BAB 3
METODE STUDI KASUS 3.1 Desain Studi Kasus
Dalam studi kasus ini digunakan desain atau rancangan multiple case design. Multiple case design adalah penelitian studi kasus yang menggunakan beberapa kelompok kasus yang serupa. Penelitian jenis ini lebih cocok digunakan ketika penulis ingin mengekplorasi suatu kejadian yang sama pada situasi yang berbeda.
3.2 Subyek Studi Kasus
Adapun subyek dalam studi kasus ini yaitu 2 akseptor kontrasepsi suntik DMPA dengan keluhan spotting di wilayah kerja Puskesmas Arosbaya.
3.3 Prosedur Studi Kasus 3.3.1 Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan merupakan sebuah tahapan awal dalam melakukan penelitian. Pada tahapan ini, penulis melakukan observasi dan mengumpulkan data-data terkait dengan kejadian spotting pada akseptor kontrasepsi suntik DMPA di wilayah Kerja Puskesmas Arosbaya. Observasi ini dilakukan berdasarkan jadwal Praktek Klinik Kebidanan III (PKK III) di Puskesmas Arosbaya sejak tanggal 8 Januari sampai 2 Februari 2024. Pada kajian awal bulan Januari 2024 ditemukan 15 orang akseptor kontrasepsi suntik DMPA dengan spotting yang melakukan pemeriksaan ke Puskesmas Arosbaya. Dalam laporan rutin triwulan pada bulan Januari hingga Desember 2023 ditemukan sebanyak 86 akseptor kontrasepsi suntik DMPA mengalami spotting dari total seluruh akseptor kontrasepsi suntik DMPA yaitu 475 ibu yang terdata.
3.3.2 Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam studi kasus ini meliputi data primer dan data sekunder.
1. Data primer
Pengambilan data ini diperoleh secara langsung dari subjek studi kasus yaitu akseptor kontrasepsi suntik DMPA yang mengalami spotting.
Sebelum melakukan pengambilan data, terlebih dahulu peneliti melakukan koordinasi dengan bidan desa untuk memastikan adanya permasalahan tersebut. Selanjutnya peneliti melakukan kunjungan rumah kepada sasaran yang diantar oleh bidan desa. Peneliti mengutarakan maksud dan tujuan penelitian kepada akseptor kontrasepsi suntik DMPA dengan spotting serta menjamin kerahasiaannya. Kemudian peneliti memberikan informed consent kepada ibu dan keluarga untuk membaca.
Adapun data yang diperlukan yaitu :
a. Dalam pengambilan data untuk menegakkan diagnosa spotting pada akseptor kontrasepsi suntik DMPA dilakukan pengambilan data dengan cara anamnesis khususnya terkait masalah yang dirasakan dan melakukan pemeriksaan fisik meliputi keadaan umum, pemeriksaan antropometri, pemeriksaan laboratorium.
b. Faktor resiko spotting pada akseptor kontrasepsi suntik DMPA diidentifikasi melalui wawancara pada ibu.
c. Mengidentifikasi masalah lain yang terjadi pada akseptor kontrasepsi suntik DMPA melalui wawancara dan hasil pemeriksaan fisik oleh petugas kesehatan serta didukung hasil pemeriksaan laboratorium.
d. Mengidentifikasi penatalaksanaan spotting pada akseptor kontrasepsi suntik DMPA yang telah dilakukan melalui wawancara.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari catatan yang sudah tersedia untuk menunjang hasil wawancara. Pengumpulan data ini bersumber dari data hasil diagnosa petugas kesehatan untuk menilai komplikasi dan penatalaksanaan pada akseptor kontrasepsi suntik DMPA.
Adapun instrumen yang digunakan dalam studi kasus ini yaitu : 1. Pemeriksaan Fisik pada Akseptor Kontrasepsi Suntik DMPA
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara head to toe untuk menegakkan diagnosa Spotting.
2. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk menilai tanda gejala dari Spotting, faktor penyebab, komplikasi dan mengetahui penatalaksaan yang sudah di dapatkan ibu sebelumnya.
3.3.3 Analisa
Analisis data yaitu upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain (Rijali, 2019).
Analisis data yang digunakan dalam studi kasus ini berupa kualitatif yang bersumber dari hasil pemeriksaan fisik, wawancara dan observasi pada pasien,
keluarga atau dengan petugas kesehatan. Selanjutnya data tersebut akan dianalisis dalam bentuk tabel matrik serta dinarasikan.
3.3.4 Kesimpulan dan hasil
Pada kesimpulan ini bertujuan untuk membuktikan rumusan masalah yaitu Gambaran Asuhan pada akseptor kontrasepsi suntik DMPA di Wilayah Kerja Puskesmas Arosbaya Kabupaten Bangkalan.
3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.4.1 Lokasi Studi Kasus
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Arosbaya Bangkalan, lokasi puskesmas cukup jauh sekitar 16 KM dari Kampus Prodi DIII Kebidanan Bangkalan tepatnya di Jalan Raya Arosbaya No.12, Tambak, Tengket, Kec.
Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
3.4.2 Waktu Penelitian
No Kegiataan Januari Februari Maret April
1 Studi
Pendahuluan 2
Pengumpulan Data
3 Analisa
4
Penyusunan Laporan