BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pulau Bintan merupakan salah satu wilayah dengan keanekargaman ekosistem lamun dan tutupan lamun yang tinggi di Kepulauan Riau (Kawaroe et al., 2016). Ekosistem lamun di wilayah ini mencakup hampir seluruh wilayah pesisir Pulau Bintan antara lain Desa Teluk Bakau, Desa Berakit, Desa Malang Rapat dan Desa Pengudang (Arkham et al. 2015).
Biota yang mendiami ekosistem lamun diantaranya adalah Bivalvia.
Bivalvia merupakan hewan tidak bertulang belakang (avertebrata), termasuk filum Moluska yang hidup di daerah litoral (Luthfi et al., 2017). Bivalvia adalah hewan sesil yang tersebar di perairan pesisir dengan substrat lumpur berpasir. Biota ini sering digunakan sebagai petunjuk kualitas suatu perairan karena kebiasaan makan nya adalah deposit feeder dan filter feeder. Beberapa jenis bivalvia juga bernilai ekonomis karena dagingnya dapat diolah menjadi berbagai hidangan dan cangkangnya dapat digunakan sebagai bahan tambahan pakan ternak dan hiasan bangunan (Abdillah et al., 2019).
Menurut Susiana (2011), keberadaan bivalvia sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi lingkungan, ketersediaan pakan, persaingan dan pemangsaan. Selain itu, perubahan tekanan dan lingkungan juga dapat mempengaruh perbedaan jumlah dan struktur bivalvia. Salah satu tekanan yang memmpengaruhi keberadaan bivalvia adalah kegiatan penangkapan, sehingga dapat menurunkan jenis dan kepadatan bivalvia pada perairan serta mempengaruhi struktur komunitas dari bivalvia tersebut (Sitompul, 2020).
Struktur komunitas bivalvia pada ekosistem lamun dapat memberikan gambaran tentang kondisi perairan desa Teluk Bakau. Mengingat pentingnya manfaat ekosistem lamun dan bivalvia, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian mengenai struktur komunitas bivalvia di ekosistem lamun desa Teluk Bakau. (Mariani et al, 2019). Tujuan dari penenlitian ini adalah mengukur struktur komunitas bivalvia dan faktor yang mempengaruhi kepadatan bivalvia dengan kerapatan lamun diperairan Desa Teluk Bakau.
2
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah 1. Bagaimana kerapatan lamun diperairan Desa Teluk Bakau?
2. Bagaiman kepadatan bivalvia pada ekosistem lamun di desa teluk bakau?
3. Faktor apa yang mempengaruhi kepadatan bivalvia pada ekosistem lamun di desa teluk bakau?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengukur kerapatan lamun di perairan Desa Teluk Bakau.
2. Megukur kepadatan bivalvia pada ekosistem lamun di Desa Teluk Bakau.
3. Menentukan faktor yang mempengaruhi kepadatan bivalvia pada ekosistem lamun di perairan Desa Teluk Bakau.
1.4. Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai komunitas Bivalvia yang terdapat pada ekosistem lamun di Desa Teluk Bakau Bintan. Dapat memberikan manfaat pula dalam menambah ilmu pengetahuan serta wawasan bagi saya sendiri serta dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam melakukan penelitian yang selanjutnya.