BAB II
HUKUM PERJANJIAN
Tujuan Pembelajaran Umum:
Mahasiswa dapat memahami penyusunan suatu perjanjian.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
Melalui pemaparan dan pendekatan dialogis, pada akhir pembahasan para mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan:
1. Menjelaskan pengertian perjanjian dan perikatan 2. Menguraikan asas-asas dan syarat sah perjanjian 3. Menyebutkan akibat dan berakhirnya suatu perjanjian 4. Membuat surat perjanjian
2.1 Pengertian Perjanjian dan Perikatan
Dasar-dasar pengaturan hukum perjanjian terdapat dalam buku III KUHPerdata.
Menurut buku tersebut, perjanjian merupakan salah satu sumber hukum perikatan.
Adapun pengertian perikatan adalah sebagai berikut : a. Pitlo
Perikatan adalah suatu hubungan hukum yang bersifat harta kekayaan antara dua orang atau lebih, atas dasar mana pihak yang satu berhak (kreditur) dan pihak lain berkewajiban (debitur) atas suatu prestasi.
b. Ilmu Pengetahuan Hukum
Perikatan adalah hubungan hukum kekayaan antara dua orang atau lebih yang memberi hak kepada pihak yang satu untuk menuntut sesuatu dari pihak yang lain dan ia diwajibkan untuk memenuhi tuntutan itu.
Seperti yang telah disebutkan di atas, perjanjian merupakan salah satu sumber hukum perikatan setelah undang-undang. Dengan demikian, akibat adanya perjanjian akan melahirkan perikatan. Hal ini dapat kita lihat dari skemanya berikut ini:
Bagan 4
Sumber Lahirnya Perikatan
Menurut Pasal 1313 KUHPerdata, Perjanjian adalah suatu perbuatan satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.
Dengan demikian perjanjian paling tidak dibuat oleh 2 orang atau lebih yang saling mengikat atau melahirkan akibat hukum yaitu hak dan kewajiban.
Sementara yang dimaksud dengan hukum perjanjian adalah sebagai berikut : a. Lawrence M. Friedman
Hukum perjanjian adalah perangkat hukum yang hanya mengatur aspek tertentu dari pasar dan mengatur jenis perjanjian tertentu.
b. Ensiklopedia Indonesia
Hukum perjanjian adalah rangkaian kaidah-kaidah hukum yang mengatur berbagai persetujuan dan ikatan antara warga-warga hukum.
c. Salim HS
Hukum perjanjian adalah keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan unsur-unsur perjanjian adalah sebagai berikut :
1. Adanya kaidah hukum
Perikatan (Psl. 1233)
Undang-Undang (Psl. 1352) Perjanjian
(Psl. 1313)
UU Karena Perbuatan Manusia
(Psl. 1353)
Melulu UU, semisal:
Pekarangan yang berdam- pingan (Psl. 625)
Kewajiban mendidikan dan memelihara anak (Psl.
104) Perbuatan Menurut Hukum, misal:
Perwakilan sukarela (Psl. 1354) Pembayaran tak terutang (Psl.
1359)
Perbuatan Melawan Hukum (Psl. 1353)
Kaidah hukum perjanjian dapat dibagi dua macam, yaitu kaidah tertulis dan tidak tertulis. Kaidah tertulis adalah kaidah-kaidah hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan, traktat, yurisprudensi. Sedangkan kaidah tidak tertulis adalah kaidah yang timbul, tumbuh dan hidup di masyarakat. Contoh: jual beli tahunan yang berasal dari hukum adat.
2. Subyek hukum (rechtsperson)
Diartikan sebagai pendukung hak dan kewajiban. Yang menjadi subyek hukum dalam hukum perjanjian adalah kreditur dan debitur. Kreditur adalah orang yang berpiutang, sedangkan debitur adalah orang yang berutang.
3. Adanya kewajiban
Kewajiban dalam hukum perjanjian disebut dengan prestasi. Prestasi adalah apa yang menjadi hak kreditur dan kewajiban debitur.
4. Kata sepakat
Kata sepakat (konsensus) artinya bahwa persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak.
5. Akibat hukum
Setiap perjanjian yang dibuat oleh para pihak akan menimbulkan akibat hukum.
Akibat hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban.
2.2 Para Pihak Dalam Perikatan
Seperti yang telah dikemukan di atas, para pihak dalam perikatan adalah kreditur dan debitur.
1. Debitur
Adalah pihak yang mempunyai kewajiban untuk memenuhi tuntutan. Atau debitur adalah orang yang berutang.
Para diri debitur terdapat dua unsur yang melekat, yaitu schuld dan haftung. Schuld adalah utang debitur kepada kreditur, sedangkan haftung adalah harta kekayaan debitur yang dipertanggungjawabkan sebagai pelunasan utang debitur tersebut.
Asas bahwa kekayaan debitur dipertanggungjawabkan bagi pelunasan utang- utangnya tercantum dalam Pasal 1131 KUHPerdata. Baik undang-undang maupun para pihak dapat menyimpang dari Asas tersebut, yaitu antara lain dalam hal :
a. Schuld tanpa haftung
Dapat kita jumpai pada perikatan alam (naturlijke verbentenis). Dalam perikatan alam ini, walaupun debitur memiliki utang (schuld) kepada kreditur, tetapi jika debitur tidak mau memenuhi kewajibannya tidak dapat menuntut pemenuhannya. Contoh : pada utang yang timbul karena perjudian.
b. Schuld dengan haftung terbatas
Dalam hal ini debitur tidak bertanggung jawab dengan seluruh harta kekayaannya, akan tetapi terbatas sampai jumlah tertentu atau batas barang tertentu.
c. Haftung dengan schuld pada orang lain
Apabila pihak ketiga menyerahkan barangnya untuk dipergunakan sebagai jaminan oleh debitur kepada kreditur, maka walaupun dalam hal ini pihak ketiga tidak mempunyai utang kepada kreditur, akan tetapi ia bertanggung jawab atas utang debitur dengan barang yang dipakai sebagai jaminan.
