BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Hukum internasional merupakan suatu sistem hukum yang terintegrasi secara horizontal, yang mengatur hubungan antara satu Negara atau organisasi internasional dengan Negara atau organisasi internasional yang lain, sehingga dapat berelasi satu sama lain. Negara merupakan subjek hukum internasional dalam arti klasik dan telah demikian halnya sejak lahirnya hukum internasional.1 Salah satu aspek yang sangat penting dalam eksistensi hukum internasional ialah pemahaman hukum internasional itu sendiri, sebab pemahaman hukum internasional bertujuan untuk mengetahui cara kerja hukum internasional.
Pemahaman yang baik mengenai hukum internasional penting ketika berhadapan dengan masalah hukum internasional. Hukum Internasional ialah keseluruhan kaidah dan asas yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara antara: (1) Negara dengan Negara; (2) Negara dengan subjek hukum lain bukan Negara atau subjek hukum bukan Negara satu sama lain.2 Secara umum ruang lingkup hukum internasional memiliki pengaturan yang sangat luas, salah satunya ialah Hukum Humaniter.
1 Davidson, Hak Asasi Manusia: Sejarah, Teori, dan Praktek Dalam Pergaulan Internasional, Grafiti, Jakarta, 1994, hal. 84-85.
2 Mochtar Kusumaatmadja dan Etty R.Agus, Pengatar Hukum Internasional, P.T.Alumni, Bandung, 2003, hal.4.
Hukum humaniter internasional atau hukum humaniter adalah nama lain dari apa yang dulu disebut dengan hukum perang atau hukum sengketa bersenjata. Hukum humaniter merupakan salah satu cabang dari hukum internasional public.3 Sebagai hukum yang mengatur konflik-konflik bersenjata internasional dan non-internasional, Hukum Humaniter Internasional terdiri aturan-aturan yang berlaku selama konflik (in time of war) atau mengatur pelaksanaan konflik (jus in bello). Aturan-aturan ini juga berlaku untuk situasi pendudukan (occupation) yang timbul dari konflik bersenjata.4
Hakikat tujuan atau patokan terhadap hukum humaniter pada dasarnya tidak dimaksudkan untuk melarang perang, karena dari sudut pandang hukum humaniter, perang merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari namun, hukum humaniter mencoba untuk mengatur agar peperangan yang terjadi tetap memperhatikan sisi kemanusiaan. Dengan kata lain hukum humaniter berusaha untuk memanusiawikan perang.5
Pengaruh kemanusian adalah esensi utama, oleh karena sasaran kemanusian di pahami sebagai penunjang hukum internasional yang berlaku termasuk hukum humaniter internasional. Prinsip kemanusiaan sebagai salah satu prinsip dasar dalam hukum humaniter internasional, dimaksudkan dalam memberikan bantuan tanpa diskriminasi kepada orang yang terluka di medan perang, berupaya dengan kapasitas internasional dan nasional untuk mengurangi penderitaan
3 Arlina Permanasari dkk, Pengantar Hukum Humaniter, ICRC, Jakarta, 1999, hal.2.
4Umar Suryadi Bakry, Hukum Humaniter Sebuah Pengantar, Kencana, Jakarta, 2019,hal.1.
5 Herman Suryokumoro dkk, Hukum Humaniter Internasional (Kajian Norma dan Kasus), UB Press, Malang, 2020, hal. 13.
manusia dimanapun ditemukan prinsip ini.6 Korelasi kemanusian merupakan objek dominan dalam aspek Hak Asasi Manusia, konsensus ini dimaknai sebagai implementasi yang terjadi saat konflik bersenjata di suatu negara. Penyimapangan ataupun kekerasan kemanusian sering menjadi dinamika dan persoalan dalam suatu negara dengan negara lain yang terdampak akibat suatu konflik bersenjata. Konflik bersenjata adalah suatu peristiwa penuh dengan kekerasan dan permusuhan antara pihak-pihak yang bertikai. Dalam sejarah konflik bersenjata telah terbukti bahwa konflik tidak saja dilakukan secara adil, tetapi juga menimbulkan kekejaman.7
Dapat dipastikan bahwa konflik bersenjata tidak bisa dihindarkan dari jatuhnya korban, baik itu pihak kombatan maupun dari pihak penduduk sipil yang tidak terlibat dalam berperang, baik golongan tua maupun golongan muda, wanita dan anak-anak.
