BAB. I
KLASIFIKASI KOMPAS MAGNET
1. Sifat – sifat jarum magnet dan prinsip Kerja Kompas Magnet 1.1. Sifat sifat jarum magnet:
a. Mempunyai gaya tarik terhadap baja dan besi
b. Gaya tarik terkuat terdapat di ujung jarum yang disebut kutub.
c. Jika jarum magnet berputar bebas, maka arah garis penghubung kutub – kutub disebut poros magnet mengarah ke arah Utara Selatan magnet.
Kutub yang mengarah ke Utara disebut kutub Utara dan yang mengarah ke Selatan disebut kutub Selatan.
d. Jika dua magnet saling mempengaruhi, maka kutub yang senama akan saling tolak menolak sedangkan kutub – kutub yang tidak senama saling tarik menarik satu sama lain.
e. Pengaruh magnet terhadap jarum magnet lain diatur dalam hukum coulom.
1.2. Prinsip Kerja Kompas Magnit :
Prinsip kerja kompas magnit pada dasarnya sangat sederhana, yaitu : Apabila suatu batangan magnit berdiri bebas maka batangan magnit tersebut akan mengarah ke arah kutub-kutubnya. Dasar itulah yang dipakai manusia sebagai acuan / dasar pembuatan kompas magnit. Contoh dari keterangan di atas ( gambar 1) sebuah batang magnit diikat benang di bagian tengah sehingga seimbang, kemudian benang tersebut diangkat sehingga batang magnit akan tergantung (berdiri bebas), maka batangan magnit tersebut akan menunjuk ke arah kutub-kutubnya. Untuk lebih memahami prinsip tersebut akan diuraikan tentang fungsi bagian kompas magnit.
2. Jenis – jenis Kompas magnet
Alat – alat untuk menentukan jurusan dan mengukur sudut dalam bidang datar dalam lapangan navigasi alat ini disebut pedoman atau kompas, dan merupakan alat yang paling penting yang berguna untuk menentukan haluan kapal dan mengambil baringan atas benda benda berguna untuk penentuan tempat kapal ditengah laut.
Pada dasarnya dibedakan atas 2 macam, yaitu : 1. Kompas Magnit dan
2. Kompas gasing
Dalam pembahasan ini alat yang tersebut pada sub 2 akan diuraikan lebih lanjut, tetapi pada dasarnya alat ini bekerja atas sebuah benda yang dibalingkan sangat cepat dengan gaya listrik. Dengan balingan yang sangat cepat poros gasing menunjukan kearah derajat utara – selatan sejati.
Pada sub 1 yang akan dibahas lebih lanjut bekerja atas dasar suatu jarum magnit yang digantungkan pada bidang datar (horizontal) yang secara bebas akan mengarah ke Utara Selatan sejati.
Pembagian Kompas
a. Berdasarkan Penempatannya dikapal 1. Kompas dasar.
2. Kompas kemudi
3. Kompas pembantu (kompas sekoci dan lain – lainnya) b. Berdasarkan kontruksinya
1. Kompas Kering 2. Kompas Basah
BAB. II
KOMPAS KERING 1. Kompas Kering
Kompas kering terdiri dari : A. Piringan
B. Tutup kaca
C. Alat penggantungan ( cincin lenja ) D. Ketel Pedoman
A. Piringan Pedoman
Piringan pedoman terdiri atas beberapa jarum magnet yang digantungkan dibawah piringan, piringannya dari almunium atau bahan yang ringan.
Ditengah tengahnya piringan ditempatkan sungkup dibuat lubang lubang kecil utnuk memasang benang – benang sutra. Diatas benang – benang yang menghubungkan pinggir dan sungkup dipasang kain sutra atau kertas yang tepat terbangun lingkaran, atas nama terdapat pembagian – pembagian dalam derajat dan surat.
Gambar 2. Kompas kering D
A
C
B
F E
Bermacam – macam piringan dipergunakan pada kompas kering tetapi yang terkenal adalah type Thompson.
Pada waktu sekarang magnet batang diganti dengan magnet cincin, yang keuntungannya ialah :
1. Umurnya bias diperpanjang 2. Dapat dibuat lebih kuat 3. Lebih tenang
4. Ditempatkan dalam kotak pelampung 5. Gesekan dengan zat cair dapat dihindarkan Syarat – syarat piring pedoman :
1. Peka
Peka artinya jika piringan dibawa dari keadaan seimbang dan setelah dilepaskan akan kembali keadaan semula.