2. Kreditur
Adalah pihak yang mempunyai hal untuk menuntut orang yang berutang/debitur atas prestasi yang harus dilaksanakannya. Atau orang yang berpiutang.
Pada diri kreditur melekat hak yang dikenal dengan eksekusi riil atau upaya hukum lainnya seperti ganti rugi, uang paksa dan pembatalan (pada perjanjian timbal balik).
2.3 Obyek Perikatan
Obyek perikatan adalah prestasi. Pada debiturlah kewajiban untuk memenuhi prestasi tersebut.
Menurut pasal 1234 KUHPerdata, prestasi ada tiga bentuk : a. Berbuat sesuatu
b. Tidak berbuat sesuatu c. Memberikan sesuatu.
Apabila debitur tidak melaksanakan kewajibannya tersebut bukan karena keadaan memaksa maka debitur dianggap melakukan ingkar janji/wanprestasi. Dengan kata lain wanprestasi adalah suatu keadaan debitur tidak dapat memenuhi prestasinya karena kelalaiannya.
Ada tiga bentuk wanprestasi, yaitu :
a. Tidak memenuhi prestasi sama sekali b. Terlambat memenuhi prestasi
c. Memenuhi prestasi secara tidak baik.
Oleh karena wanprestasi membawa akibat yang merugikan baik bagi debitur, karena sejak saat tersebut berkewajiban mengganti kerugian, dan bagi kreditur maka dalam hal ini kreditur dapat menuntut :
1. Pemenuhan perikatan
2. Pemenuhan perikatan dengan ganti rugi 3. Ganti rugi
4. Pembatalan perjanjian rimbal balik 5. Pembatalan dengan ganti rugi.
Pada asasnya harus dibuktikan bahwa kreditur telah menderita kerugian dan berapa besarnya kerugian tersebut. Menurut pasal 1246 KUHPerdata ganti rugi terdiri dari dua fakta yaitu:
1. kerugian yang benar-benar terjadi 2. keuntungan yang seharusnya diperoleh.
Kedua faktor tersebut mencakup pengertian ”biaya” yaitu pengeluaran- pengeluaran nyata, kerugian yaitu berkurangnya kekayaan kreditur sebagai akibat wanprestasi, dan ”bunga” yaitu keuntungan yang seharusnya diperoleh kreditur jika tidak ingkar janji.
Sebelum kreditur menyetakan debiturnya wanprestasi, kreditur harus melayangkan surat peringatan (somasi) terhadap debitur yang harus malakukan prestasi tersebut. Dengan demikian, somasi (ingebrekestelling) adalah suatu pesan atau peringatan dari kreditur kepada debitur kapan selambat-lambatnya harus memenuhi kewajibannya. Berapa kali kreditur dapat melayangkan somasi kepada debitur, tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan. Hal ini tergantung dari kesepakatan para pihak, setelah berapa kali dilayangkan somasi baru kreditur dapat menetapkan debiturnya wanprestasi. Apabila debitur tidak dapat memenuhi prestasi di luar kekuasaan dirinya hal ini disebut dengan overmacht/force majeur. Dengan demikian overmacht adalah suatu keadaan yang terjadi setelah dibuatnya perjanjian yang menghalangi debitur untuk memenuhi prestasinya tetapi debitur tidak dapat
dipersalahkan dan tidak harus menanggung kerugian yang diderita oleh kedua belah pihak karena ia tidak dapat menduganya pada waktu perjanjian itu dibuat. Kerugian yang diderita oleh kedua belah pihak dalam ilmu hukum disebut dengan resiko. Kreditur tidak dapat menyalahkan debitur karena keadaan tersebut terjadi di luar kehendak dari debitur.
Overmacht ada dua macam : 1) overmacht absolut
Pada overmacht ini debitur tidak dapat lagi diharapkan untuk memenuhi prestasinya.
Kerugian yang terjadi dianggap sebagai resiko yang tidak terduga.
Contoh: gempa bumi, kebakaran, tanah longsor, tsunami.
2) overmacht relatif
sedangkan dalam overmacht relatif, debitur masih dapat diharapkan dalam pemenuhan prestasinya, akan tetapi pemenuhan prestasinya tidak sempurna.
Contoh: kebijakan pemerintah, krisis ekonomi, harga barang-barang yang tidak stabil dipasaran.
2.4 Syarat Sah Perjanjian
Suatu perjanjian yang dibuat oleh para pihak dapat dikatan sah apabila memenuhi syarat sah perjanjian (Pasal 1320 KUHPerdata) sebagai berikut:
a. Adanya kesepakatan kedua belah pihak
Kesepakatan adalah persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak. Dalam hal ini berarti untuk mencapai persesuaian kehendak tidak boleh ada unsur penipuan, paksaan, dan kekhilafan.
b. Kecakapan kedua belah pihak
Kecakapan adalah kecakapan atau kemampuan untuk melakukan perbuatan hukum.
Orang-orang yang akan mengadakan perjanjian haruslah orang-orang yang cakap dan mempunyai wewenang (bevoeg dan bekwaam) untuk melakukan perbuatan hukum.
Orang yang cakap dan berwenang untuk melakukan perbuatan hukum adalah orang yang sehat akal fikiran dan dewasa. Ukuran kedewasaan adalah berusia 21 tahun dan/atau sudah kawin. Orang yang tidak berwenang untuk melakukan perbuatan hukum:
1. Anak di bawah umur
2. Orang yang ditaruh di bawah pengampuan
3. Istri (Pasal 1330 KUHPdt). Akan tetapi dalam perkembangannya istri dapat melakukan perbuatan hukum, seperti yang diatur dalam Pasal 31 UU No. 1/1974 jo. SEMA No. 3/1963.
c. Adanya obyek
Bahwa suatu perjanjian harus ditentukan apa yang diperjanjikan atau obyek perjanjian harus jelas.
d. Adanya causa yang halal
Perjanjian yang dibuat tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum, dan kesusilaan.
