BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
PT.Gapura Angkasa adalah perusahaan bersama yang didirikan pada tanggal 26 Januari 1998 oleh 3 Badan Usaha Milik Negara, yaitu PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero). Perseroan yang bergerak dalam bidang usaha jasa ground handling dan kegiatan usaha lainnya yang menunjang usaha penerbangan di bandar udara. Nilai-nilai perusahaan sangat penting bagi kami. Kami sangat percaya bahwa dengan kerjasama tim yang sangat baik, semangat dan komitmen Tim untuk selalu memberikan solusi yang terbaik, sehingga Gapura dan pelanggan dapat meraih kesuksesan bersama. Pada awalnya Garuda Indonesia memiliki ground handling sendiri. Namun, melihat kebutuhan akan layanan profesional dan tuntutan hasil yang optimal tanpa mengabaikan keamanan, keselamatan, keandalan, dan ketepatan waktu, Garuda memutuskan untuk menyerahkan aktivitas Ground Handling kepada pihak lain agar dapat fokus pada operasional maskapai penerbangan. Awal berdirinya PT Gapura Angkasa pada tanggal 21 November 2019, Pemegang Saham Gapura Angkasa terdiri dari Angkasa Pura II (46,62%), Garuda Indonesia (45,62%) dan Angkasa Pura I (7,76%).(https://gapura.id/about-us-ina)
PT Gapura Angkasa harus memberikan pelayanan terbaik agar citra maskapai penerbangan yang menggunakan jasanya terlihat baik di mata penumpang. Maskapai penerbangan tentunya mengharapkan bahwa PT Gapura Angkasa selalu memberikan pelayanan yang konsisten dan berkualitas terhadap penumpangnya. Berdasarkan hasil wawancara singkat peneliti dengan Supervisor PT Gapura Angkagsa, pelayanan yang diberikan mayoritas terdapat pada departure section yang meliputi check-in, serta boarding. Check-in yaitu merupakan pelayanan yang diberikan kepada penumpang yang akan berangkat dengan memeriksa dokumen perjalanan penumpang serta mencetak boarding pass/ alat yang digunakan oleh penumpang untuk boarding ke pesawat, serta boarding yaitu merupakan pelayanan yang diberikan kepada penumpang yang akan berangkat untuk memasuki pesawat udara, (Suhartato Abdul Majid, Eko D Warpani, 2009).PT Gapura Angkasa harus memberikan pelayanan terbaik agar citra maskapai penerbangan yang menggunakan jasanya terlihat baik di mata penumpang.
Maskapai penerbangan tentunya mengharapkan bahwa PT Gapura Angkasa selalu memberikan pelayanan yang konsisten dan berkualitas terhadap penumpangnya. Berdasarkan hasil wawancara singkat peneliti dengan Supervisor PT Gapura Angkasa, pelayanan yang diberikan mayoritas terdapat pada departure section yang meliputi check-in, serta boarding. Check-in yaitu merupakan pelayanan yang diberikan kepada
1
penumpang yang akan berangkat dengan memeriksa dokumen perjalanan penumpang serta mencetak boarding pass/ alat yang digunakan oleh penumpang untuk boarding ke pesawat, serta boarding yaitu merupakan pelayanan yang diberikan kepada penumpang yang akan berangkat untuk memasuki pesawat udara, (Suhartato Abdul Majid, Eko D Warpani, 2009).
