1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran adalah suatu usaha untuk membuat siswa belajar, sehingga situasi tersebut merupakan peristiwa belajar (event of learning) yaitu usaha untuk terjadinya perubahan tingkah laku dari siswa. Pembelajaran sendiri merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada satu lingkungan belajar. Konteks interaksi dalam proses pembelajaran adalah interaksi sosial. Interaksi sosial yang terjadi dalam pembelajaran merupakan salah satu aksi dan reaksi antara guru dan siswa. Dalam proses interaksi sosial yang dilakukan antara guru dan siswa pada saat pembelajaran berlangsung yaitu aktivitas yang terjadi seperti kontak sosial dan komunikasi sosial antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran (Chandra, 2014:71).
Belajar dan pembelajaran pada prinsip nya bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, meskipun terjadi jarak antara pengajar dan siswa, Seperti halnya yang terjadi di beberapa Negara pembelajaran langsung (tatap muka) terhalang akibat Wabah Coronavirus 2019 (Covid-19). Covid-19 pertama kali ditemukan di China kota wuhan, virus Covid-19 ini meyerang kepada manusia melalui gangguan pada sistem pernapasan dan bisa mengakibatkan kematian (Samudera, 2020:156). Penelitian dari Siahaan (2020:2) menyatakan pandemi ini menyebabkan di terapkannya berbagai kebijakan untuk menghindari penyebaran
virus Covid-19 dengan di lakukannya pembatasan tatap muka dan menghindari berbagai kerumunan.
Di Indonesia, wabah ini dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah sejak pertama kali terkonfirmasi kasus pertama pada tanggal 2 Maret 2020.
Peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia telah banyak merubah tatanan kehidupan masyarakat dan berdampak pada berbagai sektor, khususnya di sektor pendidikan (Herliandry dkk, 2020:68). Pada tanggal 24 maret 2020 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid, dalam Surat Edaran tersebut dijelaskan bahwa proses belajar dilaksanakan di rumah melalui pembelajaran daring jarak jauh atau dari rumah. Hal ini membuat proses pembelajaran terhambat.
Sehingga Menteri pendidikan Indonesia membuat rancangan untuk mencapai mutu pendidikan meskipun dalam keadaan pandemi Covid-19 yaitu dengan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT).
Mustafa dkk (2021:29) menyatakan bahwa: “Pembelajaran tatap muka terbatas pada masa pandemi Covid-19 dapat dilaksanakan secara efektif dengan memperhatikan prinsip pembelajaran yang diadaptasikan dengan protokol kesehatan dan keselamatan sehingga dapat memberikan gambaran tentang perencanaan dan syarat minimal yang perlu dipersiapkan satuan pendidikan sebelum melaksanakan pembelajaran tatap muka. Mengantisipasi hilangnya kesempatan/minat belajar (learning loss) bagi peserta didik pada masa pandemi Covid-19 maka diperlukan kebijakan pembelajaran tatap muka dengan
mekanisme dan strategi yang beragam sesuai dengan kondisi satuan pendidikan dan kondisi wilayah masing-masing.”. Menurut Hanni (2022:49) Pembelajaran tatap muka terbatas diartikan sebagai aktivitas belajar mengajar yang dilaksanakan antara guru dan siswa dengan tatap muka langsung (face-to-face) di ruang kelas maupun di lingkungan sekolah dengan keterbatasan waktu.
Pembelajaran tatap muka ini dilaksanakan setelah menurunnya angka persebaran Covid-19 dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Pemerintah menggerakan kegiatan pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas sebagai solusi yang pas untuk memulihkan sebuah kompetensi yang telah “hilang”
selama masa pembelajaran yang dilaksankan secara daring (Sapitri dan Syofyan, 2022:514 )
Berpedoman kepada Surat Edaran Gubernur Kepulauan Riau Nomor:
590/SET-STC/XI/2021 Tanggal 21 September 2021 tentang pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 beserta mengoptimalkan posko penanganan Corona Virus Diseases 2019 di tingkat desa dan kelurahan untuk pengendalian penyebaran Covid-19 di Provinsi Kepulauan Riau, serta Surat Edaran Bupati Nomor : 1201/420/IX/2021, tanggal 30 September 2021 tentang penyelenggaraan pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) di masa pandemi Covid-19 tahun pelajaran 2021/2022 pada satuan Pendidikan di Kabupaten Bintan, pemerintah mengeluarkan kebijakan kegiatan belajar mengajar (KBM) pada satuan Pendidikan tingkat PAUD, SD, SMP, dan SMA menggunakan metode PTMT. Dalam pelaksanaan PTMT ini juga perlu menerapkan prinsip kehati-hatian karena berkaitan dengan kesehatan dan
keselamatan warga di sekolah, sehingga penggunaan protokol kesehatan wajib diterapkan secara ketat sesuai dengan aturan pelaksanaan tatap muka terbatas.
Pembelajaran tatap muka terbatas merupakan pembatasan jumlah peserta didik dalam satu kelas, sehingga perlu mengatur jumlah dengan sistem rotasi dan kapasitas 50% dari jumlah siswa pada normalnya, persetujuan orang tua siswa, penerapan protokol kesehatan yang ketat, tenaga kependidikan telah melakukan vaksinasi, hingga sarana dan prasaran pendukung pelaksanaan protokol kesehatan tersedia dan memadai (Onde dkk, 2021: 4402).
