Minyak bumi menjadi cairan alam yang terbentuk secara geologis dari sisa-sisa organisme laut dan daratan yang telah terkubur dan terkena tekanan serta panas selama jutaan tahun. Minyak bumi juga dikenal sebagai hidrokarbon cair yang menjadi sumber daya alam dan sangat penting dan menjadi salah satu bahan bakar fosil utama didunia. Minyak bumi terbentuk dari sisa-sisa organisme seperti ganggang, tumbuhan dan plankton yang terkubur didalam lapisan sedimen bumi. Teori pertama pembentukan minyak bumi bahwa sisa-sisa organisme ini mengalami dekomposisi dan terperangkap dalam lapisan sedimen dibawah tekanan dan suhu yang tinggi.
Minyak bumi juga dapat digunakan sebagai salah satu bahan baku untuk memproduksi briket[ CITATION Maa14 \l 1033 ]
Briket pada umumnya suatu gumpalan arang yang terbuat dari bahan lunak yang dikeraskan. Briket dibuat sebagai blok bahan yang dapat dibakar yang digunakan sebagai bahan bakar untuk mempertahankan nyaka api.
Briket dapat dibuat dari berbagai macam bahan baku terutama bahan baku yang mengandung selulosa. Semakin tinggi kandungan selulosa maka akan semakin baik kualitas briket. Beberapa briket yang paling umum digunakan antara lain briket arang, briket batu bara, briket gambut dan briket biomassa.
Briket biasanya diperoleh dari pembakaran (Widarti, dkk., 2016).
Pembakaran reaksi cepat antara bahan bakar dan udara. Proses ini pelepasan energi termal dari bahan bakar. Energi termal ini dilepaskan selama reaksi pembakaran dimana oksigen bereaksi dengan konstituen kimia dari bahan bakar untuk memproduksi air (CO2) dan zat-zat yang lain yang
1
terkandung dalam gas hasil pembakaran melalui pelepasan panas.
Kalorimeter diklasifikasikan menjadi dua jenis, seperti kalorimeter bom dan cup-coffee (Patabang, 2012).
Bom kalorimeter salah satu alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang dibebaskan pada pembakaran sempurna dalam oksigen berlebih suatu materi atau sampel tertentu. Sejumlah sampel ditempatkan pada tabung beroksigen yang tercelup dalam medium penyerap kalor (kalorimeter) dan sampel akan terbakar oleh api listrik dari kawat logam yang terpasang dalam tabung. Kalorimeter jenis ini masih sulit dijumpai, bahkan di suatu universitas disebabkan harganya yang sangat relatif mahal.
Kalorimeter bom lebih banyak dgunakan untuk penentuan nilai kalor bahan bakar padat. (Safitri, dkk., 2018). Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dilakukan percobaan penentuan panas pembakaran untuk menentukan nilai panas pembakaran dari suatu sampel.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada percobaan ini adalah berapa nilai panas pembakaran dari sampel?
C. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk menentukan nilai panas pembakaran dari sampel.
Briket merupakan salah satu sumber energi biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai energi pendamping, minyak bumi dan energi fosil lainnya. Briket dapat dibuat dari bahan baku yang ada di sekitar kita seperti sekam padi, arang, serbuk kayu (sawdust), tongkol jagung, daun-daunan dan lain-lain. Pembuatan briket dilakukan dengan proses pengepresan atau kompresi dengan tujuan untuk meningkatkan nilai kalor per satuan permukaan biomassa yang akan digunakan sebagai perusahaan energi minyak dan gas (Pramudia, dkk., 2018).
Briket adalah bahan bakar yang dipadatkan dan dibentuk dalam cetakan. Briket dapat berbentuk kubus maupun silinder dengan ukuran yang beragam. Briket biasanya terbuat dari sampah-sampah atau limbah yang tidak digunakan lagi. Bahan baku yang paling disarankan adalah sampah organik dari sisa pertanian yang sudah tidak digunakan lagi. Briket sangat cocok digunakan untuk industri kecil dan masyarakat umum karena murah dan pembakarannya cukup bersih (Tjokrowisastro dan Widodo, 1990).
