1 A. Latar Belakang
Kusta merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Leparae. Kusta dikenal dengan “ The Great Imitator Disease” karena penyakit ini seringkali tidak disadari karena memiliki gejala yang hampir mirip dengan penyakit kulit lainnya. Hal ini juga di sebabkan oleh bakteri kusta sendiri mengalami proses pembelahan yang cukup lama yaitu 2 -3 tahun bahkan lebih (Kemenkes, RI 2018). Kusta adalah penyakit infeksi kronik yang di sebabkan oleh kuman Mycobacterium Leprae. Timbulnya kusta merupakan suatu interaksi antara berbagai faktor penyebab yaitu pejamu (host, kuman (agent), dan lingkungan (envirotment), melalui suatu proses yang dikenal sebagai rantai penularan yang terdiri dari 6 komponen, yaitu penyebab, sumber penularan, cara keluar dari sumber penularan, cara penularan, cara masuk pejamu, dan pejamu (Kemenkes, RI 2019).
Angka penderita kusta di dunia cukup besar sehingga WHO (Who Health Organization) melakukan berbagai strategi untuk menurunkan jumlah penderita kusta meskipun angka tersebut masih tergolong tinggi. Insiden kusta di dunia pada akhir 2017 adalah 193.118 kasus dengan angka prevalensi sebesar 0,3 per 10.000 penduduk (WHO, 2018). Berdasarkan Pusat Data dan informasi Kemenkes RI tahun 2018, data penemuan kasus di Indonesia
sebanyak 17.202 kasus di Indonesia menempati peringkat ketiga dalam jumlah kasus kusta tertinggi di dunia setelah India dan Brazil (Kemenkes RI, 2018).
Jawa Barat tahun 2016, dengan kasus kusta terbanyak ke-2 di Indonesia setelah Jawa Timur, didapatkan data untuk Kabupaten Subang 195 kasus baru kusta, Kabupaten Karawang 389 kasus baru kusta, Kabupaten Bekasi 232 kasus baru kusta, Kabupaten Cirebon 245 kasus baru kusta, Kabupaten Indramayu 211 kasus baru kusta (Pernas Kusta Kabupaten Subang, 2017).
Menurut data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Subang, jumlah penduduk pada tahun 2015 pada Kecamatan Kalijati terdapat 30.808 jiwa dan Kecamatan Purwadadi sebanyak 29.339. Jika dibandingkan dengan jumlah penderita kusta pada kecamatan tersebut hanya sekitar 4,3%
dari jumlah yang ada. Namun hal tersebut tidak dapat disepelekan begitu saja mengingat tingkat pendidikan dan penderita kusta yang ada pada kabupaten Subang ini masih rendah, jika dibiarkan begitu saja tanpa adanya pencerdasan kepada masyarakat akan memperburuk kondisi dilapangan.
Penyakit kusta adalah penyakit yang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Pengobatan yang dilakukan yaitu dengan MDT (Multi drug Therapy), sebelum pengobatan tidak dapat disembuhkan dengan MDT (Multi drug Th erapy). Maka dari itu, pengobatan kusta harus dilakukan sedini mungkin sejak gejala pertama kali ditemukan (Madyasari, 2017).
Pada tahun 2008 sebanyal 17 provinsi di Indonesia masih tergolong sebagai daerah endemis kusta. Kebanyakan di di indonesia timur seperti papua, kalimantan, halmahera, sulawesi selatan dan terbanyak lainnya berada di jawa timur. Tingkat rata-rata penyakit kusta di Indonesia cukup tinggi yakni mencapai 8,7% per kasus kejadian per tahun. Dan Menurut (soedarjatmi, 2009) penyakit kusta merupakan penyakit yang ditakuti oleh keluarga dan masyarakat. Saat itu telah terjadi pengasingan secara spontan karena penderita merasa rendah diri dan malu. Masyarakat menjauhi penderita kusta karena kurangnya pengetahuan atau pengertian juga kepercayaan yang keliru terhadap penyakit kusta. Karena masyarakat menganggap bahwa kusta disebabkan oleh kutukan dan guna-guna, proses inilah yang membuat para penderita terkucilkan dari masyarakat, dianggap menakutkan dan harus dijauhi, pernyataan ini timbul karena kurangnya pengetahuan masyarakat umum. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Lasari, 2013) bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap keluarga dengan tingkat kecacatan penderita kusta (Muharry, 2014). Kondisi ekonomi yang rendah dan kebersihan perorangan yang buruk dapat mempengaruhi kejadian kusta (Martomijoyo, 2017). Penyakit kusta ini sendiri, merupakan salah satu gambaran nyata kemiskinan di masyarakat indonesia, karena kenyataanya sebagian besar penderita kusta berasal dari golongan ekonomi lemah. Adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengethauna sebagai salah satu bagian dari perilaku dengan proses penularan dan penyembuhan pada penderita kusta.
