• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tindak pidana merupakan suatu bentuk perilaku menyimpang yang selalu ada dan melekat pada setiap bentuk masyarakat, dalam arti bahwa tindak pidana akan selalu ada seperti penyakit dan kematiaan yang selalu berulang seperti halnya dengan musim yang selalu berganti dari tahun ke tahun1.

Kejahatan dari sudut pandang hukum adalah setiap tingkah laku manusia yang melanggar aturan hukum pidana. Suatu perbuatan dianggap bukan kejahatan apabila perbuatan tersebut tidak dilarang di dalam aturan hukum pidana. Pengertian Kejahatan menurut R. Soesilo dapat ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu: 1.

Pengertian Kejahatan dari sudut pandang yuridis, Kejahatan adalah suatu perbatan yang tingkah lakunya bertentangan dengan kaidah-kaidah dalam Undang-Undang.

2. Pengertian Kejahatan dari sudut pandang Sosiologis, Kejahatan adalah perbuatan atau tingkah laku yang selain merugikan si penderita juga merugikan masyarakat, yaitu berupa hilangnya keseimbangan, ketentraman dan ketertiban2.

Istilah kejahatan atau tindak pidana atau perbuatan pidana di definisikan secara beragam. Van Hamel merumuskan delik (strafbaarfeit) itu sebagai berikut:

“Kelakuan manusia yang dirumuskan dalam Undang-Undang, melawan hukum, yang patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan.” 3 S.R. Sianturi merumuskan tindak pidana sebagai berikut: “Tindak pidana adalah sebagai suatu tindakan pada,

1 Susilo. Kriminologi (Pengetahuan Tentang Sebab-Sebab Kejahatan). Bogor: Politeia

2 Mochtar Kusumaatmadja dan B. Arief Sidharta, Pengantar Ilmu Hukum : Suatu Pengenalan Pertama Ruang Lingkup Berlakunya Ilmu Hukum, (Jakarta: Alumni, 2000), Hal. 11

3 Andi Hamzah. Asas-Asas Hukum Pidana, Cetakan keempat. Jakarta: PT. Rienka Cipta. 2010. Hal 96.

(2)

tempat, waktu, dan keadaan tertentu yang dilarang (atau diharuskan) dan diancam dengan pidana oleh Undang-Undang bersifat melawan hukum, serta dengan kesalahan dilakukan oleh seseorang (yang bertanggungjawab).”4 Moeljatno menyebut tindak pidana sebagai perbuatan pidana yang diartikan sebagai berikut:

“perbuatan yang melanggar yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana yang disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi siapa saja yang melanggar larangan tersebut.” 5

Dari sekian banyaknya kejahatan yang terjadi di Indonesia, salah satu bentuk kejahatan yang terjadi adalah kekerasan dalam rumah tangga. Rumah tangga seharusnya tempat yang aman bagi para anggotanya karena keluarga dibangun oleh suami-istri atas ikatan lahir batin diantara keduanya akan tetapi, pada kenyataannya justru banyak rumah tangga menjadi tempat penderitaan dan penyiksaan karena terjadi tindak kekerasan. Menurut Pasal 33 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan bahwa “Antara suami-istri mempunyai kewajiban untuk saling cinta-mencintai hormat-menghormati, dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain”.

Keluarga dalam Kamus Hukum berarti : 1. Ibu bapak dengan anak-anaknya;

seisi rumah; 2. Orang seisi rumah yang menjadi tanggungan; 3. (kaum) sanak saudara ; kaum kerabat; 4. Satuan kerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat hal ini erat kaitannya dengan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 1, yaitu : Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang

4 Amir Ilyas. Asas-Asas Hukum Pidana. Yogyakarta: Rengkang Education Yogyakarta dan Pukap Indonesia. 2012. Hal 22.

5 Ibid. Hal 32.

(3)

wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 6

Namun pada kenyataanya tingkat kekerasan dalam rumah tangga terus meningkat dari tahun ke tahun. Ada banyak faktor sosial, yang melestarikan adanya KDRT dan menyulitkan korban memperoleh dukungan dan pendampingan masyarakat.7 Hukum Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004. Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dibuat dengan beberapa pertimbangan; bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan sesuai dengan falsafah pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; bahwa segala bentuk kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk diskriminasi yang harus dihapus; bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga yang kebanyakan adalah perempuan harus mendapat perlindungan dari negara dan/atau masyarakat agar terhindar dan terbebas dari kekerasan atau ancaman kekerasan, penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan; bahwa dalam kenyataannya kasus kekerasan dalam rumah tangga banyak terjadi, sedangkan sistem hukum di Indonesia belum menjamin perlindungan terhadap korban kekerasan.

Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya berupa kekerasan fisik semata, meskipun akhir-akhir ini banyak sekali kejadian kekerasan dalam rumah tangga

6 Sudarsono. 2015. Kamus Hukum. Jakarta : Rineka Cipta. Hal 217

7 Guse Prayudi, Berbagai Aspek Tindak Pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga: Lengkap dengan Uraian Unsur-Unsur Tindak Pidananya, Yogyakarta, Merkidi Press, Hal 2.

(4)

yang berupa kekerasan fisik. Baik yang menimpa istri, anak, pembantu rumah tangga (PRT) atau orang lain yang masih dalam lingkup sebuah keluarga. Namun, penelantaran keluarga baik anak maupun istri ataupun 5 yang lainnya yang akhir- akhir ini mulai banyak terjadi di masyarakat juga merupakan salah satu tindak pidana yang termasuk dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hal ini telah tercantum dalam salah satu pasal yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Di dalam Hukum Pidana ada pembagian Hukum Pidana Umum dan Hukum Pidana Khusus. Yang membedakan keduanya yakni pada hukum pidana umum maka pengaturannya dapat ditemukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan berlaku prinsip dan asas-asas hukum pidana. Sementara hukum Pidana Khusus memiliki ciri antara lain: memilki asas yang berbeda atau menyimpangi asas yang umum, pengaturan delik yang berbeda dan berada di luar KUHP dan proses acara yang berbeda. Dalam hal kasus penelantaran keluarga sendiri secara spesifik telah diatur khusus dalam UU Nomor 23 Tahun 2004. Undang-Undang ini secara spesifik menganut asas melindungi hak asasi manusia, non-disriminasi, kesetaraan dan keadilan gender, dan perlindungan korban. Asas-asas ini secara tersirat dapat dilihat pada bagian menimbang dari UU a quo. Hal ini meletakan Undang-Undang No 23 tahun 2004 sebagai Undang-Undang yang lebih spesifik dibanding KUHP sehingga berlakulah lex specialis derogat lex generalis.

Untuk mengetahui penelantaran rumah tangga sebagai salah satu bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), terlebih dahulu harus dijelaskan mengenai difinisi dari Kekerasan Rumah Dalam Rumah Tangga itu sendiri.

Menurut Herkutanto, kekerasan Rumah Dalam Rumah Tangga atau biasa dikenal

(5)

dengan istilah KDRT adalah tindakan atau sikap yang dilakukan dengan tujuan tertentu sehingga dapat merugikan perempuan, baik secara fisik maupun secara psikis. Menurut Elli Hasbianto, KDRT adalah suatu bentuk penganiayaan (abuse) baik secara fisk dan psikologis yang merupakan suaru cara pengontrolan terhadap pasangan dalam kehidupan rumah tangga. Difinisi yang dikemukakan oleh Herkutanto, memiliki beberapa unsur, antara lain:

1). Tindakan atau sikap;

2). Tujuan tertentu;

3) merugikan perempuan;

4) fisik dan psikologis.

Sedangkan difinisi dari Elli Hasbianto, memiliki unsur-unsur, antara lain:

1). Penganiayaan (abuse);

2) secara fisik dan psikologis;

3) pengontrolan terhadap pasangan;

4) dalam rumah tangga.

Persamaan dari kedua difinisi tersebut terletak pada bentuk kekerasan yang dilakukan yaitu secara fisik dan psikologis. Sedangkan perbedaannya terletak pada siapa pelaku dan korban. Menurut Hertanto, pelaku KDRT adalah laki-laki dan korbannya adalah perempuan, sedangkan menurut Elli, pelaku dan korban bisa laki- laki (suami) dan juga bisa istri (perempuan). Perbedaan lainnya adalah Elli

(6)

menjelaskan secara implisit mengenai lingkup rumah tangga dan Herkutanto, tidak menjelaskan secara implisit mengenai ruang lingkup dilakukannya kekerasan.