2. Tenang
Tenang artinya piringan piringan tidak mudah didorong keluar dari keadaan seimbang.
Jika kedua syarat piringan pedoman telah dipenuhi maka piringan dinyatakan stabil.
B. Ketel Pedoman (Rumah Pedoman)
Bentuk bulat torak dan dibuat dari juningan, diatasnya ditutup dengan kaca, pada sisi dalam dicat putih dan pada ujungnya dilukis garis hitam yang tegak disebut garis layar yang letaknya harus didalam muka yang sama dengan ujungnya semat pedoman, serta letaknya sejajar dengan lunas linggi
C. Alat penggantungan (cincin lenja)
Gambar 3. Piringan Kompas Kering
Ketel duduk pada dua tanduk (tap) dalam cincin lenja yang juga digantungkan dengan dua tandu pada rumah pedoman. Garis garis tersebut harus mendatar dan berpotongan satu sama lain atas sudut 90º.
D. Tutup kaca
Jika ketel diam tutup kaca harus dalam keadaan mendatar E. Kaca Baur
F. Semat
Gambar 4. Bagian Kompas Basah 1. Ketel Pedoman
Bentuk bulat torak dan dibuat dari kuningan, diatasnya ditutup dengan kaca, pada sisi dalam dicat putih dan pada ujungnya dilukis garis hitam yang tegak yang disebut Garis layar yang letaknya harus dalam muka yang sama dengan ujung semat pedoman serta letaknya sejajar dengan lunas dan linggi.
Syarat – syarat ketel :
1. Tidak boleh mengandung magnetis.
2. Jika ketel diam tutup kaca harus dalam keadaan mendatar 3. Ketel harus mudah mengayun dan tidak menyentuh dimana –
mana.
4. Semat harus berdiri tegak tepat ditengah – tengah ketel
5. Ujung semat harus terletak dititik potong penggantungan ketel pedoman pada cincin lenja dan cincin lenja pada rumah pedoman
1. KOMPAS
6. Titik putar pesawat baring harus tegak lurus diatas ujung semat pedoman, jika tidak akan terjadi salah baringan.
7. Garis layer harus dalam keadaan benar.
2. Piringan Pedoman
Piringan pedoman terdiri atas beberapa jarum magnet yang digantungkan dibawah piringan, piringannya terbuat dari aluminium atau bahan yang ringan, ditengah piringan ditempatkan sebuah sungkup dan dipinggirnya dibuat lubang – lubang kecil untuk menempatkan benang sutra. Diatas benang sutra dipasang kain sutra atau kertas yang tepat terbangun lingkaran, dimana terdapat pembagian – pembagian derajat dan surat
3. Batang Magnet
Batang magnet ini berfungsi mempunyai kekuatan yang mengarahkan arah utara dan selatan kearah kutub
4. Pelampung
Mengapung dan menjaga kestabilan posisi dari piringan pedoman serta menghindari kerusakan akibat jarum - jarum yang berat dan besar sehingga tuntung semat akan rusak.
5. Pemberat
Dibuat dari timbel gunanya agar kompas lebih stabil 6. Cairan
Cairan ini berisi alkohol (16 s/d 25 %) dan air suling (84 s/d 75 %) yang berguna untuk merendam gerakan dan getaran yang dapat mempengaruhi kompas, dengan menggunakan alkohol Cairan tidak mudah membeku dan dengan air suling tidak mudah berkarat, cairan
Gambar 5. Piringan
tidak mudah menguap. Untuk menghindari cat dalam kompas terkelupas, digunakanlah cat yang khusus untuk ketel dan piringan.
7. Cincin
Cincin ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan, supaya kompas selalu dalam posisi tegak.
8. Batang Semat
Tempat kedudukan pelampung dan batangan magnit
3. Keuntungan dan kerugian menggunakan kompas basah Keuntungan :
A. momen magnet yang besar
B. momen perlambatan yang besar menyebabkan ketenangan yang besar
C. peredaman yang berguna bagi bantingan benda cair D.dapat digunakan dikapal – kapal kecil
kerugiannya :
a. perbaikan sulit
b. kesukaran ketika menimbal c. harga menimbal
d. jika terjadi gelembung – gelembung udara maka : 1. pedoman tidak tenang
2. terjadi pengembunan pada tutup kaca sehingga sukar dibaca kompas magnet tidak dapat digunakan didaerah kutub karena gaya pengaruh dikutub adalah nol.