Apabila suatu perjanjian tidak memenuhi salah satu syarat 1 atau 2, maka perjanjian tersebut ”dapat dibatalkan”. Sedangkan apabila salah satu syarat 3 atau 4 tidak terpenuhi, maka perjanjian ”batal demi hukum”.
Pengertian ”dapat dibatalkan” adalah bahwa perjanjian tersebut walaupun telah berlangsung dapat diputuskan di tengah-tengah melalui putusan pengadilan. Sedangkan pengertian ”batal demi hukum” adalah bahwa menurut huku, perjanjian yang dibuat para pihak dianggap tidak ada sejak perjanjian disepakati.
Selain syarat sah di atas, suatu perjanjian juga harus mengandung 3 unsur penting, yaitu :
1. Essentialia
Yaitu bagian yang mutlak harus ada dalam perjanjian. Jika bagian ini tidak ada maka suatu perjanjian tidak mungkin ada. Contoh : harga dan barang dalam perjanjian jual beli.
2. Naturalia
Yaitu bagian yang oleh undang-undang ditentukan sebagai sesuatu yang bersifat mengatur. Contoh : memberikan kenikmatan suatu barang dalam perjanjian jual beli.
3. Accidentalia
Yaitu bagian-bagian dari perjanjian yang oleh para pihak ditambahkan dalam perjanjian. Contoh : cara pembayaran (kredit atau tunai) dalam perjanjian jual beli.
2.5 Asas-asas Perjanjian
Sebagai suatu kaidah hukum, dalam perjanjian terdapat beberapa Asas yang harus dipatuhi, antara lain :
a. Asas Konsensualisme
Asas ini merujuk pada Pasal 1320 KUHPerdata yang menyatakan syarat sah perjanjian, salah satunya adalah adanya kesepakatan kedua belah pihak. Asas ini merupakan asas yang menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, tetapi cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak.
Kesepakatan merupakan persesuaian antara kehendak dan pernyataan yang dibuat oleh kedua pihak.
b. Asas Kebebasan Berkontrak (The Freedom of Contract)
Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata, yang berbunyi : “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.”
Asas kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk :
1. Membuat atau tidak membuat perjanjian 2. Mengadakan perjanjian dengan siapa pun
3. Menentukan isi perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya, dan 4. Menentukan bentuknya perjanjian, yaitu tertulis atau lisan.
c. Asas Mengikat Sebagai Undang-Undang (Pacta Sunt Servanda)
Asas ini disebut juga dengan asas kepastian hukum. Asas ini merupakan asas bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak, sebagaimana layaknya sebuah undang-undang.
Asas ini dapat disimpulkan dari Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata, perjanjian yang telah dibuat secara sah mengikat kedua belah pihak seperti mengikatnya sebuah undang-undang.
d. Asas Kepribadian (Privacy of Contract)
Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan dan atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan perseorangan saja.
Hal ini dapat disimpulkan dari Pasal 1315 KUHPerdata dan Pasal 1340 KUHPerdata.
e. Asas Itikad Baik (Goede Trouw)
Asas itikad baik diatur dalam Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata yang berbunyi:
”Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”. Asas ini merupakan asas bahwa para pihak, yaitu pihak kreditur dan debitur harus melaksanakan substansi kontrak berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh atau kemauan baik dari para pihak.
Asas itikad baik dibagi menjadi dua macam, yaitu itikad baik nisbi dan itikad baik mutlak.
2.6 Akibat Perjanjian
Dengan dibuatnya suatu perjanjian, dapat berakibat bagi pihak-pihak yang membuatnya maupun pihak ketiga. Hal ini diatur lebih lanjut dalam pasal-pasal berikut ini :
a. Pasal 1338 KUHPerdata
1. Bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang- undang bagi mereka yang membuatnya.
2. Bahwa suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali kecuali atas sepakat kedua belah pihak atau karena alasan yang dibenarkan oleh undang- undang.
3. Bahwa perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.
b. Pasal 1339 KUHPerdata
Bahwa suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas diatur dalam perjanjian, tetapi juga untuk hal-hal yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang.
c. Pasal 1340 KUHPerdata
1. Bahwa perjanjian hanya berlaku diantara pihak-pihak yang membuatnya.
2. Bahwa suatu perjanjian tidak boleh membuat rugi pihak ketiga serta pihak ketiga pun tidak dapat mengambil keuntungan/manfaat dari perjanjian tersebut.
d. Pasal 1341 KUHPerdata
Bahwa kreditur boleh mengajukan batalnya segala perbuatan yang tidak diwajibkan dalam perjanjian yang dilakukan oleh debitur, yang dianggap dapat
merugikan kreditur dengan cukup bukti-bukti, hal ini disebut dengan Actio Pauliana.
2.7 Berakhirnya Perjanjian
Menurut Pasal 18 UU No. 24 Tahun 2000 Tentang Perjanjian Internasional, berakhirnya perjanjian dalam dunia internasional ada 8 cara berakhirnya perjanjian internasional, yaitu :
1. Terdapat kesepakatan para pihak melalui prosedur yang ditetapkan dalam perjanjian;
2. Tujuan perjanjian telah tercapai;
3. Terdapat perubahan mendasar yang mempengaruhi pelaksanaan perjanjian;
4. Salah satu pihak tidak melaksanakan atau melanggar ketentuan perjanjian;
5. Terjadi suatu perjanjian baru yang menggantikan perjanjian lama;
6. Muncul norma-norma baru dalam hukum internasional;
7. Hilang objek perjanjian;
8. Terdapat hal-hal yang merugikan kepentingan nasional.
Menurut Pasal 1381 KUHPerdata, suatu perikatan dapat berakhir dengan cara- cara seperti berikut ini :
1. Pembayaran;
Pelunasan utang oleh debitur kepada kreditur.