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga terma suk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Difinisi ini lebih luas, dibandingkan dengan kedua difinisi di atas, yaitu mengenai akibat yang ditimbulkan dari KDRT meliputi kesengsaraan atau penderitaan secara fisik seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Menelantarkan dalam hubungan rumah tangga bila dilihat dari pandangan masyarakat umum adalah tindakan yang tidak baik dan tercela serta tidak bertanggung jawab. Kekerasan yang acapkali terjadi pada perempuan ini tidak berbeda dengan peilaku menyimpang lainnya.8 Dalam kacamata hukum positif , penelantaran dalam rumah tangga digolongkan sebagai tindak kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence) dan merupakan strafbaar feit dengan pengertian perbuatan yang dilarang oleh peraturan hukum pidana dan memiliki sanksi. Bila melihat pada UU No 7 tahun 1984 yang merupakan hasil ratifikasi nasional, pada

8 Komariah Emong Sapardjaja, Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Prespektif Ilmu Hukum, Bandung, Hal 95

(7)

Pasal 1 dapat dilihat bahwa Penelantaran termasuk kedalam kekerasan berbasis gender dan dengan melihat pada penjelasan ratifikasi no 35 Penelantaran ini masuk kedalam KDRT.

Pada umumnya dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga biasanya kaum laki-laki yang paling banyak melakukan kekerasan dalam rumah tangga, tidak berarti kekerasan dalam rumah tangga tidak pernah dilakukan oleh kaum wanita (ibu) terhadap anggota keluarga lainnya. Kekerasan dalam rumah tangga tidak melulu harus diartikan dalam bentuk fisik (memukul, menjambak), termasuk juga kekerasan dalam bentuk psikis, seperti terus menurus ditekan atau dipojokkan oleh keluarganya. Suatu bentakan atau kata-kata kasar atau melototi, sudah dianggap sebagai bentuk kekerasan.9

Penelantaran secara bahasa berasal dari kata ”telantar” yang berarti ” terletak tidak terpelihara, tidak terpelihara, tidak ada yang merawat, tidak dikerjakan, dipikirkan, dilangsungkan, ”Kata kerjanya adalah“ menelantarkan”

yaitu “menyebabkan perselisihan, kerugian ”Sedangkan penelantaran adalah proses atau cara perbuatan menelantarkan.10

Undang-undang No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga pasal 9 berisi bahwa :

(1) Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau

9 Didik M. Arief Mansur dan Elisatris Gultom, Op.Cit., Hal 133.

10 Abdullah, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Jakarta: Sandro Jaya), Hal 298.

(8)

perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.

(2) Penelantaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut

Sanksi terhadap tindakan tersebut diatur dalam Pasal 49 huruf a Undang- undang PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga), setiap orang yang melakukan penelantaran rumah tangga dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).

Berdasarkan pasal tersebut di atas maka penelantaran adalah setiap perbuatan dilakukan dengan membiarkan orang yang berada di bawah tanggungannya terbengkalai hidupnya, tidak terpelihara, tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya, serta membatasi gerak korban dengan tujuan mengendalikan kehidupan korban.Yang menjadi objek penelantaran adalah:

a) Suami, isteri, dan anak

b) Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana yang dimaksud pada huruf a karena hubungan darah, perkawinan, sesusuan, pengasuhan dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau orang

(9)

yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut .11

Setelah terjadinya akad nikah antara mempelai laki-laki dan perempuan yang dilakukan oleh walinya, terjalinlah hubungan suami isteri dan sebagai konsekuensi timbul pula hak dan kewajiban secara timbal balik masing-masing pihak. Hak-hak dalam perkawinan ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu hak bersama, hak isteri yang menjadi kewajiban suami dan hak suami yang menjadi kewajiban isteri.12

Menjadi fokus dari penulis adalah terkait pemenuhan unsur yuridis yang terdapat pada pasal 9 UU Nomor 23 Tahun 2004 yang harus dibuktikan dan dicari kebenarannya oleh hakim pada persidangan perkara nomor 74/Pid.Sus/PN Slt/2019. Dalam pembuktian unsur makadapat dipahami bagaimana majelis hakim memaknai makna penelantaran itu sendiri.

Penerapan Hukum Pidana Materiil Terhadap Kasus Tindak PidanaPenelantaran Dalam Lingkup Rumah Tangga Sebelum penulis menguraikan mengenai penerapan hukum pidana materiil dalam kasus putusan Putusan Nomor 74/Pid.Sus/2019/ PN.Slt, maka perlu diketahui terlebih dahulu posisi kasus dan penjatuhan putusan oleh majelis hakim dengan melihat acara pemeriksaan biasa pada Pengadilan Negeri Salatiga yang memeriksa dan mengadili perkara ini.

11 Moerti hadiati Soeroso, Kekersan Dalam Rumah Tangga, Jakarta: Sinar Grafika,2011, Hal 179

12 Ibid.

(10)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam proposal ini adalah sebagai berikut:

Apakah pertimbangan hakim memenuhi unsur yuridis, sosiologis, dan filosofis dalam menjatuhkan Putusan pada Tindak Pidana Penelantaran Anak Dalam Lingkup Rumah Tangga Pada Putusan Nomor 74/Pid.Sus/2019/PN Slt?

C. Tujuan Penilitian

Penelitian ini bertujuan antara lain:

1. Untuk mengetahui pemenuhan unsur penelantaran dari pertimbangan hakim asudah memenuhi unsur yuridis, sosilogis, dan filosofis dalam menjatuhkan putusan terhadap Tindak Pidana Penelantaran Anak Dalam Lingkup Rumah Tangga Pada Putusan Nomor 74/Pid.Sus/2019/Pn.Slt

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penulisan ini diantaranya:

1. Sebagai kasus pertama terkait penelantaran di Salatiga dan sudah terdapat putusan tetap dari pengadilan, maka analisis pada penulisan ini dapat memberikan manfaat pemahaman terkait penelantaran dan dikemudian hari dapat digunakan sebagai refrensi hukum.

2. Dapat digunakan oleh penulis lain sebagai sebuah perbandingan pustaka, atau sumber pemahaman yang berbeda atau dapat pula digunakan untuk meneliti lebih lanjut.

(11)

E. Metode Penelitian

Metode atau metodologi diartikan sebagai logika dari penelitian ilmiah, studi terhadap prosedur dan teknik penelitian. Pada hakikatnya, penelitian adalah segenap rangkaian kegiatan ilmiah dan karena itu menggunakan metode-metode ilmiah untuk menggali dan memecahkan permasalahan, atau untuk menemukan kebenaran. Metode penelitian sendiri betujuan untuk menjelaskan bagaimana penelitian itu dilaksanakan agar didapatkan hasil yang maksimal. Dalam penyusunan proposal ini, penelitian dilakukan dengan mengambil lokasi di Pengadilan Negeri Salatiga dekarenakan hubungan judul yang digarap berkesesuaian dengan tempat penelitian Dalam metode penelian, yang diuraikan adalah:

1. Jenis dan pendekatan penelitian

Jenis penelitian hukum dapat dilakukan denagn menggunakn 2 (dua) pendekatan, yang terdiri atas penelitian hukum normatif (yuridis normatif) dan penelitian hukum sosiologis (yuridis empiris). Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan yuridis empiris dengan bertujuan menganalisis permasalahan dilakukan dengan cara memadukan bahanbahan hukum (yang merupakan data skunder) dengan data primer yang diperoleh di lapangan.

Jenis penelitian dalam Penulisan hukum ini adalah penelitian hukum normatif yang didukung dengan penelitian lapangan. Penelitian hukum normatif adalah penelitian yang mengkaji norma-norma yang berlaku meliputi Undang- Undang yang mempunyai relevansi dengan permasalahan sebagai bahan hukum sumbernya. Penelitian hukum ini juga memerlukan data yang berupa

(12)

tulisan dari para ahli atau pihak yang berwenang serta sumber-sumber lain yang memiliki relevansi dengan permasalahan yang diteliti.

2. Sumber Data

Sumber data yang dapat digunakan dalam melakukan penelitian hukum ini terdiri dari:

a. Data hukum sekunder; yaitu data pustaka yang mencakup dokumen- dokumen resmi, publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, kamus- kamus hukum, jurnal hukum, dan komentar-komentar atas putusan pengadilan.

Data skunder terdiri dari :

1) Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat seperti;

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Putusan Pengadilan Nomor 74/Pid.Sus/2019/PN Slt serta peraturan perundang- undangan yang terkait lainnya.

2) Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Bahan hukum sekunder berupa semua tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi.

Publikasi hukum meliputi buku-buku yang terkait dengan masalah yang dikaji, hasil-hasil penelitian dan hasil karya dari kalangan hukum .

3) Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder berupa Kamus Hukum, atau Kamus Besar Bahasa Indonesia

(13)

untuk menjelaskan maksud atau pengertian istilah-istilah yang sulit untuk diartikan.