BAB. III
CARA MEMBARING DENGAN KOMPAS
1. SEMAT
Alat ini baik untuk membaring matahari waktu mengambil azimuth dengan perantara bayangan diatas piringan pedoman, oleh karena itu alat ini disebut semat bayangan.
Dalam hal ini azimuth = bagian derajat yang jatuh sama dengan bayangan smat + 180º . (Lihat gambar)
Sebagai persyaratan , maka alat ini harus duduk tegak lurus diatas sungkup pedoman jadi segaris dengan semat pedoman.
(gambar 7)
Untuk mengetahui apakah semat bengkok atau tidak harus diputar – putar dan dilihat apakah bayangan dipinggiran berubah pembacaannya atau tidak. Jika tidak berubah berarti semat itu baik. Selain dari pada mengambil arah matahari, pesawat ini juga dapat dipergunakan untuk membaring benda benda didarat dengan menincar dibelakangnya semat sehingga semat dan benda yang dibaring jadi satu, dan pada saat itu kita melihat pada piringan pedoman dimana dapat dibaca berapa arahnya.
2. PESAWAT BARING PENJERA
Pesawat ini juga disebut pesawat penjera celah dan penjera benang.
Lihat (gambar )
a. Semat b. Tutup kaca c. Ketel pedoman d. Semat
Cara mempergunakannya : Berdirikan penjera dan putar pesawat sedemikian sehingga jika dibidik melalui celah, benang dan benda yang dibaring jadi satu.
Bacalah pada piringan pedoman derajat yang jatuh sama dengan benang, itulah hasil baringan.
Syarat – syarat yang harus dipenuhi :
a. Kedudukan penjera benang dan penjera celah harus sejajar dan segaris .
b. Bidang penjera harus tegak lurus dipusat tutup kaca dan melalui tuntung semat pedoman.
c. Bagaimanapun cermin segi empat diputar selalu garis tegak lurus bidang cermin jatuh sama atau sejajar dengan bidang penjera.
d. Jika syarat tersebut diatas dipenuhi, maka bidang penjera dapat jatuh sama dengan baringan.
3. PESAWAT BARING THOMSON
Bagian – bagian pesawat thomson R = tangka
A = water pas
L = lensa dalam bumbung M = prisma
P = pegas S = semat
P = sinar matahari yang datang
Gambar. 9 Gambar. 8
Cara mempergunakannya :
Putarlah pesawat dan prisma sedemikian sehingga gambaran yang ditangkap oleh prisma dari benda yang akan dibaring, dapat dilihat diatas piringan pedoman. Dengan memutar prisma benda – benda yang tingginya 30º - 40º masih dapat dibaring dengan seksama. Sekali –kali jangan membaring benda yang tingginya lebih besar dari 40º , oleh karena makin tinggi benda semakin besar kesalahannya. Dalam prisma terdapat panah yang harus ditujukan pada benda yang akan dibaring waktu mengambil baringan benda.
Lensa pesawat baring thomson harus baik dengan persyaratan : 1. Lensa harus tegak lurus pada sumbu optis
2. Fokus harus tepat pada pembagian skala pinggir 3. Lensa harus tegak lurus
Cara menyelidikinya
Baringlah benda angkasa yang tingginya 20 – 30 derajat lalu dicatat. Kemudian alat pembaring digoyang dan dibaca pula. Jika baringan yang diperoleh tidak berubah ini berarti baik.
Prisma harus baik, caranya dengan menyelidiki :
Baringlah benda yang tegak lurus yang tingginya berbeda . jika baringan – baringan yang diperoleh dengan tinggi yang berbeda tidak berubah, ini berarti baik.
Kegunaan prisma thomson adalah untuk memantulkan berkas cahaya yang datang dari sumber cahaya.
4. PELORUS
Pelorus adalah alat pembantu pedoman dan pesawat baring. Alat ini dibuat dari kuningan atau tembaga, berbangun lingkaran dan dibagi dari 0 º sampai 360 º.
