• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 HUKUM PERUSAHAAN

N/A
N/A
ifa asmara

Academic year: 2024

Membagikan "BAB 3 HUKUM PERUSAHAAN"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

HUKUM PERUSAHAAN

Tujuan Pembelajaran Umum:

Mahasiswa dapat mengetahui bentuk-bentuk badan usaha yang diatur dalam hukum positif Indonesia

Tujuan Pembelajaran Khusus:

Melalui pemaparan dan pendekatan dialogis, pada akhir pembahasan para mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan:

1. Menyebutkan pengertian-pengertian dasar perusahaan 2. Menguraikan jenis-jenis badan usaha yang ada di Indonesia 3. Membedakan bentuk-bentuk penggabungan badan usaha

3.1 Pengertian-pengertian Dasar Perusahaan 3.1.1 Pengertian Usaha, Pengusaha dan Perusahaan

Menurut UU No. 3 Tahun 1982 Tentang Wajib Daftar Perusahaan, yang dimaksud dengan pengertian:

a. Usaha

Adalah setiap tindakan, perbuatan, atau kegiatan apa pun dalam bidang perekonomian yang dilakukan oleh setiap pengusaha untuk tujuan memperoleh keuntungan dan/atau laba.

b. Pengusaha

Adalah setiap orang atau persekutuan atau badan hukum yang menjalankan suatu jenis perusahaan.

c. Perusahaan

Adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia, untuk tujuan memperoleh keuntungan dan/atau laba.

(2)

Selain pengertian menurut peraturan di atas, berikut ini beberapa pengertian perusahaan yang dikemukakan oleh para ahli hukum:

a. Molengraaff

Perusahaan adalah keseluruhan perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus, bertindak keluar, untuk mendapatkan penghasilan, dengan cara memperniagakan barang-barang atau mengadakan perjanjian-perjanjian.

b. Polak

Baru dapat dikatakan perusahaan apabila diperlukan adanya perhitungan- perhitungan tentang laba rugi yang dapat diperkirakan, dan segala sesuatu itu dicatat dalam pembukuan.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka unsur-unsur perusahaan adalah sebagai berikut:

a. Badan usaha

Badan usaha yang menjalankan kegiatan dalam bidang perekonomian mempunyai bentuk hukum tertentu. Bentuk hukum menunjukkan legalitas perusahaan sebagai badan usaha. Bentuk hukum itu secara formal termuat dalam akta pendirian atau surat izin usaha.

b. Kegiatan dalam bidang perekonomian

Kegiatan ini meliputi bidang perindustrian, perdagangan, perjasaan, dan pembiayaan. Kegiatan tersebut pada prinsipnya tidak dilarang oleh undang-undang, tidak bertentangan dengan kepentingan umum dan kesusilaan, dan tidak dilakukan dengan cara melawan hukum.

c. Terus-menerus

Kegiatan dalam bidang perekonomian dilakukan secara terus-menerus. Artinya, kegiatan tersebut sebagai mata pencaharian, tidak insidental, dan bukan pekerjaan sambilan.

d. Bersifat tetap

Artinya kegiatan itu tidak berubah atau berganti dalam waktu singkat, tetapi untuk jangka waktu lama. Jangka waktu tersebut ditentukan dalam akta pendirian perusahaan atau surat izin usaha.

e. Terang-terangan

(3)

Artinya ditujukan dan diketahui oleh umum, bebas berhubungan dengan pihak lain, serta diakui dan dibenarkan oleh pemerintah.

Pengakuan dan pembenaran dilakukan pemerintah dengan mengesahkan anggaran dasar yang termuat dalam akta pendirian, penerbitan surat izin usaha, dan penerbitan surat tempat izin usaha.

f. Keuntungan dan/atau laba

Setiap kegiatan menjalankan perusahaan tentu menggunakan sejumlah modal.

Dengan modal perusahaan, keuntungan dan/atau laba dapat diperoleh. Hal ini menjadi tujuan utama setiap perusahaan.

g. Pembukuan

Pembukuan merupakan catatan mengenai hak dan kewajiban yang berkaitan dengan kegiatan usaha suatu perusahaan.

3.1.2 Macam-macam Perusahaan a. Perusahaan swasta

Merupakan perusahaan yang seluruh modalnya dimiliki oleh swasta dan tidak ada campur tangan pemerintah. Perusahaan swasta terdiri dari:

1. Perusahaan swasta nasional 2. Perusahaan swasta asing

3. Perusahaan swasta campuran (joint venture).

b. Perusahaan negara

Perusahaan negara atau yang biasa disebut Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan bentuk usaha di bidang-bidang tertentu yang umumnya menyangkut dengan kepentingan umum, serta peran pemerintah di dalamnya relatif besar, minimal dengan menguasai mayoritas pemegang saham.

Keberadaan BUMN yang diatur dalam UU No. 19 Tahun 2003 Tentang BUMN, merupakan konsekuensi dan amanah dari konstitusi mengenai hal-hal yang penting dan cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

Bentuk-bentuk usaha BUMN berdasarkan ketentuan undang-undang dapat dibedakan dalam:

1. Perusahaan Jawatan (Perjan)

(4)

Kegiatan usaha Perjan diutamakan untuk kegiatan di bidang penyediaan jasa bagi masyarakat dan tidak mengutamakan keuntungan.

Perjan memiliki ciri-ciri:

a) Makna usaha adalah public services artinya pengabdian serta pelayanan kepada masyarakat

b) Bagian dari departemen

c) Mempunyai hubungan hukum publik d) Dipimpin oleh Kepala

e) Memperoleh fasilitas negara f) Pegawainya Pegawai Negeri Sipil g) Pengawasannya dilakukan secara hirarki 2. Perusahaan Umum (Perum)

Perum adalah BUMN yang seluruh modalnya dimiliki negara berupa kekayaan negara yang dipisahkan dan tidak terbagi atas saham.

