Dengan kata lain kita harus memilih strategi pembelajaran yang memadai sehingga memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditentukan. Dari sudut pandang pembelajaran, faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih strategi pengajaran antara lain: rangsangan atau metode penyampaian materi pembelajaran, umpan balik, respon siswa terhadap rangsangan tersebut dan umpan balik yang diberikan. Dari aspek lingkungan belajar, yang perlu diperhatikan dalam memilih strategi pembelajaran adalah pengertian lingkungan belajar (instructional setting).
Untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat terkait dengan materi pembelajaran yang akan disampaikan, dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan berikut.
Metode Ceramah
Salah satu metode pembelajaran aktif yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran pendidikan kewarganegaraan adalah metode pembelajaran aktif dalam bentuk kuis. Diharapkan dengan menggunakan metode pembelajaran aktif kuis kelompok ini, siswa lebih memahami materi pendidikan kewarganegaraan yang dipelajarinya dan lebih aktif tanpa merasa bosan saat belajar.
Kelebihan dan kelemahan metode ceramah
Jika dilihat dari metode ceramah, kelebihannya dapat dilihat pada penjelasan di atas dan dapat dijadikan bahan pertimbangan. Selain kelebihan-kelebihan di atas, metode ceramah juga mempunyai beberapa kelemahan, antara lain: pertama, materi yang dapat dikuasai siswa dari hasil perkuliahan akan terbatas pada apa yang dikuasai guru. Oleh karena itu, dalam proses presentasi, guru hanya mengandalkan bahasa verbal dan siswa hanya mengandalkan kemampuan pendengarannya.
Lebih lanjut disadari bahwa setiap siswa mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, termasuk bekerja sama mengambil materi pembelajaran melalui pendengaran. Ketiga, guru yang tidak mempunyai kemampuan berbicara dengan baik, ceramah seringkali dianggap sebagai metode yang membosankan. Keempat, melalui perkuliahan sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa telah memahami apa yang dijelaskan atau belum (Wina Sanjaya.
Berdasarkan penjelasan kelebihan dan kekurangan metode ceramah, dapat disimpulkan bahwa metode ceramah ini tidak melibatkan peran siswa dalam proses pembelajaran, metode ini lebih terfokus.
Namun seiring berkembangnya dunia pendidikan, metode pengajaran tidak hanya berorientasi pada guru saja, namun juga berkembang ke arah siswa yang lebih aktif. Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam proses pembelajaran adalah metode pembelajaran aktif. Menurut Uno Hamzah seperti dikutip Hamzah dan Nurdin Mohamad, untuk menciptakan pembelajaran aktif, siswa harus belajar dari pengalamannya, dan siswa harus belajar memecahkan masalah yang ditemuinya.
Selain itu, menurut Hamzah dan Nurdin Mohamad, pembelajaran aktif terjadi ketika siswa terlibat aktif secara langsung dan siswa peduli terhadap pendidikannya sendiri. Siswa hendaknya didorong untuk berpikir, menganalisis, membentuk pendapat, mengamalkan dan menerapkan pembelajaran dan tidak sekedar menjadi pendengar yang pasif terhadap apa yang disampaikan guru, tetapi guru benar-benar mengarahkan suasana pembelajaran agar siswa benar-benar terlibat dalam proses pembelajaran. Peran guru dalam hal ini juga dapat membantu siswa menghubungkan apa yang mereka pelajari di sekolah dengan apa yang mereka lakukan atau lakukan.
Silberman (2009:XXVII) mengemukakan bahwa pembelajaran aktif mencakup cara-cara mengakhiri suatu pembelajaran agar siswa merefleksikan apa yang telah dipelajarinya dan mempertimbangkan bagaimana mereka dapat menerapkannya di masa depan. Fokusnya bukan pada apa yang Anda sampaikan kepada siswa, namun pada apa yang siswa ambil dari guru. Pada bagian ini siswa dapat menilai sendiri seberapa besar perubahan yang telah mereka lakukan dan apa yang telah mereka lakukan.