Dalam melayani maskapai penerbangan yang menggunakan jasanya, PT Gapura Angkasa tentunya harus memiliki sumber daya manusia yang terampil, ramah, dan cerdas. Kemampuan tersebut harus dimiliki dengan tujuan untuk memberikan pelayanan terbaik secara maksimal kepada pihak maskapai penerbangan serta kepada penumpang. Menurut (Philip Kotler & Kevin Lane Keller. , 2012), kualitas pelayanan diawali dengan kebutuhan pelanggan dan diakhiri dengan kepuasan pelanggan. Jasa atau layanan yang diharapkan (expected services) serta jasa atau layanan yang dirasakan oleh pelanggan (perceived services) merupakan faktor utama yang mempengaruhi kualitas pelayanan tersebut karena kepuasan pelanggan dapat dicapai apabila pelayanan yang diterima sesuai atau melebihi pelayanan yang diharapkan oleh pelanggan tersebut. Menurut (Parasuraman et al, 2016), Servqual dikenal pula dengan sebutan Gap Analysis Model yaitu bentuk tidak sesuainya antara layanan (perceived services) dengan layanan (expected services). Semakin besar ketidakpuasan yang terjadi pada pelanggan apabila gap yang terjadi juga besar.( http://repository.poltekpar-nhi.ac.id/1008/1/PA_201721867_BAB%20I.pdf)
Pada tahun 2001, perusahaan ini mulai mengoperasikan pergudangan domestik di Bandar Udara Soekarno-Hatta. Pada tahun 2004, perusahaan ini meluncurkan layanan Smart Handling untuk mendukung operasional maskapai penerbangan berbiaya rendah di bandara.
Pada tahun 2005, perusahaan ini mulai mengoperasikan pergudangan internasional di Bandara Soekarno-Hatta. Pada tahun 2014, perusahaan ini mulai menyediakan layanan di 45 bandara yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada tahun 2015, perusahaan ini meluncurkan Gapura Learning Center sebagai tempat pelatihan bagi para pegawainya. Pada tahun 2017,
perusahaan ini meluncurkan layanan pendampingan penumpang selama berada di bandara, dengan nama Joumpa. Pada bulan April 2022, Pelita Air Service menunjuk perusahaan ini untuk menyediakan layanan pendukung bagi pesawat terbang berjadwal miliknya selama berada di bandara.
Pada bulan Desember 2023, Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II menyerahkan seluruh saham perusahaan ini yang mereka pegang ke PT Angkasa Pura Kargo, sebagai bagian dari upaya untuk membentuk subholding di internal Injourney yang bergerak di bidang pendukung operasional bandara.(Gapura Angkasa - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)
B. Tujuan Penulisan On The Job Training
Adapun tujuan pembuatan laporan antara lain :
1. Mendorong peserta untuk mampu mengembangkan dan meningkatkan praktek kerja secara langsung di Garuda Indonesia Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang 2. Membentuk tanggung jawab siswa dalam melaaksanakan On The Job Training ini yang berkaitan dengan program jurusan Ground Staff bandara
3. Bukti bahwa peserta yang bersangkutan telah melakukan On The Job Training
3
C. TUJUAN ON THE JOB TRAINING
Adapun tujuan pelaksanan praktek ini adalah :
1. peserta dapat memiliki pengetahuan,keterampilan,dan etos kerja yang sesuai dengan tuntunan lapangan kerja
2. melihat dan merasakan secara langsung proses dan standar kerja penanganan penumpang di garuda indonesia
3. mengaplikasikan materi yang di dapat selama masa pelatihan di Umika Trans Training Center
4. menambah pengalaman peserta yang di laksanakan kekiatan On The Job Training
5. memberikan pengakuan On The Training sebagai bagian dari proses latihan jurusan Ground Staff
ALASAN MELAKSANAKAN ON THE JOB TRAINING
Laporan On The Job Training di Garuda Indonesia bandar udara sultan mahmud badaruddin II Palembang
1. sesuai dengan jurusan pelatihan
2. meningkatkan pengetahuan pada proses kerja di bagian Grond Staff 3. sesuai dengan apa yang di kerjakan di perusahaan selama 2 bulan
D. Lokasi On The Job Training
1. Departure 2. Loss and found 3. Operation 4. Arrival
5. Kode pass Bandara
5
E. Metode Pengumpulan Data
Dalam penyajian penulis mengumpulkan data dan informasi selama penulisan melaksanakan On The Job Training . Cara-cara nya adalah sebagai berikut :
1. Metode Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik pengumpulan data atau fakta yang cukup efektif untuk mempelajari suatu sistem . Observasi adalah pengamatan langsung suatu kegiatan yang sedang berjalan .
2. Metode Wawancara
Metode ini merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan jalan penulis mengadakan komunikasi dengan sumber data yaitu orang-orang yang memang ahli di dalam bidangnya saat melakukan pekerjaan praktek di praktek kerja lapangan . Komunikasi ini dilakukan dengan dialog secara lisan baik langsung maupun tidak langsung.