Akibat dari konflik bersenjata dapat mengenai siapa saja yang berada dalam daerah konflik tersebut. Adapun beberapa akibat yang sering terjadi selama konflik berlangsung antara lain:8
1. Terjadinya kekerasan terhadap tubuh maupun nyawa seseorang.
2. Penyanderaan.
3. Pelecehan martabat dan pemerkosaan.
6 Queency C. F. Tani, Kajian Hukum Humaniter Dan Ham Mengenai Pelanggaran Terhadap Prinsip-Prinsip Kemanusiaan Tawanan Perang”, Lex Et Societatis, No. 3, Maret 2019, hal. 28.
7 Asep Darmawan, Prinsip Pertanggungjawaban Pidana Komandan Dalam Hukum Humaniter, Kumpulan Tulisan, Jakarta: Pusat Studi Hukum Humaniter dan HAM Fakultas Hukum Universitas Trisakti, 2005, hlm.51.
8 Anggie Sere Sitompul, Perlindungan Terhadap Warga Sipil Sebagai Korban Penyanderaan Dalam Konflik Bersenjata Di Filipina Menurut Hukum Humaniter Internasional, Jurnal Skripsi, Fakultas Hukum Sumatera Utara, Medan: 2014, hlm.1.
4. Penjatuhan dan pelaksanaan pidana tanpa proses peradilan yang menjamin hak-hak seseorang.
5. Perbudakan dan perdagangan orang.
Melihat akibat-akibat seperti yang dicantumkan diatas, tentulah menjadi kekuatiran bagi dunia apabila hal tersebut tidak bisa diatasi dengan cepat. PBB sebagai suatu organisasi dunia yang turut menjaga dan memelihara keamanan dunia, akhirnya tidak tinggal diam dalam melihat situasi yang ditimbulkan dalam konflik bersenjata tersebut. Sebagaimana fungsi PBB dalam menjaga perdamaian dunia, keamanan internasional, dan menjadi penengah jika terjadi konflik antar negara, dan yang paling utama adalah untuk melindungi hak asasi bagi seluruh warga dunia, maka haruslah diadakan upaya-upaya yang dilakukan guna mengatasi akibat-akibat dari konflik bersenjata tersebut.9 Akibat dari konflik bersenjata itupun mendapat pengaturan dalam beberapa Konvensi, seperti Konvensi Den Haag 1907, Konvensi Jenewa 1949, serta Protokol Tambahan I dan II 1977. Pengaturan-pengaturan tersebut tentunya diciptakan untuk mencegah atau memberi perlindungan terhadap setiap pihak yang menjadi korban dari konflik bersenjata, sehingga terhindar dari tindak kekerasan yang berakibat fatal.10
Sejalan dengan pengaturan-pengaturan mengenai tata cara berperang dan perlindungan terhadap korban perang, dalam perkembangannya, kenyataan yang
9 https://kids.grid.id/read/472607304/definisi-tugas-dan-wewenang-dewan-keamanan-pbb- sudah-tahu.
10 Anggie Sere Sitompul, Ibid, hal.2.
terjadi, tampakya para pihak yang berselisih kurang mengindahkan pengaturan- pengaturan tersebut. Setiap konflik yang terjadi, dapat dilihat bahwa masih banyak korban yang terjatuh akibat konflik bersenjata tersebut, hal inilah yang oleh hukum humaniter sangat tidak sesuai, salah satunya ialah aspek perlindungan warga sipil pada suatu konflik yang terjadi pada Negara Armenia dan Negara Azerbaijan.
Negara Armenia dan Negara Azerbaijan merupakan dua negara pecahan dari Negara Uni Soviet atau Republik Soviet yang terletak pada benua Eropa. Bubarnya Negara Uni Soviet tersebut pada tanggal 26 Desember 1991, yang kemudian atas pembubaran tersebut, lahirlah 15 negara baru di Eropa Timur, yang diantaranya adalah Negara Armenia dan Negara Azerbaijan.11
Perselisihan utama antara Azerbaijan dan Armenia adalah perebutan wilayah Nagorny Karabakh di perbatasan kedua Negara. Konflik tersebut telah terjadi dari puluhan tahun yang lalu, saat seluruh kawasan itu masih diberada masa Pemerintahan Bolshevik pada tahun 1920-an, saat itu pula masih dibawah kekuasaan Kekaisaran Rusia, pertikaian atau gesekan antara Armenia dan Azerbaijan tersebut masih dapat dikendalikan. Namun ketika Negara Uni Soviet runtuh, tidak lagi ada kekuatan besar yang dapat menahan perang terbuka diperbatasan tersebut.