Briket adalah bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif yang mempunyai bentuk tertentu dan merupakan sumber energi yang berasal dari biomassa yang biasa digunkan sebagai energi alternatif. Energi biomassa dengan metode pembuatan briket dengan mengkonversi bahan baku padat menjadi suatu bentuk hasil kompaksi yang lebih mudah untuk digunakan. Briket yang memiliki kualitas yang baik adalah briket yang memiliki kadar karbon yang tinggi dan kadar abu yang rendah,
3
karena dengan kadar karbon yang tinggi maka energi yang dihasilkan juga tinggi (Mariyana dan Rumijati, 2004).
Briket memiliki sifat fisik yang tidak kompak, tidak keras dan tidak padat seperti serbuk gergaji dan sekam tanpa melewati proses pembakaran.
Ada beragam jenis briket dalam aplikasi produk yaitu briket arang serasah yang terbuat dari serasah atau sampah dedaunan, briket serbuk gergaji dan sekam. Setiap jenis briket memiliki keunggulan dan kelemahannya masing- masing. Keunggulan arang sarasah mudah didapat dan dibuat, murah praktis dan ringan. Sedangkan arang sekam memiliki keunggulan yang mana arang sekam memiliki tekstur yang kasar sehingga sirkulasi udara tinggi, parositas yang baik dan menyerap air rendah (Setiyadi, 2008).
Briket terbuat dari bahan lunak yang dikeraskan yang menghasilkan gumpalan arang. Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat-sifat briket arang adalah berat jenis bahan atau berat jenis serbuk arang, kehalusan serbuk, suhu karbonisasi, tekanan pengempaan dan pecampuran bahan baku, penyetakan sistem hidrolik dan pengeringan dalam kondisi tertentu sehingga dapat diperoleh briket yang memiliki bentuk, ukuran fisik dan sifat kimia tertentu (Kurniawan dan Marsoni, 2008).
Proses pembuatan briket partikel zat memerlukan zat perekat sehingga menghasilkan briket padat. Syarat utama dari perekat ialah perekat harus ikut terbakar dan dapat menambah nilai kalor. Adanya pemakain bahan perekat tekanan akan jauh lebih kecil ketika dibandingkan dengan briket tanpa perekat. Sebuah briket menggunakan perekat maka ikatan anatra partikel dari briket akan semakin kuat, butiran arang saling mengikat menyebabkan air terikat pada pori-pori arang. Briket yang paling umum digunakan briket batu bara, briket arang, briket gambut, dan briket biomassa.
Briket juga diartikan sebagai bahan bakar padat yang berassal dari sisa-sisa bahan organik (Widarti, dkk., 2016).
B. Panas Pembakaran
Panas pembakaran atau nilai kalor adalah jumlah energi panas maksimum yang dapat dibebaskan oleh suatu bahan bakar melalui reaksi pembakaran sempurna persatuan massa atau volume bahan bakar tesebut. Analisa nilai kalor suatu bahan bakar dimaksudkan untuk memperoleh data tentang energi kalor yang dapat dibebaskan oleh suatu bahan bakar dengan terjadinya reaksi atau proses pembakaran. Nilai kalor bahan bakar terdiri dari nilai kalor atas (Highest Heating Value) dan nilai kalor bawah (Lowest Heating Value) (Almu, dkk., 2014: 118).
Kalor adalah energi panas yang berpindah dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu lebih rendah. Satuan internasional kalor adalah joule. Pada kalor terdapat tiga cara energi panas berpindah dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu lebih rendah yaitu dengan cara konduksi, konveksi dan radiasi. Kalorimeter ialah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang dipindahkan ke atau dari suatu benda. Salah satu penggunaan penting dari kalorimeter adalah dalam penentuan kalor jenis zat tertentu. Nilai kalor suatu bahan bakar adalah jumlah dari energi panas maksimum yang dilepaskan suatu bahan bakar pada suatu reaksi pembakaran sempurna per satuan massa atau volume bahan bakar tersebut.
Analisis nilai kalor suatu bahan bakar bertujuan untuk memperoleh data energi panas yang dapat dikeluarkan bahan bakar pada saat reaksi atau pembakaran (Tjokrowisastro dan Widodo, 1990).