(14)

BAB II KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN, DAN ANALISIS

A. Kerangka Teori 1 Tindak Pidana

Istilah tindak pidana atau dalam bahasa Belanda disebut “strafbaar feit”, yang sebenarnya istilah resmi dalam “strafwetboek” atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yang sekarang berlaku di Indonesia. Tindak Pidana juga biasa disebut dengan kata “delik”, kata “delik” berasal dari bahasa Latin, yakni delictum.

Dalam Bahasa Jerman disebut delict, dalam Bahasa Perancis disebut delit, dan dalam Bahasa Belanda disebut delict. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, arti delik diberi batasan yakni Perbuatan yang dapat dikenakan hukuman karena merupakan pelanggaran terhadap undang-undang; tindak pidana” Dalam peraturan perundang-undangan Indonesia tidak ditemukan definisi tindak pidana13.

Pengertian tindak pidana yang dipahami selama ini merupakan kreasi teoretis para ahli hukum. Para ahli hukum pidana umumnya masih memasukkan kesalahan sebagai bagian dari pengertian tindak pidana. Demikian pula dengan apa yang didefinisikan Simons dan Van Hamel. Dua ahli hukum pidana Belanda tersebut pandangan-pandangannya mewarnai pendapat para ahli hukum pidana Belanda dan Indonesia pada saat ini. Menurut Simons bahwa strafbaar feit (terjemahan harfiah: peristiwa pidana) ialah perbuatan melawan hukum yang berkaitan dengan kesalahan (schuld) seseorang yang mampu bertanggungjawab.

13 Andi Hamzah, 2010, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta.

(15)

kesalahan yang dimaksud oleh Simons ialah kesalahan dalam arti luas yang meliputi dolus (sengaja) dan culpa late (alpa dan lalai). Dari rumusan tersebut Simons mencampurkan unsur-unsur perbuatan pidana (criminal act) yang meliputi perbuatan dan sifat melawan hukum, perbuatan dan pertanggungjawaban pidana (criminal liability) yang mencakup kealpaan, kesengajaan, serta kelalaian dan kemampuan bertanggungjawab Van Hamel menguraikannya sebagai perbuatan manusia yang diuraikan oleh undang-undang, melawan hukum, strafwaardig (patut atau bernilai untuk dipidana), dan dapat dicela karena kesalahan (en aan schuld te wijten). Maka makna kesalahan (schuld) menurut Van Hamel lebih luas lagi dari pendapat Simons, karena meliputi kesengajaan, kealpaan serta kelalaian dan kemampuan bertanggungjawab. Sekaligus Van Hamel menyatakan bahwa istilah strafbaar feit tidak tepat, tetapi beliau menggunakan istilah strafwaardig feit (peristiwa yang bernilai dan patut dipidana) Simons, Van Hamel dan Vos, semuanya merumuskan delik (staraafbaar feit) itu secara bulat, tidak memisahkan antara perbuatan dan akhirnya disatu pihak dan pertanggungjawaban dilain pihak.

Moeljatno dan Roeslan Saleh memakai istilah perbuatan pidana meskipun tidak untuk menerjemahkan strafbaar feit itu14.

Utrech, menyalin istilah strafbaar feit menjadi peristiwa pidana. Rupanya Utrech menerjemahkan istilah feit secara harfiah menjadi peristiwa. Sama dengan istilah yang dipakai oleh Utrech.15 Undang-Undang Dasar Sementara 1950 juga memakai istilah peristiwa pidana. Oleh karena itu setelah melihat berbagai definisi di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang disebut dengan Tindak Pidana

14 Moeljatno, Azas-azas Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta, cet.ke-2, 1984

15 E. Utrecht, Hukum Pidana I, Penerbitan Universitas, Bandung, , 1967.

(16)

ialah suatu perbuatan subjek hukum atau manusia dan badan hukum yang melanggar ketentuan yang berlaku atau undang-undang rdan pelakunya dapat dikenai hukum pidana, dan pelaku ini dapat dikatakan merupakan subjek tindak pidana.

Menurut doktrin, unsur-unsur tindak pidana terdiri atas unsur subjektif dan unsur objektif. Terhadap unsur-unsur tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Unsur subjektif

Unsur subjektif adalah unsur yang berasal dari dalam diri pelaku. Asas hukum pidana menyatakan “tidak ada hukuman kalau tidak ada kesalahan ”(an act does not make a person guilty unless the mind is guilty or actus non facit reum nisi mens sit rea).” Kesalahan yang dimaksud disini adalah kesalahan yang diakibatkan oleh kesengajaan (intention/opzet/dolus) dan kealpaan (negligence or schuld). Pada umumnya para pakar telah menyetujui bahwa “kesengajaan” terdiri atas 3 (tiga bentuk), yakni:

1. Kesengajaan sebagai maksud (oogm erk); als

2. Kesengajaan dengan keinsafan pasti (opzet zekerheidsbewustzijn);

3. Kesengajaan dengan keinsafan akan kemungkinan (dolus evantualis). Kealpaan adalah bentuk kesalahan yang lebih ringan dari kesengajaan. Kealpaan terdiri atas 2 (dua) bentuk, yakni:

(17)

1. Tak berhati-hati

2. Dapat menduga akibat perbuatan itu.

b. Unsur Objektif

Unsur objektif merupakan unsur dari luar diri pelaku yang terdiri atas:

a) Perbuatan manusia, berupa:

1) Act, yakni perbuatan aktif atau perbuatan positif;

2) Omission, yakni perbuatan pasif atau perbuatan negatif, yaitu perbuatan yang mendiamkan atau membiarkan16.

b) akibat (result) perbuatan manusia akibat tersebut membahayakan atau merusak bahkan menghilangkan kepentingan-kepentingan yang dipertahankan oleh hukum, misalnya nyawa, badan, kemerdekaan, hak milik, kehormatan dan sebagainya.

c) keadaan-keadaan (circumstances), dibedakan antara lain:

1) Keadaan pada saat perbuatan dilakukan;

2) Keadaan setelah perbuatan dilakukan.

d) Sifat dapat dihukum atau sifat melawan hukum Sifat dapat dihukum berkenaan dengan alasan-alasan yang membebaskan si pelaku dari hukuman.

Adapun sifat melawan hukum adalah apabila perbuatan itu bertentangan dengan hukum, yakni berkenaan dengan larangan atau perintah. Semua unsur delik

16 Wirjono Prodjodikoro, Op.cit., hal.50.

(18)

tersebut merupakan suatu kesatuan. salah satu unsur saja tidak terbukti, bisa menyebabkan terdakwa dibebaskan di pengadilan.

2 Kekerasan Dalam Rumah Tangga Berupa Penelantaran a. Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Dalam kamus bahasa Indonesia, “kekerasan” diartikan dengan perihal yang bersifat, berciri khas, perbuatan seseoarang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik. Dengan demikian, kekerasan merupakan wujud perbuatan yang lebih bersifat fisik yang mengakibatkan luka, cacat, sakit atau unsur yang perlu diperhatikan adalah berupa paksaan atau ketidakrelaan pihak yang dilukai. Menurut para ahli kriminologi, kekerasan yang mengakibatkan terjadinya kekerasan fisik adalah kekerasan yang bertentangan dengan hukum. Oleh karena itu, kekerasan merupakan kejahatan. Berdasarkan pengertian inilah sehingga kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga dijaring dengan pasal-pasal KUHP tentang kejahatan. Terlebih lagi jika melihat definisi yang dikemukakan oleh Sanford Kadish dalam Encyclopedia of criminal justice, beliau mengatakan bahwa kekerasan adalah semua jenis perilaku yang tidak sah kadang-kadang, baik berupa suatu tindakan nyata maupun berupa kecaman, ancaman, yang mengakibatkan pembinasaan atau kerusakan hak milik. Dalam buku Christina Maya Indah disebutkan “ Benarkah Bekerjanya Hukum Pidana Dan Penerapan Dalam Peradilan Pidana Menimbulkan Efek Yang Dikehendaki, Berupa Perlindungan Bagi Korban? Dalam Upaya Hukum Ini

(19)

Mencakup Berbagai Pesoalan Untuk Menjawab Pertanyaan Dan Melaksanakan Janji-Janji Hukum Tersebut. Berdasarkan Permasalahan Bagaimana Proses Perlindungan Korban.17

Sedangkan dalam UU Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 1 disebutkan:

“kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga” Undang-undang di atas menyebutkan bahwa kasus kekerasan dalam rumah tangga adalah segala jenis kekerasan (baik fisik maupun psikis) yang dilakukan oleh anggota keluarga terhadap anggota keluarga yang lain (yang dapat dilakukan suami kepada istri dan anaknya, ataupun oleh ibu kepada anaknya, atau bahkan sebaliknya).

