• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sektor perbankan merupakan sektor yang berperan penting dalam pertumbuhan perekonomian di dunia, bank menjadi penggerak dan pendorong perekonomian suatu negara baik negara maju maupun negara berkembang, di Indonesia sektor perbankan berperan aktif dalam menyediakan instrumen- instrumen keuangan yang dibutuhkan. Bank merupakan lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dana tersebut ke masyarakat dengan memberikan jasa bank lainnya (Kasmir, 2017). Melalui kegiatan perkreditan dan berbagai jasa yang di berikan, bank melayani kebutuhan pinjaman, pembiayaan, serta memperlancar arus pembayaran dan digunakan pemerintah dalam melaksanakan berbagai kebijakan khususnya kebijakan moneter. Dengan peran perbankan maka bank harus menjaga kepercayaan masyarakat serta di perlukan penilaian terhadap perbankan untuk melihat resiko dan peluang yang akan terjadi dimasa yang akan datang.

Dalam sistem perbankan di Indonesia, risiko kredit merupakan salah satu risiko terbesar yang dapat menjadi penyebab utama bank mengalami kegagalan.

Hal ini merupakan dampak dari kegiatan usaha bank yang sangat terkonsentrasi pada penyaluran kredit, karena imbal hasil terbesar yang diperoleh bank juga berasal dari pembiayaan/kredit. Risiko kredit timbul apabila dabitur bank tidak

(2)

dapat mengembalikan dana yang dipinjam dan bunga yang harus dibayarnya (Riyadi, 2017). Oleh karena itu, Untuk menghindari kerugian-kerugian di masa yang akan datang, bank diwajibkan untuk menerapkan manajemen risiko dengan baik. Menurut Saunders dan Cornett (2008) mengatakan bahwa meningkatnya kompleksitas kegiatan usaha mengharuskan bank untuk meningkatkan penerapan manajemen risiko sehingga kegiatan bank tetap dapat terkendali pada batas atau limit yang dapat diterima. Begitu pula dengan kemampuan bank dalam mengendalikan risiko kredit, apabila semakin baik kualitas penerapan manajemen risiko kreditnya, maka bank tersebut dapat memelihara kualitas kreditnya dengan baik dan mampu melanjutkan kelangsungan usahanya untuk mencapai perkembangan dan pertumbuhan.

Kegiatan yang dilakukan suatu perusahaan bertujuan untuk menghasilkan laba. Tujuan dari laba yaitu menyampaikan bagaimana ukuran peralihan kekayaan pemegang saham selama setahun dan perkiraan profitabilitas bisnis sekarang untuk menutupi biaya operasi perusahaan serta para pemegang saham (stakeholder) dalam memperoleh imbal hasilnya (Subramanyam, 2017). Laba yang tersaji dalam laporan keuangan perusahaan merupakan hal yang dianggap penting bagi pemegang kepentingan. Pertumbuhan laba adalah mengukur perbandingan seberapa besar peningkatan atas penerimaan laba pada periode sekarang terhadap penerimaan laba periode sebelumnya (Ginting, 2019).

Pertumbuhan laba perbankan merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur keberhasilan bank dalam menjalankan bisnisnya dan menunjukan bahwa pihak-pihak manajemen telah berhasil dalam mengelola sumber daya yang dimiliki perusahaan secara efektif dan efisien.

(3)

Penyaluran kredit yang mulai merenggang membawa berkah bagi perbankan. Otoritas jasa keuangan (OJK) menyebut kinerja industri perbankan kuartal I 2017 membaik. Hal tersebut tercermin dari realisasi laba bersih perbankan yang tumbuh positif, tercatat laba bersih industri perbankan Maret 2017 tumbuh 13,4% dari periode yang sama tahun 2016 menjadi Rp 32,8 triliun.

Kenaikan itu lebih baik ketimbang periode Januari Maret 2016, yang kala itu turun 2,3% menjadi Rp 28,9 triliun dari periode yang sama tahun 2015. Meneliti lebih detail, pertumbuhan laba perbankan tersebut mendapat dukungan dari kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 6,7% menjadi Rp 87,5 triliun. Tidak hanya itu, kenaikan laba bersih industri perbankan pada kuartal I 2017 juga ditopang oleh penurunan kebutuhan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).