Karakteristik Perum:

a) Makna usaha disamping melayani kepentingan umum sekaligus memupuk keuntungan

b) Berstatus Badan Hukum c) Bergerak dibidang-bidang vital

d) Mempunyai nama dan kekayaan sendiri e) Dapat dituntut dan menuntut

f) Modal seluruhnya dimiliki oleh negara dari kekayaan negara yang dipisahkan g) Dipimpin oleh Direksi

h) Pegawainya adalah Pegawai PN 3. Perusahaan Perseroan (Persero)

Persero adalah BUMN yang seluruh atau paling sedilit 51% (lima puluh satu persen) saham yang dikeluarkannya dimiliki oleh negara melalui penyertaan modal secara langsung.

Karakteristik Perusahaan Perseroan:

a) Makna usahanya memupuk keuntungan b) Status usahanya Badan Hukum Perdata

c) Hubungan hukum usahanya diatur oleh hukum perdata

(5)

d) Modal dipisahkan dari kekayaan negara e) Tidak memiliki fasilitas negara

f) Dipimpin oleh suatu Direksi

g) Peranan Negara sebagai pemegang saham h) Status pegawainya adalah pegawai perusahaan.

3.1.3 Pembukuan

Mengenai pembukuan telah diatur dalam Bab 2 Buku I, Pasal 6, 7, 8, 9, dan 12 KUHDagang. Pada aturan tersebut pada prinsipnya setiap pengusaha diwajibkan oleh undang-undang untuk membuat dan memelihara pembukuan.

a. Fungsi pembukuan

1. Agar dapat diketahui harta kekayaan (aset) perusahaan setiap saat.

2. Sebagai alat bukti b. Sifat pembukuan

Pada prinsipnya setiap pembukuan bersifat rahasia, tidak setiap orang dapat melihatnya, kecuali bagi mereka yang diperkenankan menurut undang-undang.

Namun demikian, kerahasiaan dapat diterobos sesuai dengan asas:

1. Representasi (pembukaan oleh hakim)

Kerahasiaan pembukuan dapat diterobos apabila (Pasal 8 KUHDagang):

a) Terjadi dalam pemeriksaan perkara yang sedang berlangsung di muka pengadilan;

b) Pembukaan dilakukan atas permohonan pihak yang berkepentingan, atau oleh hakim karena jabatannya.

2. Komunikasi (pemberitaan)

Menurut Pasal 12 KUHDagang, kerahaasiaan pembukuan dapat pula diterobos melalui:

a) pemberitaan dapat terjadi di muka sidang pengadilan maupun di luar sidang;

b) pihak-pihak yang berwenang untuk menuntut pemberitaan adalah:

(1) ahli waris pengusaha, sekutu, dan karyawan yang berkepentingan dengan perusahaan;

(2) sekutu atau persero;

(3) karyawan yang berkepentingan dengan perusahaan;

(6)

(4) orang yang berwenang mengangkat pengurus, yaitu pengusaha atau pemilik perusahaan.

3.1.4 Pendaftaran Perusahaan

Pengertian daftar perusahaan menurut UU No. 3 Tahun 1982 Tentang Wajib Daftar Perusahaan adalah daftar catatan resmi yang diadakan menurut atau berdasarkan ketentuan undang-undang ini dan atau peraturan-peraturan pelaksanaannya, dan memuat hal-hal yang wajib didaftarkan oleh setiap perusahaan serta disahkan oleh pejabat yang berwenang dari kantor pendaftaran perusahaan.

Daftar perusahaan bertujuan mencatat segala bahan-bahan keterangan yang dibuat secara benar dari suatu perusahaan dan merupakan sumber informasi untuk semua pihak yang berkepentingan mengenai identitas data serta keterangan lainnya tentang perusahaan yang tercantum dalam daftar perusahaan dalam rangka menjamin kepastian berusaha.

Perusahaan yang wajib didaftar dalam daftar perusahaan adalah setiap perusahaan yang berkedudukan dan menjalankan usahanya di wilayah negara RI menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk di dalamnya kantor cabang, kantor pembantu, anak perusahaan serta agen dan perwakilan dari perusahaan itu yang mempunyai wewenang untuk mengadakan perjanjian.

Tujuan Pendaftaran :

1. Melindungi perusahaan yang jujur ; 2. Melindungi masyarakat yang jujur ; 3. Perkembangan dunia usaha ;

4. Memudahkan pembinaan, pengarahan dan pengawasan.

3.2 Bentuk-bentuk Perusahaan

Menurut Abdulkadir Muhammad (2006:83) perusahaan menurut jumlah pemiliknya dapat diklasifikasikan menjadi perusahaan perseorangan dan perusahaan persekutuan. Dilihat dari status pemilik, perusahaan dapat dibagi menjadi perusahaan swasta dan perusahaan negara, sedangkan apabila dilihat dari bentuk hukumnya perusahaan dapat dibagi menjadi perusahaan berbadan hukum dan perusahaan bukan badan hukum. Berdasarkan klasifikasi tersebut dapat dilihat pada bagan berikut ini:

(7)

Bagan 5

Bentuk-bentuk Perusahaan Perusahaan

3.2.1 Perusahaan Perorangan

Perusahaan perorangan adalah perusahaan yang didirikan oleh satu orang pengusaha. Contoh : Warteg “Ojo Lali”, Toko “Laris”, U.D. “Berkah”, Foto Copy

“Tunas Jaya”.

Ciri-ciri perusahaan perorangan adalah:

a. Modal milik satu orang saja;

b. Didirikan atas kehendak seorang pengusaha;

c. Keahlian, teknologi, dan manajemen dikelola satu orang saja;

d. Bentuk perusahaan bukan perusahaan badan hukum dan tidak termasuk persekutuan atau perkumpulan;

e. Risiko dan untung rugi ditanggung sendiri;

f. Tidak melelui proses pendirian perusahaan sebagai mestinya, kecuali surat izin usaha dari kantor perdagangan setempat;

g. Wajib untuk mencatat keuangan termasuk kewajiban terhadap pajak dan retribusi daerah.

Persekutuan Perseorangan

-Perusahaan Dagang

Bukan Badan Hukum:

- Persekutuan Perdata - Firma

- CV Badan Hukum:

- PT - Koperasi

(8)

3.2.2 Persekutuan Perdata

Persekutuan (maatschap) menurut ketentuan Pasal 1618 KUHPerdata adalah suatu perjanjian dengan mana dua orang atau lebih mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu ke dalam persekutuaan dengan maksud untuk membagi keuntungan atau manfaat yang diperoleh karenanya.