Kaena jika seseorang memiliki pengetahuan yang tinggi tentang kusta tentunya akan berusaha menjauhkan dirinya dari faktor yang menjadi sumber penularan, selain itu pengetahuan tentang penyakit juga harus sejalan dengan perilaku hygiene memiliki hubungan bermakna pada penularan penyakit kusta (Idris, 2008).
Pendidikan: Rendahnya tingkat pendidikan dapat mengakibatkan lambatnya pencarian pengobatan dan diagnosis penyakit, hal ini dapat mengakibatkan kecacatan pada penderita kusta semakin parah, Kecacatan yang terjadi pada penderita kusta berdampak pada terjadinya penurunan kepercayaan diri sehingga mereka merasa bahwa hal ini tidak berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, hal ini menyebabkan terjadinya perilaku menarik diri dari lingkungan sekitar sehingga mempengaruhi kualitas hidup penderita kusta (Budayatma, 2011).
Pengetahuan: adalah hasil pengindraan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan sebagainya). Secara sendirinya, pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi objek yang berbeda – beda (Notoatmodjo, 2005b). Karena pengetahuan yang baik diharapkan menghasilkan kemampuan seseorang dalam mengetahui gejala, cara penularan penyakit kusta dan penangannya. Cacat di pengaruhi oleh beberapa faktor seperti keterlambatan berobat terjadi saat penderita kusta enggan memeriksakan penyakitnya karena takut kondisinya diketahui oleh lingkungan sekitar, hal ini menyebabkan berlanjutnya mata rantai penularan
penyakit kusta yaitu timbulnya kecacatan pada penderita (Kemenkes RI, 2018). Penyakit kusta yang tidak secara dini dan tepat di tangani akan berakhir dengan banyak kecacatan fisik yang permanen. World Health Organozation (WHO) telah membagi derajat kecacatan pada penderita kusta menjadi 3, yaitu: derajat 0 – tidak terdapat adanya kecacatan, derajat 1 – kehilangan sensasi pada tangan dan kaki, derajat 2- kecacatan yang dapat langsung terlihat seperti ulkus pada kaki dan tangan, kelumpuhan otot (drop foot dan claw hand) atau reabsorsi parcial dari jari – jari, serta kebutaan (Komalaningsih, 2019). Karena Pengetahuan yang diperoleh individu dapat membangun sikap dan persepsi sebagai dasar untuk bertindak. Sesuai dengan teori Green menyatakan bahwa adanya kecenderungan seseorang yang berpengetahuan tinggi akan lebih cenderung berprilaku baik dalam bidang kesehatan hal ini mencegah kecacatan keluarga yang menderita penyakit kusta.
