• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Permasalahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Permasalahan"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

Namun debitur yang tidak dapat melunasi utang-utangnya apabila dinyatakan pailit disebut debitur pailit, menurut Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Kepailitan mereka adalah “debitur yang dinyatakan pailit atas perintah pengadilan”. 40 Tahun 2014 Tentang Perusahaan Perasuransian Berdasarkan Putusan Pengadilan Dinyatakan Pailit Karena Hak Kreditur, menarik untuk dibahas dalam skripsi yang berjudul “PERLINDUNGAN PEMEGANG POLIS ASURANSI PADA PERUSAHAAN ASURANSI BERDASARKAN KEPUTUSAN PENGADILAN YANG MEMNYATAKAN BANKUP” . Solusi apa yang diambil pemegang polis terhadap perusahaan asuransi yang bangkrut sehubungan dengan haknya?

Untuk menganalisis akibat hukum bagi kreditur perusahaan asuransi berdasarkan putusan pengadilan yang dinyatakan pailit. Untuk menganalisis upaya polis asuransi pada perusahaan asuransi yang telah dinyatakan pailit haknya. Manfaat teoritis dari penelitian ini dapat menambah literatur mengenai hak-hak kreditur terhadap perusahaan asuransi berdasarkan putusan pengadilan yang dinyatakan pailit.

Orisinalitas Penelitian

Manfaat praktis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak terkait hak asasi manusia. Perlindungan hukum apa yang dapat diberikan kepada pemegang polis asuransi apabila perusahaan asuransi tersebut mengalami kebangkrutan? Kedudukan nasabah asuransi pailit diprioritaskan dan perlindungan hukum yang diberikan berupa perlindungan hukum preventif dan represif.

Penelitian pertama mengenai perlindungan terhadap agen asuransi yang dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan bahwa agen tersebut mempunyai status sebagai kreditur istimewa dalam proses kepailitan perusahaan asuransi. Penelitian yang kedua mengenai kedudukan tertanggung apabila terjadi kebangkrutan perusahaan asuransi, yaitu kedudukan tertanggung dalam kebangkrutan diutamakan, dan perlindungan hukum berupa perlindungan hukum preventif dan represif. Penelitian yang dilakukan peneliti mengenai akibat bangkrutnya perusahaan asuransi terhadap pemegang polis, karena dalam Undang-undang Asuransi kedudukan tertanggung lebih tinggi dibandingkan dengan hak pihak lain, membedakan penelitian asli.

Tinjauan Pustaka 1. Kerangka Teori

Hukum harus pasti. Tuntutan keadilan dan kepastian merupakan bagian permanen dari cita-cita hukum, dan berada di luar kontradiksi pendapat politik. Namun tidak hanya utilitas itu sendiri yang bersifat relatif, hubungan antara ketiga unsur cita hukum tersebut juga bersifat relatif. Sejauh mana utilitas lebih kuat daripada keadilan atau keamanan lebih penting daripada utilitas merupakan pertanyaan yang harus diputuskan oleh sistem politik.17.

Pandangan Gustav Radbruch ini secara umum dimaknai bahwa kepastian hukum tidak boleh diutamakan pemenuhannya dalam sistem hukum positif mana pun, seolah-olah kepastian hukum harus didahulukan baru kemudian keadilan dan kemaslahatan. Gustav Radbruch kemudian meralat teorinya bahwa ketiga tujuan hukum adalah sama.18 Menurut Gustav Radbruch, seharusnya hukum mengandung 3 (tiga) nilai identitas, yaitu sebagai berikut: 19. Friedman, Legal Theory, diterjemahkan oleh Muhamed Arifin dengan judul Teori dan Filsafat Hukum-Idealisme Filsafat dan Permasalahan Keadilan (Perjanjian II), Raja Grafindo Persada, Jakarta, Second Press, 1994, halaman 42-45.

Dengan kebebasan kita bisa mengasosiasikan kepastian, keadilan, persamaan dan lain-lain daripada mengikuti Radbruch.20 Menurut Utrecht, kepastian hukum mengandung dua makna, yaitu pertama adanya aturan umum yang membuat individu mengetahui tindakan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua, berupa kepastian hukum bagi individu terhadap kesewenang-wenangan pemerintah, karena dengan adanya aturan umum individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dikenakan atau dilakukan oleh negara terhadap individu. Kepastian hukum muncul dari ajaran dogmatis hukum, berdasarkan aliran pemikiran positivis dalam dunia hukum, yang cenderung memandang hukum sebagai sesuatu yang otonom, mandiri, karena bagi penganut aliran pemikiran ini, hukum tidak lebih dari sekedar kumpulan aturan. . 20 Sidharta Arief, Meuwissen tentang Perkembangan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum dan Filsafat Hukum, PT Refika Aditama, Bandung, 2007, hal.