Ciri-ciri persekutuan perdata adalah sebagai berikut:

a. Pendirian

1) Berdasarkan perjanjian para pihak (Pasak 1320 KUHPerdata)

2) Dapat dilakukan dengan sepakat para sekutu atau dapat pula secara lisan (Pasal 1624 KUHPerdata)

3) Tiap sekutu wajib memasukkan dalam kas persekutuan berupa uang, benda, atau manajemen (Pasal 1619 KUHPerdata)

b. Perbedaan Para Sekutu

Biasanya pengelolaan persekutuan dijalankan oleh pengurus yang ditetapkan persekutuan.

1) Sekutu statuter (gerant statutaire)

(a) Tidak dapat diberhetikan, kecuali atas dasar hukum (misalnya: sakit, tidak cakap)

(b) Diberhentikan oleh persekutuan perdata;

(c) Telah ditetapkan secara khusus dalam perjanjian persekutuan untuk menjadi pengurus persekutuan;

(d) Mempunyai wewenang secara penuh untuk melakukan segala perbuatan yang berhubungan dengan kepengurusan persekutuan.

2) Sekutu mandater (gerant mandataire) (a) Kekuasan dapat dicabut sewaktu-waktu;

(b) Diangkat setelah persekutuan didirikan;

(c) Memiliki kewenangan yang terbatas berdasarkan pemberian kuasa dan dapat ditarik kembali.

c. Pembagian Keuntungan

Jika tidak ditentukan dalam perjanjian, pembagian keuntungan dilakukan menurut asas ”keseimbangan pemasukan”.

d. Kekayaan Persekutuan

(9)

1) Pemasukan (inbreng) dari masing-masing sekutu;

2) Penagihan-penagihan ke dalam;

3) Penggantian kerugian kepada persekutuan dari sekutu-sekutu;

4) Penagihan-penagihan keluar kepada pihak ketiga.

e. Berakhirnya Persekutuan 1) Lampaunya waktu;

2) Musnahnya barang atau telah diselesaikannya usaha yang menjadi pokok persekutuan perdata;

3) Kehendak dari seorang atau beberapa orang sekutu;

4) Salah seorang sekutu meninggal dunia, di bawah pengampuan, atau dinyatakan pailit (Pasal 1646 KUHPerdata);

5) Berdasarkan suara bulat dari para sekutu;

6) Berlakunya syarat bubar.

3.2.3 Firma dan Perseroan Komanditer (Comanditaire Venootschap/CV) a. Pengertian

1. Firma (partnership)

Adalah suatu usaha bersama antara 2 orang atau lebih yang dimaksudkan untuk menjalankan suatu usaha di bawah satu nama bersama.

Contoh : Fa. Faisal & Co.

2. Perseroan Komanditer (Commanditaire Venootschap/Limitted Corporation atau Ltd.)

Adalah suatu bentuk badan usaha yang didirikan oleh 2 orang atau lebih, dimana 1 orang atau lebih dari pendirinya adalah persero aktif, yang aktif menjalankan perusahaan dan akan bertanggungjawab secara penuh atas kekayaan pribadinya, sementara 1 orang atau lebih merupakan persero pasif (persero komanditer) yang hanya bertanggungjawab sebatas modal atau uang yang di setor saja.

Berdasarkan pengertian CV di atas terlihat bahwa bentuk usaha komanditer merupakan bentuk kombinasi antara perseroan terbatas dengan perusahaan firma karena suatu CV memiliki karakteristik perseroan terbatas (PT) dan Firma sekaligus.

(10)

b. Pengaturan Menurut Hukum

Firma dan CV diatur dalam Pasal 16 s/d 35 KUHDagang. Karena diatur dalam suatu peraturan hukum yang sama maka sebenarnya Firma dan CV itu adalah sama hanya berbeda dalam ada atau tidak adanya pemodal komanditer yaitu pemodal yang hanya memasukkan modalnya saja tanpa ikut bekerja atau mengurus perusahaan. Bila ada pemodal komanditer maka perusahaan itu adalah Perseroan Komanditer (CV), sedangkan bila tidak ada pemodal komanditer maka perusahaan tersebut adalah Firma.

Terhadap setiap tindakan yang dilakukan untuk dan atas nama Firma, maka yang bertanggungjawab secara hukum adalah para pemodal (persero) itu secara renteng untuk seluruh hutang (jointly and severally) dari Firma tersebut tanpa melihat siapakah di antara persero tersebut yang secara nyata melakukan tindakan keluar. Hal ini adalah wajar mengingat suatu Firma bukanlah suatu badan hukum, sehingga tidak ada kekayaan yang khusus disisihkan untuk menjalankan usaha (berbisnis), tetapi harta yang dipergunakan untuk berbisnis adalah harta pribadi para persero tersebut.

c. Pengecualian pada Persero Komanditer (CV)

Pada dasarnya, tanggung jawab pemodal komanditer adalah hanya sebatas pada jumlah modal yang ditanamnya, namun pemodal (persero) komanditer juga akan bertanggungjawab sama seperti pemodal pada Firma bila pemodal komanditer tersebut ikut mengurus perusahaan atau namanya dipakai sebagai nama perusahaan.

d. Cara Pendirian Firma dan CV

Proses pendirian suatu Firma/CV terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu : 1) Tahap Akta Otentik

Akta otentik harus dibuat dengan suatu akta notaris. Apabila tidak didirikan dengan akta otentik, maka hal tersebut tidak berpengaruh terhadap pihak ketiga.

Artinya, ketiadaaan akta otentik tersebut tidak boleh dipergunakan sebagai alasan yang merugikan pihak ketiga (pihak lain).

2) Tahap Pendaftaran Akta Firma/Akta CV

Setelah dibuat dengan akta notaries, akta otentik tersebut haruslah didaftarkan dalam suatu register khusus yang tersedia di kepaniteraan Pengadilan Negeri di wilayahnya Firma / CV tersebut berdomisili.

