1 1.1 Latar Belakang
Sejalan dengan kemajuan zaman, perkembangan teknologi sebagai sarana penyebaran informasi kian hari semakin berkembang. Di mana informasi bisa tersampaikan lewat berbagai sarana, diantaranya adalah penggunaan gawai dan internet. Hal ini ditegaskan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam survei data lapangan pada 9 Maret 2019 hingga 14 April 2019 yang dirilis dari website nya yaitu apjii.or.id/survei menyebutkan bahwa dari 264,16 juta jiwa penduduk Indonesia, 64,8% atau sekitar 171,17 juta jiwa diantaranya adalah pengguna internet. Remaja dan orang dewasa muda menduduki peringkat tertinggi dari pengguna internet. Dari data milik APJII, penetrasi pengguna internet 2018 berdasarkan umur dipaparkan bahwa 91% dari objek penelitian umur 15-19 tahun merupakan pengguna internet, disusul dengan, umur 20-24 yang 88,5% nya adalah pengguna internet dan umur 25-29 diperingkat ketiga dengan 82.7% nya adalah pengguna internet.
Sosial media menjadi salah satu alasan bagi para pengguna internet. Data APJII memaparkan bahwa sosial media adalah alasan kedua tertinggi penggunaan internet selain komunikasi lewat pesan. Sosial media tentu saja memiliki dampak pada perkembangan individu yang menggunakannya, salah satunya adalah dampak pada bidang psikologis. Dengan dominasi yang cukup tinggi akan penggunaan Internet, fakta menyebutkan bahwa tingginya penggunaan internet di kalangan remaja dan orang dewasa muda berbanding lurus dengan
timbulnya kesehatan mental. Dikutip dari artikel Kumparan yang berjudul “Anak Muda di Bawah Usia 26 Alami Risiko Masalah Mental yang Parah” artikel tersebut mengungkapkan adanya sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Journal of Abnormal Psychology yang menyebutkan bahwa persentase orang dewasa muda dengan masalah kesehatan mental telah meningkat dalam 10 tahun terakhir. Akan tetapi, perubahan serupa tidak terlihat pada dewasa muda di atas usia 26 tahun. Para peneliti berpendapat bahwa akses smartphone dan penurunan waktu tidur yang sesuai, mungkin merupakan faktor unik yang banyak memengaruhi Gen Z daripada Millennial (Oscar, 2019).
Fenomena ini terjadi pada masa emerging adult, atau periode transisi dari remaja menuju dewasa (Agustin, 2012:1) di mana para individu yang sedang berada di fase ini mengalami kondisi ambivalen. Kondisi di mana penderita mengalami ketidakstabilan emosi yang memuncak. Menutut Tanner et al dalam Agustin (2012:2) kondisi ini disebabkan individu sudah tidak mau lagi dianggap sebagai anak-anak namun merasa belum pantas dinilai sebagai orang yang sudah dewasa. Karena norma-norma pada masa anak –anak sudah tidak bisa lagi diterapkan kepada mereka, namun di sisi lain norma orang dewasa belum dapat diaplikasikan sepenuhnya (Atwood dan Scholtz, 2008:234).
Sehingga timbul krisis kepercayaan diri sendiri mengenai kemampuan dirinya dalam menjalani hidup. Kondisi ini pun dapat menimbulkan gangguan mental seperti cemas, frustasi, panik atau depresi. Bentuk krisis emosional yang terjadi pada individu di usia 20-an tahun mencangkup perasaan tak berdaya, terisolasi, ragu akan kemampuan sendiri dan takut akan kegagalan. Kondisi ini dikenal dengan istilah Quarter-Life Crisis (Atwood dan Scholtz, 2008:241). Fischer
dalam Agustin (2012:14) menjelaskan bahwa Quarter-Life Crisis sebagai suatu perasaan yang muncul saat individu mencapai usia pertengahan 20-an tahun, di mana ada perasaan takut terhadap kelanjutan hidup di masa depan, termasuk di dalamnya urusan karier, relasi dan kehidupan sosial.
Quarter-Life Crisis bukanlah fenomena baru di Indonesia, banyak yang telah mengalaminya namun belum familiar dengan istilahnya. Budaya timur yang lebih kekeluargaan, menyatu dan tidak individual serta kolektivistik membuat Quarter-Life Crisis ini lebih mudah terjadi karena lingkungan akan lebih ‘peduli’ pada kehidupan orang di sekitarnya. Pertanyaan perihal productivity (karir, ekonomi) dan intimacy (hubungan percintaan) atau hal sensitif lainnya dapat membuat potensi timbulnya Quarter-Life Crisis menjadi lebih besar karena, para individu yang berada dalam fase ini akan lebih sulit menghadapinya terutama karena adanya ‘kepedulian’ lingkungan yang berlebihan.
Dua kemungkinan bisa terjadi di dalam melewati fase ini; gagal dan berhasil. Dari data tentang kesehatan mental pada orang dewasa muda di rentang 10 tahun terakhir, dapat dilihat kemudian bahwa dewasa ini semakin banyak individu yang gagal melewati fase Quarter-Life Crisis ini. Maka dari itu dibutuhkan upaya agar para individu yang menjalani fase ini bisa melewatinya.
