• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I"

Copied!
50
0
0

Teks penuh

Di Turki, investor kripto kehilangan uang sekitar Rp 29 triliun karena salah memilih pedagang aset kripto. Dan variasi transaksi dengan uang atau aset kripto akan semakin meningkat di masa depan dan tidak memungkinkan cryptocurrency diakui sebagai salah satu mata uang dunia. Namun pada periode mendatang, penggunaan aset kripto untuk tujuan investasi dan akuisisi tidak bisa dikesampingkan.

Peraturan terbaru mengenai aset kripto adalah keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) no. 68/PMK.03/2022 tentang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) dari Transaksi Perdagangan Aset Kripto yang merupakan peraturan pelaksanaan UU No. 7 2021 Pdt. Jadi dalam hal ini aturan yang diambil pemerintah sebagai bentuk pengakuan terhadap aset kripto berbentuk non-undang-undang, sehingga tidak boleh Lex Specialis UU No. 7 Tahun 2011 tentang mata uang. Terkait dengan hal tersebut bagaimana sikap Notaris pada khususnya dan Ikatan Notaris Indonesia pada umumnya ketika ada permintaan dari masyarakat untuk menunjukkan akta otentik atas pengalihan aset kripto.

Sementara itu, sejauh ini belum ada peraturan resmi dari pemerintah atau organisasi notaris yang memberikan petunjuk bagaimana seharusnya notaris bertindak jika ada permintaan dari warga negara untuk membuat akta otentik atas transaksi yang dilakukan terkait dengan aset kripto yang dimilikinya, khususnya. jika ada rencana untuk mentransfer aset kripto dari satu orang ke orang lain tanpa melalui perdagangan. Sedangkan transaksi tersebut tidak merupakan pelanggaran hukum terhadap ketentuan yang berlaku di Negara Republik Indonesia, sehingga tidak ada dasar hukum yang jelas bagi Notaris untuk menolak permintaan masyarakat atas jasanya terkait dengan akta otentik pengalihan harta kripto itu. sesuai pasal 1868 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer). Notaris termasuk pejabat yang diberi wewenang oleh negara dan undang-undang untuk membuat akta autentik.

RUMUSAN MASALAH

TUJUAN PENELITIAN

MANFAAT PENELITIAN

ORISINALITAS PENELITIAN

Penelitian ini mengkaji tentang kekuatan pembuktian dokumen elektronik di pengadilan, sedangkan penelitian ini dilakukan oleh kami. Penelitian yang dilakukan oleh Rezky Aulia Yusuf9, mahasiswi Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Hasanudin Makassar yang bertajuk Cyber​​Notaris: Solusi Praktek Notaris di Masa Darurat Kesehatan, mengangkat topik tentang bagaimana Notaris harus menjalankan tugasnya. tugas dan tanggung jawabnya pada masa darurat kesehatan akibat Covid-19 yang mengharuskan masyarakat membatasi pertemuan dengan orang lain untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut, sedangkan Notaris dan Kode Etik mengharuskan bertemu dengan pihak-pihak yang memerlukan jasanya. Dan untuk itu konsep Cyber ​​Notaris dirasa paling cocok untuk diterapkan, namun peraturan hukum mengenai hal tersebut masih belum ada sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memfasilitasinya.

9 Rezky Aulia Yusuf, Cyber ​​Notaris: Solusi Praktek Notaris dalam Keadaan Darurat Kesehatan, Skripsi, Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Hasanudin, Makassar, 2021. Penerapan cyber notary dinilai paling tepat pada saat keadaan darurat kesehatan karena notaris tidak memiliki untuk bertemu secara fisik dengan para pihak dan juga terdapat undang-undang ITE yang memfasilitasi hal tersebut, sehingga dapat diartikan bahwa keberadaan cyber notaris di Indonesia dapat diakui. Fakta hukum yang ada tersebut membuat penerapan cyber notaris tidak bisa langsung diterapkan di Indonesia.