Data OJK memperlihatkan, realisasi CKPN perbankan pada kuartal I tumbuh 25,8% menjadi Rp152,9 triliun. Meski naik, namun pertumbuhan CKPN pada kuartal I tersebut lebih rendah ketimbang kenaikan CKPN pada kuartal I 2016 yang sebesar 37,2%.Hingga Maret 2017, kredit perbankan tumbuh 9,2% dari setahun lalu, dan lebih tinggi ketimbang kenaikan per Maret 2016 sebesar 6,4%.

Kata Muliaman, perbaikan kinerja perbankan tahun ini akan sangat mempengaruhi indikator makro ekonomi. Selain itu, persepsi risiko pada bank tahun ini juga diperkirakan membaik dengan ditunjukkan kenaikan CKPN yang mengalami penurunan.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II OJK Yohanes Santoso Wibowo mengatakan, jika melihat tren dan pertumbuhan kinerja industri perbankan sampai dengan kuartal ketiga yang membukukan laba bersih sebesar Rp 99,97 triliun, laba bersih perbankan tahun 2017 diperkirakan tumbuh 22-

(4)

26%."Lonjakan laba tahun ini juga disebabkan kredit bermasalah tahun 2016 dan sebelumnya yang sudah dihapus, ternyata bisa ditagih atau dibayar tahun ini," kata Santoso kepada Investor Daily.Selain itu, menurut Santoso, pertumbuhan laba yang tinggi tahun ini dipengaruhi oleh penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7DRRR) menjadi 4,25%. Penurunan tersebut tidak langsung diikuti oleh penurunan suku bunga kredit perbankan, sehingga menyebabkan spread bunga meningkat, yang memicu laba perbankan bisa meningkat tinggi. (https://id.beritasatu.com).

Pertumbuhan laba merupakan ukuran keberhasilan bank dalam memenuhi kepatuhan atas kesehatan bank. Bank yang sehat dapat melakukan kinerja yang baik dan menghasilkan laba yang optimal. Bagi investor, informasi laba dijadikan acuan untuk pengambilan keputusan investasi. Investor tentu mengharapkan laba yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya sehingga dapat memperoleh dividen yang lebih besar. Pertumbuhan laba dapat dipengaruhi oleh tingkat kesehatan bank yang dalam penelitian ini menggunakan faktor Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings dan Capital. Faktor risk (risiko) yang digunakan dalam penelitian ini adalah risiko kredit. Risiko kredit diproksikan dengan Non Performing Loan (NPL). Faktor Earnings diproksikan dengan Return on Assets (ROA). Faktor Capital diproksikan dengan Capital Adequacy Ratio (CAR).

Non Performing Loan (NPL) merupakan salah satu indikator penilaian tingkat kesehatan kualitas aset bank. Rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh pihak bank. Menurut hasil penelitian Anisah (2013) dan Tio (2013) menunjukkan bahwa Non Performing Loan (NPL) berpengaruh terhadap pertumbuhan laba, sedangkan

(5)

hasil penelitian Tommy (2014) menunjukkan bahwa Non Performing Loan (NPL) tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.

Good Corporate Governance (GCG) merupakan seperangkat sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added) bagi para pemangku kepentingan (Muh. Arief, 2009:2). Hasil penelitian Like (2012) menunjukkan bahwa GCG berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan (ROE dan NPM), sedangkan hasil penelitian Tommy (2014) menunjukkan bahwa GCG tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan (pertumbuhan laba).

Return On Asset (ROA) merupakan rasio keuangan perusahaan yang berhubungan dengan profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan atau laba (profitabilitas) pada tingkat pendapatan, asset dan modal saham tertentu (Hanafi dan Halim, 2003). Hasil penelitian Ang (2010) bahwa ROA yang tinggi akan menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan keuntungan berbanding asset yang relatif tinggi. Investor akan menyukai perusahaan dengan nilai ROA yang tinggi, karena perusahaan dengan nilai ROA yang tinggi mampu menghasilkan tingkat keuntungan lebih besar dibandingkan perusahaan dengan ROA rendah.

Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko (Kasmir, 2009). Nilai CAR yang tinggi mempunyai arti bahwa bank tersebut mampu untuk mempertahankan modal yang mencukupi untuk menunjang aktiva yang mengandung risiko. Hasil penelitian Andayani, dkk. (2015) dan Anisah (2013) menunjukkan bahwa CAR berpengaruh

(6)

signifikan terhadap pertumbuhan laba, sedangkan hasil penelitian Rizki (2013) menunjukkan bahwa CAR tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.

Kesehatan bank dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku (Triandaru dan Budisantoso, 2008). Penilaian tingkat kesehatan bank sangat penting bertujuan untuk menentukan kondisi bank tersebut apakah dalam kondisi yang sangat sehat, sehat, cukup sehat, kurang sehat, atau tidak sehat. Sehingga dapat diketahui apakah bank mampu menjalankan kegiatan operasionalnya secara normal sehingga terjaga kondisi internalnya.

Dalam menentukan kesehatan bank dapat ditentukan dengan menganalisa dan menghitung menggunakan laporan keuangan yang telah di terbitkan secara rutin maupun berkala mengenai aktivitas perbankan dalam periode tertentu yang menunjukan kondisi bank secara menyeluruh dan dapat dilihat bagaimana kondisi bank sesungguhnya. Laporan keuangan bertujuan untuk memberi informasi terkait mengenai keadaan keuangan suatu perusahaan yang digunakan oleh pihak pemakai laporan keuangan dalam pengambilan suatu keputusan dan dapat di temukan di Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id).

Tingkat kesehatan bank merupakan faktor penting dalam upaya meningkatkan pertumbuhan laba bank. Terdapat dua dimensi utama dalam mengukur kesehatan suatu bank, yaitu profitabilitas dan risiko yang dapat memberikan dasar bagi kelangsungan hidup perbankan dan mencapai pertumbuhan di masa yang akan datang (Rose dan Hudgins, 2008). Apabila industri perbankan dapat mengoptimalkan pertumbuhan laba dengan menjaga

(7)

tingkat kesehatannya, maka akan berkontribusi terhadap stabilitas sistem keuangan di Indonesia. Pengukuran tingkat kesehatan bank dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 pasal 6 (enam), yaitu pengukuran dengan pendekatan berdasarkan risiko atau Risk Based Bank Rating (RBBR) baik secara individual ataupun konsolidasi. Peraturan tersebut dikeluarkan untuk menggantikan pendekatan yang digunakan sebelumnya, yaitu pendekatan yang mengukur komponen Capital, Asset, Management, Earning, Liquidity and Sensitivity to market risk (CAMELS). Penilaian tingkat kesehatan bank berdasarkan risiko lebih memfokuskan penilaian pada risiko yang berpotensi dapat merugikan usaha bank dan bertujuan untuk mengukur tingkat kesehatan bank berdasarkan empat komponen, yaitu Risk Profile, Good Corporate Governance, Earning, Capital atau yang disingkat RGEC. Pengukuran pada komponen RGEC merupakan pendekatan yang komprehensif dan terstruktur terhadap hasil integrasi profil risiko dan kinerja yang meliputi penerapan tata kelola yang baik, rentabilitas dan permodalan perbankan. Oleh karena itu, kesehatan suatu bank tidak hanya diukur berdasarkan aspek profitabilitas, tapi juga mencakup kemampuan daya tahan bank dalam menyerap risiko.

Penelitian mengenai pengaruh tingkat kesehatan bank terhadap pertumbuhan laba sudah banyak dilakukan, seperti penelitian yang dilakukan oleh Febrianty dan Divianto (2017) pengaruh rasio keuangan terhadap pertumbuhan laba perusahaan perbankan. Dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio rasio BOPO, DAR, ROE, LAR, RR, NPL, CAR, DPR, CR, Cash Ratio, TIE, PER

(8)

secara simultan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba. Sedangkan ROE secara parsial berpengaruh sihnifikan terhadap pertumbuhan laba.