3. Metode kuesioner
angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.Kuesioner atau angket digunakan untuk mendapatkan jawaban secara langsung dari responden.
Metode ini bisa membantu mendapatkan jawaban responden dalam jumlah yang besar.
Tipe pertanyaan kuesioner dibagi menjadi dua yaitu terbuka dan tertutup. Namun, diperlukan penyusunan pertanyaan angket yang akurat untuk mendapatkan jawaban yang sesuai.
4. Metode Dokumentasi
Dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tulisan angka, dan gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat mendukung penelitian.
Dengan dokumentasi, peneliti dapat menggunakan sumber-sumber yang telah ada untuk mendukung hipotesis mereka, dan juga untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang subjek penelitian tanpa perlu melakukan pengumpulan data secara langsung melalui metode observasi atau wawancara.
5. Metode Kepustakaan
Metode ini diambil melalui data-data dari buku,media sosial,dan yang di berikan oleh pegawai yang bersangkutan untuk di pelajari oleh penulis yang , mampu dari buku-buku.
Yang penulis untuk dijadikan pegangan dan sesuai dengan judul yang dipilih.
7
BAB II
GAMBARAN UMUM A. Sejarah Penerbangan di Indonesia
1. Sejarah penerbangan militer indonesia
Berdasarkan catatan yang ada, penerbangan pertama kali di wilayah Nusantara tepatnya di Surabaya terjadi pada 19 Februari 1913. Penerbangan ini merupakan penerbangan militer dengan penerbang asal Belanda bernama Hilgers. Pesawat yang digunakan untuk uji coba penerbangan ini didatangkan langsung dari Belanda, dengan cara diangkut menggunakan kapal laut. Namun, sejarah mencatat uji coba penerbangan sipil pertama di wilayah Nusantara gagal, karena pesawat jatuh di kampung Beliwerti. Peristiwa ini tercatat sebagai kecelakaan pesawat pertama di Tanah Air. Satu tahun berselang, yaitu pada 1914, pemerintah Hindia Belanda membentuk Proef Vlieg Afdeling (PVA). Ini merupakan bagian penerbangan percobaan yang dikomandani oleh H. Ter Poorten.
Sejak saat itu, percobaan demi percobaan penerbangan terus dilakukan. Selain itu juga dilakukan pengembangan teknologi dan pelatihan penerbang. Percobaan yang dilakukan memang ada yang mengalami kegagalan. Tercatat puluhan personel KNIL (Koninklijke Nederlands Indische Leger) yang tewas dalam usaha perintisan penerbangan militer. Namun pemerintah Hindia Belanda semakin optimis terhadap masa depan penerbangan tanah koloni.
Hingga pada tahun 1924, dilakukan uii coba penerbangan pertama dari Amsterdam ke Batavia. Uji coba dilakukan dengan pesawat jenis fokker.
Penerbangan ini membutuhkan waktu tempuh selama 55 hari dengan berhenti di 20 kota. Penerbangan yang tentunya melelahkan ini akhirnya sampai di lapangan terbang Cililitan. Penerbangan lintas negara bahkan benua ini dilakukan dalam rangka upaya merintis jalur udara yang nantinya menguntungkan pemerintah kolonial Belanda baik secara militer maupun komersil.
Perlahan tapi pasti, pemerintah kolonial Belanda terus membangun pangkalan militer udara di banyak tempat, terutama di Jawa. Tercatat pada tahun 1920 sudah ada beberapa lapangan terbang seperti Cililitan di Jakarta, Kalijati di Subang, dan Sukamiskin di Bandung. Tahun 1930-an sampai awal 1940-an menjadi periode paling subur dalam pembangunan pangkalan-pangkalan militer udara.
Sampai awal tahun 1940-an, setidaknya sudah berdiri pangkalan militer udara seperti Kalibanteng di Semarang (kini bandara Achmad Yani), Panasan di Surakarta
(kini Adi Soemarmo), Maguwo di Sleman Yogyakarta (kini Adi Sucipto), Bugis di Malang (kini Abdurachman Shaleh), Maospati di Madiun (kini Iswahyudi), Morokrembangan di Surabaya (ditutup sejak tahun 1960-an), Pandanwangi di Lumajang. Jatiwangi di Cirebon, Andir di Bandung (kini Husein Sastranegara), Polonia di Medan (kini Lanud Suwandi), Kadieng di Makassar (sekarang Sultan Hasanuddin), dan Sepinggan di Balikpapan (kini Sultan Aji Muhammad Sulaiman).