Membandingkan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, terdapat perbedaan yang mendasar dalam artian penelitian ini mengangkat objek penelitiannya yaitu cyber notary dimana fungsi dan tanggung jawab notaris yang mengharuskannya bertemu langsung dapat diminimalisir untuk memenuhi darurat kesehatan. peraturan. Sedangkan penelitian ini mengangkat objek penelitian tentang akta-akta yang dapat dibuat oleh Notaris untuk transaksi mata uang kripto digital, berkaitan dengan pengalihannya dan bukan berkaitan dengan pelaksanaan tugasnya secara fisik sebagai Pejabat Publik. Perbedaan tersebut mengakibatkan penelitian yang dilakukan peneliti berbeda dengan penelitian sebelumnya, sehingga dalam hal ini orisinalitas penelitian dapat diketahui dan penelitian ini dapat dilanjutkan. Penelitian Awalludin Norsandy, S.H., M.H.10, mahasiswa Program Studi Kenotariatan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta yang berjudul Peran Notaris dalam Akad Melalui Media Elektronik Berbasis UU ITE yang mengangkat tema kewenangan notaris untuk akta autentikasi membuat perjanjian yang dibuat oleh para pihak secara elektronik dimana hal ini menimbulkan resiko terhadap keabsahan dan kekuatan akta yang dibuat, serta perlindungan para pihak.

Apa perlindungan hukum para pihak jika terjadi wanprestasi dalam kontrak elektronik sesuai UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Secara umum, simpanan dalam kontrak/transaksi elektronik tidak ada bedanya dengan kontrak/transaksi manual. Kewenangan Notaris dalam kontrak/urusan elektronik dengan sertifikasi (Certification Authority) transaksi elektronik dilakukan melalui tiga peristiwa, yaitu (1) melakukan pemeriksaan sendiri (2) menunjuk otoritas pendaftaran untuk melakukan pemeriksaan; dan/atau (3) menunjuk notaris sebagai otoritas pendaftaran.

Dibandingkan dengan penelitian yang mengangkat tema akta perjanjian elektronik, maka penelitian yang dilakukan peneliti pada umumnya juga membahas objek perjanjian digital.

TINJAUAN PUSTAKA

Hukum Progresif lahir karena selama ini ajaran ilmu hukum positif (yurisprudensi analitis) yang diterapkan dalam realitas empiris di Indonesia masih kurang memuaskan. Gagasan hukum progresif muncul dari keprihatinan terhadap kualitas penegakan hukum di Indonesia, terutama sejak reformasi dilaksanakan pada pertengahan tahun 1997. Untuk mencari solusi atas kegagalan penerapan yurisprudensi analitis, hukum progresif mempunyai landasan pemikiran yang hubungan antara hukum dan manusia.

Dalam posisi ini, Hukum Progresif dapat dikaitkan dengan model hukum perkembangan dari Nonet dan Selznick. Hukum Progresif merupakan hukum yang responsif, berdasarkan istilah dari Nonet dan Selznick.24 Pada tipe ini, hukum selalu dikaitkan dengan tujuan-tujuan di luar cerita tekstual dari hukum itu sendiri. Terkait dengan realisme hukum dan Freirechtslehre, Hukum Progresif tidak melihat hukum dari sudut pandang hukum itu sendiri, melainkan dari tujuan sosial yang ingin dicapai dan akibat yang timbul dari beroperasinya hukum.

Hukum Progresif dengan demikian mengutamakan kepentingan manusia yang lebih besar dibandingkan menafsirkan hukum dari sudut pandang 'logika dan aturan'. Meskipun Hukum Progresif hampir mirip dengan Gerakan Kajian Hukum Kritis yang muncul di Amerika Serikat pada tahun 197729, namun tidak sebatas mengkritik sistem hukum liberal. Hukum progresif mengungkapkan pemahaman bahwa hukum tidak mutlak digerakkan oleh hukum positif atau hukum perundang-undangan, tetapi juga oleh asas-asas nonformal.

Hukum progresif tidak berpikir demikian, melainkan memandang dunia dan hukum dengan pandangan yang cair, seperti Panta Rei (segala sesuatu mengalir) dari filsuf Heraklitos. Karena Hukum Progresif beranggapan bahwa hukum itu ada dan ada untuk masyarakat, maka sangat tepat jika dikatakan demikian. Dengan pengertian tersebut, Hukum Progresif menempatkan hukum sebagai “lembaga kemanusiaan” yang saling melengkapi aspek kemanusiaannya, baik dalam hubungan antar manusia maupun dalam masyarakat luas.

