1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kelapa sawit termasuk tanaman yang memiliki daya harga dan permintaan pasar yang terbilang tinggi, hal ini dikarenakan pengolahan kelapa sawit yang menghasilkan minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) memiliki nilai jual yang tinggi dan turut menyumbangkan devisa bagi negara karna hasil olahan kelapa sawit ini telah diekspor ke seluruh penjuru dunia.
Selain diekspor hasil dari pengolahan produk sawit pun digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, misal yang sangat familiar adalah minyak goreng dari kelapa sawit serta mentega, namun sesungguhnya konsumsi minyak sawit dan turunannya tidak hanya sebatas itu, minyak sawit ada dalam produk detergen, produk kosmetik, sabun, lipstick, sampo, kue kering, krim, margarin, susu bayi, bahan roti, cokelat dan lainnya. Selain menghasilkan CPO atau minyak sawit mentah yang dapat diproses kembali sehingga dihasilkan berbagai macam produk, hasil samping dari proses tesebut juga menghasilkan limbah baik padat, cair maupun gas. Limbah padat dapat berbentuk tandan tanpa isi (tankos), cangkang/batok kelapa sawit serta ijuk sawit, sedangkan limbah cair yang dihasilkan berupa lumpur yang merupakan suspensi limbah cair dan mikroorganisme yang ada di dalamnya dan terdapat pada bak instalasi pengolahan air limbah. Limbah yang dihasilkan dari pengolahan kelapa sawit ini tentunya memiliki dampak negatif bagi lingkungan sekitar jika tidak sesegera mungkin untuk dikelola secara berkelanjutan. zat pencemar pada limbah cair sawit masih terbilang cukup tinggi, ditaksir dapat diperoleh jumlah total suspen solid yang paling kecil mencapai 5473 mg/L hal ini dapat mengakibatkan pencemaran dilingkungan sekitar limbah (Syamriati, 2021). Sementara tandan kosong kelapa sawit yang merupakan limbah padat terdapat kandungan minyak yang berbahaya karena padatan tersebut dapat mudah terbakar. Sedangkan saat musim hujan tumpukan TKKS dapat sangat berbau menyengat, yang dapat menimbulkan pencemaran udara bagi lingungan masyarakat (Nikmatin, 2020).
Dari hasil survei yang dilakukan di pabrik sawit yang ada di kecamatan Kalirejo yaitu PT Kalirejo Lestari. dari hasil wawancara dengan bapak Sumpeno sebagai manager PT Kalirejo Lestari bahwa rata-rata perhari dapat mengolah sekitar 800 ton Tandan Buah Segar (TBS), dengan rata-rata pertahun mampu
2
mengolah TBS sebanyak 288.000 ton. Dari pengolahan tersebut dihasilkan minyak sawit mentah CPO serta dihasilkan juga limbah dengan volume limbah padat sebanyak kurang lebih 150 ton tandan kosong dan limbah cair sebanyak kurang lebih 4.440 liter perhari, dari hasil pengamatan terdapat penumpukan limbah cair sawit pada tempat pengolahan air limbah, sementara padatan limbah kelapa sawit yang merupakan kelapa sawit yang kosong biasanya dibakar dan abunya diambil untuk pupuk perkebunan sawit serta sebagian ada yang dimanfaatkan oleh petani jamur sebagai media tumbuh jamur sawit. Pembakaran tandan kosong kelapa sawit dipandang kurang efisien karna dapat mencemari udara. Disimpulkan bahwa sesungguhnya limbah kelapa sawit yang dihasilkan oleh PT Kalirejo Lestari sudah dimanfaatkan namun belum maksimal. Untuk mengatasi keberadaan limbah sawit tersebut sehingga tidak menggangu kesehatan lingkungan maka limbah sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik sehingga dapat mengurangi penumpukan limbah padat serta menambah nilai guna dari limbah cair (sludge) yang dihasilkan dari proses produksi minyak sawit mentah tersebut. Dari hasil studi literatur didapat bahwa limbah sawit memiliki kandungan zat organik yang bermanfaat. Diantaranya selulosa, hemiselulosa, lignin, N, P, K, Ca, Mg yang baik untuk pertumbuhan tanaman.
