Pada tahun berikutnya yaitu tahun 2019, jumlah anak jalanan di Kota Semarang kembali meningkat sebesar 4%. Yayasan Emas Indonesia memberi nama generasi emas kepada anak-anak jalanan ini karena mereka yakin di balik segala hal negatif yang tersembunyi dalam diri anak jalanan, terdapat banyak kemungkinan yang bisa digali. Dalam menyelesaikan permasalahan anak jalanan, Yayasan Emas Indonesia ikut serta dengan membuat program-program yang dapat meningkatkan pengetahuan, etika, moral dan kreativitas anak jalanan.
Yayasan Emas Indonesia telah menyiapkan program perilaku anak jalanan dan anak kurang mampu. Selain merawat anak jalanan, Yayasan Emas Indonesia juga memberikan pelayanan kepada Penyandang Masalah Sosial (PMKS), lanjut usia dan rehabilitasi penderita obat-obatan terlarang. Terlihat jumlah kategori anak jalanan berjumlah 126 orang, dengan jumlah anak jalanan terbanyak.
Melihat banyaknya mentor di Yayasan Emas Indonesia sehingga dibutuhkan sumber daya manusia yang lebih banyak lagi. Yayasan Emas Indonesia juga melakukan evaluasi bulanan terhadap kegiatan sumber daya manusia di Yayasan Emas Indonesia. Dana yang ada juga digunakan untuk mendukung program pembangunan karakter di Yayasan Emas Indonesia.
Pendapatan yang diperoleh Yayasan Emas Indonesia dari penjualan kue kering dan catering per bulannya hanya sekitar 2 juta saja.
Perumusan masalah
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian .1 Kegunaan Teoritis
Kegunaan Praktis
Kerangka Teori .1 Penelitian terdahulu
- Administrasi Publik
- Manajemen Publik
- Partisipasi
- Pemberdayaan
- Faktor Pendorong dan Penghambat
Oleh karena itu saya tertarik untuk meneliti keikutsertaan Yayasan Emas Indonesia dalam program pembentukan karakter anak jalanan di kota semarang. Keikutsertaan Yayasan Emas Indonesia fokus pada pemberdayaan anak jalanan untuk membentuk karakter anak tersebut agar lebih disiplin dan berakhlak mulia. Yayasan Emas Indonesia memberikan kemandirian bagi anak jalanan yang dibina dengan menawarkan kegiatan-kegiatan yang menunjang softskill anak jalanan tersebut.
Menurut Sri Surhayati (2008: 25) keberhasilan peningkatan partisipasi program pembentukan karakter anak jalanan dapat diukur dengan indikator sebagai berikut. Meningkatkan kualitas dan kuantitas kontribusi (kritik dan saran) terhadap peningkatan kualitas program pembentukan karakter anak jalanan. Yayasan Emas Indonesia secara sukarela membuka kelas gratis untuk anak-anak jalanan dan anak-anak dari keluarga kurang mampu secara finansial.
Yayasan Emas Indonesia sebagai Enabler harus mendengarkan, memahami, membantu dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melayani kepentingan anak jalanan. Yayasan Emas Indonesia juga harus mampu mempertanggungjawabkan kebijakan dan tindakannya yang berdampak pada kehidupan anak-anak jalanan yang diasuhnya. Penguatan program pembentukan karakter anak jalanan yang dilakukan oleh Yayasan Emas Indonesia yaitu dengan memberikan pelatihan keterampilan kepada anak jalanan yang tergerak agar anak jalanan tersebut merasa didukung dan dihargai sesuai dengan bakat dan minat anak jalanan.
Tanggung jawab utama dalam program pembentukan karakter adalah agar anak jalanan berdaya atau mempunyai daya, kekuatan atau kemampuan. Hal pertama yang harus dilakukan dalam pemberdayaan adalah menumbuhkan keinginan pada anak jalanan untuk berubah dan memperbaiki kehidupannya. Upaya pemberdayaan tersebut tidak akan berhasil jika tidak ada keinginan untuk mengubah anak jalanan.
