BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang. Dalam hal usaha untuk mencari titik terang terhadap dugaan telah terjadinya suatu tindak pidana maka diperlukan bukti yang mendukung bahwa memang telah terjadinya sebuah tindak pidana tersebut, adapun bukti yang dimaksudkan adalah bukti yang berhubungan secara langsung maupun secara tidak langsung terhadap terjadinya tindak pidana.
Bukti tersebut di atas yang membantu dalam usaha menyelesaikan suatu tindak pidana yang terjadi di masyarakat, salah satu dari alat bukti yang diperlukan tersebut tidak dipenuhi, maka akan terasa sulit bagi para penegak hukum untuk menyelesaikan kasus tindak pidana yang terjadi apabila suatu tindak pidana yang terjadi tidak dapat diselesaikan dalam kehidupan masyarakat berarti apa yang menjadi tujuan dari adanya hukum tidak pernah tercapainya yakni menciptakan rasa keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat dan lebih khusus lagi tujuan dari hukum acara pidana pun tidak akan tercapai suatu kebenaran materil atau kebenaran sejati (yang sebenar- benarnya) yang pada akhirnya akan tercapai keadilan yang dirasakan oleh semua pihak. Dalam hukum acara pidana yang dicari adalah kebenaran
materil. Hakim tidak tergantung kepada apa yang dikemukakan oleh jaksa penuntut umum maupun oleh penasihat hukum terdakwa. Hakim bersifat aktif mencari kebenaran yang menurut "fakta" yang sebenarnya, bukan menurut apa yang dikemukakan oleh jaksa penuntut umum maupun penasihat hukum terdakwa1
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana selanjutnya disebut KUHAP dalam pasal 1 butir 26 menguraikan bahwa saksi adalah seseorang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. kemudian rumusan mengenai saksi sebagaimana dijelaskan diatas telah mendapatkan perluasan norma dengan keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor; 65/PUU-VIII/2010 atas Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana, diperluas menjadi termasuk pula orang yang dapat memberikan keterangan dalam rangka penyidikan, penuntutan dan peradilan suatu tindak pidana yang tidak selalu ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri.
Keterangan saksi merupakan salah satu pembuktian yang sah dalam proses peradilan sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 184 KUHAP, oleh sebab itu dalam hal ketidak hadiran saksi di pengadilan akan berdampak terhambatnya pihak penegak hukum dalam menyelesaikan suatu proses hukum.
1 R.Soesilo, Hukum Acara Pidana (Prosedur Penyelesaian Pidana Menurut KUHAP Bagi Penegak Hukum, Politea, Bogor, 1982, Hlm.54
Untuk itu menurut Pasal 224 angka 1 dan 2 KUHP yang menyatakan:
Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli, atau juru Bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan dan dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama enam bulan2. Selain itu dapat dilihat juga dalam Pasal 522 KUHP yang menyatakan : bahwa barang siapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.
Menurut Monang Siahaan, penyidik berwenang melakukan upaya paksa untuk kepentingan penyidikan dalam hal ini tetap harus menghormati asas praduga tak bersalah (presumption of innocence).3 Selanjutnya menurut Soeparmono, bahwa sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat(2) KUHAP bahwa dalam menjalankan fungsi penyidikan penyidik diberikan wewenang untuk melakukan upaya paksa.4
Setelah penyidik melakukan proses penyidikan dan apabila ditemukan perlu adanya saksi yang perlu dihadirkan namun jika saksi tersebut tidak datang juga penyidik dapat melakukan upaya penjemputan paksa saksi tersebut untuk melakukan pemeriksaan.5
Pasal 113 KUHAP menyatakan bahwa jika seorang tersangka atau saksi yang dipanggil memberi alasan yang patut dan wajar bahwa ia tidak
2Ibid,
3 Monang Siahan, Filsafat dan filosofi hukum acara pidana. PT Grasindo, Jakarta, 2017, hlm 8
4 Soeparmono, Keterangan ahli dan Visum et repertum dalam aspek hukum Acara pidana, Mandar Maju bandung 2014 hlm 23
5Siswanto, sunarso, Viktimologi dalam sistem peradilan pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2015, hlm 51
dapat datang kepada penyidik yang melakukan pemeriksaan, penyidik itu datang ke tempat kediaman orang tersebut. Upaya paksa terhadap saksi telah dimaksudkan juga dalam Peraturan Kepala Kepolisan Negara Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2012 Tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana Mengenai Pemanggilan Saksi, diatur dalam Pasal 27 ayat (1) yang berbunyi :
Pemanggilan sebagaimana dimaksud pada Pasal 26 huruf a dilakukan secara tertulis dengan menerbitkan :
1. surat panggilan atas dasar laporan polisi, 2. laporan hasil penyidikan, dan
3. pengembangan hasil pemeriksaan yang tertuang dalam berita acara”.