2. Penawaran pembayaran diikuti dengan penyimpanan atau penitipan;
Jika kreditur menolak pembayaran, maka debitur dapat melakukan penawaran pembayaran tunai dengan menitipkan uang atau barang, sehingga debitur dapat terbebas dari utangnya.
3. Pembaharuan utang (novasi)
Suatu perjanjian antara debitur dan kreditur, dimana perjanjian lama dan subyeknya yang ada dihapuskan dan timbul sebuah obyek dan subyek perjanjian yang baru.
4. Perjumpaan utang (kompensasi)
Penghapusan masing-masing utang dengan jalan saling memperhitungkan utang yang sudah dapat ditagih antara kreditur dan debitur.
5. Percampuran utang;
Percampuran kedudukan sebagai orang yang berutang (debitur) dengan kedudukan sebagai kreditur menjadi satu.
6. Pembebasan utang;
Suatu pernyataan sepihak dari kreditur kepada debitur, bahwa debitur dibebaskan dari perutangan.
7. Musnahnya barang terutang;
Jika barang yang menjadi obyek perjanjian musnah, maka hapuslah perjanjian asalkan barang tersebut musnah di luar salahnya debitur dan sebelum ia lalai menyerahkannya.
8. Kebatalan atau pembatalan;
Ada 3 penyebab timbulnya pembatalan perjanjian, yaitu :
a. Adanya perjanjian yang dibuat oleh orang-orang yang belum dewasa dan di bawah pengampuan;
b. Tidak mengindahkan bentuk perjanjian yang disyaratkan dalam undang-undang;
c. Adanya cacat kehendak (kekhilafan, paksaan, dan penipuan).
9. Berlaku syarat batal;
Suatu syarat yang bila dipenuhi akan menghapuskan perjanjian dan membawa segala sesuatu pada keadaan semula, seolah-olah tidak ada suatu perjanjian.
10. Daluarsa.
Berakhirnya suatu perjanjian dengan lewatnya suatu waktu tertentu dan atas syarat- syarat yang ditentukan oleh undang-undang.
Selain cara-cara di atas, dalam praktik dikenal pula cara berakhirnya perjanjian, yaitu :
1. Sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam perjanjian;
2. Tujuan perjanjian telah tercapai;
3. Kesepakatan kedua belah pihak;
4. Pemutusan perjanjian secara sepihak oleh salah satu pihak;
5. Adanya putusan pengadilan.
2.8 Jenis-jenis Perjanjian
Dari peraturan yang termuat dalam KUHPerdata maka berikut ini dapat diklasifikasikan jenis-jenis perjanjian :
1. Perjanjian sepihak dan timbal balik
Perjanjian sepihak yaitu perjanjian yang menimbulkan kewajiban pada satu pihak saja, contoh : hibah.
Perjanjian timbal balik yaitu perjanjian yang menimbulkan kewajiban pokok kepada kedua belah pihak, contoh : jual beli, sewa menyewa.
2. Perjanjian cuma-cuma dan atas beban
Perjanjian cuma-cuma yaitu perjanjian yang menurut hukum hanya salah satu pihak saja yang mendapatkan keuntungan dari pihak yang lainnya, contoh : hibah.
Perjanjian atas beban yaitu perjanjian dimana terdapat prestasi dari pihak yang satu dan kontra prestasi dari pihak yang lain, contoh : jual beli.
3. Perjanjian formil, riil dan konsensuil
Perjanjian formil yaitu perjanjian dimana kata sepakatnya harus dibuat dalam bentuk tertentu, contoh : jual beli tanah.
Perjanjian riil yaitu perjanjian dimana selain diperlukan kata sepakat juga diperlukan penyerahan barang, contoh : penitipan barang, pinjam pakai.
Perjanjian konsensuil yaitu perjanjian yang membutuhkan kata sepakat dari para pihak.
4. Perjanjian bernama, tidak bernama.
Perjanjian bernama yaitu perjanjian yang oleh undang-undang diatur secara khusus (bab V-XVIII Buku III KUHPerdata) contoh : jual beli, sewa menyewa.
Perjanjian tidak bernama yaitu perjanjian yang tidak diatur secara khusus di dalam KUHPerdata, atau perjanjian yang timbul, tumbuh, hidup dan berkembang dalam masyarakat yang belum diatur dalam KUHPerdata, contoh: sewa guna usaha (leasing).
Perjanjian Pemberian Kuasa (lastgeving)
Perjanjian pemberian kuasa diatur dalam Pasal 1792-1818 KUHPerdata.
Perjanjian pemberian kauasa adalah suatu perjanjian yang berisikan pemberian
kekuasaan kepada orang lain yang menerimanya untuk melaksanakan sesuatu atas nama orang yang memberi kuasa (Pasal 1792 KUHPerdata).
Apabila dilihat dari cara terjadinya, perjanjian pemberian kuasa dibedakan menjadi berikut ini :
1. Akta umum
Suatu pemberian kuasa yang dilakukan antara pemberi kuasa dan penerima kuasa dengan menggunakan akta notaris atau akta notariel. Artinya bahwa pemberian kuasa itu dilakukan dihadapan notaris. Dengan demikian pemberian kuasa mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna.
2. Surat di bawah tangan
Suatu pemberian kuasa yang dilakukan antara pemberi kuasa dengan penerima kuasa, artinya surat pemberian kuasa itu hanya dibuatkan oleh para pihak.
3. Lisan
Suatu kuasa yang dilakukan secara lisan oleh pemberi kuasa kepada penerima kuasa.
4. Diam-diam
Suatu kuasa yang dilakukan secara diam-diam oleh pemberi kuasa dan penerima kuasa.
5. Cuma-Cuma
Suatu pemberian kuasa yang dilakukan antara pemberi kuasa dengan penerima kuasa, dimana penerima kuasa tidak memungut biaya dari pemberi kuasa.
6. Kata khusus
Suatu pemberian kuasa yang dilakukan antara pemberi kuasa dengan penerima kuasa hanya mengenai kepentingan tertentu saja atau lebih dari pemberi kuasa.