(11)

3) Tahap Pengumuman Dalam Berita Negara

Keterangan tentang berdirinya Firma/CV harus pula diumumkan dalam Berita Negara agar pihak ketiga mengetahuinya dan agar perusahaan tersebut berlaku dan mengikat pihak ketiga (pihak lain).

e. Berakhirnya Firma dan CV 1) Lampaunya waktu;

2) Musnahnya barang atau telah diselesaikannya usaha yang menjadi pokok persekutuan perdata;

3) Kehendak dari seorang atau beberapa orang sekutu;

4) Salah seorang sekutu meninggal dunia, di bawah pengampuan, atau dinyatakan pailit (Pasal 1646 KUHPerdata).

3.2.4 Perseroan Terbatas (PT)

Perseroan Terbatas menurut ketentuan Pasal 1 ayat (1) UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melalukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalm undang-undang serta peraturan pelaksanaannya.

a. Pendirian Perseroan Terbatas

Hukum Indonesia menganggap dasar dari Perseroan Terbatas sebagai suatu perjanjian, maka pendirian Perseroan Terbatas haruslah dilakukan minimal oleh 2 orang pendiri, sehingga pemegang saham dari Perseroan Terbatas pun minimal haruslah berjumlah 2 orang.

Proses pendirian Perseroan Terbatas pada prinsipnya terdiri dari 4 tahapan, yaitu : 1) Tahap Pembuatan Akta Pendirian denga Akta Notaris

Akta pendirian memuat Anggaran Dasar dan keterangan-keterangan lain yang sekurang-kurangnya memuat:

a) Nama lengkap pendiri beserta tempat dan tanggal lahirnya, pekerjaannya, tempat tinggalnya serta kewarganegaraannya.

b) Susunan dan nama lengkap anggota Direksi dan Komisaris yang pertama kali diangkat beserta tempat dan tanggal lahirnya, pekerjaannya, tempat tinggalnya serta kewarganegaraannya.

(12)

c) Nama pemegang saham yang telah mengambil bagian saham, rincian jumlah saham dan nilai nominal saham (nilai yang diperjanjikan dari saham yang telah ditempatkan dan disetor pada saat pendirian).

d) Perbuatan hukum yang berkaitan dengan susunan dan penyertaan modal serta susunan saham perseroan yang dilakukan oleh pendiri sebelum perseroan didirikan.

Akta pendirian tidak boleh memuat:

a) Ketentuan tentang penerimaan bunga tetap atas setiap saham yang diterbitkan;

b) Ketentuan tentang pemberian keuntungan pribadi kepada pendiri atau pihak lain.

2) Tahap Pengesahan

Para pendiri bersama-sama atau melalui kuasanya harus mengajukan permohonan tertulis dengan melampirkan Akta Pendirian PT untuk memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman.

Pengesahan maupun penolakan diberikan dalam waktu paling lama 60 hari (2 bulan). Dalam hal permohonan pengesahan ditolak maka penolakan itu harus diberitahukan kepada pemohon secara tertulis beserta alasannya.

Bila dalam waktu 60 hari telah berlalu tanpa ada pemberian pengesahan atau penolakan, hal ini tidak menjadikan PT yang dimintakan pengesahannya itu otomatis menjadi sah atau menjadi badan hukum.

3) Tahap Pendaftaran dalam Daftar Perusahaan

Akta Pendirian dan surat pengesahan dari Menteri Kehakiman wajib didaftarkan dalam Daftar Perusahaan dalam waktu paling lambat 30 hari (1 bulan) setelah pengesahan dilakukan.

Menurut UU No. 40 Tahun 2007, pendaftaran PT dilakukan di Departemen Perdagangan dan Perindustrian, sebelumnya menurut pasal 38 KUHD pendaftaran dilakukan di Panitera Pengadilan Negeri setempat.

Berdasarkan Keputusan Menteri Perdagangan No. 285/Kp/II/1985, pejabat yang berwenang menyelenggarakan Wajib Daftar Perusahaan adalah sebagai berikut:

a) Dirjen Perdagangan Dalam Negeri yang dilimpahkan kepada Direktur Bina Usaha Perdagangan untuk tingkat pusat;

b) Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Dep. Perdagangan untuk Daerah Tk. I dalam wilayah kerjanya;

(13)

c) Kepala Kantor (Kakan) Dep. Perdagangan untuk Daerah Tk. II dalam wilayah kerjanya;

“Daftar Perusahaan” bersifat terbuka, artinya terbuka untuk semua pihak, hal ini berarti bahwa Daftar Perusahaan itu dapat dipergunakan oleh pihak ketiga (pihak lain) sebagai sumber informasi dan setiap orang yang berkepentingan berhak memperoleh salinan atau petikan resmi dari keterangan yang tercantum dalam Daftar Perusahaan.

Pendaftaran wajib dilakukan dalam waktu paling lambat 30 hari (1 bulan) setelah pengesahan atau setelah persetujuan atau penerimaan laporan bagi perubahan Anggaran Dasar tertentu.

Berdasarkan Keputusan Menteri Perdagangan No. 288/Kp/II/1985, khusus bagi PT yang menjual sahamnya kepada masyarakat dengan perantaraan pasar modal (go public), maka selain wajib mendaftarkan hal-hal yang biasa didaftarkan juga wajib mendaftarkan hal-hal sebagai berikut:

1) tanggal pernyataan pendaftaran;

2) tanggal dan nomor izin Ketua Bapepam;

3) jenis, jumlah, serta nilai emisi;

4) harga nomial dan harga penawaran;

5) keterangan tentang emisi yang keberapa;

6) jenis saham yang ditawarkan;

7) emisi obligasi;

8) tanggal pencatatan (listing);

9) tanggal pencabutan pencatatan (delisting);

10) tujuan emisi;

11) nama penjamin utama emisi;

12) tanggal penerbitan prospektus;

13) tanggal penerbitan prospektus ringkas dan nama media masa yang digunakan.

Menurut UU No. 3 Tahun 1982 Tentang Wajib Daftar Perusahaan, pelanggaran terhadap kewajiban untuk mendaftarkan perusahaan diancam dengan sanksi denda minimal satu juta rupiah s/d 3 juta rupiah, dan sanksi kurungan minimal 2 bulan s/d 3 bulan.

