BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Industri kepariwisataan sekarang ini berkembang cukup pesat. Meningkatnya wisatawan domestik maupun asing untuk melakukan perjalanan wisata menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pengembangan pariwisata, khususnya dari sisi penyedia sarana pariwisata, seperti usaha hotel, restoran, jasa perjalanan wisata dan sebagainya (BPS, 2015). Usaha restoran (rumah makan) dapat menjadi sarana munculnya ikon kepariwisataan suatu daerah melalui wisata kuliner makanan khas daerah yang berdampak pada tingkat kepuasaan wisatawan.
Restoran di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan yang sangat signifikan, berdasarkan data statistik dari (BPS, 2015) menyatakan bahwa dilihat dari lokasi usaha, sebagian besar usaha restoran/rumah makan bertempat di kawasan pertokoan atau perkantoran, yaitu sebesar 54,57%. Sedangkan di lokasi objek wisata hanya sebesar 15,71%. Selain itu, untuk jenis masakan utama yang disajikan, tercatat 54,55% restoran (rumah makan) menyajikan makanan khas Indonesia. Untuk jenis masakan Amerika atau Eropa sebanyak 22,43 persen, masakan China 10,69%, dan masakan lainnya 12,33%. Saat ini banyak restoran dengan aneka tipe makanan khas yang bermunculan dan bersaing dalam hal rasa, pelayanan, dan tempat untuk menarik konsumen. Dimulai dari makanan khas daerah itu sendiri sampai makanan khas luar negeri yang mereka tawarkan mempunyai ciri khas rasa dan keunikan masing-masing.
1
Namun, persaingan yang ditawarkan lebih terfokus pada kuantitas atau lebih mementingkan harga yang murah bukan pada kualitas yang lebih ditonjolkan misalnya bagaimana memberikan pelayanan sebaik-baiknya. Dalam bidang usaha ini pelayanan yang diberikan pramusaji perlu diperhatikan untuk menunjang suatu kesuksesan dalam menciptakan kepuasan konsumen.
Restoran selalu ingin memberikan kesan terbaik dalam pelayanan, sehingga dibutuhkan seseorang yang bertugas dalam penanganan operasional restoran.
Pramusaji berpengaruh terhadap seluruh operasional sehingga untuk menyusun strategi pelayanan yang baik diperlukan pemimpin pramusaji (captain waiter) yang berkualitas untuk bisa mengarahkan para pramusaji (waiter atau waitress) dalam hal memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen. Captain Waiter tentu lebih sering berada di operasional dari pada berada di office karena porsi tugas captain waiter adalah 70%
operasional dan 30% administrasi. Seorang captain waiter harus bisa memberikan keteladanan bagi semua crew di bawahnya, dengan keteladanan yang diberikan captain waiter maka semua crew akan semakin bersemangat dalam menjalankan tugasnya masing-masing di restoran. Untuk memperoleh captain waiter yang berkualitas tentu calon captain waiter harus memiliki wawasan yang luas, bertanggung jawab dalam melakukan tugas-tugas yang diamanahkan, disiplin dalam bertugas, terampil dan bersifat kompeten.
Peran captain waiter sangat berpengaruh besar pada kesuksesan suatu restoran.
Untuk itu perusahaan harus lebih teliti dengan cara memberikan persyaratan yang baik agar memperoleh seorang pemimpin yang berkualitas dan berkompeten baik dalam hal wawasan pengetahuan maupun kelihaian dalam berinteraksi dengan konsumen yang
akan menjadikan kesan pelayanan terbaik. Dalam perekrutan, calon captain waiter tidak hanya didasarkan pada kriteria tertentu misalnya pengalaman, tetapi juga melibatkan beberapa kriteria seperti pengetahuan umum, kehadiran, kemampuan, perilaku dan hasil wawancara kepada calon captain waiter.