Lembaga pemikir dan penerbit nonpartisan yang mempromosikan pemahaman tentang hubungan internasional dan kebijakan luar negeri atau dikenal dengan sebutan Council on Foreign Relations (CFR), menjelaskan bahwa pada tahun 1988, badan
11https://id.m.wikipedia.org/wiki/Negara-negara_bekas_Uni_Soviet#:~:text= Daftar %20 negara bekas %20 Uni,5.
legislatif Nagorno-Karabakh meloloskan undang-undang untuk bergabung dengan Armenia, walaupun sebenarnya daerah administratif mereka berada di perbatasan Azerbaijan.12
Pertikaiann ini semakin memanas ketika Uni Soviet resmi bubar pada tahun 1991. Pada tahun 1993, Armenia menguasai wilayah Nagorno-Karabakh dan menduduki 20 persen daerah yang dikelilingi Azerbaijan. Pada tahun 1994, Rusia mencoba mencegahi gencatan senjata yang terjadi, walaupun demikian tidak berarti ketegangan berhenti. Konflik ini terus memanas serta membuat ketegangan antara kombatan maupun penduduk sipil pada kedua negara tersebut, hingga pada tanggal 4 Maret 2008, terjadi kembali gencatan senjata antara pasukan Armenia dan Azerbaijan tersebut. Dua tahun kemudian tanggal 18 Februari 2010, kembali lagi mengulang hal yang sama tepatnya didaerah perbatasan Karabakh. Dalam inziden ini Azerbaijan menuduh pasukan Armenia melepaskan tembakan ke posisi Azerbaijan di pos dekat Desa Tap, Qaraqoyunlu, Qiziloba, Qapanli, Yusifcanli dan Cevahirli serta dataran tinggi Agdam Rayon.13
Konflik gencatan senjata ini, terus terjadi hingga tahun 2011, 2014, 2016, 2018 dan 2020. Konflik ini perkirakan telah berlangsung selama 25 tahun, dimana kedua negara ini saling menylahkan, meskipun dunia telah menyerukan agar mereka duduk semeja dan bernegosiasi mencari titik perdamaian. Namun hal ini belum dapat
12 https://www-britannica-com.translate.goog/topic/Council-on-Foreign-Relations.
13 https://www.republika.co.id/berita/qhfoae409/asal-mula-konflik-armenia-dan-azerbaijan-di- nagornokarabakh.
dilakukan dan konflik pun terus berlansung dan mengakibatkan pertumpahan darah terhadap banyak warga dari kedua negara tersebut, baik itu kombatan maupun warga sipil.
Dari peristiwa konflik tersebut, penulis mengambil data korban dari akibat konflik tersebut, berupa data konflik yang terjadi pada kejadian yang terbaru yaitu di tahun 2020. Pada tanggal 27 September 2020, sebanyak 600 orang dilaporkan tewas akibat konflik dari kedua negara tersebut selama dua pekan terakhir, yaitu mulai dari serangan awal Artileri Armenia dikota Ganja-Azerbaijan. Azerbaijan sendiri tak menjabarkan berapa jumlah pasukan mereka yang tewas, namun diperkirakan 42 warga sipil dari pihak mereka terbunuh. Ombudsman HAM di Karabakh, Artak Beglaryan mengatakan bahwa sebanyak 31 warga sipil yang tewas pada senin 12 Oktober 2020 dan ratusan warga lain yang juga terluka. Militer Karabakh juga menerangkan bahwa sebanyak 16 tentara mereka gugur, menjadikan mereka kehilangan 532 jiwa sejak konflik bulan September 2020.14
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana yang dipaparkan diatas, maka penulis kemudian tertarik untuk mengkaji dan menganalisis permasalahan tersebut lebih lanjut dengan judul : Perlindungan Hukum Bagi Penduduk Sipil di Wilayah Konflik Armenia Azerbaijan.
14 https://www.kompas.com/global/read/2020/10/14/155157670/korban-tewas-perang-armenia- azerbaijan-di-nagorno-karabakh-capai-600.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka, rumusan masalah adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana hukum humaniter internasional mengatur tentang perlindungan penduduk sipil di wilayah konflik?
2. Bagaimana Implementasi aturan perlindungan penduduk sipil tersebut dalam melindungi penduduk sipil di wilayah konflik Armenia Azerbaijan?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dan menganalisis hukum internasional yang mengatur tentang perlindungan hukum bagi penduduk sipil diwilayah konflik.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis serta mengimplementasi aturan perlindungan penduduk sipil tersebut dalam melindungi penduduk sipil di wilayah konflik Armenia Azerbaijan.
3. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi ilmu hukum pada Fakultas Hukum Universitas Pattimura Ambon.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Secara Teoritis, Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang baik di bidang hukum internasional khususnya dalam Bentuk Perlindungan Penduduk Sipil di Wilayah Konflik Armenia-Azerbaijan.
2. Secara Praktis, Penelitian ini diharapan akan bermanfaat dalam memberikan penjelasan mengenai Bentuk Perlindungan Terhadap Penduduk Sipil di Wilayah Konflik Telah Dirumuskan dalam Hukum Humaniter Internasional.
E. Kerangka Konseptual
1. Konsep Konflik Bersenjata
Dalam sejarah kehidupan politik manusia, peristiwa yang banyak dicatat adalah konflik bersenjata atau sering kita kenal dengan nama perang. Peristiwa-peristiwa besar yang menjadi tema utama dalam literatur politik dan juga hubungan internasioal berkisar antara dua macam interaksi tersebut. Ungkapan bahwa peace to be merely a respite between wars (perdamaian hanya menjadi jeda diantara peang) menunjukan situasi perang dan damai, terus silih berganti dalam interaksi manusia.15 Dalam studi Hubungan Internasional, konflik bersenjata secara tradisional adalah penggunaan kekerasan, yang terorganisasi oleh unit-unit dalam sistem Internasional. Dalam arti yang luas, perang menyangkut konsep-konsep seperti krisis, ancaman, penggunaan
15 Ambarwaty, Denny Ramadhany, dan Rina Rusman, Hukum Humaniter Internasional dalam Studi Hubungan Internasional, Rajawali Pers, Jakarta, 2010, hal.2.
kekerasan, aksi gerilya, penaklukan, pendudukan, bahkan teror. Dalam arti sempit, perang diianggap sebagai kontak bersenjata yang melibatkan dua negara atau lebih.16
Konflik bersenjata dapat berupa konflik bersenjata internasional dan konflik bersenjata non- internasional (konflik dalam negeri). Akibat konflik bersenjata timbul banyak korban,baik dari pihak kombatan maupun orang-orang sipil, maka konflik bersenjata tersebut mendapat pengaturan dalam beberapa konvensi, seperti konvensi Den Haag 1907, konvensi janewa 1949 serta Protokol Tambahan I dan II 1977.
Ketentuan tersebut bertujuan untuk mencegah atau melindungi korban konflik bersenjata, supaya terhindar dari tindakan kekerasan yang berakibat buruk terutama bagi orang yang sudah tidak berdaya. Pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata wajib melindungi anggota angkatan bersenjata musuh yang telah jatuh ke tanggannya dan bagi orang-orang sipil dari berbagai tindakan kekerasan untuk tidak diania-nya, disiksa, di perkosa dan dibunuh.
Pasal 3 Konvensi jenewa 1949 mengatur tentang perlindungan dalam konflik bersenjata non-internasional. Pasal 3 menentukan bahwa pihak-pihak yang berkaitan dalam wilayah suatu negara berkewajiban untuk melindungi orang-orang yang tidak turut secara aktif dalam pertikaian, termasuk anggota angkatan bersenjata/ kombatan yang telah meletakkan senjatanya tidak lagi turut serta karena sakit, luka-luka, tahan dan sebeb lainya untuk diperlukan secara manusiawi atau mereka dilarang melakukan tindakan kekerasan terhadap jiwa dan raga atau menghukum tanpa diadli secara sah.
16 Ibid, hal.10.
Tindakan kekerasan atau perlakuan buruk negara terhadap warga negaranya merupakan ancaman bagi negara lain dan karenanya perbuatan dapa diuji oleh masyarakat internasional. Sistem perlindungan hak asasi manusia terutama bersumber pada perjanjian internasional. Sebagaimana perjanjian dalam konvensi jenewa 1949 tentang perlindungan korban perang dan protokol Tambahan I Tahun 1977 tentang konflik bersenjata internasional serta protokol II 1977 tentang konflik bersenjata non internasional, dengan tujuan untuk melindungi atau menimbulkan korban dari tindakan kekerasan bersenjata.
Berdasarkan hal demikian diperlukan perlindungan yang efektif bagi orang- orang dalam daerah konflik untuk terhindar dari kekerasan bersenjata. Oleh karena itu, tulisan ini hadir untuk menganalisis tentang perlindungan terhadap orang-orang yang dikategorikan sebagai kombatan dalam konflik bersenjata dan menjelaskan tentang bentuk perlindungan terhadap orang-orang sipil atau penduduk sipil yang berada dalam daerah konflik bersenjata. Menurut hukum humaniter, konflik bersenjata dibagi menjadi dua, yaitu konflik bersenjata internasional (international armed con-flict) dan konflik bersenjata non internasional (non international armed conflict).
