BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi mengalami perkembangan yang sangat pesat sesuai dengan perkembangan zamannya. Salah satu bukti perkembangan teknologi adalah dengan adanya smartphone. Smartphone merupakan teknologi canggih yang menyediakan berbagai aplikasi menarik yang dapat menyajikan berita, jejaring sosial, hobi, akses internet, bahkan hiburan, serta fungsinya yang lebih praktis dari laptop dan mudah untuk dibawa kemana saja.. (Mtsweni et al., 2020). Lembaga penelitian di Amerika Serikat, Pew Research Center melakukan survey pada 30.133 orang di 27 negara yang salah satunya Indonesia pada 14 Mei sampai 12 Agustus 2018. Kepemilikan penggunaan smartphone yang berusia muda meningkat dari 39% menjadi 66% dari 2015-2018. Untuk pengguna smartphone berusia di atas 50 tahun, juga naik 2% pada 2015 menjadi 13% pada 2018. (Hartanti, 2020).
Berdasarkan penelitian Rosenfield menatap layar komputer lebih dari 4 jam setiap hari akan meningkatkan gejala keluhan mata (eye strain) (Rosenfield,2011). Kondisi ini akibat penggunaan komputer, tablet, e- reader, dan ponsel yang berkepanjangan dan menimbulkan gejala antara lain kelelahan mata, sakit kepala, leher, bahu, ketidaknyamanan mata, mata kering, dan kabur. (Setyowati et al., 2020)
World Health Organization (WHO) menunjukkan angka kejadian kelelahan mata di dunia berkisar 75-90%. Di Indonesia angka kejadian kelelahan mata berkisar 40 sampai dengan 92%. Kelelahan mata dapat dipengaruhi dari beberapa faktor yaitu faktor individual, faktor lingkungan, faktor ergonomi, dan faktor alat. Salah satu penyebab terjadinya kelelahan mata adalah akibat penggunaan smartphone. Survey knowledge, attitude, and practices (KAP) pada dokter mata di India melaporkan kelelahan mata sebanyak 97,8%. Di Indonesia angka kejadian kelelahan mata bervariasi
antara 40 persen sampai 92 persen.(Efriliani et al., 2017). Mata lelah ialah kelainan dengan gejala non spesifik meliputi ketegangan pada mata, kelelahan mata, ketidaknyamanan, iritasi, rasa panas, dan sakit kepala.
Gejala lebih spesifik yang mungkin timbul yaitu fotofobia, penglihatan buram, diplopia, gatal, mata kering, dan sensasi benda asing. Klasifikasi menurut International Classification of Diseases 10 (ICD-10), kelelahan mata merupakan gangguan visual yang bersifat subjektif karena bersifat subjektif, gejala yang timbul erat hubungannya dengan jenis aktivitas yang dilakukan. Aktivitas jarak dekat yang meliputi membaca, menonton televisi, menggunakan komputer, smartphone, dan aktivitas dekat lainnya adalah faktor risiko tersering timbulnya keluhan. Intensitas dan lamanya aktivitas juga faktor penting terjadinya mata lelah. (Chandra & Kartadinata, 2018).
Pada pengguna smartphone kelelahan terjadi karena akibat dari mata yang memusatkan pandangan pada smartphone di mana obyek yang dilihat terlalu kecil, kurang terang, bergerak dan bergetar. Mata yang berkonsentrasi kurang berkedip, sehingga penguapan air mata meningkat dan mata menjadi kering. Dampak lain dari kelelahan mata adalah terjadinya keluhan-keluhan penglihatan seperti mata merah, mata berair bahwa penglihatan ganda. Hal ini menjelaskan bahwa salah satu faktor mengapa seseorang sering mengalami kelelahan mata berupa mata merah, mata kering, mata berair bahkan penglihatan ganda itu disebabkan karena lelahnya otot mata akibat dipaksa untuk melakukan kegiatan lebih dari batas normalnya, misalnya melihat smartphone yang durasi penggunaannya terlalu lama. (Nine et al., 2021)
Faktor yang dapat mempengaruhi kelelahan mata menurut Occupational Health and Safety Unit Universitas Queensland adalah faktor perangkat kerja (urutan objek pada layar dan tampilan layar, lingkungan kerja (cahaya monitor, pencahayaan ruangan, suhu udara), desain kerja (karakteristik dokumen, durasi kerja) dan karakteristik individu (Riwayat penyakit). (Erastus Mosha & Ruíz, 2010). Hasil penelitian mengenai kelelahan mata terhadap smartphone 74 responden terdapat 61 (82,4 %)
responden dengan keluhan kelelahan mata akibat penggunaan smartphone dan penelitian ini didapatkan adanya hubungan jarak pemakaian smartphone kurang baik dengan keluhan kelelahan mata pada mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat. (Gumunggilung et al., 2021)
Pada tahun 2018 telah dilaporkan volume kendaraan umum di Indonesia mencapai 146 858 759,00 juta/tahun. Lalu lintas yang padat menyebabkan masyarakat enggan menggunakan kendaraan pribadinya.