Kenyataan dilapangan seringkali mengalami penurunan pendapatan dan berpengaruh terhadap perusahaan. Masalah yang sering terjadi dari beberapa aspek salah satunya karena dari pramusaji yang tidak memiliki kemampuan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen yang datang sehingga tidak mau berkunjung kembali karena pelayanan yang kurang memuaskan. Dari permasalahan tersebut perusahan seringkali mengalami kesulitan dalam menyeleksi captain waiter yang berkualitas dan profesional karena membutuhkan kurun waktu yang tidak sedikit, sering terjadinya pemilihan yang subjektif dan hal tersebut dinilai kurang efektif dan secara tidak langsung menghambat produktivitas perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut sehingga pemilihan captain waiter dapat dihasilkan secara obyektif dan memiliki kualitas pelayanan terbaik.
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) mengacu pada suatu sistem yang memanfaatkan dukungan komputer dalam proses pengambilan keputusan. SPK dirancang untuk mendukung seluruh tahap pengambilan keputusan mulai dari mengidentifikasi masalah, memilih data yang relevan, dan menentukan pendekatan yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan, sampai mengevaluasi pemilihan alternatif (Djamain & Christin, 2015). Salah satu metode yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam SPK adalah TOPSIS. TOPSIS menggunakan prinsip
bahwa alternatif yang terpilih harus mempunyai jarak terdekat dari solusi ideal positif dan terjauh dari solusi ideal negatif dari sudut pandang geometris dengan menggunakan jarak Euclidean untuk menentukan kedekatan relatif dari suatu alternatif dengan solusi optimal. Solusi ideal positif didefinisikan sebagai jumlah dari seluruh nilai terbaik yang dapat dicapai untuk setiap atribut, sedangkan solusi negatif-ideal terdiri dari seluruh nilai terburuk yang dicapai untuk setiap atribut. Metode ini banyak digunakan untuk menyelesaikan pengambilan keputusan secara praktis. Hal ini disebabkan konsepnya sederhana dan mudah dipahami, komputasinya efisien, dan memiliki kemampuan mengukur kinerja relatif dari alternatif-alternatif keputusan.
Pada penelitian ini, penulis melakukan pencarian dengan referensi-referensi dari penelitian sebelumnya, adapun penelitian terdahulu yang berhubungan dengan skripsi ini antara lain pada tahun 2018, Hylenarti Hertyana melakukan penelitian mengenai penentuan karyawan terbaik menggunakan metode TOPSIS, masalah yang terjadi pada pemilihan karyawan terbaik adalah sering kali penentuan dilihat dari penilaian absensi saja tanpa melihat kemampuan kinerja dan dengan diterapkan SPK, output yang dihasilkan dapat memenuhi tujuan dan penentuan karyawan terbaik bisa menjadi lebih akurat. Penelitian selanjutnya pada tahun 2018 yang dilakukan oleh Cucu Siti Sadiah tentang pemilihan the best housekeeping menggunakan metode TOPSIS, masalah yang dihadapi adalah terjadinya salah perhitungan sehingga karyawan yang terpilih tidak sesuai dengan fakta yang ada. Penerapan SPK pada penelitian ini dapat menyelesaikan masalah sehingga pemilihan the best housekeeping dapat dihasilkan secara obyektif. Penelitian ini dilakukan oleh Resa Apriliyanty pada tahun 2018 yang berjudul Sistem Penunjang Keputusan Penilaian Kinerja Karyawan
Menggunakan Metode TOPSIS (Studi Kasus PT. Lima Pilar Abadi Utama), masalah pada penelitian ini adalah adanya kendala dalam penilaian kinerja karyawan yang masih menggunakan perhitungan manual. Agar dapat menghasilkan keputusan yang cepat,tepat dan berkualitas dibutuhkan Sistem Penunjang Keputusan (SPK) untuk mempermudah kinerja sumber daya manusia dalam memberikan keputusan penilaian.