Pasal 27 ayat (2) menjelaskan bahwa :
surat pemanggilan ditandatangani oleh penyidik atau atasan penyidik selaku penyidik.
Pada Pasal 27 ayat (3) :
surat panggilan disampaikan dengan memperhitungkan tenggang waktu yang cukup paling lambat 3 (tiga) hari sudah diterima sebelum waktu untuk datang memenuhi panggilan.
Pasal 27 ayat (4) :
surat panggilan sedapat mungkin, diserahkan kepada yang bersangkutan disertai dengan tanda terima, kecuali dalam hal:
a. Yang bersangkutan tidak berada ditempat, surat panggilan diserahkan melalui keluarganya, kuasa hukum, ketua RT/RW/lingkungan, atau kepala desa atau orang lain yang dapat menjamin bahwa surat panggilan tersebut segara akan disampaikan kepada yang bersangkutan;
b. Dan seseorang yang dipanggil berada diluar wilayah hukum kesatuan polri yang memanggil, maka surat panggilan dapat disampaikan melalui kesatuan, polri tempat tinggal yang bersangkutan atau dikirimkan melalui pos/jasa pengiriman surat dengan disertai bukti penerimaan pengiriman.
Pasal 27 ayat (5) :
dalam hal yang dipanggil tidak datang kepada penyidik tanpa alasan yang sah, penyidik membuat surat penggilan kedua.
Pasal 27 ayat (6) :
apabila panggilan ke dua tidak datang sesuai waktu yang telah ditetapkan, penyidik menerbitkan surat perintah membawa.
Namun dalam kenyataannya ditemukan bahwa berkenaan dengan saksi ada beberapa kasus yang tidak terungkap akibat tidak adanya saksi yang mendukung tugas penegak hukum dalam kasus penyerobotan lahan dan aset milik yayasan Alhilal dengan terdakwa Umar Atamimi, yang digelar di pengadilan negeri Ambon majelis hakim yang memeriksa dan mengadili kasus tersebut menetapkan dan memerintahkan jaksa untuk menjemput dan menghadirkan Said Assagaff dalam kapasitasnya selaku salah satu pengurus Yayasan Alhilal6.
Penetapan dan perintah majelis hakim tersebut disampaikan Harry Setyobudi hakim ketua dalam sidang kasus tersebut meskipun Assagaff tidak pernah memenuhi panggilan jaksa walaupun telah dipanggil secara sah dan patut ketidak hadiran Said Assagaff dikarenakan menjalani tugas negara di luar daerah sehingga tidak memenuhi panggilan apakah dapat dikenakan upaya paksa terhadapnya. kemudian bagaimana jika panggilan tersebut telah diterima namun tetap tidak menghadiri maka bisakah dijemput secara paksa?
