Undang-Undang Dasar Negara Republik Indinesia Tanun 1945 (Selanjutnya disingkat UUD NRI Tahun 1945) mennyebutkan bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum. Dengan demikian setiap warga negara dijamin hak asasinya yakni: Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya, Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang oleh siapa pun, Setiap orang berhak atas Pengakuan, Jaminan, Perlindungan, dan Kepastian Hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum, Untuk menegakkan dan melindungi hak warga negara sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokaratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.
Indonesia sebagai negara yang memiliki suku dan budaya yang berbeda, dengan kepemilikan wilayah tersendiri dengan kemajemukan untuk tetap menjaga keunikan budayanya masing-masing tersebut atas pemanfaatan terhadap tanah. Tanah selaku Karunia Tuhan yang memiliki sumber kesejahteraan dan kemakmuran serta kehidupan untuk manusia, karena tanah dimanfaatkan sebagai salah satunya kebutuhan umat manusia buat tinggal.
Tanah mempunyai peran penting dalam penghidupan bangsa Indonesia
dimana penggunaanya sangat dibutuhkan.1 Tanah untuk kehidupan umat manusia memiliki peran yang sangat berarti. Perihal ini diakibatkan nyaris segala aspek kehidupannya paling utama untuk bangsa Indonesia ini yang tidak bisa terlepas dari keberadaan tanah yang sebetulnya tidak cuma bisa ditinjau dari aspek ekonomi saja, melainkan meliputi seluruh kehidupan serta penghidupannya. Tanah memiliki multiplevalue, hingga istilah tanahair dan tumpah darah dipergunakan oleh Indonesia buat menyatakan daerah negeri dengan menggambarkan daerah yang didominasi tanah, air, serta tanah yang berdaulat. Peran tanah dalam kehidupan manusia merupakan induk dari segala pokok kebutuhan selain dari kebutuhan pangan maupun sandang.
Tanah dapat dipergunakan untuk kebutuhan sehara-hari masyarakat sehingga memiliki nilai yang tinggi dalam poses kebutuhan hidup yang dapat memajukan kemakmuran serta kesejahteraan masyarakat. Tetapi, kebutuhan terhadap tanah bukan menjadikan seseorang dengan gampang mempunyai serta memiliki tanah. Jelas dipertegas mengenai arti penting dan batasan sebuah tanah bagi seluruh masyarakat dan negara sebagai Organisasi penting Masyarakat tertinggi di Indonesia yang dituangkan dalam pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 yang menyatakan.bahwa: “Bumi air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
Pasal ini menjelaskan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan sumber daya alam, termasuk air dan sumber daya alam lainnya, termasuk
1 Sudjito, Prona Pensertifikatan.Tanah Secara.Massal dan.Penyelesaian Sengketa Tanah Yang.Bersifat Strategis, Cet.1,.Liberty, Yogyakarta: 1987, hlm 1
tanah, yang berada dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dikuasai, diatur oleh negara atau pemerintah dengan segala isinya dan pembagiannya, dikelola kepada lembaga pemerintahan yang mengabdi kepada kemakmuran atau kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, bilamana negara diberi kuasa untuk mengatur adanya hak atas tanah.