Kemudian Suryani dan Habibie (2017) mengenai analisis pengaruh rasio- rasio Risk Based Bank Rating terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI. Hasil penelitiannya menunjukkan secara parsial variabel NPL/NPF, GCG, dan CAR tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Sedangkan secara simultan NPL/NPF, GCG, ROA dan CAR berpengaruh terhadap pertumbuhan laba pada perbankan yang terdaftar di BEI.

Hadiwidjaya (2016) dengan judul The Influence of Bank’s Performance Ratio to Profit Growth on Banking Companies in Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel CAR, QA, ROA dan LDR secara simultan berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Sedangkan secara parsial hanya variabel LDR yang berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Lubis (2013) pengaruh tingkat kesehatan bank terhadap pertumbuhan laba pada BPR di Indonesia menggunakan variabel CAR, NPL, BOPO dan LDR. Adapun hasil penelitianya menunjukkan bahwa CAR, BOPO dan LDR berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan laba. Sedangkan NPL berpengaruh positif terhadap pertumbuhan laba. Setiawan dan Hanryono (2013) analisis pengaruh kinerja keuangan bank, tingkat inflasi dan BI rate terhadap pertumbuhan laba. Dengan hasil penelitian secara simultan variabel CAR, NPL, BOPO, LDR, tingkat inflasi dan BI rate berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Sedangkan secara parsial hanya variabel BOPO yang berpengaruh terhadap pertumbuhan laba dan variabel lainnya tidak memiliki pengaruh.

(9)

Penelitian yang dilakukan oleh Suryani dan Habibie yang menunjukkan bahwa GCG memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba.

Sedangkan penelitian oleh Yantiningsih (2016) yang menunjukkan bahwa GCG berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Suryani dan Habibie (2017) dan Fathoni, dkk (2013) menunjukkan bahwa ROA memilki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba. Hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hadiwidjaya (2016) yang menyatakan bahwa ROA memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba. Penelitian yang dilakukan oleh Hadiwidjaya (2016), Febrianty dan Divianto (2017), Suryani dan Habibie (2017), Lubis (2013) dan Setiawan dan Haryono (2016) yang menyatakan bahwa CAR memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba. Sedangkan menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Aini (2013) menunjukkan bahwa CAR memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba.

Berdasarkan hasil penelitian-penelitian di atas terdapat beberapa ketidakkonsistenan diantaranya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Lubis (2013) dan Fathoni, dkk (2013) menyatakan bahwa rasio NPL memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba. Hasil tersebut bertolak belakang dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Aini (2013), Febrianty dan Divianto yang menunjukkan hawa NPL memiliki pengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya, dalam penelitian ini menggunakan tingkat kinerja bank menggunakan RBBR (Risk Based Bank Rating), yang menganalisis tingkat kesehatan bank dengan menerapkan Risk Profile, Good

(10)

Corporate Governance, Earning dan Capital. Adapun objek penelitian yaitu Bank Umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2016-2020, namun hanya 28 Bank Umum yang sesuai dengan klasifikasi kebutuhan penelitian. Klasifikasi tersebut adalah Bank Umum yang menerbitkan laporan keuangan tahunan dan laporan GCG dalam periode tahun 2016– 2020.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis menduga adanya hubungan tingkat kesehatan bank dengan perubahan laba perusahaan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “PENGARUH TINGKAT KESEHATAN BANK MENGGUNAKAN METODE RGEC TERHADAP PERTUMBUHAN LABA STUDI KASUS PADA BANK UMUM YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2016-2020”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan data diatas, maka permasalahan yang di hadapi dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah Risk Profile yang dilihat dari Non Performing Loan (NPL) berpengaruh terhadap pertumbuhan laba?