.(Wijaya,Candra,2024,Laporan kegiatan diklat penerbangan,palembang batch VI)
2. Sejarah penerbangan komersil indonesia
Kiprah penerbangan komersil di Indonesia dimulai sejak dekade ketiga abad 20.
Hal ini ditandai dengan berdirinya KNILM (Koninklijke Nederlandsch Indische Luchtvaart Maatschappij) pada tahun 1928, sebuah perusahaan maskapai penerbangan komersil di Hindia Belanda yang sahamnya terdiri dari hasil patungan berbagai perusahaan Eropa seperti Deli Maatschappy, Nederlandse Handel Maatschappy, KLM (Koninklijk Luchvaart Maatschappij), pemerintah Hindia Belanda, dan beberapa perusahaan dagang lainnya yang memiliki kepentingan di Hindia Belanda.
KLM sendiri merupakan perusahaan penerbangan Kerajaan Belanda yang diberdiri pada 7 Oktober 1919 di Den Haag. Berkat KLM, Belanda menjadi salah satu pengarung angkasa terbesar di Dunia. KLM merupakan induk dari KNILM yang merupakan cabang di Hindia Belanda. Munculnya KNILM menjadi tonggak baru perkembangan penerbangan di Indonesia saat itu. KNILM mengenalkan sistem penerbangan berjadwal pertama di Hindia Belanda.
Di antara jadwal penerbangan yang ada yaitu Batavia-Bandung satu kali dalam seminggu, Batavia-Surabaya satu hari sekali dengan transit di Semarang. Kemudian ada juga rute Batavia-Palembang-Pekanbaru-Medan dengan frekuensi satu kali seminggu. Bahkan ada pula rute Batavia hingga Singapura dan Australia. Rute-rute yang ada menandakan bahwa sejak masa itu sudah ada bandara di kota- kota seperti Bandung, Semarang, Surabaya, Pekanbar, Medan, Palembang, dan sebagainya.
Pada periode-periode awal, pesawat penerbangan komersil yang digunakan masih jenis fokker seperti Fokker F.VIIb, Fokker F.XII yang hanya muat sekitar 2-5 orang. Pesawat ini awalnya hanya digunakan untuk keperluan bisnis khususnya mengangkut kantong-kantong surat. Namun sejak tahun 1930-an mulai digunakan
9
untuk mengangkut penumpang manusia walaupun masih dalam jumlah terbatas.
Seiring berjalannya waktu, mulai berkembang jenis pesawat DC seperti 3 Douglas DC-3, 4 Douglas DC-5, dan Sikorsky S-43 yang memiliki daya tampung penumpang lebih banyak hingga puluhan orang disinggung sebelumnya bahwa KNILM juga menjalankan rute penerbangan hingga Singapura dan Australia. Ini menandakan bahwa sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, Nusantara sudah memiliki bandara internasional yaitu Bandara Kemayoran Batavia. Bandara ini mulai beroperasi pada tahun 1940.
Babak baru penerbangan komersial dimulai kembali tahun 1950-an. Mulai stabilnya kondisi sosial politik mengakibatkan penerbangan komersil bergeliat kembali. Pada tahun 1950 pemerintah Indonesia mendirikan Garuda Indonesia Airways (GIA), sebuah perusahaan penerbangan nasional pertama di masa kemerdekaan.
GIA adalah perusahaan penerbangan yang secara prosesual merupakan hasil nasionalisasi sebagian aset KNILM melalui diplomasi dengan perusahaan induk Belanda (KLM) pada tahun 1954. Pasca nasionalisasi, GIA tidak serta merta menjadi maskapai unggulan di Indonesia. Tahun 1950-an, penerbangan di Indonesia masih didominasi penerbangan asing seperti British overseas Airways Corporation (BOAC) dari Inggris, Quantas dari Australia, Air India International dari India, Scandinava Airlines System (SAS), Transport Airlines Intercontinenteux (TAI) dari Perancis, Malayan Airways dari Malaya dan Union of Burma Airways (UBA) dari Birma.
