1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tersangka merupakan atau status bagi tindak pidana sesuai tingkat atau tahap pemeriksaan. Dalam Pasal 1 butir (14) KUHAP mengartikan tersangka adalah1“Seseorang yang karena perbuatannya atau keadaannya berdasarkan alat bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana”.Perlindungan hak tersangka ialah segala tindakan yang menjamin dan melindungi tersangka dan hak-haknya di dalam pemeriksaan pada tingkat penyelidikan maupun penyidikan. Tersangka berhak memberikan keterangan secara bebas kepada kepolisian dan tidak boleh dipaksa atau ditekan dalam memberikan keterangan. Supaya pemeriksaan mencapai hasil yang tidak menyimpang dari pada yang sebenarnya maka tersangka harus dijauhkan dari rasa takut, oleh karena itu wajib dicegah adanya paksaan atau tekanan terhadap tersangka.
Hakikat adanya aturan hukum adalah memberi jaminan keadilan serta kepastian hukum bagi masyarakat, tanpa terkecuali terhadap mereka yang diduga atau disangka telah melakukan tindak pidana yang menurut hukum juga patut di jamin hak-hak sebagai manusia dan sebagai warga negara. Meskipun seseorang telah dinyatakan sebagai tersangka, namun pasal 50 sampai dengan pasal 68 KUHAP menjamin tentang hak-hak tersangka tetap dilindungi dan hal
1A. Hamzah Irdan Dahlan, Perbandingan KUHAP HIR dan Komenter, (Jakarta:
Ghalia Indonesia, 1985),hlm 5.
2 ini menunjukan bahwa Negara Indonesia melindungi warganegara meskipun warganegaranya tersebut diduga melakukan tindak pidana, sehingga ditetapkan sebagai tersangka.2
Asas praduga tidak bersalah harus dijunjung tinggi yaitu setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan dimuka sidang pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap. Melalui asas praduga tidak bersalah ini maka perlakuan yang sama atas diri setiap orang dimuka hukum dengan tidak mengadakan perbedaan perlakuan walaupun orang tersebut menyandang status tersangka karena belum tentu tersangka bersalah dan belum mendapatkan putusan hukum yang tetap.
Adapun hak-hak tersangka yang terdapat pada KUHAP sebagi berikut :3
1. Hak-hak untuk diperiksa, diajukan ke pengadilan dan diadili (Pasal 50 ayat (1), (2) dan (3)).
2. Hak untuk mengetahui dengan jelas dan bahasa yang dimengerti oleh tersangka tentang apa yang disangkakan kepadanya pada waktu pemeriksaan dimulai dan apa yang didakwakan (Pasal 51 butir (a) dan (b)).
3. Hak untuk memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik dan hakim (Pasal 52).
2Teguh Samudra, 2002 Analisis dan Evaluasi Hukum tentang Hak-Hak Tersangka/Terdakwa Dalam KUHAP, Badan Pembinaan Hukum Nasional Departement Kehakiman dan HAM RI. Hlm 2
3Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana
3 4. Hak untuk mendapat juru bahasa (Pasal 53 ayat (1)).
5. Hak memilih sendiri penasehat hukumnya (Pasal 55).
6. Hak untuk mendapatkan advokat yang di tunjuk oleh pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan bagi pidana mati dengan biaya Cuma-Cuma ( pasal 56 ayat (1) dan (2)).
7. berbicara dengan perwakilan negaranya (Pasal 57 ayat (2)).
8. Hak untuk menghubungi dokter bagi tersangka yang ditahan (Pasal 58)).
9. Hak untuk diberitahu kepada keluarganya atau orang lain yang serumah dengan tersangka atau terdakwa yang ditahan untuk mendapat bantuan hukum atau bagi jaminan bagi penangguhannya dan hak untuk berhubungan dengan keluarga (Pasal 59 dan 60).
