Dalam kehidupan bermasyarakat, adopsi merupakan salah satu solusi bagi keluarga yang tidak dapat mempunyai anak. Praktek pengangkatan anak melalui pengadilan telah berkembang baik di Pengadilan Negeri maupun di negara tersebut. Skripsi ini akan mengkaji permasalahan adopsi yang dilakukan oleh orang tua tunggal atau orang tua yang belum menikah.
Keaslian Penelitian
Sistematika Penilitian
Secara etimologis adopsi atau adopsi berkembang di Indonesia sebagai terjemahan bahasa Inggris dari Adoption atau dalam bahasa Belanda Adoptie dan juga Adoptio dalam bahasa latin yang berarti adopsi. Hilman Adikusuma, S.H., dalam bukunya Hukum Perkawinan Adat menyebutkan bahwa pengangkatan anak adalah pengangkatan anak orang lain oleh orang tua angkat yang resmi menurut hukum adat setempat untuk tujuan positif, demi kelangsungan keturunan atau pemilihan harta rumah tangga.3. Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengangkatan anak adalah tindakan mengambil anak orang lain untuk dipilih, dididik, dicintai, dilindungi dan dipenuhi kebutuhannya agar tumbuh menjadi individu yang berguna bagi bangsa dan negara.
Tujuan Pengangkatan Anak 1. Menurut Hukum Islam
Soerjono Soekanto menyatakan bahwa pengangkatan anak atau pengangkatan anak adalah suatu proses dimana seseorang diangkat untuk menduduki suatu status tertentu, misalnya seseorang mengangkat seorang anak untuk menjadi anggota suatu suku atau seseorang mengangkat seorang selir untuk menjadi isteri yang setara dengan suaminya. dan seterusnya . 4.
Syarat Pengangkatan Anak
Di antara anak angkat dan ibu bapa angkat kedua-duanya mestilah beragama Islam, supaya anak itu kekal dalam agama yang dianutinya. Dari segi nasab, nasab anak tetap dengan bapa kandungnya kerana antara anak angkat dengan ibu bapa angkat sama sekali tidak ada hubungan jantina yang boleh mempunyai hak yang sama seperti anak kandung. Daripada huraian di atas, dapat disimpulkan bahawa menjemput, mengasuh, mengasuh dan mendidik anak-anak yang terbiar demi kepentingan dan faedah anak dengan tidak memutuskan nasab ibu bapa kandung adalah perbuatan yang terpuji dan dianjurkan oleh ajaran Islam, walaupun dalam keadaan tertentu yang tidak ada orang lain yang menjaganya, maka wajib hukumnya bagi mereka yang berkemampuan untuk mencari anak yang dibuang itu mengambilnya dan menjaganya tanpa kepada hubungan jantina dengan kandungnya. ibu bapa.
Akibat Hukum
Budiarto menyebutkan bahwa menurut Hukum Islam pengangkatan anak hanya dapat dibenarkan atau tidak dilarang apabila memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut. Pengangkatan anak dengan pengertian anak tersebut putus hubungan nasab dengan ayah dan ibu kandungnya adalah bertentangan dengan syari’at Islam c. Perubahan yang terjadi dalam pengangkatan anak menurut Hukum Islam adalah perpindahan tanggung jawab pemeliharaan, pengawasan dan pendidikan dari orangtua asli kepada orangtua angkat.
Jenis-Jenis Pengangkatan Anak
Pengangkatan Anak dalam Hukum Islam
Metode pendekatan perkara didasarkan pada analisis putusan Pengadilan Agama Jambi nomor: 0027/Pdt.P/2012/PA.Jmb. Metode pendekatan hukum dilaksanakan dengan menelaah ketentuan hukum yang berlaku dalam perkara tersebut, yaitu Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata).
Sumber Data
Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum.
Metode Pengumpulan Data
Metode Analisis Data
PEMBAHASAN
Tanggung Jawab Orang Tua Angkat Terhadap Anak Angkat
Sedangkan menurut Pasal (171) Kompilasi Hukum Islam (KHI), anak angkat adalah anak yang tanggung jawab nafkah sehari-hari, biaya pendidikan, dan lain-lain dialihkan dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan penetapan pengadilan. . Menurut ketentuan umum konstitusi hukum Islam Pasal 171, anak angkat adalah anak yang tanggung jawab nafkah sehari-hari, biaya pendidikan, dan lain-lain dialihkan dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan penetapan pengadilan. Apabila anak angkat tidak mendapat wasiat dari orang tua angkatnya, maka anak angkat berhak mendapat wasiat wajib paling banyak 1/3 dari harta warisan orang tuanya.