(14)

4) Tahap Pengumuman dalam Berita Negara

Setelah didaftar dalam Daftar Perusahaan, maka PT itu diumumkan dalam Tambahan Berita Negara RI. Permohonan pengumuman itu dilakukan oleh Direksi dalam waktu paling lambat 30 hari (1 bulan) terhitung sejak pendaftaran perusahaan.

Bila tahappengumuman ini tidak dilakukan, maka sanksi hukumnya adalah bahwa Direksi bertanggung jawab secara renteng atas segala perbuatan hukum yang dilakukan perseroan terbatas.

b. Prinsip Tanggung Jawab Pada Perseroan Terbatas

Tanggung jawab dalam suatu Perseroan Terbatas pada prinsipnya sebatas atas harta yang ada dalam perseroan tersebut. Karenanya disebut “terbatas” (limited), yaitu terbatas dari segi tanggung jawabnya. Dengan demikian, pada prinsipnya pihak pemegang saham, direksi atau komisaris tidak pernah bertanggung jawab secara pribadi.

Artinya, jika ada gugatan dari pihak manapun, pihak pemegang harta pribadi dari pemegang saham, direksi atau komisaris pada prinsipnya tidak bolh ikut disita (dijadikan jaminan pelunasan hutang).

Namun demikian, prinsip tanggung jawab terbatas tersebut tidak berlaku dalam hal-hal sebagai berikut :

1) persyaratan perseroan terbatas sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi;

2) pemegang saham yang bersangkutan, baik langsung atau tidak langsung dengan itikad buruk memanfaatkan perseroan terbatas semata-mata untuk kepentingan pribadi;

3) pemegang saham dari perseroan terbatas terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perseroan;

4) pemegang saham yang bersangkutan, baik langsung atau tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan pereroan, yang mengakibatkan kekayaan perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi hutang perseroan terbatas tersebut;

5) Direksi akan bertanggung jawab secara pribadi jika dia bersalah atau lalai dalam menjalankan tugasnya selaku Direksi;

6) Komisaris akan bertanggung jawab secara pribadi jika dia bersalah atau lalai dalam menjalankan tugasnya selaku Komisaris.

c. Modal Perseroan Terbatas

Ada berbagai jenis modal perseroan terbatas, yaitu :

(15)

1) Modal dasar (authorized capital);

Merupakan seluruh modal perseroan, seperti yang ditulis dalam anggaran dasar, baik yang sudah atau belum ditempatkan atau disetor.

2) Modal ditempatkan ;

Adalah sebagian atau seluruh dari modal dasar yang telah diperuntukkan atau dijatah kepada pemegang saham tertentu. Jadi, pada modal ditempatkan tersebut sudah teridentifikasi atas nama siapa saham-saham dalam modal ditempatkan tersebut akan dipegang.

Menurut hukum, setelah perseroan terbatas berdiri (mendapatkan statusnya sebagai badan hukum, yaitu setelah ada pengesahan dari Menteri Kehakiman), maka seluruh modal ditempatkan tersebut harus sudah disetor. Dengan demikian, tidak diperkenankan lagi ada perbedaan jumlah antara modal ditempatkan dengan modal disetor.

3) Modal disetor ;

Adalah modal yang telah ditempatkan dan diperuntukkan bagi masing-masing pemegang saham dan telah disetor penuh oleh pemegang saham tersebut, sehingga uang penyetoran saham tersebut sudah dapat dipergunakan oleh perusahaan untuk menjalankan bisnisnya.

d. Organ Perseroan Terbatas

Organ Perseroan Terbatas adalah terdiri dari:

1) Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

Merupakan organ perseroan yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam perseroan. RUPS terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham biasa (tahunan) dan Rapat Umum Pemegang Saham luar biasa.

2) Komisaris

Merupakan organ perseroan yang melaksanakan fungsi pengawasan terhadap jalannya perseroan. Organ komisaris tersebut dipilih oleh RUPS dan karenanya harus pula bertanggung jawab kepada RUPS.

3) Direksi

Merupakan organ perseroan yang memiliki kewenangan menjalankan dan mengambil kebijaksanaan perusahaan (eksekutif), dipilih oleh RUPS dan karenanya harus pula bertanggung jawab kepada RUPS.

(16)

e. Berakhirnya Perseroan Terbatas

Berakhirnya (pembubaran) Perseroan Terbatas dapat terjadi karena alasan : 1) Keputusan RUPS,

2) Berakhirnya jangka waktu berdirinya Perseroan Terbatas seperti yang telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar,

3) Penetapan Pengadilan.

4) Penetapan Pengadilan dapat diberikan atas dasar adanya permohonan dari : a) Pihak Kejaksaan, demi kepentingan umum ;

b) Pemegang saham (minimal 10% dari keseluruhan pemegang saham) ; c) Pihak Kreditur dengan alasan PT tidak mampu membayar utangnya

ataupun harta PT tidak cukup untuk membayar utang.

d) Cacat hukum pendirian PT.

Bila PT bubar, maka secara yuridis PT menjadi tidak ada, oleh karena itu harus dibentuk tim likuidasi untuk membereskan seluruh kewajiban (utang) ataupun tagihan PT.

3.2.5 Koperasi

Koperasi adalah badan hukum koperasi dengan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan ata asas kekeluargaan (UU No. 25 Tahun 1992 Tentang Koperasi).

Landasan koperasi adalah Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan tujuan koperasi adalah memajukan kesejahteraan anggota dan masyarakat serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional.

Koperasi memegang prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka;

2. Pengelolaan dilakukan secara demokratis;

3. Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa yang terbatas pada modal;

4. Kemandirian.

(17)

a. Jenis-jenis Koperasi

Sebelum mendirikan koperasi harus ditentukan secara jelas jenis koperasi dan keanggotaan yang selalu berhubungan dengan kegiatan usaha dan dasar untuk menentukan jenis koperasi adalah kesamaan aktivitas, kepentingan dan kebutuhan ekonomi anggotanya, seperti antara lain :

1. Koperasi Simpan Pinjam (KSP)

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1995 pasal 1, bahwa Koperasi Simpan Pinjam adalah koperasi yang kegiatannya hanya usaha simpan pinjam.