Meskipun demikian yang dominan adalah kekerasan terhadap istri dan anak oleh sang suami. Kekerasan dalam rumah tangga dapat menimpa siapa saja termasuk ibu, bapak, suami, istri, anak, atau pembantu rumah tangga18. Namun secara umum pengertian kekerasan dalam rumah tangga lebih dipersempit artinya sebagai penganiayaan oleh suami terhadap istri. Hal ini bisa dimengerti karena kebanyakan korban kekerasan dalam rumah tangga adalah istri. Sudah tentu pelakunya adalah suami . Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan “suami”

dapat pula sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga oleh istrinya.

17 Christina Maya Indah. 2016. Perlindungan Korban: Suatu Perspektif Viktimologi dan Kriminologi. Jakarta: Prenadamedia Group.

18 Moerti Hadiati, 2011, Kekerasan Dalam rumah Tangga Dalam Perspektif Yuridis Viktimologis, Sinar Grafika, Jakarta.

(20)

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa segala perbuatan tindakan kekerasan dalam rumah tangga merupakan perbuatan melanggar hak asasi manusia yang dapat dikenakan sanksi hukum pidana maupun hukum perdata. Maka dari itu ruang lingkup kekerasan dalam rumah tangga ini erat kaitannya dengan pihak-pihak pelaku maupun pihak-pihak korban, dimana korban tersebut lebih banyak kepada pihak perempuan, disebabkan oleh kebudayaan.

Dimana kaum pria lebih memegang kekuasaan dan kendali masyarakat, apalagi dalam rumah tangga yang menjadi kepala rumah tangga, pencari nafkah untuk keluarga, sehingga sang istri lebih tunduk kepada sang suami meskipun hak -haknya sebagai wanita ditindas, dalam hal fisik maupun psikologi19.

b. Tindak Pidana Penelantaran dalam Rumah Tangga

Undang-undang tidak memberikan definisi atau pengertian terhadap apa yang disebut sebagai “menelantarkan”, namun demikian dapat dipahami dan disepakati bahwa yang dimaksud dengan menelantarkan adalah membuat terlantar atau membiarkan terlantar, dan selanjutnya arti dari terlantar adalah tidak dapat terpenuhinya kebutuhan seseorang dalam rumah tangga. Penelantaran rumah tangga disini merupakan jenis tindak pidana aduan.

Tindak pidana aduan adalah tindak pidana yang baru dilakukan penuntutan apabila ada pengaduan dari korban atau mereka yang merasa dirugikan.

Penyimpangan penuntutan terhadap delik aduan karena kepentingan pribadi yang dirugikan (penderitaan) yang berhak mengadu dipandang perlu untuk diutamakan perlindungannya. Disini dijelaskan bahwa apabila korban tidak melaporkan penelantaran tersebut maka kasus tersebut tidak akan pernah masuk ke pengadilan

19 Christina Maya Indah, 2018, Hukum Pidana, Salatiga: Griya Media

(21)

Penelantaran rumah tangga adalah suatu perbuatan yang menelantarkan suami atau istri atau anak dalam lingkup rumah tangga . kekerasan ini dapat dilakukan dengan tidak memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada oaring dalam lingkup rumah tangganya dan membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada dibawah kendali orang tersebut. Penelantaran rumah tangga biasa juga disebut dengan penelantaran ekonomi. Kekerasan ekonomi bisa terbagi dalam kekerasana ekonomi berat dan ringan. Kekerasan ekonomi berat pada dasarnya adalah tindakan yang mengeksploitasi secara ekonomi, memanipulasi dan mengendalikan korban lewat sarana ekonomi20.

Terdapat beberapa unsur-Unsur penelantaran rumah tangga yakni:

a. Unsur Subjektif: Bahwa yang dimaksud unsur setiap orang adalah setiap orang selaku subjek hukum atau pelaku dari suatu tindak pidana yang dapat dimintai pertanggungjawaban menurut hukum atas suatu perbuatan yang dilakukannya. Setiap orang disini menunjuk pada subjek hukum yang melakukan perbuatan sebagaimana yang didakwakan. Orang disini yaitu terdakwa atau suami yang melakukan perbuatan menelantarkan orang lain (istri dan anak) dalam lingkup rumah tangganya.

b. Unsur Objektif: Bahwa yang dimaksud dengan unsur subjektif adalah perbuatan menelantarkan orang lain dalam lingkup rumah tangganya.

Setiap orang yang terbukti secara sah menelantarkan rumah tangganya dapat dijerat dengan ketentuan penelantaran rumah tangga.

Jika seseorang telah memenuhi unsur-unsur sebagaimana disebutkan yaitu

20I Ketut Sudira. 2016. Mediasi penal : Perkara Penelantaran Rumah Tangga. Yogyakarta : UII Press

(22)

subjek hukum (orang atau suami) serta menelantarkan orang lain dalam lingkup rumah tangganya, maka dapat dikatakan orang tersebut telah sah dan terbukti melakukan penelantaran rumah tangga sehingga dapat dijerat dengan hukum pidana Pasal 49 huruf (a) Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Muatan yang paling penting dalam penelantaran rumah tangga yaitu bahwa perbuatan atau delik yang dilakukan tersebut masuk dalam lingkup rumah tangga, dari hal tersebut dapat dikatakan dalam lingkup UndangUndang PKDRT. Dalam penelantaran rumah tangga untuk menentukan berat ringannya suatu kriteria penelantaran rumah tangga dilihat dari fakta, alibi, serta motif orang tersebut mengapa melakukan kekerasan dalam rumah tangga.21

Berdasarkan pembahasan di atas, hal ini dapat berdampak pada gugatan nafkah yang tidak ada hubungannya dengan gugatan cerai. Dengan kata lain, Gugatan nafkah bisa diajukan isteri terhadap suami tanpa harus bercerai/mengajukan gugatan cerai. Tindakan suami anda yang tidak menafkahi Anda dan anak-anak bisa dikategorikan sebagai tindak pidana penelantaran dalam rumah tangga sebagaimana diatur dalam Pasal 49 UU No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). Karena ini merupakan perbuatan pidana maka Anda bisa melaporkan suami Anda ke polisi.

Yang dimaksud dengan penelantaran dalam lingkup rumah tangga adalah

“melakukan penelantaran kepada orang yang menurut hukum yang berlaku baginya atau karena perjanjian dia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut” (lihat Pasal 9 UU PKDRT). Sedang, Pasal 49

21 Alimuddin, Penyelesaian kasus KDRT di Pengadilan Agama, Penerbit CV. Mandar Maju Bandung 2014, hlm. 38

(23)

UU PKDRT mengatakan setiap orang yang melakukan penelantaran dalam rumah tangga dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah). Begitu juga dengan UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bisa digunakan untuk menjerat suami Anda.

 Jika di perlakukan tidak menyenangkan oleh mertua saudara Apabila dilihat dari

pidana, biasanya yang dilakukan adalah melakukan tuntutan pidana berdasarkan

“perbuatan tidak menyenangkan” yang diatur dalam Pasal 335 ayat (1) angka 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yaitu: “Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah: 1.

barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain;” Jika suami kemudian berselingkuh maka terdapat dalam Pasal 39 ayat (2) UUP menyebutkan bahwa untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri. Dan perceraian dapat terjadi karena beberapa alasan, antara lain jika salah satu pihak berbuat zina atau berselingkuh. Terus-menerusnya terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak adanya harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga juga merupakan alasan perceraian dapat terjadi (Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam atau KHI).

c. Lingkup Rumah Tangga

Pengertian rumah tangga tidak dapat ditemukan dalam deklarasi PBB tersebut, namun secara umum dapat diketahui bahwa rumah tangga merupakan

(24)

organisasi terkecil dalam masyarakat yang terbentuk karena adanya ikatan perkawinan. Biasanya rumah tangga terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak. Namun di Indonesia sering kali dalam rumah tangga juga ada sanak saudara yang ikut bertempat tinggal, misalnya, orang tua, baik dari suami atau istri, saudara kandung atau tiri dari kedua belah pihak, kemenakan dan keluarga yang lain, yang mempunyai hubungan darah. Disamping itu, juga terdapat pembantu rumah tangga yang bekerja dan tinggal bersama-sama didalam sebuah rumah (tinggal satu atap).