Konflik bersenjata merupakan suatu peristiwa yang penuh dengan kekerasan dan permusuhan antara pihak-pihak yang berkait.Dalam sejarah konflik bersenjata telah terbukti bahwa konflik tidak saja dilakukan secara adil, tetep juga menimbulkan kekejaman. Hukum Humaniter Internasional (Intenational Humanitarian Law) di ciptakan khusus untuk melindungi dan memelihara hak asasi korban dan non kombatan dalam konflik bersenjata. Pada dasarnya, orang yang terutama terlibat dalam suatu
konflik bersenjata adalah kombatan. Di samping itu terdapat orang yang tidak terlibat dalam konflik bersenjata, sehingga dibutuhkan suatu perlindungan bagi keselamatannya.
Perlindungan terhadap penduduk sipil yang diatur dalam konvensi jenewa IV adalah tidak sama dengan orang yang dilindungi yang diatur dalam konvensi jenewa I, II, dan III yang perlindungannya ditunjukan kepada kombatan atau orang ikut serta dalam perumusan, sedangkan perlindungan terhadap penduduk sipil, ditunjukan bagi orang-orang yang tidak ikut serta dalam permusuhan (Pasal 27 konvensi jenewa IV 1949). Dalam kaitan ini, pihak-pihak yang berkaitan dilarang melakukan tindakan- tindakan sebagai berikut.
1.) Memaksa, baik jasmani atau pun rohani untuk memperoleh keterangan.
2.) Menimbulkan penderitaan jasmani.
3.) Menjatuhkan hukum kolektif.
4.) Mengadakan intimidasi, terorisme dan perampokan.
5.) Tindak pembalasan terhadap penduduk sipil.17
2. Konsep Penduduk Sipil
Hukum Humaniter Internasional mewajibkan pihak-pihak yang bersengketa untuk membedakan antara Penduduk sipil dengan kombatan. Istilah penduduk sipil, mencakup semua orang yang berstatus sipil.Oleh karena itu istilah penduduk sipil,
17Adwani, Perlindungan Terhadap Orang-Orang Dalam Daerah Konflik Bersenjata Menurut Hukum Humaniter Internasional, Jurnal Dinamika Hukum, Vol. 12, No. 1, Januari 2012, hal. 48.
mencakup orang-orang sipil yang berdomisili di daerah-daerah penduduk. Berdasarkan hal tersebut, yang dimaksud dengan orang sipil disini adalah setiap orang yang tidak ikut berperang. Bila ada keraguan apakah seseorang itu sipil atau kombatan, maka ia harus dianggap sebagai orang sipil.
Ketentuan bahwa penduduk sipil tidak berhak melakukan perbuatan perang itu tidak berlaku mutlak. Ada kalanya orang bukan anggota angkatan bersenjata, yang melakukan perbuatan perang juga di perlakukan sebagai musuh publik (public enemy) dan diberi hak seperti anggota angkatan bersenjata. Mereka ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yakni mereka yang ikut serta langsung dalam permusuhan dan mereka yang tidak ikut serta langsung dalam permusuhan.18
Adapun status dan kedudukan penduduk sipil pada dasarnya bersumber pada asas pembedaan yang memiliki tujuan untuk melindungi penduduk sipil dengan cara mengetegorikan serta pembedakan antara kombatan maupun penduduk sipil. Dengan adanya asas pembedaan ini diharapkan pihak yang terlibat dalam suatu konflik bersenjata ataupun perang dapat membedakan objek penyerangan dan sarana dalam suatu pertempuran.
Istilah warga sipil dalam Bahasa Inggris dapat ditemukan pandangannya dalam kata civilian didalam Black’s Law Dictionary, civilian diartikan sebagai yang ada di luar anggota militer. 19
18 F. Sugeng Istanto, Perlindungan Penduduk Sipil Dalam Perlawanan Rakyat Semesta dan Hukum Internasional, ANDI OFFSET, Yogyakarta 1992, hal. 24.
19 Bryan A. Gerner (ed), Black’s law Dictionary, eight, Thomson west, Dallas, Maret, 2004, hal.262.
Pengaturan penduduk sipil dalam situasi perang telah diatur dalam Konvensi Jenewa IV Tahun 1991 mengenai Perlindungan Penduduk Sipil di Waktu Perang terdiri dari kriteria orang-orang yang dilindungi (protected person), ketentuan umum dan ketentuan khusus.