Menurut Nikolas Simanjuntak : menyatakan bahwa Kemudian dari itu pemanggilan untuk diperiksa memang bisa ditunda pelaksanaanya, tetapi itu bisa berujung jadi upaya paksa penangkapan, yakni bilamana sudah dipanggil
6Hakim perintah jaksa jemput paksa Said Assagaff-Faktamaluku.com
secara sah dan patut sampai 2 (dua) kali, namun tidak juga datang untuk pemeriksaan maka dia bisa langsung di tangkap berdasarkan pasal 19 ayat (2) KUHAP. Bahkan, bilamana sama sekali tidak mau atau menolak menghadiri panggilan itu sebagai saksi, ahli atau juru bahasa, bisa dikenakan padanya pelanggaran hukum pidana materil KUHP Pasal 224 dengan ancaman hukuman 6 (enam) bulan.7
Hal ini pun dijelaskan oleh Ramelan bahwa memenuhi panggilan dalam perkara pidana adalah merupakan kewajiban hukum bagi setiap orang, baik sebagai tersangka maupun sebagai saksi ahli. Hal ini ditegaskan dalam pasal 112 ayat (2) KUHAP yang menyatakan bahwa orang yang dipanggil wajib datang kepada penyidik. Panggilan tidak boleh diwakilkan kepada orang lain karena atas pemeriksaan adalah langsung. Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul: Urgensi Penjemputan Paksa Saksi Dalam Proses Peradilan Pidana.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah “Apakah dapat dilakukan upaya proses penjemputan paksa terhadap Said Assagaff sebagai saksi dalam kasus penyerobotan lahan dan aset milik yayasan Alhilal dengan terdakwa Umar Atamimi ?
7Niko Nikolas Simanjuntak, Hukum Acara Pidana Indonesia Dalam Sirklus Hukum, Ghalia Indonesia bogor- 2009 hlm 120-121
C. Tujuan Penelitian
1. Mengkaji dan membahas proses penjemputan paksa terhadap SA sebagai saksi dalam kasus penyerobotan lahan dan aset milik yayasan al-hilal atas nama terdakwa UA.
2. Memenuhi salah satu persyaratan dalam penyelesaian pada Fakultas Hukum Universitas Pattimura.
D. Manfaat Penelitian
1. Ingin mengetahui alasan yuridis penjemputan paksa terhadap saksi SA sebagai saksi dalam dalam kasus penyerobotan lahan dan aset milik yayasan al-hilal atas nama terdakwa UA.
2. Sebagai bahan masukan bagi penegak hukum mengenai upaya penjemputan paksa terhadap saksi, penelitian ini dapat memberikan pengetahuan kepada kalangan akademisi dalam memehami sejauh mana penyidik dalam melakukan upaya jemput paksa terhadap saksi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana.
E. Kerangka Teoritis
Saksi, menurut Pasal 1 angka 26 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri. Pengertian tersebut berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 65/PUU-VIII/2010
Pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana diperluas menjadi termasuk pula “orang yang dapat memberikan
keterangan dalam rangka penyidikan, penuntutan, dan peradilan suatu tindak pidana yang tidak selalu ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri”.
Pada dasarnya menolak panggilan sebagai saksi dikategorikan sebagai tindak pidana menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ("KUHP").
Adapun ancaman hukuman bagi orang yang menolak panggilan sebagai saksi diatur di dalam Pasal 224 ayat (1) KUHP yang berbunyi:
Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan;
R. Soesilo mengatakan bahwa supaya dapat dihukum berdasarkan Pasal 224 KUHP, orang tersebut harus:
1. Dipanggil menurut undang-undang (oleh hakim) untuk menjadi saksi, ahli atau juru bahasa baik dalam perkara pidana, maupun dalam perkara perdata;
2. Dengan sengaja tidak mau memenuhi (menolak) suatu kewajiban yang menurut undang-undang harus ia penuhi, misalnya kewajiban untuk datang pada sidang dan memberikan kesaksian, keterangan keahlian, menterjemahkan.8
Lebih lanjut R. Soesilo juga menjelaskan bahwa orang itu harus benar- benar dengan sengaja menolak memenuhi kewajibannya tersebut, jika ia
8R. Soesilo, Op Cit, Hal. 8
hanya lupa atau segan untuk datang saja, maka ia dikenakan Pasal 522 KUHP.