Salah satu cara untuk melalui fase krisis tersebut adalah dengan mengetahui cara mengelola emosi yang menyebabkan kondisi stress para penderita Quarter-Life Crisis yang selanjutnya akan disebut konseli .
Manajemen stress adalah sebuah usaha untuk mengantisipasi, mencegah, mengelola, mengendalikan dan memulihkan stress yang dirasakan. Stress
tersebut umumnya disebabkan oleh tekanan terhadap diri sendiri yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi. Hal tersebut pada akhirnya akan berujung pada degradasi kemampuan individu tersebut dalam menghadapi situasi dan kondisi di lingkungan sekitarnya. Hal senada diungkapkan Smith dalam Badri (2012:19) yang mendefinisikan manajemen stress sebagai suatu keterampilan yang memungkinkan seseorang untuk mengantisipasi, mencegah, mengelola dan memulihkan diri dari stress yang dirasakan karena adanya ancaman dan ketidakmampuan dalam coping atau suatu tingkah laku di mana individu melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya dengan tujuan menyelesaikan tugas atau masalah.
Manajemen stress yang baik bagi konseli tentu saja dapat menjadi stimulan bagi mereka untuk melewati fase ini. Menurut Cotton dalam Astari (2012:4) Berbagai cara dan pendekatan yang digunakan individu dalam mengatasi stress digolongkan sebagai manajemen stress. Intervensi klinis untuk mengatasinya dengan menggunakan pendekatan emosional antara lain melalui terapi humanistik (Terpusat pada klien [client centered] atau terapi proses-pengalaman [process experiential therapy] dan terapi yang fokus pada emosi [emotion focused therapy]) (Akbar dan Afianti, 2009:109).
Menurut Charles Tebbets dalam Nihayah (2017:5) ada empat langkah terapi yang diantaranya adalah; Sugesti Post Hipnosis dan Imajinasi, Release Negative Emotion, Menemukan Akar Suatu Permasalahan dan Pemahaman Baru. NAQS DNA (Neuro Atomic Quanta System Deo Nadi Adham) yang dilansir dari artikel yang berjudul “Terapi Katarsis dalam Hipnoterapi” di naqsdna.com menyebutkan bahwa melepaskan beban emosi menjadi penyebab terjadinya penyakit
psikosomatis, stress, depresi bahkan mental block merupakan salah satu tahapan sangat penting. Pada saat memasuki tahapan release negative emotion yang menjadi akar permasalahanya, biasanya konseli akan mengalami Katarsis, yaitu proses pelepasan emosi yang berupa histeria, berteriak-teriak, menjerit, memukul, menendang, menangis dan lain-lain.
Seiring perkembangan zaman, metode konseling pun berkembang lebih luas dari yang sebelumya hanya sebatas bertatap muka antara konseli dan konselor atau pembimbing konseling. Gladding (2016:8) menyatakan bahwa seni kreatif sangat berpotensi untuk menunjang pelaksanaan konseling. Malchiodi (2005:3) menyebutkan salah satu pelampiasan emosi dalam konseling adalah dengan menulis ekpresif. Di mana konseli merefleksikan pikiran dan perasaan terdalamnya, refleksi ini memfasilitasi individu untuk merubah pikirannya.
Dengan alasan dan permasalahan yang dihadapi tersebut, penulis merancang sebuah media yang dapat menjadi sarana manajemen stress yaitu buku interaktif. Menurut KBBI Online, buku memiliki arti lembar kertas yang dijilid berisikan tulisan atau kosong, sedangkan interaktif berarti saling melakukan aksi;
antar-hubungan; saling aktif. Dalam konteks ini buku interaktif berarti sebuah lembaran kertas yang dijilid dan menjadi buku yang isiya mengajak para pembaca untuk ikut aktif dalam melakukan interaktif. Hal ini bertujuan untuk, memberikan sarana katarsis bagi konseli sebagai media pelepasan emosi negatif agar emosinya bisa lebih stabil. Selain itu buku ini juga merupakan media yang relevan karena selain dapat mencangkup Visual, Auditory dan Kinestetik secara bersamaan, buku juga bisa menjadi media alternatif pengganti penggunaan gawai media sosial sebagai salah satu faktor penyebab dari timbulnya Quarter-Life Crisis.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan merancang buku interaktif sebagai alternatif solusi bagi masalah tersebut dan menjadikannya Tugas Akhir (TA) dengan judul “Perancangan Buku Interaktif sebagai Media Manajemen Stress pada Fase Quarter-Life Crisis”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan pada latar belakang tersebut penulis merumuskan beberapa masalah diantaranya:
1. Bagaimana cara buku interaktif menjadi media pelampiasan emosi bagi Quarter-Life Crisis?
2. Bagaimana cara individu yang sedang dalam fase Quarter-Life Crisis tertarik pada buku yang berisikan pelampiasan emosi?