Pada tahap ini efektivitas dan efisiensi program pembentukan karakter meningkat karena adanya kesadaran anak jalanan akan pentingnya program pembentukan karakter. Pada fase terakhir ini, anak jalanan secara sadar dan mau melakukan perubahan atau perbaikan melalui program pemberdayaan karakter dan selanjutnya memantapkan dirinya dengan kegiatan pemberdayaan kompetensi baru. Melihat tingkat pemberdayaan di atas, sangat sulit melakukan perubahan dalam pembentukan karakter anak jalanan.
Hal pertama yang perlu dilakukan untuk mewujudkan pembentukan karakter adalah keinginan anak jalanan itu sendiri untuk berubah menjadi lebih baik. Jika tidak ada keinginan untuk berubah maka pembentukan karakter tidak akan dapat berlangsung. Yayasan Emas Indonesia pertama kali didirikan pada tahun 1998 oleh 10 orang pemuda yang peduli terhadap anak jalanan dan masyarakat miskin.
Definisi Konsep .1 Partisipasi
Indikator Keberhasilan Partisipasi
Melihat gambaran temuan penelitian-penelitian sebelumnya, akhirnya peneliti tertarik untuk menyelidiki keberhasilan partisipasi Yayasan Emas Indonesia. Peneliti memilih enam indikator keberhasilan partisipasi untuk dijadikan pedoman dalam penelitian, karena dianggap sesuai dengan fokus penelitian yaitu hasil partisipasi.
Pemberdayaan
Pemberdayaan (Stanley Widjajanti adalah suatu proses untuk meningkatkan potensi atau kemampuan setiap individu yang sedikit atau tidak mempunyai pemberdayaan. Proses Pemberdayaan (Pranarka & Vidhyandika Sumardjo Slamet) adalah suatu sistem yang dilakukan oleh suatu organisasi yang menekankan pada proses dorongan dan motivasi individu mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk mengetahui potensi apa saja yang ada dalam diri seseorang Tahapan pemberdayaan (Wilson (dalam Mardikanto dan Soebianto) adalah tahapan pemberdayaan yang bertujuan untuk mencapai tujuan pemberdayaan yang dilakukan oleh organisasi pemerintah dan organisasi swasta.
Faktor Pendorong dan Penghambat
Fenomena Penelitian
Sumber daya manusia merupakan salah satu peran penting dalam mencapai tujuan program pembentukan karakter anak jalanan. Berbagai cara dilakukan Yayasan Emas Indonesia dalam pemenuhan sumber daya manusia, seperti membina hubungan baik dengan setiap relawan yang ada, memberikan kenyamanan dan mendengarkan masukan yang diberikan kepada Yayasan Emas Indonesia. Sumber dana yang dibutuhkan Yayasan Emas Indonesia untuk setiap kegiatan yang dilakukan cukup besar, seperti kegiatan pelatihan membuat kue, pelatihan bahasa asing, kegiatan belajar mengajar dan kebutuhan shelter yang didirikan oleh Yayasan Emas Indonesia.
Materi memegang peranan penting dalam memandu program pembentukan karakter yang dilaksanakan oleh Yayasan Emas Indonesia. Teknologi yang digunakan Yayasan Emas Indonesia adalah media sosial antara lain Instagram, YouTube dan website resmi. Media sosial yang dibuat oleh Yayasan Emas Indonesia bertujuan untuk menyebarluaskan kepada masyarakat tentang kegiatan dan kondisi aktual yang ada di Yayasan Emas Indonesia.
Kepercayaan yang diberikan pemerintah kepada Yayasan Emas Indonesia agar Yayasan Emas Indonesia dapat terlibat dalam membangun karakter anak jalanan, karena pemerintah telah melihat bukti nyata dari setiap pembinaannya. Tanggung Jawab dimana Yayasan Emas Indonesia diberikan tanggung jawab yang besar untuk menjalankan program-program yang terlaksana dengan baik dan mempunyai tanggung jawab terhadap seluruh staf yang ada, anak-anak jalanan dan seluruh penyandang dana yang terdaftar pada Yayasan Emas Indonesia. 4. Yayasan Emas Indonesia wajib menerima dan melaksanakan segala kritik atau saran dari siapapun yang mempunyai pengaruh terhadap program pembangunan karakter dan melakukan perubahan untuk mewujudkan visi dan misi Yayasan Emas Indonesia.