10. Hak untuk dikunjungi sanak keluarga yang tidak ada hubungannya dengan perkara tersangka. Untuk kepentingan pekerjaan atau untuk kepentingan kekeluargaan (Pasal 61).
11. Hak tersangka untuk berhubungan surat menyurat dengan Penasehat hukumnya (Pasal 62).
12. Hak tersangka untuk menghubungi dan menerima kunjungan Rohaniawan (Pasal 63).
13. Hak tersangka untuk menuntut ganti kerugian (Pasal 68).
Mengingat pentingnya untuk melindungi hak-hak tersangka maka Kitab Undang Undang Acara Pidana (KUHAP) mengaturnya dengan jelas, karena dalam HIR tidak ada peraturan yang mengatur dengan jelas tentang hak-hak yang diperoleh tersangka selama dalam proses pemeriksaan, sehingga sering
4 sekali begitu seorang yang dianggap tersangka diperlakukan sewenang- wenang oleh aparat kepolisian. Langkah-langkah inilah yang dibentuk pemerintah dan masyarakat sebagai bentuk usaha melindungi apa yang menjadi hak bagi tersangka sehingga diharapkan pelanggaran terhadap hak- hak tersangka dapat berkurang bahkan tidak ada sama sekali. Dalam hal ini peran masyarakat dan pemerintah sangatlah penting untuk menciptakan lingkungan peradilan yang aman dari segala bentuk pelanggaran terhadap hak-hak tersangka yang dilakukan oleh siapa pun khususnya aparat kepolisian.
Fakta yang terjadi adalah masih terdapat pelanggaran terhadap hak-hak tersangka.Salah satu contoh pelanggaran yang terjadi beberapa waktu lalu,Misalnya dalam kasus contoh Steven Leiwakabessy dan Yehezkel Leiwakabessy Tersangka tindak pidana pembunuhan dan atau penganiayaan yang menyebabkan matinya orang lain Jo turut serta melakukan suatu perbuatan dan dapat dihukum, sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 338 KUHP dan atau pasal 170 Ayat 2 dan atau pasal 351 Ayat 3 KUHP Jo pasal 55 KUHP.
Kasus ini bermula dari laporan saksi Jacop Lilipory dengan laporan polisi nomor LP/04/Vl/2019/Mal/Res Ambon, tanggal 13 juni 2019 bahwa telah terjadi kasus pembunuhan dengan tersangka Steven Leiwakabessy dan Yehezkel Leiwakabessy
Melihat fakta yang terjadi bahwa penerapan hak-hak tersangka sebagai wujud dari asas praduga tidak bersalah belum di terapkan secara maksimal oleh
5 aparat kepolisin sebagai penegak hukum.Berdasarkan asas praduga tidak bersalah, maka jelas dan wajar bahwa tersangka dalam proses penyidikan wajib dihargai hak-haknya yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana pasal 50 sampai dengan pasal 68.
Hal ini tidak lain untuk menempatkan tersangka dalam kedudukan yang semestinya, sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia.
Dengan landasan pemikiran diatas, maka penulis ingin mengetahui bagaimana Penerapan atau implementasi hak-hak tersangka sehingga penulis memberikan Judul pada penulisan penelitian ini Adalah :Implementasi Hak-Hak Tersangka Sebagai Perwujudan Asas Praduga Tidak Bersalah Dalam Proses Pemeriksaan Di Tingkat Penyidikan
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang hendak di angkat adalah bagaimanakah implementasi hak-hak tersangka sebagai perwujudan asas praduga tidak bersalah dalam proses pemeriksaan di tingkat penyidikan.
C. Tujuan Penelitian
1. Mengkaji serta menganalisis tentang bagaimanakah implementasi hak-hak tersangka sebagai perwujudan asas praduga tidak bersalah dalam tingkat penyidikan.