Dengan adanya masalah diatas penulis tertarik untuk membuat sebuah program aplikasi dengan memadukan perkembangan teknologi dan aktifitas pelayanan terbaik yang diberikan oleh pihak restoran (Hachi Grill). Salah satu peran teknologi yang dimaksud adalah dengan adanya aplikasi yang bisa memberikan alternatif sebagai bahan pertimbangan dan mendukung pengambilan keputusan pemilihan captain waiter dengan harapan aplikasi ini outputnya adalah melakukan seleksi terhadap beberapa calon captain waiter dan memilih calon mana yang layak untuk menjadi seorang captain waiter yang professional dan berkualitas. Variabel-variabel yang menjadi dasar pertimbangan untuk pemilihan ini yaitu pengalaman yang dilihat dari riwayat kerja calon captain waiter, pengetahuan umum, kehadiran selama OJT (On Job Training) dan masa kerja, kemampuan menjadi seorang pemimpin, perilaku yang baik terhadap rekan kerja dan konsumen, hasil wawancara kepada calon captain waiter.
1.2. Identifikasi Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, dihasilkan identifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Perusahaan seringkali menemukan pramusaji yang tidak memiliki kemampuan seorang pemimpin untuk memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen sehingga tidak mau berkunjung kembali karena pelayanan kurang memuaskan, hal ini berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan yang terus menurun.
2. Pemilihan captain waiter yang masih menggunakan metode manual sehingga sering terjadi pemilihan yang subyektif dan hal tersebut dinilai kurang efektif dan secara tidak langsung menghambat produktifitas perusahaan.
1.3. Perumusan Masalah
Rumusan masalah yang didapat dari hasil identifikasi permasalahan tersebut adalah:
1. Pemilihan captain waiter dengan beberapa alternatif sebagai bahan pertimbangan apakah calon captain waiter mempunyai jiwa pemimpin dan mampu memberikan kualitas pelayanan terbaik kepada konsumen.
2. Penerapan aplikasi yang bisa memberikan alternatif dengan variabel tertentu sebagai bahan pertimbangan dan mendukung pengambilan keputusan pemilihan captain waiter yang professional dan berkualitas.
1.4. Maksud dan Tujuan
Maksud diambilnya permasalahan ini sebagai penulisan skripsi, yaitu:
1. Menghasilkan suatu aplikasi yang dapat membantu perusahaan melakukan pemilihan captain waiter secara efektif, efisien dan subjektif.
2. Menghasilkan Captain waiter yang berjiwa pemimpin dan mampu mengarahkan para waiter untuk memberikan pelayanan terbaik dan bekerja sesuai dengan job descnya masing-masing.
3. Memberikan pemahaman mengenai sistem pendukung keputusan sehingga dapat menjadi referensi bagi pembaca dan dapat dimanfaatkan untuk penelitian lain atau selanjutnya.
Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan program strata 1 (S1) Universitas Bandung.
1.5. Metode Penelitian
Sebuah metode penelitian merupakan hal yang penting dalam sebuah sistem.
Agar rancangan sistem menghasilkan sistem yang baik, maka penelitian yang dilakukan harus baik pula. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif yang bertujuan untuk membuat gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, fenomena, serta hubungan antara komponen yang diselidiki.
1.5.1. Teknik Pengumpulan Data A. Observasi
Metode yang dilakukan untuk mengumpulkan data yang diperlukan dan dilakukan secara sistematis ,terarah, pada suatu tujuan dengan mengamati dan mencakup fenomena satu atau sekelompok orang dalam konteks kehidupan sehari- hari untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan penelitian.
Dalam penelitian ini penulis melakukan observasi pada Restoran Hachi Grill Sutami Bandung.
B. Wawancara
Dalam melakukan penelitian dan pengumpulan data, penulis menggunakan metode wawancara kepada supervisor secara langsung. Data yang nantinya dipakai akan lebih teliti dan lebih akurat kebenarannya. Supervisor yaitu orang yang terlibat secara langsung dengan kegiatan dilapangan yang memiliki otoritas kewenangan dalam memilih calon captain waiter.