1.3 Tujuan Perancangan
Tujuan perancangan yang ingin dicapai penulis, yaitu:
1. Merancang sebuah buku interaktif yang dapat menjadi media alternatif sebagai sarana pelepasan emosi negatif dalam manajemen stres bagi para individu yang sedang dalam fase Quarter-Life Crisis.
1.4 Batasan Ruang Lingkup
Jika dilihat dari makin meningginya persentase remaja atau orang dewasa muda yang bermasalah dengan kesehatan mental dalam 10 tahun ini, maka penyusun memfokuskan pada:
1. Perancangan buku interaktif ini ditujukan bagi para individu yang sedang dalam fase Quarter-Life Crisis yang berada di Kota Bandung dengan demografis di daerah perkotaan dan rentang usia 18 – 29 tahun.
2. Perancangan buku ini hanya sebatas media alternatif pelepasan emosi negatif bagi para individu yang sedang dalam fase Quarter-Life Crisis.
1.5 Manfaat Perancangan 1.5.1. Manfaat Bagi Penulis
Perancangan buku interaktif ini dapat menjadi pembelajaran bagi penulis tentang metode manajemen stres bagi para individu yang sedang dalam fase Quarter-Life Crisis.
1.5.2. Manfaat Bagi Perusahaan
Sebagai media alternatif untuk para individu yang sedang berada dalam fase Quarter-Life Crisis agar dapat melalui fase tersebut. Serta sebagai bahan referensi akademis dalam merancang buku interaktif dengan menerapkan ilmu Desain Komunikasi Visual.
1.5.3. Manfaat Bagi Masyarakat
Dengan adanya buku interaktif ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap fase Quarter-Life Crisis. Dengan begitu diharapkan masyarakat dapat mengetahui cara bagaimana menjalani fase Quarter- Life Crisis dengan metode manajemen stress.
1.6. Metode Perancangan 1.6.1. Metode Pengumpulan
Data Menurut Arikunto menurut Nurul (2018:22) menjelaskan bahwa:
Metode observasi adalah suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis, dengan prosedur yang terstandar. Hampir semua metode mempunyai tujuan untuk memperoleh ukuran tentang variabel. Kemudian tujuan yang pokok dari observasi adalah mengadakan pengukuran terhadap variabel. Data dari suatu penelitian diperoleh dari bermacam-macam sumber,
namun dapat dikelompokan dalam dua sumber utama yaitu: pengumpulan data primer dan sekunder.
1.6.1.1. Pengumpulan Data Primer
Menurut Kountur dalam Nurul (2018:22) menyatakan bahwa: Data primer adalah data yang dikumpulkan peneliti langsung dari sumber utamanya.
Wawancara adalah cara pengumpulan data yang dilakukan dengan bertanya dan mendengarkan jawaban langsung dari sumber utama data. Metode pengumpulan data primer yang digunakan adalah metode wawancara. Penulis menggunakan metode wawancara terstuktur yaitu melakukan tanya jawab yang didasarkan atas pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya.
1.6.1.2.Pengumpulan Data Sekunder
Kountur dalam Nurul (2018:22) memberikan batasan bahwa “data sekunder adalah data yang bersumber dari hasil penelitian orang lain yang dibuat untuk maksud yang berbeda. Data tersebut dapat berupa fakta, tabel, gambar, dan lain- lain”.
1. Metode Kepustakaan
Metode kepustakaan adalah mencari literatur yang berhubungan dengan desain komunikasi visual, meliputi buku, koran, majalah, media komunikasi, dan internet.
2. Metode Dokumentasi
Metode pengumpulan data dengan memotret kegiatan objek yang sedang diamati lalu mencatat data yang diperoleh dari hasil survey tersebut untuk dijadikan bukti yang berupa fakta.
1.6.2. Metode Analisa Data
Analisis data disebut juga pengolahan data dan penafsiran data. Analisi data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademis dan ilmiah. Kegiatan dalam analisis data adalah: mengelompokan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dan seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis, langkah terakhir tidak dilakukan. Berdasarkan hasil pengumpulan data literatur maupun pengambilan data secara langsung di lapangan, selanjutnya data- data pemilihan jenis media, unsur visual desain dianalisa berdasarkan metode pendekatan kualitatif dan diperoleh kesimpulan.(Siyoto, 2015:109)
Analisis data kualitatif dilakukan secara induktif, yaitu penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori tetapi dimulai dari fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. Dari data tersebut, peneliti harus menganalisis sehingga menemukan makna yang kemudian menjadi hasil penelitian. (Siyoto, 2015:120).
Berdasarkan kesimpulan tersebut maka akan dibuat beberapa alternatif desain. Desain akan dianalisa secara deskriptif berdasarkan unsur desain dan kriteria yang ada, maka akan ada satu desain yang terpilih untuk diproduksi menjadi buku ilustrasi yang akan disebarluaskan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi.
1.7 Skematika Perancangan
Untuk mengetahui gambaran umum tentang karya ini, maka penulis perlu memaparkan skematika perancangan sebagai berikut:
Gambar 1.1 Skematika Perancangan