7. Umum
Pemberian kuasa yang dilakukan oleh pemberi kuasa kepada penerima kuasa artinya isi atau substansi kuasanya bersifat umum dan segala kepentingan diri pemberi kuasa.
Hubungan hukum yang terjadi antara pemberi kuasa dan penerima akan menimbulkan akibat hukum, yaitu timbulnya hak dan kewajiban para pihak. Kewajiban penerima kuasa :
1. Melaksanakan kuasanya dan bertanggung jawab atas segala biaya, kerugian, dan bunga yang timbul dari tidak dilaksanakannya kuasa itu
2. Menyelesaikan urusan yang telah mulai dikerjakannya pada waktu pemberi kuasa meninggal dan dapat menimbulkan kerugian jika tidak segera diselesaikan
3. Bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan dengan sengaja dan kelalaian-kelalaian yang dilakukan dalam menjalankan kuasanya
4. Memberi laporan kepada pemberi kuasa tentang apa yang telah dilakukan, serta memberi perhitungan segala sesuatu yang diterimanya
5. Bertanggung jawab atas orang lain yang ditujuknya sebagai penggantinya dalam melaksankan kuasanya :
a. Bila tidak diberikan kuasa untuk menunjuk orang lain sebagai penggantinya b. Bila kuasa itu diberikan tanpa menyebutkan orang tertentu, sedangkan orang
yang dipilihnya ternyata orang yang tidak cakap atau tidak mampu.
Hak penerima kuasa adalah menerima jasa dari pemberi kuasa. Hak pemberi kuasa adalah menerima hasil atau jasa dari penerima kuasa. Kewajiban pemberi kuasa adalah:
1. Memenuhi perjanjian yang telah dibuat antara penerima kuasa dengan pemberi kuasa
2. Mengembalikan persekot dan biaya yang telah dikeluarkan penerima kuasa 3. Membayar upah kepada penerima kuasa
4. Memberikan ganti rugi kepada penerima kuasa atas kerugian yang dideritanyasewaktu menjalankan kuasanya
5. Membayar bunga atas persekot yang telah dikeluarkan penerima kuasa terhitung mulai dikeluarkannya persekot tersebut.
Berakhirnya pemberian kuasa :
1. Penarikan kembali kuasa oleh pemberi kuasa
2. Pemberitahuan penghentian kuasanya oleh pemberi kuasa 3. Meninggalnya salah satu pihak
4. Pemberi kuasa atau penerima kuasa berada di bawah pengampuan 5. Pailitnya pemberi kuasa atau penerima kuasa.
2.9 Penyusunan Perjanjian
2.9.1 Hal-hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Penyusunan Perjanjian
Pada prinsipnya perjanjian yang dibuat oleh para pihak berlaku sebagai undang- undang bagi mereka yang membuatnya. Oleh karena itu, untuk membuat perjanjian diperlukan ketelitian dan kecermatan dari para pihak, baik dari pihak kreditur maupun debitur, pihak investor maupun dari pihak negara yang bersangkutan. Hal-hal yang diperhatikan oleh para pihak yang akan mengadakan dan membuat perjanjian adalah : 1. Kewenangan hukum para pihak
Kewenangan para pihak, yaitu kecakapan dan kemampuan para pihak untuk mengadakan dan membuat perjanjian. Di dalam KUHPerdata ditentukan bahwa orang yang cakap dan wenang untuk melakukan perbuatan hukum apabila telah dewasa dan atau sudah kawin. Ukuran kedewasaan, yaitu berumur 21 tahun.
Sedangkan orang-orang yang tidak wenang dan membuat perjanjian adalah : a. Di bawah umur
b. Di bawah pengampuan
c. Istri (Pasal 1330 KUHPerdata). Istri kini berwenang untuk membuat perjanjian (SEMA No. 3 Tahun 1963; Pasal 31 UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan).
2. Perpajakan
Dalam banyak hal, para pihak pembuat perjanjian menginginkan perjanjian dirumuskan sedemikian rupa untuk memperkecil pajak karena transaksi bisnis merupakan transaksi kena pajak. Pada dasarnya pembuat perjanjian, yaitu para ahli hukum harus memberikan pelayanan yang memuaskan kliennya, akan tetapi dalam hal memperkecil pengenaan pajak bukan tidak mungkin rumusan perjanjian menjadi lain dari maksud para pihak yang sesungguhnya. Oleh karena itu, perancang perjanjian harus memahami masalah perpajakan dan jika mungkin bekerja sama dengan konsultan pajak.
3. Alas hak yang sah
Khusus untuk perjanjian jual beli, calon pembeli harus mengetahui atau berusaha mencari tahu bahwa penjual memang mempunyai alas hak yang sah atas barang yang dijual. Dalam hal barang bergerak tidak atas nama berlaku ketentuan Pasal 1977 KUHPerdata yang menetapkan bahwa :
”Barangsiapa menguasai (bezit) barang bergerak yang tidak berupa bunga atau piutang yang tidak harus dibayar atas tunjuk, dianggap sebagai pemilik sepenuhnya”.
Namun demikian dalam hal ini berlaku asas revindikasi, yaitu apabila barang itu hilang atau hasil curian, pemilik barang dapat menuntut supaya barang itu dikembalikan kepadanya. Memang dalam hal ini pembeli yang beritikad baik akan tetap dilindungi, yaitu minta ganti rugi atas harga pembelian barang tersebut.
Namun proses demikian tidak selalu mulus, lebih-lebih kalau pencurinya sudah tidak mampu lagi mengembalikan uang pembelian.
Dalam hal barang bergerak atas nama dan barang bergerak tidak bergerak, yang dianggap paling berhak adalah orang yang namanya tercantum dalam surat itu.
Namun demikian, dalam hal barang bergerak atas nama maupun barang tidak bergerak merupakan harta bersama dalam perkawinan, perlu ada suatu counter sign dari suami/istri. Counter sign juga diperlukan dalam hal perjanjian jaminan.