GIA mulai menunjukkan eksistensinya sejak akhir 1950-an setelah pemerintah Indonesia mengesahkan UU Nasionalisasi Tahun 1958. Melalui undang-undang ini, pemerintah memberi dukungan penuh pada GIA dalam bentuk bantuan modal pembelian beberapa pesawat komersil. Hasilnya, hingga saat ini GIA menjadi maskapai penerbangan paling prestisius di Indonesia. Dalam sejarah penerbangan komersial Indonesia, tahun 1950-an menjadi tonggak bangkitnya dunia penerbangan nasional. Dunia penerbangan komersial mengalami kemajuan cukup pesat dan berlanjut hingga periode-periode selanjutnya.
Jika melihat ke belakang dalam konteks global, hal ini rupanya selaras dengan kemajuan sejarah penerbangan di dunia. Perang Dunia II (1939-1945) telah menstimulus negara-negara modern saling berlomba menciptakan amunisi mutakhir yang salah satunya termanifestasikan dalam pembuatan pesawat- pesawat
militer super canggih. Perang dengan kekuatan udara yang paling menentukan ini telah mempengaruhi laju perkembangan penerbangan baik militer maupun komersial di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia.
Berkembangnya dunia penerbangan pada akhirnya mampu menjadi semacam
"jembatan" yang membuat jarak antar kota, antar negara bahkan antar benua menjadi sangat dekat dan cepat. Hadirnya penerbangan militer sejak kolonial Belanda dan Jepang pada akirnya turut memberi sumbangan pada lahirnya kekuatan udara bangsa Indonesia. Adapun berkembangnya penerbangan komersil juga telah meningkatkan arus mobilitas horizontal yang kian meluas, tidak hanya tingkat lokal, nasional, tetapi juga global.
Relasi dan konektivitas sosial, politik, ekonomi dan budaya semakin terbentuk luas. Hubungan titik satu dan titik lain yang dulunya cukup sulit, kini semakin mudah. Geografis atau belahan dunia yang awalnya terasa jauh kini layaknya
"teras" di rumah sendiri seiring lahirnya dunia penerbangan baik militer maupun komersil.(Wijaya,Candra,2024,Laporan kegiatan diklat penerbangan,palembang batch VI)
11
B. SEJARAH PERUSAHAAN
1. Sejarah Gapura Angkasa
PT Gapura Angkasa merupakan perusahaan patungan yang didirikan pada tanggal 26 Januari 1998 oleh tiga BUMN yaitu PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (45,62%), PT Angkasa Pura I (Persero) (7%) dan PT Angkasa Pura II (Persero) (46,62%), yang bergerak dibidang usaha jasa ground handling dan kegiatan usaha lainnya yang menunjang usaha penerbangan di bandar udara. Permintaan untuk kegiatan operasional di sektor aviasi mengharuskan maskapai penerbangan untuk menyediakan layanan Beroperasi yang cepat dan akurat tanpa mengabaikan keamanan. PT Garuda Indonesia selaku maskapai penerbangan nasional milik Indonesia selama ini melakukan proses operasional maskapai secara mandiri mulai dari pre flight hingga post flight. Pada saat itulah didirikan PT Gapura Angkasa untuk menjalankan proses ground handling agarGaruda Indonesia dapat berfokus pada operasional pesawatGapura Angkasa melayani lebih dari 50 bandara di seluruh Indonesia, layanan yang ditawarkan oleh Gapura Angkasa juga bermacam-macam, tidak hanya layanan ground handling, Gapura Angkasa juga menawarkan airport lounge, aviation security, airport assistance, cargo & warehouse, dan learning centre. Sebagai perusahaan ground handling &
airport services terbesar di Indonesia, saat ini customer dari Gapura Angkasa bukan Garuda Indonesia saja, di CGK Gapura Angkasa melayani maskapai domestic dan international dengan total 18 maskapai. international dan 5 maskapai domestic. Gapura Angkasa memiliki banyak penghargaan, beberapa diantaranya adalah “the most innovated improvement of the year” dari Garuda Indonesia, “best on time performance” dari Citilink, dan untuk cabang Cengkareng menduduki peringkat ke-2 dalam “the best delight communication in daily activities” oleh Gapura Angkasa, dan masih banyak lagi apresiasi dan penghargaan Gapura baik dari maskapai domestik maupun internasional. (https://digilib.sttkd.ac.id/1900/1/BAB%20I%20-%20SITI%20NUR
%20KHALIFAH.pdf)
2. Sejarah PT Umika Mardiwa jaya
Umika Trans Training Center (UTTC) di bawah naungan PT Umika
Mardiwa Jaya, hadir sebagai lembaga yang berkomitmen untuk
melaksanakan kursus dan pelatihan basic aviasi dan menjadi salah satu
wadah edukasi praktek kerja untuk memenuhi kebutuhan dan tantangan dalam mencetak SDM yang unggul, kompeten yang berbasis digital dan teknologi. dalam hal ini hara pan ke depannya, lulusan UTTC dapat bersaing dan terserap di dunia kerja industri penerbangan serta dapat menjawab tantangan di era globalisasi.