2. Sebagai syarat memperoleh gelar kesarjanaan pada Fakultas Hukum Unversitas Pattimura Ambon
6 D. Manfaat Penelitian
1. Memberikan penjelasan yang lebih nyata tentang implementasi hak-hak tersangka sebagai perwujudan asas praduga tak bersalah pada tingkat penyidikan
2. Sebagai sumbangan pemikiran dan masukan bagi pengembangan ilmu hukum pada umumnya serta mengenai pelaksanaan atau implementasi hak-hak tersangka pada khususnya.
E. Metode Penelitian
Metode Penelitian adalah cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara seksama untuk mencapai suatu tujuan dengan mencari, mencatat, merumuskan, dan menganalisa dan menganalisa sampai menyusun laporan.4 Istilah metodelogi berasal dari kata metode yang berarti jalan, demikian, sesuatu tipe yang digunakan dalam penelitian dan penilaian.5
Metode penelitian hukum adalah proses dalam menemukan aturan-aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi.6
Riset atau penelitian merupakan aktifitas ilmiah yang sistematis berarah bertujuan. Maka, data atau informasi yang dikumpulkan dalam penelitian merupakan harus relevan dengan persoalan yang dihadapi. Artinya data tersebut berkaitan, mengenal dan tepat.7
4Cholid Narkoba dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003) hlm. 1
5Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 2012), hlm. 5
6 Setiono, Pemahaman Terhadap Metode Penelitian Hukum, ( Surakarta: 2002 ) Hal.1
7Kartini Kartono Dalam Marzuki. Metodologi Riset (Yogyakarta: UII Press,
7 Metode penelitian merupakan suatu cara yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian dan membandingkan dengan standar aturan yang telah di tentukan.8
Adapun metode penelitian yang digunakan penulis adalah sebagai berikut : 1. Jenis Penelitian
Berdasarkan pada masalah yang diajukan, maka penulis didalam penulisan hukum ini menggunakan jenis penelitian yang bersifat yuridis Empiris dengan kata lain adalah jenis penelitian hukum sosiologi dan dapat disebut pula dengan penelitian lapangan, yaitu mengkaji ketentuan hukum yang berlaku di lapangan.9 Atau dengan kata lain yaitu penelitian yang dilakukan terhadap keadaan sebenarnya atau nyata yang terjadi di lapangan dengan maksud untuk mengetahui dan menemukan fakta-fakta dan data yang dibutuhkan, setelah data yang di butuhkan terkumpul kemudian menuju kepada identifikasi masalah pada akhirnya menuju pada penyelesaian masalah.10
2. Tipe Penelitian
Penelitian yang digunakan bersifat deskriptif.11dimana akan dianalisa hal-hal yang bersifat umum, dan dengan alur analisa melalui bab dan sub bab, pada akhirnya akan ada deskripsi tentang sejauh mana implementasi hak-hak tersangka sebagai perwujudan dari asas praduga tak bersalah.
Dengan menggunakan tipe penelitian ini selanjutnya ditarik beberapa
T.T.),hlm. 55
8Suharmini Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka cipt, 2002, hlm. 126
9Bambang, Waluyo, Prosedur Penelitian Hukum Dalam Praktek (Jakarta, Sinar Grafika, 2002) hlm 15
10Bambang, Waluyo, hlm 16
11Soerjono Sukanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1996
8 kesimpulan dan saran-saran.
3. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer dan sekunder adalah sumber data yang diperoleh dari sumber pertama baik individu seperti wawancara.12
1. Data primer adalah data yang diperoleh atau diterima langsung dilapangan antara lain wanwancara dan studi kepustakaan
2. Data sekunder adalah : data yang mendukung data primer yang terdiri dari :
a. Bahan Hukum Primer
Bahan Hukum Primer adalah bahan hokum yang dikeluarkan oleh pemerintah dan bersifat mengikat anatar lain :
1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana
2. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer, yang berupa hasil karya
Muhammad Shodiq dan Imam Muttaqen, Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif Tata Langka Dan Teknik-Teknik Reoritisasi Data ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2003) Hal.82
9 ilmiah, ahli hukum, buku-buku, dan majalah-majalah yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.
c. Bahan Hukum Tersier
Selain kedua jenis bahan hukum tersebut diatas, untuk keperluaan penelitian seorang penulis dapat pula merujuk beberapa rujukan yang berasal dari bahan-bahan Hukum Tersier.13 hukum dapat berupa buku-buku diluar ilmu hukum sepanjang mempunyai relevansi dengan topik penelitian, bahan hukum tersebut antara lain Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Hukum dan Ensiklopedia.