Tanah adat yang merupakan hak dari persekutuan hukum adat atas wilayahnya termasuk segala sesuatu (kekayaan) yang ada diatasnya. Adanya Permasalahan karena meningkatnya kebutuhan atas tanah untuk pembangunan sehingga tanah adat dipergunakan demi kepentingan pembangunan sehingga berakibat keberadaan masyarakat lokal semakin terpinggirkan. Menghadapi persoalan seperti itu, hak-hak ulama, khususnya pemerintah daerah, harus dilindungi dan diberi perhatian lebih. Hak Tanah adat diakui eksistensinya sehingga perlu untuk mempertahankan untuk menjaga kepentingan masyarakat Nasional. Masyarakat hukum adat sebagai satu kesatuan dengan tanah tempat tinggalnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan hukum adat, yaitu hubungan yang bersumber dari perspektif religio-magis. Hal ini mengakibatkan masyarakat memiliki hak untuk menguasai tanah, menggunakannya, memanen hasil bumi di atasnya, berburu hewan yang tinggal di sana, dll. Hak masyarakat hukum adat atas tanah disebut dengan hak penguasaan atau hak milik.2
Perkembangannya semakin banyak pembangunan saat ini terhadap tanah maka akan menimbulkan permasalahan-permasalahan di masyarakat
2Bushar Muhammad, Pokok-Pokok Hukum Adat, Pradnyaparamita,Jakarta, 1981, hlm 103
hukum adat yang berkaitan dengan tanah adat. Salah satunya di Tanah adat Marefenfen Kapulauan Aru, yang mana Masyarakat Adat Marafenfen menuntut hak atas wilayah adatnya yang diduga telah dirampas secara sepihak oleh Angkatan Laut Indonesia (AL). Rencananya, pembangunan bandara dan berbagai fasilitas lainnya di atas lahan ratusan hektare yang berlokasi di Desa Marafenfen, Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku.3
Pada Operasi Trikora tahun 1962, Kepulauan Aru menjadi lokasi yang sangat strategis, menjadi pos pemeriksaan mobilisasi pasukan Indonesia menuju Papua. Sejak saat itu, wilayah Kepulauan Aru dianggap sebagai wilayah yang sangat penting untuk pertahanan dan perlindungan masyarakat dari ancaman eksternal. Ingatlah bahwa bagian selatan wilayah ini berhadapan langsung dengan Australia. Strategi wilayah Aru, khususnya Mafenfen, dilanjutkan pada tahun 1991.
Lahan yang hendak dijadikan area pembangunan bandara dan berbagai fasilitas lainnya tersebut, merupakan bagian dari wilayah adat Masyarakat Adat Marafenfen. Ketika sengketa tanah muncul, ditambah dengan kecurigaan tentang keberadaan kendaraan yang terkait dengan rencana pengembangan bandara di wilayah Masyarakat Adat Marafenfen.
Berdasarkan uraian di atas, Masyarakat Adat Marafenfen membawa kasus ini ke proses hukum. Yaitu dengan mengajukan gugatan perdata terhadap TNI AL atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh
3 https://www.aman.or.id/news/read/di-balik-sengketa-lahan-masyarakat-adat- marafenfen diakses 29 Januari 2022
TNI AL (akibat perampasan tanah (689 hektar tanah) di Pengadilan Negeri Dobo, nomor pokok perkara 7/Pdt.G/2021/PN.Dobo Tanggal 31 Maret 2021 Terdakwa antara lain Gubernur Maluku, TNI Angkatan Laut dan Badan Pertanahan Nasional (BPN).Langkah ini diambil setelah masyarakat menunggu kejelasan status tanah mereka dengan mengirimkan surat kepada pemerintah dan instansi terkait, termasuk TNI dan Komnas HAM Jakarta.4
Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah yang telah dijelaskan, maka penulis membahas hal tersebut sebagai bahan penulisan hukum dengan judul: Penyelesaian Sengketa Tanah Adat Marafenfen Kepulauan Aru (Studi Kasus Penetapan Pengadilan Negeri Dobo No. 7/Pdt.G/2021/PN Dobo)
B. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan dalampenulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah Penetapan Pengadilan Negeri Dobo No.7/Pdt.G/2021/PN.Dobo dapat menyelesaikan sengketa tanah adat Marafenfen ?
2. Bagaimana Bentuk Penyelesaian Sengketa Tanah Adat Marefenfen?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan untuk melakukan penelitian ini terkait dengan permasalahan di atas adalah:
1. Untuk mengetahui Penetapan Pengadilan Negeri Dobo No.7/Pdt.G/2021/PN.Dobo dapat menyelesaikan sengketa tanah adat Marafenfen
4 https://www.aman.or.id/publication-documentation/kronologis-&-latar-belakang- permasalahan-masyarakat-adat-marafenfen-kepulauan-aru:--upaya-memperjuangkan-eksistensi- sebagai-manusia--dari-perampasan-tanah diakses 29 Januari 2022
2. Untuk mengetahui bentuk penyelesaian sengketa tanah adat marefenfen berdasarkan penetapan Pengadilan Negeri No.7/Pdt.G/2021/PN.Dobo 3. Untuk memenuhi persyratan akademik dalam menyelesaikan studi pada
program strata satu (S1) pada Fakultas Hukum Universitas Pattimura Ambon
D. Kegunaan Penulisan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan Manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis sebagai berikut:
1. Secara Teoritis
Secara Teoritis diharapkan hasil Penelitian ini dapat berguna dan bermanfaat kepada penulis dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang hukum agraria dalam kaitan dengan permasalahan yang dikaji.
