• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Menua atau menjadi tua merupakan tahap akhir dari kehidupan dan pasti akan terjadi pada semua mahluk hidup. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai pada satu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan (Dewi, 2014). Menua bukanlah suatu penyakit melainkan proses berangsur-angsur dan berakibat pada perubahan biologis, psikologis, sosial dan spiritual (Nugroho, 2015).

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud dengan Lanjut Usia (Lansia) adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas (Kemenkes RI, 2015). Penduduk lanjut usia atau lansia adalah penduduk berumur 60 tahun keatas, yang terdiri dari lansia muda (umur 60-69 tahun), lansia madya (umur 70-79 tahun), dan lansia tua (umur 80 tahun ke atas). Dilihat dari kelompok umur, sebagian besar lansia di Indonesia merupakan lansia muda yaitu pada umur 60-69 tahun dengan persentase sebesar 63,65%, diikuti oleh lansia madya (kelompok umur 70-70 tahun) sebesar 27,66%, dan lansia tua (kelompok umur 80 tahun ke atas) sebesar 8,68% (BPS, 2021).

Pada tahun 2021, proporsi lansia mencapai 10.82% atau sekitar 29,3 juta orang. Jumlah tersebut menujukkan bahwa Indonesia sudah memasuki fase struktur penduduk menua, yang ditandai dengan adanya proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas di Indonesia yang sudah melebihi 10% dari total

(2)

penduduk (BPS, 2021). Keberhasilan pembangunan di berbagai bidang terutama dibidang kesehatan menyebabkan terjadinya peningkatan Usia Harapan Hidup penduduk terutama di Indonesia. Upaya pemerintah dalam pembangunan nasional berdampak pada tingginya angka harapan hidup penduduk. Hal ini menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia meningkat (Kemenkes RI, 2015).

Peningkatan jumlah lansia menurut Darmojo dan Martono (2010), menimbulkan masalah dalam berbagai aspek, salah satunya adalah aspek kesehatan. Pada lansia terjadi penurunan struktur dan fungsi organ tubuh sehingga lansia lebih rentan terhadap berbagai penyakit baik degenaratif maupun infeksi (Octaviani, 2017). Penyakit degenaratif atau penyakit tidak menular merupakan penyebab utama kematian di dunia. Menurut WHO, kematian akibat penyakit tidak menular diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia, peningkatan terbesar akan terjadi di negara-negara menengah dan miskin. Lebih dari dua pertiga (70%) dari populasi global akan meninggal akibat penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Dalam jumlah total, pada tahun 2030 diprediksi akan ada 52 juta jiwa kematian pertahun karena penyakit tidak menular, naik 9 juta jiwa dari 38 juta jiwa pada saat ini (Kemenkes RI, 2012).

Stroke adalah salah satu jenis penyakit kronis dan termasuk penyakit tidak menular. Stroke merupakan penyebab kematian terbanyak kedua didunia dan penyebab disabilitas ketiga di dunia. Menurut World Health Organization (WHO), stroke adalah suatu keadaan dimana ditemukan tanda klinis yang

(3)

berkembang cepat berupa defisit neurologik fokal dan global, yang dapat memberat dan berlangsung selama 24 jam atau lebih dan atau dapat menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler.

Stroke terjadi apabila pembuluh darah otak mengalami penyumbatan atau pecah yang mengakibatkan sebagian otak tidak mendapatkan pasokan darah yang membawa oksigen yang diperlukan sehingga mengalami kematian sel/jaringan (Kemenkes RI, 2018).

Stroke menurut data World Stroke Organization menunjukkan bahwa setiap tahunnya ada 13,7 juta kasus baru stroke dan sekitar 5,5 juta kematian terjadi akibat penyakit stroke. Selama 15 tahun terakhir, rata-rata stroke terjadi dan menyebabkan kematian lebih banyak pada negara berpendapatan rendah dan menengah dibandingkan dengan negara berpendapatan tinggi. Prevalensi stroke bervariasi diberbagai negara terutama di negara berkembang seperti wilayah Asia Pasifik. Prevalensi stroke di Cina berkisar antara 9,4% yang tinggal di perkotaan dan 1,8% yang tinggal dipedesaan, sedangkan di Amerika Serikat prevalensi stroke sekitar 7 juta (3.0%). Di seluruh dunia, Cina merupakan negara dengan tingkat kematian cukup tinggi akibat stroke (19,9%

dari seluruh kematian di Cina), bersamaan dengan negara Afrika dan Amerika Utara (Roger V, 2011 dikutip dalam (Mutiarasari, 2019)).