PTMT tentu saja tidak sama dengan pembelajaran tatap muka seperti biasanya dikarenakan waktu pertemuan antara guru dan siswa sangat terbatas.
Berdasarkan hasil wawancara dengan 6 SMP sederajat yang ada di daerah kecamatan Bintan Timur, terhitung pada tanggal 11 Oktober 2021 mulai menerapkan PTMT. Pelaksanaaan PTMT dilaksanakan selama 6 hari. Jadwal dan system shift ditentukan dan diatur oleh satuan Pendidikan dengan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan warga satuan Pendidikan. Kegiatan pembelajaran dimulai dari pukul 08.00 WIB s.d 11.00 WIB. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan hanya satu shift per hari. Durasi waktu pembelajaran pada jenjang SMP selama 3 jam (135) menit. Selama pelaksanaan proses pembelajaran tidak ada kegiatan istirahat/keluar main. Guru menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH)/ Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan kondisi new normal. Kegiatan pembelajaran diarahkan pada penyampaian materi dan pemberian tugas. Guru melakukan evaluasi dan penilaian kepada siswa sesuai dengan kompetensi yang akan
dicapai dari pembelajaran yang telah dilaksanakan. PTMT diterapkan pada semua mata pelajaran yang terdapat pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) tidak terkecuali mata pelajaran IPA.
Hakikatnya IPA meliputi suatu produk, proses, dan sikap ilmiah. Sebagai produk, IPA merupakan sekumpulan pengetahuan dan sekumpulan konsep dan bagan konsep. Sebagai suatu proses, IPA smerupakan proses untuk menggali dan memahami pengetahuan tentang alam karena IPA adalah tidak hanya berupa kumpulan fakta-fakta dan konsep-konsep tetapi membutuhkan proses dalam menemukan fakta dan teori yang akan digeneralisasi oleh ilmuwan (Seyekti, dkk (2019:131). Sebagai suatu sikap ilmiah, Di dalam pembelajaran IPA, peserta didik didorong untuk menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama di dalam pikirannya, dan merevisinya apabila aturan-aturan tersebut tidak sesuai lagi.
Konsep dasar tentang pembelajaran adalah pengetahuan yang tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik. Peserta didik harus didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan di dalam pikirannya.
Penerapan PTMT pada mata pelajaran IPA menjadi suatu hal yang baru bagi guru dan siswa. Mengingat pentingnya peran seorang guru atau pendidik dalam pembelajaran, baik pembelajaran seperti pada umumnya maupun pembelajaran tatap muka terbatas. Sebagai seorang pendidik, guru diharuskan siap siaga dalam menghadapi tantangan yang ada di dalam dunia pendidikan.
Jika melihat kepada proses pembelajaran sendiri merupakan aktivitas yang paling utama. Sebab, keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran bergantung
pada bagaimana proses pembelajaran berlangsung secara efektif (Fitriansyah, 2020:90). Untuk itu, tentu saja pembelajaran harus dirancang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Guru dituntut untuk dapat merancang sebuah pembelajaran yang lebih ringkas dalam waktu yang telah ditentukan untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Untuk mengoptimalkan pembelajaran tatap muka terbatas, guru harus dapat dengan cermat dalam menerapkan metode pembelajaran yang sesuai agar PTMT dapat terlaksana secara optimal dan mencapai tujuan pembelajaran, karena penggunaan metode pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan hasil belajar (Annisa dan Sholeha, 2021: 220). Di kalangan siswa sendiri, adanya pelaksanaan PTMT ini menjadi masalah baru yang dihadapi sebab hal ini dinilai mendadak dan butuh penyesuaian sebelum dilaksanakan.
Berdasarkan keterkaitan permasalahan yang dipaparkan di atas, menurut penulis perlu dilakukan penggalian informasi untuk melakukan analisis persepsi guru dan siswa terhadap PTMT pada pembelajaran IPA. Dengan demikian peneliti bermaksud mengangkat topik penelitian dengan judul: “Analisis Persepsi Guru dan Siswa Terhadap Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Pada Mata Pelajaran IPA di SMPN Sederajat se-Bintan Timur”
B. Rumusan Masalah
Terkait dengan penelitian ini maka rumusan masalah adalah bagaimana persepsi guru dan siswa terhadap pembelajaran tatap muka terbatas pada mata pelajaran IPA di SMPN sederajat se Bintan Timur ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah pada penelitian maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi guru dan siswa terhadap pembelajaran tatap muka terbatas pada mata pelajaran IPA di SMPN sederajat se Bintan Timur.
D. Manfaat Penelitian 1. Secara teoritis
Hasil penelitian ini berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pendidikan dan akan mampu menggambarkan pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas pada mata pelajaran IPA.
2. Secara praktis a. Bagi sekolah
Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan dan evaluasi serta menjadi gambaran mengenai pembelajaran tatap muka terbatas.
b. Bagi guru
Dari hasil penelitian yang dilakukan, diharapkan dapat bermanfaat dalam peningkatan kualitas belajar dan menyempurnakan proses pembelajaran tatap muka terbatas.
c. Bagi peneliti lain
Diharapkan bisa menjadi sumber bacaan dan sumber kajian bagi peneliti lain untuk mendapatkan informasi terkait penerapan pembelajaran tatap muka terbatas pada mata pelajaran IPA serta dapat menjadi rujukan untuk penelitian berikutnya dengan variabel yang sesuai.