Garis tengahnya 20 – 25 cm , dipasang tetap dibagian kiri atau kanan anjungan denga garis U – S sejajar denga lunas kapal diatas mana dipasang pesawat baring. Dalam hal ini baringan pedoman adalah sama dengan haluan ditambah atau dikurangi dengan baringan pelorus kapal dengan patokan sebagai berikut
a. jika benda berada disebelah kanan kapal, maka:
BP = haluan + baringan pelorus
b. jika dikiri, maka BP = haluan – baringan pelorus
BP= baringan pedoman
Gambar. 10 pelorus
BAB.IV
ARAH MATA ANGIN DALAM KOMPAS 1. Pembacaan Arah mata angin
Pembacaan arah pada kompas magnit dilakukan dengan menyatukan angka derajat yang dikehendaki dengan garis layar yang ada di peta. Garis layar adalah garis hitam pada bagian atas ketel pedoman yang berfungsi sebagai garis haluan / lunas kapal (arah kapal).
Angka derajat tertulis pada piringan pedoman. Piringan pedoman ialah sebuah piringan bergambar mawar pedoman yang merupakan gambaran cakrawala setempat. Garis utara selatan dan garis timur barat berpotongan tegak lurus melalui titik pusat mawar pedoman menjadi empat kuadrat.
2. Pembagian Arah Mata Angin
Arah surat Utama adalah arah Utara , Timur, Selatan dan Barat dan dinamakan Surat Induk,. Surat antara induk adalah Timur laut , Barat laut, Tenggara, dan Barat Daya.
Tiap-tiap kuadrat dibagi menjadi delapan bagian atau delapan surat, jadi 1 ( satu ) surat = 11 o 15’. Oleh karena itu mawar pedoman adalah sebuah lingkaran yang mempunyai pembagian derajat dari 0 o sampai dengan 360 o, maka mawar pedoman ini terbagi menjadi 32 surat sehingga 8 surat sama dengan 90 º.
90 º/ 8 = 11 º 15’
Untuk melengkapi penjelasan di atas berikut ini adalah gambar mata angin pada mawar pedoman (lihat gambar 3).
Keterangan : 0 1. Utara = 0 o
1 2. Utara di kiri jarum pendek = 11 ¼ o 2 3. Utara timur laut = 22 ½ o
3 4. Timur laut di kiri jarum pendek = 33 ¾ o 4 5. Timur laut = 45 o
5 6. Timur laut di kiri jarum pendek = 56 ¼ o 6 7. Timur timur laut = 67 ½ o
7 8. Timur di kanan jarum pendek = 78 ¾ o 9. Timur = 90 o
10. Timur di kiri jarum pendek = 101 ¼ o 11. Timur tenggara = 112 o
12. Tenggara di kanan jarum pendek = 123 ¾ o 13. Tenggara = 135 o
14. Tenggara di kiri jarum pendek = 146 ¼ o 15. Selatan tenggara = 157 ½ o
16. Selatan di kanan jarum pendek = 168 ¾ o 17. Selatan = 180 o
0 18. Selatan di kiri jarum pendek = 108 ¾ o 1 19. Selatan barat daya = 225 o
2 20. Barat daya di kanan jarum pendek = 213 ¼ o 3 21. Barat daya = 225 o
4 22. Barat daya di kiri jarum pendek = 236 ¼ o 5 23. Barat barat daya = 347 ¾ o
6 24. Barat di kanan jarum pendek = 258 ¾ o 7 25. Barat = 270 o
8 26. Barat di kiri jarum pendek = 288 ¼ o 9 27. Barat barat laut = 292 ½ o
10 28. Barat laut di kanan jarum pendek = 303 ¾ o 11 29. Barat laut = 315 o
12 30. Barat laut di kiri jarum pendek = 326 ¼ o 13 31. Utara barat laut = 337 ½ o
14 32. Utara di kanan jarum pendek = 348 ¾ o
BAB. V
PROSEDUR PERHITUNGAN DEVIASI DIKAPAL
HALUAN
Haluan adalah sudut yang di bentuk antara arah utara dengan luas arah kapal. Pada umumnya haluan dihitung dari utara ke arah timur sampai 360o , sesuai dengan arah putaran jarum jam. Penulisan atau penyebutan dari haluan dapat dinyatakan dengan cara menyebutkan langsung berapa derajatnya.
Gambar 4. Sudut haluan Contoh :
10 o = Sepuluh derajat
235 o = Dua ratus tiga puluh lima derajat
Atau dengan penyebutan arah mata angin diikuti berapa nilai derajatnya.