2. Secara Praktis
secara praktis, dapat menjadi masukan dan rujukan bagi pihak-pihak yang berkepenttingan khususnya masyakat adat atas tanah adat Marafenfen dalam kaitan dengan Penetapan Pengadilan Negeri Dobo No.7/Pdt.G/2021/PN. Dobo unttuk menyelesaikan sengketa tanah adat Marafenfe.
E. Kerangka Konseptual 1. Masyarakat Adat
Masyarakat hukum adat adalah istilah atau konsep umum yang digunakan di Indonesia untuk menyebut masyarakat hukum adat (adat rechtsgemeenschappen) yang ada pada masa pendudukan Hindia Belanda saat itu. Secara yuridis dan teoritis secara resmi disebut masyarakat hukum adat, namun dalam perkembangan belakangan ini masyarakat hukum adat
Indonesia menolak pengelompokan perihal adat, Common law atau system hukum karena tidak hanya tentang hukum tetapi tentang semua aspek dan aspek kehidupan. Sebagai kesimpulan, sebagai bahan praktis dan untuk pemahaman dan interpretasi lokal dari Deklarasi ini, kata-kata "masyarakat adat" digunakan secara bergantian dan memiliki arti yang sama. Pendapat yang sama diungkapkan dalam berbagai konsep yang merangkum konsep masyarakat suku dan penduduk/masyarakat adat Departemen Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam kaitannya dengan Konvensi ILO 107 (1957) dan 169 (1989).5
Bentuk serta susunan masyarakat hukum merupakan persekutuan hukum itu, para anggotanya bersifat territorial dan geneologis menurut perkembangannya. Menurut pengertian yang disampaikan oleh beberapa Para ahli hukum pada masa Hindia Belanda memahami suatu masyarakat hukum atau masyarakat hukum teritorial sebagai suatu masyarakat yang tetap dan teratur, yang polanya anggota masyarakat itu terikat pada suatu kawasan tempat tinggal atau tempat tinggal tertentu, baik dari sudut pandang sekuler melihat dan tempat tinggal serta spiritual sebagai tempat pemujaan arwah para leluhur.6
5Konvensi Ilo No. 169 Tahun 1989 Mengenai Masyarakat Hukum Adat (Pdf).
Jenewa: Lo Publications. 2003
6Hilman Hadikusuma, Hukum Waris Adat. PT. Citra Aditya Bakti. Bandung, 2003, hlm 108
Menurut F.D. Hollenmann mengkontruksikan 4 (empat) sifat umum dari masyarakat adat, yaitu magis, religius, komunal, konkrit dan kontan. Hal ini terungkap dalam uraian singkat sebagi berikut:7
a) Sifat magis religius dapat dikatakan sebagai suatu pola pikir yang didasarkan pada keyakinan masyarakat tentang adanya sesuatu yang bersiafat sakral. Sebelum masyarakat bersentuhan dengan sistem hukum agama religiusitas ini diwujudkan dalam cara berfikir yang frologka, animism, dan kepercayaan pada alam gahib Masyarakat harus menjaga kehamonisan antara alam nyata dan alam batin (dunia gaib). Setelah masyarakat mengenal system hukum agama perasaan religius diwujudkan dalam bentuk kepercayaan kepada Tuhan (Allah).
Masyarakat percaya bahwa setiap perbuatan apapun bentuknya akan selalu mendapat imbalan dan hukuman tuhan sesuai dengan derajat perubahannya.
b) Sifat komunal (Commuun), masyarakat memiliki asumsi bahwa setiap setiap individu, anggota masyarakat merupakan bagian integral dari masyarakat secara keseluruhan. Diyakini bahwa kepentingan individu harus sewajarnya disesuaikan dengan kepentingan-kepentingan masyarakat karena tidak ada individu yang terlepas dari masyarakat.
c) Sifat kongkrit diartikan sebagai corak yang jelas atau nyata menunjukkan bahwa setiap hubungan hukum yang terjadi dalam masyarakat tidak dilakukan secara diam-diam atau samar.