Orang-orang yang dilindungi dalam konvensi Jenewa IV memiliki arti yang berbeda dengan dalam arti ketiga Konvensi lainnya. Dalam kalimat terakhir Pasal 4 yang mengatakan bahwa orang –orang yang dilindungi oleh Konvensi Jenewa I,II,III tidak dapat dipandang sebagai orang-orang yang dilindungi dalam arti Konvensi Jenewa IV. Unsur pokok dari pada penegertian orang yang dilindungi dalam Konvensi Jenewa IV adalah penduduk sipil.20
3. Konsep Perlindungan Hukum Internasional Bagi Hak Asasi Manusia (HAM)
Hak Asasi Manusia Hak yang disebut HAM dijamin oleh Hukum International, namun bekerja untuk menjamin pengakuan atas pelanggaran HAM dan menangani kasus atas orang-orang yang hak asasinya telah dilanggar bias menjadi kegiatan yang berbahaya diberbagai negara di dunia. Para pembela HAM seringkali menjadi satu- satunya kekuatan yang berdiri di antara khayalak umum dan kekuatan pemerintah yang
20Anastasya Y. Turlel, “Perlindungan Penduduk Sipil Dalam Situasi Perang Menurut Konvensi Jenewa Tahun 1949, “Jurnal lex Crimen Vol. VI/No. 2/ Mar-Apr/ 2017,hal. 147
tidak terkendali. Mereka penting bagi proses dan Intitusi demokratik, mengakhiri kekebalan hukum, serta mempromosikan dan melindungi Hak Asasi Manusia.21
Pengaturan HAM dalam tataran internasional sesudah diterapkan Deklarasi Universal tentang HAM (DUHAM) yang berkembang secara regional, khususnya untuk bidang kehidupan tertentu dan secara universal. Dampak pengaturan HAM dalam hukum internasional tersebut, yaitu pengakuan dan penghormatan HAM untuk melindungi kepentingan individu terhadap tindakan sewenang-wenang pemerintahnya.
Dengan perlindungan itu, individu dapat hidup sesuai dengan martabatnya sebagai manusia. Pengakuan, penghormatan dan perlindungan HAM merupakan urusan domestik negara yang bersangkutan. Akan tetapi, dengan diaturnya HAM dalam hukum internasional, pengakuan, penghormatan dan perlindungan HAM tidak lagi hanya berkaitan dalam hubungan antara pemerintah dan warganya.22
Hak asasi manusia (HAM) sebagai gagasan serta kerangka konseptual tidak lahir secara tiba-tiba sebagaimana kita lihat dalam Universal Declaration of Human Right 10 Desember 1948, namun melalui suatu proses yang cukup panjang dalam sejarah peradaban manusia. Awal perkembangan HAM dimulai ketika ditandatangani Magna Charta (1215), oleh Raja Jhon Lacklaand. kemudian juga
21 Enrique Eguren dan Marie Caraj, Manual Perlindungan Terbaru bagi Pembela Hak Asasi Manusia, Edisi Ketiga, Versi Bahasa Indonesia terbit di Brussels, Penerbit Protection International, 2008, hal.9.
22 Dedi Supriyadi, Hukum Internasional (dari konsepsi sampai aplikasi), Penerbit Pustaka Setia, Bandung, 2013,hal.235.
penandatanganan Petition of Right (permohonan hak) pada tahun 1628 oleh Raja Charles I.
Secara etimologis, Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan istilah dalam bahasa Indonesia untuk menyebut hak dasar atau hak pokok yang dimiliki manusia.
Istilah hak asasi manusia berasal dari istilah droits de ‘I home (Prancis) human right (Inggris) dan Huquq al -Insan (Arab), Right dalam Bahasa Inggris berarti hak, keadilan dan kebenaran.23 Sementara itu, menurut Leah Levin HAM adalah “human right meaning moral claims which are inalianable and inherent in all human individual by virtue of their humanityalone” (Hak-hak yang melekat pada manusia yang tanpanya mustahil manusia dapat hidup sebagai manusia).
