1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Menurut World Healty Organization (WHO) lanjut usia (lansia) adalah kelompok penduduk yang berumur 60 tahun ke atas atau lebih (WHO, 2015). Berdasarkan data World Population Prospect 2015, terdapat 901 juta jumlah lansia yang terdiri dari jumlah populasi global. Pada tahun 2015-2030 jumlahnya diproyeksikan akan tumbuh sekitar 56% menjadi 1,4 milyar (Unites Nations, 2015).
Negara Indonesia merupakan salah satu Negara berkembang yang memiliki jumlah lansia pada tahun 2018 sebesar 9,3%, atau 22,4 juta jiwa (Badan Pusat Statistik, 2018). Pada tahun 2020 diproyeksikan sebanyak 27,08 juta jiwa lansia, tahun 2025 sebanyak 33,69 juta jiwa lansia, tahun 2035 sebanyak 48,19 juta jiwa lansia, dan di prediksi pada tahun 2050 Indonesia akan mengalami peningkatan jumlah lansia yang tinggi di bandingkan dengan Negara yang berada dikawasan Asia (Kementrian Kesehatan . RI, 2018).
Berdasarkan data dari BPS Provinsi Jawa Barat hasil proyeksi penduduk tahun 2010-2035, jumlah penduduk lansia di Jawa Barat pada tahun 2017 sebanyak 4,16 juta jiwa, sedangkan pada tahun 2015 jumlah penduduk lansia sebanyak 3,77 juta jiwa. Pada tahun 2021 jumlah penduduk lansia di Jawa Barat diperkirakan sebanyak 5,07 juta jiwa atau
sebesar 10,04 persen dari penduduk total Jawa Barat, (Badan Pusat Statistik, 2017).
peningkatan Usia Harapan Hidup (UHH) penduduk lansia di Indonesia berdampak pada meningkatnya gangguan kesehatan yang dialami lanjut usia.
Pencapaian tersebut tercermin dari meningkatnya umur harapan hidup (UHH) dari 70,6 tahun dan menjadi 72,0 tahun (Sarjuni, 2009 dalam Sarasaty, 2011).
Berbagai kondisi penyakit yang sering menyertai lanjut usia, salah satunya adalah hipertensi. Hipertensi adalah kelainan sistem sirkulasi darah yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah diatas nilai normal atau tekanan darah >140/90mmHg (Kementrian Kesehatan. RI, 2014).
Kejadian hipertensi diseluruh dunia mencapai lebih dari 1,3 milyar orang, yang mana angka tersebut mengambarkan 31% jumlah penduduk dewasa di dunia yang mengalami peningkatan sebesar 5,1% lebih besar dibanding prevalensi global pada tahun 2000-2010 (Bloch, 2016).
Sedangkan angka kematian di Indonesia akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian. Hipetensi terjadi pada kelompok umur 31-44 tahun (31,6%), umur 45-54 tahun (45,3%), umur 55-64 tahun (55,2%). Dari prevalensi hipertensi sebesar 34,1% diketahui bahwa sebesar 8,8% terdiagnosis hipertensi dan 13,3% orang yang terdiagnosis hipertensi tidak minum obat, serta 32,3%
tidak rutin minum obat (Riset Kesehatan Dasar, 2018).
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2016 menyebutkan data jumlah hipertensi sebanyak 42 juta orang atau 29,4%, diabetes 15 juta orang atau 8,6%, rematik sebanyak 13 juta orang atau 7,6%, berdasarkan prevalensi tersebut penyakit hipertensi merupakan penyakit pertama di Jawa Barat setelah diabetes dan rematik (Dinas Kesehatan Jawa Barat, 2016)
Dinas kesehatan kota Bandung merekap data orang yang memiliki hipertensi dan didapatkan data keseluruhan 1.777.301 kartu keluarga terdata terbagi atas 30 puskesmas yang tersebar di kota Bandung pada tahun 2017.
Total 15.973 orang atau 34,85% masyarakat yang terdata mengalami hipertensi dari 45.836 yang dilakukan pengecekan tekanan darah di Kota Bandung (Dinas Kesehatan Kota Bandung, 2017). Dari data yang diperoleh pos pembinaan terpadu / pobindu diwilayah RW 006 kelurahan Binong, kota Bandung pada bulan Maret 2020 terdapat 39 orang lansia yang berkunjung ke pos pembinaan terpadu / posbindu dengan jumlah kasus penderita hipertensi pada lansia sebanyak 17 kasus.