Secara nasional, prevalensi penyakit stroke berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018 meningkat dibandingkan tahun 2013, yaitu dari 7% menjadi 10,9%.

Prevalensi penyakit stroke di Indonesia tahun 2018 berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur ≥15 tahun sebesar 10,9%, atau diperkirakan

(4)

sebanyak 2.120.362 orang. Provinsi dengan prevalensi tertinggi stroke di Indonesia yaitu Provinsi Kalimantan Timur sebesar 14,7% dan di DI Yogyakarta sebesar 14,6% sedangkan Provinsi dengan prevalensi stroke terendah dibandingkan provinsi lainnya yaitu Provinsi Papua sebesar 4,1% dan Maluku Utara sebesar 4,6% (Kemenkes RI, 2018).

Untuk di Jawa Barat prevalensi stroke sebanyak 11,44% atau berjumlah 52.511 orang. prevelensi stroke (permil) berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk kelompok umur 55-64 tahun dengan presentase sebesar 34,06%, kelompok umur 65-74 tahun sebesar 48,26%, dan kelompok umur 75 tahun ke atas sebesar 53,98%. Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, lebih banyak berjenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan yang mengalami kejadian stroke. Penyakit stroke sebagian besar dialami oleh penduduk yang tinggal di perkotaan (12,11%) daripada yang tingal di perdesaan (9,49%). Penduduk yang tidak memiliki pekerjaan atau tidak bekerja lebih banyak mengalami kejadian stroke daripada yang bekerja yaitu sebanyak 20,38%. Sedangkan, penduduk yang paling banyak mengalami stroke dengan pendidikan tidak/belum pernah sekolah sebanyak 26,70%. Berdasarkan proposi tingkat ketergantungan pada penduduk umur lebih dari 60 tahun di Jawa Barat yaitu, ketidakmampuan fisik mandiri dengan presentase 35,11%, ketergantungan ringan sebesar 31,55%, ketergantungan sedang sebesar 4,80%, ketergantungan berat sebesar 9,78%, dan ketergantungan total 18,76%. Di kabupaten bandung sebanyak 41,75%

dengan penyakit stroke rutin kontrol ke fasilitas pelayanan kesehatan, sebanyak

(5)

25,68% kadang-kadang atau tidak rutin, dan yang tidak memeriksa ulang sebanyak 32,57% (Riskesdas, 2018).

Adanya dampak penyakit stroke yang sangat merugikan bagi penderitanya sendiri maupun keluarga penderita. Bagi penderita, diantaranya kelumpuhan, gangguan indra rasa, gangguan dalam beraktivitas, perubahan mental seperti gangguan daya pikir, kesadaran, konsentrasi, gangguan dalam komunikasi dan gangguan emosional yaitu menjadi gelisah, cemas, takut dan marah atas kekurangannya (Setyawan et al., 2018). Sedangkan, dampak stroke pada keluarga dapat menimbulkan dampak psikologis, diantaranya keluarga akan mengalami kecemasan dan akan mempengaruhi pikiran dan motivasi sehingga keluarga tidak mampu mengembangkan peran dan fungsinya yang bersifat mendukung terhadap proses penyembuhan dan pemulihan anggota keluarganya (Rahmatiah, 2013).

Dalam merawat lansia yang terkena stroke diperlukan keterlibatan keluarga. Menurut Friedman (2010), keluarga menjadi unsur penting dalam kehidupan seseorang karena keluarga merupakan sistem yang didalamnya terdapat anggota-anggota keluarga yang saling berhubungan dan saling ketergantungan dalam memberikan dukungan, kasih sayang, rasa aman, dan perhatian yang secara harmonis menjalankan perannya masing-masing untuk mencapai tujuan bersama (Yasmin, 2017). Keluarga juga harus memahami dan memiliki kemampuan dalam melaksanakan fungsi pemberian perawatan kesehatan terhadap anggotanya yang sakit (Fatmawati, 2020).