Concern yaitu Yayasan Emas Indonesia harus mempunyai kepedulian yang besar terhadap setiap kegiatan yang dilaksanakan dan mempunyai kepedulian terhadap sumber daya manusia, anak jalanan dan seluruh pendamping yang ada di lembaga tersebut. Ide-ide yang diusung oleh lembaga swadaya masyarakat merupakan harapan dan pendapat dari setiap sumber daya manusia/relawan, pihak-pihak terkait seperti orang tua dari anak asuh.
Kerangaka Pikir
Metodelogi Penelitian .1 Desain Penelitian
- Situs Penelitian
- Subjek Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Analisis dan Interpretasi Data
Provinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang, Kantor Kabupaten Semarang Selatan dan Yayasan Emas Indonesia sendiri. Pemilihan tiga lokasi penelitian ini dilakukan karena pelaku atau subjek yang terlibat dalam penelitian ini berada pada tiga lokasi atau wilayah tersebut di atas. Yayasan Emas Indonesia dipilih karena dalam hal ini Yayasan Emas Indonesia banyak memuat data-data terkait anak jalanan tersebut.
Sedangkan pemilihan Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah dan Kantor Kota dan Kabupaten Semarang karena banyak lokasi yang masuk di kedua tempat tersebut, memudahkan peneliti mendapatkan informan dan juga data terkait dengan emas Indonesia. Yayasan yang menjadi lokasi dalam penelitian ini. Informan dalam penelitian ini adalah individu atau kelompok yang perlu memahami situasi atau kondisi dari latar belakang penelitian, dengan kata lain adalah ahli di bidangnya masing-masing. Teknik pemilihan informan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah purposive yaitu pengambilan sampel secara purposive sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan.
Informan penelitian ini adalah para relawan yang terlibat langsung dan mengetahui secara mendalam tentang Pemberdayaan Yayasan Emas Indonesia di kota Semarang. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teks dan kata-kata tertulis yang diperoleh dari wawancara mendalam. Penelitian yang berjudul Partisipasi Yayasan Emas Indonesia dalam Pendidikan dan Pembentukan Karakter Anak Jalanan di Kota Semarang memperoleh data dari.
Dalam hal ini data primer diperoleh dengan cara mendatangi langsung Dinas Sosial Provinsi Jawa dan Kota Semarang, Pengurus Yayasan Emas Indonesia, Kantor Desa Randusari, Ketua RT, Masyarakat Desa Randusari serta melakukan wawancara dengan informan bawaan. Dalam penelitian ini, penulis memperoleh data sekunder dari buku, internet dan dokumen pendukung lainnya. Teknik pengumpulan data merupakan langkah terpenting dalam penelitian karena tujuan utama penelitian adalah memperoleh data.
Observasi langsung (Observasi) dalam penelitian kualitatif didasarkan pada beberapa alasan seperti yang dikemukakan oleh Guba dan Lincoln (dalam Moleong antara lain yaitu. Dokumentasi yang dilakukan peneliti adalah dokumentasi pada saat observasi di Yayasan Emas Indonesia dan observasi langsung penulis di Yayasan Emas Indonesia. Emas Kota Semarang Pemilihan hasil wawancara dan observasi, pada tahap ini hanya dilakukan pemeringkatan berdasarkan sub bab masing-masing.
Pemilihan hasil wawancara dan observasi, dalam tahap ini baru dilakukan pemilahan berdasarkan sub-babnya masing-masing
Menguraikan hasil wawancara dan observasi, hal ini dilakukan dengan cara mendiskusikan hasil wawancara dan observasi dalam lembaran yang mudah dibaca. Pada tahap ini hasil wawancara dan observasi tidak perlu dikelompokkan dan peneliti hanya perlu menguraikan hasil wawancara dan observasi.
Menemukan perbedaan dan permasalahan, tahap ini membuat tabel tertentu untuk mencari dan menempatkan permasalahan atau kontras yang terlihat dari hasil
Kualitas Data