Hal ini sebagaimana tercantum dalam ketentuan KHI Pasal 209 ayat (2) yang berbunyi: “Bagi anak angkat yang tidak mendapat wasiat, maka diberikan wasiat wajib sebesar 1/3 (sepertiga) dari harta warisannya. orang tua angkat.” Dengan pernyataan di atas maka dapat diartikan bahwa kedudukan anak angkat dan anak kandung adalah sama, kecuali dalam hal hak warisnya atas harta peninggalan orang tua angkatnya. Ada anak angkat yang mempunyai hak mewaris dari orang tua angkatnya, namun juga berhak mewarisi harta orang tua kandungnya.
(1) Harta warisan anak angkatnya dibagikan berdasarkan Pasal 176 sampai dengan Pasal 176, sedangkan orang tua angkat yang tidak menerima wasiat mendapat wasiat wajib sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan anak angkatnya. 2) Anak angkat yang tidak mendapat wasiat akan mendapat wasiat wajib paling banyak 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya. Dengan adanya bagian anak angkat dalam harta warisan orang tua angkatnya yaitu 1/3 bagian, hal ini menunjukkan bahwa anak angkat tetap dihormati dalam hukum waris Islam dengan menerima wasiat yang bersifat wajib.
Hakikatnya anak angkat menjadi ahli waris atas harta orang tua angkatnya. Berdasarkan Hukum Adat yang berlaku di Jawa Tengah, anak angkat hanya diperbolehkan mewarisi harta benda dari orang tua angkatnya; Jadi. Pada umumnya anak angkat menjadi ahli waris dari orang tua angkatnya hanya sehubungan dengan harta bendanya, sepanjang mempunyai hak yang sama dengan anak kandung.
Hak Dan Kedudukan Anak Angkat Terhadap Harta Warisan a. Pengertian Anak Angkat Dan Harta Waris
Pengertian anak angkat
Pengangkatan anak tidak memutuskan hubungan darah/kekerabatan antara anak angkat dengan orang tua kandungnya, sehingga hubungan mahram dan saling mewarisi tetap berlaku. Demikian penjelasan Pasal 171 KHI huruf h yang menyatakan bahwa anak angkat adalah anak yang tanggung jawab penghidupannya sehari-hari, biaya pendidikannya, dan sebagainya dialihkan dari orang tua aslinya kepada orang tua angkatnya berdasarkan penetapan pengadilan; Melihat pengertian tersebut dapat pula diartikan bahwa anak angkat di sini sudah menjadi bagian dari keluarga orang tua yang mengangkatnya. Sebagai bagian dari keluarga (anak), ia berhak atas cinta dan kasih sayang orang tuanya seperti orang lain.
Pengertian waris
Dalam Islam ditemukan beberapa istilah untuk menyebut hukum waris Islam, seperti faraid, yurisprudensi, dan hukum waris. Perbedaan nomenklatur ini muncul karena adanya perbedaan arah yang dijadikan pokok bahasan. Pembahasan hukum waris di sini hanya terfokus pada anak angkat, seperti yang telah dikemukakan pada latar belakang di atas, sehingga tidak ada tuntutan hak yang lebih bagi anak angkat selain mendapatkan kasih sayang dari orang tua angkatnya dan menunaikan segala kewajiban yang dimiliki anak terhadap orang tuanya. . .
Namun cinta ini tidak hanya bisa diwujudkan secara moral, tetapi juga secara materi. Sedangkan bagi anak angkat, harus ada kepastian bahwa sesuai dengan ketentuan syariat Islam, anak angkat tidak mendapat warisan dari orang tua angkatnya. Namun anak angkat berhak menerima sebagian harta orang tua angkatnya melalui cara lain.
Anak angkat yang tidak menerima wasiat menerima wasiat menurut undang-undang sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya.