C. Studi Pustaka
Metode ini dilakukan guna mendapatkan beberapa informasi di luar ruang lingkup tempat penelitian atau riset, tujuannya agar data-data yang dihasilkan menjadi lebih komplit dan maksimal. Penulis mengumpulkan referensi-referensi baik yang bersifat online (Internet) maupun offline yang dipelajari dari buku-buku terkait, jurnal dan dokumen-dokumen lain yang mendukung pembuatan skripsi ini.
1.5.2. Model Pengembangan Sistem
Model SDLC (Software Development Life Cycle) air terjun (waterfall) sering juga disebut model sekuensi linier (Sequential Liniar) atau alur hidup klasik (classic life cycle)”. Model air terjun menyediakan pendekatan alur hidup perangkat lunak secara sekuensial atau terurut dimulai dari analisis, desain, pengkodean, pengujian, dan tahap pendukung (support).
A. Analisa Kebutuhan Sistem
Penulis melakukan observasi di Restoran Hachi Grill Sutami Bandung untuk menganalisa kebutuhan sistem informasi. Analisa dilakukan agar sistem yang dirancang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dalam hal ini penulis melakukan pengumpulan data, melalui pengolahan dan metode kebutuhan sistem yang akan dibangun.
B. Desain
Program yang dibuat merupakan program terstruktur. Maka, pada bagian perancangan basis data penulis menggunakan MySQL dan PHP MyAdmin.
Sedangkan untuk perancangan fungsi pada aplikasi, penulis menggunakan metode Unified Modelling Language (UML).
C. Code generation
Pada tahap ini penulis akan mulai membuatkan code generation sesuai desain yang telah ada. Pembuatan code generation menggunakan bahasa pemrograman HTML, PHP dan Javascript.
D. Testing
Pada tahap ini penulis akan menerapkan web sistem pendukung keputusan seleksi captain waiter tersebut dengan melakukan tes terlebih dahulu apakah web tersebut layak untuk digunakan dan dapat beroperasi sesuai dengan apa yang diharapkan. Poses pengujian yang dilakukan menggunakan Black-Box Testing . Uji coba dilakukan kepada pihak restoran untuk penggunaan sistem pendukung keputusan seleksi captain waiter diberikan panduan bagaimana cara melakukan pengolahan data kriteria-kriteria melalui web dan mempresentasikan hasil web.
E. Support
Tidak menutup kemungkinan sebuah perangkat lunak mengalami perubahan ketika sudah digunakan oleh pihak restoran. Perubahan bisa terjadi karena adanya kesalahan yang muncul dan tidak terdeteksi saat pengujian atau perangkat lunak harus beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga harus menambah beberapa alternatif kriteria-kriteria yang terbaru. Tahap pendukung atau pemeliharaan dapat menanggulangi proses perkembangan mulai dari analisis spesifikasi untuk perubahan perangkat lunak yang sudah ada, tapi tidak untuk membuat perangkat lunak baru.
1.6. Ruang Lingkup
Dalam penulisan laporan skripsi ini, pembahasan akan dibatasi dalam ruang lingkup sebagai berikut:
1. Menggunakan platform web yaitu dengan menggunakan bahasa pemrograman HTML dan PHP.
2. Aplikasi yang dibangun hanya sebagai alternatif pemecahan masalah dalam menentukan keputusan bagi perusahaan (Restoran Hachi Grill) dengan metode TOPSIS.
3. Variabel yang digunakan untuk menjadi dasar pertimbangan adalah pengalaman yang dilihat dari riwayat kerja calon captain waiter, pengetahuan umum, kehadiran selama OJT (On Job Training) dan masa kerja, kemampuan menjadi seorang pemimpin, perilaku yang baik terhadap rekan kerja dan konsumen, hasil wawancara kepada calon captain waiter 4. Penentuan kriteria dibatasi hanya bagi para calon captain waiter yang telah
ditentukan oleh supervisor.