Pengertian “rumah tangga” tidak tercantum dalam ketentuan khusus, tetapi yang dapat kita jumpai adalah pengertian “keluarga” yang tercantum pada Pasal 1 ke 30 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Bunyi Pasal 1 angka 30 sebagai berikut: “keluarga adalah mereka yang mempunyai hubungan darah sampai derajat tertentu atau hubungan perkawinan.

Ruang lingkup rumah tangga yang dimaksud adalah sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 2 ayat (1) UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga,yaitu:

1. Lingkup rumah tangga dalam Undang-Undang ini meliputi:

a. Suami istri,dan anak;

b. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud pada huruf (a) karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwakilan, yang menetap dalam rumah tangga; dan/atau

c. Orang-orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.

(25)

2. Orang yang sebagaimana dimaksud dalam huruf (c) dipandang sebagai anggota keluarga dalam jangka waktu selama berada dalam rumah tangga yang bersangkutan.

Penjelasan Pasal 2, ayat (1), huruf a, yang di maksud dengan anak adalah termasuk anak angkat dan anak tiri. Huruf b, yang dimaksud dengan “hubungan perkawinan” dalam ketentuan ini, misalnya mertua, menantu, ipar dan besan.

Selanjutnya, tidak hanya dalam hubungan antara suami dan istri semata, dimana bahwa orang, saudara atau siapapun yang tinggal menetap atau bekerja dalam lingkungan rumah tangga itu termasuk sebagai satu kesatuan ruang lingkup rumah tangga untuk dilindungi hak-haknya sebagai manusia. Sementara, pelaku kekerasan dalam rumah tangga sendiri beragam, suami, ayah, keponakan, sepupu, paman, anak laki-laki,majikan.

Secara luas berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 yang sudah disebutkan di atas, lingkup rumah tangga meliputi:

a. Pasangan atau mantan pasangan di dalam maupun diluar perkawinan

b. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga karena darah, perkawinan, pengasuhan, perwalian, adopsi, dan hubungan adat agama.

c. Orang yang bekerja membantu kehidupan rumah tangga orang lain, yang menetap atau tidak disebuah rumah tangga.

d. Orang yang masih atau pernah hidup atau pernah tinggal bersama. (Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga).

(26)

2. Penelantaran

a. Pengertian Penelantaran

Berbagai pelanggaran terhadap hak-hak anak terjadi sepanjang abad kehidupan manusia. Hal tersebut tercermin dari masih adanya anak-anak yang mengalami abuse, kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi. Salah satu tindak kekerasan pada anak yang terjadi sekarang ini adalah penelantaran atau dikenal dengan istilah neglect. Menurut Helfer (1987), “penelantaran atau neglect adalah interaksi atau kurangnya interaksi antar anggota keluarga yang mengakibatkan perlukaan yang disengaja terhadap kondisi fisik dan emosi anak22.”

Menurut Henry (dalam Anshori, 2007) yang menyebut kasus penelentaran dan penganiayaan yang dialami anak-anak dengan “istilah Battered Child Syndrome, yaitu setiap keadaan yang disebabkan kurangnya perawatan dan perlindungan terhadap anak oleh orangtua atau pengasuh lain. Tindakan penelantaran tersebut kebanyakan mengarah pada kealpaan atau kelalaian yang disebabkan karena kondisi sosial ekonomi keluarga yang amat retan23.

b. Pengertian Rumah Tangga

Pengertian rumah tangga tidak dapat ditemukan dalam Deklarasi PBB, namun secara umum dapat di ketahui bahwa rumah tangga merupakan organisasi terkecil dalam masyarakat yang terbentuk karena adanya ikatan berkawinan.

Pengertian “rumah tangga” tidak tercantum dalam ketentuan khusus, yang dapat kita jumpai adalah pengertian “keluarga” yang tercantum dalam Pasal 1 ke 30 Undang Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara

22 Laurence R. Helfer, 'Using Intellectual. Property Rights to Preserve the Global Genetic Commons

23 Anshori, Abdul Ghofur. 2007. Peradilan Agama di indonesia Pasca UU no. 3 Tahun 2006, Sejarah Kedudukan dan Kewenangan. Yogyakarta : UII Press.

(27)

Pidana, yang berbunyi keluarga adalah mereka yang mempunyai hubungan darah sampai derajad tertentu atau hubungan perkawinan.

Pengertian rumah tangga atau keluarga hanya dimaksud untuk memberikan gambaran tentang apa yang menjadi objek perbincangan tentang kekerasan terhadap perempuan. Terjadinya kekersan dalam sebuah rumah tangga bukan merupakan hal yang baru, namun selama ini selalu di rahasiakan oleh keluarga dan korban.24 Tujuan perkawinan adalah membentuk dan membina keluarga yang bahagia lahir dan batin. Perkawinan merupakan ikatan yang sakral dan harus selalu dihormati oleh suami dan istri. Perkawianan harus tetap di jaga agar suami dan istri agar tetap harmonis. Dalam Undang-undang ini ditentukan prinsip-prinsip atau asas-asas mengenai perkawinan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan. Asas atau prinsip yang tercantum dalam Undang-Undang ini antara lain tujuan perkawinan adalah membentuk dan membina keluarga yang kekal dan bahagia lahir dan batin. Hak dan kedudukan istri seimbang dengan hak dan kedudukan suami baik25.

c. Pengertian Penelantaran Orang Dalam Rumah Tangga

Rumah tangga atau keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memilki hubungan darah dan bersatu. Rumah tangga didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang tinggal dalam satu rumah yang masih mempunyai hubungan kekerabatan atau hubungan darah karena perkawinan, kelahiran, adopsi, dan lain sebagainya. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang belum

24 Soeroso & Moerti hadiati, Kekersan Dalam Rumah Tangga, Jakarta: Sinar Grafika,2010, Hal 179

25 Moerti hadiati Soeroso, S.H., M.H., Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dalam. Prespektif Yuridis-Viktimologis, Jakarta: Sinar Grafika

(28)

menikah disebut keluarga batih. Sabagai unit pergaulan terkecil yang hidup dalam masyarakat, keluarga batih mempunyai perananperanan tertentu, yaitu:

a. keluarga batih berperan sebagai pelindung bagi pribadi-pribadi yang menjadi anggota, dimana ketentraman dan ketertiban diperoleh dalam wadah tersebut.

b. keluarga batih merupakan unit sosial-ekonomi yang secara materil memenuhi kebutuhan anggotanya.

c. keluarga batih menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah-kaidah pergaulan hidup.

d. keluarga batih merupakan wadah dimana manusia mengalami proses sosialisasi awal, yakni suatu proses dimana manusia mempelajari dan mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Rumah tangga atau keluarga dibentuk dengan sebuah perkawinan sah antara seorang laki-laki dan perempuan. Setelah adanya akad perkawinan maka timbul suatu hak dan kewajiban, hak dan kewajiban suami istri adalah hak-hak istri yang merupakan kewajiban suami dan kewajiban suami yang menjadi hak istri. Para fuqaha (ahli fiqih) dalam masalah ini berpendapat apabila akad nikah telah berlangsung secara sah, maka konskuensi yang harus dilaksanakan oleh pasangan suami istri adalah memenuhi hak dan kewajibannya. Beberapa kewajiban tersebut antara lain:

a. Hak istri yang wajib dipenuhi oleh suaminya.

b. Hak suami yang wajib dipenuhi oleh istrinya

(29)

c. Hak bersama yang harus dipenuhi kedua belah pihak Salah satu hak yang wajib dipenuhi oleh seorang suami terhadap istrinya adalah bertanggung jawab sepenuhnya untuk memberikan nafkahnya.

Nafkah merupakan semua kebutuhan dan keperluan yang berlaku menurut keadaan dan tempat, seperti makanan, pakaian, rumah dan sebagainya . Penelantaran keluarga atau penelantaran rumah tangga, bukan merupakan isu baru, karena fakta penelantaran rumah tangga, sering terjadi dalam realitas masyarakat di sekitar kita. Misalnya, suami yang tidak memberikan nafkah pada istri, orang tua yang membiarkan anaknya terlantar, kurang gizi, anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya dan masih banyak kasus mengenai hal ini. Secara yuridis, penelantaran rumah tangga, masuk dalam wilayah Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau biasa disebut KDRT, yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, atau dikenal dengan UU PKDRT26.

Merujuk pada ketentuan di atas, maka bisa dipahami bahwa penelantaran rumah tangga merupakan salah satu bentuk KDRT. Pelaku penelantaran rumah tangga sebagian besar adalah laki-laki dan/atau suami dan orang tua (bapak), namun penelantaran juga bisa dilakukan oleh perempuan dan/atau Ibu sebagai orang tua.

