• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Gastritis atau sering disebut tukak lambung merupakan kondisi dari respon mukosa lambung terhadap berbagai iritan lokal, atau terjadinya peradangan dinding lambung dan seringkali mengakibatkan adanya kerusakan pada mukosa lambung. Sehingga menimbulkan adanya berbagai keluhan seperti anoreksia, rasa penuh atau tidak nyaman, mual muntah, dan salah satunya nyeri. Gastritis umumnya dijumpai dengan penyebab paling sering dari penyakit ini adalah penggunaan Obat Anti Inflamasi Nonsteroid (OAINS), kortikosteroid, pola atau gaya hidup dengan tingkat stres tinggi, konsumsi alkohol, kopi dan merokok. (Budianto, 2014 dalam Ramadini, 2022).

Badan penelitian kesehatan WHO melakukan tinjauan terhadap beberapa negara di dunia dan mendapatkan hasil angka kejadian gastritis di dunia yaitu Inggris dengan angka presentase 22%, China dengan angka presentase 31%, Jepang dengan angka presentase 14,5%, Kanada dengan angka pesentase 35%, dan Perancis dengan angka presentase 29,5%. Insiden terjadinya gastritis di Asia Tenggara sekitar 583.635 dari jumlah penduduk setiap tahunnya. Sementara di indonesia sendiri angka gastritis dalam berbagai daerah hasil dari Riskesdas (2018) cukup tinggi yaitu 40,8% dengan preferensi 274,396 kasus dari penduduk 238,452,952 jiwa. Beberapa kota tersebut yakni di Negara Indonesia dengan nilai presentasi cukup besar ialah

(2)

mempunyai penyakit gastritis diantaranya: Surabaya (31,2%), Denpasar (46%), Medan (91,6%), Jakarta (50%), Palembang (35,5%), Aceh (31,7%), Pontianak (31,2%) dan Bandung (32,5%).

Berdasarkan Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2018, gastritis merupakan salah satu dari 10 penyakit terbanyak di rumah sakit pada pasien rawat inap dengan jumlah kasus sebesar 33.580 kasus.

yang 60,86% terjadi pada perempuan. Pada pasien rawat jalan gastritis berada pada urutan ke tujuh dengan jumlah kasus 201.08 kasus, yang dimana sebesar 77,74% terjadi pada perempuan (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Adapun data gastritis di wilayah kerja Puskesmas Jajaway Kelurahan Antapani Kidul RW 17 saat dilakukan pendataan 60% terdapat 159 KK dengan 544 jiwa, diantaranya dengan penyakit gastritis sebanyak sembilan orang pada kelompok dewasa (14,75%) dan sebanyak dua orang pada kelompok usia sekolah (12,20%).

Gastritis dapat menimbulkan rasa sakit atau nyeri, hal ini disebabkan karena terjadinya radang pada dinding lambung yang menimbulkan kerusakan mukosa sehingga terjadilah nyeri. Dengan demikian, gastritis sangat mengganggu aktifitas sehari-hari, sehingga dapat mengakibatkan kualitas hidup menurun, dan kurang produktif. Gastritis akan mengakibatkan sekresi asam lambung meningkat dan berakibat lambung luka (ulkus) juga dapat menimbulkan perdarahan Saluran cerna bagian atas berupa hematemesis (muntah darah), melena, perforasi dan anemia karena gangguan absorbsi vitamin B12 (anemia pernisiosa) bahkan mengalami

(3)

penipisan dinding lambung sehingga rentan terhadap perforasi lambung dan perdarahan (Mardalena, 2018).

Dalam membantu menangani masalah kesehatan gastritis diperlukan peran keluarga sebagai bagian terkecil dari masyarakat yang memiliki peranan sangat penting dalam membentuk kebudayaan yang sehat. Keluarga dijadikan sebagai unit pelayanan karena masalah kesehatan keluarga saling berkaitan dan akan mempengaruhi keluarga yang ada di sekitarnya. Keluarga merupakan serangkaian penting yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial yang diberikan pada struktur peran, dapat berupa formal atau informal. Pada keluarga yang mengalami gastritis peran keluarga bisa bersifat informal yaitu berperan sebagai pemberi perawatan keluarga (Faizal, 2022).