Sebagai wadah edukasi saat ini, UTTC ingin mengembangkan program kursus dan pelatihan lisensi dan sertifikasi berbagai profesi khususnya di bidang Ground Support Equipment, Aviation Security, Aviobridge Operator, Marshaling. Tentunya hali ini menjadi bagian dari strategi pengembangan bisnis melalui program Training Eksternal, On the Job Training dan menjalin kerjasama dengan stake holder yang berkompeten dan praktisi di bidang penerbangan.
Prinsip kami memberikan pembelajaran yang berstandar dalam bentuk materi dan praktek serta meningkatkan kualitas untuk mempersiapkan kebutuhan SOM di dunia penerbangan yang ada di Indonesia.
.(Wijaya,Candra,2024,Laporankegiatan diklat penerbangan,batch VI)13
C. Profil PT. Umika Mardiwa Jaya
PT. Umika Mardiwa Jaya adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa kursus dan pelatihan kerja belisensi dan bersertifikasi.
Founder : Yayuk Agustina S.Pd
Alamat Operasional : Jl. Kolonel Sulaiman Amin ruko 99, Kota Palembang
Tahun berdiri : 01 Desember 2020
Izin KEMENKUMHAM : AHU-0018176.AH.01.01.TAHUN 2021 Izin SIUP : 511.3/SIUP/081/SKR/2021
NIB : 1205000632725
Nomor Telepon : +6285379838991
Email : [email protected]
Facebook : Kami umika mardiwa jaya
Instagram : @umjsolusi
D. Ground Hadling
1. Pengertian Ground Handling
Ground handling pesawat adalah aktivitas perusahaan penerbangan yang berkaitan dengan pelayanan terhadap para penumpang. Bagian tersebut meliputi penanganan bagasi, kargo, peralatan pembantu mobilitas selama berada di bandara mulai dari keperluan keberangkatan (departure) dan kedatangan (arrival).
Istilah lain dari ground handling adalah tata operasi darat ada juga yang menyebutnya ground service yang disediakan oleh perusahaan pihak ketiga untuk menangani segala keperluan penumpang. Meskipun tidak ikut mengudara, staff ground handling mempunyai peran yang sangat penting. Tanpa adanya mereka, maka maskapai akan kewalahan untuk menangani penumpang yang jumlahnya cukup banyak.
2. Tugas dan Tanggung Jawab Ground Handling Pesawat
Ground handling mempunyai tugas yang sangat penting. Mulai dari memenuhi kebutuhan penumpang untuk membantu proses check-in pekerjaan tersebut tetaplah harus dilakukan dengan baik. Coba saja kalian bayangkan, kalau ada pesawat yang lupa diisi bahan bakarnya bagaimana dengan nasib ratusan penumpang? Ya, peran ground handling benar-benar dibutuhkan di sini untuk memastikan hal tersebut tidak terjadi. Mereka harus disiplin melakukan tugasnya dengan baik demi kelancaran penerbangan pesawat.
15