Keanggotaan Koperasi Simpan Pinjam pada prinsipnya bebas bagi semua orang yang memenuhi persyaratan untuk menjadi anggota koperasi dan orang-orang dimaksud mempunyai kegiatan usaha dan atau mempunyai kepentingan ekonomi yang sama, misalnya KSP dengan anggota petani, KSP dengan anggotanya nelayan, KSP dengan anggotanya karyawan.

2. Koperasi Konsumen

Sebagai pemilik dan pengguna jasa koperasi, anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan koperasi. Keanggotaan Koperasi Konsumen atau Pendiri Koperasi Konsumen adalah kelompok masyarakat misal : Kelompok PKK, Karang Taruna, Pondok Pesantren, Pemuda dan lain-lain yang membeli barang-barang untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti sabun, gula pasir, minyak tanah. Disamping itu Koperasi Konsumen membeli barang-barang konsumen dalam jumlah yang besar sesuai kebutuhan anggota.

Koperasi Konsumen menyalurkan barang-barang konsumsi kepada para anggota dengan harga layak, berusaha membuat sendiri barang-barang konsumsi untuk keperluan anggota dan disamping pelayan untuk anggota, Koperasi Konsumsi juga boleh melayani umum.

3. Koperasi Produsen

Koperasi Produsen adalah koperasi yang anggotanya terdiri dari orang-orang yang mampu menghasilkan sesuatu barang misalnya :

a) Koperasi Kerajinan Industri Kecil anggotanya para pengrajin b) Koperasi Perkebunan anggotanya produsen perkebunan rakyat.

c) Koperasi Produksi Peternakan anggotanya para peternak.

(18)

4. Koperasi Pemasaran

Koperasi Pemasaran adalah koperasi yang beranggotakan orang-orang yang mempunyai kegiatan dibidang pemasaran barang-barang dagangan misal :

a) Koperasi pemasaran ternak sapi anggotanya adalah pedagang sapi.

b) Koperasi pemasaran elektronik anggotanya adalah pedagang barang- barang elektronik.

c) Koperasi pemasaran alat-alat tulis kantor anggotanya adalah pedagang barang-barang alat tulis kantor.

5. Koperasi Jasa

Koperasi Jasa didirikan untuk memberikan pelayanan (jasa) kepada para anggotanya. Ada beberapa macam Koperasi Jasa antara lain :

a) Koperasi angkutan memberi jasa angkutan barang atau orang. Koperasi angkutan didirikan oleh orang-orang yang mempuyai kegiatan di bidang jasa angkutan barang atau orang.

b) Koperasi perumahan memberi jasa penyewaan rumah sehat dengan sewa yang cukup murah atau menjual rumah dengan harga murah.

c) Koperasi asuransi memberi jasa jaminan kepada para anggotanya seperti asuransi jiwa, asuransi pinjaman, asuransi kebakaran. Anggota Koperasi Asuransi adalah orang-orang yang bergerak dibidang jasa asuransi.

b. Prosedur Pendirian Koperasi

1) Membuat akta pendirian koperasi yang di dalamnya memuat Anggaran Dasar;

Akta pendirian Koperasi Primer dibuat minimal oleh 20 orang WNI yang dianggap mampu melakukan tindakan hukum, sedangkan akta pendirian Koperasi Sekunder dibentuk oleh sekurang-kurangnya 3 koperasi.

2) Pengesahan akta pendirian kepada Menteri Koperasi;

Jawaban atas permohonan pengesahan itu akan diberikan oleh Menteri dalam waktu 3 bulan, dan bila dalam jangka waktu 3 bulan itu Menteri tidak memberikan jawaban maka permohonan pengesahan itu secara otomatis dianggap diterima.

Bila jawaban dari Menteri adalah menolak, maka kepada pemohon diberikan kesempatan untuk mengajukan permohonan ulang dalam waktu 1 bulan.

(19)

Jawaban Menteri atas permohonan ulang akan diberikan dalam waktu 1 bulan dan jawaban atas permohonan ulang adalah bersifat final, artinya tidak dapat diajukan permohonan ulang lagi bila ditolak.

Koperasi menjadi badan hukum sejak akta pendirian disahkan oleh Menteri tetapi hapusnya status badan hukum koperasi adalah pada saat diumumkan pembubaran koperasi dalam Berita Negara.

3) Diumumkan dalam Berita Negara.

c. Organ Koperasi

Sedangkan yang menjadi perangkat organisasi koperasi adalah:

1) Rapat Anggota

Rapat anggota memegang kekuasaan tertinggi dan sekurang-kurangnya dilakuan sekali dalam setahun. Keanggotaan koperasi tidak dapat dipindahtangankan. Hak suara dalam koperasi diberikan berdasarkan keanggotaan bukan berdasarkan modal jadi setiap anggota mendapat satu hak suara.

2) Pengurus

Pengurus dipilih dari dan oleh anggota dalam Rapat Anggota untuk masa jabatan paling lama 5 tahun, tetapi pengelola koperasi dapat dipilih bukan dari anggota.

Pengurus bertanggung jawab pada Rapat Anggota, dan pengurus merupakan pemegang kuasa dari Rapat Anggota.

Tugas-tugas dari Pengurus adalah:

a) Mengelola koperasi dan usahanya;

b) Mengajukan rancangan rencana kerja dan rencana anggaran pendapatan dan belanja koperasi;

c) Menyelenggarakan Rapat Anggota;

d) Menyusun laporan tahunan sebulan sebelum Rapat Anggota dan mengajukan laporan keuangan dan pertanggungan jawabnya atas pelaksanaan tugasnya;

e) Memelihara daftar buku anggota dan pengurus;

Kewenangan pengurus adalah:

a) Mewakili koperasi di dalam dan di luar pengadilan;

b) Memutuskan penerimaan dan penolakan anggota baru serta pemberhentian anggota;

(20)

c) Melakukan upaya dan tindakan bagi kepentingan dan manfaat koperasi.

3) Pengawas

Pengawas dipilih dari dan oleh anggota dalam Rapat Anggota dan karena itu bertangggung jawab kepada Rapat Anggota.