Keluarga mempunyai fungsi keluarga dalam menangani anggota keluarga dengan gastritis yang meliputi lima tugas keluarga yang harus dilaksanakan seluruh keluarga, yaitu mengenal masalah kesehatan yang ada pada anggota keluarga gastritis, memutuskan tindakan yang tepat bagi anggota keluarga yang mengalami gastritis, memberikan perawatan kesehatan pada anggota keluarga yang gastritis, memodifikasi lingkungan untuk menjamin kesehatan anggota keluarga dengan gastritis dan menggunakan pelayanan kesehatan yang ada jika ada kekambuhan pada anggota keluarga dengan gastritis (Faizal, 2022).

Masalah kesehatan yang muncul dikeluarga tentunya sangat tergantung pada bagaimana keluarga merawat kesehatan keluarga. Dampak yang terjadi jika keluarga tidak mampu merawat anggota keluarga dengan

(4)

gastritis akan menimbulkan banyak sekali dampak dari tingginya kejadian gastritis bagi kesehatan. Dan jika keluarga dan pasien gastritis megabaikan penyakit ini justru membuatnya semakin parah hingga mengarah ke komplikasi gangguan kesehatan bahkan bisa mengancam keselamatan jiwa.

Untuk menetralisir asam lambung karena penyakit gastritis beberapa usaha diantaranya yang bisa dilakukan diantaranya mengkonsumsi OAINS dengan indikasi yang tepat. Strategi penggunanaan semua obat tersebut selalu mempunyai kelebihan dan kekurangan, karena efek samping tidak bisa dihindari, sehingga muncul usaha untuk mengurangi efek samping yang lebih aman yaitu dengan menggunakan obat tradisional atau bahan alam. Obat tradisional yang telah diteliti terbukti khasiat dalam menurangi rasa nyeri lambung adalah mengunakan kunyit (Simbolon, 2018).

Kunyit merupakan tanaman salah satu jenis rempah-rempah yang mudah didapatkan dan merupakan tanaman obat yang banyak dibutuhkan oleh industri obat tradisional. Kunyit memiliki kandungan senyawa zat aktif utama berupa kurkuminoid dan minyak atsiri. Kandungan kurkuminoid terdiri dari kurkumin, desmetoksikumin, dan bisdesmetoksikurkumin, sedangkan minyak atsiri terdiri dari keton sesquiterpen, turmeron, tumeon, zingiberen, flandren, sabinen, borneol, dan sineil. Kandungan kunyit lainnya berupa lemak, karbohidrat, protein, vitamin C , karoten, garam- gaeram mineral (Ocha, 2013 dalam Safitri 2020).

Studi kasus yang dilakukan oleh Chofizah Hikmah (2019) telah membuktikan bahwa pemberian obat herbal kunyit pada penderita gastritis

(5)

dapat meningkatkan nafsu makan. Tahapan pertama yang dilakukan saat uji aktivitas selama 1 bulan ialah pembuatan ekstrak kunyit dengan memarut 5 rimpang kunyit dengan berat 250 mg dan menambahkan 60 ml air. Ekstrak perasan air kunyit dikonsumsi setiap pagi dan malam hari. Hasil signifikan diperoleh pada minggu keempat penderita gastritis sudah sangat sehat, nafsu makan bertambah dan tidak pernah terasa lagi nyeri di bagian ulu hati, perut (lambung) dan dada serta bisa beraktivitas semula. Selain itu adapun penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Hikma (2017) yang juga menyatakan serupa dengan pemberian perasaan air kunyit dengan dosis 250mg dengan dilarutkan air hangat 60 ml dan diberikan percobaan selama 7 hari berturut-turut sebelum makan 2x sehari, pagi dan sore. Dan di dapatkan hasil adanya penurunan nyeri dan meningkatkan nafsu makan.

Kedua hasil penelitian di atas diperkuat dengan adanya penelitian terbaru yang dilakukan oleh Siti Sa’adah (2021) bahwa pemberian perasan air kunyit selama seminggu 2x sehari setelah makan dapat menurunkan rasa mual, nyeri atau perih dari skala 3 (ringan) menjadi skala 0 (tidak nyeri) dengan menggunakan skala nyeri numerik (Numerical Rating Scale) dengan rentang 0-10. Hal ini serupa dengan penjelasan oleh Pratiwi (2020) yang dalam penelitiannya menyebutkan bahwa kunyit berkhasiat untuk mengatur keluarnya asam lambung agar tidak berlebihan dan dapat mengurangi kerja usus yang terlalu berat dalam pencernaan zat-zat makanan. Minyak atsiri yang terkandung dalam kunyit dapat mengontrol asam lambung agar tidak berlebihan dan tidak kekurangan akan menyebabkan isi lambung tidak terlalu

(6)

asam, sehingga apabila isi lambung tersebut masuk ke duodenum untuk menurunkan keasaman chime, maka akan semakin cepat dalam mengubahnya ke keadaan pH yang sesuai untuk diteruskan ke proses absorpsi usus halus.