2. Apakah Good Corporate Governance (GCG) berpengaruh terhadap pertumbuhan laba?

3. Apakah Earning yang dilihat dari Return On Asset (ROA) berpengaruh terhadap pertumbuhan laba?

4. Apakah Capital yang dilihat dari Capital Adequancy Ratio (CAR) berpengaruh terhadap pertumbuhan laba?

(11)

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ilmiah secara umum bertujuan untuk mengembangkan, menemukan dan mengkaji juga menguji kebenaran suatu objek. Menemukan atau memperluas objek yang ada, sedangkan menguji kebenaran dilakukan jika timbul keraguan pada penelitian yang sudah ada sebelumnya. Proposal penelitian ini di tulis dengan maksud untuk memberikan pengetahuan yang lebih luas mengenai kesehatan bank kepada masyarakat luas maupun mahasiswa manajemen keuangan, berdasarkan rumusan masalah yang di jadikan acuan dalam penelitian ini. Maka penelitian ini ditulis dengan tujuan yang hendak dicapai :

1. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh Risk Profile yang dilihat dari Rasio Non Performing Loan (NPL) terhadap pertumbuhan laba pada bank umum.

2. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh Good Corporate Governance (GCG) yang dilihat dari peringkat subfaktor terhadap pertumbuhan laba pada bank umum.

3. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh Earning yang dilihat dari Rasio Return On Assets (ROA)terhadap pertumbuhan laba pada bank umum.

4. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh Capital yang dilihat dari Rasio Capital Adequancy Ratio (CAR) terhadap pertumbuhan laba pada bank umum..

1.4 Manfaat Penelitian

(12)

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak, diantaranya :

1. Bagi Investor

Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi serta menambah pengetahuan dan bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya mengenai Kesehatan Bank Umum dengan Metode RGEC terhadap pertumbuhan laba.

2. Bagi Peneliti

Penelitian ini dilakukan sebagai syarat untuk menyelesaikan Program Studi S1 Manajemen, serta dapat menambah ilmu dan memperluas wawasan mengenai Kesehatan Bank Umum dengan Metode RGEC terhadap pertumbuhan laba.

3. Bagi Perbankan

Diharapkan penelitian ini bermanfaat sebagai acuan dalam menilai kesehatan bank di dalam dunia perbankan dan menambah informasi serta masukan pentingnya kesehatan bank terhadap pertumbuhan laba.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini mengacu pada variabel yaitu :

X : Kesehatan bank merupakan kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku.

(13)

Y : Pertumbuhan laba adalah pertumbuhan relatif yang dapat dihitung dari perbedaan laba tahun berjalan dengan laba tahun sebelumnya di bagi dengan pendapatan tahun sebelumnya.

1.6 Sistematika Penulisan

Penelitian ini di bagi menjadi 5 bab dengan bagian sistematika penelitian sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Pada bab ini berisi mengenai fenomena yang diangkat sebagai landasan permasalahan yang ada sehingga diperlukannya penilaian kesehatan bank dengan Metode RGEC yang di ukur dengan Non Performing Loan (NPL), Good Corporate Governance (GCG) Return On Assets (ROA) dan Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap pertumbuhan laba pada Bank Umum yang terdaftar di BEI tahun 2016-2020. Sehingga dapat diuraikan menjadi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi mengenai landasan teori dan empiris, yang digunakan sebagai perbandingan untuk membahas masalah, kerangka pemikiran serta hipotesis penelitian.

BAB III METODELOGI PENELITIAN

(14)

Bab ini menguraikan mengenai jenis variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian, populasi dan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data dan metode analisis yang digunakan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini menjelaskan mengenai gambaran dari Bank yang di teliti mengenai berapa banyak sampel yang digunakan, serta menjelaskan mengenai hasil analisis data serta pembahasan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisikan mengenai kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dari penelitian, keterbatasan, dan saran-saran yang berhubungan dengan penelitian yang dapat dijadikan sebagai referensi atau acuan dalam penelitian-penelitian selanjutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik unutk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Beban Kerja Terhadap Kinerja Melalui Burnout Sebagai