Berdasarkan penyebabnya menurut Kementrian Kesehatan, RI (2014), penyakit hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu hipertensi esensial dan sekunder. Hipertensi Esensial / penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), walaupun dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya hidup seperti kurang bergerak (inaktivitas) dan pola makan. Terjadi pada sekitar 90% penderita hipertensi. Hipertensi sekunder / penyebabnya yang dapat diketahui, seperti
penyempitan arteri renalis, kehamilan, medikasi tertentu, dan penyebab lainnya. Hipertensi sekunder juga bisa bersifat menjadi akut, yang menandakan bahwa adanya perubahan pada curah jantung (Ignativicius, Workman, Rebar, 2017).
Hipertensi merupakan penyakit yang sulit dideteksi oleh seseorang sebab hipertensi tidak memiliki tanda/gejala khusus. Gejala – gejala yang mudah untuk diamati seperti terjadi pada gejala ringan yaitu pusing atau sakit kepala, cemas, wajah tampak kemerahan, tengkuk terasa pegal, telinga berdengung, sesak napas, mudah lelah, mimisan atau keluar darah dari hidung (Fauzi, 2014; Ignatavicius, Workman, & Rebar, 2017).
Hipertensi salah satu masalah kesehatan yang cukup berbahaya diseluruh dunia karena hipertensi merupakan faktor risiko utama yang mengarah kepada penyakit kardiovaskuler seperti serangan jantung, gagal jantung, stroke dan penyakit ginjal yang mana pada tahun 2016 penyakit jantung iskemik dan stroke menjadi dua penyebab kematian utama di dunia (World Health Organization, 2018).
Hipertensi merupakan penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan tetapi hanya bisa dikontrol dan membutuhkan pengobatan dalam jangka panjang, untuk itu kepatuhan dalam mengonsumsi obat sangat penting tujuannya untuk mejaga tekanan darah tetap terkontol (Mursiany et al., 2013).
Untuk mengatasi atau pun mencegah komplikasi diperlukan tindakan ataupun peran medis, maka untuk menangani komplikasi dari hipertensi perawat memiliki peran sebagai pemberian asuhan keperawatan dimana perawat mampu mempertahankan kebutuhan dasar tubuh manusia melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan.
Peran perawat sebagai educator pada pasien hipertensi agar dapat melakukan asuhan keperawatan secara mandiri, sebagai konsultan dalam mengatasi masalah, sebagai fasilitator asuhan perawatan dasar pada keluarga yang menderita penyakit hipertensi (Muhlisin, 2012).
Berdasarkan data yang telah diuraikan diatas, Maka peneliti tertarik untuk melakukan Asuhan keperawatan kepada Ny. U dengan gangguan sistem kardiovaskuler : Hipertensi yang berada di wilayah RT 002 RW 006 kelurahan Binong, kota Bandung.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di latar belakang masalah, maka rumusan masalah penelitian adalah “Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Ny. U dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular : Hipertensi di wilayah RT 002 RW 006 Kelurahan Binong Kota Bandung?”
C. Tujuan Studi Kasus 1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari pembuatan Studi Kasus ini untuk mengidentifikasi Asuhan Keperawatan Pada Ny. U dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular : Hipertensi di wilayah RT 002 RW 006 kelurahan Binong Kota Bandung
2. Tujuan Khusus
a. Penulis mampu melakukan pengkajian pada Ny.U dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular : Hipertensi
b. Penulis mampu merumuskan Diagnosa Keperawatan pada Ny. U dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular : Hipertensi
c. Penulis mampu menyusun Rencana tindakan keperawatan yang diterapkan pada pada Ny. U dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular : Hipertensi
d. Penulis mampu melakukan Implementasi tindakan pada Ny. U dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular : Hipertensi
e. Penulis mampu melakukan Evaluasi tindakan pada Ny. U dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular : Hipertensi
f. Penulis mampu mendokumentasikan tindakan pada Ny. U dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular : Hipertensi
D. Manfaat Studi Kasus 1. Bagi Penulis
Hasil studi kasus ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai penyakit Hipertensi pada lansia dilingkungan masyarakat dengan menggunakan asuhan keperawatan.
2. Bagi Instansi Akademik
Sebagai bahan bacaan diperpustakaan dan acuan pertimbangan pada keperawatan khususnya kasus keperawatan gerontik hipertensi.
3. Bagi pelayanana kesehatan
Hasil studi kasus ini diharapkan dapat menambah pengetahuan wawasan dan mengaplikasikan ke dalam pelayanan kesehatan di puskesmas.