4. Masalah keagrarian
Perancang perjanjian juga harus memperhatikan masalah seputar Hukum Agraria.
Dalam banyak hal para pihak tidak memahami masalah-masalah keagrariaan.
5. Pilihan hukum (choice of law)
Pilihan hukum, yaitu berkaitan dengan hukum manakah yang akan digunakan dalam pembuatan perjanjian tersebut.
6. Penyelesaian sengketa (choice of forum)
Perjanjian tidak selalu dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, dalam setiap perjanjian perlu dimasukkan klausula mengenai penyelesaian sengketa apabila salah satu pihak tidak memenuhi perjanjian atau wanprestasi. Penyelesaian sengketa dapat dilakukan secara damai, arbitrase, atau mungkin melalui pengadilan.
Dalam hal sengketa diselesaikan melalui pengadilan perlu diingat Hukum Acara Perdata Indonesia mengenai kompentensi dan yurisdiksi pengadilan yang bersangkutan.
7. Masa berakhirnya perjanjian
Dalam Pasal 1266 KUHPerdata ditentukan bahwa :
”Tiap-tiap pihak yang akan mengakhiri perjanjian harus dengan putusan pengadilan yang mempunyai yurisdiksi atas perjanjian tersebut”.
Maksud ketentuan ini adalah melindungi pihak yang lemah. Akan tetapi pada prinsipnya perjanjian dapat berakhir tanpa putusan pengadilan cukup disepakati oleh kedua belah pihak.
8. Bentuk perjanjian standar
Standar kontrak merupakan perjanjian yang telah ditentukan dan telah dituangkan dalam bentuk formulir. Perjanjian ini telah ditentukan secara sepihak oleh salah satu pihak, terutama pihak ekonomi kuat terhadap ekonomi lemah.
Inti dari perjanjian baku adalah isi perjanjian itu tanpa dibicarakan dengan pihak yang lainnya, sedangkan pihak lainnya hanya diminta untuk menerima atau menolak isi perjanjian tersebut.
Menurut Mariam Darus Badrulzaman (2005:50) perjanjian baku merupakan perjanjian yang telah dibakukan. Menurutnya, perjanjian baku mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Isinya ditetapkan secara sepihak oleh pihak yang posisi (ekonominya) kuat b. Debitur sama sekali tidak ikut bersama-sama menentukan isi perjanjian c. Terdorong oleh kebutuhannya, debitur terpaksa menerima perjanjian itu d. Bentuk tertentu (tertulis)
e. Dipersiapkan secara massal dan kolektif.
Dari uraian di atas, hakikat perjanjian baku adalah perjanjian yang telah distandardisasi isinya oleh pihak ekonomi kuat, sedangkan pihak lainnya hanya diminta untuk menerima atau menolak isinya. Apabila debitur menerima isi perjanjian tersebut maka ia menandatangani perjanjian tersebut, tetapi apabila ia menolak maka perjanjian itu dianggap tidak ada. Hal ini disebabkan debitur tidak menandatangani perjanjian tersebut.
Mariam Darus Badrulzaman (2005:49) membagi jenis perjanjian baku menjadi empat jenis, sebagai berikut :
1. Perjanjian baku sepihak
Perjanjian yang isinya ditentukan oleh pihak yang kuat kedudukannya di dalam perjanjian itu. Pihak yang kuat di sini adalah pihak kreditur yang lazimnya mempunyai posisi (ekonomi) kuat dibandingkan pihak debitur.
2. Perjanjian baku timbal balik
Perjanjian baku yang isinya ditentukan oleh kedua belah, misalnya perjanjian baku yang terdiri dari pihak majikan (kreditur) dan pihak buruh (debitur). Kedua pihak lazimnya terikat dalam organisasi, misalnya pada perjanjian buruh kolektif.
3. Perjanjian baku yang ditetapkan oleh Pemerintah
Perjanjian baku yang isinya ditentukan Pemerintah terhadap perbuatan- perbuatan hukum tertentu, misalnya perjanjian-perjanjian yang mempunyai obyek hak-hak atas tanah. Misalnya formulir-formulir perjanjian yang diatur dalam SK Mengadri tanggal 6 Agustus Tahun 1977 No. 104/Dja/1977 Mengenai Akta Jual Beli.
4. Perjanjian baku yang ditentukan di lingkungan notaris atau advokat
Perjanjian-perjanjian yang konsepnya sejak semula sudah disediakan untuk memenuhi permintaan dari masyarakat yang minta bantuan notaris atau advokat yang bersangkutan. Dalam perpustakaan Belanda, jenis ini disebut contract model.
2.9.2 Prinsip-prinsip Dalam Penyusunan Perjanjian
Dalam mempersiapkan perjanjian, ada dua prinsip hukum yang harus diperhatikan, yaitu :
1. Beginselen der contrachtsvrijheid atau party autonomy,
Yaitu para pihak bebas untuk memperjanjikan apa yang mereka inginkan dengan syarat tidak bertentangan dengan undang-undang, ketertitaban umum, dan kesusilaan.
2. Pacta sunt servanda
Yaitu perjanjian yang dibuat mengikat kedua belah pihak seperti mengikatnya sebuah undang-undang sehingga kedua belah pihak harus didasari oleh itikad baik.
2.9.3 Tahapan-tahapan Penyusunan Perjanjian a. Pra-penyusunan Perjanjian
Sebelum perjanjian disusun, ada empat hal yang harus diperhatikan oleh para pihak, yaitu:
1. Identitas para pihak
Para pihak dalam perjanjian harus teridentifikasi secara jelas, perlu diperhatikan peraturan perundang-undangan yang berkaitan, terutama tentang kewenangannya sebagai pihak dalam perjanjian yang bersangkutan, dan apa yang menjadi dasar kewenangannya tersebut.