Tumbuhan berperan penting kehidupan karena tumbuhan memiliki banyak manfaat, sebagai contoh adalah tumbuhan gaharu yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Manfaat gaharu antara lain dapat digunakan sebagai bahan pembuat parfum atau wewangian, obat atau terapi penyakit, aromaterapi dan antidepresan, bahan komestik, seperti sampo dan bedak dan lain sebagainya. Karna manfaatnya itulah kayu gaharu memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, harganyapun mahal sehingga banyak orang yang mencarinya dan keberadaan kayu gaharu di hutan Indonesiapun menjadi semakin langka. Sisi negatif atau kekurangan dari pohon tersebut adalah tidak dapat berbuah sepanjang tahun, bijinya tidak tahan lama jika disimpan lama, dan tunas pohon baru yang sulit ditemukan secara liar (Situmorang, 2000). Hal itu juga yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan gaharu semakin langka. Solusinya dengan melakukan pembibitan dalam periode yang dilakukan secara terus menerus sehinga tidak terjadi kepunahan. Penggunaan teknik kultur jaringan dapat jadi solusi cepat dalam mengembangkan tumbuhan dalam jumlah yang banyak, namun teknik ini memiliki kelemahan karena tidak semua orang dapat
3
melakukannya dan juga diperlukan biaya yang besar. Maka teknik perbanyakan tanaman secara konvensional tetap menjadi andalan baik itu teknik perbayakan vegetatif ataupun generatif. Teknik perbanyakan generatif dapat dilakukan melalui biji tanaman. teknik ini dipilaih karna dengan teknik ini tidak melukai bagian tanaman yang dapat memungkinkan masuknya bibit penyakit dari bagian yang terluka. Selain itu kelebihan dari teknik ini adalah memiliki system perakaran yang kuat, kokoh serta lebih panjang dibanding teknik stek ataupun cangkok sehingga tanaman tidak mudah tumbang.
Namun tidaklah mudah untuk menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman gaharu yang maksimal, perlu adanya nutrisi cukup yang dapat diperoleh dari pupuk organik karena pupuk organik adalah pupuk ramah tanah dan memiliki manfaat sangat membantu mencegah terjadinya erosi lapisan atas tanah yang merupakan lapisan mengandung banyak hara, mampu berperan memobilisasi atau menjembatani hara yang sudah ada di tanah sehingga mampu membentuk partikel ion yang mudah diserap oleh akar tanaman, juga berperan penting dalam merawat/menjaga tingkat kesuburan tanah yang sudah dalam keadaaan berlebihan pemupukan dengan pupuk anorganik/kimia dalam tanah.
Dengan status Gaharu sebagai tumbuhan langka maka perlu suatu upaya untuk menjaga kelestariannya, antra lain melalui edukasi mengenai pelestarian gaharu serta melalui upaya perbanyakan tumbuhan secara vegetatif sehingga kelestariannya tetap terjaga.