Sedangkan korban penelantaran rumah tangga sebagaian besar adalah perempuan (istri) dan anak. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa penelantaran rumah tangga dilakukan oleh suami-istri dan/atau istri terhadap Pekerja Rumah Tangga (PRT). Penelantaran rumah tangga dimana korbannya adalah PRT,

26 Mohammad Taufik Makarao. 2013. Hukum Perlindungan Anak dan Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Jakarta : Rineka Cipta.

(30)

misalnya: PRT tidak dibayar, PRT tidak dikasih makan dan lain-lain. Kasus-kasus penelantaran PRT, akhir-akhir ini sering mencuat di permukaan, dan di informasikan ke media masa. Melihat berbagai kasus yang ada, pelaku dan korban penelantaran rumah tangga memiliki hubungan yang tidak seimbang dimana korbannya adalah mereka yang tidak memilki posisi tawar dalam rumah tangga tersebut.

3. Perlindungan Anak

Semua pihak terkait memiliki tanggung jawab dalam pemenuhan hak- hak anak sebagaimana yang terdapat dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa orang tua, keluarga, pemerintah dan bahkan negara memikul tanggung hawab bagi penyelenggaraan perlindungan anak. Selain dari ketentuan hukum positif yang megatur demikian, norma lainnya seperti agama dan norma sosial juga menekankan pemenuhan hak-hak anak. Pengabaian terhadap kesejahteraan anak akan menimbulkan masalah sosial yang dapat mengganggu ketertiban, keamanan, dan pembangunan nasional.27

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 dikatakan bahwa anak merupakan salah satu kelompok yang rentan bersama dengan kelompok lainnya sehingga memiliki kekhususan tersendiri dalam hal perlakuan dan perlindungan terhadapnya. Sebagai contoh, anak merupakan hal yang rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Padahal, keluarga

27 Romli Atmasasmita, Peradilan Anak di Indonesia, Bandung: Mandar Maju, 1997, hlm.

166.

(31)

merupakan tempat dimana anak mendapatkan kasih sayang sehingga terbentuklah karakter yang baik dalam pertumbuhannya.28

Didalam Undang-Undang Perlindungan anak,, perlindungan anak terhadap kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga sudah cukup jelas diatur.

Hal ini dikarenakan terdapat materi muatan yang berisi hak-hak anak terkait jenis kekerasan yang disertai dengan pengertian kekerasan, batasan umur anak, dan lain-lain. Selain itu, terdapat pula sanksi pidana yang dapat dipaksakan apabila telah memenuhi rumusan unsur delik pasal terkait. Hal ini merupakan bukti perhatian yang serius oleh negara dalam penjaminan hak-hak anak.

Urgensi dari Undang-Undang perlindungan anak dan Undang-Undang Penghapusan kekerasan dalam rumah tangga diperlukan meningat bahwa anak merupakan kelompok yang rentan mengalami kekerasan, bahkan dilakukan oleh orang-orang terdekatnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya berbagai kasus anak yang mengalami kekerasan dalam lingkup rumah tangga. Bahkan tidak sedikit pula kekerasan yang dilakukan mendapatkan pembenaran dengan dalih mendidik anak. Oleh karena itu, Undang-Undang memberikan batasan sejauh mana batasan yang menjadi pedoman bagi keluarga dalam memberikan didikan terbaik untuk anak.

28 Auliya Hamida dan Joko Setiyono, Analisis Kritis Perlindungan terhadap Anak Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga : Kajian Perbandingan Hukum, ,Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia Volume 4 Nomor 1 tahun 2022, hlm. 76

(32)

B. Hasil Penelitian

Temuan penelitan dapat digambarkan melalui suatu putusan dalam Perkara Pidana yang diadili dalam Pengandilan Negerti Salatiga Nomor

79/Pid.sus/2019/PN Slt.

1. Perkara Pidana Nomor 79/Pid.Sus/2019/PN Slt a. Identitas Terdakwa

Nama lengkap: FAQIH NABHAN Bin H MASYKUR RIDWAN BA (Alm); Tempat lahi : Kabupaten Semarang; Umur/tanggal lahir : 43 Tahun / 30 Desember 1974; Jenis kelamin : Laki-Laki; Kebangsaan: Indonesia;

Tempat tinggal : Ketinggen RT. 02 RW. 04 Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga; Agama : Islam; Pekerjaan : Dosen;

b. Dakwaan

Menimbang, bahwa Terdakwa diajukan ke persidangan oleh Penuntut Umum didakwa berdasarkan surat dakwaan sebagai berikut:

Dakwaan KESATU :

Bahwa terdakwa FAQIH NABHAN Bin H MASYKUR RIDWAN BA (Alm) pada hari dan tanggal yang tidak dapat dipastikan lagi pada bulan Agustus 2017 s/d bulan November 2018 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam bulan Agustus 2017 s/d Nopember 2018 bertempat di rumah Ketinggen Rt. 02 Rw.04 Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga atau termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Salatiga berwenang memeriksa dan mengadilinya, menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian

(33)

ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Perbuatan terdakwa dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Bahwa pada waktu dan tempat sebagaimana tersebut di atas awal mulanya terdakwa FAQIH NABHAN Bin H MASYKUR RIDWAN BA (Alm) dan saksi korban EMA NUR SETIAWATI Binti M. MUNAWIR AF (Alm.) merupakan pasangan suami istri yang sah yang menikah secara Sah di KUA di Kec. Simo pada tanggal 07 Maret 1997 dan di karuniai 4 (empat) orang Anak.

Bahwa awal menikah antara terdakwa belum menafkahi saksi korban dikarenakan pada waktu itu terdakwa maupun saksi korban masih sama-sama kuliah.

Bahwa pada tahun 1997 s/d 1999 awal menikah antara terdakwa dengan saksi korban mempunyai kesepakatan untuk tidak memberikan nafkah dikarenakan antara terdakwa dengan saksi korban sama-sama masih kuliah.

Bahwa pada tahun 1999 s/d 2000 terdakwa dan saksi korban mengontrak rumah dimana saat itu terdakwa bekerja sebagai marketing Perumahan Loji Cokro Soka Blotongan dengan gaji Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) dan atas dorongan saksi korban sebagai isteri saat itu terdakwa agar melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu S2 dengan tidak menafkahi saksi korban.

Bahwa pada tahun 2001 s/d 2007 terdakwa dan saksi korban menempati rumah di Ketinggen Rt. 02 Rw.04 Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga yang masih atas nama Bpk. MASKUR RIDWAN bapaknya terdakwa, dimana pada saat itu terdakwa sudah bekerja menjadi Dosen tetap di IAIN Salatiga dan sebagai dosen tidak tetap di AMA Salatiga dengan gaji Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah) dan atas dorongan saksi korban sebagai isteri saat itu terdakwa agar

(34)

melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu S3 selama 6 tahun dengan tidak menafkahi saksi korban.

Bahwa pada tahun 2007 s/d 2013 terdakwa selain sebagai dosen di IAIN Salatiga dan dosen tidak tetap di AMA Salatiga juga sebagai Manager di Koperasi BMT Ramadana Salatiga yang terletak di JLS Km 1,8 Pulutan Sidorejo Kota Salatiga akan tetapi terdakwa pada saat itu belum menafkahi saksi korban dikarenakan saksi korban pada saat itu mempunyai penghasilan sendiri menjadi karyawan di Koperasi BMT Ramadhana Salatiga yakni sebesar + Rp. 2.739.000,- (dua juta tujuh ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah), sedangkan penghasilan terdakwa tiap bulannya dari pekerjaan sebagai dosen tetap di IAIN Salatiga, dosen tidak tetap di AMA Salatiga maupun di BMT Ramadana adalah sebesar + Rp.

13.645.790,- (tiga belas juta enam ratus empat puluh lima ribu tujuh ratus sembilan puluh rupiah), dengan perincian sebagai berikut :

a. Sebagai dosen tetap di IAIN Salatiga dengan penghasilan sebesar :

 Gaji Pokok : Rp. 3.456.200,-

 Tunjangan Profesi : Rp. 3.456.200,-

 Sertifikasi Dosen : Rp. 3.283.390,- + Total : + Rp. 10.195.790,-

b. Sebagai Manager di BMT RAMADANA dengan penghasilan sebesar + Rp.

3.390.000,-.

c. Sebagai dosen tidak tetap di AMA Salatiga dengan penghasilan sebesar + Rp 150.000,-.