Faktor penyebab lainnya yaitu keadaan sosial ekonomi yang lemah dapat memperburuk perkembangan kusta karena bila tidak segera di tangani secara cermat dapat menimbulkan cacat dan keadaan ini menjadi halangan bagi penderita kusta untuk memenuhi kehidupan sosial ekonomi menurut (Susanto, 2006) dalam (Wisnu, 2003), menyatakan bahwa pekerjaan yang berat dan kasar dapat mengakibatkan kerusakan jaringan dan saraf semakin parah. Menurut Permenkes No.75 tahun 2014 tentang puskesmas, puskesmas memiliki salah satu upaya kesehatan wajib, yaitu pencegahan dan pemberantasan penyakit menular. Kusta merupakan salah satu penyakit
menular yang dapat menyebabkan masalah yang kompleks, tidak hanya dari segi medis seperti cacat fisik namun juga berdampak pada masalah sosial dan ekonomi yang terjadi akibat stigma buruk masyarakat terhadap kecacatan penderita kusta. Stigma buruk masyarakat timbul akibat kesalahan persepsi dan pengetahuan yang sempit mengenai kusta sehingga penderita kusta mengalamai diskriminasi dalam masyarakat dan kesulitan mendapat pekerjaan. menurut (Notoatmodjo, 2005) orang yang memiliki pengetahuan yang tinggi tentang kusta tentunya akan berusaha menjauhkan dirinya dari faktor-faktor yang dapat menjadi sumber penularan penyakit ini. Jika pengetahuan individu terhadap suatu terhadap suatu penyakit tidakatau belum diketahui, maka sikap dan tidakan dalam upaya pencegahan penyakit pun terkadang terabaikan. Angka penderita kusta 2016-2020 di kabupaten Subang khususnya puskesmas kalijati dan puskesmas purwadadi mencapai 120 orang dan 15 orang penderita kusta lainnya sudah mengalami kecacatan.
Hal ini menjadi ketertarikan penulis untuk melakukan penelitian dengan judul
“GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KLIEN KUSTA TENTANG PENYAKIT KUSTA” di puskesmas kalijati dan puskesmas purwadadi Kabupaten Subang Jawa Barat.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah :
1) Bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap klien kusta tentang penyakit kusta di Puskesmas Kalijati dan Puskesmas Purwadadi?
C. Tujuan Penelitian 1) Tujuan Umum
Untuk mengetahui adanya gambaran pengetahuan sikap klien kusta tentang penyakit kusta di puskesmas kalijati dan puskesmas purwadadi.
2) Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan klien kusta tentang penyakit kusta di Puskesmas Kalijati dan Puskesmas Purwadadi.
b. Mengidentifikasi gambaran sikap klien kusta tentang penyakit kusta di Puskesmas Kalijati dan Puskesmas Purwadadi.
c. Mengidentifikasi gambaran karakteristik klien kusta di Puskesmas Kalijati dan Puskesmas Purwadadi.
D. Manfaat Penelitian 1) Manfaat Teoritis
Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan referensi tentang pengetahuan sikap klien kusta dalam kejadian kecacatan.
2) Manfaat Praktis a) Bagi Peneliti
Memberikan pengalaman nyata dalam upaya promosi kesehatan terkait pengetahuan kepada klien kusta. Selain itu, penelitian ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan baru dalam memperluas keilmuan peneliti.
b) Bagi Instansi kesehatan.
Sebagai bahan masukan dalam menentukan kebijakan untuk meningkatkan kinerja khususnya pada hal menyebar luaskan informasi seputar penyakit kusta dan penyuluhan kesehatan bagi masyarakat umum serta masyarakat yang telah terindikasi penyakit kusta. Serta mengoptimalkan segala hal penyuluhan kepada masyarakat agar pengetahuan dan sikap masyarakat tepat dalam menyikapi penyakit apapun.
c) Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini di harapkan dapat menambah informasi, meningkatkan kinerja, kemampuan dalam menerapkan ilmu pengetahuan tentang pengetahuan dan sikap klien kusta hingga meminimalisir terjadinya kecacatan pada klien kusta.
E. Sistematika Penulisan
Hasil penelitian ini akan disajikan dalam lima bagian, tiap-tiap bagian akan berkaitan dan berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya. Tiap- tiap bagian sebagai berikut :
BAB 1 PENDAHULUAN
Pada bab ini membahas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian, sistematika penelitian.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini membahas teori-teori yang digunakan pada bahan analisis masalah. Teori diambil berbagai literatur yang berkaitan dengan pembahasan masalah yang diteliti, serta pengambilan hipotesis didasarkan pada rumusan masalah yang diajukan pada penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN.
Pada bab ini membahas tentang cara yang akan digunakan pada peneliti dalam mendudukung pengelolaan data yang didapat setelah melakukan penelitian.
BAB IV PEMBAHASAN HASIL ANALISA
Pada bab ini hasil dari pengolahan data, yang hasilnya digunakan sebagai jawaban pada penelitian yang telah dilakukan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.
Pada bab ini memebahas hasil keseluruhan dari penelitian yang telah dilakukan, serta saran.