Untuk mencapai tujuan hukum yang maksimal, menurut Satjipto Rahardjo dibangun dengan istilah Hukum Progresif, yang bergantung pada kemampuan manusia untuk berpikir dan memahami serta pada hati nurani manusia untuk melakukan penafsiran hukum yang mengutamakan nilai moral keadilan. di masyarakat. Berdasarkan ciri-ciri hukum progresif di atas, maka hukum tidak boleh ketinggalan fakta hukum karena hukum. Pemanfaatan teori kewenangan ini akan lebih mampu berbicara dalam penelitian jika dipadukan dengan teori hukum progresif, sehingga notaris dapat mempunyai landasan yang kuat ketika membuat akta pengalihan (jual beli) aset kripto.

METODE PENELITIAN

Oleh karena itu, teori ini digunakan untuk membahas rumusan masalah II mengenai kekuatan hukum suatu dokumen pengalihan aset kripto yang dibuat oleh notaris. Pendekatan ini dilakukan dengan mempelajari dan mengkaji peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan, permasalahan hukum, dan temuan hukum yang sedang dipertimbangkan. sehubungan dengan peraturan hukum yang berlaku di Republik Indonesia. Pendekatan konseptual adalah pendekatan yang didasarkan pada kajian terhadap pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin hukum yang ada dan sedang berkembang dalam keilmuan hukum.

Dengan mengkaji dan merevisi pandangan dan doktrin hukum tersebut, peneliti berharap dapat menemukan gagasan-gagasan baru yang dapat melahirkan konsep-konsep hukum, konsep-konsep hukum dan asas-asas hukum yang selaras dengan permasalahan dan permasalahan hukum yang dihadapi.41 Dalam pendekatan konseptual akan muncul konsep-konsep atau teori-teori baru. dapat ditemukan sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui landasan hukum kewenangan Notaris untuk membuat akta otentik yang berkaitan dengan pengalihan harta kripto bila dikaitkan dengan peraturan hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia. Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat dogmatis atau mempunyai kewenangan dan sebelumnya telah dibuat dan disahkan sebagai hukum normatif. Bahan hukum primer terdiri atas peraturan perundang-undangan, catatan resmi atau berita acara pembuatan peraturan perundang-undangan serta keputusan hakim dan ilmu hukum.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.0/2022 tentang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) atas Transaksi Perdagangan Aset Kripto. Bahan hukum sekunder terdiri dari semua publikasi hukum yang tidak termasuk dalam kategori dokumen atau surat resmi yang diterbitkan oleh Pemerintah. Publikasi ini meliputi buku teks, kamus hukum, jurnal hukum dan komentar terhadap keputusan pengadilan.

Dalam penelitian ini bahan hukum sekunder meliputi: buku hukum, laporan, artikel, jurnal hukum dan disertasi. Proses pengumpulan bahan hukum dalam penelitian ini adalah langkah pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan bahan hukum primer dan sekunder terkait dengan metode dan jenis penelitian yang dilakukan untuk menjawab pertanyaan hukum. Pengumpulan bahan hukum dilakukan peneliti dengan cara membaca buku-buku dan peraturan perundang-undangan yang telah dimiliki peneliti, atau dengan meminjam buku-buku dari perpustakaan kampus dan perpustakaan daerah di Surabaya, serta jurnal-jurnal hukum di Internet yang berkaitan dengan rumusan masalah penelitian.

Analisis penelitian ini akan menggunakan metode deduktif (dari umum ke khusus) yang dimulai dengan premis mayor (bersifat umum), kemudian diajukan premis minor (bersifat khusus) dan pada akhirnya tercapai kesimpulan penelitian.

SISTIMATIKA PENULISAN

Referensi

Dokumen terkait

تووبثم ریثثووت نف دوشر دروکلمع رب کلافویب یروآ Crab et al., 2010; Ekasari et al., 2015 بآ تیفیک و Megahed, 2010 هنوگ رد .توسا هدوش شرازوگ نایزبآ فلتخم یاه Brito و