Lingkungan dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium alam dimana peserta didik dapat belajar banyak dari lingkungan, melakukan obervasi, melakukan percobaan, dan alam sebagai sumber belajar yang nyata bagi peserta didik akan menghasilkan pembelajaran yang lebih bermakna sehingga peserta didik dapat mengkonstruk pengetahuan yang mereka dapat dengan baik, ditunjang dengan hadirnya teknologi membawa dampak yang positif bagi dunia pendidikan khususnya bagi peserta didik, hadirnya internet membuat peserta didik lebih mudah mencari semua informasi yang diperlukan selama proses pembelajaran. Society 5.0 merupakan era fusi ruang fisik dan ruang maya dengan prioritas yakni masyarakat dapat melakukan penyesuaian diri/adaptasi dengan kemampuan berfikir tingkat tinggi (HOTS) antara lain berfikir dengan kompleks, berjenjang serta sistematis. Dalam dunia pendidikan era 5.0 lebih menekankan pada keteladanan, pendidikan karakter serta moral peserta didik dengan ditopang oleh teknologi. Kolaborasi yang apik antara manusia sebagai
4
human centered dan teknologi sebagai pondasinya. Dengan kemajuan teknologi maka ilmu yang dimiliki dapat digantikan oleh teknologi namun penerapan skili peserta didik baik dalam bentuk soft skill ataupun hard skill tidak dapat digantikan oleh teknologi. Karna itu perlu adanya kesiapan dalam pembelajaran baik itu kesiapan guru, siswa maupun media atau sumber belajar. Kolaborasi antara guru, peserta didik serta sumber/ media pembelajaran berbasis teknologi inilah menjadi tantangan dalam dunia pendidikan. Untuk menjawab tantangan dalam dunia pendidikan tersebut maka perlu adanya upaya inovasi pembelajaran berbasis ICT dan pemanfaatan limbah sawit sebagai pupuk organik untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan gaharu dengan dosis tertentu dapat dijadikan sebagai salah satu terobosan keterbaruan dalam proses pembelajaran yang menjadikan lingkungan sebagai objek nyata serta dunia digital dalam hal ini adalah IT untuk menyusun modul praktikum elektronik (E Modul praktikum) dan dapat dimanfaatkan sebagai media sekaligus sumber belajar bagi peserta didik sehingga peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan metakognitifnya dari pengalaman-pengalaman belajar yang pernah mereka dapat.
Pada program sekolah penggerak dengan kurikulum merdeka menggunakan modul ajar yang harus disusun oleh guru. Modul ajar pada kurikulum merdeka ini merupakan RPP plus yang digunakan oleh guru dan siswa sebagai panduan dalam proses pembelajaran. Program sekolah penggerak baru berjalan pada tahun pelajaran 2021/2022 sehingga perlu adanya persiapan sumber belajar yang relevan dengan program sekolah penggerak. Modul ajar dengan capaian pembelajaran pada fase F (kelas XI dan XII) belum dikembangkan karna pembelajaran baru berlangsung pada fase E. Dengan demikian Modul ajar yang akan penulis kembangkan adalah modul praktikum pada fase F. Seiring dengan kemajuan teknologi maka modul ajar perlu dikembangkan dalam bentuk modul elektronik sehingga lebih menarik, dapat diakses dimanapun dan kapanpun. Dengan demikian e modul praktikum materi pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan akan disusun menggunakan google sites yang memiliki keunggulan antara lain lebih mudah untuk digunakan, dapat berkolaborasi dengan tools google lainnya dan mudah diakses. Maka kelebihan dari modul ajar yang akan penulis buat adalah selain berbasis elektronik juga meggunakan panduan kurikulum terbaru yaitu kurikulum prototipe pada fase F serta menekankan pada pembelajaran yang berpusat pada siswa
5
dengan metode praktikum dengan memanfaatkan kompos limbah sawit pada materi pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan gaharu yang memiliki kebermanfaatan serta termasuk tumbuhan langka yang harus dilestarikan sehingga tidak mengalami kepunahan. Karena itu penulis akan melakukan suatu penelitian mengenai Pengaruh Variasi Pupuk Cair dan Kompos Limbah Sawit terhadap Pertumbuhan Tanaman Gaharu (Aquilaria malaccensis) untuk Penyusunan E Modul Praktikum Materi Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan analisis uraian dalam latar belakang di atas, maka dapat dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah ada pengaruh variasi Pupuk Cair (PCLS) dan Pupuk Kompos (PKLS) hasil limbah sawit terhadap pertumbuhan tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis)?
2. Manakah variasi Pupuk Cair (PCLS) dan Pupuk Kompos (PKLS) hasil limbah sawit yang terbaik untuk pertumbuhan tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis)?
3. Bagaimanakah produk hasil penelitian ini dapat dijadikan untuk penyusunan e modul praktikum materi Pertumbuhan dan Perkembangan pada Tumbuhan?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh variasi Pupuk Cair (PCLS) dan Pupuk Kompos (PKLS) hasil limbah sawit terhadap pertumbuhan tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis).