Dalam mengatasi kemacetan dibutuhkan moda transportasi yang efektif untuk menunjang masyarakat. Alternatifnya masyarakat menggunakan transportasi berbasis online yang dapat dipesan menggunakan aplikasi android. Ojek online merupakan salah satu jasa yang banyak digunakan untuk jasa pengiriman barang (Khoirul Anam, 2020). faktor yang mempengaruhi driver ojek online adalah faktor kelelahan. Kelelahan sebesar 62.85%, terjadi akibat dari tidak seimbangnya antara usia, jam kerja, dan total jarak yang sudah ditempuh dengan waktu istirahat. Oleh karena itu, mengemudi dalam waktu lama waktu tugas yang terutama bergantung pada sistem penglihatan dapat menyebabkan penglihatan kelelahan, termasuk lambatnya perubahan fokus, perubahan tekanan di mata, dan kelelahan mata. (Khoirul Anam, Ikhwan Muhammad, 2020).
Berdasarkan data informasi (pikiranrakyat.com 14 juli 2020) di Jawa Barat sendiri, khususnya Bandung Raya, jumlah mitra driver ojek online diprediksi mencapai 20 ribu orang, mereka berasal dari berbagai komunitas yang ada dan selalu sedia di lokasi-lokasi yang sangat strategis dimana terdapat beberapa tempat seperti perumahan, perkantoran, kampus, sekolahan, kuliner, tempat wisata dan lain-lain. Antapani merupakan salah satu wilayah di kota Bandung yang sangat banyak populasi ojek online, hal tersebut disebabkan wilayah Antapani merupakan wilayah yang sangat potensial dalam pelayanan ojek online, terdapat banyak perumahan, berbagai macam kuliner, berbagai pusat-pusat perbelanjaan, perkantoran, sekolah, kampus, hingga kos-kosan, didukung tingginya konsumsi serta keinginan masyarakat terhadap penggunaan transportasi ojek online
membuat pekerjaan ini sangat diminati salah satunya di wilayah Antapani Bandung. Hal ini menjadi salah satu alasan peneliti memilih meneliti di lokasi tersebut, Berdasarkan hasil studi pendahuluan terhadap 10 driver ojek online, didapatkan 7 orang mengeluhkan mata lelah dengan gejala sensitif terhadap cahaya, mata kering dan berair serta terasa pegal keluhan mata lelah diakibatkan karena berkendara dan penggunaan smartphone.
Umumnya driver tersebut memiliki jumlah waktu aktifitas diluar sekitar 14 hingga 18 jam dalam sehari, dimana rasio penggunaan smartphone lebih tinggi dibandingkan berkendara karena selalu standby untuk menunggu, menerima, melakukan pemesanan orderan dan memperhatikan peta tujuan dengan menggunakan aplikasi smartphone, ditambah faktor lingkungan seperti beraktifitas menghadapi panas terik di siang hari, dan aktivitas gelap di malam hari, yang menyebabkan mata fiksasi dan berakomodasi selama pengguna melihat lokasi tertentu dalam pemandangan visual jalan dan pada saat yang bersamaan melihat jarak tertentu untuk memproses informasi melalui smartphone, lamanya durasi mencerminkan tingkat kesulitan dalam menangkap dan memproses informasi lalu lintas. (Xu et al., 2018)
Dari penjelasan tersebut penulis tertarik untuk meneliti “Gambaran Kelelahan Mata Pada Driver Ojek Online Akibat Paparan Layar Smartphone di Antapani Bandung”.
B. Identifikasi Masalah
Jasa ojek online saat ini menjadi sebuah kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat. Driver ojek online bekerja hampir 24 jam pagi, siang dan malam, kelelahan akibat bekerja sangat dimungkinkan karena usia, waktu kerja, paparan cahaya sinar matahari, serta paparan layar smartphone.
Peneliti tertarik untuk mengetahui penelitian gambaran kelelahan mata akibat paparan layar smartphone pada driver ojek online.
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kelelahan mata akibat paparan layar smartphone pada driver ojek online di Antapani Bandung.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gejala kelelahan mata akibat paparan layar smartphone pada driver ojek online di Antapani Bandung
b. Untuk mengetahui gambaran kelelahan mata pada driver ojek online berdasarkan karakteristik jenis kelamin, usia, dan lama penggunaan smartphone
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi pengetahuan dan memberikan manfaat dalam pengembangan teori tentang kelelahan mata pada driver ojek online.
2. Manfaat praktis
a. Manfaat bagi peneliti
Peneliti mampu merencanakan dan melaksanakan penelitian dalam gambaran kelelahan mata akibat paparan layar smartphone pada driver ojek online di Antapani Bandung.
b. Manfaat bagi optometri
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengetahuan serta keterampilan bagi optometri.
c. Manfaat bagi institusi
Penelitian ini sebagai salah satu bahan referensi perpustakaan.
d. Manfaat bagi komunitas ojek online
Penelitian ini diharapkan memberikan masukan dan saran informasi mengenai kelelahan mata pada driver ojek online di Antapani bandung.
E. Ruang lingkup masalah 1. Lingkup masalah
Masalah yang diteliti adalah masalah mengenai kelelahan mata pada driver ojek online akibat paparan layar smartphone.
2. Lingkup keilmuan
Peneliti ini didasari dari Ilmu Optometri dan Persepsi Penglihatan.
3. Lingkup tempat
Penelitian ini dilakukan di Antapani Bandung.
4. Lingkup waktu
Penelitian ini dilakukan bulan Maret - April 2022.
5. Lingkup metode penelitian
Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Metode kuantitatif adalah metode penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. ( Sugiyono, 2016).
6. Lingkup sampel
Penelitian ini dilakukan kepada driver ojek online Antapani Bandung.