Mengenai hak dan kewajiban saksi, sebagaimana diuraikan di atas, maka jelas bahwa seseorang yang dipanggil sebagai saksi dalam suatu perkara pidana berkewajiban untuk hadir. Hal ini juga dapat dilihat dalam Pasal 112 ayat (1) KUHAP. Selain itu saksi juga mempunyai kewajiban sebagai berikut:
1. Sebelum memberi keterangan, saksi wajib mengucapkan sumpah atau janji menurut cara agamanya masing-masing, bahwa ia akan memberikan keterangan yang sebenarnya dan tidak lain daripada yang sebenarnya (Pasal 160 ayat (3) KUHAP);
2. Saksi wajib untuk tetap hadir di sidang setelah memberikan keterangannya (Pasal 167 KUHAP);
3. Para saksi dilarang untuk bercakap-cakap (Pasal 167 ayat (3) KUHAP).
Sedangkan hak dari saksi antara lain:
1. Dipanggil sebagai saksi oleh penyidik dengan surat panggilan yang sah serta berhak diberitahukan alasan pemanggilan tersebut (Pasal 112 ayat (1) KUHAP);
2. Berhak untuk dilakukan pemeriksaan di tempat kediamannya jika memang saksi dapat memberikan alasan yang patut dan wajar bahwa ia tidak dapat datang kepada penyidik (Pasal 113 KUHAP);
3. Berhak untuk memberikan keterangan tanpa tekanan dari siapapun atau dalam bentuk apapun (Pasal 117 ayat (1) KUHAP);
4. Saksi berhak menolak menandatangani berita acara yang memuat keterangannya dengan memberikan alasan yang kuat (Pasal 118 KUHAP);
5. Berhak untuk tidak diajukan pertanyaan yang menjerat kepada saksi (Pasal 166 KUHAP);
6. Berhak atas juru bahasa jika saksi tidak paham bahasa Indonesia (Pasal 177 ayat (1) KUHAP);
7. Berhak atas seorang penerjemah jika saksi tersebut bisu dan/atau tuli serta tidak dapat menulis (Pasal 178 ayat (1) KUHAP).
Jika saksi tidak datang pada hari yang ditetapkan dalam surat panggilan, meskipun telah dipanggil secara sah, dan hakim ketua sidang mempunyai cukup alasan untuk menyangka bahwa saksi itu tidak akan mau hadir, maka hakim ketua sidang dapat memerintahkan supaya saksi tersebut dihadapkan ke persidangan (Pasal 159 KUHAP). Mengenai berapa lama waktu datangnya surat panggilan kedua jika Anda tidak menghadiri panggilan yang pertama tidak diatur dalam KUHAP. Yang diatur hanya bahwa hakim berwenang untuk memerintahkan supaya saksi dihadapkan ke persidangan.
Sedangkan Saksi menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 Perlindungan Saksi Korban tentang perubahan atas Undang Undang No 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban bahwa saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu tindak pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan atau
alami sendiri. Keterangan saksi adalah salah satu bukti dalam perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dan pengetahuannya itu.
Faktor penting dalam perkara pidana terutama dalam hal menemukan terangnya sebuah tindak pidana, sehingga tidak dibenarkan pula dalam melakukan pemeriksaan pihak pemeriksa mengadakan tekanan yang bagaimanapun caranya misalnya pada kasus ancaman, dan sebagainya yang dapat menyebabkan terdakwa atau saksi menerangkan hal berlainan yang dianggap tidak sebagai pernyataan pikiran bebas. Harus dijaga pula jangan sampai saksi dalam suatu persidangan malah menjadi korban dari suatu sidang.