(6)

Status sehat dan sakit para anggota keluarga saling mempengaruhi satu sama lain. Keluarga memainkan peran yang bersifat mendukung selama masa penyembuhan dan pemulihan (Wurtiningsih, 2012). Menurut Gbiri (2015), keluarga pasien berperan sebagai caregiver yang selalu mendampingi pasien untuk memberikan perawatan dan dukungan emosional. Keluarga sebagai caregiver dalam merawat penderita stroke berdampak negatif pada kesejahteraan sosial, tekanan emosional, kesehatan, dan beban keuangan. Hal ini diperparah dengan tingkat keparahan stroke dan durasi dalam lama pengasuhan. Aktivitas perawatan yang terus-menerus dapat mempengaruhi keluarga meskipun ada banyak kesulitan. Tantangan yang dialami keluarga sebagai caregiver antara lain beban kerja meningkat, kehidupan sosial terbatas, masalah fisik dan defisit finansia (Nurhidayah et al., 2020).

Menurut Pinzon (2009), ketika salah seorang anggota keluarga mengalami stroke, stress yang ditimbulkan pada keluarga tersebut dapat cukup besar dan tidak sedikit orang merasa sulit menghadapi dampak emosional, hal ini menimbulkan depresi atau rasa cemas. Gangguan cemas dapat dialami 2-4%

disetiap kehidupan (Riandini et al., 2018). Adanya kejadian yang tidak terduga dalam kehidupan dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik dan psikologi. Salah satu dampak kesehatan psikologi yaitu ansietas atau kecemasan (Sutejo, 2019).

Kecemasan merupakan gangguan kesehatan mental yang sering terjadi.

Kecemasan dapat menjadi sumber masalah klinis jika sudah sampai tingkat ketegangan yang sedemikian rupa sehingga mempengaruhi kemampuan

(7)

berfungsinya seseorang dalam kehidupan sehari-hari (Kusumastuti, 2019).

Menurut Abdul Hayat (2014), kecemasan (anxiety) merupakan bagian dari kondisi hidup, artinya kecemasan ada pada setiap orang. Kecemasan yang dialami oleh keluarga dapat dijadikan sumber motivasi untuk berbuat kearah kemajuan dan kesuksesan hidup, apabila kecemasan itu dalam kondisi normal, tetapi kecemasan yang tinggi melebihi batas normal, ia akan mengganggu kestabilan diri dan keseimbangan hidup (Hayat, 2017).

Kecemasan memiliki efek negatif pada gejala fisik dan somatik, seperti sakit kepala, kelelahan, sulit berkonsentrasi dan fobia sosial (Setyowati et al., 2019). Keluarga yang mengalami kecemasan lebih cenderung mengalami gejala fisik dibandingkan masalah kesehatan mental (depresi). Menurut Spieelberger, sideman, owen & Mars (1999) adapun reaksi kecemasan dapat digambarkan sebagai gai state anxiety dan trait anxiety berupa reaksi sementara yang timbul pada situasi tertentu, yang dirasakan sebagai suatu ancaman, keadaan ini ditentukan oleh keadaan ketegangan yang bersifat subyektif. Sedangkan traitanxicity adalah keadaan seseorang yang cukup stabil dan menyebabkan seseorang untuk menginterpretasikan suatu keadaan sebagai ancaman (Sulandari et al., 2021)

Kecemasan (ansietas) adalah respon psikologik terhadap stress yang mengandung komponen fisiologik dan psikologik. Taylor dalam Taylor Minnesota Anxiety Scale (TMAS) mengemukakan bahwa kecemasan merupakan suatu perasaan subyektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai rekasi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu

(8)

masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu ini pada umumnya tidak menyenangkan dan menimbulkan perubahan fisiologis dan psikologis (Tysar, 2009 dikutip dari Riandini et al., 2018). Comer mengungkapkan ketika merasa cemas, individu merasa tidak nyaman atau takut atau mungkin memiliki firasat akan ditimpa malapetaka padahal ia tidak mengerti mengapa emosi tersebut terjadi (Videbeck, 2018). Menurut Pratiwi &

Dewi (2013), respon emosional negatif yang terjadi saat pasien atau keluarga merasakan banyak ketakutan, kecemasan, ketegangan dan kewaspadaan yang berlebihan merupakan manifestasi dari kecemasan (Prasetyowati & Wahyuni, 2021).