Pemahaman akan Hak Asasi Manusia juga dikemukakan oleh C. De Rover yaitu,
“hak hukum yang memiliki setiap orang sebagai manusia. Hak-hak tersebut bersifat universal dan memiliki oleh setiap orang, baik kaya maupun miskin, laki ataupun perempuan. Hak asasi manusia dilindungi oleh konsitusi dan hukum nasional pada semua negara di dunia. Hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak pokok yang diterima manusia sejak kelahirannya sebagai angrah dari Tuhan Yang Maha Esa, maka hak asasi manusia dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, pemerintah dan setiap orang karena hak tersebut bersifat universal dan abadi.”24
23 Peter Salim, The Contemporary English, Indonesia Dictionary, Modren English Press, Jakarta, 1991, hal.162.
24 Tri Suprastomo Nitirahardjo, 2015,Hak Asai Manusia ( Pengertian HAM, Ciri khusus HAM, Teori Tentang HAM, Prinsip Kerangka HAM, Perbedaan HAM DAN Hak Biasa, contoh Semua Kasus HAM ). Available at https://bit.ly/1x662ml dan https://bit.ly/1G7GIM I, diakses 15 Maret 2016, hal.1.
Secara umum, HAM dapat dirumuskan sebagai “those rights which are inherent in our natural and without which we cannot live as human being“ (hak yang melekat pada kodrat, kita sebagai manusia yang bila HAM tiada, mustahil kita akan hidup sebagai manusia) oleh masyarakat dunia perumusan pengakuannya telah diperjuangkan dalam kurung waktu yang sangat panjang).25
Secara definitif, hak merupakan unsur normative yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku, melindungi kebebasan, kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabat.
Menurut John Lock, Hak asasi Manusia (HAM) adalah hak yang dibawa sejak lahir yang secara kodrati melekat pada setiap manusia dan tidak dapat diganggu gugat (bersifat mutlak) 26.
Hak sendiri mempunyai unsur-unsur sebagai berikut: (a) Pemilik hak; (b) Ruang lingkup penerapan hak; (c) Pihak yang bersedia dalam penerapan hak.27 Tiga unsur tersebut menyatu dalam pengertian dasar tentang hak. Dengan demikian hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi.
25 Muladi, Hukum dan Hak Asasi Manusia, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1995, hal. 113.
26 Masyhur Effendi. Dimensi dan Dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional, , Ghalia Indonesia, Jakarta, 1994, hal.8.
27Tim ICCE UIN, Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, Prenada Media, Jakarta, 2003, hal. 199.
HAM pada dasarnya menjadi suatu konsep pengakuan atas hakikat dan martabat manusia yang dimiliki secara alamiah dan melihat tanpa perbedaan. Diyakini bahwa semua manusia dilahirkan merdeka dan setara dalam martabat mereka. Dalam konteks sosiologis, hubungan manusia dengan sesamanya dijembatani oleh hak yang dibatasi untuk menghormati hak orang lain. Konsepsi HAM membuat perbedaan status, seperti ras, agama, gender tidak relevan secara politis, secara hukum, dan menuntut adanya perlakuan yang sama tanpa memandang status serta kedudukan. Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatakan bahwa konsepsi HAM dapat bermula dari kesadaran akan martabat kemanusiaan, kesadaran akan kebutuhan dasar manusia, dan kesadaran terhadap moral kemanusiaan.28
Berdasarkan beberapa defenisi dan konsep di atas, secara substansi ada persamaan pemahaman dalam mendefenisikan HAM. Setidaknya disepakati bahwa HAM merupakan hak yang diberikan Tuhan, sehingga hak tersebut bersifat melekat, kodrati dan universal. Hak tersebut tidak tergantung oleh suatu disebabkan manusia lain, negara atau hukum, karena hak tersebut berkaitan dengan eksistensi manusia. Dengan demikian perbedaan jenis kelamin, ras, agama atau warna kulit tidak mempengaruhi perbedaan terhadap eksistensi HAM. Dan berkaitan dengan keberadaan dan eksistensi manusia, maka hak tersebut harus dihormati, dilindungi dan dihargai oleh siapapun.
F. Metode penelitian
28 Rhoda E. Howard, HAM: Penjelajahan Dalih Relativisme Budaya. (Penerjemah:N.
Katjasungkana). Penerbit Grafiti, Jakarta, 2001,hal.1.