4. Populasi dan Sampel
Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya akan diduga. Populasi adalah jumlah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuhan-tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik di dalam suatu penelitian. Untuk penulisan skripsi ini penulis mengambil populasi penelitian yang ada kaitannya dengan masalah-masalah yang di bahas adapun populasi dalam penelitian ini dalah polisi.
4. Teknik Pengumpulan Data
Prosedur ini dilakukan dengan cara mengawali pengumpulan data-data primer data sekunder dan data tersier, kemudian dilakukan inventarisasi dan
13Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta, 2005,hal 96
10 klasifikasi mana yang sesuai dengan pokok masalah.
5. Teknik Analisa Data
Teknik analisis data adalah tahap yang penting dalam menentukan suatu penelitian. Analisis data dalam suatu penelitian adalah menguraikan atau memecahkan masalah yang diteliti berdasarkan data yang diperoleh kemudian diolah kedalam pokok permasalahan yang diajukan terhadap penelitian yang bersifat deskriptif.14
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik analisis kualitatif . yaitu dengan cara menganalisis data-data berupa aturan-aturan hukum yang sudah terkumpul dihubungkan dengan kasus yang terjadi, kemudian dipilah-pilah sesuai dengan kategori-kategori masing-masing dan di analisis dalam upaya mencari jawaban masalah penelitian setelah itu di tarik kesimpulan dan saran- saran.
F. Kerangka Teoritis
KUHAP Telah mengangkat dan menempatkan seorang Tersangka dalam kedudukan yang “Berderajat”, sebagai makhluk ciptaan Tuhan.yang memiliki harkat derajat kemanusiaan yang utuh. Tersangka telah di tetapkan KUHAP dalam posisi his entity and dignity as a human being, yang harus di perlakukan sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. 15
Untuk mengimplementasi tujuan perlindungan harkat dan martabat
14 Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif Dan R&B ( Bandung : Alfabet 2006) hal. 147
15M.Yahya Harahap ,2015. Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Jilid 2 Jakarta :Sinar Grafika, hlm 1.
11 tersebut, KUHAP membentuk suatu pola penegakan hukum pidana yang dikenal dengan istilah Sistim Peradilan Pidana (criminal justice system).
Istilah Criminal Justice System menurut Ramington dan Ohlin sebagaimana dikutip Romli Atmasasmita adalah sebagai berikut:16
Criminal Justice System dapat diartikan sebagai pemakaian pendekatan sistem terhadap mekanisme administrasi peradilan pidana, dan peradilan sebagai suatu sistem merupakan hasil interaksi peraturan perundang-undangan, praktik administrasi dan sikap atau tingkah laku social. Pengertian sistem itu sendiri mengandung implikasi suatu proses interaksi yang dipersiapkan secara rasional dan dengan cara efisien untuk memberikan hasil tertentu dengan segala keterbatasannya.
Sistem yang di bangun KUHAP ini melahirkan pihak-pihak penegak hukum yang terdiri dari penyidik, penuntut umum, pengadilan, dan pemasyarakatan.