Teknik umum yang dikenal sebagai "metode campuran" yaitu sampel suatu zat dipanaskan hingga suhu tinggi lalu diukur secara akurat dan dengan cepat di tempatkan pada air dingin dalam kalorimeter. Inti dari kalorimetri adalah untuk "menjebak" panas yang masuk atau keluar dari sistem dan mendapatkan ukuran kuantitatifnya, dalam satuan Joule. Kalorimeter (air dan wadah) akan memiliki kapasitas kalor tertentu (Kkal) yang akan memiliki satuan J/˚C atau kJ/K. Pertukaran energi adalah dasar untuk sebuah teknik yang dikenal sebagai kalorimetri. Kalorimetri merupakan proses pengukuran panas yang bertukar secara kuantitatif menggunakan alat yang disebut dengan calorimeter. Bagian–bagian kalorimeter terdiri dari termometer, pengaduk, penutup, kalorimeter dan bejana luar (Nuraini, 2022).
C. Bom Kalorimeter
Kalorimeter bom adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor (nilai kalori) yang dibebaskan pada pembakaran sempurna (dalam O2
yang berlebih) suatu senyawa bahan makanan dan bahan bakar. Sejumlah sampel diletakkan pada tabung yang beroksigen yang tercelup dalam medium penyerap kalor (kalorimeter) dan sampel akan terbakar oleh api listrik dari kawat logam yang terpasang didalam tabung. Terdapat berbagai macam kalorimeter bom yaitu kalorimeter bom adiabatik, kalorimeter bom isotermal dan klorimeter bom bomb. kalorimeter bom adiabatik merupakan alat yang tidak memungkinkan panas untuk masuk atau keluar dari kalorimeter. Alat ini biasa digunakan untuk mengukur panas yang dilepaskan atau diserap oleh suatu reaksi kimia dengan menggunakan prinsip kalorimetrinya. Kalorimeter bom isotermal merupakan suatu alat yang memungkinkan panas untuk masuk atau keluar dari kalorimeter. Alat ini biasa digunakan untuk mengukur panas yang dilepaskan atau diserap oleh
suatu proses fisika. Kalorimeter bomb merupakan alat yang biasa digunakan untuk mengukur panas yang dilepaskan oleh suatu reaksi kimia yang terjadi dalam suatu wadah tertutup (bomb) (Arsyad, 2021).
Reaksi kimia yang melibatkan pembakaran, penentuan kalor reaksi dilakukan secara tidak langsung dalam alat yang disebut bom kalorimeter.
Pengukuran kalor reaksi dengan kalorimeter bom dilakukan pada volume tetap sehingga perubahan yang terjadi bukan ∆H melainkan ∆U. Kalorimeter bom terdiri atas bejana yang berdinding tebal dan memiliki termometer, kawat penghantar listrik, pengaduk dan bom yang terbuat dari bahan baja yang berfungsi untuk melangsungkan reaksi pembakaran. Dalam bejana kalorimeter, bom yang telah diisi dengan sampel pereaksi dan oksigen direndam dalam air yang massanya telah diketahui. Reaksi pembakaran dalam bom kalorimeter dimulai dengan pemicuan arus listrik yang dialirkan melalui kawat penghantar. Kalor reaksi yang terbentuk diserap oleh air perendam bom dan alat kalorimeter lain, sehingga suhu air yang ada dalam
bejana kalorimeter akan naik
(Rusman, 2018).
Gambar 1.1: Rangkaian bom kalorimeter (Sumber: Dokumentasi Praktikum)
Prinsip kerja kalorimeter bom pada volume konstan, yaitu pada waktu molekul-molekul bereaksi secara kimia, kalor akan dilepas atau diambil dan perubahan suhu pada fluida kalorimeter diukur. Bejana ditutup rapat,
volumenya tetap dan tak ada kerja tekanan-volume yang dilakukan.
Percobaan pada volume tetap, sulit dilakukan karena memerlukan penggunaan bejana reaksi yang dirancang dengan baik sehingga dapat tahan terhadap perubahan tekanan yang besar yang terjadi pada banyak reaksi kimia (Oxtoby, 2001).
D. Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari
Aplikasi kalorimeter dalam kehidupan sehari-hari adalah setrika listrik, rice cooker, microwave, pengasap ikan, pemanas air listrik dan lain lain. Alat-alat itu mempunyai prinsip kerja yaitu energi listrik yang diubah menjadi energi kalor. Seperti kalorimeter, yang mempunyai prinsip energi listrik diubah menjadi energi kalor dan diukur menggunakan kalorimeter sehingga energi listrik, energi kalor dan nilai kesetaraan kalor-listrik dapat dihitung (Almu, dkk., 2014:
118).