1. Jenis Penelitian
Penulisan ini menggunakan jenis penelitian hukum Normatif. Metode penelitian hukum normatif merupakan metode atau cara yang dipergunakan didalam penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada.29 Bambang Waluyo menjelaskan bahwa, “Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum doktriner, disebut juga penelitian perpustakaan atau studi dokumen”. Disebut penelitian hukum doktriner, karena penelitian ini dilakukan atau ditujukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan hukum yang lain (data yang bersifat sekunder).30
2. Tipe Penelitian
Penelitian ini menggunakan tipe penelitian yaitu Deskriptif Analisis dengan alasan bahwa hasil yang gunakan dari studi kepustakaan selanjutnya dianalisis dan dibahas menggunakan alur pembahasan secara sistematis didalam beberapa bab dengan demikian hasil analisis dan pembahasan tersebut selanjutnya dideskripsikan untuk memudahkan penarikan beberapa kesimpulan dan pengajuan saran.
3. Pendekatan Masalah
Didalam pnelitian hukum terdapat beberapa pendekatan yang digunakan untuk mendapatkan informasi dari berbagai aspek mengenai isu yang sedang dicoba untuk
29 H. Salim HS dan Erlies Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis dan Disertasi, Cetakan ke-1, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2013, hal.12.
30 H. Salim HS dan Erlies Nurbani, Ibid, hal.13.
dicari jawabnya.31 Macam-macam pendekatan yang digunakan di dalam penelitian hukum menurut Peter Mahmud Marzuki adalah.32
1. Pendekatan undang-undang (statute approach);
2. Pendekatan Kasus (case approach);
3. Pendekatan Konseptual (conceptual approach);
Penelitian yang dilakukan oleh penulis lebih ditunjukan kepada pendekatan undang-undang, pendekatan konseptual, dan pendekatan kasus. Pendekatan undang- undang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang tangani.33 Sedangkan pendekatan konseptual beranjak dari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang dalam ilmu hukum.34
4. Sumber Bahan Hukum
Pada metode penelitian hukum normative, terdapat 3 macam bahan pustaka yang dipergunakan oleh penulis yakni :
a) Bahan hukum primer. Yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat dan terdiri dari aturan-aturan dalam Hukum Internasional, yang terdiri dari:
1). Universal Declaration Human Rights (UDHR) 1948
31 H. Salim HS dan Erlies Nurbani, Op Cit, hal.17.
32Peter Mahmud Marzuki,Penelitian Hukum,Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2009, hal.93.
33 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2014, hal.12.
34 H. Salim HS dan Erlies Nurbani, Op Cit, hal.18.
2). Konvensi Jenewa 1949
3). Protokol Tambahan I dan Protokol Tambahan II 1977
b) Bahan hukum sekunder. Yaitu data kepustkaan yang dipakai untuk mendukung bahan hukum primer. Adapaun data yang penulis ambil dalam bahan hukum sekunder ini yaitu media masa, artikel-artikel, literatur, internet, yang dinilai dapat menunjang pembahasan dalam penulisan ini.
c) Bahan hukum tersier. Yaitu bahan hukum yang mendukung bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder dengan memberikan pemahaman dan pengertian atas bahan hukum lainya. Adapun bahan hukum yang dipergunakan penulis sebagai bahan hukum tersier, yaitu meliputi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Kamus Hukum.
5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik studi kepustakaan (Library Research) yaitu dengan cara membaca, menelah mengklasifikasikan, mengindentifikasikan, dan mengkaji bahan- bahan hukum yang berupa dokumen, peraturan perundang-undangan, yurisprudensi, hasil penelitian yang ada hubungannya dengan pokok permasalahan, pendapat para ahli hukum, konvensi-konvensi, buku-buku dan literatur yang relevan dengan permasalahan.35
35 H. Salim HS dan Erlies Nurbani, Ibid, hal.16.
6. Teknik Analisis Bahan Hukum
Dalam penulisan ini, penulis menggunakan bahan-bahan yang diperoleh dari tujuan kepustkaan yng bersumber dari buku-buku dan literatur lain. Data yang diperoleh penulis akan dianalisa secara kualitatif dan disajikan secara deskriptif, yaitu menganalisis data yang diperoleh berdasarkan aturan hukumnya serta untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain.36
G. Sistematika Penulisan
Penulisan ini disusun secara sistematis dan secara beruntun sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas dan terarah. Untuk mempermudah penulis dalam mengkaji dan menelaah penulisan skripsi ini maka perlu untuk mengurai terlebih dahulu sistematika penulisan skripsi ini yang terdiri dari empat (4) Bab yakni: Bab I merupakan Pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah, tujuan Penulisan, Kegunaan Penulisan, Kerangka Konseptual, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan. Bab II merupakan Tinjauan Pustaka, Bab III merupakan Hasil Penelitian dan Pembahasan. Bab IV merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
36 H. Salim HS dan Erlies Nurbani, Ibid, hal.8.