Sistem Peradilan Pidana ini di jalankan sesuai dengan prinsip the right of due procces, Setiap tersangka berhak diselidiki dan disidik di atas landasan “sesuai hukum acara”. Agar konsep dan esensi due process dapat terjamin penegakan dan pelaksanaannya oleh aparat penegak hukum harus
“memedomani”, dan “mengakui” (recognized), “menghormati” (to respect for) dan melindungi (to protect), serta menjamin dengan baik hal sebagai berikut :
a. The right of self incrimination. Tidak seorang pun dapat dipaksa menjadi saksi yang memberatkan dirinya dalam suatu tindak pidana.
b. Dilarang mencabut, atau menghilangkan hak hidup, kemerdekaan atau harta benda tanpa sesuai dengan ketentuan hukum acara
16Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana Kontenporer, (Jakarta: Kencana Prenada Pidana Grup, 2010), hlm 2.
12 c. Setiap orang harus terjamin hak terhadap diri, kediaman, surat-surat atas
pemeriksaan dan penyitaan yang tidak beralasan.
d. Hak konfrontasi dalam bentuk pemeriksaan silang dengan orang yang menuduh melaporkan.
e. Hak mendapat pemeriksaan peradilan yang cepat.
f. Hak perlindungan yang sama dan perlakuan yang sama dalam hukum . g. Hak mendapat bantuan penasihat hukum. Hak ini merupakan hak yang di
atur dalam pasal 56 KUHAP. Dan apa yang di atur dalam pasal 56 ini merupakan bagian yang tidak terpisah dari asas presumption of innocence serta berkaitan dengan pengembangan Miranda rule yang juga telah di adaptasi dalam KUHAP.17
Miranda Rule dalam praktiknya dibagi menjadi tiga bagian sebagaimana dikemukakan Sofyan Lubis sebagai berikut:18
a. Miranda Rule adalah suatu aturan yang mengatur hak-hak seseorang yang dituduh atau disangka melakukan tindak pidana, sebelum diperiksa oleh penyidik, aturan tersebut mewajibkan polisi untuk memberikan hak-hak seseorang, hak untuk diam. Karena segala sesuatu yang dikatakan seorang tersangka dapat digunakan untuk melawannya/memberatkannya di pengadilan,kemudian hak untuk mendapatkan penasihat hukum untuk membela hak-hak hukumnya, dan jika ia tidak mampu maka ia berhak disediakan penasihat hukum.
b. Miranda Right, identik dengan Miranda Rule. Cuma lebih di tekankan
17 M.Yahya Harahap hlm 95-96
18Sofyan Lubis, Pelanggaran Miranda Rule dalam Praktik Peradilan di Indonesia, penerbit; Juxtapose-2007, hlm 18.
13 pada hak untuk diam, menolak menolak untuk menjawab pertanyaan polisi atau yang menangkap sebelum diperiksa penyidik. Hak untuk menghubungi penasehat hukum dan mendapatkan bantuan hukum dari penasihat hukum/advokat yang bersagkutan.hak untuk memilih sendiri penasihat hukum. Hak untuk disediakan penasihat hukum, jika tersangka tidak mampu menyediakan penasihat hukum sendiri.
c. Miranda warning adalah peringatan yang harus diberikan oleh penyidik kepada tersangka. Tersangka sebelum diinterogasi harus diberikan informasi jelas bahwa ia berhak untuk diam, dan segala apa yang dikatakannya bias digunakan untuk melawannya di pengadilan.
Hak-hak seorang atas Miranda rule dapat juga di kategorikan sebagai bentuk pelanggaran hak hukum dan hak asasi manusia sebagaimana ditegaskan dalam pasal 19 ayat (4) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia “hak untuk mendapatkan bantuan hukum sejak penyidikan sampai adanya putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap’’.
maka adanya pelanggaran atas Miranda rule disebut juga sebagai pelanggaran hak asasi tersangka.
Sistem Peradilan Pidana merupakan suatu proses penegakan hukum pidana, berlandaskan prinsip the right of due procces yang menjunjung tinggi keadilan serta harkat dan martabat seorang manusia. bukan hanya di dalam KUHAP saja yang menginginkan proses peradilan yang adil tetapi juga terdapat peraturan lain yang menjunjung untuk menciptakan proses peradilan yang adil yang dapat melindungi hak asasi.