7Alting Husen, Dinamika Hukum dalam Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah¸Yogyakarta: LaksBang PRESSindo, 2010 , hlm 46
d) Sifat kontan (kontane handeling) mengandung arti sebagai kesertamertaan terutama dalam pemenuhan prestasi yang diberikan secara serta merta atau seketika.
Pengertian masyarakat hukum adat telah diatur dalam pasal 1 ayat 15 Menteri Urusan dan Tata Ruang/Kepala Peraturan Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 2015 tentang tata cara penetapan milik bersama di atas tanah masyarakat dan masyarakat adat. Berada dalam batas-batas yang telah ditentukan sebelumnya berarti pengakuan hak masyarakat hukum adat mengakui keberadaan hak-hak masyarakat hukum adat selama masih ada. Dengan demikian, seseorang dapat menyimpulkan bahwa masyarakat hukum adalah sekelompok orang yang memiliki sendiri batas- batas wilayah, serta norma-norma yang dalam masyarakat ini dan dihormati oleh masyarakat hukum adat yang ada dikelompok tersebut.
2. Tanah Adat
Tanah adalah lapisan permukaan atau lapisan atas bumi. Pengertian tanah dari segi geologi dan agronomi Tanah adalah permukaan bumi, yang dalam penggunaannya juga meliputi sebagian dari tanah bawah dan sebagian ruang atas dengan batasan dalam pasal 4 UUPA yaitu sekedar di perlukan untuk kepentingan yang langsung berhubungan dengan penggunaan tanah yang bersangkutan, dalam batas-batas tertentu. Menurut Das Braja M. Mekanika, tanah dalam pengertian teknis umum adalah suatu bahan yang terdiri atas agregat mineral-mineral padat yang tidak terikat satu sama lain dan dari bahan organik lapuk yang mengandung partikel-
partikel padat bersama-sama dengan cairan dan gas yang mengisi celah- celah tanah. mereka melakukannya partikel padat..8
Ruang lingkup agraria, tanah adalah bagian dari tanah yang disebut permukaan tanah. Kata “tanah” mempunyai arti yang luas, termasuk pengaturan tanah dalam segala aspeknya, tetapi hanya satu dari aspek yang tanah dalam pengertian hukum disebut hak. Dalam hukum pertanahan, istilah tanah digunakan dalam pengertian hukum, seperti pengertian secara resmi yang diungkapkan oleh Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960, yang selanjutnya disingkat UUPA. Ketentuan Pasal 1 ayat (4) menyebutkan: “dalam pengertian bumi, termasuk pula tubuh bumi di bawahnya serta yang berada di bawah air.”
Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) diadakan perbedaan antara pengertian “bumi dan tanah”, sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 4 ayat (1) UUPA yang berbunyi: “Atas dasar hak menguasai dari negara sebagai yang dimaksud dalam Pasal 2 ditentukan adanya macam- macam hak atas permukaan bumi, yang disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang serta badan-badan hukum”.
Pengertian Yuridis Tanah adalah permukaan bumi, sedangkan hak atas tanah adalah hak atas sebagian tertentu permukaan bumi, yang berbatas, berdimensi dua dengan ukuran panjang dan lebar. Adapun hak
8. Das, Braja M. Mekanika Tanah 1. Erlangga. Jakarta, 1995 hal 53
atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada pemegang haknya untuk mempergunakan atau mengambil manfaat dari tanah yang dihakinya.
Objek Hukum Tanah adalah hak menguasai atas tanah, artinya adalah hak penguasaan atas tanah berupa hak yang berisi serangkaian wewenang, kewajiban dan atau larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu mengenai tanah yang dihaki. Dalam objek hukum tanah sesuatu yang boleh, wajib atau dilarang untuk diperbuat, yang merupakan isi hak penguasaan itulah yang menjadi kriteria atau tolak ukur pembeda di antara hak-hak penguasaan atas tanah yang diatur dalam hukum tanah.