Kepastian hukum dicapai dengan adanya hukum yang pada hakikatnya hanya menimbulkan aturan-aturan hukum yang bersifat umum. Sifat umum aturan hukum membuktikan bahwa hukum tidak bertujuan untuk mewujudkan keadilan atau kemaslahatan, melainkan hanya mencari kepastian.

Teori Perlindungan Hukum

Perlindungan hukum merupakan awal lahirnya hubungan hukum, yaitu interaksi antar subjek hukum yang mempunyai relevansi hukum atau mempunyai akibat hukum. Hubungan hukum (rechtsbetrekkingen) menurut Soeroso adalah “hubungan antara dua atau lebih subjek hukum mengenai hak dan kewajiban salah satu pihak dalam hubungannya dengan hak dan kewajiban pihak yang lain”. Hubungan antar subyek hukum dapat timbul antara seseorang dengan orang lain, antara seseorang dengan badan hukum, dan antara badan hukum dengan badan hukum lain26.

Hubungan hukum adalah hubungan yang diatur dengan undang-undang, menurut Peter Mahmud Marzuki ada hubungan hukum privat dan hubungan hukum publik27. Hubungan hukum yang terjalin oleh para pihak sehubungan dengan suatu benda yang termasuk dalam lingkup keluarga dan harta benda adalah hubungan privat. Sedangkan hubungan hukum dalam kerangka hukum keluarga hanya dapat terjadi antara subjek hukum manusia dan badan hukum, baik badan hukum privat maupun badan hukum publik.

Menurut Moch Isnaeni, hubungan hukum bersifat privat, hubungan hukum bersifat personal, karena nuansa kerjasama selalu meramaikan interaksi dalam kehidupan bermasyarakat, guna memenuhi kebutuhan pribadi atau privat setiap orang. Hubungan hukum privat bernuansa kerjasama, artinya ada dua pihak yang mengikatkan diri dalam suatu hubungan hukum kerjasama. Isnaeni (2017, p. 4) mengatakan bahwa ikatan yang mempunyai kekuatan relatif permanen, mengingat ikatan mengikat dilakukan oleh seluruh anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pribadi atau pribadi sebagai suatu gerakan massa, tentu saja memerlukan aturan karena tidak ada aktivitas sosial. hidup tanpa berpedoman pada suatu aturan.29.

Akibat hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh hukum terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh suatu subjek hukum. Akibat hukum adalah akibat perbuatan yang dilakukan untuk memperoleh akibat yang diharapkan oleh pelaku hukum. Hal ini merupakan akibat yang diatur oleh undang-undang, sedangkan tindakan yang dilakukan adalah tindakan hukum, yaitu tindakan yang sesuai dengan hukum yang berlaku30.

Kepailitan

Menurut Ridwan Khairandy, utang adalah “kinerja atau kewajiban debitur dalam suatu perjanjian yang harus dilaksanakan, atau utang dalam arti sempit yaitu utang yang timbul hanya dari perjanjian utang dan piutang”. 33 Menurut Pasal 39 ayat (2) Undang-undang Kepailitan ditentukan: “Sejak tanggal diucapkannya putusan pailit, upah yang terutang sebelum atau sesudah putusan pailit itu merupakan utang harta pailit.” ." Sekurang-kurangnya salah satu dari utang-utang pokok itu dapat dilunasi, menunjukkan dinyatakan pailit apabila terdapat lebih dari seorang kreditor yang salah seorang di antaranya mempunyai utang yang dapat ditagih, sekalipun Undang-undang Kepailitan memperbolehkan permohonan pailit diajukan oleh seorang kreditur. para kreditur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan di atas, namun dalam Pasal 2 ayat dan ayat (5) Undang-Undang Kepailitan menyatakan: Debitur menurut Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Kepailitan, menyatakan: “Debitur adalah orang yang mempunyai utang karena suatu perjanjian atau undang-undang yang pelunasannya dapat dimintakan di muka pengadilan.”

Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2) Kitab Undang-undang Kepailitan, kreditor menetapkan: “Kreditor adalah orang-orang yang mempunyai tagihan berdasarkan perjanjian atau undang-undang yang dapat dilaksanakan di pengadilan.” Harta debitur secara keseluruhan dijadikan jaminan atas suatu utang, yang dikenal dengan asas pari passu pro rata parte, artinya harta itu merupakan jaminan bersama bagi para kreditur dan hasilnya harus dibagikan secara proporsional di antara mereka. kecuali ada kreditor yang sepakat bahwa hukum harus diutamakan dalam menerima pembayaran tagihan.”34. Agar debitur dapat mengajukan pailit dan tidak mengalihkan hartanya, maka ia harus mengajukan penyitaan umum.