Macam haluan :
Pada umumnya kegiatan di kapal yang berkaitan dengan haluan adalah kegiatan pokok yang meliputi persiapan, pelaksanaan dan pengakhiran. Kegiatan persiapan dilakukan di atas peta dan dilaksanakan di atas kompas. Oleh karena itu haluan kapal dibagi menjadi haluan di atas peta dan haluan di kompas.
Haluan di peta disebut dengan haluan sejati dan haluan di kompas magnit disebut haluan pedoman. Uraian tentang HS dan HP akan dirinci berikut ini.
Kompas magnit yang dibahas terdahulu bekerja berdasarkan medan magnit, sehingga arah yang ditentukan akan dipengaruhi oleh medan magnit yang berada di sekitarnya. Medan magnit yang berada disekitar kompas adalah magnit
besi kapal dan magnit bumi. Pengaruh magnit besi yang ada dikapal disebut dengan deviasi dan pengaruh magnit bumi disebut dengan variasi.
Dari uraian diatas maka mata angin dan haluan dapat dirinci sebagai berikut :
Gambar 5. Macam sudut haluan
Keterangan :
US = Utara sejati HP = Haluan pedoman UM = Utara magnetik V = Variasi
UP = Utara pedoman D = Deviasi HS = Haluan sejati
HM = Haluan magnetik
HS = Haluan sejati ialah haluan yang terbentuk dari arah US dengan arah luas kapal, haluan ini tidak terpengaruh oleh magnit apapun dan haluan ini merupakan garis yang ada tertulis di peta.
HM = Haluan magnetis ialah haluan atau sudut yang terbentuk antara US dengan arah lunas kapal. Haluan ini terpengaruh oleh magnit bumi.
Haluan ini merupakan arah derajat di kompas magnit yang diletakkan di atas kapal kayu yang tidak mengandung magnit.
HP = Haluan pedoman ialah haluan sudut yang terbentuk antara UP dengan arah lunas kapal, haluan ini terpengaruh oleh adanya magnit bumi dengan magnit besi kapal dan haluan ini merupakan arah derajat di kompas magnit yang diletakkan di atas kapal besi.
Untuk memperoleh angka derajat dari uraian diatas dapat dirumuskan dengan cara yang sederhana. Perhatikan gambar diatas.
Rumus:
HS = HM + V
= HP + (V +D) HM = HS – V
= HP + D HP = HS – (V+D)
= HM – D
Penggunaan rumus ini dapat digambarkan dengan alur denah sebagai berikut
Gambar 6. Alur penggunaan rumus haluan
Kompas Kemudi dan Kompas Baring
Kompas magnit pada penggunaannya dibagi menjadi kompas kemudi, kompas standar dan kompas baring. Masing-masing kompas tersebut berfungsi sesuai dengan namanya.
1 1. Kompas kemudi ialah kompas yang digunakan untuk mengemudikan kapal yang diletakkan di depan kemudi.
1 2. Kompas standar ialah kompas yang digunakan untuk mengkalibrasi kompas, kompas standar diletakkan di atas ruang kemudi yang jauh dari pengaruh magnit.
2 3. Kompas baring ialah kompas yang digunakan untuk membaring dan diletakkan di kapal pada suatu tempat yang mudah untuk melihat benda yang berbaring dan dilengkapi dengan alat baring.
BAB.VI
PROSEDUR PERAWATAN KOMPAS MAGNET PROSEDUR MERAWAT KOMPAS DIKAPAL
Prosedur Perawatan Kompas
1. Kompas harus ditempatkan sedapat mungkin ditengah – tengah kapal dan sejauh mungkin dari badan kapal yang sebenarnya sehubungan dengan sifat magnet kompas.
2. Kompas harus ditempatkan sejauh mungkin dari masa besi yang tegak seperti tabung angin , cerobong dan lain – lain.
3. Kompas harus ditempatkan sejauh mungkin dari besi lembek yang tak terputus – putus, misalnya dek , balok dek, dinding dan lain – lain.
4. Jika tidak memungkinkan untuk menempatkan kompas pada tempat yang terlindung, dibuatkan kotak dari bahan kuningan untuk menghindari pengaruh buruk.
5. Kompas harus mudah dilihat dan disekelilingnya bebas.
6. Hindarkan kompas dari yang membuat pengaruh terhadap cairan kompas yang mengakibatkan adanya gelembung udara dan pengembunan yang mengakibatkan sulit untuk melihat pembacaan skala pada piringan pedoman.