2. Mengetahui variasi Pupuk Cair (PCLS) dan Pupuk Kompos (PKLS) hasil limbah sawit yang terbaik untuk pertumbuhan tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis).
3. Menyusun e modul praktikum materi pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan dari produk hasil penelitian yang telah dilakukan.
D. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Peneliti: menambah pengetahuan tentang pemanfaatan pupuk kompos dan pupuk cair limbah sawit untuk pertumbuhan tanaman.
6
2. Bagi industri sawit: memberikan solusi pengelolaan limbah sawit sehingga lebih bernilai ekonomis dan ramah lingkungan.
3. Bagi masyarakat: memberikan informasi mengenai pengolahan sampah organik dan pemanfaatan sampah organik
4. Bagi dunia Pendidikan
a. Memberikan manfaat bagi para pendidik untuk lebih berinovasi dengan menggunakan IT untuk menyusun modul praktikum elektronik (e modul praktikum) sebagai sumber sekaligus media belajar peserta didik.
b. Dengan hasil penelitian ini diharapkan siswa dapat memahami pengaruh nutrisi sebagai faktor eksternal bagi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhaan.
E. Asumsi Penelitian
Asumsi penelitian merupakan anggapan anggapan dasar yang dijadikan pijakan teori berfikir dan bertindak dalam penelitian ini. Adapun asumsi dari penelitian ini adalah:
1. Limbah padat kelapa sawit yang berupa tandan kososng kelapa sawit mengandung serat tinggi berupa selulosa, hemi selulosa, lignin, minyak, dan abu serta unsur organik seperti N,P,K,C, Mg yang merupakan unsur makro serta mikro yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
2. Limbah cair kelapa sawit terdiri dari padatan terlarut dan tersuspensi berupa koloid dan residu minyak dengan kandungan COD dan BOD tinggi, bersifat asam, terdiri dari 95% air, 4-5% bahan-bahan terlarut dan tersuspensi (selulosa, protein, lemak) dan residu minyak yang sebagian besar berupa emulsi serta amoniak. Selain itu juga mengandung unsur hara seperti C, N, P dan K, Cu, Fe dan Zn yang juga diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
3. Pupuk Cair (PCLS) dan Pupuk Kompos (PKLS) hasil limbah sawit dengan variasi isolat bakteri indigen LCN dapat mempengaruhi pertumbuhan awal tanaman gaharu. Variasi isolat bakteri memiliki kemampuan mendegradasi zat zat organik yang terkandung pada limbah cair dan padat kelapa sawit pada proses pengomposan sehingga diduga berpengaruh terhadap komposisi dan kandungan pupuk cair dan pupuk kompos limbah sawit.
F. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tanaman gaharu yang akan digunakan adalah spesies Aquilaria malacensis.
2. Bibit tanaman gaharu diperoleh dari biji.
7
3. Variasi Pupuk Cair (PCLS) dan Pupuk Kompos (PKLS) hasil limbah sawit adalah pada formula bioremediator bakteri indigen LCN yang digunakan dalam pembuatan PCLS dan PKLS. Formula tersebut meliputi formula P1 terdiri dari isolat 2, 3 dan 5, formula P2 terdiri dari isolat 4, 5, 6, 7, 12 dan 14, formula P3 terdiri dari isolat 1, 2, 3, 8, 10, 11, 12, 14 dan 15, formula P4 terdiri dari isolat 1, 2, 3, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15, dan formula P5 terdiri dari isolat 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15.
4. Jenis penelitian ini adalah eksperimen
5. Variabel bebas (X1) dalam penelitian ini adalah variasi PCLS dan PKLS serta kombinasi/campuran PCLS - PKLS dan (X2) variasi konsorsia bakteri indigen LCN
6. Variabel terikat (Y) pada penelitian ini adalah pertumbuhan tanaman gaharu (Aquilaria malaccensis)
7. Pertumbuhan tanaman gaharu yang akan diamati adalah pada tahap awal pertumbuhan yaitu pada usia 2 bulan dan akan diamati selama 5 minggu 8. Hasil penelitian ini berupa produk e modul praktium pertumbuhan dan
perkembangan pada tumbuhan.