Motivasi Belajar
- Pengertian Motivasi Belajar
- Fungsi Motivasi Belajar
- Ciri – ciri Motivasi Belajar
- Bentuk Motivasi Belajar
Berdasarkan pengertian beberapa ahli mengenai motivasi belajar, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah dorongan dari dalam dan luar diri siswa yang memberikan semangat, perhatian, kemauan, keinginan dan harapan untuk belajar mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu motivasi belajar bagi siswa sangatlah penting karena memotivasi siswa agar lebih giat belajar untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam belajar yaitu mencapai prestasi yang baik. Siswa yang mempunyai kemauan belajar untuk mencapai tujuan yang ingin dicapainya tentu mempunyai kualitas.
Jika seseorang mempunyai sifat-sifat tersebut di atas berarti selalu mempunyai motivasi yang cukup kuat untuk mencapai tujuannya. Sedangkan dalam penelitian ini motivasi belajar yang tinggi pada siswa berarti siswa akan rajin menyelesaikan tugas, gigih dalam menyelesaikan masalah dan hambatan secara mandiri. Ada banyak bentuk dan cara untuk meningkatkan motivasi yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Hal ini menunjukkan bahwa motivasi yang diperoleh kurang berbobot, maka langkah yang perlu dilakukan guru agar siswa memperoleh motivasi berbobot adalah dengan memberikan angka-angka agar dapat dikaitkan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap ilmu yang dipelajari siswa, sehingga tidak hanya kognitif tetapi juga keterampilan dan kasih sayang. Keempat, menyadarkan siswa bahwa dirinya merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan serta bekerja keras dengan tetap menjaga rasa percaya diri merupakan bentuk motivasi yang sangat penting. Bentuk-bentuk motivasi yang dikemukakan Sardiman di atas menunjukkan bahwa ada banyak bentuk motivasi yang dapat digunakan.
Tinjauan Prestasi belajar
- Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
- Tujuan dan Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan
- Ruang Lingkup Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
- Prestasi Belajar
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang fokus pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu memenuhi hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, cakap, dan berkarakter berdasarkan amanat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Menurut Samsuri seperti dikutip Mukhamad Murdiono, PKn yang dikembangkan dalam standar isi juga mengarah pada paradigma baru PKn yang dikembangkan pada kurikulum sebelumnya. Selain itu, menurut Numan Sumantri, Pendidikan Kewarganegaraan merupakan program pendidikan yang pada intinya mempunyai demokrasi politik yang diperluas dengan sumber-sumber ilmu lain, pengaruh positif dari pendidikan sekolah, masyarakat dan orang tua, yang semuanya diolah untuk melatih siswa berpikir. dalam bersikap kritis, analitis, berperilaku dan bertindak demokratis dalam rangka mempersiapkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Berdasarkan kompetensi di atas, selain pendidikan kewarganegaraan (civic knowledge), warga negara juga harus memiliki kompetensi (civic skill) yang meliputi keterampilan intelektual dan partisipatif. Lebih lanjut menurut Numan Sumantri, tujuan umum pendidikan kewarganegaraan adalah mendidik warga negara menjadi warga negara yang baik yang dapat digambarkan sebagai warga negara yang patriotik, toleran, setia kepada bangsa dan negara, beragama, demokratis, dan jujur. Pancasila. Perhatian terhadap maksud dan tujuan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan mempunyai dan sesuai dengan tiga fungsi pokok.
Pendidikan kewarganegaraan sebagai wahana pengembangan warga negara yang demokratis, yaitu mengembangkan kecerdasan warga negara, memajukan tanggung jawab sipil dan mendorong partisipasi warga negara (Winarno. Dalam standar isi Pendidikan Kewarganegaraan tahun 2006, bahan ajar Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah disebut sebagai ruang lingkup Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Kewarganegaraan. Terdapat delapan (8) ruang lingkup pendidikan kewarganegaraan, antara lain: 1) persatuan dan kesatuan bangsa; 2) standar; hukum dan persatuan; 3) hak asasi manusia; 4) kebutuhan warga negara; 5) konstitusi negara; 6) kekuasaan dan politik; . 7) Pancasila; dan 8) globalisasi dengan uraiannya masing-masing.
Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan bidang studi yang bersifat interdisipliner, artinya mata pelajaran tersebut dijelaskan dari beberapa disiplin ilmu, antara lain ilmu politik, ilmu negara, hukum tata negara, hukum, sejarah, ekonomi, moralitas, dan filsafat (Winarno, 2013). : 29). . Hal-hal tersebut memang sangat diperlukan dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, namun pembelajaran pendidikan kewarganegaraan juga harus mencerminkan hubungan antara perilaku warga negara dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian yang Relevan
Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seorang siswa meliputi dua faktor, yaitu faktor internal yaitu faktor dari dalam diri seseorang dan faktor eksternal yaitu faktor dari luar diri. Faktor internal meliputi kesehatan, kecerdasan, minat atau motivasi, dan cara belajar, sedangkan faktor eksternal meliputi keluarga, sekolah, lingkungan dan masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar melalui penggunaan metode pembelajaran Active Learning tipe Quiz Team.
Perbedaan penelitian ini terletak pada jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas sedangkan peneliti menggunakan penelitian eksperimen dengan model tim kuis. Penelitian ini merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang dengan judul “Pengaruh Metode Aktif Menggunakan Tipe Team Quiz Berbantuan Kartu Soal Terhadap Hasil Belajar”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kimia dengan metode aktif tipe Team Quiz dengan menggunakan kartu soal berpengaruh terhadap hasil belajar kimia siswa kelas XI IPA.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang penulis pelajari adalah metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian eksperimen. Namun perbedaannya terletak pada variabelnya, yaitu dalam penelitian ini terdapat dua variabel bebas dan satu variabel terikat, namun variabel yang digunakan peneliti menggunakan satu variabel bebas dan dua variabel terikat.
Kerangka Berfikir
Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan biasanya menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah. Pada pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas VIII ditemukan permasalahan dalam hal rendahnya motivasi belajar dan kinerja siswa. Untuk mengatasi permasalahan yang timbul dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan diatas yaitu rendahnya motivasi belajar dan kinerja belajar siswa, maka perlu adanya alternatif metode pembelajaran yang lebih meningkatkan motivasi belajar dan kinerja belajar Pendidikan Kewarganegaraan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode pembelajaran aktif tipe tim kuis untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Pembelajaran dengan metode pembelajaran aktif tipe tim kuis merupakan pembelajaran aktif dimana kelompok dibentuk menjadi 3 atau 4 kelompok. Masing-masing kelompok bekerja sama untuk bertanya dan saling berkolaborasi untuk memecahkan masalah kelompok lain. Selama permainan, setiap anggota berlomba-lomba mengumpulkan poin untuk kelompoknya, agar siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran dan lebih mendorong motivasi belajar. murid. Siswa di kedua kelas juga diminta untuk mengisi angket motivasi belajar yang bertujuan untuk mengetahui keadaan motivasi belajar siswa di kelas tersebut.
Kelas eksperimen kemudian diberikan perlakuan dengan menggunakan metode pembelajaran aktif tipe tim kuis dan kelas kontrol dilanjutkan dengan metode ceramah. Setelah dilakukan perlakuan pada kedua kelas, dilakukan posttest untuk mengetahui prestasi belajar pada kelas eksperimen setelah diberikan tim kuis metode pembelajaran aktif tipe pada proses pembelajaran di kelas eksperimen dan pada kelas kontrol setelah diberikan metode ceramah. . Hasil pretest dan posttest diperoleh dari tes prestasi belajar, data kondisi awal dan akhir motivasi belajar yang diperoleh dari angket kemudian dianalisis menggunakan uji t untuk menguji hipotesis penelitian guna diambil kesimpulan dari hasil tersebut. dari perhitungan ini.
Hipotesis Penelitian