Berdasarkan pada beberapa hasil penelitian yang relavan tersebut, menunjukan betapa pentingnya peranan perawat sebagai caregiver dalam menanggulangi masalah tersebut dengan memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif yaitu pada aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Peran promotif dilakukan dengan memberikan penyuluhan dan pendidikan kesehatan terkait penanganan dan pencegahan gastritis. Peran preventif yaitu dengan melakukan upaya kunjungan rumah pada kelompok beresiko untuk mencegah terjadinya penyakit gastritis. Peran kuratif dengan mengajarkan keluarga cara membuat obat tradisional yang salah satunya dengan perasan air kunyit (curcuma domestica) dan berkolaborasi dengan tenaga medis dalam pengobatan lanjut gastritis. Peran rehabilitatif yaitu upaya pemulihan pasien gastritis seperti mengontrol pola makan, mengurangi stress dan istirahat yang cukup (Oktoriana, 2020).

Berdasarkan pada beberapa data-data dan hasil penelitian yang relevan, maka dapat disimpulkan bahwa penyakit gastritis merupakan masalah umum dan penyakit yang dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup seseorang hingga kematian. Oleh karena itu, berdasarkan paparan tersebut maka peneliti tertarik untuk menggali “Pemberian perasan air kunyit (Curcuma Domestica) pada keluarga TN. S dengan masalah keperawatan

(7)

Nyeri Akut dengan Diagnosa Medis Gastritis di RW 17 RT 01 Kelurahan Antapani Kidul”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan pada penelitian ini ialah “Bagaimana melakukan asuhan keperawatan dengan keluhan nyeri penderita gastritis pada Tn. S di Kelurahan Antapani Kidul, Bandung RT 01 RW 17 ? ”

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan keluarga pada Tn. S dengan Pemberian perasan air kunyit (Curcuma Doomestica) terhadap penurunan nyeri penderita asam lambung” pada salah satu keluarga Tn.S di wilayah kerja Puskesmas Jajaway Kelurahan Antapani kidul RW 17 RT 01.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu melakukan pengkajian keperawatan keluarga dengan keluhan nyeri penderita gastritis pada Tn.S di Kelurahan Antapani Kidul, Bandung RT 01 RW 17.

b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan keluarga dengan keluhan nyeri penderita gastritis pada Tn.S di Kelurahan Antapani Kidul, Bandung RT 01 RW 17.

(8)

c. Mampu menyusun perencanaan keperawatan keluarga dengan keluhan nyeri penderita gastritis pada Tn.S di Kelurahan Antapani Kidul, Bandung RT 01 RW 17.

d. Mampu melaksanakan implementasi keperawatan keluarga dengan dengan keluhan nyeri penderita gastritis pada Tn.S di Kelurahan Antapani Kidul, Bandung RT 01 RW 17.

e. Mampu melakukan evaluasi keperawatan keluarga dengan dengan keluhan nyeri penderita gastritis pada Tn.S di Kelurahan Antapani Kidul, Bandung RT 01 RW 17.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Keilmuan

Diharapkan dapat memberikan wawasan atau pengembangan ilmu terkait Asuhan keperawatan Keluarga dengan pemberian perasan air kunyit (Curcuma Domestica) dengan masalah keperawatan Nyeri Akut dengan Diagnosa Medis Gastritis.

2. Manfaat Aplikatif a) Bagi Penulis

Diharapkan setelah mengetahui hasil laporan ini, penulis dapat menambah wawasan dan pengalaman khususnya dibidang keperawatan keluarga dengan Gastritis.

b) Bagi Puskesmas

Sebagai bahan masukan dan evaluasi yang diperoleh dalam

(9)

pelaksanaan praktek keperawatan yang tepat khususnya untuk memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit Gastritis.

c) Bagi pasien

Diharapkan hasil laporan ini dapat meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat masalah kesehatan nyeri dengan gastritis dengan pemberian perasan air kunyit (Curcuma domestica).

Referensi

Dokumen terkait

The Licence is amended by the insertion of the following Condition 1.2.11: 1.2.11 Subject to Conditions 1.2.9 and not more than 30 days after completing construction of Water Body 1,

Glossary hapü sub- tribe, clan hau wind, breeze, breath, vital essence, vitality of human life hauwai damp; type of healing known as body sauna hinengaro mind, intellect hui