Hak Dan Kewajiban Anak Angkat
Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bersosialisasi dengan anak seusianya, bermain dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya untuk pengembangan pribadi. Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari dan menyampaikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya karena perkembangannya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kesusilaan. Setiap anak yang berada dalam pengasuhan orang tua, wali atau siapapun yang bertanggung jawab atas perlindungannya berhak atas perlindungan dari perlakuan: diskriminasi, eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan dan penganiayaan serta ketidakadilan.
Setiap anak berhak untuk dilindungi dari: pelecehan dalam kegiatan politik, keterlibatan dalam konflik bersenjata, keterlibatan dalam kerusuhan sosial, keterlibatan dalam peristiwa-peristiwa yang mengandung unsur kekerasan dan keterlibatan dalam perang. Setiap anak mempunyai hak untuk dilindungi dari kekerasan, penyiksaan atau hukuman yang tidak manusiawi. Selain hak-hak yang dijamin oleh undang-undang ini, anak atau anak angkat juga mempunyai kewajiban-kewajiban pokok yang harus dipenuhi oleh anak, yaitu:
Dalam ketentuan hukum Jahiliyah, kekerabatan sebagai penyebab pewarisan hanya terbatas pada laki-laki dewasa, perempuan dan anak-anak tidak mendapat bagian.20 Islam datang untuk memperbarui dan merevisi kedudukan laki-laki dan perempuan, termasuk anak-anak, bahkan bayi. yang Bahkan dalam kandungan pun mereka mendapat hak yang sama untuk mewarisi, sepanjang hubungan kekerabatannya jelas dan membolehkan. Wanita yang termasuk dalam status perkawinan adalah wanita yang pisah raj’i, yaitu cerai, dalam hal ini suami lebih berhak merujuk padanya dibandingkan orang lain, yaitu talak pertama atau kedua, dalam masa tunggu (iddah). ). dalam warisan Islam bagi orang yang mengatur pengangkatan anak bagi umat Islam dalam surat al-Ahzab Ayat (4-5.
Sedangkan menurut Kompilasi Hukum Islam disebutkan dalam Pasal 171 huruf (h): “Anak angkat adalah anak yang pengurusannya sehari-hari, biaya pendidikannya, dan lain-lain, tanggung jawabnya dialihkan dari orang tua asal kepada orang tua angkat. berdasarkan keputusan pengadilan.
Kedudukan Anak Terhadap Harta Waris Menurut Hukum Islam
Untuk penjelasan IHK pasal 209, anak angkat dapat ikut serta sebagai pengikat wasiat dari harta warisan dengan pertimbangan tersebut. Bahwa dalam Islam, anak angkat “dibolehkan” sepanjang pengasuhan, perlindungan dan pendidikan serta “dilarang” diberikan status sebagai anak kandung; Anak angkat dapat menerima harta benda dari orang tua angkatnya berdasarkan wasiat, yang besarnya tidak boleh melebihi 1/3 (sepertiga) dari harta orang tua angkatnya yang telah meninggal, kecuali jika orang tua angkatnya meninggalkan wasiat. dapat diberikan atas dasar wasiat yang mengikat;
Bahwa pengeluaran wasiat wajib tidak boleh merugikan hak-hak ahli waris, besarnya wasiat wajib tidak boleh melebihi bagian ahli waris. Apabila harta orang tua angkat hanya sedikit, tidak cukup untuk menjamin kesejahteraan ahli warisnya, maka tidak ada wasiat bagi anak angkat yang diharamkan Allah untuk memperlakukannya seperti anak sendiri, yang sama saja dengan melanggar hukum Allah. Bahwa apabila terjadi perselisihan mengenai wasiat atau wasiat wajib bagi anak angkat, maka harus ada putusan pengadilan yang menyatakan: anak angkat berhak atau tidak mempunyai hak atas wasiat atau wasiat wajib.
Dalam perundangan Islam, wasiat wajib pada umumnya lebih berdasarkan akal budi, yang bertujuan untuk memberikan rasa keadilan kepada mereka yang dekat dengan ahli waris, tetapi menurut syar'i bukan sebahagian daripada faraidh- tidak dapat mencari. satu cara . Tetapi sebaliknya, empat imam mazhab itu melarangnya jika akan memudaratkan ahli waris.
PENUTUP
Saran