Muladi menyatakan bahwa perlunya pengaturan dan perlindungan hukum bagi saksi dan korban dapat dibenarkan secara sosiologis bahwa dalam kehidupan bermasyarakat semua warga Negara harus berpartisipasi penuh, sebab masyarakat dipandang sebagai system kepercayaan yang melembaga
“system of in instuitutionalizet trust”. Tanpa kepercayaan ini terpadu melalui norma norma yang diekspresikan di dalam struktur kelembagaan (organisasi) seperti kepolisian, kejaksaan, pengadilan, lembaga koreksi dan sebagainya.9
Dilihat dari substansinya hukum acara pidana mengenal adanya dua jenis saksi yang saling berhadap-hadapan satu sama lain, yaitu:
1. Saksi“a charge” yaitu saksi yang memberatkan terdakwa 2. Saksi“a decharge” yaitu saksi yang menguntungkan terdakwa
9 Muladi, Hak Asasi Manusia, Politik Dan System Peradilan Pidana, Semarang, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2002, hal, 175-176
Praktiknya saksi (a charge) yakni saksi yang memberatkan selalu diajukan oleh jaksa penuntut umum untuk membuktikan surat dakwaanya sebab merupakan suatu keharusan bagi jaksa penuntut umum untuk membuktikan dakwaannya, saksi a charge sangat vital peranannya agar jaksa penuntut umum dapat mengajukan suatu perkara yang dapat mengajukan suatu perkara yang dapat dibuktikannya di depan sidang pengadilan.
Sedangkan saksi a decharge diajukan oleh terdakwa dalam memberikan keterangan yang dapat menguntungkan atau meringankan dirinya karena berdasarkan surat dakwaan jaksa penuntut umum dirinya dipersalahkan melakukan tindak pidana. Pengajuan saksi a decharge merupakan hak terdakwa, baik hakim maupun jaksa tidak memiliki hak untuk menolak saksi menguntungkan itu karena itu merupakan hak asasi terdakwa dalam melakukan pembelaan terhadap dirinya bahwa ia tidak bersalah.
Menurut Nikolas Simanjuntak menguraikan bahwa upaya paksa adalah serangkaian tindakan penyidik untuk melaksanakan penyidikan, yaitu dalam hal melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan, dan pemeriksaan surat. Dalam keadaan normal bilamana tindakan itu dilakukan tanpa dasar ketentuan Undang-Undang maka hal ini diklasifikasikan sebagai pelanggaran hak asasi manusia.10
Perkap Nomor 14 Tahun 2012 tentang manajemen penyidikan dalam Pasal 26 menjelaskan bahwa upaya paksa meliputi :
a. Pemanggilan
10Nikolas Simanjuntak, Acara Pidana Dalam Sirkus hukum. Ghalia Indonesia, jakarta, 2009, hlm 77
b. Penangkapan c. Penahanan d. Penggeledahan e. Penyitaan dan f. Pemeriksaan surat
Penangkapan dilakukan penyidik sesuai pasal 16 ayat(1) dan ayat(2), yaitu; atas perintah penyidik, penyidik berwenang malakukan penangkapan untuk kepentingan penyidikan, penyidik dan penyidik pembantu berwenang melakukan panangkapan.11
Menurut Pasal 27 Perkap menyebutkan :
(1) bahwa pemanggilan sebagaimana dimaksud pada Pasal 26 huruf a dilakukan secara tertulis dengan menerbitkan surat panggilan atas dasar laporan polisi, laporan hasil penyidikan, dan pengembangan hasil pemeriksaan yang tertuang dalam berita acara”.
(2) menjelaskan bahwa surat pemanggilan ditandatangani oleh penyidik atau atasan penyidik selaku penyidik.
(3) surat panggilan disampaikan dengan memperhitungkan tenggang waktu yang cukup paling lambat 3 (tiga) hari sudah diterima sebelum waktu untuk datang memenuhi panggilan.
(4) surat panggilan sedapat mungkin, diserahkan kepada yang bersangkutan disertai dengan tanda terima, kecuali dalam hal:
a. Yang bersangkutan tidak berada ditempat, surat panggilan diserahkan melalui keluarganya, kuasa hukum, ketua RT/RW/lingkungan, atau kepala desa atau orang lain yang dapat menjamin bahwa surat panggilan tersebut segara akan disampaikan kepada yang bersangkutan;
b. Dan seseorang yang dipanggil berada diluar wilayah hukum kesatuan polri yang memanggil, maka surat panggilan dapat disampaikan melalui kesatuan, polri tempat tinggal yang bersangkutan atau dikirimkan melalui pos/jasa pengiriman surat dengan disertai bukti penerimaan pengiriman.
