Pantai Tanjung Siambang memiliki potensi yang besar sebagai daerah tujuan wisata, akan tetapi pada kenyataannya Pantai Tanjung Siambang masih dihadapkan pada berbagai masalah dan kendala yang dapat menghambat dalam pengembangan destinasi pariwisata. Masih rendahnya sarana promosi daerah wisata, Selain itu, sarana dan prasarana yang tersedia masih belum dapat mengakomodir semua kepentingan wisatawan karena masih terbatasnya fasilitas penunjang yang ada. Disisi lain juga kurangnya tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga maupun melindungi

(10)

daerah wisata yang berpengaruh pada keberlanjutan kelestarian lingkungan di daerah sekitar. Berbagai permasalahan dan tantangan dalam pengembangan daerah wisata Pantai Tanjung Siambang juga diperkuat dengan hasil wawancara penulis bersama Lurah Kelurahan Dompak yang saat itu menjabat adalah bapak Heri Susanto, S.Sos pada tahun 2020 yang akan dijelaskan di bawah ini:

“Terkait dengan pengembangan daerah wisata Tanjung Setumu ini masih dihadapkan pada berbagai permasalahan dan penghambat. pertama ialah terkait dengan permasalahan lahan, Kedua akses jalan, dan yang Ketiga terkait dengan sarana dan prasarana.”

Berdasarkan dengan hal yang telah dijelaskan di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dan menyusun penelitian dengan judul “Implementasi Kebijakan dalam Pengembangan Daerah Wisata Tanjung Siambang.”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang difokuskan untuk penelitian adalah bagaimana pelaksanaan implementasi kebijakan pengembangan pariwisata di daerah wisata Pantai Tanjung Siambang?

1.3 Tujuan Penelitian

Setiap penelitian yang terencana, tentunya sudah mempunyai tujuan tertentu, demikian pula halnya dengan penelitian yang akan penulis lakukan ini. Berdasarkan perumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian ini diharapkan dapat mampu menjawab pertanyaan yang telah diuraikan. Adapun tujuan hasil dari penelitian ini

(11)

adalah untuk mengetahui keberhasilan Pemerintah Kota Tanjungpinang (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) dalam mengembangkan Daerah Wisata Pantai Tanjung Siambang.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat dipergunakan untuk menambah kajian lingkup dalam pengembangan daerah wisata serta dapat digunakan sebagai referensi bagi yang akan melakukan penelitian sejenis. Oleh karena itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kajian-kajian yang berkaitan dengan persoalan tersebut.

1.4.2 Manfaat Praktis

Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat sebagai berikut:

a. Bagi Penulis

Dengan melakukan penelitian ini diharapkan peneliti dapat memperoleh wawasan mengenai upaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam pengembangan daerah wisata Pantai Tanjung Siambang, dampak sosial ekonomi masyarakat daerah wisata Pantai Tanjung Siambang setelah adanya pengembangan daerah wisata serta kendala yang dihadapi Dinas

(12)

Kebudayaan dan Pariwisata dalam pengembangan daerah wisata Pantai Tanjung Siambang.

b. Bagi Pemerintah (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang) Penelitian ini diharapkan memberikan informasi mengenai implementasi pengembangan daerah wisata Pantai Tanjung Siambang terutama berkaitan dengan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat daerah wisata. Penelitian ini dapat menjelaskan efektifitas pengembangan daerah wisata yang diterapkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Selain itu, penelitian ini dapat menggambarkan sumbangan berupa solusi yang tepat berkenaan mengenai pengembangan daerah wisata Pantai Tanjung Siambang.

c. Bagi Masyarakat

Penelitian ini nantinya akan memberikan informasi mengenai pengembangan daerah wisata Pantai Tanjung Siambang kepada seluruh tatanan masyarakat Indonesia khususnya kepada masyarakat Pulau Dompak, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau.

Referensi

Dokumen terkait

DISCUSSION Based on the results of hypothesis testing conducted regarding differences in stock prices and trading volume before and after the announcement of the 2009-2016 Annual