Menurut Urip Santoso hierarki hak-hak penguasaan atas tanah dalam Hukum Tanah Nasional, adalah:
a. Hak bangsa Indonesia atas tanah;
b. Hak menguasai dari negara atas tanah;
c. Hak ulayat masyarakat hukum adat;
d. Hak-hak perseorangan meliputi:
1) Hak-hak atas tanah;
2) Wakaf tanah hak milik;
3) Hak jaminan atas tanah (hak tanggungan);
4) Hak milik atas satuan rumah susun.9 3. Sengketa Pertanahan dan penyelesaiannya
a. Sengketa Pertanahan
Sengketa adalah pertikaian, perselisihan atau perselisihan yang timbul antara satu pihak dengan pihak lain dan/atau satu pihak dan berbagai pihak yang berkaitan dengan sesuatu yang berharga, baik
9. Urip Santoso, Hukum Agraria dan Hak-hak Atas Tanah, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2009, hlm.12
berupa uang maupun benda.10 Istilah sengketa berasal dari terjemahan bahasa inggris, yaitu dispute/sengketa Sedangkan dalam bahasa belanda disebut dengan istilah geding atau process. Sedangkan penggunaan istilah sengketa itu sendiri tidak memiliki kesatuan pandangan dari para ahli.
Sengketa pertanahan sengketa yang sudah lama ada, dari era orde lama, orde baru, era reformasi dan hingga saat ini. Sengketa tanah secara kualitas maupun kuantitas merupakan masalah yang selalu ada dalam tatanan kehidupan masyarakat. Sengketa atau kasus pertanahan menjadi persoalan yang kronis dan bersifat klasik serta berlangsung dalam kurun waktu tahunan bahkan puluhan tahun dan selalu ada.
Sengketa dan kasus pertanahan merupakan bentuk permasalahan yang sifatnya kompleks dan Multi dimensi. Sudah merupakan fenomena yang inheren dalam sejarah kebudayaan dan peradaban manusia, terutama sejak masa agraris dimana sumber daya berupa tanah mulai memegang peranan penting sebagai faktor produksi untuk memenuhi kebutuhan manusia. 11
Sengketa adalah adanya suatu pihak (orang/badan) yang keberatan dan mempunyai tuntutan hak baik terhadap Setatus tanah, prioritas maupun kepemilikannya. Sedangkan sengketa pertanahan adalah perselisihan pertanahan antara orang perseorangan, badan
10. Salim, Hukum Penyelesaian Sengketa Pertambangan Di Indonesia, Mataram: Pustaka Reka Cipta, 2012 Hal 221
11Hadimulyo, “Mempertimbangkan ADR, Kajian Alternatif Penyelesaian Sengketa Di Luar Pengadilan” ELSAM : Jakarta, 1999. Hlm 13.
hukum, atau lembaga yang tidak berdampak luas secara sosio-politis penekanan yang berdampak luas.12
Sengketa adalah suatu situasi dimana ada pihak yang merasa dirugikan oleh pihak lain, yang kemudian pihak tersebut menyampaikan ketidakpuasan ini kepada pihak kedua. Jika situasi menunjukkan perbedaan pendapat, maka terjadi lah apa yang dinamakan dengan sengketa. Dalam konteks hukum khususnya hukum kontrak, yang dimaksud dengan sengketa adalah perselisihan yang terjadi antara para pihak karena adanya pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dituangkan dalam suatu kontrak, baik sebagian maupun keseluruhan.
Dengan kata lain telah terjadi wanprestasi oleh pihak-pihak atau salah satu pihak.13
Adapun para ahli memberikan pendapat tentang pengertian sengketa dan konflik anrata lain dapat dijelaskan sebagai berikut:
Menurut Nurnaningsih Amriani, mengatakan bahwah yang dimaksud dengan sengketa adalah perselisihan yang terjadi antara pihak-pihak dalam perjanjian karena adanya wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam perjanjian.14
Sarjita, sengketa pertanahan adalah: “Perselisihan yang terjadi antara dua pihak atau lebih yang merasa atau dirugikan pihak-pihak
12 Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer Edisi Lengkap, Gitamedia Press, Surabaya,
2006, hlm. 100.