Fenomena yang berkaitan dengan proses irreversible, yaitu sabagai berikut:
1. Bila kita menggosokan kedua telapak tangan, maka kedua telapak tangan kita biasanya akan menjadi panas. Hal ini kalor/panas yang dihasilkan melalui kerja yang kita lakukan. Proses ini bersifat irreversibel karena panas yang dihasilkan tidak bisa dengan sendirinya melakukan kerja dengan menggosokan kedua tangan.
2. Pada gelas atau cangkir, bila kita jatuhkan maka gelas atau cangkir tersebut akan pecah. Pecahannya ini tidak bisa bersatu dengan seketika. Sehingga dinamakan proses irreversibel.
Fenomena yang berkaitan dengan proses keteraturan menjadi ketakteraturan, yaitu sebagai berikut:
1. Sebalok es berada di dalam panci di atas api. Balok es akan mencair dan suhunya akan terus meningkat sampai menguap. Molekul pada balok es memiliki tingkat keteraturan yang tinggi, yang kemudian terus berubah menjadi tidak teratur karena peningkatan suhu dan perubahan suhu.
2. Batu yang jatuh ke tanah, maka energi kinetiknya akan diubah menjadi energi termal. Energi termal tersebut adalah gerak acak yang tidak teratur dari molekul-molekul, molekul-melekul pada yang jatuh semuanya memiliki kecepatan ke bawah yang sama sebagai tambahan atas kecepatan acak itu sendiri. Sehingga energi kinetik batu yang lebih teratur diubah menjadi energi termal yang tidak teratur ketika menimpa tanah.
Fenomena yang berkaitan dengan proses reversible yaitu sebagai berikut:
Fenomena ini bisa kita jumpai pada mesin carnot. Mesin carnot ini terdiri dari dua proses yaitu isotermal dan adiabatik. Pertama gas diekspansi secara isotermal, kedua gas berekspansi secara adiabatis.
Selanjutnya gas dimampatkan secara isotermal dan lagi dimampatkan secara adiabatis. Sehingga gas dapat kembali ke proses semula (Almu, dkk., 2014: 118).
E. Integrasi ayat
Ayat yang berhubungan dengan percobaan terdapat dalam QS An-Nahl 16:13 yang berbunyi:
َنْوُرّكّذّي ٍمْوَقِل ًةَيٰ َل َكِلٰذ ْيِف ّنِا ٗهُناَوْلَا اًفِلَتْخُم ِضْرَ ْلا ىِف ْمُكَل َاَرَذ اَمَو ۗ ١٣
Terjemahnya:
”dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.”
Tafsir jalalayn menjelaskan bahwa selain yang telah diciptakan oleh Allah di langit dan disediakan untuk manfaat kalian, Dia juga menciptakan berbagai macam binatang, tumbuhan dan benda di muka bumi untuk kalian. Dalam perut bumi, Dia juga menciptakan bahan- bahan tambang yang beraneka warna, bentuk dan cirinya. Semua itu diciptakan untuk kalian manfaatkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda yang jelas dan banyak bagi kaum yang selalu merenungkan hingga mengetahui kekuasaan Sang Pencipta dan kasih sayang-Nya kepada mereka. (Dan) Dia menundukkan pula bagi kalian (apa yang Dia ciptakan) makhluk yang telah Dia ciptakan (untuk kalian di bumi ini) berupa hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan serta lain-lainnya (dengan berlain-lainan warnanya) seperti ada yang merah, kuning, hijau dan lain sebagainya (Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang mengingatnya) mengambilnya sebagai pelajaran.
Secara harfiah memang kita melihat dan merasakan banyak wujud dan jenis benda yang diciptakan Allah SWT. Dibalik itu banyak juga yang tidak tampak dan berupa sifat atau potensi, antara lain seperti energi yang disediakan untuk manusia. Energi itu termasuk suhu dan kalor.
Percobaan ini dilakukan pada hari Kamis, 26 Oktober 2023 pukul 07.00-09.00 WITA di Laboratorium Kimia Fisik Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah bomb kalorimeter, neraca analitik, buret 50 ml, gelas kimia 500 ml, erlenmeyer 250 ml, statif dan klem, corong, pipet tetes dan spatula.
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah aquadest (H2O), indikator MO, kawat platina, natrium karbonat (Na2CO3) 0,007 N dan tisu.