Bahwa pada tahun 2013 s/d Agustus 2017 atas permintaan saksi korban kepada terdakwa kemudian terdakwa memberikan nafkah kepada saksi korban yakni

(35)

sebanyak + Rp. 3.390.000,- (tiga juta tiga ratus sembilan puluh ribu rupiah) /bulan melalui transfer ke rekening saksi korban yakni dari gaji terdakwa bekerja di BMT Ramadana Salatiga sehingga pada saat itu uang yang masuk ke rekening saksi korban di Bank Mandiri Syariah Cab. Salatiga dengan No. Rekening : 7039861253 An. EMA NUR SETIAWATI Alamat : Ketinggen Pulutan Sidorejo Salatiga adalah sebesar + Rp. 6.129.000,- (enam juta seratus dua puluh sembilan ribu rupiah) dengan perincian gaji saksi korban ditambah gaji dari terdakwa dari BMT Ramadana Salatiga yakni + Rp. 2.739.000,- + + Rp. 3.390.000,- , akan tetapi terdakwa pada saat itu tidak memberikan gaji terdakwa bekerja baik sebagai Dosen di IAIN Salatiga maupun dosen tidak tetap di AMA Salatiga kepada saksi korban.

Bahwa pada bulan Juni 2017 terdakwa marah-marah dan mengusir saksi korban dari rumah yang terdakwa dan saksi korban tinggali, dikarenakan pada saat itu saksi korban tidak mau pergi dari rumah lalu beberapa hari kemudian terdakwa sendiri yang akhirnya pergi meninggalkan rumah dengan mengajak anak pertama , kemudian pada bulan Maret 2018 anak kedua juga tinggal bersama dengan terdakwa karena merasa takut jika tinggal dengan saksi korban tidak akan dibiayai sekolah.

Bahwa setelah terdakwa meninggalkan rumah sekitar bulan Juni 2017 kemudian sejak bulan Agustus 2017 terdakwa sudah tidak menafkahi lagi baik lahir maupun bathin kepada saksi korban maupun anaknya yang nomor 3 dan nomor 4 dengan cara terdakwa tidak lagi memberikan nafkah berupa transferan gaji terdakwa ke rekening saksi korban seperti sebelumnya.

Bahwa pada bulan Agustus 2017 juga saksi korban dipecat secara sepihak oleh terdakwa sebagai pegawai di BMT Ramadana Salatiga dimana saksi korban sebelumnya bekerja, sehingga sejak bulan Agustus 2017 saksi korban tidak lagi

(36)

diberikan nafkah oleh terdakwa juga saksi korban tidak bekerja lagi pada BMT Ramadana Salatiga, sehingga mengakibatkan saksi korban tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok saksi korban sehari-hari maupun kedua anaknya ( anak No. 3 dan No. 4 ) yang tinggal bersama saksi korban.

Bahwa perincian kebutuhan sehari – hari saksi korban dan kedua anaknya ( anak No. 3 dan No. 4 ) adalah sbb :

NO. KEBUTUHAN BIAYA

1. SPP dan Pondok anak ke 3 Rp. 600.000,-

2. Uang saku anak ke-3 Rp. 400.000,-

3. Penitipan sekolah anak ke-4 Rp. 350.000,- 4. Membayar lain-lain (Piknik, Sosial, Snak) anak ke

4

Rp. 250.000,-

5. Susu anak ke-3 dan ke 4 Rp. 300.000,-

6. Uang Kebutuhan Pokok Untuk makan Rp. 500.000,-

7. Transportasi Rp. 300.000,-

8. Membayar listrik/bulan Rp. 300.000,-

9. Membayar Air Rp. 50.000,-

10. Perlengkapan sekolah dan rumah tangga Rp. 500.000,-

Total + Rp. 3.550.000,-

Bahwa untuk kebutuhan pokok sehari-hari saksi korban dan kedua anaknya ( anak No. 3 dan No. 4 ) setelah saksi korban tidak dinafkahi oleh terdakwa maupun tidak mempunyai penghasilan apa-apa saat itu saksi korban mencari pekerjaan kembali, menjual barang barang yang dipunyai seperti perhiasan maupun diberikan uang oleh saksi

(37)

MUWASSA’AH Binti KH. ZAENUDIN (Alm.) ibu saksi korban maupun oleh saksi MUH NIRMALA ARIEF EFENDI Bin M. MUNAWIR AF (Alm.) adik saksi korban.

Bahwa pada bulan Februari 2018 saksi korban mengadukan kejadian ini ke Polres Salatiga dan setelah saksi korban melaporkan terdakwa atas dasar penelantaran keluarga kemudian akhirnya terdakwa menyuruh orang untuk datang ke rumah saksi korban dan pernah memberikan beras sebesar + 20 Kg.

Perbuatan terdakwa merupakan tindak pidana menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 49 ayat (1) Undang Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

ATAU : KEDUA :

Bahwa terdakwa FAQIH NABHAN Bin H MASYKUR RIDWAN BA (Alm) pada hari dan tanggal yang tidak dapat dipastikan lagi pada bulan Agustus 2017 s/d bulan November 2018 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dalam bulan Agustus 2017 s/d Nopember 2018 bertempat di rumah Ketinggen Rt. 02 Rw.04 Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga atau termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Salatiga berwenang memeriksa dan mengadilinya, menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut, yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di

(38)

luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali terdakwa. Perbuatan terdakwa dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Bahwa pada waktu dan tempat sebagaimana tersebut di atas awal mulanya terdakwa FAQIH NABHAN Bin H MASYKUR RIDWAN BA (Alm) dan saksi korban EMA NUR SETIAWATI Binti M. MUNAWIR AF (Alm.) merupakan pasangan suami istri yang sah yang menikah secara Sah di KUA di Kec. Simo pada tanggal 07 Maret 1997 dan di karuniai 4 (empat) orang Anak.

Bahwa awal menikah antara terdakwa belum menafkahi saksi korban dikarenakan pada waktu itu terdakwa maupun saksi korban masih sama-sama kuliah.

Bahwa pada tahun 1997 s/d 1999 awal menikah antara terdakwa dengan saksi korban mempunyai kesepakatan untuk tidak memberikan nafkah dikarenakan antara terdakwa dengan saksi korban sama-sama masih kuliah.

Bahwa pada tahun 1999 s/d 2000 terdakwa dan saksi korban mengontrak rumah dimana saat itu terdakwa bekerja sebagai marketing Perumahan Loji Cokro Soka Blotongan dengan gaji Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) dan atas dorongan saksi korban sebagai isteri saat itu terdakwa agar melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu S2 dengan tidak menafkahi saksi korban.

Bahwa pada tahun 2001 s/d 2007 terdakwa dan saksi korban menempati rumah di Ketinggen Rt. 02 Rw.04 Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga yang masih atas nama Bpk. MASKUR RIDWAN bapaknya terdakwa, dimana pada saat itu terdakwa sudah bekerja menjadi Dosen tetap di IAIN Salatiga dan sebagai dosen tidak tetap di AMA Salatiga dengan gaji Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah) dan atas dorongan saksi korban sebagai isteri saat itu terdakwa agar melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu S3 selama 6 tahun dengan tidak menafkahi saksi korban.

(39)

Bahwa pada tahun 2007 s/d 2013 terdakwa selain sebagai dosen di IAIN Salatiga dan dosen tidak tetap di AMA Salatiga juga sebagai Manager di Koperasi BMT Ramadana Salatiga yang terletak di JLS Km 1,8 Pulutan Sidorejo Kota Salatiga akan tetapi terdakwa pada saat itu belum menafkahi saksi korban dikarenakan saksi korban pada saat itu mempunyai penghasilan sendiri menjadi karyawan di Koperasi BMT Ramadhana Salatiga yakni sebesar + Rp. 2.739.000,- (dua juta tujuh ratus tiga puluh sembilan ribu rupiah), sedangkan penghasilan terdakwa tiap bulannya dari pekerjaan sebagai dosen tetap di IAIN Salatiga, dosen tidak tetap di AMA Salatiga maupun di BMT Ramadana adalah sebesar + Rp. 13.645.790,- (tiga belas juta enam ratus empat puluh lima ribu tujuh ratus sembilan puluh rupiah), dengan perincian sebagai berikut :

a. Sebagai dosen tetap di IAIN Salatiga dengan penghasilan sebesar :

 Gaji Pokok : Rp. 3.456.200,-

 Tunjangan Profesi : Rp. 3.456.200,-

 Sertifikasi Dosen : Rp. 3.283.390,- + Total : + Rp. 10.195.790,-

b. Sebagai Manager di BMT RAMADANA dengan penghasilan sebesar + Rp.

3.390.000,-.

c. Sebagai dosen tidak tetap di AMA Salatiga dengan penghasilan sebesar + Rp 150.000,-.