13Nurnaningsih Amriani, Mediasi Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata Di Pengadilan, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2012, hlm.12
14Ibid, Hlm.13
tersebut untuk penggunaan dan penguasaan hak atas tanahnya, yang diselesaikan melalui musyawarah atau melalui pengadilan.”15
Ali Achmad berpendapat: Sengketa adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih yang berawal dari persepsi yang berbeda tentang suatu kepentingan atau hak milik yang dapat menimbulkan akibat hukum bagi keduanya.16
Irawan Surojo, sengketa tanah adalah merupakan konflik antara dua pihak atau lebih yang mempunyai kepentingan berbeda terhadap satu atau beberapa obyek hak atas tanah yang dapat mengakibatkan akibat hukum bagi keduanya.17
Selanjutnya menurut Rahmadi konflik atau sengketa merupakan situasi dan kondisi di mana orang-orang saling mengalami perselisihan yang bersifat faktual maupun perselisihan-perselisihan yang ada pada persepsi mereka saja.18
Berkaitan dengan pengertian Sengketa Pertanahan dapat dilihat dari dua bentuk pengertian yaitu pengertian berdasarkan peraturan perundang-undangan dan menurut para ahli.
Definisi mengenai sengketa pertanahan, mendapat sedikit penekanan dalam Peraturan Kepala BPN RI Nomor 3 tahun 2011
15Sarjita, loc. Cit, hlm.8
16Ali Achmad Chomzah, Seri Hukum Pertanahan III Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah dan Seri Hukum Pertanahan IV Pengadaan Tanah Instansi Pemerintah, Jakarta:
Prestasi Pustaka, 2003, hlm.14
17Irawan Soerodjo, Kapasitas Hukum Atas Tanah di Indonesia, Surabaya: Arkola, 2003, hlm.12
18Takdir Rahmadi, Mediasi Penyelesaian Sengketa Melalui Pendekatan Mufakat, Jakarta : Rajawali Pers, 2011, hlm.1
tentang pengelolaan pengkajian dan penanganan kasus pertanahan.
Kasus pertanahan adalah sengketa, konflik dan perkara pertanahan yang disampaikan kepada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia untuk mendapatkan penanganan, penyelesaian sesuai peraturan perundang-undangan dan/atau kebijakan pertanahan nasional.19
Menurut Rusmadi Murad hak atas tanah, yaitu : timbulnya sengketa hukum adalah bermula dari pengaduan sesuatu pihak (orang/badan) yang berisi keberatan-keberatan dan tuntutan hak atas tanah, baik terhadap status tanah, prioritas, maupun kepemilikannya dengan harapan dapat memperoleh penyelesaian secara administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.20 Lebih lanjut menurut Rusmadi Murad, sifat permasalahan sengketa tanah ada beberapa macam, yaitu :
1. Masalah atau persoalan yang menyangkut prioritas untuk dapat diterapkan sebagai pemegang hak yang sah atas tanah yang berstatus hak, atau atas tanah yang belum ada haknya.
2. Bantahan terhadap suatu alas hak/bukti perolehan yang digunakan sebagai dasar pemberian hak (perdata).
3. Kekeliruan atau kesalahan pemberian hak yang disebabkan penerapan peraturan yang kurang atau tidak benar.
4. Sengketa atau masalah lain yang mengandung aspek-aspek sosial praktis/bersifat strategis.
19ZulpianKarno, Penyelesaian Sengketa Pertanahan Di Luar Pengadilan (Non- Ligitasi)Melalui Mediasi Terhadap Syahnya Kepemilikan Sertifikat Ganda (Over Live) (Study Di Kecamatan Sungai Raya Kab. Kubu Raya). Jurnal Mahasiswa S2 Hukum Universitas Tanjungpura. Pontianak. 2016,.hlm. 4-5
20Rusmadi murad, “Penyelesaian Sengketa Hukum Atas Tanah” Alumni Bandung 1999, hlm 22-23.
b. Penyelesaian Sengketa
Penyelesaian, adalah “proses, cara, perbuatan, menyelesaikan (dalam berbagai-bagai arti seperti pemberesan, pemecahan”. 21 Sedangkan Sengketa, adalah “sesuatu yang menyebabkan perbedaan pendapat; pertengkaran; perbantahan”.22
Dalam penyelesaian sengketa pertanahan, maka tidak terlepas untuk memahami terlebih dahulu berbagai akar permasalah pertanahan terlebih dahulu. Akar permasalah pertanahan dalam garis besarnya dapat ditimbulkan oleh hal-hal sebagi berikut :
1) Konflik kepentingan, yang disebabkan karena adanya persaingan kepentingan yang terkait dengan kepentingan substantif, misalnya hak atas sumber daya agraria termasuk tanah, kepentingan prosedural maupun kepentingan psikologis.