C. Prosedur Kerja
Menimbang kurang lebih 1 gram sampel briket tongkol jagung ke dalam cawan besi. Menyiapkan rangkaian alat bomb kalorimeter dan memasang cawan ke rangkaian bomb kalorimeter. Kemudian, menghubungkan rangkaian bom kalorimeter dengan kawat platina berbentuk V dan mengupayakan kawat menyentuh sampel dan tidak menyentuh wadah. Lalu, memasukkan aquadest sebanyak 1 mL ke dalam
12
bejana bom kalorimeter dan memasang rangkaian penutup pada wadahnya.
Selanjutnya, membuka aliran gas dengan memutar ke arah kanan dan mengisi gas pada wadah bomb kalorimeter dengan memberi tekanan 25-30 atm dengan memutar ke arah kiri dan melepaskan tekanannya. Setelah itu, dimasukkan kurang lebih 2 L aquadest ke dalam jaket bomb kalorimeter dan memasang wadah bomb kalorimeter pada jaketnya, memastikan posisi dalam keadaan tepat. Kemudian, menutup wadah jaket dan memasang karet diatas wadah penutup bomb kalorimeter kemudian menjalankan karetnya dengan memutar ke kanan secara bersamaan menekan tombol ON termometer.
Selanjutnya, mencatat kenaikan suhu dari menit ke 5 sampai menit 24, dan pada menit ke 10 menekan tombol pembakaran (burning). Setelah itu, pada menit ke 24 menekan tombol OFF pada temometer dan menghentikan perputaran karet dengan memutar ke kanan. Lalu membuka penutup lalu mengambil wadah kemudian membersihkan dari air dan membuka aliran gasnya. Membilas seluruh permukaan wadah bomb kalorimeter dengan aquadest kemudian menitrasi hasil pembakaran dengan Na2CO3 0,07 N dengan menggunakan indikator MO. Selanjutnya mencatat volume akhir titrasi dan mengukur panjang kawat yang tersisa. Kemudian, memastikan alat dalam keadaan bersih sebelum dan sesudah digunakan. Dan menghitung nilai panas pembakaran sampel.
No Waktu (menit) Suhu (°C)
1 5 29,517
2 6 29,518
3 7 29,519
4 8 29,520
5 9 29,520
6 10 29,520
7 10.45 29,978
8 11 30,316
9 11.15 30,716
10 11.30 30,922
11 11.45 31,216
12 12 31,435
13 13 31,817
14 14 32,013
15 15 32,089
16 16 32,125
17 17 32,139
18 18 32,144
19 19 32,144
20 20 32,140
21 21 32,136
22 22 32,131
23 23 32,126
24 24 32,120
A. Pembahasan
Nilai panas pembakaran atau nilai kalor adalah jumlah energi panas maksimum yang dibebaskan oleh suatu bahan bakar melalui reaksi pembakaran sempurna persatuan massa atau volume bahan bakar tesebut.
Analisa nilai kalor suatu bahan bakar dimaksudkan untuk memperoleh data tentang energi kalor yang dapat dibebaskan oleh suatu bahan bakar dengan terjadinya reaksi atau proses pembakaran. Nilai kalor bahan bakar terdiri dari nilai kalor atas (Highest Heating Value) dan nilai kalor bawah (Lowest Heating Value) (Almu, dkk., 2014: 118).
Prinsip bom kalorimeter adalah bekerja pada sistem terisolasi yang tidak ada perpindahan, baik energi maupun massa. Hal yang pertama
14
dilakukan pada percobaan ini adalah diisi tabung bom kalorimeter untuk menguji nilai kalor suatu sampel dan kawat sepanjang 10 cm, yang mana kawat ini membentuk huruf V dan hanya menyentuh sampel tanpa menyentuh wadah dari sampel maupun dari dinding tabung bom kalorimeter agar yang terbakar hanya sampel dan tidak mempengaruhi reaksi pembakaran yang terjadi. Pengisian jaket bom kalorimeter dengan 2 liter akuades bertujuan untuk menstabilkan suhu dalam sistem sehingga panas dalam sistem tertutup ini merata pada semua sisi dari bom kalorimeter, disamping itu pula akuades merupakan cairan penghantar listrik yang baik.
Setelah itu tabung bom kalorimeter yang berisi sampel tersebut ditutup rapat lalu diberi gas oksigen pada tekanan 25-30 atm untuk membakar sampel yang digunakan.
Setelah itu dimasukkan ke dalam jaket bom kalorimeter dengan posisi yang sesuai agar larutan tidak tumpah, lalu menyalakan bom kalorimeter tersebut. Proses burning pada menit ke-10 karena untuk mendapatkan pembakaran yang sempurna, sampel harus berada pada lingkungan oksigen yang terkompresi statis didalam bejana tertentu dan bersifat adiabatik.