Bahwa pada tahun 2013 s/d Agustus 2017 atas permintaan saksi korban kepada terdakwa kemudian terdakwa memberikan nafkah kepada saksi korban yakni sebanyak + Rp. 3.390.000,- (tiga juta tiga ratus sembilan puluh ribu rupiah) /bulan melalui transfer ke rekening saksi korban yakni dari gaji terdakwa bekerja di BMT Ramadana Salatiga sehingga pada saat itu uang yang masuk ke rekening saksi korban di Bank Mandiri

(40)

Syariah Cab. Salatiga dengan No. Rekening : 7039861253 An. EMA NUR SETIAWATI Alamat : Ketinggen Pulutan Sidorejo Salatiga adalah sebesar + Rp. 6.129.000,- (enam juta seratus dua puluh sembilan ribu rupiah) dengan perincian gaji saksi korban ditambah gaji dari terdakwa dari BMT Ramadana Salatiga yakni + Rp. 2.739.000,- + + Rp.

3.390.000,- , akan tetapi terdakwa pada saat itu tidak memberikan gaji terdakwa bekerja baik sebagai Dosen di IAIN Salatiga maupun dosen tidak tetap di AMA Salatiga kepada saksi korban.

Bahwa pada bulan Juni 2017 terdakwa marah-marah dan mengusir saksi korban dari rumah yang terdakwa dan saksi korban tinggali, dikarenakan pada saat itu saksi korban tidak mau pergi dari rumah lalu beberapa hari kemudian terdakwa sendiri yang akhirnya pergi meninggalkan rumah dengan mengajak anak pertama , kemudian pada bulan Maret 2018 anak kedua juga tinggal bersama dengan terdakwa karena merasa takut jika tinggal dengan saksi korban tidak akan dibiayai sekolah.

Bahwa setelah terdakwa meninggalkan rumah sekitar bulan Juni 2017 kemudian sejak bulan Agustus 2017 terdakwa sudah tidak menafkahi lagi baik lahir maupun bathin kepada saksi korban maupun anaknya yang nomor 3 dan nomor 4 dengan cara terdakwa tidak lagi memberikan nafkah berupa transferan gaji terdakwa ke rekening saksi korban seperti sebelumnya.

Bahwa pada bulan Agustus 2017 juga saksi korban dipecat secara sepihak oleh terdakwa sebagai pegawai di BMT Ramadana Salatiga dimana saksi korban sebelumnya bekerja, sehingga sejak bulan Agustus 2017 saksi korban tidak lagi diberikan nafkah oleh terdakwa juga saksi korban tidak bekerja lagi pada BMT Ramadana Salatiga, sehingga mengakibatkan saksi korban tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok saksi korban sehari- hari maupun kedua anaknya ( anak No. 3 dan No. 4 ) yang tinggal bersama saksi korban.

(41)

Bahwa perincian kebutuhan sehari – hari saksi korban dan kedua anaknya ( anak No. 3 dan No. 4 ) adalah sbb :

NO. KEBUTUHAN BIAYA

1. SPP dan Pondok anak ke 3 Rp. 600.000,-

2. Uang saku anak ke-3 Rp. 400.000,-

3. Penitipan sekolah anak ke-4 Rp. 350.000,-

4. Membayar lain-lain (Piknik, Sosial, Snak) anak ke 4

Rp. 250.000,-

5. Susu anak ke-3 dan ke 4 Rp. 300.000,-

6. Uang Kebutuhan Pokok Untuk makan Rp. 500.000,-

7. Transportasi Rp. 300.000,-

8. Membayar listrik/bulan Rp. 300.000,-

9. Membayar Air Rp. 50.000,-

10. Perlengkapan sekolah dan rumah tangga Rp. 500.000,-

Total + Rp. 3.550.000,-

Bahwa untuk kebutuhan pokok sehari-hari saksi korban dan kedua anaknya ( anak No. 3 dan No. 4 ) setelah saksi korban tidak dinafkahi oleh terdakwa maupun tidak mempunyai penghasilan apa-apa saat itu saksi korban mencari pekerjaan kembali, menjual barang barang yang dipunyai seperti perhiasan maupun diberikan uang oleh saksi MUWASSA’AH Binti KH. ZAENUDIN (Alm.) ibu saksi korban maupun oleh saksi MUH NIRMALA ARIEF EFENDI Bin M. MUNAWIR AF (Alm.) adik saksi korban.

Bahwa pada bulan Februari 2018 saksi korban mengadukan kejadian ini ke Polres Salatiga dan setelah saksi korban melaporkan terdakwa atas dasar penelantaran

(42)

keluarga kemudian akhirnya terdakwa menyuruh orang untuk datang ke rumah saksi korban dan pernah memberikan beras sebesar + 20 Kg.

Perbuatan terdakwa merupakan tindak pidana menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut, yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali terdakwa, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 49 huruf b Undang Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

c. Tuntutan

Setelah mendengar pembacaan tuntutan pidana yang diajukan oleh Penuntut Umum yang pada pokoknya sebagai berikut:

1. Menyatakan terdakwa FAQIH NABHAN Bin H MASYKUR RIDWAN BA (Alm) bersalah melakukan tindak pidana ” penelantaran dalam keluarga ” yang melanggar pasal 49 huruf a Undang Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga sebagaimana dalam surat dakwaan Kesatu kami.

2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa FAQIH NABHAN Bin H MASYKUR RIDWAN BA (Alm) dengan pidana penjara selama 12 ( dua belas ) bulan penjara, dengan perintah agar terdakwa segera di tahan.

3. Menyatakan barang bukti berupa :

- 1 (satu) bendel Daftar Potongan Gaji Pegawai IAIN an Dr. FAQIH NABHAN,SE.,M.M.

- 1 (satu) bendel Sertifikasi Dosen IAIN an Dr. FAQIH NABHAN,SE.,M.M.

(43)

- 1 (satu) bendel Daftar Gaji Pegawai Golongan III Pegawai IAIN Salatiga an Dr.

FAQIH NABHAN,SE.,M.M.

- 15 (lima belas) lembar rincian potongan Gaji dan daftar penerimaan tabungan wajib dan sukarela Dharma wanita persatuan (DWP) IAIN Salatiga an Pegawai Dr. FAQIH NABHAN,SE.,M.M.

 Dikembalikan kepada saksi S. YULI AMINTASIH Binti NGADIMIN HARJITO.

- 1 (satu) buah struk pembayaran tagihan listrik tertanggal 26 November 2018 No. Resi: 9837205-01/2018/001633 atas nama FAQIH NABHAN.

- 1 (satu) buah Buku Tabungan Bank Mandiri Syariah Cab. Salatiga an.

EMA NUR SETIAWATI No. Rek:7039861253 Alamat: Ketinggen Pulutan Sidorejo Salatiga.

- 1 (satu) Bendel Rekening Koran Bank Mandiri Syariah Cab. Salatiga dari tanggal 30 November 2015 s/d 31 Agustus 2018 an. EMA NUR SETIAWATI No. Rek: 7039861253 Alamat: Ketinggen Pulutan Sidorejo Salatiga.

 Dikembalikan kepada saksi korban EMA NUR SETIAWATI Binti M.

MUNAWIR AF (Alm.).

4. Membebani terdakwa dengan biaya perkara sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah).

d. Pledoi

Menimbang, bahwa Terdakwa dan Penasihat Hukum Terdakwa mengajukan pembelaan (pledoi) secara tertulis yang pada pokoknya memohon agar Majelis Hakim:

Referensi

Dokumen terkait

Struktur pasar monopolistik terjadi manakala jumlah produsen atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun di mana konsumen produk tersebut

Penyusunan tugas akhir ini merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro dalam

terapi musik instrumental 82% depresi ringan, 18% depresi berat, 2) setelah melakukan terapi musik instrumental 88% tidak depresi dan 12% depresi ringan, 3) hasil

Hasil penelitian yang diperoleh adalah kasus spondilitis tuberkulosis yang ditemukan pada tahun 2014 sebanyak 44 pasien.. Penyakit ini dapat menyerang segala jenis kelamin dan

Dari hasil inilah maka timbul tantangan untuk memperbaiki promosi ini di promosi ulang ini dan juga diharapkan dengan berhasilnya promosi ini maka jumlah pemakai produk ini

Berdasarkan pengamatan kemampuan berbahasa siswa pada siklus 1 telah mengalami peningkatan dari pratindakan walaupun belum mencapai persentase KKM yang telah ditentukan.

Dalam konteks berbahasa menurut Yulianti (2012 : 19) Penguasaan kosa kata dengan media flash card akan dapat mengembangkan kemampuan berbahasa dan secara tidak

el'ektil, observasi, pcnilainrr diri. penilaian tetnan sebaya atau penilaian jurnal. Berdasarkan hasil penelitian untuk penilaian observasi sudah dilakukan baik oleh