2. Penelitian awal aspek terkait
Pada dasarnya para pihak berharap bahwa kontrak yang ditandatangani dapat menampung semua keinginannya, sehingga apa yang manjadi hakikat kontrak benar-benar terperinci secara jelas. Penyusunan perjanjian harus menjelaskan hal- hal yang tertuang dalam perjanjian yang bersangkutan, konsekuensi yuridis, serta alternatif lain yang mungkin dapat dilakukan. Pada akhirnya penyusunan perjanjian menyimpulkan hak dan kewajiban masing-masing pihak, memperhatikan hal terkait dengan isi perjanjian, seperti unsur pembayaran, ganti rugi, serta perpajakan.
3. Pembuatan Memorandum of Understanding (MoU)
MoU sebenarnya tidak dikenal dalam hukum konvensional Indonesia, tetapi dalam praktek sering terjadi. Mou dianggap sebagai kontrak yang simpel dan tidak disusun secara formal serta MoU dianggap sebagai pembuka suatu kesepakatan.
Pada hakikatnya MoU merupakan suatu perjanjian pendahuluan dalam arti akan diikuti perjanjian lainnya. Alasannya sebagai berikut :
a) Dalam prospeknya belum jelas untuk menghindari kesulitan pembatalan dibuat MoU yang relatif lebih mudah dibatalkan.
b) Dalam penandatanganan perjanjian memerlukan waktu yang lama, sehingga dibuat MoU yang akan berlaku sementara waktu.
c) Adanya keraguan para pihak dan memerlukan waktu untuk berfikir jika menandatangani perjanjian maka untuk sementara dibuat MoU.
Ciri-ciri MoU :
a) Isinya singkat berupa hal pokok
b) Merupakan pendahuluan, yang akan diikuti suatu perjanjian terperinci
c) Jangka waktunya terbatas
d) Biasanya tidak dibuat secara formal serta tidak ada kewajiban yang memaksa untuk adanya perjanjian terperinci.
Meskipun MoU diakui banyak manfaatnya, tetapi banyak pihak meragukan berlakunya secara yuridis.
4. Negosiasi
Negosiasi merupakan sarana bagi para pihak untuk mengadakan komunikasi dua arah yang dirancang untuk mencapai kesepakatan sebagai akibat adanya perbedaan pandangan terhadap sesuatu hal dan dilatarbelakangi oleh kesamaan/ketidaksamaan kepentingan di antara para pihak.
b. Tahap Penyusunan
Salah satu tahap yang menentukan dalam pembuatan perjanjian, yaitu tahap penyusunan perjanjian. Penyusunan perjanjian ini perlu ketelitian dan kejelian dari para pihak. Karena, apabila keliru di dalam pembuatan perjanjian maka akan menimbulkan persoalan di dalam pelaksanaannya. Ada lima tahap dalam penyusunan perjanjian di Indonesia, yaitu :
1. Pembuatan draft pertama, yang meliputi ; a) Judul perjanjian
Dalam perjanjian harus diperhatikan kesesuaian isi dengan judul serta ketentuan hukum yang mengaturnya, sehingga kemungkinan adanya kesalahpahaman dapat dihindari.
b) Pembukaan
Biasanya berisi tanggal pembuatan perjanjian.
c) Pihak-pihak dalam perjanjian
Berisi para pihak yang membuat perjanjian. Perlu diperhatikan jika pihak tersebut orang pribadi serta badan hukum, terutama kewenangannya untuk melakukan perbuatan hukum dalam bidang perjanjian.
d) Racital
Yaitu penjelasan resmi/latar belakang terjadinya suatu perjanjian.
e) Isi perjanjian
Bagian yang merupakan inti perjanjian. Yang memuat apa yang dikehendaki, hak dan kewajiban termasuk pilihan penyelesaian sengketa.
f) Penutup
Memuat tata cara pengesahan suatu perjanjian.
2. Pertukaran draft 3. Perivisian jika perlu 4. Penyelesaian akhir
5. Penandatanganan perjanjian oleh masing-masing pihak.
c. Struktur dan Anatomi Perjanjian
Pada dasarnya susunan dan anatomi perjanjian, dapat digolongkan menjadi tiga bagian:
1. Bagian pendahuluan
Dalam bagian ini dibagi menjadi 3 sub-bagian : a) Subbagian pembuka
(1) Sebutan atau nama perjanjian dan penyebutan selanjutnya (penyingkatan) yang dilakukan,
(2) Tanggal dari perjanjian yang dibuat dan ditandatangani, dan (3) Tempat dibuat dan ditandatangani perjanjian.
b) Subbagian pencantuman identitas para pihak
Dalam bagian ini dicantumkan identitas para pihak yang mengikat diri dalam perjanjian dan siapa-siapa yang menandatangani perjanjian tersebut. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan tentang identitas para pihak, yaitu :
(1) Para pihak harus disebutkan secara jelas,
(2) Orang yang menandatangani harus disebutkan kapasitasnya sebagai apa, (3) Pendefinisian pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian.
c) Subbagian penjelasan
Pada bagian ini diberikan penjelasan mengapa para pihak mengatakan perjanjian (premis).
2. Bagian isi
Ada empat hal yang tercantum dalam bagian isi : a) Klausula definisi
Dalam klausula ini biasanya dicantumkan berbagai definisi untuk keperluan perjanjian. Definisi ini hanya berlaku pada perjanjian tersebut dan dapat mempunyai arti dari pengertian umum. Klausula definisi penting dalam rangka mengefisiensikan klausula-klausula selanjutnya karena tidak perlu diadakan pengulangan.
b) Klausula transaksi
Yaitu klausula yang berisi tentang transaksi yang akan dilakukan. Misalnya dalam jual beli aset maka harus diatur tentang obyek yang akan dibeli dan pembayarannya.
c) Klausula spesifik
Mengatur hal-hal khusus dalam suatu transaksi. Artinya klausula ini tidak terdapat dalam perjanjian lain dan sanksinya yang berbeda.
d) Klausula ketentuan umum
Adalah klausula yang seringkali dijumpai dalam berbagai perjanjian. Misalnya tentang domisili hukum, penyelesaian sengketa, pilihan hukum.