(5) dalam hal yang dipanggil tidak datang kepada penyidik tanpa alasan yang sah, penyidik membuat surat penggilan kedua. Pasal 27
11Perkap Nomor 14 tahun 2012 pasal 26
ayat(6) apabila panggilan ke dua tidak datang sesuai waktu yang telah ditetapkan, penyidik menerbitkan surat perintah membawa.
F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian.
Adapun penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif.
Jenis penelitian ini bersifat “yuridis normatif” yaitu memperoleh data dari
studi kepustakaan berupa undang-undang, dokumen, buku-buku, majalah, dan literatur lainnya yang berkaitan dengan penulisan.8
2. Tipe Penelitian.
Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan sebelumnya maka tipe penelitian ini bersifat deskriptif analitis, artinya bahwa dengan data dan analisa yang diteliti mungkin dapat dipertegas pendirian dan pandangan para ahli serta pemikir-pemikir yuridis guna memperkuat teori sekaligus dapat ditarik beberapa kesimpulan dari beberapa permasalahan yang dikemukakan9
3. Sumber Bahan Hukum.
Sumber bahan hukum yang digunakan adalah : a. Bahan hukum primer, yakni :
- Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP),
8Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Fajar Interpratama Offset, Jakarta, 2006, Hal 141
9 Rony Hanitijo Soemitro, Metodologi Hukum dan Juri Metri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1980, hal. 12
10Program Studi Magister Ilmu Hukum UNUD, 2005, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian Dan Tesis Hukum Normatif, hal 9
- Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban Jo. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Perlindungan Saksi dan Korban,
- Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia No. 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana.
b. Bahan hukum sekunder, yakni :
Literatur, buku-buku ilmiah, jurnal ilmiah, hasil seminar dll.
c. Bahan hukum tersier, yakni : kamus hukum, ensiklopedia dll 4. Teknik Pengumpulan dan Analisis Bahan Hukum.
Infomasi yang diperoleh dari bahan-bahan hukum primer dan bahan- bahan hukum sekunder selanjutnya dianalisa melalui langkah-langkah deskriptif, interpretasi, sistematis, argumentasi dan evaluasi. Teknik deskriptif menurut Philipus M. Hadjon adalah mencakup isi maupun struktur hukum posetif.10 Pada bagian deskriptif ini di lakukan pemaparan mengenai dilakukan upaya proses penjemputan paksa terhadap saksi.
Selanjutnya bahan-bahan hukum yang berupa peraturan perundang- undangan maupun bahan-bahan pustaka dari hasil penelitian lainnya kemudian diklasifikasi selanjutnya disusun secara sistematis, kemudian dianalisa secara evaluatif terhadap norma-norma hukum dalam peraturan hukum yang mengatur tentang dilakukan upaya proses penjemputan paksa sebagai saksi dan konsenkuensi hukumnya. Teknik argumentasi ini adalah penilaian yang didasarkan pada alasan-alasan yang bersifat penalaran hukum. Sedangkan
sistematisasi yaitu mencari suatu kaitan konsep hukum antara peraturan perundang-undangan yang diteliti. Dengan demikian hasil tersebut diharapkan dapat memperoleh simpulan atas masalah yang diangkat dalam penilitian ini.
G. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam penulisan ini terdiri dari Bab I adalah Pendahuluan terdiri atas; A. Later Belakang, B. Permasalahan, C.
Tujuan Penulisan, D. Kegunaan Penulisan, E. Kerangka Teoritis, F. Metode Penulisan, G. Sistematika Penulisan, Bab II Tinjauan Pustaka terdiri atas A.
Pengertian Saksi, B. Mekanisme Pemeriksaan Saksi Menurut Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana, C. Proses Peradilan Pidana Menurut KUHAP, Bab III. Hasil dan Pembahasan yang terdiri dari : A. Posisi Kasus, B.
Pemanggilan Saksi dalam Perkara Pidana, C. Penjemputan saksi dalam perkara pidana, Bab IV merupakan Penutupan terdiri dari A. Kesimpulan dan B. Saran.