2) Konflik struktural, yang disebabkan antara lain karena : pola perilaku atau interaksi yang destruktif; kontrol pemilikan atau pembagian sumber daya yang tidak seimbang; kekuasaan dan kewenangan yang tidak seimbang; serta faktor geografis, fisik atau lingkungan yang menghambat kerja sama.
3) Konflik nilai, disebabkan karena perbedaan kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi gagasan atau perilaku; perbedaan gaya hidup, idiologi atau agama/kepercayaan.
4)Konflik hubungan, yang disebabkan karena emosi yang berlebihan, persepsi yang keliru, komunikasi yang buruk atau salah; penggunaan perilaku yang negatif.
5) Konflik data, yang disebabkan karena informasi yang tidak lengkap;
informasi yang keliru; pendapat yang berbeda tentang hal-hal yang relevan; interpretasi data yang berbeda; dan perbedaan prosedur penilaian.23
21 https://jagokata.com/arti-kata/penyelesaian.html
22 https://jagokata.com/arti-kata/sengketa.html
23Maria S.W. Sumardjono. Loc. Citt Hlm 112
Secara umum, sengketa tanah timbul akibat adanya beberapa faktor, faktor-faktor ini yang sangat dominan dalam setiap sengketa pertanahan dimanapun,adapun faktor-faktor tersebut antara lain :24 a. Ketidaksesuaian peraturan.
b. Pejabat pertanahan yang kurang tanggap terhadap kebutuhan dan jumlah tanah yang tersedia.
c. Data yang kurang akurat dan kurang lengkap.
d. Data tanah yang keliru.
e. Keterbatasan sumber daya manusia yang bertugas menyelesaikan sengketatanah.
f. Transaksitanah yang keliru.
g. Ulah pemohon hak.
h. Adanya penyelesaian dari instansi lain, sehingga terjadi tumpang tindihkewenangan.
i. Pemindahan/penggeseran tanda batas tanah.
Penyelesaian sengketa pertanahan dapat dilakukan melalui 2 (Dua) cara yaitu Non Littigasi dan Litigasi.
1. Penyelesaian Secara Non-Litigasi
Proses non litigasi penyelesaiannya berdasarkan itikad baik yang dimiliki para pihak yang bersengketa. Penyelesaian sengketa di luar jalur pengadilan sesuai kesepakatan bersama dan tertulis dalam sebuah perjanjian inilah yang disebut juga sebagai arbitrase. Rachmadi Usman mengatakan bahwa selain melalui jalur litigasi (pengadilan), penyelesaian sengketa dapat diselesaikan melalui penyelesaian sengketa di luar pengadilan (outside court), yang biasa disebut dengan
24 Riki Dendih Saputra, PenyelesaianSengketa Kepemilikan Tanah Yang Bersertifikat Ganda Menurut aturan Badan Pertanahan Nasional Di Wilayah Tangerang Selatan. Program Studi Ilmu hukum fakultas Syariah Dan HukumUniversitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2017, hlm. 1
Alternative Dispute Resolution (ADR) di Amerika, hal yang lumrah di Indonesia. Ini disebut Penyelesaian Sengketa Alternatif (selanjutnya disingkat APS). ).25
Penyelesaian sengketa di luar pengadilan (di Indonesia dikenal sebagai APS) memiliki dasar hukum yang diatur oleh UU 30/1999 tentang Arbitrase. Walaupun dalam praktek penyelesaian sengketa tanpa pengadilan sesuai dengan nilai budaya, adat istiadat dan kebiasaan masyarakat Indonesia serta sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia menurut UUD NRI Tahun 1945, namun diselesaikan melalui musyawarah dan mufakat dalam pengambilan keputusan. Istilah APS merupakan penyebutan yang diberikan untuk pengelompokan penyelesaian sengketa melalui proses negosiasi, mediasi, konsiliasi dan arbitrase, namun dalam perkembangan dan pemberlakuan khususnya di Indonesia terdapat 6 (Enam) APS diuraikan sebagai berikut: 26
1) Konsultasi 2) Negosiasi 3) Mediasi 4) Konsiliasi 5) Penilaian Ahli.