3. Bagian Penutup
Ada dua hal yang tercantum pada bagian penutup : a) Subbagian kata penutup
Kata penutup biasanya menerangkan bahwa perjanjian tersebut dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang memiliki kapasitas untuk itu. Atau para pihak menyatakan ulang bahwa mereka akan terikat isi perjanjian.
b) Subbagian ruang penempatan tanda tangan
Adalah tempat pihak-pihak menandatangani perjanjian dengan menyebutkan nama pihak yang terlibat dalam perjanjian, nama jelas orang yang menandatangani dan jabatan dari orang yang menandatangani.
d. Pasca Penyusunan Perjanjian
Apabila perjanjian telah dibuat dan ditandatangani oleh para pihak, maka ada dua hal yang harus diperhatikan oleh para pihak :
1) Pelaksanaan dan penafsiran
Setelah perjanjian disusun barulah dapat dilaksanakan. Terkadang perjanjian yang telah disusun tidak jelas/tidak lengkap sehingga masih diperlukan adanya
penafsiran. Dalam hal ini, undang-undang telah menentukan sejauh mana penafsiran dapat dilaksanakan dengan memperhatikan hal sebagai berikut :
a) Kata-kata yang dipergunakan dalam perjanjian b) Keadaan dan tempat dibuatnya perjanjian c) Maksud para pihak
d) Sifat perjanjian yang bersangkutan e) Kebiasaan setempat.
2) Alternatif penyelesaian sengketa
Biasanya penyelesaian sengketa diatur secara tegas dalam perjanjian. Para pihak dapat memilih lewat pengadilan atau di luar pengadilan. Setiap cara yang dipilih mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masingyang harus dipertimbangkan sebelum memilih cara yang dianggap cocok untuk diterapkan. Jika memilih pengadilan, apakah pengadilan berwenang menyelesaikan sengketa tersebut, kemungkinan dapat dilaksanakannya secara penuh, juga waktu dan biaya yang diperlukan selama proses pengadilan.
2.10 Rangkuman
1. Perikatan adalah hubungan hukum kekayaan antara dua orang atau lebih yang memberi hak kepada pihak yang satu untuk menuntut sesuatu dari pihak yang lain dan ia diwajibkan untuk memenuhi tuntutan itu.
2. Hukum perjanjian adalah keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.
3. Para pihak dalam perikatan adalah debitur dan kreditur.
4. Objek perikatan adalah prestasi. Prestasi ada tiga bentuk; berbuat sesuatu, tidak berbuat sesuatu, dan memberikan sesuatu.
5. Wanprestasi adalah suatu keadaan debitur tidak dapat memenuhi prestasinya karena kelalaiannya. Ada tiga bentuk wanprestasi, yaitu; tidak memenuhi prestasi sama sekali, terlambat memenuhi prestasi dan memenuhi prestasi secara tidak baik.
6. Overmacht adalah suatu keadaan yang terjadi setelah dibuatnya perjanjian yang menghalangi debitur untuk memenuhi prestasinya tetapi debitur tidak dapat
dipersalahkan dan tidak harus menanggung kerugian yang diderita oleh kedua belah pihak karena ia tidak dapat menduganya pada waktu perjanjian itu dibuat.
7. Menurut Pasal 1320 KUHPerdata, syarat sah perjanjian terdiri atas; adanya kesepakatan kedua belah pihak, kecakapan kedua belah pihak, adanya objek, dan adanya causa yang halal.
8. Dalam perjanjian terdapat beberapa asas yang harus dipatuhi, antara lain; asas konsensualisme, asas kebebasan berkontrak, asas mengikat sebagai undang-undang, asas kepribadian, asas itikad baik.
9. Dengan dibuatnya suatu perjanjian, dapat berakibat bagi para pihak yaitu; perjanjian berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya, perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik, perjanjian hanya berlaku diantara pihak-pihak yang membuatnya.
10. Menurut UU No. 24 Tahun 2000 Tentang Perjanjian Internasional, suatu perjanjian dapat berakhir karena; terdapat kesepakatan para pihak melalui prosedur yang ditetapkan dalam perjanjian, tujuan perjanjian telah tercapai, terdapat perubahan mendasar yang mempengaruhi pelaksanaan perjanjian, salah satu pihak tidak melaksanakan atau melanggar ketentuan perjanjian, dibuat suatu perjanjian baru yang menggantikan perjanjian lama, muncul norma-norma baru, objek perjanjian hilang.
2.11 Latihan/Soal
Ichsan adalah seorang pemimpin CV Computindo Jaya, ia memenangkan tender dari Pemerintah Kota Bandung untuk pengadaan personal computer sebanyak 25 (dua puluh lima) unit. Antara CV Computindo Jaya dengan Achsan sebagai ketua panitia pengadaan barang dan jasa telah dibuat perjanjian yang isinya antara lain CV Computindo Jaya harus menyediakan personal computer sesuai dengan yang diinginkan pemesan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan. Ternyata dalam jangka waktu yang telah ditetapkan, CV Computindo Jaya tidak mengirimkan barang sebagaimana yang telah di pesan.
Pertanyaan :Apakah syarat yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak dalam membuat perjanjian sehingga perjanjian yang dibuat sah menurut hukum (Kitab Undang-undang Hukum Perdata)?
1. Apakah Ichsan sebagai penanggung jawab CV Computindo Jaya dapat dikatakan telah wanprestasi? Alasan apa sajakah seorang debitur dapat dikatakan wanprestasi?
2. Apabila CV Computindo Jaya tidak mampu menyediakan personal computer sebagaimana yang di pesan karena kondisi perekonomian yang tidak menentu sehingga nilai rupiah rendah terhadap dollar yang mempengaruhi harga personal computer menjadi melambung tinggi, apakah dapat dikatakan wanprestasi?
Disebut apakah kejadian yang menimpa CV Computindo Jaya tersebut, jelaskan!