Tugas-tugas pengawas adalah:

a) Melakukan pengawasan pelaksanaan atau pengelolaan koperasi;

b) Membuat laporan tertulis tentang pengawasan yang dilakukan;

c) Merahasiakan hasil pengawasannya.

Kewenangan pengawas adalah:

a) Meneliti catatan yang ada pada koperasi;

b) Mendapatkan segala keterangan tentang koperasi.

d. Modal Koperasi

Modal koperasi terdiri dari:

1. Modal sendiri, yang terdiri dari:

(a) Simpanan Pokok;

(b) Simpanan Wajib;

(c) Simpanan Sukarela;

(d) Dana Cadangan;

Pengertian laba usaha koperasi adalah sisa hasil usaha setelah dikurangi dana cadangan.

(e) Hibah.

2. Modal pinjaman

3.3 Penggabungan Perusahaan

Pembentukan group perusahaan di antara perusahaan-perusahaan di dunia perniagaan adalah karena adanya bentuk kerja sama di antara perusahaan-perusahaan tersebut dengan perusahaan induk sebagai pimpinan sentralnya (Holding Company / Mother Company), yaitu dengan cara :

a. Merger (Penggabungan)

Berdasarkan Pasal 1 ayat 2 PP No. 27 tahun 1998 tentang Merger, Akuisisi dan Konsolidasi PT dijelaskan pengertian Merger, yaitu : suatu peristiwa hukum dimana 2

(21)

perusahaan atau lebih bergabung dengan cara mempertahankan berdirinya salah satu perusahaan dan melikuidasi perusahaan lainnya.

Akibat hukum adanya merger tersebut adalah terdapatnya perusahaan yang mengambil alih (acquiring company) dan perusahaan yang diambil-alih (acquired company). Acquiring comp. Akan tetap berdiri dan melanjutkan usahanya sedangkan acquired comp akan menyerahkan seluruh aset, kekayaan, inventaris, tagihan, piutang, maupun utang beserta seluruh kegiatannya, usaha-usahanya, ijin-ijinnya, lisensi dan seluruh karyawan kepada acquiring company. Setelah merger selesai kemudian dilanjutkan dengan pengakhiran seluruh kegiatan (melikuidaasi) acquired comp.

Cara terjadinya merger : 1. Merger Horizontal

Perusahaan yang bergabung bergerak dalam usaha yang sejenis atau tadinya antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya bersaing. Perusahaan yang bekerja sama ini biasanya mempunyai pasar pembelian dan penjualan yang sama.

Contoh: merger antara 2 perusahaan air mineral 2. Merger Vertikal

Merger yang dilakukan oleh beberapa perusahaan yang mempunyai perbedaan dalam tingkat operasi produksi yang bertujuan mencapai tingkat efisiensi yang optimal.

Contoh: merger di antara perusahaan otomotif dengan tingkat desain, pembuatan kerangka dan pemasaran yang berbeda.

Dalam merger seperti ini dapat diartikan adanya kerja sama antara satu perusahaan dengan perusahaan lain yang mengolah lebih lanjut produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang pertama sehingga di antara perusahaan- perusahaan tersebut saling menjamin kepastian usaha yang dilakukan masing- masing perusahaan yang bergabung.

3. Merger Konglomerat

Merger perusahaan diluar kriteria merger horizontal atau vertikal, dimana masing-masing perusahaan tidak mempunyai kegiatan usaha yang saling berhubungan satu sama lain.

(22)

b. Akuisisi /Pengambil-alihan (Take Over)

Pasal 1 ayat 3 PP No. 27 tahun 1998, pengertian akuisisi adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh badan hukum atau orang perorangan untuk mengambil-alih baik seluruh maupun sebagian besar saham perseroan yang dapat mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan tersebut”.

Mekanisme akuisisi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :

1. Dengan melakukan pembelian terhadap harta kekayaan perseroan, atau dengan mengambil alih aset-aset perusahaan yang diambil alih, misalnya pembelian mesin- mesin, pabrik-pabrik, tanah-tanah, gedung-gedung atau barang inventaris lainnya, atau hak atas merk dari perusahaan yang diambil-alih (target company) oleh perusahaan yang mengambil-alih (akuisitor)

2. Dengan membeli saham-saham dari perusahaan yang diambil-alih (target comp) sehingga terjadi perubahan terhadap susunan pemegang sahamnya ataupun terjadi perubahan / penggantian pimpinan perusahaan.

Macam Akuisisi yang biasa terjadi dalam paktek : a) Akuisisi Horizontal

Adalah akuisisi yang terjadi antara 2 atau lebih perusahaan yang sejenis. Biasanya akuisisi semacam ini bermaksud agar dapat memperoleh economics of scale yang dominan atau memperoleh kedudukan monopolistik, terutama yang dilakukan oleh perusahaan pesaing.

Contoh : akuisisi perusahaan bir terhadap perusahaan bir lainnya.

b) Akuisisi Vertikal

Hal ini terjadi di antara 2 perusahaan yang mempunyai proses produksi atau perdagangan yang terkait.

Misalnya : perusahaan yang diambil-alih merupakan perusahaan pemasok bahan baku, atau distributor hasil produksi perusahaan pengambil-alih.

c) Akuisisi Konsentrik Pemasaran

Adalah akuisisi yang dilakukan bila perusahaan pengambil-alih ingin memanfaatkan saluran distribusi yang sama dari berbagai produk yang menggunakan teknologi yang berlainan.

Misal :

(23)

Perusahaan pengambil-alih meng-akuisisi perusahaan sabun, dikarenakan produk sabun itu dijual oleh toko-toko yang sama dengan lipstik, dan bedak yang diproduksi oleh perusahaan pengambil-alih.

Hal ini dimaksudkan agar perusahaan pengambil-alih mendapatkan efisiensi yaitu dengan satu kali jalan, armada distribusinya dapat menjual ketiga produk itu sekaligus.

d) Akuisisi Konsentrik Teknologi

Yaitu akuisisi yang terjadi di antara perusahaan yang menggunakan teknologi yang sama, tetapi berlainan saluran distribusinya. Misalnya suatu pabrik TV ataupun radio mengambil-alih pabrik komputer dan juga pabrik alat-alat kedokteran.

