• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

125

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Untuk sektor pembangkit listrik, emisi SO2 mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan meningkat tajam mulai tahun 2016 hingga 2020 dengan gain 798,5 kton(SO2)/tahun, sedangkan untuk sektor industri kenaikan emisinya berlangsung hingga tahun 2008, dan menurun tajam mulai tahun 2016 hingga 2020 dengan gain -73,54 kton(SO2)/tahun.

Untuk emisi NO2, peningkatan yang cukup tinggi dirasakan pada sektor pembangkit listrik dengan gain 120,02 kton(NO2)/tahun mulai tahun 2016 hingga 2020, sedangkan pada sektor transportasi, peningkatan emisinya relatif kecil dengan gain 17,46 kton(NO2)/tahun pada interval tahun yang sama.

2. Hasil validasi model sistem dinamik untuk dampak pencemaran SO2, memberikan nilai kesalahan relatif yang kecil yaitu < 5% untuk data kependudukan dan <10% untuk data konsentrasi gas SO2. Hasil simulasinya memberi gambaran bahwa tingkat konsentrasi gas SO2 pada tahun 2030 melebihi BMA, sehingga akan membawa dampak terhadap kesehatan dan kerusakan lingkungan. Pada tahun 2030, diprediksi bahwa jumlah orang yang menderita LRI dan CDA adalah 4 dan 6 orang, dengan biaya perawatan rata – rata Rp. 10.199.150 per orang (CDA) dan Rp. 12.883.150,- per orang (LRI). Tingkat risiko gangguan kesehatan yang dialami anak – anak lebih tinggi dibanding dengan orang dewasa, dan untuk paparan 24 jam/hari kondisi tidak aman pada anak akan terjadi mulai tahun 2028. Kemudian untuk strategi

(2)

126

pengelolaan risiko dapat dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu pendekatan teknologi, sosio ekonomi dan kelembagaan.

3. Sistem monitoring pencemaran udara yang berbasis IoT ini berhasil dibuat dan berdaya guna untuk mendeteksi emisi gas SO2 dan NO2 serta suhu dan kelembaban udara, yang hasilnya dapat ditampilkan di web dengan alamat http://wirelessnetwork-system.com

4. Kualitas jaringan yang digunakan oleh sistem monitoring gas SO2 dan NO2 ini, berkategori kurang memuaskan, berdasarkan standarisasi Tiphon. Menurut standar penilian ITU_TG.1010, faktor utama yang mempengaruhi kategori kurang memuaskan ini adalah buruknya nilai throughput (bandwidth real), dimana nilai throughput-nya berkisar antara 0-337 kbps. Peralatan sistem monitoring gas SO2 dan NO2 ini layak digunakan karena akurat dan stabil. Alat ini mempunyai mempunyai nilai akurasi 90,9% serta mempunyai tingkat presisi yang relatif baik. Hal ini ditunjukkan oleh uji kestabilan dengan metode Chi Square, dimana nilai hitung, 2= 0,876 lebih kecil dari nilai tabel 2= 37,65

5. Hasil monitoring asap pembakaran grajen kayu, serbuk batubara, dan campuran keduanya, menunjukkan bahwa nilai konsentrasi gas SO2

mengalami fluktuasi dengan lebih dari 70% konsentrasinya dibawah BMA. Untuk massa yang lebih besar (m=500g) baik pada kedua sampel mempunyai nilai SDE yang lebih kecil begitu juga dengan campuran sampel yang mempunyai rasio 1:2. Sementara itu, konsentrasi gas NO2

tidak memberikan nilai yang signifikan, atau kebolehjadian untuk menemukan pada sampel tersebut relatif kecil. Tetapi untuk mesin generator berbahan bakar solar (diesel) yang berkapasitas 96 kWh,

(3)

127

konsentrasi gas NO2 - nya dapat terdeteksi dan nilainya berada jauh di bawah BMA.

6.2 Saran

1. Untuk dapat melakukan pengukuran pencemaran gas SO2 dan NO2 di udara ambien, sebaiknya menggunakan sensor dengan ketelitian yang tinggi, minimal 0,01 ppm.

2. Untuk komunikasi data dari sistem ke server melalui media internet, sebaiknya menggunakan modul wifi, seperti ESP8266, karena lebih aman dan tidak ada pembatasan penggunaannya oleh pemerintah.

Berbeda dengan penggunaan SIM900A, yang menginjeksi SIM card (misalnya Telkomsel, indosat, Three dan lainya) ke dalam peralatan, dimana penggunaan SIM Card tersebut ada pembatasan yang diberlakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.

3. Untuk mendapatkan model sistem dinamik pencemaran SO2 yang lengkap, sebaiknya mempertimbangkankan faktor – faktor yang mempengaruhinya, antara lain transportasi, pemakaian energi listrik, BBM, PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), dan populasi penduduk, untuk mempermudah membuat strategi penanggulangan pencemarannya.

Referensi

Dokumen terkait

BPS mencatat bahwa sektor pertanian dan perhutanan, industri manufaktur, dan pembangkit listrik merupakan tiga sektor penyumbang intensitas emisi tertinggi di mana