Manifestasi yang khas pada ansietas tergantung pada masing-masing individu dan dapat meliputi menarik diri, membisu, mengumpat, mengeluh dan menangis (Long, 1996 dikutip dari (Ketut Saputra et al., 2018)). Seseorang yang mengalami kecemasan, hidup dalam keadaan tegang, selalu merasa serba salah atau khawatir, cenderung memberi reaksi yang berlebihan pada stress yang ringan, mudah marah, tidak tenang, tidur terganggu, kelelahan, sakit kepala, jantung berdebar-debar, ketidakmampuan melakukan aktivitas fisik yang sederhana, dan ketidakmampuan dalam mengambil keputusan (Milligen et al., 2019 dikutip dalam (Prasetyowati & Wahyuni, 2021)). Jadi cemas berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya (Kusumawati, 2010).

Penelitian yang dilakukan oleh Ratna Yuanita, Ani Sutriningsih, Ragil Catur A W tahun 2018 mengenai hubungan mekanisme koping keluarga pasien stroke di ruang rawat inap dewasa rumah sakit panti waluya malang, didapatkan

(9)

hasil kecemasan keluarga dengan tingkat ringan sebanyak 19 responden (73%), tingkat kecemasan sedang 6 responden (23%), dan tingkat kecemasan berat 1 responden (4%). Yang mana tingkat kecemasan responden dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pola mekanisme koping keluarga, ancaman terhadap harga diri diantaranya yang didapat dari sumber eksternal takut kehilangan orang yang dicintai, perceraian, perubahan status pekerjaan, tekanan kelompok, sosial budaya (Kusumawati, 2010).

Fenomena yang ditemukan di lapangan yaitu, di lingkungan masyarakat terdapat salah satu anggota keluarganya yang sudah lanjut usia terkena stroke, dan banyaknya lansia yang aktivitas sehari-hari memerlukan bantuan keluarganya atau orang lain. Lansia yang terkena stroke dapat mempengaruhi keluarganya dalam menjalankan kehidupannya dan aktivitasnya. Ketika lansia stroke melakukan aktivitasnya tanpa pandangan dari keluarga yang merawat, lansia tersebut beresiko terjadi kejadian yang tidak diinginkan. Baru-baru ini ditemukan keluarga yang terdapat lansia baru saja terkena stroke yang membuat keluarga cemas dalam merawat lansia tersebut dan sulitnya melakukan aktivitas seperti sebelumnya. Adapun keluarga lansia stroke lainnya yangmana lansia tersebut sedang dalam proses pemulihan, keluarga yang sedang tidak mengawasi lansia tersebut mengalami kejadian yang tidak diinginkan yaitu lansia tersebut terjatuh dikamar mandi yang membuat keluarga panik dan khawatir. Kejadian-kejadian ini terjadi di Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung.

(10)