Keterikatan umum ini dimaksudkan agar debitur tidak dapat lagi mengalihkan harta benda yang berada dalam kedudukan sita.Pengalihan harta yang disita berarti pemindahannya tanpa hak atau tanpa hak yang dapat dibenarkan.

Kedudukan Pemegang Polis Pada Perusahaan Asuransi Berdasarkan Penetapan Pengadilan Dinyatakan Pailit

Jenis penelitian dalam penelitian hukum ini adalah penelitian hukum normatif, yaitu suatu proses penemuan kaidah-kaidah hukum, asas-asas hukum, dan doktrin-doktrin hukum guna memberikan jawaban terhadap permasalahan hukum yang dihadapi.43 Peneliti menggunakan jenis penelitian normatif karena penelitian ini bersifat penelitian hukum normatif. bertujuan untuk menemukan koherensi yaitu Adakah aturan hukum yang sesuai dengan norma hukum dan adakah norma yang berupa perintah atau larangan yang sesuai dengan asas hukum, dan juga apakah perbuatan seseorang sudah sesuai dengan norma hukum atau asas hukum.44 untuk menemukan kepastian hukum mengenai kedudukan pemegang polis asuransi pada saat perusahaan asuransi dinyatakan pailit. Penelitian ini menggunakan tiga metode pendekatan masalah, yaitu Pendekatan Legislatif dan Pendekatan Konseptual. Pendekatan hukum dilanjutkan dengan mengkaji seluruh peraturan perundang-undangan terkait dengan permasalahan hukum yang sedang ditangani.45 Pendekatan hukum diperlukan untuk menyelidiki lebih jauh kedudukan pemegang polis ketika suatu perusahaan asuransi dinyatakan pailit.

Pendekatan konseptual dimulai dari pandangan dan doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum. Dengan mempelajari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin dalam ilmu-ilmu hukum, maka peneliti akan menemukan gagasan-gagasan yang memunculkan wawasan hukum, konsep-konsep hukum dan asas-asas hukum yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.46. Bahan hukum primer terdiri atas peraturan perundang-undangan, dokumen resmi atau berita acara peraturan perundang-undangan dan keputusan hakim.

Publikasi hukum meliputi buku teks, kamus hukum, jurnal hukum, dan komentar terhadap putusan pengadilan.47 Dalam penelitian ini, bahan hukum sekunder digunakan: buku-buku di bidang hukum, laporan, artikel, dan disertasi. Proses pengumpulan bahan hukum dalam penelitian ini merupakan langkah awal yaitu mencari dan mengumpulkan bahan hukum primer dan sekunder yang berkaitan dengan permasalahan hukum dalam penelitian ini. Menurut Peter Mahmud Marzuki yang mengutip pendapat Philipus M. Hadjon menjelaskan metode deduksi sebagai silogisme yang diajarkan Aristoteles.

Penggunaan metode deduksi dihasilkan dari pengajuan premis mayor (bersifat umum), kemudian premis minor (bersifat khusus) yang menarik kesimpulan dari kedua premis tersebut.48 Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deduksi.

Sistematika Penulisan

Referensi

Dokumen terkait

Guna memberikan perlindungan hukum terhadap pemegang polis atas isi perjanjian asuransi, sebaiknya sewaktu melakukan perjanjian asuransi tersebut adalah para pihak harus sepakat

Adapun judul dalam penelitian Akibat Hukum Pailit Pada Perusahaan Asuransi Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan

Agen asuransi kesehatan menyusun daftar prospek dengan menggunakan  berbagai sumber data, misalnya dari pemegang polis asuransi yang ada, dari agen atau dari perusahaan

Sebagai bahan referensi bagi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Semarang Barat Branch Office dalam hubungannya dengan prosedur penerbitan polis asuransi..

dengan perumusan masalah: pertama, bagaimana akibat putusan pailit terhadap perusahaan asuaransi yang dinyatakan pailit dan kedua, Perlindungan hukum apa yang dapat

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka saya melakukan penulisan skripsi dengan judul “Tanggung Jawab Perusahaan Asuransi terhadap Pemegang Polis Akibat Kerugian yang

Untuk mengetahui bagaimana perlindungan hukum bagi Debitor yang dijatuhi putusan serta merta dalam kepailitan (studi kasus putusan Pengadilan Niaga Nomor:

Di dalam surat permintaan asuransi jiwa (SPAJ) telah dibutuhkan bahwa setiap keterangan yang diberikan oleh calon pemegang polis dan atau calon Tertanggung, oleh agen tidak