Dikarenakan produk-produk tersebut mempunyai karakteristik yang sama, yaitu bersandar kepada elektronika, maka dua atau tiga perusahaan di atas tadi melakukan pemusatan atau pooling bagian penelitian dan pengembangan dengan cakupan pemasaran yang lebih luas karena mampu menghaislkan berbagai macam barang yang memenuhi berbagai macam kebutuhan.

e) Akuisisi Konglomerat

Yaitu akuisisi yang dilakukan atas berbagai macam perusahaan yang satu sama lain berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk mendiversifikasikan usaha sekaligus menyebar resiko.

Alasan perusahaan perlu melakukan akuisisi biasanya bertujuan : 1) memperkuat diri atau menjamin kelangsungan perusahaan 2) mengurangi pengaruh persaingan

3) memperkuat kedudukan atau keuangan

4) menguasai pasaran atau menjamin flow of goods ke pasaran

5) menstabilkan kedudukannya dalam pasaran atau melepaskan perusahaan yang selalu menyebabkan kerugian

6) memperbaiki atau meingkatkan kualitas dan mutu barang

7) mengurangi progresi pajak dengan memecah perusahaan menjadi unit yang lebih kecil.

c. Konsolidasi (Peleburan)

(24)

Dalam UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas dikenal dengan istilah “peleburan”, yaitu adanya 2 PT atau lebih yang menggabungkan diri menjadi satu PT baru.

Dijelaskan lebih lanjut Dalam Pasal 1 ayat 2 PP No. 27 tahun 1998 tentang Merger, Konsolidasi dan Akuisisi Perseroan Terbatas bahwa :

Konsolidasi adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh 2 perseroan atau lebih dengan cara membentuk satu perseroan baru dan masing-masing perseroan yang meleburkan diri menjadi bubar (hilang).

Perbedaaan antara merger, akuisisi dan kosolidasi adalah :

a) Pada merger, ada satu PT (perseroan) yang eksistensinya masih ada (hidup), sedang PT lainnya lenyap menggabungkan diri dalam PT yang tetap ada. Selain itu, dilakukan pemberesan (likuidasi) terhadap perseroan yang bubar tadi.

b) Pada akuisisi, eksistensi kedua PT tetap ada (hidup), tidak ada satupun yang membubarkan diri, hanya saja karena saham / aset dari PT yang satu dikuasai oleh PT lainnya, maka secara manajemen telah terjadi satu kesatuan manajemen.

Pada akuisisi tidak perlu dilakukan tindakan pemberesan (likuidasi perusahaan).

c) Pada konsolidasi, semua PT yang pernah ada menjadi bubar dan meleburkan diri menjadi sebuah PT yang baru. Oleh karena itu, dilakukan tindakan pemberesan (likuidasi) terhadap perusahaan-perusahaan yang membubarkan diri tersebut.

3.4 Rangkuman

1. Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia, untuk tujuan memperoleh keuntungan dan/atau laba.

2. Macam perusahaan yaitu perusahaan negara dan perusahaan swasta.

3. Setiap pengusaha diwajibkan oleh undang-undang untuk membuat dan memelihara pembukuan. Fungsi pembukuan adalah agar dapat diketahui harta kekayaan (aset) perusahaan setiap saat dan sebagai alat bukti.

4. Selain wajib membuat pembukuan, perusahaan juga diwajibkan untuk mendaftarkan perusahaannya pada kantor pendaftaran perusahaan.

(25)

5. Bentuk-bentuk perusahaan adalah perusahaan perseorangan dan persekutuan.

Persekutuan terbagi dalam perusahaan yang berbadan hukum dan perusahaan yang bukan badan hukum.

6. Perusahaan yang bukan badan hukum contohnya; Persekutuan Perdata, Firma, CV.

Perusahaan yang berbadan hukum contonya; PT, Koperasi.

7. Perusahaan yang berbentuk PT dapat menambah kekayaannya dengan cara merger, akuisisi dan konsolidasi.

3.5 Latihan/Soal

1. Jelaskan perbedaan antara Perusahaan Perseorangan, Persekutuan Perdata, Firma dan CV menurut pengertian, unsur-unsur, proses pendirian dan tanggung jawabnya!

2. Jelaskan langkah-langkah prosedur yang harus ditempuh untuk mendirikan PT!

3. Terhitung sejak kapan PT berstatus badan hukum!

4. Dalm hal-hal tertentu tenggung jawab seorang direksi menjadi tidak terbatas, sebutkan hal-hal atau peristiwa yang mengakibatkan tanggung jawab direksi menjadi tidak terbatas!

Referensi

Dokumen terkait

Namun, tanggung jawab terbatas pemegang saham dapat hapus jika memenuhi ketentuan Pasal 3 ayat (2) UU PT, antara lain persyaratan perseroan sebagai badan hukum

Perseroan terbatas adalah organisasi bisnis yang memiliki badan hukum resmi yang dimiliki oleh minimal dua orang dengan tanggung jawab yang hanya berlaku pada perusahaan tanpa

Irma Hani Nasution : Analisis Hukum Terhadap Tanggung Jawab Direksi Dalam Perseroan Terbatas, 2003 USU Repository © 2008... Irma Hani Nasution : Analisis Hukum Terhadap Tanggung

Nurasiah Harahap : Analisis Hukum Tanggung Jawab Perseroan Terbatas Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup, 2003 USU Repository © 2008... Nurasiah Harahap : Analisis Hukum Tanggung

“Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut perseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha

• Perseroan terbatas adalah organisasi bisnis yang memiliki badan hukum resmi yang dimiliki oleh minimal dua orang dengan tanggung jawab yang hanya berlaku pada perusahaan

Sesuai dengan ketentuan Pasal 14 ayat (1) UUPT dinyatakan bahwasanya dalam hal persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi, misalnya

Perlu kiranya konsep single shareholder ini diimplementasikan tanpa merusak prinsip tanggung jawab terbatas sebagai fundamental dari perseroan dan yang membedakannya dengan badan usaha