2. Penyelesaian Secara Litigasi
Tidak ada peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai sengketa, tetapi ada dapat dilihat pada 6 ayat 1, UU Arbitrase 30/1999 pada dasarnya mengatakan bahwa sengketa di bidang perdata
25Rachmadi Usmani. Mediasi di Pengadilan: Dalam Teori dan Praktik. Jakarta.
Penerbit: Sinar Grafika. 2012, hlm. 8
26Riski Abdriana Yuriani. Upaya Pengadilan Negeri Yogyakarta dalam Menyelesaikan Sengketa Melalui Mediasi. Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Yogyakarta. 2013, hlm. 21
diselesaikan oleh para pihak melalu alternatif penyelesaian sengketa berdasarkan kebaikan tidak termasuk sengketa di pengadilan negeri.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa proses peradilan adalah suatu tata cara penyelesaian sengketa di pengadilan, dimana masing-masing pihak yang bersengketa memiliki hak dan kewajiban yang sama dan mengajukan gugatan dan menolak gugatan dengan disertai jawaban.
Menurut Frans Hendra Winarta, dalam bukunya “Penyelesaian Sengketa Hukum”, yang mengatakan bahwa litigasi adalah cara tradisional untuk menyelesaikan perselisihan dalam bisnis seperti bisnis, perbankan, proyek pertambangan, minyak dan gas, energi, infrastruktur, dll. Pihak terhadap satu sama lain. Selain itu, penyelesaian sengketa secara litigasi merupakan sarana akhir (ultimum remidium) setelah upaya-upaya alternatif penyelesaian sengketa tidak membuahkan hasil.27
F. Metode Penelitian 1. Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif. Menurut Peter Mahmud Marzuki, penelitian hukum normatif yang nama lainnya penelitian hukum doktrinal yang disebut juga sebagai penelitian perpustakaan atau
27Frans Hendra Winarta, Hukum Penyelesaian Sengketa Arbitrase Nasional Indonesia dan Internasional. Jakarta. Penerbit : Sinar Grafika, 2012, hlm. 2
studi dokumen karena penelitian ini dilakukan atau ditunjukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan-bahan hukum yang lain.28 2. Tipe penelitian
Adapun tipe yang digunakan dalam penelitian bersifat deskritif analitis dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif yang dirumuskan dalam hasil penelitian kepustakaan dan data yang diperoleh akan dianalisi dan di kaji dalam suatu sistem penelitian yang terstruktur, sehingga dengan hasil tersebut akan ditarik kesimpulannya dan dilengkapi dengan saran- saran.29
3. Sumber Bahan Hukum
Sumber bahan hukum meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier yang dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Bahan Hukum Primer
Meliputi berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti berupa: Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA), Undang- undang Republik Indonesia Nomor 30 tahun 1999; Peraturan Kepala BPN RI Nomor 3 tahun 2011 tentang pengelolaan pengkajian dan penanganan kasus pertanahan dan Penetapan Pengadilan Negeri Dobo No.7/Pdt.G/2021/PN.Dobo
28 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2011, hlm 35.
29Ronny Hanitidjo, metodologi Penelitian Hukum, gahalia Indonesia jakarta 1980, hlm 12
b. Bahan Hukum Sekunder
Meliputi bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer berupa dokumen atau bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer seperti buku-buku, artikel, jurnal, hasil penelitian, makalah dan lain sebagainya yang relevan dengan permasalahan yang dikaji.
c. Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, yang meliputi kamus hukum maupun ensiklopedi.
4. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum dan Analisis Bahan Hukum
Pada penelitian hukum normatif, dipergunakan teknik pengumpulan hukum bahan hukum dan analisis bahan hukum sebagai berikut:
a. Pengumpulan Bahan Hukum
Penelitian melakukan pengumpulan bahan hukum dengan studi pustaka terhadap bahan-bahan hukum baik bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, maupun bahan hukum non-hukum. Penelitian ini berkenaan dengan bacaan yang bersifat peraturan undang-undang, buku, jurnal, internet, dialog dan hasil penelitian yang berhubungan dengan isu hukum yang dijadikan sebagai landasan guna menggunakan argumentasi dalam penelitian ini.
b. Analisa Bahan Hukum
Bahan hukum yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif, yaitu analisa yang dilakukan dengan memahami dan merangkai data yang telah diperoleh dan disusun secara sistematis, kemudian ditarik kesimpulannya.