Salah satu kecamatan di kabupaten bandung yaitu kecamatan banjaran dengan jumlah penduduk 132.828 jiwa dan terdapat lansia dengan jumlah 5.871 jiwa, sedangkan lansia yang sudah mendapat pelayanan kesehatan di Puskesmas Banjaran Kota sebanyak 6.281 jiwa (106.98%) dan merupakan jumlah paling terbanyak dibandingkan dengan kecamatan lainnya (Dinkes Kabupaten Bandung, 2019). Data lansia stroke yang didapatkan dari Puskesmas Banjaran Kota, terdapat lima wilayah desa yang dipegang oleh Puskesmas dengan masing-masing Desa yang lansia terkena stroke, yaitu Desa Mekarsari dengan lansia stroke berjumlah 14 orang, Desa Ciapus berjumlah 17 orang, Desa Banjaran Wetan berjumlah 10 orang, Desa Banjaran Kota berjumlah 21 orang, dan Desa Taraju berjumlah 12 orang.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Desa Banjaran wilayah kerja Puskesmas Banjaran Kota dari data rujukan puskesmas dan data pada kader terdapat lansia yang terkena stroke berjumlah 21 orang dalam satu tahun terakhir sampai bulan April 2022. Lansia yang terkena stroke rata-rata tinggal bersama dengan keluarganya dalam satu rumah bersama dengan anak- anaknya, keluarga besar maupun saudara atau kerabat. Berdasarkan data tersebut, peneliti melakukan kunjungan kepada empat keluarga besar dan dua keluarga inti, yangmana 4 lansia yang terkena stroke berperan sebagai kakek tinggal satu atap rumah dengan anak-anaknya yang sudah mempunyai pasangan dan memiliki cucu dan 2 lansia yang berperan sebagai ayah. Pada kartu keluarga, masing-masing lansia merupakan kepala keluarga meskipun ada yang tinggal satu atap bersama dengan anaknya yang sudah menikah dan masing-masing

(11)

lansia dirawat oleh keluarga inti (suami/istri dan anak-anaknya). Saat peneliti bertanya kepada anggota keluarganya, keenam lansia tersebut sudah mengalami stroke selama lebih dari satu tahun dan salah satunya mengalami stroke yang kedua kali. Dan peneliti menanyakan bagaimana perasaan keluarga saat salah satu anggota keluarganya terkena stroke, dari 6 keluarga didapatkan informasi, 4 keluarga masih merasa tidak aman, 3 keluarga terkadang merasa tekanan darah naik (memiliki riwayat hipertensi), dan 1 keluarga terkadang mengalami anoreksia saat merawat lansia yang terkena stroke tersebut.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti ingin mengetahui bagaimana gambaran tingkat kecemasan pada keluarga lansia yang terkena stroke di Wilayah Puskesmas Banjaran Kota Kabupaten Bandung.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pada keluarga lansia yang terkena stroke di Wilayah Puskesmas Banjaran Kota Kabupaten Bandung.

2. Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi tingkat kecemasan pada keluarga lansia yang terkena stroke di wilayah Puskesmas Banjaran Kota Kabupaten Bandung.

2. Mengidentifikasi tingkat kecemasan berdasarkan karakteristik yang berhubungan dengan faktor yang mempengaruhi kecemasan keluarga (umur, jenis kelamin, dan pendidikan).

(12)

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kesehatan khususnya mengenai gambaran tingkat kecemasan pada keluarga lansia yang terkena stroke.

2. Manfaat Praktis 1) Bagi Responden

Sebagai informasi kepada responden mengenai gambaran tingkat kecemasan pada keluarga dengan lansia yang terkena stroke di Wilayah Puskesmas Banjaran Kota.

2) Bagi Puskesmas

Dengan penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukkan dalam pemberian pelayanan perawatan atau pemberian asuhan keperawatan mengenai tingkat kecemasan keluarga pada keluarga lansia yang terkena stroke

3) Bagi Institusi

Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan, sebagai bahan masukan dan informasi untuk kepentingan pendidikan dan tambahan kepustakaan, dan diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan dan dapat dijadikan sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya.

(13)

4) Bagi Peneliti

Bagi peneliti sendiri dapat menambah wawasan dan pengalaman peneliti dan sebagai media dalam mempraktikan ilmu pengetahuan yang di dapat selama perkuliahan.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah mengulas tentang bagaimana gambaran tingkat kecemasan pada keluarga dengan lansia yang terkena stroke di wilayah puskesmas Banjaran Kota. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bandung Kecamatan Banjaran. Dengan waktu penelitian dilakukan pada tahun 2022 menggunakan metode kuantitatif berupa quesioner.

Referensi

Dokumen terkait

Hubungan antaraTingkat PendidikanKewang denganTingkat pelaksanaan Sasi Tingkat pelaksanaan sasi TingkatPendidikanKewang SD sederajat SLTP Sederajat Total Rendah skor 20 n Jumlah % n