Setelah selesai, maka bom kalorimeter tersebut dimatikan dan melepaskan gas oksigen yang ada pada tabung bom kalorimeter serta mengeluarkan sisa pembakaran sampel batu bara dan kawat. Sisa sampel tersebut dibilas dengan air agar sisa-sisa hasil pembakaran dapat diambil. Kemudian, dimasukkan ke dalam erlenmeyer lalu dititrasi dengan natrium karbonat (Na2CO3) dan ditambahkan dengan indikator metil orange. Fungsi dari titrasi ini adalah untuk mengoreksi kandungan nitrogen dan sulfur yang ada pada sampel tersebut sedangkan sisa pembakaran dari kawat tersebut dihitung untuk mengetahui selisih dari kawat yang habis terbakar Percobaan ini
sesuai dengan teori Nabawiyah (2010: 46-47), yang menyatakan bahwa Nilai kalor bahan bakar adalah jumlah panas yang dihasilkan atau ditimbulkan oleh suatu gram bahan bakar tersebut dengan meningkatkan temperatur 2 liter air dari 3,500C-4,500C, dengan satuan kalori diproleh nilai panas pembakaran adalah 5,8693 kal/gram. Kata lain nilai kalor adalah besarnya panas yang diperoleh dari pembakaran suatu jumlah tertentu bahan bakar.
Semakin tinggi berat jenis bahan bakar, maka semakin tinggi nilai kalor yang diperolehnya.
Kesimpulan pada percobaan ini adalah panas pembakaran sampel briket adalah 5,8693 kal/gram.
B. Saran
Saran pada percobaan ini adalah sebaiknya pada percobaan selanjutnya digunakan sampel lain yakni sampel briket batu bara untuk dijadikan perbandingan dengan percobaan sebelumnya.
17
Arsyad. Pengenalan Alat-Alat Praktikum Ipa. Bogor: Guapedia. 2021.
Kurniawan dan marsoni, “Studi Mutu Briket Arang dengan Bahan Baku Limbah Biomassa”. Teknik Pertanian 5 no. 1 (2008): h. 48-69.
Ma’arif & Ma’arif, “Kebujakan Perminyakan Nasional: dari Kendali Negara Menuju Kapitalisme Pasar” Administrasi Negara 7, no.1 (2014): h 46-55.
Nabawiyah, “Alat Ukur Kalor dengan Media Kompor Gasifikasi Menggunakan Metode Water Boiling”. Proceeding of Engineering 10 no. 1 (2010):
h. 46-47.
Nuraini, “Korelasi antara Pengukuran Water Boiling Test dan Kalorimeeter Bom Menggunakan Model Regresi”. Proceeding Of Engineering 8, no 5 (2022): h. 83-121.
Oxtoby, “Pembuatan Briket Arang dari Campuran Buah Bintro dan Tempurung Kelapa Manggunakan Perekat Amilium”. Teknik Kimia 18, no 1 (2001): h. 38-51.
Patabang, Daud. “Karakterstik Termal Briket Arang Sekam Padi dengan Variasi Bahan Perekat” Mekanikal 3, no.2 (2012): h 286-292.
Pramudia, Pratama dan setya. “Pengaruh Variasi Bahan Dasar dan Variasi Tekanan terhadap Nilai Kalor dan Temperatur pada Briket Campuran Sekam Padi dan Batu Bara” Teknik Mesin 1, no. 2 (2018): h 1-6.
Rusman. Gas dan Termodinamika: Buku untuk Mahasiswa. Aceh: Syiah Kuala University Press. 2018.
Safitri, Masturi dan edie. “Pengembangan Alat Praktikum Kalorimetr Bom pada Pokok Bahasan Kalor” Physichs Education 7, no.1 (2018): h 44- 48.
Setiyadi. Penanganan dan Pengolahan Sampah. Medan: Niaga Swadaya. 2008.
Tjokrowisastro dan widodo, Kimia Fisika I, Jilid 1 edisi 3, Bandung: Kharisma Putra Utama, 1990.
Widarti, Sihotang dan Sarwono. “Penggunaan Tongkol Jagung Akan Meningkatkan Nilai Kalor pada Briket” Integr.Proses 6, no.1 (2016): h 16-21.